[BTS FF Freelance ] Our Love Will Be Happy Ending? – (Oneshoot)

photogrid_1466238236434

Tittle : Our Love Story Will Be Happy Ending?
Author : shafuro mutsaqofah/@shofimutsaqofah
Genre : Hurt, little romance
Cast : Kim Taehyung
You [OC]
Lenght : Oneshoot/twoshoot
Rating : Teen

Disclaimer : Cerita murni hasil dari pemikiran dan imajinasi author. Jadi di larang keras, mengcopy atau membajak serta memplagiat tanpa seizing author. And don’t be sider! ^^

***

Bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu selalu hadir dalam mimpiku? Selalu terlintas dalam fikiranku?

Pertemuan pertama kita. Singkat. Namun sungguh memberikan kesan terdalam untukku.

Kamu.. siapa kamu sebenarnya?

Matamu, senyummu, bahkan suaramu, masih terekam dalam memoriku.

Saat itu aku hanya bisa terpaku saat kamu menatapku. Sungguh aku belum pernah melihat tatapan yang meneduhkan seperti tatapanmu. Senyummu, belum pernah aku lihat senyum memabukkan seperti milikmu yang membuatku ketagihan untuk terus melihatnya. Dan suaramu, sungguh seperti melodi yang indah yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Bahkan hanya kalimat “Sama-sama” yang kamu ucapkan, entah mengapa terdengar seperti lagu cinta yang merdu.

Berlebihan? Tidak. Jika kalian fikir aku mendeskripsikannya secara berlebihan maka kalian salah. Karena memang seperti itulah kenyataannya, bahkan mungkin ungkapanku untuknya masih belum cukup. Karena dia terlalu sempurna di mataku.

Sempurna. Adakah manusia yang sempurna di dunia ini? Ada. Dan tentu saja bagiku dia termasuk manusia yang sempurna di mataku.

Tidakkah kalian penasaran siapa orang itu?
dia hanyalah seorang gadis yang menggunkan penutup kepala berbahan kain yang lebar, -yang belakangan ku ketahui bernama jilbab– gadis sederhana dengan mata indah dan senyum menawan. Suatu saat nanti aku pasti akan menemukanmu. Ya pasti. Aku percaya itu.

One year later

Setahun sudah berlalu. Kehidupanku pun berubah total. Aku yang dulunya bisa hidup bebas di negara asalku, sekarang harus bisa menyesuaikan diri di negara orang. Setahun sudah aku tinggal di indonesia dan meninggalkan negara asalku, korea hanya karena suatu alasan sepele. Ibu. Itulah alasan mengapa aku rela terbang jauh berjuta-juta mil meninggalkan tempat kelahiranku menuju tempat asing yang belum pernah ku pijaki sebelumnya. Hanya untuk melepas rindu dengan wanita sudah melahirkanku ke dunia ini. Jika kalian bertanya apakah ibuku orang indonesia, makanya jawabannya adalah iya.

Setahun sudah ku jalani hidupku di sini, dan sedikit-sedikit aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekitarku, dengan bantuan ibu tentunya. Sekarang aku sudah tidak canggung lagi untuk berkomunikasi dengan orang lain, bahasa indonesiaku pun sudah lancar, biarpun logat koreaku masih kental.

Dan setahun pun sudah berlalu, tetapi aku belum bisa melupaknnya. Aku belum bisa melupakan gadis itu, gadis dengan mata indah dan senyum menwannya, serta jilbab yang di kenakannya. Sejak bertemu dengannya hingga sekarang belum pernah sedetikpun aku melupakannya dan bahkan selalu memimpikannya, bayangan akan dirinya selalu hadir mengusik hari-hariku. Tapi jujur aku tidak terganggu akan kehadirannya dalam khayalanku, karena sejujurnya aku sangat menikmatinya. Menikmati setiap detik untuk memikirkannya dan merindukannya, mungkin. Pantaskah aku mengucap rindu untuknya? Yang bahkan aku tidak tahu siapa namanya. Bahkan kadang aku berfikir, apakah gadis itu nyata? Benarkah dia sungguh ada? Ataukah dia hanya khayalanku semata? Ah, aku benar-benar merindukan saat pertemuan pertamaku dengannya. Merindukan tatapan teduhnya, senyum menawannya dan suara merdunya.
Sungguh ini membuatku gila, aku merasakan rindu pada seseorang yang tidak ku kenal. Hanya lima menit kami bertemu dan dia sudah berhasil membuatku merindukannya.

***

Sebuh tepukan lembut menyadarkanku dari lamunan panjang. Ku tolehkan kepalaku dan ku dapati senyum menawan dari wanita paruh baya yang sudah melahirkanku.
Ibu.

“Kenapa Bu?” Ibu tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Seharusnya Ibu yang nanya, kamu kenapa ko ngelamun aja seharian ini? Lagi banyak fikiran?” ku balas pertanyaan ibu dengan senyuman.

“Ko malah senyum? Ibu tanya bukannya di jawab eh malah senyum-senyum”

“Hehe, aku ga papa ko Bu, cuma lagi ada yang di fikirin aja, tapi bukan masalah serius ko, Ibu ga usah khawatir aku baik-baik aja ko” ku rasakan genggaman hangat di telapak tanganku, ku tatap wajah ibu yang masih menampilkan senyum hangatnya.

“Kalo kamu ada masalah kamu bisa cerita sama Ibu, biarpun itu cuma masalah kecil. Kali aja dengan cerita sama Ibu hati kamu menjadi lebih lega. Lagian Ibu ini Ibu kandung kamu, kalau kamu ada apa-apa cerita aja sama Ibu, dengan senang hati Ibu akan mendengarkan dan siapa tau sehabis kamu cerita ibu bisa bantu menyelesaikan masalah kecilmu itu” lagi, aku hanya tersenyum mendengar ucapan Ibu.

“Tuh kan senyum-senyum lagi, Ibu jadi curiga. Jangan-jangan masalah kecil yang kamu maksud itu, masalah cinta ya?” Aku tertawa mendengar Ibu mengatakannya, seolah dia sedang menggodaku.

“Loh ko malah ketawa? Tadi senyum-senyum sekarang ketawa, emang pertanyaan Ibu lucu ya?”

Aku masih tertawa melihat ekspresi Ibu yang tampak kebingungan. “Taehyung-ah, Ya!. Neo waeirae?”

Ku hentikan aksi tertawaku setelah melihat Ibu merajuk. Begitulah Ibuku, dia akan menggunakan bahasa ayahku saat ia sedang merajuk.

“Habisnya Ibu lucu sih. Hehehe. Iya deh iya aku cerita” ku tarik hafas dalam-dalam sebelum cerita. sebab ini akan menjadi cerita terpanjang yang akan aku ceritakan kepada Ibu, cerita tentang kisah cinta pertamaku.

***
“Jadi begitu ceritanya, semenjak itu aku tidak pernah sekalipun tidak memikirkannya. Dia seperti magnet yang menarikku untuk memikirkannya walau hanya semenit. Bahkan akhir-akhir ini dia lebih sering hadir di mimpiku. Itu semakin membuatku memikirkannya dan… merindukannya

“Taehyung-ah” ku tatap wajah Ibu yang masih setia menampilkan senyum hangatnya.

“Jatuh cinta indah bukan? Memikirkannya, memimpikannya, bahkan merindukannya adalah suatu kegiatan ‘manis‘ yang akan kamu jalani saat sedang jatuh cinta. Dan itu bukanlah beban, itu adalah hadiah kecil yang kamu terima saat kamu sedang jatuh cinta. Terima itu dengan senang hati, sebab manusia hanya sekali seumur hidupnya merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Jadi nikmatilah”
Nikmati? Bahkan aku lebih dari menikmatinya. Memikirkannya,memimpikannya dan merindukannya sudah menjadi seperti kegiatan pokok untukku. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hatiku..

“Tapi Bu, kami berbeda…” ada rasa sesak saat mengetahui ada jurang pembatas di antara kami.

“Bukankah Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda agar manusia bisa saling memahami dan menerima perbedaan di antara mereka”

Aku tersenyum pahit mendengar ucapan Ibu “Lalu apakah Ibu akan menerima jika mempunyai menantu yang memiliki keyakinan yang berbeda denganmu?”

Hening. Tidak ada satupun dari kami yang mencoba untuk berbicara.

“Taehyung-ah, kamu tau? Semua yang ada di dunia itu terjadi karena sudah ada yang mengatur, termasuk kamu yang jatuh cinta dengan gadis itu, itu terjadi bukan karena kebetulan semata tapi karena sudah kehendak takdirTakdir yang mempertemukan kalian.”

“Ibu percaya itu?”

“Tentu.”

“Tapi bukankah pada akhirnya aku dan dia tidak akan bisa bersatu? Bukankah takdir kami sudah jelas, kalau aku dan dia tidak akan bersatu?” Sesak. Kenapa rasanya sungguh sesak?

“…”

“Pada akhirnya nanti aku dan dia tidak akan bisa menjalin cinta seperti yang ku harapkan. kami hanya bertemu lima menit dan itu terjadi setahun yang lalu dan bahkan dia tidak mengenalku, jadi bagaimana bisa dua orang yang berbeda dan tidak saling mengenal bisa bersatu? Itu mustahil. Bila akhirnya akan seperti itu kenapa perasaanku padanya semakin kuat Bu? Kenapa setiap menit aku memikirkannya, aku semakin menginginkannya? Apakah aku salah kalau mencintainya? Dosakah aku kalau menginginkannya Bu?” Rasa sesak itu kini meledak menjadi tangis, entah sejak kapan aku menangis yang jelas saat ini rasanya aku ingin meledak saat mengetahui perbedaan di anatara kami.

Ku rasakan pelukan hangat Ibu.
“Semua akan berakhir sesuai dengan skenario takdir yang telah di tentukan. Yang harus kamu lakukan hanya percaya. Percaya bahwa akan ada akhir yang bahagia untuk kisah cintamu. Jadi sekarang nikmati saja perasaanmu ini, karena jatuh cinta yang sesungguhnya itu hanya sekali. Dia cinta pertamamu bukan?”

Ku anggukan kepalaku. Ibu benar, aku hanya harus percaya bahwa semua ini terjadi karena sudah takdir dan aku hanya harus menerima dan menjalaninya.

Dan untukmu, gadis yang ku cintai… entah bagaimana aku mengatakannya tapi aku percaya kalau suatu saat kisah kita akan berakhir dengan indah. Lalu apakah saat kita bertemu suatu saat nanti, kamu akan membiarkan aku mencintaimu? Atau bahkan kamu bersedia menerima cintaku? Untuk pertanyaan terakhir mungkin kamu akan menjawab tidak, tapi bolehkah aku berharap kamu akan menjawab ‘iya‘. Bukankah semua terjadi atas kehendak takdir, bila takdir mempertemukan kita kembali maukah kamu menerimaku? Dan bila kita -mungkin- bertemu kembali bersediakah kamu mengizinkanku mencintaimu?
Untukmu, gadis yang ku cintai… jika akhirnya kita tidak bisa bersatu, mau kah kamu mengizinkanku untuk melihatmu sekali saja, untuk terakhir kalinya, hanya untuk melepas rinduku.. mau kah kamu mengizinkannya?
***
Jeng-jeng, ada yang tau lagunya marcel yang liriknya “Tuhan memang satu, kita yang tak sama, haruskah kita lantas pisah meski sama-sama suka beng-beng
wkwk lirik terakhirnya ngaco, otak rada gesrek, secara itu lagu juga di jadiin ost iklan beng-beng😂 #oke abaikan yang ini
jadi ceritanya abis dengerin itu lagu aku nya jadi galau+baper ga karuan, ngebayangin kalo misalnya ngalamin cinta beda keyakinan gitu, dan entah kenapa aku jadi kebayang kalo Tae yg jadi cowoknya (ultimated bias soalnya). Oya kalo responnya bagus rencana aku juga mau buat ff ini dua versi, veri Tae sama versi ceweknya. semoga suka dan harap di nantikan kkkk😁 Oke daripada aku cuap2 gajelas, mending kalian nikmatin aja ceritanya ya. Semoga suka. Enjoy^^ jangan lupa komentnya😘

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s