[Chapter 1] Bring Back the Shadow

img_6654

Bring Back the Shadow

by ayshry

BTS members with some OCs
| genres AU!, Friendship, Mystery, Thriller | length 3.1k words | rating PG-15 |

Seharusnya kematian itu tak pernah terjadi

Prev:
Prolog & Introduction 

***

Potret usang itu masih ia pegang erat. Maniknya yang sedari tadi hanya tertuju pada gambar di sana mulai merasa lelah. Ada beberapa hal yang tak bisa ia jelaskan, begitu pula dengan keadaan. Buliran likuid bening memang sudah menganak sungai di pipi tirusnya; menangis dalam diam juga memutar kenangan adalah apa yang bisa ia lakukan sekarang.

Keheningan meliputinya sejak tadi. Tak ada pergerakan berarti yang ia lakukan. Meratapi nasib juga memikirkan bagaimana segalanya terjadi dengan begitu cepat membuat kepalanya berdenyut keras. Emosi membuncah. Kepergian Jiyoon begitu cepat baginya. Rasanya baru semalam mereka saling bertukar kalimat, melontarkan candaan juga tertawa bersama. Namun kini, ia telah kehilangan sosok gadis periang itu, tiba-tiba. Tak ada pemberitahuan, tak ada tanda-tanda. Hanya beberapa potongan ingatan juga kenangan yang membekas, membuatnya menyimpan dendam tak terbalas.

Disekanya buliran cairan yang baru saja luruh dari kelopak matanya. Potret di hadapannya ia remas tiba-tiba, semakin kuat seiring dengan emosi yang tak tertahan. Ada kilatan sesat di matanya, ada sekelebat pikiran tak berdasar yang menghantuinya. Dia terlihat berbeda, tidak seperti dia yang biasanya.

Kertas berisikan gambar tujuh pemuda juga dua orang gadis itu dibuangnya sembarangan setelah bentuknya tak karuan. Ia menggeram, terlihat seram; seakan-akan siap menerkam siapa saja yang membuatnya geram. Kemudian bibirnya yang sedari tadi bungkam mulai terbuka lebar, melontarkan sebuah kalimat yang kiranya tak pernah terpikirkan:

“Akan kuhabisi siapa saja yang telah merenggut Jiyoon dariku!”

***

Jungkook tertunduk di tempat, matanya sembab. Pemuda itu baru kembali dari pemakaman Jiyoon—karibnya. Sengaja, ia memilih untuk pulang terlebih dahulu demi menenangkan pikiran. Jujur saja, Jungkook sangat terpukul dengan kepergian Jiyoon yang mendadak. Masalahnya, ada beberapa hal yang belum bisa ia utarakan kini, ada sebuah rahasia tentang gadis itu yang ia ketahui dan karenanya pemuda Jeon itu merasa amat depresi.

Saat-saat sendirinya kini membuatnya tak mampu mengenyahkan kenangan tentang ia bersama Jiyoon. Bagaimana dia dan gadis yang lebih tua dua tahun darinya itu saling bertukar cerita, saling berbagi permasalahan. Jungkook tak ingat pasti kapan ia menjadi begitu akrab dengan Jiyoon hingga membuatnya nyaman menceritakan apa saja yang tertumpuk di pikiran. Berbagi masalah dengan gadis Ahn itu bisa membuatnya lega, amat lega. Meski terkadang Jiyoon tak memberikan pemecah masalah, sekedar semangat juga tawa yang ia bawa cukup membuat Jungkook merasa lepas dari beban. Dan kini pemuda itu harus merelakan zona amannya pergi untuk selamanya.

“Hei, Kook, aku butuh saranmu!”

“Tentang pemuda itu lagi, huh?”

“Tidak. Ah, maksudku, kau tak sepenuhnya salah, cuma—“

“Sudah katakan saja, jangan berbelit-belit. Aku ini sibuk, tahu!”

“Sejak kapan seorang Jeon Jungkook mempunyai kesibukan?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ahn Jiyoon! Kali ini apa lagi?”

“Ini bukan tentang dia, tahu! Aku ingin lebih dekat dengan Yoongi. Kautahu sendiri, ‘kan, dia adalah salah satu yang sulit untuk didekati. Bukannya apa-apa, aku hanya merasa aneh dengannya yang lebih suka menyendiri ketimbang berkumpul di sini.”

“Tumben sekali. Biasanya kau hanya mau mengikuti Jimin ke mana-mana atau merusuhi Taehyung yang menyebalkan itu.”

“Sudah jangan banyak tanya. Ada sesuatu yang harus kulakukan dengan Yoongi dan aku butuh bantuanmu kali ini. Mengenai jadwalnya, haha, bisa tolong tanyakan padanya apakah sore ini ia luang? Aku ingin mengajaknya ke suatu tempat.”

“Tanyakan sendiri sana! Kenapa harus bersamanya, sih? Jelas-jelas aku—“

“Kau takkan tahu apa-apa, anak kecil dan katamu tadi kau sibuk, ingat? Sudah ah, berbicara denganmu tak ada gunanya. Aku pergi.”

“Ke mana?”

“Mencari Yoongi.”

“Dia ada di lapangan basket, Yoonie!”

Jungkook menarik sudut bibirnya ketika percakapan mereka dua hari silam kembali berputar tanpa ia beri perintah. Matanya mulai berkaca-kaca, dadanya sesak; hingga kemudian isakan demi isakan berhasil lolos dari bibirnya.

Mungkin itu adalah konversasi terakhirnya bersama Ahn Jiyoon. Ada penyesalan yang menghampirinya. Jika saja saat itu ia bersikap lebih baik kepadanya, setidaknya memberikan saran tentang keinginannya untuk lebih dekat dengan Yoongi atau justru mengantarkannya menuju lapangan basket untuk menemui pemuda itu.

Jungkook masih ingat bagaimana punggung Jiyoon menghilang di sebalik pintu. Tak ada yang berbeda, semuanya seperti biasa. Tak ada tanda-tanda tentang gadis itu yang akan berpulang. Sungguh, jika bisa Jungkook benar-benar ingin mengulang waktunya; kembali pada masa di mana Jiyoon masih bernapas dan memperbaiki setiap kesalahan yang telah ia perbuat.

Maafkan aku Ahn Jiyoon.

***

Jiyoon masih setia duduk di pinggir lapangan; menunggui pemuda Min yang masih sibuk men-dribble bola berwarna oranye itu di lapangan. Peluh sudah menggunung, rambutnya bahkan telah basah kuyup tapi Yoongi masih asik dengan permainannya. Bahkan kehadiran Jiyoon di sana belum ia sadari sampai bola berhasil ia masukkan ke dalam ring; disusul teriakan melengking yang menguar keras dari pinggir lapangan.

“Yey, Kak Yoongi hebat!”

Si pemilik nama lantas mengalihkan pandangan ke sumber suara yang familier. Mendapati eksistensi Jiyoon yang melambai ke arahnya, ia lemparkan senyuman juga balas melambai. Yoongi sempat mengabaikan Jiyoon untuk beberapa saat dan telibat percakapan dengan kawan setimnya sebelum pemuda berkulit putih itu mengayunkan tungkai dan menghampiri sang gadis.

“Jiyoon? Apa yang kau lakukan di sini?”

Benar memang jika kedua orang itu tak terlalu sering menghabiskan waktu bersama, bahkan yang bisa Yoongi lakukan kini hanyalah menyapa dengan penuh kecanggungan.

“Hehe, aku punya sedikit urusan denganmu, Kak. Sore ini kau bisa menemaniku ke suatu tempat, tidak? Ada beberapa hal yang ingin kudiskusikan sekaligus meminta pendapatmu.”

Yoongi sempat bimbang. Bukan karena ia tak mau, tapi lebih ke rasa canggung yang takutnya tak mampu ia atasi.

“Ayolah. Kudengar kau tak ada kelas sore ini, jadi, ikut denganku, ya?”

Pemuda Min itu melempar senyuman. Tingkah Jiyoon yang menyenangkan seperti ini berhasil membuat rasa canggungnya sedikit berkurang. Setidaknya jika ia masih tak bisa mengatasi, gadis periang itu akan mencari cara agar keduanya merasa nyaman.

“Baiklah. Haha, kautahu? Ini kali pertama di mana hanya ada aku dan kau tanpa yang lainnya, jujur aku merasa sedikit canggung. Tapi, oke, tak ada salahnya mencoba hal baru, bukan? Kali saja setelah ini hubungan kita yang tak terlalu dekat akan seperti yang lainnya. Jadi, mau ke mana kita?”

“Pusat perbelanjaan.”

“Ya?”

“Temani aku membeli hadiah untuk dia.”

“Oh, pemuda misterius itu?” Bibir Yoongi sempat mengeluarkan gelak tawa sebelum kemudian berganti dengan senyuman menggoda. “Hadiah seperti apa yang ingin kau berikan sampai harus mengajakku, Ahn Jiyoon?”

“Dia memiliki hobi yang sama denganmu, Kak. Basket.”

“Jimin juga menyukai basket, kenapa tidak mengajaknya saja?”

“O-oh? Hei, kenapa harus Jimin? Haha, aku ingin mengajakmu, itu saja.”

“Baiklah-baiklah. Jadi kau ingin memberikan apa untuknya?”

“Hmm … haruskah aku membelikannya sepasang sepatu baru?”

***

Kediaman Hayoon masih ramai hingga petang. Keenam sahabatnya berada di sana, kecuali Jungkook yang memang sudah pamit bahkan sebelum acara pemakaman benar-benar usai. Hayoon memaklumi, ia tahu benar pemuda itu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan adiknya; Jiyoon. Pasti Jungkook kini tengah meratapi nasib, sama seperti ia dan keenam pemuda berwajah sembab yang lain.

Semuanya memilih untuk merenung. Terdiam tanpa tahu caranya memulai percakapan. Bahkan Kim Taehyung yang biasanya tak bisa diam barang sedetik pun terlihat paling suram di antara yang lainnya. Seperti tengah menyembunyikan suatu hal, pemuda itu benar-benar larut dalam pikirannya. Menjadi orang terakhir yang sempat beradu argumen dengan gadis itu membuat sosok Taehyung kehilangan arah untuk sesaat. Ia kebingungan. Bagaimana bisa Jiyoon pergi secepat ini? Bagaimana bisa Jiyoon meninggalkan mereka tanpa pamit sekali pun? Dan yang lebih tak masuk akal adalah tentang bagaimana gadis itu kehilangan nyawanya. Bunuh diri. Oh, tak adakah alasan lain yang bisa dikemukakan? Bunuh diri hanyalah dusta belaka. Ahn Jiyoon bukan gadis dengan pemikiran terbelakang. Dia itu ceria, penuh semangat. Mustahil gadis periang sepertinya menghabisi nyawa sendiri terlebih hanya karena persoalan cinta.

Hayoon masih terisak, di sebelahnya ada Hoseok yang tak henti-hentinya memperikan tepukan penenang di pundak. Pemuda cerewet itu kini tak banyak bicara; hanya meloloskan beberapa kalimat singkat demi menghibur gadis rapuh di sebelahnya. Kehilangan seorang sahabat rasanya tidak sebanding dengan kehilangan seorang adik, tapi tetap saja Hoseok juga tak bisa menyembunyikan kesedihan mengingat masa-masa indah mereka bersama. Biasanya Jiyoon selalu menjadi sasaran empuk keisengannya, biasanya Jiyoon akan berteriak sebal jika ia sudah menjadi seorang pengganggu, biasanya …. Hoseok sadar, takkan ada kata ‘biasanya’ lagi tepat ketika tubuh kaku gadis Ahn itu terekam di penglihatannya.

Si sudut ruangan yang lain ada Jimin yang terduduk lesu. Punggungnya ia sandarkan pada dinding dingin di belakangnya; wajahnya yang tertunduk juga sama suramnya dengan yang lain. Matanya sembab; bahkan bengkak. Jimin memang yang paling banyak menangis di antara keenam lelaki lainnya.

Seperti yang diketahui, Jimin juga memiliki hubungan yang sulit dijelaskan dengan sosok Jiyoon. Baginya Jiyoon itu sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka juga sudah saling mengenal sejak lama, jauh sebelum pemuda Park itu mengenal keenam laki-laki di sana bahkan juga Hayoon. Bisa dibayangkan bagaimana hancurnya hati Jimin saat ini, bukan? Pemuda itu terlihat semakin tak berdaya ketika peti milik Jiyoon tertutup tanah. Jika bisa, ingin rasanya ia menemani. Oh, jangan lupakan fakta tentang Jiyoon yang benci kegelapan. Mengingatnya saja sudah cukup membuat dada seorang Park Jimin bergemuruh juga otaknya yang seakan luruh.

Min Yoongi juga terlihat sama seperti yang lain; wajahnya kusut; pikirannya semrawut. Ia memang tak terlalu dekat dengan Jiyoon, namun kepada Hayoon ia selalu berkeluh-kesah. Oh, jangan lupakan juga tentang hari di mana Jiyoon menyeretnya untuk ikut bersamanya. Meminta pendapat tentang hadiah yang pantas untuk dia yang masih menjadi rahasia, juga beberapa konversasi tak penting yang jarang sekali mereka lakukan. Hari itu mereka begitu akrab, bahkan Yoongi sepenuhnya lupa akan hubungan mereka yang tak pernah sedekat itu. Jiyoon itu anak yang baik. Kepergiannya yang mendadak sontak membuat semua merasa kehilangan. Terlebih Hayoon, kakaknya. Meski Yoongi juga dirundung kesedihan namun obsidian gelap pemuda itu tak mampu lepas dari sosok Hayoon yang masih terisak. Haruskah ia mendekat? Sekedar memberi semangat atau membuat gadis itu berhenti menangis sesaat. Dan yang dilakukan Yoongi kini adalah memangkas jarak antara ia dan Ahn Hayoon.

Seorang pemuda terlihat menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya. Punggungnya bergetar, isakan sedikit menguar. Ialah Kim Seokjin, yang entah mengapa terlihat semakin rapuh seiring berjalannya waktu. Menjadi yang paling tua membuatnya menanggung beban paling berat, juga kedekatan dengan Jiyoon yang tak mampu dijelaskan dengan perkataan memaksanya untuk terkurung dalam kegelapan. Sejak kabar kematian Jiyoon terdengar, Seokjin belum pernah mengucapkan sepatah kata pun hingga sekarang. Bibirnya seakan beku; bahkan lupa bagaimana caranya merangkai kata. Isakan semakin keras ketika ingatannya kembali ke masa-masa terindah mereka, terutama masa di mana keduanya selalu menghabiskan waktu di dapur basecamp—sekedar mencoba resep baru atau membuat camilan untuk yang lainnya. Seokjin trauma. Melihat dapur saja rasanya tak sanggup; lantaran kenangan keduanya terlalu banyak bertebaran di sana.

Di sebelah Seokjin ada Namjoon dengan pandangan menerawang. Tangannya memang bersarang di pundak Seokjin dan meremasnya kuat, namun pikirannya melayang entah ke mana. Hayoon terlihat rapuh dan dia tak bisa melakukan apa-apa untuk gadis itu, sebuah kekesalan yang tak bisa ia sembunyikan. Jangankan menghibur Hayoon—gadis yang sudah ia kenal sejak masa kanak-kanak—menguatkan dirinya sendiri pun ia belum mampu. Bergelut dengan pikiran sendiri telah ia lakukan sejak kematian Jiyoon menyebar juga kabar mengenai gadis itu yang menghabisi nyawanya sendiri. Dari kedua kabar tak masuk akal itu, tak satu pun yang bisa ia terima. Tidak dengan kematian juga kepergian. Hingga peti Jiyoon tertanam, pemuda itu baru sadar; jika segala yang terdengar dan terlihat adalah kenyataan.

“Hayoona.”

Suara Yoongi memecah keheningan. Ia yang kini berlutut di hadapan gadis itu mendaratkan tangan di kedua pundak ringkihnya. Meremas kuat demi menyalurkan kekuatan, meski nyatanya ia juga membutuhkan kekuatan lain untuk tetap bertahan.

“Istirahatlah. Kau sudah terlalu banyak menangis.”

Hayoon tak menggubrisnya. Tangisan disusul isakan masih mengisi udara yang seakan kosong di ruangan sepi itu..

“Benar yang dikatakan oleh Yoongi, kau harus beristirahat. Besok, polisi akan menanyaimu beberapa hal mengenai kematian Jiyoon, jadi sebaiknya—“

“Jiyoon tidak bunuh diri, Hoseok-a. Tidak. Gadis itu tak mungkin menghabisi nyawanya sendiri.”

Keadaan kembali hening untuk beberapa saat. Seakan memberikan ruang yang cukup untuk Hayoon melanjutkan kalimat.

“Gadis lemah itu … gadis yang bahkan tak sanggup melukai hewan kecil yang mengganggunya tak mungkin bunuh diri, ‘kan?” Hayoon menengadah; ia layangkan tatapan penuh harap pada Hoseok di sampingnya lantas beralih ke Yoongi di hadapannya. “Jiyoon memang lemah tapi ia tak pernah berkeluh kesah.”

“Aku tahu.” Yoongi menanggapi. “Tetapi tetap saja—“

“JIYOON TAK BUNUH DIRI!” Taehyung yang semula bungkam berteriak lantang; membuat semua mata tertuju pada pemuda tersebut.

“Semua tahu, Taehyung-a. Semua juga tak percaya dengan kabar tak sedap itu. Kuharap kau bisa mengontrol emosimu. Amarah takkan merubah segalanya.” Namjoon membuka suara. Berdiri dari duduknya, ia ayunkan kaki mendekati Taehyung untuk menenangkan. “Keadaan benar-benar kacau dan marah tak bisa merubah segalanya.”

“Tapi keadaan sungguh tak masuk akal.” Jimin angkat bicara. “Benar yang Namjoon katakan, marah tak akan menyelesaikan, tapi apa yang bisa kita perbuat? Berdiam diri juga tak memberikan jawaban!”

“Tolong jangan membuat suasana semakin berantakan, Park Jimin.” Pemuda Kim di sudut ruangan mengangkat kepalanya. Mata sembabnya ia arahkan kepada semua yang berada di sana satu per satu. Adalah Kim Seokjin; akhirnya melepaskan ucapan yang entah sejak kapan tertahan. “Kita semua sama-sama sedang kehilangan. Aku, juga kau dan yang lain. Perasaan kita sama, tapi—“

“Jiyoon pergi, Kim Seokjin! Dia sendirian kini. Salah jika aku mengkhawatirkannya? Salah jika kita ingin lekas menyelesaikan kejadian ganjil ini?” Ada nada sengit dari ucapan Jimin barusan.

“Tetapi tidak seperti ini caranya.”

“Jadi bagaimana? Berdiam dan menunggu juga takkan menyelesaikan segalanya!” Taehyung menyahut. Berdiri terburu-buru, ia ayunkan kakinya meninggalkan rumah duka. Pergi entah ke mana tanpa satu pun yang ingin menahannya.

“Kim Taehyung butuh waktu. Mengertilah.” Yoongi menengahi.

“Kita semua butuh waktu,” timpal Namjoon.

“Aku pulang. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Maafkan aku, Hayoon-a, sebaiknya aku pergi sebelum emosiku memuncak. Istirahatlah, besok aku akan kembali ke sini.” Kali ini Jimin yang bangkit. Usai berpamit, ia mengikuti jejak Taehyung yang sudah pergi terlebih dahulu.

Empat pemuda di sana ditambah Hayoon hanya bisa menatap kepergian mereka. Benar yang dikatakan oleh Namjoon, semuanya butuh waktu untuk menyendiri sembari mengatur pikiran kembali.

“Ayo kita pulang, Seokjin. Kau yang terlihat paling lelah dari kami semua.”

“Aku masih ingin di sini. Setidaknya untuk beberapa saat lagi. Jika kau ingin pulang, silahkan. Aku baik-baik saja, biar Yoongi atau Hoseok yang mengantarku nanti.”

“Aku akan tinggal di sini,” sahut Hoseok. “Meninggalkan Hayoon seorang diri bukanlah keputusan yang tepat. Dia butuh seseorang di sisinya.”

“Yoongi?” Arah pandangan Namjoon kini terarah pada Min Yoongi. Setelah mendapat sebuah anggukan, lekas Namjoon berbalik; mengayunkan tungkai panjangnya menuju ke luar rumah.

“Jiyoon … dia gadis yang malang.” Gadis Ahn itu kembali bersuara dan isakan yang sempat mereda kembali menguat membuat Yoongi lekas menariknya; memberikan pelukan hangat.

“Semua akan baik-baik saja, Ahn Hayoon. Sudah, jangan menangis lagi.”

Sementara Yoongi berusaha menenangkan Hayoon, ada sesuatu yang terlewatkan oleh mereka yang semua; sebuah perasaan bersalah juga dendam yang bercampur amarah.

***

Seminggu berlalu sejak kematian mendadak seorang Ahn Jiyoon.

Baik Hayoon maupun karibnya yang lain mulai bisa menerima kepergian gadis cantik itu. Mereka sudah membiasakan diri dengan ketiadaannya dan mulai sibuk dengan aktivitas sehari-hari. Meski begitu, tak jarang dari mereka yang masih diam-diam memikirkan. Terlebih ketika kenangan bersama terputar kembali bahkan tanpa mendapatkan perintah.

Sore ini, Min Yoongi menghabiskan waktunya di lapangan basket—mencari keringat juga pelampiasan pikiran yang sejujurnya masih sangat kacau. Peluh membasahi tubuh juga helai kain yang menutupinya ia abaikan. Rambutnya yang jatuh karena basah pun tak membuatnya urung dalam permainan. Padahal hari sudah menjelang petang dan kawan satu per satu mulai pulang.

“Min Yoongi!”

Si pemuda menghentikan kegiatan ketika seseorang meneriakkan namanya. Jeon Jungkook adalah si pemilik suara yang kini telah berada di depan wajahnya.

“Minum?”

Yoongi meraih botol yang diberikan lantas menenggak isinya tak bersisa. Selanjutnya punggung tangannya ia gunakan untuk menyeka keringat yang tertumpuk di keningnya.

“Kau belum pulang?”

Jungkook tersenyum. “Dalam perjalanan pulang dan mengurungkan niat ketika melihatmu di sini.”

Yoongi menjatuhkan tubuhnya ke atas jalanan. Diikuti Jungkook yang kini berbaring di sebelahnya.

“Langit sudah gelap dan kau masih setia dengan bola oranye itu.”

Kekehan menguar sebelum Yoongi berkata, “Setidaknya basket membuatku lupa sejenak tentang kegelisahanku.”

“Ahn Jiyoon?” Ada hela napas berat yang keluar dari bibir Jungkook. “Gadis itu sudah bahagia di sana, kurasa.”

“Tidak sebelum fakta dibalik kematiannya terungkap, Kook.” Yoongi memeluk erat bola basket di atas perutnya. “Bahkan kegelapan yang wajar sudah mampu membuatnya ketakutan, apalagi kesendirian.”

“Aku tak tahu kau sedekat itu dengan Jiyoon.”

Pemuda Min itu lekas berdiri ketika dirasanya arah pembicaraan mereka sedikit membuatnya tak nyaman. Mengulurkan tangannya untuk membantu sang kawan turut bangun ia kemudian berujar, “Ada masa di mana semua akan terungkap dan kuharap aku tak melewati satu hal pun tentang kebenaran. Lagi pula … Jiyoon anak yang baik.”

Menyusul Yoongi yang telah berdiri tegap, Jungkook diam-diam membenarkan pernyataan karibnya itu. “Kau tak tahu bagaimana perasaanku, Hyung. Hancur.”

“Sudahlah, tak baik membuka luka lama. Ayo pulang.”

Pemuda Jeon itu tersenyum pahit. Ada benarnya perkataan Yoongi barusan, namun tetap saja hatinya masih tak beraturan sejak ditinggalkan.

“Ayo. Sepertinya malam ini akan hujan lebat.”

***

Matahari sedang terik-teriknya kini ketika Namjoon baru memasuki markas mereka yang terlihat gersang. Maklum, sejak kepergian Jiyoon belum ada seorang pun yang berani menjejakkan kaki ke sana. Bukan karena takut, lebih ke tak ingin membuka luka sebab terlalu banyak kenangan mereka bersama di sana.

Tapi berbeda dengan hari ini. Setelah menghubungi yang lainnya tempo hari, Namjoon berniat untuk membawa semuanya kembali ke sana. Berkumpul seperti biasa, melepaskan penat setelah melakukan aktivitas juga berbagi gelak tawa dan pemuda tinggi itu adalah orang pertama yang tiba di sana.

Baru beberapa menit berlalu sejak kedatangan Namjoon, Hayoon bersama Hoseok serta Taehyung ikut bergabung. Wajah mereka perlahan mulai kembali ceria, meski masih ada guratan sedih juga pilu yang entah kapan sirna.

“Oi, Hayoon-a, apa kabar?” Namjoon membuka percakapan. Sedikit canggung, namun ia tak ingin adanya jarak yang tiba-tiba terbentang sesama mereka.

“Oh, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kudengar kau akan mengikuti olimpiade bulan depan, ya?”

Senyuman merekah. Namjoon tak menyangka gadis itu telah kembali seperti sedia kala. Caranya berbicara juga menyapa dan senyuman yang begitu indah terpatri di wajahnya.

“Tak kusangka kabarnya tersebar cukup cepat.”

“Anak pintar sepertimu tentu saja lebih senang bergulat dengan angka dan rumus daripada mencari keringat di lapangan,” cetus Taehyung yang kini menjatuhkan bokongnya pada sofa empuk di sana.

Hayoon sempat tergelak. Setelahnya ia ayunkan tungkainya menuju dapur demi memeriksa persediaan pangan yang mereka miliki.

“Lemari pendinginnya kosong, sudah kuperiksa tadi,” ujar Namjoon sedikit berteriak.

“Ingin berbelanja?” Hoseok melontarkan tawaran yang langsung diiyakan oleh gadis bersurai panjang tersebut.

“Ayo.” Lekas, Hayoon raih kembali tas selempang yang telah ia letakkan di atas meja lantas menarik ujung lengan Hoseok untuk ke luar dari sana bersamaan dengan telepon genggam milik Namjoon yang menjerit tiba-tiba; memaksa keduanya menahan gerakan lalu berbalik cepat.

“Siapa?” tanya Taehyung setelah melihat raut Namjoon yang berubah.

“Jimin-a? Ada apa?” Namjoon menjawab telepon dan entah kenapa semua orang di sana langsung hening seakan ada sesuatu yang penting tak boleh terlewatkan.

“APA?!”

Pekikan membuat semua yang di sana semakin menaruh tanya pada pemuda tinggi itu. Adakah sesuatu yang terjadi, atau ….

“Coba kau ulangi, kau bilang apa barusan? Aku tak salah dengar, ‘kan?”

Hyung, ada apa?” Hoseok kepalang penasaran. Ia tatap Namjoon lekat-lekat; menunggu jawaban atas pertanyaannya barusan.

Namjoon tak menjawab. Gerakannya menutup telepon juga pandangan yang tak bisa diartikan membuat semuanya menjadi tegang.

Helaan napas kasar menguar sebelum akhirnya bibir Namjoon bergerak merangkai sebuah kalimat mengejutkan.

“Min Yoongi ditemukan tak bernyawa di apartemennya. Pembunuhan.”

.

.

-to be continued.

Advertisements

18 thoughts on “[Chapter 1] Bring Back the Shadow

  1. salam kenal author-nim .. ^^ aku reader baru disini.., ijin baca & ubek-ubek library ne..,

    bingung mau ngomong ape tentang ni FF , terlalu penuh dengan teka-teki sih…. jiyoon meninggal tiba2 yoongi pun juga, ih gereget ,jadi pengen kepoin siapa pembunuh jiyoon sama yoongi.
    udah ah aku kga mau pusing ngambil spekulasi.*jiahbahasnya.
    buat author-nim keep writing, ^^ !!

    Like

  2. LAH LAH LAH

    KU UDAH MIKIR JAHAT AJA INI JANGAN JANGAN SI HAYOON YANG BUNUH ADEKNYA SENDIRI ….

    LAH LAH LAH

    TAUNYA SI YUNGI TETIBA TEWAS JUGA(?).

    ADA APA INI(?) SIAPAKAH PELAKU DIBALIK SIANIDA INI(?) /y

    Like

  3. Aku reader baru
    Eh nda barubaru amat ding :’v cuman baru kenal sama author di cerita ini u,u
    Yang bunuh si dia ya?
    Atau Jungkook?
    Ah sudahlah kujuga ndapaham :’v
    Intinya keren, dan semoga cepet rilis chapter selanjutnya
    Keep writing ya kak Ay[? 😂

    Like

  4. NJIR KENAPA MINYOONGI UDAH MATI AE MBA? PADAHAL DI AWAL DIA MAU TERBUKA SAMA JIYOON /.\ TRUS SI JIYOON KAYA PUNYA SAMTING SAMA JIMIN, HAYOLOOOH 😀
    SIAPA PEMBUNUHNYA MINYOONGI? SINI, NAYON GERGAJI DIA!!! BHAY~ LANJUTIN CEPET POKOKNYA GAMAU TAU /biarin deh tuh caps bikin matamu sliwer/
    /ihihi ngacir peluk kakyoon/

    Liked by 1 person

    1. LAH KAN AKU JUGA GATAU INI MINYOONGI KENAPA MATI DULUAN /plak/

      PEHLIS DEH MBA ELU JAN PEPURA GATAU ALURNYA GITU, CIPOK JUGA NI ENTAR MAS OJINNYA /pfft/

      Terus ya pin, aku gatau ini mau dilanjot begimana lagi haha haha HAHA HAHA😂😂😂

      Bhay ah pin muah, sesiap tak rusuhi menjelang wiken /padahal tiap hari ngerusuh teros kok ya/😂

      Like

  5. Ay, apa iniii?!
    Kenapa tiba2 Yoongi ditemukan tak bernyawa di apartemennya? Udah mah jarang muncul, jadi yg pertama pergi setelah Jiyoon, andwaeee…!

    Part yg dipemakaman itu berasa bgt sedihnya, Taehyuuung…
    Masih gelap, buntu aku ga ada gambaran apapun sama misterinya. Mulai kepo aja sama orang yang ngeremes(?) foto mereka ber-9 sampe ga karuan itu.
    Dia siapaaaa?
    Minggu depan masih lama lagi T.T

    pokoknya semangat Ay, moga nulisnya lancar dan ga berhenti di tengah jalan. Oke ^^

    Liked by 1 person

    1. Ini adalah segelintir kisah receh yg gatau bakal kaya gimana /plak/

      Kenapa ya? Hayoo yoongi dibunuh hayooo /terus aku balik dibunuh/
      Sik mba aku yo gelap juga gatau lanjutannya bakal digimanain /plak/

      Btw makasih sudah mampir ya mbaaa💜

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s