[Vignette] Three’s a Mess: Sketch

251112
Three’s a Mess: Sketch

a ficlet by tsukiyamarisa

BTS’ Jimin, Hoseok, Yoongi

around 1000 words | AU, Friendship, slight!Comedy | G

other fic(s): Rushing Things

cross-posted at: thefallenpetals

.

Yes, officer! That’s it! That’s the one that I’ve been looking for!

.

.

.

“Kau bisa membantuku, kan?”

Jung Hoseok sudah membuntuti Park Jimin seharian ini, berpolah seperti anak kucing yang takut kehilangan induknya. Ia mengikuti Jimin masuk ke ruang interogasi, ke tempat penyimpanan barang bukti, laboratorium, bahkan hingga ke tempat kejadian perkara yang harus Jimin tangani hari ini. Oh, bahkan sekarang pun ia ikut melangkah masuk ke kamar mandi—yang lekas berakhir dengan pelototan curiga dari Jimin serta bulu kuduk yang berdiri tegak.

“Bung, aku masih normal dan aku butuh privasi.”

Hoseok mendengus. “Memang kau saja yang ingin buang air? Ini tempat umum, dude.

Jimin memberinya tatap tak percaya, lantas memilih untuk menyelesaikan urusannya secepat mungkin. Namun, salah jika ia mengira bahwa Hoseok akan menyerah begitu saja. Lelaki itu bahkan lebih dulu keluar dari kamar mandi, menunggu Jimin di depan pintu dengan lengan tersilang.

“Kau mulai menyeramkan.”

“Aku butuh bantuan,” ujar Hoseok tanpa basa-basi. “Kau sudah selesai dengan semua pekerjaanmu hari ini?”

“Kautahu kan….” Jimin mengerutkan kening, masih setia dengan tatap curiganya. “…kalau kau bisa mengirimiku pesan atau semacamnya? Bukannya malah menghabiskan hari libur dengan berpolah sebagai stalker—

Nuh-huh!” Hoseok menggoyang-goyangkan jemari. “Tidak bisa. Ini adalah urusan rahasia yang harus dibicarakan secara langsung, Park Jimin. Jadi, aku khusus mendatangimu karena aku tahu kalau kau—“

Yeah, yeah, aku memang hebat, aku bisa melakukan banyak hal, aku bahkan menangani tiga kasus dalam waktu bersamaan seharian ini.” Jimin mengibaskan tangan, lantas melangkah kembali ke ruang kerjanya. “Spill it, man. Apa urusan rahasia yang sedang kita perbincangkan ini?”

Hoseok menunggu hingga keduanya sampai di ruang kerja, tempat di mana anggota Tim Forensik dan Investigasi biasanya bercengkerama. Untunglah, khusus untuk sore ini, ruang itu sepi. Mereka hanya berdua saja, kondisi yang ideal bagi Hoseok untuk mulai menceritakan masalahnya.

“Nah?”

“Aku butuh dibuatkan sketsa,” kata Hoseok langsung, mendudukkan diri pada kursi putar favoritnya seraya meraih sebuah sketch book. “Kau cukup jago menggambar wajah orang, bukan?”

Uh—“ Jimin mengambil jeda, tanpa sadar meraih pensil dan mulai memutar-mutarnya di tangan. “Kurasa begitu? Tapi, kenapa harus aku? Kurasa bagian penyelidikan akan dengan senang hati membantumu membuat sketsa, eum, penjahat ini.”

Untuk kedua kalinya, Hoseok kembali menggerak-gerakkan telunjuk dengan tampang serius. “Tidak bisa. Untuk kali ini, aku tidak bisa meminta bantuan mereka. Aku harus melakukan penyelidikan ini seorang diri.”

Kalimat terakhir itu sukses menarik atensi Jimin. Apakah Hoseok sedang menangani kasus yang berbahaya, sehingga ia tidak mau melibatkan terlalu banyak orang? Apakah pelaku yang akan Jimin gambar nanti memiliki tampang yang mengerikan? Oh, mungkinkah ini jenis kasus yang penuh kerahasiaan dan hanya dapat ditangani orang-orang dengan keahlian tertentu? Ataukah….

“Bisa tidak?”

Jimin memasang seringai penuh sekongkol. “Count me in, Jung Hoseok. Deskripsikan dan aku akan mulai menggambar.”

Semangat seketika kembali ke ekspresi wajah Hoseok, selagi dirinya mulai bercerita dan memberikan tiap detail. Terkadang disela oleh keheningan selama beberapa menit, sementara Jimin menggerakkan tangan dengan lihai dan berusaha mengikuti arahan rekan kerjanya. Sesekali ia juga akan bertanya dan memastikan, ingin agar sketsa buatannya benar-benar menyerupai pelaku yang sedang dicari-cari Hoseok.

“Lalu rambutnya—“

“Hei, guys.” Min Yoongi, sang pemimpin di bagian Forensik dan Investigasi, melangkah masuk. Ia tampak lelah, tangan bergerak melonggarkan dasi sementara ia menarik kursi untuk duduk di sebelah Jimin. “Sketsa pelaku?”

Uh—

“Ini rahasia besar, aku akan memberitahumu jika sudah selesai nanti.” Hoseok langsung menjelaskan, mengangkat sebelah alis dengan maksud “aku-yakin-kau-bisa-jaga-rahasia-yeah?”. Sesuatu yang dibalas Yoongi dengan kedikan, selagi dirinya menarik keluar ponsel dan mulai sibuk menekan-nekan layar—mungkin sedang berusaha mengalahkan high score yang telah dibuatnya sendiri.

“Oke, lanjut. Bagaimana rambutnya?”

“Kurasa ia memiliki rambut sedikit kecokelatan.” Hoseok mengangguk-angguk, berusaha mengingat. “Panjang dan dikepang samping—“

“Pelaku yang kita cari adalah perempuan?”

“Er—“ Hoseok—entah karena alasan apa—terlihat sedikit enggan saat mengangguk. “Aku… aku belum bilang ya, tadi?”

Jimin menggeleng, memberi gestur yang mengisyaratkan Hoseok agar memberinya jeda singkat. Lelaki itu menghapus beberapa bagian dari garis wajah yang telah ia goreskan, mengubahnya menjadi lebih feminin sebelum memasang tampang puas.

“Ini lebih baik. Jadi, rambut panjang dikepang samping, kan?” Ia memastikan, tapi tangannya langsung bergerak cepat di atas kertas. Sepuluh menit berlalu, diisi suara teriakan atau makian Yoongi tiap kali ia melakukan salah pencet, dan Jimin pun mengeluarkan decak kagum seraya ia mengulurkan hasil sketsanya pada Hoseok.

“Untuk ukuran seorang buronan, dia cantik sekali, Bung.” Jimin tampak tak percaya, selagi Yoongi meletakkan ponselnya dan beringsut untuk ikut mengamati. “Baik, apa kau akan menceritakan kasusnya pada kami?”

“Kau sudah berjanji.” Yoongi mengingatkan, tak memungkiri kalau ia juga penasaran. “Jimin benar, gadis semacam ini terlalu cantik untuk bisa melakukan sesuatu yang mengerikan. Yah, meskipun terkadang tampang bisa menipu—“

“Dia telah melakukan perbuatan yang fatal, guys.” Hoseok berujar, lantas menjauhkan gambar itu dari jangkauan kedua kawannya dan mendekapnya di dada. “Benar-benar fatal.”

Baik Yoongi maupun Jimin memilih tidak berkomentar, dengan kompak memberi sorot “rekanku-sudah-gila-astaga-aku-tidak-percaya-ini” ke arah Hoseok. Pasalnya, lelaki itu baru saja mengucap kata fatal sebanyak dua kali, keduanya lengkap dengan senyum lebar dan ekspresi setengah mabuk. Uh-oh, Yoongi yakin benar bahwa dua hal tersebut tidak seharusnya bisa berdampingan dalam damai.

“Hoseok?”

“Kau membuat gambar ini dengan bagus sekali, Park Jimin.”

“Kauyakin? Kurasa aku membuat gambar itu sedikit terlalu bagus karena… yah, karena tampaknya kau malah jatuh cinta dengan si gadis—“

Hoseok menjentikkan jarinya tepat pada saat itu, lantas membentuknya menjadi sebuah pistol dan berlagak menembak kedua kawannya dengan peluru yang bertuliskan “Selamat! Anda baru saja menebak dengan benar!”.

Yang mana, sukses membuat Jimin dan Yoongi membuka mulut—

That’s it! Kau benar sekali, Park Jimin! Ini adalah gadis yang telah mencuri hatiku dan menganggu keseriusanku meneliti TKP kemarin sore! Ah, sayang sekali aku belum sempat tahu namanya dan dia sudah terlanjur kabur. Tapi, berkat sketsamu, aku tidak akan mudah melupakan wajahnya dan siapa tahu aku bisa menemukannya, kan? Lalu….”

Hoseok terus mengoceh, abai pada kedua rekannya yang melongo makin lebar. Jimin dan Yoongi bahkan kini sudah bertukar tatap penuh arti, diam-diam bergeser menjauh dan mulai berjalan keluar dari ruang kerja mereka sembari berbisik-bisik.

“Menurutmu, kau sanggup menangani kasus lebih banyak tidak?”

“Memang kenapa?”

Yoongi memasang ekspresi sadis, menunjuk Hoseok yang masih tersenyum-senyum seraya memeluk sketsa Jimin di dalam sana.

.

.

.

“Karena kurasa, aku lebih baik kehilangan satu anggota daripada harus mengurus orang sepertinya.”

.

fin.

CSI!AU dengan cast golden trio bangtan favorit: Jimin, Yoongi, Hoseok. Bisa dibilang ini series random, yang akan ditulis kalau lagi ada ide.

Prompt didapat dari kalimat yang aslinya adalah: “Yes, officer! That’s the girl who stole my heart!” diambil dari buku kelima Heroes of Olympus-nya Rick Riordan XD

Dan karena UTS sudah selesai + lagi produktif, chapter 1 Orient akan di-publish sore ini! Stay tuned!

Advertisements

One thought on “[Vignette] Three’s a Mess: Sketch

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s