[Chapter 2] Of Alienate and A Mirage: New Elementer

of-alienate-and-a-mirage-poster-2

Of Alienate and A Mirage

by echaminswag~

BTS members with some OCs
| genres AU!, Fantasy, Friendship, School Life, Sci-Fic | length 2.1k words | rating PG-17 |

Prev:
Prolog & Introduction | 1: A Secret of Nomina High School

.

.

Mereka kerap menyebutnya ‘sesuatu yang tidak ada’.

.

.

Chapter 2: New Elementer

Bandara Internasional Roovel pagi ini tengah dijejali orang-orang pada terminal kedatangan luar negeri. Ada dua jadwal penerbangan yang datang secara berurutan dan hanya berselang sepuluh menit saja. Beberapa orang yang berdiri di sekitar pembatas masih menggunakan cara kuno untuk mencari sanak saudara yang ditunggu; menulis nama mereka pada selembar kertas sembari mengangkat kertas tersebut tinggi-tinggi.

Namun, ada pula yang menggunakan cara itu tetapi dengan sedikit modern. Tentu saja dengan memanfaatkan elemen yang dimilikinya. Telekinesis contohnya, seseorang dengan elemen tersebut dapat mengangkat kertas tanpa menggunakan tangan mereka. Cukup dengan ketelitian dan konsentrasi, maka mereka bisa membuat kertas itu melayang di atas kepalanya.

Dan Varrel melihat ada dua orang yang seperti itu di sepanjang pembatas terminal. Ia terkikik pelan seraya menyisipkan gagang kacamata di atas telinganya.

Pagi ini, Varrel terpaksa meminta ijin dari kegiatan klub karena harus melaksanakan tugas dari kakak tertuanya; menjemput seseorang di bandara. Ia bisa saja menolak, tetapi pada akhirnya Varrel memilih untuk pergi melaksanakan perintah sang kakak. Sebab, seseorang ini ada hubungan dengan dirinya juga.

Mata Varrel lekas menatap ke arah pintu kaca yang kini terbuka. Beberapa orang keluar dari sana. Riuh sedikit mengganggu telinganya, namun ia mengabaikannya. Melihat seseorang yang ditunggu tengah berjalan ke arahnya, ia lekas melipat tangan seraya memiringkan tubuh seolah tidak mengetahui bahwa orang itu telah tiba.

“Sudah lama menunggu?”

Varrel menyipitkan mata usai mendengar pertanyaan itu. Ia melepas kacamatanya, kemudian meletakkan benda itu kembali ke saku celana. Bola matanya bergerak naik turun guna memindai gadis yang baru saja berbicara.

“Apa aku mengenalmu?” ucap Varrel setelahnya.

Gadis itu membolakan mata. Memukul bahu Varrel, lantas mengacak-acak rambutnya. “Ya Tuhan, Varrel, beraninya kau bicara seperti itu pada kakakmu! Aku baru pergi selama beberapa tahun dan kausudah tidak mengenalku?”

Hahaha, aku hanya bercanda.” Pemuda itu tergelak. Mencubit lengan sang kakak, Varrel kemudian mengambil alih tugas untuk mendorong trolinya. “Bagaimana perjalananmu?”

“Sudah jelas, melelahkan.” Verna menyahuti dengan menghela napas keras-keras. Ia berjalan di samping adik laki-lakinya itu sembari mengedarkan pandang ke sekitar bandara. Ia telah sampai di kota kelahirannya.

“Mengapa tidak menggunakan elemenmu saja untuk sampai ke sini lebih cepat?”

Verna menoleh sekilas, lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak dengan koper besar dan dua tas jinjing ini. Aku bisa pingsan, Varrel.”

Pemuda itu kembali tergelak. Keduanya terdiam usai sampai di dekat mobil yang dibawa Varrel untuk menjemput Verna. Mereka memasukkan barang-barang yang dibawa Verna ke dalam bagasi mobil. Dengan segera, Varrel duduk di kursi kemudi dan melajukan mobil menjauhi area parkir bandara.

“Mau mampir makan atau langsung pulang?” tanya Varrel di tengah perjalanan.

Verna tampak menguap sebentar selagi mengikat sembarangan rambutnya yang tergerai. Ia melirik Varrel. “Apa Valco ada di rumah?”

“Ya,” jawab Varrel sekenanya.

“Kalau begitu segera pulang saja, dia pasti memasak makanan kesukaanku.”

“Dan aku sebenarnya ragu,” Varrel mendesis pelan. Diinjaknya pedal rem karena lampu merah menyala-nyala di depan sana. Sementara, Verna yang kini sedang menikmati pemandangan di luar kaca mobil, segera memindah posisinya; memandang Varrel sekali lagi.

“Soal apa?”

“Elemenmu itu teleportasi atau telepati?”

“Kenapa memangnya?”

“Mengapa kaubisa tahu jika Kak Valco tengah memasak makanan kesukaanmu?”

Verna tergelak. Matanya yang kecil segera terbentuk menyerupai bulan sabit ketika gadis itu tertawa. Pipinya yang tembam juga terangkat ke atas dan menggembang seperti adonan roti. Siku Verna kemudian menyentuh lengan Varrel seolah tengah menggoda adiknya itu.

“Aku dapat mencium baunya, tahu.”

“Verna sinting!”

“Ayo, segera pulang! Aku sudah sangat lapar.”

 

***

 

“Surat-surat kepindahanmu ke Nomina sudah kuurus. Mulai besok, kaubisa pergi ke sekolah.”

Valco membuka percakapan terlebih dahulu usai sunyi menyelimuti acara makan malam mereka bertiga. Meja bulat kecil yang dipenuhi makanan-makanan lezat buatan pemuda itu hanya didominasi dentingan suara sendok yang beradu dengan piring selama beberapa saat lamanya.

Verna tampak menghentikan kegiatannya menyendok Lasagna―yang merupakan makanan favoritnya―usai mendengar sang kakak berbicara barusan. Ia meraih gelas air putihnya kemudian meneguknya sedikit.

Hmm? Padahal aku masih ingin main dan jalan-jalan di sini.”

“Tidak ada waktu untuk main-main, Verna!” ujar Valco tegas.

Verna tahu jika sudah begini maka ia tidak dapat menjawab apa-apa selain kata ‘ya’. Gadis itu bukan tipikal yang berani menolak perintah kakaknya.

“Iya, Kak, aku tahu.”

Sementara, Varrel yang berada di antara keduanya, berdeham pelan karena atmosfer di sekelilingnya terasa sangat canggung. Ia meneguk minumannya, lantas membersihkan sudut bibirnya menggunakan tisu.

“Omong-omong, Verna masuk kelas apa?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya selama beberapa detik, membuat Varrel hanya menggaruk-garuk tengkuknya perlahan. Dua kakaknya masih asik menyantap makan malam mereka, sebelum akhirnya, Valco angkat bicara selagi membawa peralatan makannya ke bak cuci piring.

“Besok kalian juga tahu.”

 

***

 

Hal pertama yang Verna lakukan ketika menginjakkan kaki di depan gerbang raksasa Nomina High School adalah berdiam diri sembari membentuk bibirnya menyerupai huruf ‘O’. Tidak ada pergerakan selain bola kepalanya yang tengah memindai halaman depan sekolah tersebut. Kata mewah bahkan tidak cukup untuk menggambarkan sekolah ini menurut Verna. Sekolahnya yang lama tentu hanya sekolah elementer sederhana dan cukup kecil jika dibandingkan Nomina High School. Itulah sebabnya, mengapa kini bibir gadis itu merapalkan kata-kata pujian serupa ‘luar biasa’, ‘wow’, ‘keren’, dan lain-lainnya tanpa henti.

Bahkan Varrel yang pagi ini berangkat bersamanya, dibuat malu karena kelakuan kakaknya itu. Beberapa murid Nomina yang tengah memasuki gerbang selalu memberikan tatapan aneh kepada sang kakak. Membuat Varrel akhirnya kembali mundur dan segera menyeret Verna untuk memasuki gedung utama Nomina.

“Kau tahu, aku selalu ingin bersekolah di sini. Dan hari ini, mimpiku seolah menjadi kenyataan.”

Varrel tampak manggut-manggut. Dilepasnya cengkeraman tangannya pada lengan Verna dan membiarkan kakaknya itu kembali merotasi tubuhnya selepas memasuki pintu kayu besar Nomina. Decak demi decak kekaguman masih berkumandang dari bibirnya, yang mau tak mau Varrel harus menahan malu saat berjalan di sampingnya.

“Ya, tapi berhentilah menjadi sosok yang seolah kau baru datang dari desa dan masuk kemari melalui jalur beasiswa.” ucap Varrel sembari membenarkan letak ranselnya. “Lihat, semua orang memandangmu dengan kagum, tuh.”

Mendengar penekanan pada kata kagum yang diucapkan Varrel, membuat Verna terkikik pelan. Ia kembali berjalan dengan normal dengan sedikit berlari demi menyusul adiknya itu.

“Ayolah, Varrel, sekolah ini memang luar biasa.” tuturnya seraya menyenggol lengan sang adik menggunakan siku. Pemuda itu tidak merespons, ia masih berjalan dan tak lama kemudian berhenti usai keduanya sampai di depan ruangan para master.

“Ini, di sini,” Varrel menunjuk ke arah pintu berwarna putih mengkilat itu menggunakan tangan kanannya selagi melanjutkan, “masuklah ke dalam dan tanyakan di mana kelasmu berada.”

Verna mendongak, melihat tulisan ‘Master’s Room’ bercetak timbul di atas pintu tersebut. Ia kemudian tersenyum lebar sambil mengangguk bersemangat.

“Ya sudah, sana cepat pergi ke kelasmu. Terimakasih, ya, adikku yang tampan. Nanti kucium sepulang sekolah.”

“Berhenti melakukan hal menjijikkan, Verna! Awas jika kau berani menciumku lagi.”

Verna tergelak. Membiarkan adiknya kembali ke kelas terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mengetuk pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.

 

***

 

“Hai, namaku Verna. Kalian dapat memanggilku Verna, karena namaku memang Verna. Haha.”

Krik krik. Tidak ada respons serupa gelak tawa membahana atas lelucon yang dilontarkan Verna di depan kelasnya. Seluruh siswa-siswi di dalam kelas ini justru menatapnya tajam, membuat Verna akhirnya menggaruk tengkuk selagi membungkukkan badan meminta maaf.

Ah, kupikir kalian suka dengan lelucon. Ternyata tidak, ya?”

“Mungkin jika kau mengucapkan hal itu di kelas C, maka semua murid akan tertawa.” satu orang murid laki-laki menyahuti dan disambut gelak tawa seluruh kelas selama beberapa saat sebelum Master Zac mengetuk mejanya agar kelas kembali tenang. Namun, ada satu yang tidak tertawa di antara semuanya.

Verna terdiam sambil terus memulas senyuman. Ia akhirnya mengetahui bagaimana sifat sesungguhnya dari murid-murid kelas ini. Kelas yang dianggap terfavorit dan seluruh siswa Nomina ingin masuk kemari, nyatanya berisi anak-anak dengan ego yang tinggi.

“Hei, anak bermata sipit, katakan apa elemenmu?” satu murid lain menimpali dengan nada mengejek, diikuti lengkingan anak-anak perempuan yang sepertinya juga merasa penasaran dengan elemen apa yang dimilikinya sampai ia masuk ke kelas mereka.

Sementara, Verna masih mematri senyumnya. Kepalanya yang semula tertunduk, ia angkat tinggi-tinggi.

Teleportation.” jawab Verna dengan nada tegas, membuat seluruh murid di kelas itu terdiam sambil memandangnya tidak percaya. Pengendali elemen tersebut yang seorang perempuan jarang ditemui di sekolah mereka. Mungkin hanya ada dua atau tiga orang saja yang diketahui selama mereka bersekolah di sini.

Keributan kecil kembali terjadi di ruangan itu. Beberapa murid tampak sedang berdiskusi kecil dengan teman-teman sebelah mejanya atau di depannya. Master Zac lagi-lagi harus mengetuk meja beberapa kali demi membuat mereka kembali diam.

“Hal ini menjadi pelajaran juga untuk kalian; jangan melihat seseorang dari luarnya saja.” Tutur sang master kemudian meminta Verna untuk duduk di salah satu meja kosong di deretan depan ujung kiri―dekat jendela kaca besar berhadapan dengan meja master. Setelah melihat Verna duduk, Master Zac pun menghidupkan layar proyektor dan segera memulai pelajaran hari itu. “Hari ini kita akan mempelajari tentang Mental Healings. Masukkan kembali buku kalian dan perhatikan yang akan saya sampaikan.”

 

***

 

“Aku mengantuk sekali.”

Tiga jam pelajaran yang diampu oleh Master Zac baru saja berakhir, membuat Verna menarik tangannya ke atas demi merenggangkan ototnya selagi menguap lebar. Gadis itu memang terkadang seperti anak-anak, namun tak jarang pula ia akan bersikap lebih dewasa dari umurnya. Terkadang memalukan, tetapi bisa pula menjadi pusat perhatian.

Verna memutar posisinya guna memindai seisi kelas; murid-murid satu tingkatnya mulai berhamburan keluar ruangan karena jam istirahat pertama telah tiba. Tepukan pelan dari arah belakangnya kemudian membuat gadis itu berjingkat dan mencari tahu siapa yang melakukan hal itu kepadanya.

“Pelajarannya membosankan?”

Verna tertawa pelan. “Sedikit. Tetapi aku menyukai cara penyampaian Master Zac yang lumayan jenaka.” tuturnya dengan nada yang bersahabat. Ia mengulurkan tangan. “Ah, namaku Verna.”

Pemuda itu menyambut ulurannya. “Kau sudah mengatakannya tadi.”

“Benar juga, hehe. Dan kau… siapa namamu?”

“Carden.”

Verna dibuat tertegun usai mendengar nama teman satu tingkatnya itu. Ia merasa tidak asing dengan nama tersebut dan sebuah ingatan kemudian muncul dari memori otaknya.

Ah, kau si ketua itu? Senang dapat berkenalan denganmu.”

“Kau tahu?”

“Tentu saja. Aku banyak mendengar tentang Nomina dari kakakku.”

“Oh,” Carden manggut-manggut. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Masih ada lima belas menit sebelum pelajaran kedua dimulai. “mau kuantar berkeliling?”

“Apa tidak merepotkan?”

“Itu sudah tugasku.”

“Baiklah jika begitu.”

 

***

 

“Senior Valco mencariku?”

Derit engsel pintu yang terbuka membuat Valco menghentikan kegiatannya selama beberapa saat. Memeriksa seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan klubnya dengan masih menggunakan pakaian olah raga. Valco mengangguk sekilas, lantas memberi perintah untuk tamunya segera masuk dan kembali menutup pintu tersebut.

Eum, duduklah, Leevi.”

Leevi kemudian duduk di salah satu kursi di dalam ruangan itu, berhadapan dengan Valco.

“Ada masalah apa?”

“Kaupasti tahu bahwa adikku bersekolah di sini.”

“Varrel? Iya, kami sekelas.”

“Bukan,” Valco meletakkan pena dalam genggamannya ke atas meja.

“Lantas?”

“Verna. Gadis itu baru masuk ke kelas A.” jelasnya. Sementara, Leevi justru membolakan mata seraya berdecak kagum.

“Sungguh? Wow, hebat sekali!”

“Bukan pujianmu yang ingin kudengar, Leevi.” Valco bangkit dari kursinya menuju jendela kaca yang memamerkan pemandangan taman tengah sekolah di antara lapangan basket dan lapangan bola di bawah sana.

“Maaf,” Leevi berdeham sebentar. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Kudengar kau berada di klub yang sama dengan Carden.”

“Ya,” jawab Leevi dengan cepat.

“Kautentu dekat dengannya, kan?”

“Begitulah. Karena kami sama-sama menjadi penyerang, itu saja.”

Valco kemudian memutar tubuhnya. Menyandarkan punggung pada jendela tersebut selagi menatap Leevi tajam.

“Tolong awasi mereka berdua.”

“Maksudmu―”

“Verna dan Carden. Aku melihat mereka berdua berkeliling sekolah tadi.”

Leevi mengerutkan dahi. “Apa ada yang salah dengan itu? Bukankah Carden melakukannya karena dia seorang ketua?”

“Lakukan saja yang kuminta! Karena hanya kau yang kupercaya, Leevi.”

Aksen tegas yang terdengar dari nada bicara seniornya tersebut membuat Leevi akhirnya mengangguk kecil menyetujui permintaannya. Ia tahu bahwa perintah Valco tidak dapat ditolak maupun ditentang, apalagi oleh anak kecil sepertinya.

“B- baiklah. Akan kulakukan.”

 

***

 

“Yang terakhir adalah kafetaria.” Carden menghentikan jengkahan kakinya usai mereka berdua sampai di tengah-tengah kafetaria yang masih dijejali beberapa siswa Nomina. Suasana kafetaria yang ramai membuat Verna lagi-lagi berdecak dengan kagum.

“Wow, besar juga. Apa semua jenis makanan ada di sini?” tanyanya seraya memindai seisi kafetaria.

“Tidak semuanya. Makanan wajib di sekolah kami adalah wortel.”

Mata gadis itu lantas mendelik mendengarnya. “Wortel?” Verna sekali lagi memerhatikan beberapa siswa Nomina yang memang membawa segelas penuh cairan berwarnya oranye itu ke meja mereka. Di nampan makan juga terdapat potongan-potongan dadu berwarna oranye yang sudah pasti itu adalah wortel.

Yup, segala macam olahan wortel ada setiap harinya.”

“Mengapa harus wortel?”

“Tentu saja karena wortel sangat baik untuk kesehatan mata, terutama bisa meningkatkan pandangan jarak jauh. Jadi, kita dapat menyerang lawan dengan tepat ketika menjalani ujian akhir sekolah nanti.” jelas Carden.

“Kalau begitu, setiap hari kalian makan wortel?”

“Ya,” Carden lalu memeriksa jam tangannya. Bel akan segera berbunyi untuk mata pelajaran selanjutnya, tetapi ada hal yang harus ia lakukan sebelum itu. “Sudah sampai di sini, ya. Masuklah ke kelas! Aku harus pergi ke ruang kesehatan.” ujarnya seraya berlari menjauhi Verna dan area kafetaria. Saudaranya belum pulih dan semalam harus menginap di ruangan tersebut. Para master bilang bahwa Cia tidak bisa pulang terlebih dulu karena harus menjalani beberapa pengobatan khusus.

E- eh, Carden! Terimakasih.”

Carden terpaksa menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan dari Verna barusan. Pemuda itu berbalik sebentar, tersenyum kecil, kemudian kembali berlari ke tempat tujuannya.

 

 

 

To be continued…

Kim Nayeon as Verna (elemen: teleportation)

verna

echaminswag~’s OC
Visual: Fon Sananthachat

Advertisements

12 thoughts on “[Chapter 2] Of Alienate and A Mirage: New Elementer

  1. Pingback: [Chapter 6B] Of Alienate and A Mirage: Mission Accomplished – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Pingback: [Chapter 6A] Of Alienate and A Mirage: Rescue Mission – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Pingback: [Chapter 5] Of Alienate and A Mirage: Frailty – BTS Fanfiction Indonesia

  4. Pingback: [Chapter 4] Of Alienate and A Mirage: Who is He? – BTS Fanfiction Indonesia

  5. Pingback: [Chapter 3] Of Alienate and A Mirage: A Punishment – BTS Fanfiction Indonesia

  6. KYAAA KYAAAA KYAAAAA KIM NAYEON NAEGA TTAK JOHA(?).
    Ugh- jin kalem kalem serem juga yah ternyata …

    DAN …. ADA VARRELL KYAAA VARREEEELLLL!!!!

    DUH- kenapa itu carden sama verna harus dijagain?!?!?! Carden why carden whaaaayyy?!?!?!?

    Liked by 1 person

  7. “Apa aku mengenalmu?” Wkwkwkwk 😂😂😂😂
    Asik banget yaampun kaaak kudoakan semoga ini nggak kena wb karena aku sukak banget sama yang beginian 😊 tapi sesungguhnya aku lemah mengingat siapa adalah siapa jadinya mesti bolak balik ke page introduction 😂 semangat kaaaa yuhuu 😁

    Liked by 2 people

  8. hmmmm yeah.. udah mulai bisa menghafal nama… yeay!!! tp aku masih penasaran sama peran suga disini, dia pemeran utama tp belum keluar..trus kok si verna(?) adik jin kakak minggu itu bisa langsung masuk kelas A? ada apa sama jimin? kok jin sampe minta jungkook buat awasin adiknya?? ugh… penasaraaaan…

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s