[BTS FF Freelance] Mr. Destroyer – (Vignette)

picsart2016-05-7-13-23-04

Mr. Destroyer

a fic by Orchidious

Kim Namjoon (BTS) x Hwang Yoonmi (OC)

Vignette | Fluff | G

Just plot and OC are Mine

~”~

“Maafkan aku.”

Itu sudah kalimat kelima puluh yang diucapkan Namjoon. Yoonmi masih geming. Menatap keluar jendela dengan tangan kanan memegang secangkir teh hangat. Sesekali menyesapnya dengan harapan rasa kesal sekaligus pusing yang mendera kepalanya bisa lenyap. Namjoon berdiri tak jauh darinya. Ia menunduk, dengan tangan saling meremas dan wajah bersalah yang amat kentara. Ini sudah kelewatan, sekiranya itu yang dipikarkan Namjoon terhdap kesalahannya barusan. Satu kesalahan fatal, yang menghilangkan kesempatan emas Yoonmi, juga reputasinya yang bisa saja ikut jatuh. Namjoon benar-benar merasa bersalah. Bahkan maniknya tak sanggup melihat Yoonmi ataupun kanvas yang ada di sudut ruangan. Lukisannya sudah tak berbentuk, hanya bekas-bekas kelunturan yang mendominasi. Setengah jam yang lalu, lukisan itu masih utuh. Menggambarkan sawah pedesaan dengan latar langit malam bertabur bintang. Tapi kini, warna-warna yang terlihat sangatlah berantakan.

Tiba-tiba Yoonmi bangkit dari duduknya di pinggir jendela. Meletakkan cangkir teh yang sudah kosong setengah di meja. Tungkai bergerak menuju pintu sementara tangannya meraih jaket di sofa dan kemudian bunyi debum pintu yang didengar oleh Namjoon. Yoonmi pergi, dengan wajah dingin dan tanpa sepatah katapun. Namjoon menghela napas. Yoonmi pasti sedang kesal sekarang lalu ia akan pergi ke sebuah tempat dan bertemu dengan pria tampan disana. Oh, mungkin ia akan bertingkah polos layaknya biasanya dan memikat hati si pria asing. Kemudian mereka berkencan di hari Sabtu sementara Namjoon menyadari Yoonmi sudah mendeklarasikan ‘berakhirnya hubungan mereka’.

“Tidak-tidak. Jangan berpikir macam-macam dulu, Kim Namjoon. Sekarang lebih baik kau melakukan sesuatu agar Yoonmi tak semakin kesal,” ujarnya pada diri sendiri. Pandangannya mengedar hingga berhenti pada kanvas di sudut ruangan. Namjoon membulatkan tekad. Melangkah pasti ke arah kanvas tersebut dan mengamatinya sesaat. Kemudian ia mulai sibuk sendiri. Mencari kuas, cat air, palet, juga kanvas baru. Sesudah kesemua barang ditemukannya, ia mulai mengambil kanvas abstrak itu dan menggantinya dengan kanvas baru yang masih kosong. Namjoon menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.

“Semoga berhasil.” Lagi-lagi Namjoon bermonolog. Tangannya mulai menggerakkan kuas—yang sudah dicelupkannya ke dalam cat air—dengan hati-hati di atas kanvas. Melukis gambaran baru untuk menggantikan lukisan Yoonmi yang dirusaknya setengah jam lalu. Namjoon tadi datang karena gadis itu mengundangnya. Kata Yoonmi di telepon, ia punya sesuatu yang ingin ditunjukkan pada Namjoon. Tentu sebagai pasangan yang baik, Namjoon datang sepuluh menit kemudian. Begitu memasuki apartemen Yoonmi, ia langsung disuguhkan sebuah lukisan apik yang pastinya dibuat oleh pelukis terbaik versi Kim Namjoon, Hwang Yoonmi.

“Wah, bagus sekali! Boleh kulihat?” Yoonmi mengangguk. Mempersilahkan Namjoon menyentuh kanvas yang catnya masih belum kering sepenuhnya itu. “Hati-hati, catnya masih sedikit basah,” ucap Yoonmi saat kanvas tersebut sudah berada di tangan Namjoon. Ia hanya mengangguk sambil mengamati lukisan sawah dengan latar langit malam penuh bintang itu dengan mata berbinar. Namjoon benar-benar kagum melihatnya.

“Aku membuatnya selama tiga hari terakhir. Untuk pameran komunitasku besok,” imbuh Yoonmi. Namjoon mengangguk. Meletakkan kanvas tersebut kembali ke tempatnya dan menoleh ke arah Yoonmi. “Ini benar-benar bagus. Aku yakin akan ada seseorang dengan setumpuk uang yang—“

Bruk!

Namjoon belum menuntaskan kalimatnya dan interupsi datang dari suara barang yang terjatuh. Mata Yoonmi melebar. Namjoon tersentak.

Lukisan berumur tiga hari itu jatuh ke lantai.

Yoonmi segera mendekati lukisannya dan mendapatinya sudah tak berbentuk. Cat yang masih basah seketika luntur karena letak jatuhnya yang menghadap langsung ke lantai. Napas Yoonmi tercekat.

“….Maafkan aku, Yoonmi.”

Tangan Namjoon menjadi tersangka. Ia meletakkan kanvas itu dengan posisi tidak benar hingga terjatuh. Yoonmi menggeleng pelan. Meletakkan kembali kanvas itu kemudian beralih ke kursi di samping jendela sambil memijit pelipis. Kejadian selanjutnya adalah, Namjoon yang terus meminta maaf dengan kepala tertunduk, Yoonmi yang membuat secangkir teh lantas meminumnya sambil duduk di pinggir jendela, dan diakhiri dengan perginya gadis itu tanpa berkata apa-apa. Gadis yang selama ini dikenal Namjoon sebagai gadis polos yang cukup pendiam, mendadak berubah menjadi gadis es. Karena kesalahan—fatal—Namjoon.

Tiga jam berlalu. Namjoon selesai membuat ulang lukisan Yoonmi tersebut. Hasilnya memang tidak terlihat sama persis dengan buatan Yoonmi tapi Namjoon puas. Setidaknya usaha kerasnya membuahkan hasil cukup baik. Lukisannya lumayan bagus, walau sedikit berantakan. Yah, Namjoon ‘kan bukan pelukis?

“Belum kembali, ya?” Namjoon melirik pintu apartemen Yoonmi yang masih tertutup. Sudah tiga jam dan Yoonmi belum kembali. Namjoon mengembuskan napas pelan. Sebaiknya ia segera pergi, tidak baik berlama-lama di apartemen orang. Meraih jaket panjangnya di gantungan dekat pintu, Namjoon bergegas pergi.

Di halte, Namjoon duduk sendiri. Busnya belum tiba. Ia melihat sekeliling, berharap Yoonmi segera pulang. Namun hasilnya nihil. Namjoon hanya menghela napas.

“Chaeyoung mengusirku pulang. Mau latihan basket katanya. Memangnya latihan apa yang dilakukan di cuaca dingin ini?”

Suara ketus seorang gadis sontak membuat Namjoon menolehkan kepala. Didapatinya Yoonmi sudah duduk di sampingnya dengan wajah sebal. Namjoon mengulas senyum tipis dan mengangguk. Ia paham, keadaan mereka masih sedikit tegang—meski sudah agak cair dengan ucapan Yoonmi tadi. Gadis berambut pendek itu kemudian menunduk. “Maaf tadi sudah mengabaikanmu. Aku tadi memang kesal, tapi kalau dipikir-pikir, itu juga bukan masalah besar. Kau tidak sengaja, bukan?”

Kini Namjoon yang menunduk. Ia menggeleng. “Kamu tahu benar, tanganku memang begitu,” lirihnya. Dan Yoonmi mengangguk pelan. Tahu, kalau Namjoon memang acap kali merusak benda. Menjatuhkan mangkuk, menggosongkan wajan, hingga mematahkan kursi.

“Ini kesalahanku yang membiarkanmu memegang lukisan itu. Lupakan saja, aku masih ada lukisan lain untuk pameran,” ujar Yoonmi lembut. Ia tahu, Namjoon pasti merasa sangat menyesal, tapi mau bagaimana lagi? Seharusnya Yoonmi yang sadar akan kelemahan Namjoon itu dan bisa mencegah semuanya terjadi.

“Aku pasti sangat menyusahkanmu, bukan?” Namjoon kembali buka suara. Sementara Yoonmi menggeleng cepat. “Tidak. Tidak pernah. Meski bulan lalu kau mematahkan kursiku, kita berhasil memperbaikinya kembali, bukan? Itu bukan masalah selagi masih bisa diperbaiki,” balas Yoonmi dengan nada tenang. Ia kemudian menunduk dan tersenyum. “Lagipula, Kim Namjoon ‘kan hanya merusak barang, bukan hati Hwang Yoonmi,” gumamnya sambil terkikik pelan. Namjoon menoleh. Telinganya dengan jelas mendengar hal itu.

“Berlatih kata-kata manis, hm?” Yoonmi mendongak. Pipinya bersemu dan ia meringis. Namjoon terkekeh. “Jadi, kau memaafkanku?” tanyanya hati-hati. Yoonmi mengangguk mantap. “Sebagai tanda saling memaafkan, mau makan malam bersama? Aku yang memasak.” Namjoon lekas mengangguk. Bangkit sembari menawarkan tangan.

“Ayo.”

Yoonmi menyambut tangan Namjoon dengan senyum lebar. Bergandengan tangan, keduanya berjalan bersama menuju gedung apartemen Yoonmi.

“Apa yang kau lakukan selama kutinggal?”

“Melakukan sesuatu yang berguna. Bukan membakar apartemenmu.”

“Ya ampun, Namjoon.”

.

.

Just Epilogue

“Kamu yang buat ini, Namjoon?”

“Iya. Kenapa? Buruk ya? Aku memang bukan pelukis handal.”

“Tidak, ini bagus—setidaknya untuk pemula sepertimu. Kau harus membawanya juga ke pameran.”

“Aku tak yakin soal itu.”

“Anggap saja menyelam sambil minum air. Selagi menemuiku di pameran, kau bisa saja mendapat untung kalau ada yang tertarik dengan lukisanmu.”

“Menyindirku, ya?”

“Maksudmu?”

“Kau sudah sering mendapat uang karena menjual lukisan. Sementara aku hanya pekerja paruh waktu di pom bensin dengan penghasilan tambahan hasil memenangkan lomba di komunitas rapper underground.”

“Aku tidak ada maksud begitu. Aku benar-benar tulus mengatakannya.”

“Hehe.. Aku hanya bercanda, Yoonmi. Astaga, kekasihku ini polos sekali. Sudahlah, ayo, mulai memasak. Aku yang potong sayurnya.”

“Jangan sampai mematahkan talenan juga, ya?”

“Hwang Yoonmi…”

“Bercanda. Hehe..”

fin

Ga tau ini apa /.\ (ngilang)

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] Mr. Destroyer – (Vignette)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s