[Ficlet] I Remember: Coffee

253656-copy

I Remember: Coffee

a ficlet by tsukiyamarisa

BTS’ Min Yoongi & OC’s Park Minha

around 500 words | AU, Fluff | G

.

I remember the way you drank your coffee

.

.

. 

Minha selalu ingat apa pesanan lelaki itu.

Bekerja di kafe milik Kim Seokjin, ia sering menemui beberapa pelanggan tetap yang tak pernah mengganti pesanan mereka. Si A yang suka cake blueberry, si B yang hobi memesan green tea latte, kemudian si C dan D yang senantiasa membeli paket untuk pasangan tiap datang berdua. Kendati demikian, wajar jika sekali atau dua kali ia melupakan apa menu favorit para pelanggan setia kafe. Lupa itu adalah hal yang bisa dimaklumi—kecuali jika Minha sedang berurusan dengan lelaki itu.

Iced americano dan—“

Nuh-uh. Tidak ada espresso atau kopi jenis apa pun untukmu, Nona. Kamu menyebutkan pesananku dengan benar, tapi aku tidak akan mengizinkanmu minum itu. Ng, satu iced chocolate untuk menemani iced americano kalau begitu.”

“Min Yoongi.”

“Kamu tidak akan mencatat pesananku?”

Minha hanya memutar bola mata, lantas beralih melirik Seokjin yang ada di balik meja panjang tempat peralatan membuat kopi diletakkan. Seolah meminta tolong, tetapi lelaki yang merupakan kawan lama sekaligus si pemilik kafe hanya terkekeh. Tanda bahwa ia mengizinkan Minha untuk mengambil jeda istirahat sejenak dan menemani Yoongi minum kopi, lantaran gadis itu memang sudah berdiri melayani tamu selama lima jam penuh.

“Kak Seokjin, aku lebih suka—“

Sstt! Aku tidak mau melihat Yoongi mengomel, oke? Lagi pula, tadi aku juga sempat menemani Yein.”

Senyum Seokjin dan juga ekspresi kemenangan milik Yoongi adalah tanda bahwa ia kalah, sehingga mau tak mau Minha pun menurut. Toh, siapa juga dia sampai berhak menolak jam istirahat gratis? Kalau Seokjin—yang tadi sudah sempat menghabiskan waktunya bersama sang istri—telah mengizinkan….

“Oke, oke. Tunggu sebentar, ya, Min Yoongi yang baik dan manis.”

Gadis itu memaksudkan kalimatnya sebagai ejekan tentu, meleletkan lidah ke arah Yoongi sebelum melesat ke balik konter. Bergegas membuat pesanan yang diminta, sebelum akhirnya membawa dua gelas berisi minuman ke meja tempat Yoongi duduk. Minha lantas memasang ekspresi cemberut, mendorong gelas berisi americano milik Yoongi dengan sorot sebal.

“Kamu selalu minum itu… tapi kenapa aku tidak boleh memesan kopi?”

Yoongi menyeruput iced americano-nya sedikit, lantas memberikan senyum seraya mengulurkan jemari untuk merapikan helai-helai rambut gadisnya yang berantakan akibat bekerja seharian. “Kamu toh tahu alasannya.”

“Aku mau menikmati kopi segelas penuh, Min Yoongi.”

Yoongi hanya mengangkat bahu, menuding segelas iced chocolate milik Minha agar sang gadis lekas meminumnya. Bagi lelaki itu, mengamati Park Minha yang memasang muka cemberut dapat dikategorikan sebagai kegiatan favorit. Itulah sebabnya ia sering bertandang ke kafe ini, hanya demi memesan segelas iced americano, menghabiskan waktu bersama Minha, dan….

“Aku tidak akan egois dan membuatmu menderita, Minha-ya,” ujar Yoongi tatkala minumannya telah tandas setengah, mengulurkan gelas itu ke arah Minha. “Bagianmu.”

Kalau saja Minha belum terbiasa, ia mungkin sudah akan menendang Yoongi dan mengomel soal jatah kopi yang terpotong. Tapi, sayangnya, Yoongi sudah melakukan hal macam ini berkali-kali. Lelaki itu sendiri yang berkata kalau ia tidak mungkin meminum segelas iced americano sendirian, diikuti dengan penjelasan bahwa hal macam itu akan membuat jatah tidurnya makin berkurang. Yoongi suka kopi, tapi—menurut Minha—ia masih suka tidur lebih dari apa pun juga.

Menyorongkan gelas berisi setengah porsi iced chocolate, Minha lekas menyeruput americano yang sudah diberikan kepadanya. Manik bergerak mengamati Yoongi yang kini ganti meminum cokelat dingin, biarkan tatap bertemu sebelum mereka akhirnya bertukar senyum simpul.

Ini adalah cara Min Yoongi menikmati kopi, cara yang selalu Minha ingat dan terkadang membuat dirinya kesal. Tapi, di sisi lain, kapan lagi ia bisa mendapat istirahat yang menyenangkan seperti ini?

Lagi pula, setengah gelas es cokelat dan setengah gelas americano bukan perpaduan yang buruk-buruk amat, kan?

.

.

fin.

post yang tidak direncanakan aka hasil ngobrol kesana-kemari sama kak Yeni aka ya-sudah-kita-post-jam-sepuluh-anggap-meramaikan-comeback-bangtan begitulah

tidak bermaksud menyampahi beranda, tapi sayang habis udah ketulis (dan belakangan mood nulisnya lancar banget)

ehehehe, semoga nggak pada bosen ya liat aku /.\

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] I Remember: Coffee

  1. Masih pagi udah di suguhin sweety sugar nih >.<
    Mau ahh berbagi iced americano bareng Yoongi, itung-itung bisa nyicip bekas bibirnya, ya gak /ditendang/

    Anyway, ini bikin nyengir-nyegir pagi-pagi lahh.
    It's too sweet thor…

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s