[Vignette] End of The Witch

end-of-the-witch-snqlxoals818

End of The Witch

.

BTS’ Jeon Jungkook & OC’s Kim Mony | soulmate!AU, school life, slight!friendship, fluff(?) | vignette 2515 words | Teen

.

another series of Bangtan Soulmate AU

End of Countdown | End of Silence | End of Monochrome | End of Wait | End of Pain

.

Ini adalah kisah bagaimana duniaku berakhir untuk mengawali dunia kami yang baru.

.

.

Ada pertunjukan akhir tahun yang diadakan sekolah yang harus diikuti seluruh tingkatan. Pertunjukan seni apa pun. Drama, tari kolosal, paduan suara, bahkan sulap sekali pun. Dan kelas 2-3 memutuskan untuk menampilkan sebuah drama tentang Putri Tidur.

Semua murid perempuan bersorak secara serempak memilih Jungkook sebagai Pangeran. Tidak ada sahut protes dari murid laki-laki, jadi Guru Park menyetujui keputusan itu. Sekarang mereka harus memilih sang Putri Tidur. Berganti semua murid laki-laki yang menyuarakan pilihannya. Dari nama-nama yang didengar Guru Park, dia langsung menuliskannya di papan tulis. Ada lima nama yang tertera. Lima nama yang memang dimiliki gadis-gadis berparas cantik dan berlaku lemah lembut. Dari lima nama itu dan ciri-ciri yang ada, tentulah Kim Mony bukan salah satunya.

Maka, gadis berambut merah itu hanya duduk diam di kursinya dan mendesah panjang sembari mengamati lapangan bola yang sepi dari jendela. Kim Mony merasa dia tidak jelek-jelek amat. Kim Wooshin (kakaknya) dan Bambam (sahabatnya) juga berpendapat begitu. Tapi gadis yang baru saja menginjak usia tujuh belas itu tidak bisa dikatakan gadis yang ‘rapi’. Dia selalu datang hampir terlambat dengan rambut diikat asal, berlarian di koridor sampai ke kantin demi mengejar puding mangga sebagai makanan penutup, berteriak memarahi atau memukul anak laki-laki yang mengejek atau memainkan rambut merahnya, dan… Mony payah dalam pelajaran apa pun, kecuali menyanyi.

Tiba-tiba saja, riuh tepuk tangan terdengar. Mony mengangkat kepalanya dan melihat satu nama dilingkari sebagai pilihan terbanyak dari murid laki-laki untuk menjadi Putri Tidur. Cleo Lee. Murid perempuan berambut hitam panjang sepunggung itu berdiri di depan kelas, tersenyum membungkuk-bungkuk sembari mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan. Berpolah seperti Putri sungguhan. Di sampingnya ada Jeon Jungkook yang juga tersenyum. Mony melihat dua orang itu. Matanya terpaku pada Jungkook yang tampak begitu senang. Berkebalikan dengan laki-laki itu jika Mony mengikutinya. Jungkook pasti langsung marah-marah.

“Baiklah, sekarang siapa yang bersedia jadi penyihirnya?”

Oh, ya, tentu harus ada penyihir. Harus ada si Jahat di kehidupan percintaan si Baik. Harus ada yang dikalahkan di atas kemenangan yang berjaya.

Seisi kelas hening. Saling melempar tatap dan berbisik-bisik. Terlihat sekali murid-murid perempuan itu tidak ada yang mau jadi penyihir.

“Mony saja,” celetuk sebuah suara jelek karena dibuat-buat seolah perempuan yang berbicara padahal laki-laki.

Mony tahu siapa pelakunya. Dia melirik sinis ke arah pojok kelas di dekat pintu. Bambam cekikan di balik buku. Mony akan memberinya pelajaran nanti sepulang sekolah—diikat di pohon mangga sambil dilempari lumpur. Terdengar menyenangkan.

Eh, tapi tunggu dulu. Kalau dia menjadi penyihir yang cukup berperan penting dalam drama ini, itu berarti dia akan terus berlatih, kan? Dengan kata lain, Kim Mony akan terus berada di dekat Jeon Jungkook tanpa perlu membuntutinya seperti biasa! Yeay!

Mony tersenyum lebar. Sedikit mirip penyihir.

“Aku bersedia,” serunya, mengangkat tangan dengan semangat.

Semua menoleh pada gadis rambut merah itu, termasuk Jungkook yang melongo. Mony terlihat gembira. Sangat gembira.

Lalu, bisik-bisik terdengar lagi.

Wah, bakal jadi perang betulan, nih

.

.

.

Sampai hari ketiga setelah penentuan seluruh peran, tidak ada perang sama sekali. Semuanya berjalan cukup lancar.

Mereka latihan setiap sepulang sekolah, di dalam kelas. Kemarin naskah dibagikan dan tokoh-tokoh utama langsung berlatih berdialog sambil membaca naskah. Untuk hari ini kelas mereka bisa menggunakan ruang teater dan waktunya berlatih menggunakan kostum masing-masing.

Jungkook memerankan Pangeran dengan sangat baik. Dengan kostum lengkapnya juga mahkota di kepalanya, Jungkook tampak semakin tampan. Mony sangat terpesona. Cleo, menurut Mony, terlalu lemah lembut. Bicaranya terlalu dibuat-buat. Tapi murid laki-laki terpana melihatnya berakting. Ugh! Dia juga terlihat sangat tersiksa menggunakan gaun merah mudanya. Seperti kesempitan. Mungkin Cleo gendut. Pfft.

Sedangkan Mony, berhasil menjadi penyihir paling cerewet yang banyak maunya.

Mony bersedia jadi penyihir dengan beberapa syarat. Dia juga bersedia rambut merahnya dibuat berantakan, mencuat di mana-mana, kaku seperti sapu ijuk. Memakai topi lancip hitam dan jubah panjang hitam yang kebesaran, meskipun Mony sangat menyukai warna merah atau kuning. Tapi, dia menolak mentah-mentah diberikan kutil di wajahnya dan hidung runcing yang sedikit bengkok. Mony bahkan memukul kepala si tukang rias yang baru saja mau memberikan bintik-bintik hitam di pipinya. Sampai akhirnya Guru Park terpaksa menuruti kemauan Mony karena tidak ada murid perempuan lain yang mau menjadi penyihir.

Guru Park berkacak pinggang di belakang Mony yang sedang bercermin. “Ingat, Mony. Suaramu tetap harus seperti—”

“Aku penyihir muda, Bu. Tidak mau jadi penyihir tua yang ringkih.” Mony menggeleng-geleng. Rambut merah sapu ijuknya hampir mengenai wajah gurunya.

Guru Park menghela napas, meredam kekesalannya. Wanita pendek yang masih lajang itu memilih berjalan pergi, kembali ke deretan kursi di depan panggung.

Tak lama kemudian, Bambam datang membawa lolipop. “Nih. Sebagai permintaan maaf,” katanya lalu meletakkan permen itu ke dalam tas sahabatnya.

“Aku tidak marah, kok.”

Bambam melihat Mony tersenyum dari pantulan cermin. “Benarkah?”

“Tentu saja. Lihat, tuh.” Mony mengedikkan kepalanya ke arah celah kecil yang mengarah langsung ke panggung. Ada Jungkook dan Cleo yang sedang berlatih dialog. “Aku jadi bisa lihat Jungkook sepuasnya.”

Bambam mengernyitkan pucuk hidungnya dan berdecak sembari menoyor kepala Mony. “Jangan mimpi bisa dicintai Pangeran, dasar Penyihir Jahat.”

“Aku tidak Jahat,” sergah Mony. Dia balas menoyor Bambam kuat-kuat. Setelah menyambar lolipopnya, Mony pergi ke samping panggung, meninggalkan Bambam yang bersungut-sungut.

“Menoyorku itu perbuatan Jahat!” teriak Bambam.

“Kamu menoyorku duluan!” balas Mony berteriak tak kalah kencang.

“KALIAN BERDUA DIAMLAH! JANGAN MAKAN PERMEN SAAT LATIHAN, KIM MONY!” Kali ini teriakan menggelegar datang dari Guru Park yang mukanya sudah semerah lolipop stroberi Mony.

.

Ketika giliran Jungkook selesai, digantikan adegan Penyihir dan Putri Tidur, laki-laki itu memutuskan untuk duduk tiga baris di belakang Guru Park. Jungkook bukan ingin menyaksikan Mony dan Cleo beradu peran di atas panggung, dia ingin memastikan sesuatu. Mengeluarkan benda bulat dari saku celananya, Jungkook melihat jarum itu bergerak-gerak sebelum akhirnya diam dan menunjuk ke satu arah. Masih sama seperti kemarin, desah Jungkook frustrasi.

Lebih dari satu bulan membawa benda itu ke sekolah, jarumnya selalu menunjuk arah yang sama. Jungkook pikir, mungkin ada kesalahan atau jarumnya rusak karena benda itu sudah tua. Tapi, saat dia membeli yang baru, jarumnya tetap ke arah sana. Tidak mungkin. Jungkook kembali memasukkan benda itu ke dalam saku dan berjalan ke belakang panggung untuk mengganti kostumnya.

.

.

.

Jungkook makan siang bersama Yugyeom. Sebenarnya dia tidak bernafsu makan sama sekali, tapi Yugyeom memaksa. Jungkook hanya mengaduk-aduk pudingnya, sedangkan jatah makan siangnya yang lain dihabiskan Yugyeom. Tak lama kemudian, seisi kantin dikejutkan dengan bunyi kelontang dari nampan yang jatuh dan teriakan.

“PUDINGKUUUUUUU.”

Dari lengkingan yang terdengar, semua murid tahu itu siapa tanpa perlu melihat sosok di balik jubah hitam yang berlutut memandangi nasib pudingnya yang hancur. Jubah hitam? Ya, Mony memakai kostum penyihirnya untuk berkeliaran di sekolah di luar jam pelajaran. Katanya, sekalian mempromosikan drama kelasnya.

Yugyeom berdecak, kembali menyantap makan siangnya. “Mony tidak seperti gadis dewasa. Dia masih seperti bocah lima tahun.”

Diam-diam Jungkook mengiyakan. Mony masih sama seperti gadis cilik yang selalu mengikutinya sewaktu sekolah dasar. Setelah tiga tahun berpisah sekolah, mereka bertemu lagi di SMA dan Mony tidak berubah sama sekali. Masih tetap apa adanya. Gadis berambut merah, maniak mangga dan baju kodok. Jungkook selalu melihat Mony memakai baju kodok. Bukan karena kebetulan, tapi memang gadis itu menyukainya.

“Kau dengar sesuatu?” tanya Yugyeom tiba-tiba. Dia berhenti mengunyah dan menjulurkan kepala, mengarahkan kupingnya ke sekitar. Kantin kembali tenang setelah Bambam menyeret Mony ke tempat duduk terdekat dan Wooshin memberikan puding miliknya kepada adik perempuannya.

“Dengar apa?”

“Seperti jarum yang mengetuk-ngetuk kaca. Terdengar samar.”

Astaga! Jungkook lupa kalau dia mengantongi benda itu. Dia tidak boleh berada di sini lagi. Maka, abaikan Yugyeom yang mencari-cari suara itu di kolong meja, Jungkook berlari keluar kantin dan hampir menabrak Cleo yang sedang mencari kursi kosong.

.

.

.

Hari terakhir pementasan tiba. Kemarin tingkat satu sudah menampilkan pertunjukan mereka, sekarang giliran tingkat dua dan tiga. Yang mengisi bangku penonton tak hanya murid dan orangtua murid, tapi juga kepala yayasan, kepala sekolah, dan semua guru-guru. Wajar jika kelas 2-3 merasa gugup.

“Semuanya harus tenang,” kata Guru Park yang terlihat lebih tegang dari murid-muridnya. Beliau mengkhawatirkan satu muridnya. “Kim Mony.”

“Iya, Bu?” sahut gadis itu yang asyik mengagumi lipstik hitam di bibirnya. Keren sekali.

Guru Park menepuk pundak muridnya itu dan meremasnya pelan. “Jangan buat kekacauan. Oke?”

Aye-aye, Kapten,” seru Mony sembari memberi cengiran lebar dan hormat layaknya awak kapal.

Lagi-lagi Bambam datang setelah Guru Park pergi. Menyenggol lengan Mony dan berkata, “Sopan sedikit kalau sama guru.”

“Aku hanya memberi hormat,” kata Mony, lalu berbisik, “Bukan menoyornya, kan?”

Gemas, Bambam mencubit pipi sahabatnya. “Pokoknya, nanti jangan bersin atau mengupil!”

“Aku tidak pernah mengupil di depan umum!” sembur Mony, berkacak pinggang melotot ke arah Bambam.

Bambam bersedekap dan menyeringai. “Oh, iya. Kamu takut Jungkook tahu kebiasaan burukmu itu, kan? Ayo me—”

Ssst! Bawel, deh!” Cepat-cepat Mony membungkam mulut Bambam karena Jungkook sedang berjalan ke arah mereka. Lebih tepatnya, ke arah tumpukan properti drama untuk mengambil pedang plastiknya. Mony menyempatkan untuk tersenyum saat Jungkook meliriknya sambil lalu. Dia menunggu laki-laki itu pergi sebelum menarik tangannya. “Jangan bilang-bilang Jungkook.”

“Enggak janji.” Setelah menjulurkan lidahnya, Bambam buru-buru lari menghampiri tim penata lampu untuk bersiap-siap.

.

“Dahulu kala, lahirlah seorang putri yang cantik jelita.”

Pentas dimulai dengan riuh tepuk tangan. Tak ada kesalahan apa pun. Mony berhasil menjadi Penyihir yang jahat yang mengutuk sang Putri agar tertusuk jarum pintal saat usianya tujuh belas. Dia bahkan bisa tertawa pongah yang diiringi efek suara gelegar guntur. Mony hampir bersin saat berdiri di dekat guci tinggi berisi bunga-bunga. Untung saja dia bisa menahannya. Sepertinya Mony alergi serbuk sari.

Jalan cerita sudah memasuki babak akhir. Meski sudah tahu bagaimana akhir kisahnya, para penonton tetap menunggu-nunggu adegan romantis antara Pangeran dan Putri Tidur. Tidak bagi Mony yang ingin melenyapkan adegan terakhir itu.

Latar musik berganti, mengiringi sang Pangeran memasuki puncak kastel, mendapati Putri Tidur terlelap di atas kasur dan penyihir di dekatnya. Pangeran menarik pedangnya, siap bertempur. Penyihir mengacungkan tongkat sihirnya, siap melontarkan mantra-mantra. Lalu, terjadilah pertempuran sengit antara Pangeran dan Penyihir. Selama beberapa detik, Pangeran menghindari tiap-tiap sihir yang dilayangkan si Penyihir. Dan saat dia melihat celah untuk menyerang, Pangeran langsung menghunuskan pedangnya tepat ke arah jantung Penyihir.

Tapi dia tidak menusuknya. Tidak sama seperti yang ada di naskah.

Mony tertegun. Mengerjap-ngerjap kebingungan sementara Jungkook di hadapannya melempar pedang dan memukul tengkuk Mony sangat pelan. Jungkook berbisik, “Pura-pura pingsan.”

Dan si Penyihir jatuh menelungkup di lantai.

Jungkook hampir saja tertawa melihat Mony seperti itu. Mengingatkannya pada masa kecil mereka, sewaktu Mony jatuh dari atas pohon dan tertawa kencang, alih-alih menangis. Dan perjumpaan itu diakhiri dia mendapat kecupan di pipi dari si gadis kecil.

Kembali ke dalam cerita, Pangeran menghampiri Putri yang tertidur. Dia berlutut di samping ranjang. Penonton mulai berdegup menanti akhir kisahnya. Tapi, sang Pangeran terdiam.

Penonton mengira itu hanya sebagian dari akting. Sang Pangeran terpana akan kecantikan sang Putri sampai-sampai dia terpaku begitu.

Namun, bukan itu yang dialami Jungkook. Dia bukan terpana, melainkan memikirkan seseorang. Seseorang yang memejamkan matanya kuat-kuat setiap kali Jungkook mencium kening gadis yang memerankan sebagai Putri Tidur saat latihan. Seseorang yang berusaha terlihat baik-baik saja dan terus tertawa di depannya, padahal di belakangnya, Jungkook melihat orang itu marah-marah tak keruan kepada sahabat laki-lakinya. Yah, orang itu si Penyihir yang sudah memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak bisa melihat sang Pangeran mencium Putri Tidur.

Kim Mony.

Jungkook berdehem, menyamarkan tawanya. Si Putri Tidur membuka satu kelopak matanya diam-diam. Lalu melotot karena pangerannya berdiri dan berkata, “Maafkan aku, Putri. Tapi, aku tidak mencintaimu.”

Semua penonton terkejut. Guru Park hampir pingsan di belakang panggung. Mony mengubah posisi kepalanya supaya bisa melihat Jungkook. Cleo tiba-tiba bangun, melupakan peran Putri Tidur-nya. Penonton makin terkejut. Beberapa ada yang tertawa.

Cleo bersedekap. Rupa Putri Tidur yang lemah lembut di wajahnya seketika luntur. “Kau sudah punya Putri lain?”

Jungkook mengangguk.

Mony cepat-cepat duduk.

Penonton terkesiap. Sekarang Penyihir yang tiba-tiba sadar. Cerita Putri Tidur ini benar-benar melenceng jauh dari yang asli. Tapi mereka tidak mengeluarkan protes. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan Pangeran.

“Siapa?” tanya Cleo, memicingkan matanya.

Mata Mony membelalak ketika Jungkook menoleh ke arahnya dan tersenyum. Belum lagi, Jungkook berjalan menghampirinya, berdiri di depan Mony, dan mengulurkan tangannya. Meski kebingungan, Mony menyambut uluran itu dengan senang hati.

Guru Park sudah pingsan.

“Kenapa kau memilih dia?!” Si Putri Tidur tampak emosi.

Mony menatap Jungkook lekat-lekat, seolah juga menanyakan hal yang sama. Kenapa Pangeran memilih Penyihir? Kenapa Jeon Jungkook memilih Kim Mony?

Membalas tatap Mony, Jungkook mengangkat bahunya. Dia berpaling untuk mengedarkan pandang ke seluruh penonton dan terakhir bersitatap dengan Cleo, si Putri Tidur.

“Aku memilih dia karena….” Jungkook memberi jeda agar terasa lebih dramatis, menegangkan, seperti seorang raja yang ingin menjatuhkan hukuman mati.

“Karena apa?” Salah satu penonton yang tak sabar angkat suara. Lalu seisi teater jadi riuh.

Jungkook mengetuk-ngetukkan pedang plastiknya ke lantai kayu dan semua terdiam. “Aku memilih dia karena dia penyihir muda yang cantik,” katanya santai. Secara tidak langsung memuji Mony cantik di hadapan gadis yang memang cantik betulan. Bukan berarti Mony cantik bohongan juga, sih. Tapi—

“Tapi, dia Kim Mony!” Cleo menunjuk-nunjuk Mony dan dia marah sungguhan.

Seluruh pasang mata tertuju pada Mony yang diam bagai patung di sisi Jungkook. Gadis itu menganga lebar. Jungkook malah tertawa melihatnya. Untuk menjawab semua tanya yang bersahut-sahutan, Jungkook mengeluarkan bandul kalung yang dipakainya. Bandul berupa kompas kecil, benda yang selalu Jungkook bawa ke mana pun. Pertama, dia menunjukkannya kepada Mony, yang langsung cegukan saking terkejutnya. Kedua, dia memperlihatkan arah jarum kompas itu kepada Cleo, lalu ke seluruh penonton. Mereka semua sama terkejutnya dengan Mony. Bahkan Kim Wooshin yang berada di antara penonton sampai kesulitan bernapas. Adiknya… adik kecilnya yang benci mandi dan cinta lumpur itu… menemukan soulmate-nya?!

Memang sedikit memalukan, memberi tahu siapa jodohmu di depan banyak orang, tapi biarlah. Daripada Jungkook semakin frustrasi mendengar bunyi gerak-gerak jarum kompasnya saat dia di dekat Mony, lebih baik diungkapkan saja. Lagi pula, Mony gadis yang menyenangkan. Jungkook kerap merasa sedikit cemburu ketika gadis itu bersenang-senang bersama Bambam, tertawa bersama dan saling merangkul pundak. Sedangkan yang dia lakukan, hanya sibuk mengabaikan Mony. Mengelak kata hatinya untuk memerhatikan gadis rambut merah itu sebentar saja. Gara-gara itulah Jungkook selalu berteriak pada Mony untuk segera pergi, jangan mengikutinya lagi. Tapi Mony terus-menerus datang tanpa lelah, tanpa kenal kata menyerah. Yeah, untunglah akhirnya Jungkook yang mengibarkan bendera putih. Dia kalah. Sekaligus senang.

Well, kompas penunjuk arah keberadaan soulmate-mu memang sedikit menyebalkan atau terkesan memaksa. Jungkook belum tahu apakah keputusannya ini benar, namun dia bisa belajar menyukai Mony, mengenal gadis itu lebih jauh. Karena baik Jungkook maupun Mony, keduanya baru saja menemukan dunia mereka yang baru.

Seperti di awal, riuh tepuk tangan juga sorak-sorai mengakhiri pertunjukan kelas 2-3 dengan akhir yang tidak terduga. Para pemain dan seluruh tim berjajar untuk memberi hormat sebagai ucapan terima kasih. Cleo masih terlihat kesal. Dia berdiri jauh-jauh dari pasangan baru itu. Mony masih terkejut dan luar biasa senang. Jungkook di sampingnya, menggenggam tangannya. Dan di sebelah Jungkook ada Bambam.

“Hey, Jungkook,” bisik Bambam.

Jungkook menoleh, menjungkitkan sebelah alisnya.

“Kau yakin mau berjodoh bersama Mony?” tanya Bambam.

“Mungkin?” jawab Jungkook yang masih terdengar ragu.

Bambam manggut-manggut. Bibirnya membentuk sebuah seringai. “Mau tahu rahasia terbesar Kim Mony, tidak?”

Belum sempat Jungkook bersuara, Mony lebih dulu bereaksi. Melepas genggaman tangan mereka dan berlari mengejar sahabat jailnya. “YA! BAMY! JANGAN LARI!”

Aksi kejar-kejaran di atas panggung itu mengundang tawa membahana. Tirai panggung ditutup cepat-cepat.

Jeon Jungkook mengulum senyum. Semoga aku tidak salah pilih.

.

Begitulah akhir dari kisah si Penyihir—mendapat cinta seorang Pangeran.

.

fin.


Ketemu lagi dengan bangtan soulmate AU nya~ XD

Gak bingungin kan? Tentang kompas penunjuk keberadaan soulmate ini ide dari Amer. Makasih mer idenya \(^0^)/

Tersisa Kim Seokjin nih yang belum ketemu soulmate-nya….. *pfft

Advertisements

6 thoughts on “[Vignette] End of The Witch

  1. Anjay ternyata beneran dibikin ver gedenya kuki-mony wahahahahaha…
    Sumpah deh kak yeni, ini aku ngakak terus lo bacanya entah kenapa ((kesurupan tih?)
    Cie yg akhirnya happy end… Ciee yg akhirnya dipekain kuki… Ciee… Welkam kapel baru wkwk.. 😂😂😂
    Terus terus, gemes juga nih ama bambam, cocok dah sobetan(?) ama mony, sama2 gesrek 😂😂
    Btw akhirnya yah, soulmate!au lanjut lagi, sudah lama ga baca ㅋㅋㅋㅋ Tinggal yg seokjin nih wkwk.. Ditunggu kak! 😄

    Like

  2. AAAAAAAAAK AKU GEMAS INI KENAPA UCUL SEKALI GEMAAAAAS
    Di awal kesel itu mony kenapa dibully-nya segitunya sih… iya sih mony enak dibuli (?) tapi itu cewek2 di kelas sama cowok2nya minta dikeplak deh ㅡ.ㅡ mana cleo tuh hawa2nya kaya sophie ataukah ini efek samping kayen lagi baca sfge aja??

    Dan kukiiii, dek kuki aide-nya aleta, kenapa kamu ganteng deeeek ((salah))
    Kuki lucu banget gelisah gara2 kompasnya ((AKU LAGI JEJERITAN IDEKU YANG GEJE DIPAKE HORE)) terus di akhir tapi gentleman banget dek astagaaa nyatain cintanya di depan banyak orang sini kamu biar nuna uyel uyel dulu /lah

    Aku mau baca lagi deh kayen, sama aku tunggu yejin-nya yaaa :3

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s