[Chapter 9] The Prince of Vesperia and His Aide

the-prince-of-vesperia-and-his-aide-snqlxoals818
The Prince of Vesperia and His Aide

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian | BTS’s Min Yoongi as Fyre

BTS’s Park Jimin as Alven | SHINee’s Lee Taemin as Erden

OC’s Icy

.

Kingdom!AU, friendship, family, fantasy | chaptered | Teen

.

inspired by anime (Snow White with The Red Hair & The World is Still Beautiful)

.

This is the end of us.

.

Erden menemukan Icy di antara gelapnya malam. Di antara pepohonan pinus, tertimbun salju. Masih tipis, itu berarti ia belum lama terkapar di sana. Tak jauh darinya, Phillip terlentang dalam keadaan sadar sepenuhnya. Namun ia kedinginan, tubuhnya dipenuhi lebam, sisa-sisa darah tampak di sekitar mulutnya, dan Alven menyadari kedua lengan juga kaki lelaki itu lemas saat ia mengangkatnya.

“Icy melumpuhkannya,” ujar Erden kepada Killian saat mereka mengunjungi Phillip di tahanan. Lelaki itu duduk bersandar, tertidur. Herbalis istana telah mengobatinya dan menyimpulkan beberapa tulang rusuknya retak, tulang keringnya patah, dan ia akan lumpuh selamanya.

“Dan dia menusuk Icy,” suara Killian geram. Penuh amarah. Tangannya mengepal, menonjolkan urat-urat di lengannya. Tubuhnya kembali bergetar ketika ia mengingat bagaimana keadaan Icy yang diletakkan Erden di kamarnya. Terlalu banyak darah. Kulitnya teramat pucat. Bibirnya membiru. Gaun yang dikenakannya tersayat di beberapa tempat. Dan luka terparah yang dilaporkan tabib yaitu di perutnya. Phillip menusukkan pedangnya di sana, sama seperti yang diberikan Stephan. “Aku akan menyiapkan hukuman mati.”

Erden terkesiap. Sorot mata sahabatnya tidak memancarkan keraguan sedikit pun. Keputusan Killian pasti tidaklah main-main. Tapi menghukum mati seseorang… “Kurasa Icy tidak menginginkannya.” Erden menepuk bahu sang pangeran dan tersenyum lemah. “Kautahu itu, Killian”

Kepalan tangannya mengendur. Di balik tangannya yang menutupi wajah, sang pangeran menangis.

.

-:-:-

.

Ia tampak seolah sedang menikmati mimpi. Meski kain-kain perban melilit tangan juga kakinya. Meski luka-luka menggores wajahnya. Dan sejenak mengabaikan rasa sakit yang menjalar.

Killian memejamkan matanya kuat-kuat. Menggenggam jemari sang gadis begitu erat. Memanjatkan doa sepenuh hati. Berharap saat kelopaknya terbuka, ia melihat Icy yang menggerutu. Lekas mengibaskan tangannya dan melemparkan bantal ke arah Killian sembari mengumpat. Ia memilih Icy yang seperti itu ketimbang seorang gadis yang terbaring tak berdaya. Killian membuka matanya. Tak ada perubahan apa pun. Icy masih tetap terlelap.

Lukanya terlalu parah.”

Sebelum ia masuk, seorang perawat berjalan melaluinya. Membawa mangkuk di sebuah nampan. Mangkuk yang berisi kapas-kapas merah darah. Hari ketujuh sejak Erden membawa Icy, luka tusuk di perutnya tak juga kunjung sembuh. Berbeda dengan kejadian satu tahun lalu, kali ini, Icy kehilangan banyak darahnya. Kulitnya semakin pucat. Hampir serupa dengan salju yang begitu ia sukai.

“Tujuh hari,” gumam Killian lirih. Jemarinya menelusuri pipi tirus sang gadis. Menyelipkan helaian rambutnya di balik telinga sembari tersenyum miris. Berpikir jika Icy mengetahui apa yang ia lakukan, sudah pasti gadis itu akan marah. Meneriaki Killian atau menyuruh lelaki itu pergi jauh-jauh. “Apa perlu aku menciummu agar kau terbangun?”

Lesir angin lembut di awal musim semi menyambut tanyanya. Killian berjalan menghampiri jendela. Langit jingga terhampar di atas sana. Salju-salju mulai menghilang dari pepohonan pinus. Hoogland akan kehilangan saljunya. Tapi tidak dengan Killian. Ia tak ingin kehilangan Icy-nya.

Terdengar suara ketuk pelan. Killian menoleh, mendapati Erden yang berjalan masuk.

“Beristirahatlah, Killian.” Erden menduduki kursi kayu di sisi ranjang kakaknya yang tadi ditempati Killian. Ia mengamati sang pangeran yang masih bergeming selagi tangannya memeras handuk kecil dari dalam baskom berisi air. Setelah cukup basah, ia membasuh kening Icy perlahan dan berkata, “Kau selalu menjaganya siang dan malam beberapa hari ini.” Erden kembali mencelupkan handuk itu ke dalam air, memerasnya, dan kali ini membersihkan jemari kurus kakaknya. “Aku juga ingin menjaganya.”

.

.

Kali terakhir air matanya keluar adalah saat Erden menyaksikan kedua orang tuanya dimakamkan. Sejak itu, ia berjanji takkan lagi menitikkan air mata. Namun sekarang, selepas Killian pergi, Erden menangis.

Jika Icy melihatnya, ia pasti akan tertawa kencang. Lantas memeluknya dan menenangkan Erden dengan berkata bahwa ia baik-baik saja. Bahwa ia tidak akan pergi ke mana pun. Bahwa Icy akan selalu di sampingnya. Namun, sama seperti yang dialami Killian, Icy tidak bergerak sedikit pun. Kelopaknya masih saja tertutup seolah ada lem sekuat baja yang melapisinya.

“Kak.” Erden menangkup tangan Icy dengan kedua tangannya. Manik terkunci pada wajah sang kakak, ia tersenyum sayu. “Tahu tidak,” katanya, “kenapa aku selalu menolak ajakanmu tidur bersama?”

Icy tidak menyukai kontak fisik, terkecuali kepada adiknya sendiri. Terkadang, secara tiba-tiba, Icy memeluk Erden, yang langsung mendapat balas dorongan kuat. Ia juga selalu memaksa agar mereka tidur bersama. Bahkan ia sampai memohon, dan mengatakan Erden cukup tidur di sisinya selama sepuluh menit dan setelah itu ia boleh pergi. Tapi Erden tetap menolak.

“Alasannya,” Erden berdeham, “aku malu.” Matanya berkaca-kaca. Ada setetes air mata lolos menuruni pipinya. Erden tertawa hambar. “Konyol sekali, kan?”

Isak tangisnya semakin kentara. Melipat tangannya di atas kasur dan membenamkan wajahnya di sana, Erden menumpahkan semua rasa pedihnya. Apa yang dikatakan herbalis istana memang masih sebuah perkiraan, hipotesa yang bisa dipatahkan sewaktu-waktu jika takdir ikut menentangnya. Namun, melihat tak ada perubahan apa pun selama tujuh hari ini, Erden kehilangan sedikit harapannya.

Detak jantungnya kian melemah. Pun dengan kondisi tubuhnya. Kemungkinan ia selamat, sangat tipis. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tetap bertahan. Seolah-olah ada sesuatu yang menahannya.”

“Aku yang menahanmu untuk tidak pergi, Kak.”

Hening menyelimuti. Api-api lilin kecil di atas kandil berdiam diri. Di luar sana, bulan dan bintang menghiasi langit. Tiada angin. Begitu sunyi. Hingga menit berlalu, suara lirih nan parau menyusup ke dalam indra pendengaran.

Er… den….

.

.

Mimpi hanya bunga tidur, sebagai penghias semata. Killian percaya itu. Killian percaya kedatangan Icy ke dalam mimpinya dikarenakan ia yang terlalu merindukan gadis itu. Tidak berarti apa-apa, pikirnya begitu mantap. Atau mungkin itu menjadi pertanda bahwa Icy akan segera sadar. Senyum Killian merekah.

Abaikan pipinya yang dibasahi air mata, Killian berlari ke luar kamarnya. Menuju tempat di mana gadis itu berada, gadis yang telah ia temui di dalam mimpinya.

Icy.

Aku harus bertemu dengannya.”

Namun, langkah Killian terhenti saat presensi seseorang di ujung koridor ini terlihat. Wanita yang masih mengenakan gaun tidur putihnya, yang memandangi pintu kamar Jillian dengan tatap nanar. Kesedihan menyelimuti wajahnya.

“Ibu?”

Tersentak, Louisa lekas menyeka kedua matanya yang basah. Berikan senyum tipis ketika menghadap putra keduanya. “Kau belum tidur, Sayang?”

“Apa yang Ibu lakukan di sini?”

Semenjak kepergian Jillian, Louisa tak pernah sekali pun kemariㅡtidak pernah sedekat ini dengan benda-benda yang akan mengingatkannya kepada Jillian. Louisa terlalu mencintai Jillian. Menganggap kematiannya hanyalah sebuah mimpi buruk abadi yang tak pernah usai, di mana ia terjebak di dalamnya.

Killian melihat ibunya gemetar. Senyum teduhnya sedikit demi sedikit luntur, digantikan kerut-kerut kekhawatiran di dahinya. Maka, Killian merangkul ibunya. Membagi senyum seraya ia menganggukkan kepalanya ke arah pintu. “Aku akan menemani Ibu bertemu Kakak.”

Kaki beralas sandal beledunya tetap memaku di atas lantai kayu. Ketakutan hebat kembali menghantamnya bagai terpaan badai ketika jemari Killian menekan kenop dan membuka pintu itu. Louisa mencengkeram sisi kemeja putranya, mencari-cari senyum Killian yang selalu mampu membuatnya tenang.

“Ayo, Bu,” ujar Killian lembut. Mereka melangkah masuk berirama, bergandengan tangan erat. Killian membiarkan pintu terbuka lebar. Cahayanya tepat menyinari potret besar Jillian. Lukisan yang dibuat ketika ia berumur tujuh belas tahun, beberapa hari sebelum kematian menjemputnya.

Seakan kembali bersitatap dengan putranya, tangis Louisa seketika merebak. Kakinya lemas dan ia jatuh terduduk. Hatinya terasa perih, bagai tercabik kuku-kuku tajam seorang penyihir jahat. Killian memeluk ibunya yang terus mengucap nama Jillian dan permohonan maaf yang pilu.

Selama beberapa menit Louisa menangis di dalam dekapan Killian. Saat tangisnya reda, berganti isakan samar, Killian melepas pelukannya, lalu mengusap pipi memerah ibunya. Louisa mendongak, meneliti tiap inci wajah putra keduanya yang semakin dewasa. Semakin tampak kesamaan antara kedua putranya. Sorot mata mereka sesejuk angin musim semi.

“Killian.”

Hm?”

Louisa merogoh saku gaun tidurnya. Mengeluarkan sebuah benda yang sangat dikenali Killian.

“Kalung itu….”

“Milik Jillian.” Louisa menyerahkannya kepada Killian.

Tangannya gemetar. “Bagaimana bisaㅡkalung iniㅡdi mana Ibu menemukannya?” tanya Killian, tergagap.

“Icy,” bisik sang ratu. “Icy yang menyimpannya selama ini.”

Mata Killian membola. Napasnya tercekat. Ia teringat apa yang pernah dikatakan ayahnya saat menyerahkan dua kalung itu kepada kedua putranya.

.

Berikan kalung milikmu kepada seorang gadis yang kau cintai.”

.

Icy menyimpan kalung milik Jillian. Jillian mencintai Icy. Tentu saja. Seharusnya Killian tahu hal ini sejak awal.

“Ada hal lain yang perlu kau ketahui, Sayang.” Louisa menyentuh punggung tangan putranya. “Tentang ayahmu.”

“Ayah?”

Louisa mengangguk. Ia menatap potret Jillian sebelum memulai cerita. “Kakakmu rela menyerahkan takhtanya kepadamu. Kautahu alasannya, Sayang?”

Killian memilih diam.

Louisa menghela nalas panjang. Sedikit melonggarkan rasa sesak yang menggumpal di dadanya. “Jillian ingin hidup sebagai rakyat biasa. Ia ingin menjalani kehidupan seperti kedua orang tua Icy, Atlan dan Alicya. Ia ingin terbebas dari ikatan kerajaan dengan menyerahkan takhtanya padamu dan menikahi Icy.”

Tiap kata yang ia dengar, bagai panah-panah kecil tak kasatmata yang langsung tepat menancap di hatinya. Membuat paru-parunya dipenuhi asap pekat, dan Killian kesulitan bernapas.

Jillian merelakan takhta demi menggapai cinta. Ia memilih Icy.

“Jillian terus-menerus memohon restu kepada ayahmu. Sampai akhirnya ia menyerah dan mengizinkan Jillian mengambil langkahnya sendiri. Ayahmu memegang janjinya, Killian.” Louisa menyentuh pipi Killian dengan lembut. “Ayahmu hanya merestui Jillian bersama Icy. Itulah mengapa ia melarangmu menyukai gadis itu. Demi Jillian. Demi janji yang telah mereka buat.”

.

.

Seakan apa yang dikatakan sang Ratu belum melengkapi malam kelam Killian, pernyataan Erden yang baru saja ia dengar sebelum memasuki kamar Icy membuat kemarahannya meradang. Meluapkan emosinya, ia mendorong tubuh Erden ke dinding, menarik kerah tunik hijaunya. Erden tak kuasa membalas atau meronta. Diam, sementara kilat-kilat kebencian dari kedua manik Killian menatapnya sengit.

Sebelum satu tinju mendarat keras di rahang Erden, seseorang lebih dulu menghentikan kepalan tangan Killian.

“Apa yang kaulakukan, huh?!”

Fyre menarik kuat-kuat bahu Killian, menjauhkannya dari Erden yang kini terbatuk memegangi lehernya. Di sisi lain, sang Pangeran Vesperia mendengkus, tak acuh. Memilih memasuki kamar Icy dan berhenti sejenak untuk mengatakan sesuatu, sebelum menghilang di balik pintu.

.

Aku tidak akan menyerahkan Icy.”

.

“Apa maksud perkataannya?” tanya Fyre setelah memastikan keadaan Erden baik-baik saja. Lelaki itu tampak begitu kacau, jauh lebih pendiam dari biasanya. Ia hanya menunduk, memaku tatap kosongnya pada lantai kayu. “Erden?”

“Icy,” katanya, pelan. Pandangan kosong terarah ke pintu kamar kakaknya dan sebuah senyum hambar tersungging di wajah lesunya. Erden bersitatap sejenak dengan Fyre,  sebelum berjalan menjauhinya dan berkata, “Ia ingin pergi.”

Fyre mengerutkan keningnya. Mencerna apa makna tersirat di dalam perkataan Erden, alih-alih mendesak lelaki itu untuk menjelaskannya sendiri. ‘Pergi’, satu kata itu dijadikan sang Pangeran Orient sebagai kata kunci. Dan kesimpulan pahitlah yang didapatkan Fyre. Secara tidak langsung ia pun mengerti mengapa Killian bersikap seperti tadi. Killian yang biasanya bisa menjaga emosinya, sekejap berubah begitu saja hanya karena—

Mengucap hipotesanya sendiri saja sudah menciptakan rasa getir di lidahnya. Maka, Fyre memilih diam seraya maniknya memandang punggung Erden yang semakin menjauh. Membawa duka yang teramat dalam untuk kedua kalinya.

.

.

Aku tidak akan menyerahkan Icy.”

Killian membiarkan kata-kata itu berputar-putar di kepalanya bagai mantra dan pengingat bahwa ia tak akan menyerah pada keputusasaan. Icy hanya tertidur. Ia akan terbangun sebentar lagi, saat matahari mulai merambat naik perlahan. Killian akan mengejutkannya dengan sarapan pagi berupa pai stroberi yang masih mengepulkan asap dan susu hangat. Meski tampak tidak senang, Icy tetap akan memakan pai itu dengan rona di pipinya. Selesai, Killian akan mengajak Icy berlatih pedang atau memanah atau sekadar menghabiskan waktu pagi dan siang mereka di perpustakaan. Mereka akan melakukan banyak hal karena mereka pun memiliki banyak waktu.

Ya, Killian tidak boleh menyerah. Sebentar lagi, beberapa menit lagi, Icy akan membuka kelopak matanya. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya… meski ia sudah tertidur selama tujuh hari.

Menyeka setetes air mata yang luruh, Killian kembali memulas senyum. Digenggamnya tangan Icy semakin erat, pertanda bahwa ia takkan melepasnya pergi. Toh gadis itu memang akan tetap di sini. Tugasnya sebagai aide belum selesai. Masih ada beberapa minggu lagi. Setelah itu, Killian bisa mengutarakan perasaannya kepada Icy dan secara tegas menolak perjodohannya dengan Putri Lucy.

“Semua akan baik-baik saja,” ujar Killian meyakinkan dirinya sendiri. “Icy akanㅡ”

Kautahu apa yang paling ia benci, Killian.”

Seketika, perkataan Erden meruntuhkan keyakinannya. Bohong jika Killian tak melihat kenyataan yang ada. Icy terlalu banyak menerima luka sayat juga tusukan di perutnya yang belum mengering, memar di sekujur tubuh, retaknya tulang rusuk; bagaimana bisa ia bertahan dengan rasa sakit sebanyak itu ketika ia teramat sangat membencinya? Mungkin Erden benar. Icy memilih pergi daripada harus terus merasakan sakit.

“Tapi….” Air mata Killian merebak begitu saja. Jemarinya merasakan denyut lemah yang berdetak di urat nadi gadis itu. Ia bisa menghitungnya seperti detik jarum yang bergerak. Lebih lambat dari ayunan pendulum yang sewaktu-waktu bisa berhenti.

Icy melarangku untuk memanggilmu. Katanya, kalian sudah bertemu.”

Bertemu dan berbincang di dalam mimpi. “Apakah itu salam perpisahan darimu, huh? Kita bahkan belum berdansa dan kau ingin pergi?”

Killian tertawa getir. Merutuki kebodohannya lantaran memaki pada gadis yang bahkan tak lagi bisa mendengar suaranya. Yah, menyalahkan dan melimpahkan kesalahan sepenuhnya kepada Phillip pun percuma. Tak ada yang bisa menentang takdir. Katakanlah malam itu Killian berhasil membawa pergi Icy, menjauhkannya dari bahaya. Setelah itu, ia berhasil menangkap Phillip. Dan voilà, kisah mereka berakhir bahagia. Tapi, saat ini Killian sedang berdiskusi dengan takdir yang tak bisa diubah.

Kematian.

Mau tak mau, suka tidak suka, siap atau tidak; kita harus menerimanya, bukan?

Ia ingat bagaimana rupa Erden saat keluar kamar tadi. Begitu lemah, seolah separuh jiwanya mati. Erden hanya memiliki Icy sebagai keluarga, setelah kedua orang tua mereka wafat. Erden yang seharusnya jauh lebih berduka dan kehilangan. Namun, kenyataannya, Erden bisa mengikhlaskan keputusan yang dipilih kakaknya. Maka, Killian pun akan berusaha mencoba menerima apa yang disuguhkan takdir padanya—melepas kepergian seseorang yang begitu ia sayangi.

Killian mengelus wajah Icy yang sedingin salju, merasakan sedikit uap hangat dari embusan napasnya yang begitu samar. Seiring tetes demi tetes air matanya meluruh, dilatari sinar kekuningan yang mulai tampak di ufuk timur, Killian mengecup kening gadis itu sebagai salam perpisahan.

Mengukir senyum tipis, Killian bersyukur, ia dapat menemani Icy di akhir hidupnya. Menyaksikan satu embusan napas terakhir darinya dan denyut yang tak lagi terasa. Dan, meski sulit, Killian akan melaksanakan apa yang diperintahkan aide-nya. Tanpa paksaan, harus didasari rasa cinta.

.

’Berbahagialah bersama Lucy’, itulah yang ia sampaikan sebelum menutup mata.”

.

.

Selamat tinggal, Icy. Selamat jalan, My Aide.”

.

fin.


Alhamdulillah akhirnya The Prince of Vesperia and His Aide bisa berjumpa dengan kata ‘fin.’ :”) *elap ingus* pokoknya seneng banget bisa kelarin 1 ff ber-chapter yang ada > <

Dan aku mau mengucapkan banyak banyak terima kasih buat semua yang udah baca, ngikutin cerita ini dari awal sampe akhir, dan apalagi yang menyempatkan untuk komen. Aku ngerasa yang komen semakin ke sini semakin sedikit banget. Aku introspeksi diri, entah mungkin ceritanya kurang menarik, kata-kata yang aku pake monoton, atau emang ngebosenin dan bikin ngantuk *pfft* Maaf banget aku cuma bisa menyuguhkan cerita yang seadanya. Ke depannya aku pasti bakal lebih baik lagi dan bikin cerita yang cukup layak untuk diberikan komentar XD

Oke, segitu aja cuap-cuap gak jelasnya. Sekali lagi terima kasih buat semuanya, jangan kapok sama Killian dan Icy yang bakal terus nampang ya. Ihihihihi 😀

Sampai jumpa di cerita yang lain ^0^)/

.

p.s Kalau sempet nanti aku bikin after story-nya 😉

Advertisements

9 thoughts on “[Chapter 9] The Prince of Vesperia and His Aide

  1. chintyarosita

    Kakkkk.. Ceritanya kok gantunggg.. T. T, bikin sekuelnya ya kak.. .

    Aku maraton bacanya.. Hahahaha. Ceritanya seruuu.. Aku sukaaa.. 😁😉😁

    Like

  2. Bentar-bentar….
    Icy koma, kan? Iya kak, Icy koma kok dia masih ngobrol kemaren sama aku kak (eh) KAKKKK AKU TAK RELA ICY MENINGGALKAN SEMUA KENANGANNYA BERSAMA KILLIAAAAN AKHHHHH T-T

    Aku kira bakalan jadi happy ending, Icy terbangun dst dst tapi dia… dia… ICY KEMANA KAKKKKK aku gaterima Killian dengan Lucy aku tidak restui mereka berdua T-T Killian sedih banget aku gak tega kak T-T

    Oh iya kak, apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya Icy? Kenapa mereka bisa meninggal? Ini belum dijelasin ya atau udah dijelasin tapi akunya lupa(?) Cuma satu itu saja pertanyaanku dan sisanya dipenuhi oleh pertanyaan, ‘Akankah Icy dan Killian bersama?’

    Ini udah tamat aku gabakalan bisa liat Killian x Icy moment lagi yang selalu bercekcok dan tatapan merona Icy kalau diliatin Killian ughhhh XD

    Pokoknya congrats kak yeni sudah menamatkan ini dari awal aku ngikutin sampe sekarang dan aku terhanyut bak sendal yang mengapung di sungai(?) Pokoknya jjang!

    (p.s: kalau Icy pergi ke alam satunya, pasti Icy dan Jillian bertemu lalu sama-sama melaksanakan janji mereka, iya, janjinya Jillian yang mau menikahi Icy. Iya Jillian, bukan Killian. Iya.)

    Like

    1. Hai ji~~

      Soal ortunya icy sekilas udah dijelasin (aku lupa chapter brp). Ortu icy meninggal karna nyelametin ortunya killian 😅

      Yaaahh restui killian sama lucy dong. Mereka pasangan yang cocok ko 🙏

      Nooo icy pergi bukan karna jillian ko… icy sukanya kan sama killian 😂🔫

      Makasih ya ji udah sempetin baca dan komen 😆

      Liked by 1 person

  3. Aku berharap Killian yang pergi Kaak, bukan Icy….
    Ini sedih bgt ya ampuuun, aku bacanya sampe tegang sendiri. Berasa dikasih harapan palsu muluu, kirain pas sadar teh mau hidup lagi gituu.

    Hhh, pasti mau cepet2 ketemu Jillian kaan. Aku kok ngerasa nasibnya Killian ngenes bgt yaa. Duuh dijodohin kan rasanya ga karuan, kesel, marah, ah~ ga tegaa.

    KaYen tanggung jawab aku nangis niiih…
    Aku tunggu after storynya aja deh, semoga ada yaa.

    Like

  4. KAYEN AYO KITA BERTARUNG KAK SINI TARUNG ASTAGA ALETA BAHKAN BELOM RESMI SAMA FYRE BELOM KE VESPERIA BUAT KENALAN SAMA ICY DAN INI APA???!! INI? APA???!! *menangis*

    di ff sebelah Icy-nya baik2 aja terus di sini……….. *sigh* aku siang-siang baca ini sama makan bakso sama menangis huhuhu gara2 kayen nih *terus kenapa* *nggak penting woy*

    sepanjang baca tuh aku jadi panik nggak jelas sendiri huhuhu terus sampe tengah tuh berharap happy ending, terus pesimis lagi, terus berharap lagi, gitu terus sampe bubar terus aku rasanya pengen marahin Icy hhhhh

    btw dek Erden, sini tak peluk kasian banget kamu sebatang kara T T

    itu Icy mah mau cepet2 ketemu Jillian ya… jadi Killian ditinggal *sigh* aku jadi curiga Jillian ini visualnya siapa, kayen bayanginnya siapa hayo? *nodong*

    Anyway selamat kak ff chapternya udah selesai! Barengan lagi kita yeaaay! XD
    mari berjuang buat Orient dan On Board dan Stovenhale yaaa wkwk see yaa ❤ ❤

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s