[Vignette] Of Taxi Rides and Talk About Bravery

of-taxi-rides

Of Taxi Rides and Talk About Bravery

a ficlet by tsukiyamarisa

BTS’ Min Yoongi & OC’s Park Minha

around 1000 words | AU, Life, slight!Fluff | G

.

“Aneh rasanya untuk mengakui bahwa ia takut.”

.

.

.

Untuk sekali ini, Min Yoongi membiarkan dirinya untuk bersikap impulsif.

Lelaki itu langsung saja menyambar lengan gadisnya, tepat saat yang bersangkutan baru melangkah keluar dari kafe tempat ia bekerja paruh waktu. Sontak mendapat respons jungkitan alis, selagi Yoongi menarik Minha menuju pinggir trotoar dan memanggil salah satu taksi yang melintas.

“Yoongi?”

“Kamu sibuk? Boleh aku minta waktu sebentar?”

Minha menggelengkan kepala sebagai jawaban untuk pertanyaan pertama; membiarkan Yoongi menyeretnya menuju taksi untuk merespons permintaan kedua. Gadis itu bisa mendeteksi nada frustrasi dan gelisah dalam suara sang lelaki, sehingga ia pun memutuskan untuk bungkam dan menurut. Bukan, bukan karena ia takut. Melainkan karena ia tahu, bahwa Yoongi pasti sedang terlalu sibuk berargumen dengan isi pikirannya sendiri saat ini.

Seraya mengikuti Yoongi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi, Minha menunggu sang lelaki mengutarakan tujuan mereka pada si pengemudi. Sebuah tempat di pinggir kota, tempat di mana keramaian tak terlalu mengimpit dan langit malam bisa tampak dengan jelas. Sopir mereka lantas memberikan anggukan paham dan mulai menjalankan taksi, sementara Yoongi menarik napas dalam-dalam dan mengempaskan tubuhnya pada jok mobil.

“Yoongi-ya….” Minha lekas mengulurkan lengan, merangkul lelaki itu dan mengelus pundaknya lembut. “Mau bercerita padaku sekarang atau nanti?”

Satu tarikan napas lagi, dan Yoongi beralih mengusap wajahnya dengan sebelah tangan sembari bergumam, “Maafkan aku.”

“Jangan konyol.”

“Tapi kamu akan setuju kalau masalahku memang konyol.”

“Bukankah masalah kita pada akhirnya akan selalu terdengar konyol?” Minha mengedikkan bahu, mengulum senyum kala ia melihat Yoongi sedikit memaksakan tawa. “Ada apa lagi sekarang, hm?”

Yoongi bergeser, menarik diri dari Minha yang masih merangkul dirinya. Mengubah posisinya menjadi bersandar pada pundak sang gadis, meletakkan kepalanya di sana semata-mata agar ia tak perlu menatap netra Minha secara langsung saat berkata, “Sepertinya aku berubah menjadi seorang penakut, Minha-ya.

“Seorang penakut?” Minha mengulang kata-kata Yoongi, berusaha mencerna kalimat itu sementara Yoongi mengangguk kecil. “Kenapa kamu—“

“Jangan menertawakanku.”

Namun, Minha mengabaikan permintaan itu. Susah baginya untuk tidak menahan tawa, terlebih karena di matanya Min Yoongi selalu menjadi sosok seorang lelaki yang pemberani. Ia mengenal Yoongi sejak kecil; melihat bagaimana lelaki itu melawan teman-teman mereka yang hobi menindas, mengucapkan pendapatnya tanpa keraguan, melakukan apa yang ia mau meski dunia menentang, dan segala macam lainnya. Min Yoongi adalah seseorang yang berani—sampai lelaki itu memutuskan untuk berkata sebaliknya.

“Kamu menganggapku sedang mengada-ada.” Yoongi memulai lagi dengan nada merajuk, mendesah keras-keras sebelum mengimbuhkan, “Iya, kan?”

“Oke, aku seharusnya tidak tertawa sebelum mendengar alasanmu, tapi—“ Minha berusaha mengedikkan bahu, yang gagal lantaran kepala Yoongi masih setia bertahan di sana. “—ayolah, Min Yoongi, kamu tahu aku tidak akan mengejekmu. Dan kamu juga tahu kalau aku pasti bisa membuat perasaanmu lebih baik setelah ini.”

Yoongi mendengus, mendaratkan cubitan pada lengan gadisnya sebelum kembali memasang nada serius.

“Kamu pasti berpikir kalau aku berani menghadapi begitu banyak hal….” Yoongi memulai, suaranya sedikit melirih. “…tapi hari ini, tiba-tiba saja, aku merasa takut.”

“Apa yang membuatmu takut?”

Sejenak, Yoongi ragu. Ia memilih untuk membuang pandang ke jendela yang ada di sisi kanannya, mengamati lampu-lampu kendaraan yang berkelebat cepat. Biarkan Minha untuk mengusap punggungnya lagi, menghantarkan rasa tenang sampai ia bisa kembali berbicara.

“Ini bukan sesuatu yang spesifik,” ujar Yoongi, jemari meremas ujung sweter yang ia kenakan. “Aku sedang menggarap lagu seperti biasa dan tiba-tiba… aku mendengarnya. Aku mendengar sesuatu di dalam diriku berkata bahwa lagu yang sedang kugarap terdengar payah, amat payah. Aku mendengar semua rasa takut yang kusembunyikan selama ini berteriak, berkata kalau toh suatu saat nanti aku akan gagal. Belum lagi….” Yoongi mereguk saliva, mengalihkan pandang dan menyembunyikan wajah di bahu Minha. “…aku selalu bersikap semauku, kan? Bagaimana jika suatu saat nanti orang-orang yang membenciku saling bersekongkol lalu….”

Suara Yoongi menghilang, digantikan oleh rasa malu pada dirinya sendiri. Setelah sekian lama ia bersikap berani dan mengalahkan begitu banyak rintangan, aneh rasanya untuk mengakui bahwa ia takut. Bahwa ia hampir dikalahkan oleh sesuatu yang bahkan tak memiliki bentuk fisik, bahwa ia hampir saja terjatuh ke dalam jurang yang ia buat sendiri. Astaga, Min Yoongi. Tidakkah kamu malu, bersikap seperti ini di hadapan seorang gadis yang—

“Tidak apa-apa jika kamu merasa takut.” Minha tahu-tahu berucap, diam-diam mengulum senyum saat ia mendengar pengakuan Yoongi tadi. “Hari ini, aku mempelajari sesuatu dari novel yang kubaca—bahwa seseorang yang paling berani sekalipun pasti memiliki batasnya. Setidaknya, kamu tidak seperti diriku, kan? Aku memiliki lebih banyak rasa takut, bahkan pada hal-hal kecil seperti jarum suntik atau—“

“Kamu bahkan lebih berani daripada aku,” potong Yoongi, kali ini mengangkat kepalanya dari pundak Minha dan menatap gadis itu lekat-lekat. “Kamu berani melawan teman-temanmu sendiri, mengakui bahwa kamu tidak bisa melakukan sesuatu, meminta maaf ketika kesalahanmu amat sepele… heck, kamu dan kakakmu bahkan memilih untuk kabur dari rumah dan masih bertahan sampai sekarang, bukan?”

Minha mengangkat bahu, gestur yang kali ini bisa ia lakukan dengan bebas. “Tapi, kamu juga tahu bahwa aku punya rasa takut yang besar. Kamu tahu itu, Yoongi-ya.

Mereka bertukar tatap sejenak, ketiadaan konversasi yang mengizinkan dengung kecil dari radio taksi dan deru kendaraan terdengar. Yoongi membiarkan dirinya tenggelam dalam manik kelam milik Minha, benak sibuk mengulang tiap kata dalam percakapan mereka barusan, sampai akhirnya ia menyadari apa yang ingin dikatakan sang gadis untuk menghiburnya.

“Minha-ya?”

“Sudah selesai berpikirnya?”

Yoongi mengangguk perlahan.

“Tidak apa-apa… kalau kita memiliki rasa takut?”

Minha membenarkan tanpa jeda. “Tidak akan mengubahmu menjadi seorang penakut; dan kamu harus tahu itu. Lagi pula, sejak dulu aku berpikir bahwa seseorang yang berani adalah seseorang yang mau mengakui rasa takutnya. Seperti dirimu.”

Kalimat itu cukup, lebih dari cukup untuk meredakan kegelisahan di hati Yoongi dan memunculkan senyumnya kembali. Minha tidak menganggapnya sebagai seorang penakut, tidak meremehkan atau mengejeknya hanya karena ia tahu-tahu bersikap impulsif. Persis seperti pernyataan gadis itu tadi: aku pasti bisa membuatmu merasa lebih baik.

Meskipun bukan berarti, Yoongi mau mengakuinya secara terang-terangan.

Alih-alih, ia kembali mendekatkan diri. Mendaratkan satu kecupan singkat di bahu sang gadis, lantas mengeluarkan ponsel dan menancapkan earphone miliknya. Yoongi mengulurkan sisi sebelah kiri dari earphone itu kepada Minha, sebelum menyumpal telinganya sendiri dan mulai memutar lagu. Kepala kembali disandarkan di pundak sang gadis, mata terpejam selagi keduanya menikmati sisa perjalanan yang ada ditemani iringan musik.

Tanpa rasa takut, tanpa kegelisahan yang menggantung.

Karena Yoongi tahu, bahwa sekarang ia sudah baik-baik saja.

.

.

.

fin.

okay so I had just finished read this series (or the exact thing is: I had just binge-reading all the Percy Jackson and Heroes of Olympus Series) and this idea suddenly come to me. Like, even the bravest hero in the book can feel afraid and he’s ashamed for that (when at the same time, I think he shouldn’t, I mean that’s what make human… human, right?)

okay, enough for the chit-chat, see ya next weekend!

Advertisements

One thought on “[Vignette] Of Taxi Rides and Talk About Bravery

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s