[BTS FF Freelance] Love’s Step – (Chapter 1)

loves-step-cover

Love’s Step (Chapter 1)

A Fanfiction by karamelmacchiato

Cast : Park Seungmi (OC) | Jeon Jungkook (BTS) | Min Yoongi (BTS)

Other Cast : Kim Soomin (OC) | Hwang Jiae (OC) | BTS Members

Genre : School life, Romance, Friendship

Rating : PG

Length : Chaptered

I just own the storyline.

#1 Iron Man Accident

“Kau tahu cerita Meteor Garden? Atau manga Jepang Hana Yori Dango? Hmm… tidak usah jauh-jauh, drama korea Boys Before Flowers? Ketiganya sama-sama punya F4 di dalam ceritanya.” Gadis bersurai cokelat itu bercerita pada sahabat karibnya dengan sangat antusias.

Sementara lawan bicaranya tampak tidak tertarik dengan topik pembicaraan mereka. Sibuk mencoret-coret buku musiknya dengan not balok. “Ya, itu kan karena mereka mengadaptasi dari komik yang sama. Manga Jepang Hana Yori Dango itu, ‘kan?” jawabnya sekenanya.

“Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah, di SMA yang akan menjadi sekolah kita ini punya F7! Bukankah itu keren?!”

“Oh, ayolah Jiae, itu konyol. Tidak ada namanya F7 kecuali tombol keyboard di laptopmu.”

“Seungmi-ah, aku serius! Mereka adalah Bangtan Boys!”

Seungmi, gadis itu menoleh  dengan malas pada Jiae, sahabatnya. “Baiklah, lalu kenapa jika ada bang bang itu, apa tadi kau bilang?”

“Bangtan Boys!” seru Jiae.

“Nah!” Seungmi menyentikan jarinya. “Kenapa dengan mereka?”

“Park Seungmi, mereka itu tampan, kau tahu? Tapi sayangnya dua orang diantara mereka barusaja lulus tahun ini.” Jiae menghela nafas seolah menyesali kelulusan dua orang yang sedang mereka bicarakan.

Seungmi mengernyit, “Bukankah bagus jika mereka lulus? Itu artinya mereka telah menyelesaikan sekolahnya.”

Jiae menoleh cepat dan mencibir Seungmi. “Aish Seungmi-ah! Itu artinya mereka hanya tinggal lima orang. Padahal kudengar yang bernama Yoongi dan Seokjin itu sangat tampan. Sayang sekali kan?”

“Maksudmu sekarang mereka menjadi F5?” Seungmi tertawa geli. “Hahaha itu lucu sekali Jiae-ah. Ada F4, F7, lalu sekarang F5. Mungkin tahun depan akan menjadi F6, F8, F9 atau F10.” Seungmi terpingkal kerena kalimatnya sendiri.

“Itu tidak lucu Seungmi.” Jiae menukas malas. Menghentikan tawa renyah sahabatnya.

Seungmi lantas mengangkat kedua bahunya, “Baiklah.”

Dan kalimat singkat gadis itu berhasil membuat wajah Jiae masam. “Huh, kau tidak asik.” Gerutunya.

Seungmi hanya membalas Jiae dengan kikikan kecilnya.

“Ah, pokoknya aku sudah tidak sabar ingin segera masuk sekolah.” Jiae menghempaskan tubuhnya di atas sofa di samping meja belajar Seungmi. Tangannya meraih miniatur rilakkuma dari atas meja dan memainkannya. “Jiae-ah, fighting! Kau pasti akan menemukan pangeranmu di BigHit.” Tukasnya dengan suara lucu seraya menggoyang-goyangkan rilakkuma seolah benda itu sedang berbicara padanya.

 Seungmi menggeleng sambil tersenyum gemas melihat tingkah sahabatnya. “Sudahlah sana pulang, ini sudah malam, jangan sampai kita terlambat di hari pertama masuk sekolah besok.”

“Yap! Aku mengerti Seungmi eonni. Selamat malam, selamat tidur, semoga mimpi indah.” Jawab Jiae masih dengan suara lucu ala anime nya.

Yah! Siapa yang eonni?! Bukankah kau lebih tua dariku Jiae-ah!”

Tanpa mempedulikan Seungmi, Jiae berjalan dengan santai keluar dari kamar gadis itu dan berbalik ketika sampai di ambang pintu, “Seungmi eonni, fighting!” pekiknya dengan riang, sedetik kemudian bantal kepala rilakkuma menimpa wajahnya.

Seungmi yang melemparnya, “Hwang Jiae! Jangan panggil aku eonni!” gerutunya kesal. Pasalnya Jiae memang lebih tua 7 bulan darinya, namun kelakuan sahabatnya itu benar-benar kekanakan dibanding dirinya, pikir Seungmi.

Sedangkan Jiae yang tertimpa bantal rilakkuma tertawa puas kemudian melempar balik bantal tersebut kearah Seungmi. Lalu segera kabur sebelum si pemilik kamar sempat menerkamnya.

Ferrari 488 GTB merah terparkir cantik di pelataran SMA BigHit. Membuat semua mata tertuju padanya. Segera saja para gadis histeris kala melihat sepatu branded yang terlihat sangat cool di mata mereka mulai melangkah keluar, dipadu dengan jaket varsity hitam yang membalut tubuh tegap pemuda itu di luar pakaian seragamnya, serta surai cokelatnya yang sedikit berantakan semakin membuat gadis-gadis bertekuk lutut padanya.

Jeon Jungkook. Pemuda tampan yang merupakan siswa paling populer disana. Anggota termuda Bangtan Boys, kelompok penguasa SMA BigHit.

“Aw, tampan sekali dia!”

“Benar-benar seperti malaikat.”

“Senangnya bisa sekolah di SMA yang sama dengannya.”

Gadis-gadis berucap dengan mata berbinar.

Tak lama kemudian, datanglah empat orang pemuda tampan lainnya yang juga merupakan anggota Bangtan Boys dengan satu mobil dan dua motor sport di depan.

Si pemuda dengan motor sport putih membuka helmnya dan turun dari kendaraan diikuti anggota Bangtan Boys yang lain. Mereka lalu berjalan membelah kerumunan murid perempuan yang mengepung Jungkook. Gadis-gadis seolah mengerti, dengan sendirinya menyingkir memberi jalan untuk para pemuda tampan itu.

“Yo Bro!” sapa pemuda berlesung pipi, Kim Namjoon.

“Jeon Jungkook. Kau sudah sampai ternyata.” kata si pemuda dengan kancing kemeja terbuka yang memperlihatkan t-shirt merah dibalik seragamnya, Jung Hoseok.

“Sudah kubilang untuk menunggu kami, kenapa kau malah berangkat duluan?” Pemuda bermata sipit menimpali, Park Jimin.

Dan yang terakhir hanya membagi tatapan sinis yang dibalas senyum angkuh oleh Jungkook. Namanya Kim Taehyung.

Keempat pemuda itu berada di tingkat yang sama, satu tingkat diatas Jungkook. Senior.

“Sudah siap untuk bersenang-senang dengan para siswa baru?” Ucap Taehyung dengan bariton beratnya.

Kelima pemuda tampan itu saling menyeringai, kemudian mereka berhi-five-ria dan setelah itu berjalan beriringan memasuki gedung SMA BigHit yang megah. Jika kalian tahu drama Meteor Garden, Hana Yori Dango, atau Boys Before Flowers, atau apapun yang di dalamnya terdapat karakter empat orang pemuda bak pangeran tampan yang di puja gadis-gadis dan disebut F4, seperti itulah mereka. Bedanya jika F4 hanya beranggotakan empat orang sedangkan mereka tujuh orang. Ralat, lima. Dua orang anggota tertuanya barusaja lulus tahun ini. Mereka adalah Bangtan Boys.

Dan tepat setelah kepergian Bangtan Boys. Seorang gadis tiba di depan sekolah yang sama.

“Wah…” gumamnya dengan mata berbinar dan wajah sumringah. Terkagum-kagum memandang kemegahan sekolahnya sendiri. “Aku tidak percaya, ini seperti mimpi. Aku bisa sekolah di BigHit! Park Seungmi kau berhasil!” gadis itu berseru riang, tak menghiraukan beberapa pasang mata yang menyorotinya dengan tatapan aneh.

Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Gadis bermarga Park itu segera memeriksa nama yang tertera di layar touchscreennya. “Oh? Jiae?!” lalu segera menerima panggilan tersebut. “Yeoboseyo… Jiae-ah kau dimana? Aku baru saja sampai…”

Seungmi diam sejenak, ia sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar Jiae mengomel di seberang sana. “Iya, iya. Maafkan aku, tadi pagi ada sedikit urusan jadi aku tidak bisa berangkat bersamamu. Upacaranya belum dimulai kan? Dimana letak aulanya? Baiklah tunggu aku!” Seungmi memutus sambungan teleponnya.

Gadis itu mulai melangkah memasuki gedung sekolah BigHit. Manik hazelnya menyapu pandang seluruh sudut bangunan tersebut. Terlalu asik melihat-lihat keindahan desain arsitektur sekolahnya hingga ia melupakan tujuan utamanya, aula sekolah. Ia terus menyusuri koridor sekolah yang tampak mulai sepi, sedetik kemudian matanya membulat saat dirinya menyadari sesuatu. Ia sudah terlambat mengikuti upacara penerimaan siswa baru.

“Astaga!” Seru Seungmi sembari menepuk keningnya sendiri. “Aku lupa!” gadis itu segera mempercepat langkahnya, setengah berlari mencari letak aula sekolah yang dimaksud Jiae.

Seungmi panik, tanpa sengaja ia menginjak tali sepatunya sendiri hingga membuat tubuhnya limbung kedepan saat tiba-tiba seorang pemuda muncul dari ujung koridor, berbelok kearahnya dan…

Bruk! 

Seungmi jatuh terjerembab. Wajahnya tepat berhadapan dengan sepasang sepatu branded yang dikenakan siswa lelaki itu.

“Aish.” Seungmi merutuki kecerobohannya.

Ia mendongak dan segera terkejut saat mendapati pemandangan yang kurang menyenangkan di hadapannya.

Siswa lelaki itu, berdiri mematung dengan celana seragamnya yang turun akibat ulah konyol Seungmi, mengekspos boxer motif iron man-nya di depan gadis itu. Di samping kanan kirinya berdiri teman-teman pemuda itu dengan ekspresi terkejut sekaligus malu. Gerutuan dan umpatan lirih berlontaran dari mulut mereka.

Dan detik berikutnya Seungmi baru menyadari jika tangannya masih mencengkeram celana seragam milik si pemuda yang barusaja ia tarik hingga melorot seluruhnya.

“Kyaaa!” Jeritan Seungmi menarik perhatian para murid yang mendengarnya.

Mereka berbondong-bondong keluar kelas dan menyaksikan kejadian memalukan itu. Suasana pun menjadi riuh seketika. Terutama para murid perempuan yang histeris melihat celana boxer milik idola mereka.

“DIAM!” pemuda itu berteriak, menghentikan kegaduhan sesaat.

A-aigoo, Jungkookie?” Taehyung dan Jimin segera menaikan celana Jungkook dan memasang kembali zippernya.

Hoseok mengibaskan tangannya di depan wajah Jungkook yang sudah semerah kepiting rebus. Anggota Bangtan Boys yang lain menatap iba ke arah maknae mereka. Sesekali melirik Seungmi dengan tatapan aneh.

Seungmi segera bangkit dari posisinya lalu menunduk meminta maaf. “A-aku… maaf. Aku ti-tidak senga-”

“Seungmi-ah!”

Seungmi menoleh ke arah Jiae yang tengah berlari menghampirinya. “Ji-”

“Dasar…” Jungkook menggeram. Tangannya mengepal menahan amarah bercampur malu yang telah sampai di ubun-ubun. “GADIS MESUM!”

Seungmi dan Jiae sedikit terlonjak mendengar teriakan pemuda itu hingga tanpa sadar mereka telah memundurkan langkah masing-masing.

“Aku tidak akan melepaskanmu. Kita belum selesai.” setelah mengucapkan kalimatnya, Jungkook diikuti anggota Bangtan Boys yang lain pergi meninggalkan tempat kejadian.

Taehyung menunjuk persis dahi Seungmi sambil menggumam lirih, “Kau, berhati-hatilah.”

Para murid pun bubar. Mereka satu persatu kembali pada aktivitas masing-masing dan mengabaikan dua orang gadis yang masih syok, tercengang di tempat mereka berdiri saat ini. Seungmi dan Jiae saling pandang dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Jungkook membanting sumpit di tangannya dengan kasar. Saat ini Bangtan Boys sedang menikmati makan siang di kantin namun anggota termuda mereka terlihat sama sekali tidak bernafsu untuk menghabiskan makanannya.

“Kau kenapa?” tanya Taehyung dengan wajah polosnya.

Jungkook bangkit dari posisinya dengan tangan mengepal. “Hyung, aku harus memberi pelajaran pada gadis mesum itu. Dia sudah mempermalukanku di hadapan banyak orang hyung.”

“Kenapa kau harus malu? Bukankah kau memakai celana boxer? Tenang saja, tidak akan ada yang tau seperti apa ‘milikmu’” ucap Jimin santai.

Jungkook menoleh dan menatap Jimin dengan tatapan tak percaya.

“Kau malu karena iron man mu?”

Kali ini Jungkook menoleh ke arah suara berat Namjoon.

“Sudahlah, mereka akan segera melupakannya.” Timpal Hoseok sambil tetap asik menikmati menu makan siangnya.

Dan kalimatnya berhasil membuat Jungkook mau tidak mau harus membagi deathglare pada para hyungnya ini. “Hyung.”

Keempat pemuda itu menghentikan aktivitas mereka, seolah membeku setelah menyadari perubahan ekspresi Jungkook. Bocah itu sepertinya benar-benar marah. Jimin dan Hoseok menyesali kalimatnya.

Hoseok menelan saliva dengan susah payah, “Maksudku, baiklah ayo kita beri pelajaran gadis itu.”

Jungkook memang maknae, tapi ia tidak pernah takut pada hyung-hyungnya. Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan. Entah apa yang direncanakannya untuk mengerjai Seungmi yang telah merusak image coolnya. Setelah puas menyeringai, Jungkook kembali duduk dan melanjutkan makan siangnya.

Kelas 1-2. Jam istirahat belum berakhir, namun Seungmi dan Jiae sepertinya sama sekali tidak berniat keluar kelas. Mereka masih mengingat kejadian pagi tadi. Terutama Seungmi, gadis itu terus memikirkan kata-kata Jungkook dan juga Taehyung yang menyuruhnya untuk berhati-hati. Apa maksud pemuda itu? Seungmi khawatir jika masalah ini akan berdampak buruk pada kehidupan sekolahnya kedepan.

Seungmi merasa benar-benar sial. Di hari pertamanya masuk SMA, ia sudah terlibat sauatu masalah dengan seniornya. Terlebih lagi, melihat reaksi para murid yang begitu heboh, senior itu sepertinya cukup berpengaruh di sekolah ini. Meskipun pada kenyataannya Seungmi bahkan tidak tahu jika pemuda yang ia tarik celananya itu merupakan anggota termuda Bangtan Boys yang selalu dibicarakan Jiae.

“Tamatlah riwayatku Jiae.” Seungmi mengacak rambutnya kesal.

Sementara Jiae, menyandarkan dagunya bertumpu pada kedua tangannya yang diletakkan di atas meja. “Benar kan apa kataku?”

Seungmi mengernyit, tidak mengerti maksud pertanyaan sahabatnya. Ia menoleh dan semakin heran melihat Jiae yang ternyata sedang tersenyum sendiri dengan wajah cerahnya, matanya berbinar, menerawang melewati kaca jendela kelasnya. Seungmi mengikuti arah pandang Jiae dan berakhir memutar bola matanya kesal setelah menemukan objek yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Jiae.

Pemuda dengan t-shirt merah dibalik kemejanya yang terbuka, tengah berjalan mendekati kelas mereka bersama keempat temannya. Namun detik berikutnya Seungmi segera panik saat matanya menangkap si pemilik boxer iron man diantara sekelompok senior itu. Seungmi menggigit jarinya cemas, ia baru ingat jika wajah-wajah mereka sama dengan wajah senior yang bersama dengan si ‘ boxer iron man’ pagi tadi.

Jangan bilang jika mereka sengaja mendatangi kelas 1-2 untuk mencari Seungmi dan setelah itu membalas dendam atas perbuatannya terhadap si ‘boxer iron man’.

“Jiae-ah! Gawat!”

“Dia manis sekali Seungmi-ah, kau lihat senyumnya yang begitu tulus dan penuh kelembutan itu?” Jiae mengigau. Seungmi yakin itu.

“Hwang Jiae, ini bukan waktu yang tepat untuk terpesona! Sadarlah Jiae, mereka akan membunuhku, sahabatmu!” Seungmi menarik bahu Jiae kasar. Memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya.

Jiae tampak linglung, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. “Apa? Membunuh? Siapa?”

“Mereka akan membunuhku Jiae-ah. Kita harus bersembunyi, jangan sampai mereka menemukan kita.”

“Astaga! Kau benar!”

Seungmi menghela nafas panjang. Bersyukur karena akhirnya Jiae dapat tersadar dari keterhipnotisannya terhadap pemuda ber-t-shirt merah itu.

Tiba-tiba seorang gadis yang duduk di depan bangku Seungmi bangkit dan dengan langkah riang menuju keluar kelas, menyambut kelima pemuda yang di sebut-sebut sebagai Bangtan Boys itu.

Seungmi dan Jiae serempak memperhatikan gadis itu. Ia tampak akrab dengan kelima pemuda itu. Terutama dengan pemuda berlesung pipi yang sudah lebih dulu menghampirinya. Sedangkan empat pemuda lainnya menghentikan langkah mereka beberapa meter sebelum sampai di depan pintu kelas 1-2.

“Oppa!” gadis berpita merah itu mendekati salah satu anggota Bangtan Boys yang berdiri di hadapannya.

Pemuda berlesung pipi itu, Namjoon, tersenyum sembari mengacak surai gadis itu. “Aku senang kau masuk sekolah ini. Jadi mulai sekarang kita bisa lebih sering bertemu.”

Keempat anggota Bangtan Boys yang lain tertawa menggoda sahabat mereka.

“Soomin-ah, bagaimana kabar Seokjin hyung?” basa-basi Jimin.

Gadis yang dipanggil Soomin itu beralih menatapnya dan tersenyum ramah. “Seokjin oppa sudah mulai masuk kuliah minggu ini.” Jawabnya, kemudian berlalu melewati Namjoon dan menghampiri Jungkook yang berdiri di samping Jimin.

Jungkook menatap gadis itu datar.

“Jungkook oppa, kau di kelas apa? Aku ingin mengunjungi kelasmu sesekali. Boleh kan?”

Jungkook melirik Namjoon yang seketika muram.

“Kau tidak ingin tahu kelasku juga?” Taehyung mencoba mengalihkan perhatian Soomin.

Gadis itu menoleh sekilas dan kembali fokus pada Jungkook yang belum menjawab pertanyaannya. “Kudengar oppa berada di kelas 2-1? Benar kan?”

Jungkook mengangguk.

“Aku kelas 1-2 dan Jungkook oppa kelas 2-1. Bukankah kita sangat cocok?” ucapnya diikuti tawa riang yang hanya dibalas kekehan canggung oleh Jungkook.

Semenit kemudian bel tanda berakhirnya istirahat berbunyi.

“Oh, waktunya masuk kelas. Ayo semuanya masuk ke kelas masing-masing!” teriak Namjoon yang menjabat sebagai ketua OSIS SMA BigHit.

“Oppa, kau akan masuk ke kelasku kan?” Soomin menarik lengan Jungkook namun pemuda itu segera menyingkirkan tangannya.

“Maaf, tapi bukan aku. Namjoon hyung yang akan mengisi materi perkenalan di kelas 1-2.”

Soomin mendesah kecewa mendengar jawaban Jungkook. “Baiklah.” Gadis itu kembali melangkah ke dalam kelasnya dengan malas.

“Tugas pertama kalian adalah mengumpulkan tanda tangan dari 20 orang sunbae yang namanya tertulis di papan tulis. Dan jika kalian tidak berhasil mengumpulkannya dalam waktu satu jam, kalian akan mendapat hukuman.”

Seungmi mencoba mengingat-ingat dimana ia mendengar nama sunbae yang ada di urutan pertama daftar yang harus dimintai tanda tangan. Jeon Jungkook.

“Jiae-ah.” Seungmi mencolek lengan Jiae.

“Hmm?”

“Kau tau sunbae yang bernama Jeon Jungkook?” tanyanya enteng.

Mata Jiae melebar mendengar pertanyaan Seungmi. “Yah! Park Seungmi, kau serius tidak tahu Jungkook sunbae?”

Seungmi menggeleng dengan wajah polosnya.

Aigoo. Jeon Jungkook sunbae, dia yang kau tarik celananya hingga-”

Belum selesai Jiae menjelaskan, Seungmi sudah membekap mulut gadis itu dengan tangannya. “Kau serius?!”

Kali ini giliran Jiae yang mengangguk. Kemudian menyingkirkan tangan Seungmi dari mulutnya. “Jangan bilang kalau kau tidak tahu bahwa kelima sunbae itu adalah Bangtan…”

“Boys? Eh? Benarkah? Mati aku.”

Seungmi dan Jiae menghampiri dua orang senior mereka yang tengah asik mengobrol. Ini adalah bagian dari tugas masa orientasi siswa. Mengumpulkan tanda tangan 20 senior yang sudah di tentukan dalam waktu satu jam.

“Permisi, apa sunbae bernama Yoo Jooeun?” tanya Seungmi.

Gadis berkucir kuda itu mengangguk. Sementara si pemuda yang berada di sampingnya melirik Seungmi dengan tatapan aneh.

“Ah, akhirnya ketemu juga. Sunbae kami ingin meminta tanda tanganmu.”

“Oh, Boleh. Sini biar ku-” senior bernama Jooeun itu menghentikan kalimatnya saat pemuda di sampingnya menahan tangannya.

“Ada apa Tae?”

“Tidak.”

Seungmi dan Jiae saling pandang. Mereka baru menyadari eksistensi seorang Kim Taehyung disana. Kim Taehyung, senior yang menunjuk-nunjuk Seungmi sambil memberi peringatan akibat insiden ‘iron man’ pagi tadi.

Jooeun menatap tanya pada pemuda itu.

Taehyung mendekat kearah gadis itu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Sedetik kemudian tawa kedua senior itu meledak. Membuat dua orang junior mereka memasang tampang keheranan.

“Jadi dia yang menarik cela-” belum sempat Jooeun menyelesaikan kalimatnya, Taehyung menaruh telunjuknya di depan bibir gadis itu.

“Jungkook datang.” Lirih Taehyung namun masih dapat terdengar oleh Jooeun dan kedua junior mereka.

Seungmi membelalakan matanya ketika menangkap sosok Jungkook yang tengah berjalan ke arah mereka.

“Ah, bukankah kalian juga harus meminta tanda tangan dariku dan juga Jungkook?” Bariton Taehyung kembali terdengar.

Seungmi dan Jiae menoleh, kemudian mengangguk dengan kompak.

“Hyung.” Suara Jungkook. Rupanya pemuda itu telah sampai dan saat ini dia sedang berdiri tepat di belakang Seungmi.

Mendadak frekuensi denyut jantung Seungmi meningkat. Bahkan untuk menelan saliva saja menjadi sangat sulit. Ia tidak berani menoleh ke belakang.

Taehyung yang menyadari ekspresi ketakutan gadis itu tersenyum sarkas. “Kook-ah. Kau tau siapa yang berada di depanmu saat ini?”

“Hobae. Mau meminta tanda tangan ‘kan?” jawab Jungkook datar. Belum menyadari bahwa gadis yang berada di depannya adalah Seungmi.

Gadis itu menarik Jiae berniat meninggalkan ketiga seniornya namun segera terhenti saat merasakan pergelangan tangannya di cengkeram erat oleh seseorang.

“Kau tidak mau tanda tanganku?”

Kali ini Seungmi tak bisa menghindar lagi. Ia membalikkan tubuhnya dengan wajah tertunduk.

Jungkook tercengang. “Kau? Gadis mesum?!”

To be continued

Advertisements

10 thoughts on “[BTS FF Freelance] Love’s Step – (Chapter 1)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s