[Vignette] Wedding Preparation

wedding-preparation

Wedding Preparation

[BTS’] Min Yoongi x [OC’s] Winter Jeon ׀ Romance ׀ PG17 ׀ Vignette

“Jawab saja, kau setuju kita menikah bulan Maret?”

nokaav

Min Yoongi dalam balutan jas hitam memang tak pernah gagal menyita perhatianku. Kulitnya yang pucat, rambutnya yang baru saja dicat gelap, serta ekspresi yang datar adalah ciri khasnya yang menambah kesempurnaan balutan jas hitam tadi. Ketimbang segera menghampiri dan berangkat menuju gedung pernikahan Kak Seokjin dan Kak Yein, aku memilih untuk menikmati sejenak gerak-geriknya yang mulai kelihatan gusar lantaran terlalu lama menungguku berdandan.

Sialnya, Tuhan tidak mengijinkanku berlama-lama karena lima belas detik kemudian dia berbalik.

“Sejak kapan kau disana?” Yoongi bertanya dengan nada yang–aneh? Seolah dia sudah berniat untuk membentakku namun kemudian mengurungkannya. Bola matanya bergerak mengamatiku dari ujung kaki sampai ujung rambut dan–aha! Dia pasti sedang terpesona olehku ‘kan?

“Belum genap satu menit,” jawabku sembari melangkah mendekat. “Kau sendiri?”

“Menurutmu?” Yoongi balik bertanya sembari membuka pintu penumpang untukku. “Terakhir kali aku mengirim pesan adalah sebuah pemberitahuan bahwa aku sudah sampai di halaman rumahmu sekitar empat puluh lima menit yang lalu–masuk.”

Aku mengangkat tepian gaun berwarna hitam yang membalut tubuhku sebelum masuk ke dalam mobil Yoongi. Tak lama kemudian, laki-laki itu sudah berada di balik kemudi dan menoleh ke arahku. “Setelah membukakan pintu, apa aku juga harus memakaikan seatbeltmu?”

Ah, aku lupa.

“Tidak perlu, Sayang,” jawabku sembari tersenyum geli. “Sudahi badmoodmu, please. Toh aku sudah disini, duduk di sampingmu.”

Yoongi tidak menjawab, melainkan melajukan mobilnya keluar halaman rumah menuju gedung pernikahan Kak Seokjin.

.

.

Tak seperti tadi, kali ini aku tak perlu dibukakan pintu untuk keluar. Toh Yoongi juga berdiri saja di depan mobil sembari menungguku keluar. Dia memilih untuk membenahi letak dasinya, mengancingkan kemejanya, serta meniup poni rambutnya agar tak menghalangi pandangan. Dia seperti mengamati gedung pernikahan yang berada sekitar lima belas meter di hadapan kami, sebuah gedung dengan arsitektur megah berwarna putih. Aku jadi ingat, dia pernah berujar tentang keinginan menikah di tempat ini. Astaga, mengapa pipiku memerah!

“Sudah selesai membenahi dandanannya?” Yoongi bertanya begitu mendengar suara pintu ditutup. Aku hanya mengedikkan bahu sembari melangkahkan kaki. Berniat mendahului, meninggalkan Yoongi untuk segera bertemu Kak Yein saat merasakan cengkeraman tangannya di pergelangan kiriku.

“Kemana?”

“Menemui Kak Yein, tentu saja. Apalagi?”

“Kau datang denganku, Jeon Winter. Lingkarkan tanganmu di lengan kiriku dan ayo masuk bersama.”

“Apa?”

“Aku tidak perlu mengulangnya,” jawab Yoongi sembari berpindah posisi di sebelah kananku–menuntun tangan kananku untuk melingkari lengan kirinya. “Nah, seperti ini. Kita akan bertemu banyak kolegaku di dalam. Aku akan memperkenalkanmu sebagai calon istriku. Jadi, tolong jangan macam-macam.”

.

.

Calon istri.

Astaga.

Tahukah kalian bahwa Min Yoongi telah bersekongkol dengan entah berapa orang–termasuk Kak Seokjin dan Kak Yein–untuk menyelipkan scene lamaran padaku dalam acara semalam?

Rasanya kakiku berubah menjadi jelly segala rasa saat sebuah kotak beludru berisi sebuah cincin berlian terulur di hadapanku. Seluruh tamu undangan yang hadir mendadak mengalihkan perhatiannya kepadaku dan–dipimpin oleh Kak Seokjin–mereka bertepuk tangan dalam ritme tertentu sembari meneriakkan “Terima! Terima! Terima!” yang membuat pipiku serasa terbakar. Min Yoongi benar-benar tidak waras. Bagaimana bisa dia mengganggu pesta pernikahan seseorang dengan menggelar acara lamaran?

“Kak,” panggil Jungkook yang tengah berdiri di ambang pintu kamarku. “Ada Kak Yoongi di bawah. Katanya mau beli baju pernikahan. Memangnya kapan dilamar?”

“Nanti kuceritakan padamu,” jawabku sembari menyambar tas tangan berwarna biru dongker dan menuju ke pintu. “Aku segera menikah, Jungkookie. Siapkan pasanganmu ya supaya punya jawaban kalau ditanya ‘kapan menyusul?’.”

.

.

“Aku tidak suka gaun yang terlalu terbuka, juga memperlihatkan lekuk tubuhmu. Jadi kumohon ambil yang berlengan panjang dan berkerah tinggi.”

Aku menatap Yoongi yang tengah melewati satu baris gaun pernikahan berwarna abu-abu terang hingga gelap. Langkah kakinya lambat, matanya mengamati dengan seksama, sesekali menarik sebuah gaun yang menarik perhatiannya sebelum meletakkan kembali ke tempatnya lantaran terlalu terbuka atau terlalu pendek.

“Sebenarnya, aku lebih suka memakai gaun yang kurancang sendiri,” ujarku pelan namun masih cukup keras untuk didengar Yoongi. “Ingat aku pernah memperlihatkan padamu sketsa gaun pernikahan?”

“Yang mana?”

“Sepanjang lutut dengan lengan panjang dan krah model victorian. Kau bilang itu bagus.”

“Ah,” Yoongi berbalik, menyempurnakan tubuhnya menghadapku. “Ide bagus, kau bawa gambarnya? Kurasa kita bisa membuat gaun disini ketimbang menyewa.”

“Aku menggambarnya di tablet, jadi kurasa ada disini.” Aku mulai membuka tas tanganku dan mengeluarkan tablet berukuran 7 inch berwarna hitam. “Tapi, dengan model gaun seperti itu, konsep pernikahannya adalah garden party, Yoon. Kau paham ‘kan?”

“Jadi, kita tidak menikah di gedung yang sama dengan Seokjin dan Yein?”

Aku menggeleng. “Gaun itu hanya sepanjang lutut. Sedikit aneh untuk pesta di dalam gedung.”

Tanpa melihat, aku bisa tahu Yoongi mulai galau. Bukan hanya sekali dua kali laki-laki itu mengatakan bahwa gedung pernikahan Kak Seokjin dan Kak Yein juga adalah tempat impiannya untuk menggelar pesta pernikahan.

“Gambar yang lain, aku masih ingin menikah di gedung itu,” ujarnya singkat sebelum berlalu pergi.

.

.

Gambar yang lain, katanya.

Aku menghabiskan waktu nyaris satu minggu lamanya untuk menggambar gaun pernikahan lain yang layak untuk sebuah pesta di dalam gedung. Yoongi secara khusus meminta sebuah gaun berwarna hitam metalik atau abu-abu tua. Katanya, warna gelap bisa membuatku tampak lebih misterius.

Misterius apanya! Memangnya dia mau menikahi hantu?

“Winter, bagaimana kalau mengundang keluarga Yoongi makan malam sekaligus membicarakan rencana pernikahan kalian?”

Ibu, yang entah sejak kapan berada di dalam kamarku mendekati meja kerja dan mengusap puncak kepalaku dengan lembut–otomatis membuatku mendongak dan membalas senyumnya.

“Seharusnya memang seperti itu,” jawabku. “Aku akan menghubungi Yoongi untuk memastikan kapan orangtuanya ada di rumah. Dua hari lalu mereka baru saja terbang ke Belgia untuk urusan bisnis.”

“Ya.” Ibu mengangguk sebelum melirik gambar dalam tabletku. “Gambar yang bagus. Kau mau mengenakan itu untuk hari pernikahan?”

“Bagaimana menurut Ibu?”

“Cantik.”

“Terima kasih,” sahutku tulus. “Aku akan membuat desain lain yang sama cantiknya untuk ibu.”

.

.

“Jangan terlalu mahal,” tolakku cepat kala Yoongi menunjuk sebuah cincin seharga lima ribu dollar. “Aku tidak akan menerima cincin semahal itu. Kau tahu pernikahan hanyalah sebuah awal. Ada baiknya kita simpan uang sebanyak itu untuk mulai membangun rumah tangga.”

“Aku masih bisa membiayai hidup kita bahkan dengan dua belas anak sekalipun, Winter.”

“Jangan mulai,” sanggahku sedikit kesal.

Sayangnya, Yoongi memilih untuk mengabaikanku, menatap pelayan toko dan memesan sepasang cincin pernikahan dengan total harga sepuluh ribu dollar.

.

.

“Semakin cepat kita menentukan tanggal pernikahan, semakin cepat kita bisa memesan gedung dan juga katering. Aku ingin menggelar pernikahan kita sebagai hadiah ulang tahun untukmu tapi ini baru bulan Oktober, ulang tahunmu masih sepuluh bulan lagi. Bagaimana kalau kita ajukan saja sebagai hadiah ulang tahun untukku. Maret?”

Aku tidak benar-benar menyimak apa yang diucapkan Yoongi sejak meninggalkan toko perhiasan. Laki-laki itu mulai membahas tema, dekorasi, undangan, dan entah apa lagi. Kepalaku mendadak pusing memikirkan berdiri berjam-jam di atas pelaminan dan menyalami tamu undangan yang hadir. Jumlah undangan yang hadir jelas tidak akan sedikit. Keluarga Yoongi itu punya banyak sekali relasi baik di dalam dan luar Korea, aku yakin seribu persen, semuanya akan diundang.

“Kau mendengarkanku?”

Aku menghela napas panjang sebelum menoleh ke arah Yoongi yang balas menatapku sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Kau bahkan tidak mendengarkanku,” jawabku pelan. “Apa pendapatku benar-benar dibutuhkan disini?”

“Aku tidak ingin bertengkar.” Yoongi mengembalikan tatapannya pada jalanan yang mulai sepi. “Jawab saja, kau setuju kita menikah bulan Maret?”

“Terserah.”

“Jangan marah,” ujar Yoongi pelan. “Aku minta maaf soal cincin pernikahan. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Aku juga tahu pernikahan adalah sebuah awal. Aku tahu butuh biaya yang lebih besar untuk menjalankan pernikahan itu sendiri. Tapi aku punya kau di sampingku. Aku ingin yang terbaik kali ini. Nanti setelah kita menikah, kau yang berhak mengatur keuangan. Aturlah semaumu, aku bahkan bersedia berhenti makan daging selama satu tahun atau kau beri makan sayur setiap hari.”

Aku tertawa.

Astaga, mengapa dia menyebalkan sekali! Dia selalu tahu cara mengembalikan suasana hatiku yang buruk karena tingkahnya sendiri. Makan sayur setiap hari? Jangan harap aku percaya!

“Nah, kau cantik kalau tertawa,” ujarnya sembari mengulurkan tangan kiri untuk mengacak rambutku. “Percaya padaku, ya? Aku janji ini terakhir kalinya mengeluarkan banyak uang untuk hal-hal yang menurutmu tidak perlu.”

“Aku tidak bilang ini tidak perlu, aku hanya sedikit khawatir.”

“Kau tahu rekan kerjaku dan Ayah tidak sedikit. Belum lagi ditambah teman-teman Bunda dari berbagai komunitas entah apa. Saudaraku, teman-temanku, rekan kerja Ayah-Ibumu, saudaramu, teman-temanmu, belum lagi–“

“Astaga, berhentilah mengabsen tamu undangan,” selaku cepat. “Aku tidak bisa membayangkan betapa pegal kakiku berdiri di pelaminan selama–ah, kira-kira kita akan menggelar pesta pernikahan selama berapa jam?”

Yoongi mengangkat bahu. “Entah, aku belum memperkirakan. Empat jam cukup tidak ya?”

“Kau bercanda!”

“Baiklah, kupangkas,” ujarnya sembali mengumbar tawa kecil. “Tiga jam saja, oke? Satu jamnya lagi bisa kaugunakan untuk bersiap.”

“Ha?”

“Bersiap,” Yoongi menoleh, tersenyum lebar. “Aku ‘kan bilang padamu masih bisa membiayai hidup kita dengan dua belas anak sekalipun. Kejar target, dong. Harus mulai dari malam pertama.”

Ya Tuhan, pingsankan aku sekarang juga.

End.

Wkwkwkwk Happy Comeback! Uh, kangen banget sama Min Yoongi yang selama ditinggal hiatus udah punya nama baru ‘Agust D’ wkwkkw 😀 Haiiii, teman-teman! Nice to see you again! ❤

 

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s