[BTS FF FREELANCE] Survive to be an Idol (Chapter 2)

si

A fanfiction with,
Idol Life/Fashion Fanfic

Staring by BTS’s members & Rinata Andriani (Author’s OC)

Rating PG-15

Multichaptered Length

Rinata’s Point of View

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik author yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Anggota BTS, nama produk, nama agensi yang tersebutkan adalah miliknya sendiri serta memiliki hak cipta, author hanya meminjam nama. Karakter lain sebagai pendukung adalah milik author. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama dan cerita harap maklum karena faktor ketidaksengajaan. Segala upaya penjiplakan harap dipikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

2016© MEGANDA & ARRYLEA Collaboration Presents All Rights Reserved

Has been published too at ARRYLEA NO KAOKU’s
Poster credits to Pinterest which has been edited by ARRYLEA.
Last storiette [Bag 1]

— SELAMAT MEMBACA —

Before the scenes…

“Aku tak perlu pindah?” tanyaku mendadak bodoh.

“Tak usah. Kecuali kalau gedung disana sudah kita beli.” Kata Jungkook sambil menunjuk gedung dimaksud. Tanpa sadar aku menguap lebar sekali. Sepertinya kantuk baru menyerangku. Jungkook yang melihatku menguap langsung tertawa sambil mengusap kepalaku, “Sudah debut nanti kau harus belajar menjadi makhluk nocturnal. Ayo istirahat!” Ajaknya. Aku mengangguk mengiyakan lalu mengikutinya.

BAGIAN 2

Hari-hari berikutnya begitu mencekik waktu. Sekolah-latihan-take vocalMV filming, semuanya dilakukan selama hampir 20 jam penuh hingga tak terasa hari-H sudah di depan mata esok hari. Kantung mata saja sudah menghitam dan membesar mengingat kami hanya tidur 4 jam perhari.

Bangtan Girls berkumpul setelah selesai latihan bersama para sunbae di ujung ruangan. Sambil meregangkan otot, kami beristirahat sembari duduk-duduk dan tiduran.

Ah… Capek.” Keluh C langsung membaringkan diri.

“Capek sih, tapi setidaknya latihan ini tak boleh sia-sia ‘kan? Kita tidak boleh mengecewakan para sunbaenim dan manajer.” Hana menimpali sambil ikut terjatuh di samping C.

Sementara Bangtan Girls sibuk sendiri, bercerita bagaimana kalau nanti sudah debut, Taehyung dan anggota Bangtan Boys lainnya tengah berebut berhadapan dengan sebuah kamera ponsel. “Jangan berisik! Kita sedang streaming tahu!” Taehyung meneriaki.

Percuma, Bangtan Girls masih asyik sendiri dan malah-malah ribut di depan laptop milik Suhi, “Eh, video teaser milik kita sudah diunggah ke Youtube!”

Mendengar kata teaser, seketika telinga kami peka dan langsung memperhatikan video berdurasi 1:13 menit  yang cukup simpel dengan berbagai efek kamera dan editing. Plus diakhiri sepintas rekaman latihan kami selama seminggu ini.

 “Woah, kita benar-benar perwakilan ARMY ya,” sahut Anna kagum.

Ara berdecak salah fokus, “Lumayan untuk sebuah teaser.”
Wajar Ara begitu, dia dulu pernah sekolah IT. Berurusan dengan komputer, perangkat lunak, dan desain adalah kesehariannya dulu, mungkin sampai sekarang. Karena cuman Ara yang berani memohon kepada produser untuk membelikannya satu set PC dengan kapasitas hardisk dan RAM yang mumpuni demi menyeimbangi software.

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar celotehan mereka, menyimak tapi tak peduli. Karena yang ada dipikiranku sekarang adalah; ‘bagaimana aku bisa memiliki nilai jual yang mahal di hadapan publik hingga bisa mencetak banyak uang.’ Menyenangkan bukan menjadi kaya raya? Iya, pasti menyenangkan sekali!

Saking fokusnya memperhatikan celotehan para eonni, aku sampai-sampai terkejut gara-gara uluran tangan seseorang menarik tanganku yang lain, sontak membuatku langsung memekik meneriaki si penarik. Seok Jin diam-diam menarikku sedikit kasar ke arah Bangtan Boys yang sedang streaming sambil sebelumnya memberiku masker dan kacamata untuk kupakai. Wajahku masih asing untuk diketahui publik, debut baru esok, jangan sampai bocor gara-gara ketidaksengajaan.

Aku mencoba merutuki Seok Jin yang seenak jidat sepanjang ia menarik tanganku menuju anak-anak Bangtan Boys berkumpul. Tapi memang dasar laki-laki tidak peka, dia malah masa bodoh dan terus menarikku tanpa berdosa.

“Duduklah!” sahutnya memerintah. Menurut dan duduk sambil masih merutuk. Jungkook memegang pundakku dan berkata pada kamera. “Perkenalkan, ini translator baru bahasa Indonesia kita!” Seketika, semua member bertepuk tangan memberi apresiasi, sementara aku melongo seperti orang dungu.

Translator, katanya. Gila, padahal besok aku bakal debut tapi mereka malah…, ah sialan.

“Jadi translator noona, tolong terjemahkan komentar-komentar bahasa Indonesia dan Inggris ini.” Perintah Jimin. Aku sempat menatap Jimin sinis kemudian menghela nafas sembari memperhatikan layar kamera. Melihat beberapa komentar dan siap menerjemahkan.

“Mereka bilang; ‘semangat untuk konsernya’,”

Apakah dia member baru yang akan debut?”

“Wah wah, mereka pintar ya!” Puji J-Hope melihat reaksi para ARMYs langsung telak menebak siapa aku.

Hei anak baru! Tolong buka masker dan kacamatamu itu!” Semua member menggeleng-gelengkan kepalanya langsung, menolak permintaan si komentator. Komentar yang lainnya menyusul saling berebut notice Bangtan Boys satu-persatu dengan cepat. Tepat ketika sebuah komentar bertuliskan hangul dari akun bernama Jimin414 berkata, “Aku tahu dia! Dia adalah Rinata Andriani, trainee BigHit.”, menarik perhatian manusia yang ada di depan kamera. Seketika itu juga kami membeku di tempat.

Waktu kami seolah berhenti, padahal hanya gara-gara ucapan satu orang fans. Untungnya Jungkook langsung berinisiatif mengakhiri acara live streaming V apps.

“Tadi itu apa? Siapa? Apa-apaan?” tanya Yoongi beruntun panik.

Semua menggeleng, “Kita tidak tahu, hyung. Aku juga tak menyangka ada yang mengenal trainee kita.” Jawab Taehyung.

“Mungkinkah itu teman sekolah kalian berdua?” Namjoon bertanya langsung sejurus. Aku dan Jungkook menggeleng. Jungkook saja tak tahu apa-apa, apalagi aku.

“Sudah, tak perlu dipikirkan. Besok mereka akan debut dan menjadi artis. Sudah selayaknya publik tahu mereka ‘kan? Sekarang kita istirahat saja, yuk!” Tukas Seok Jin menengahi. Anggota Bangtan Boys yang lain juga setuju dengan uraian Seok Jin, memilih untuk istirahat dan berpisah di koridor menuju asrama masing-masing. Siap untuk hari esok yang ditunggu-tunggu para calon artis.

Menunggu hari adalah hal yang paling menyebalkan jika esok adalah hari yang paling berharga. Jujur saja sekarang ini aku tak bisa memejamkan mata sedikitpun. Pikiranku begitu melayang seolah tak percaya kehidupanku akan berubah mulai esok hari. Menjadi artis, terkenal, penggemar, penguntit bahkan sasaengs, dan uang yang menghampiri. Ah aku hampir gila!

Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan aku benar-benar belum tidur sama sekali. Anna yang melihatku masih terbangun karena melakukan ibadah shubuh rutinku, menyuruhku untuk tidur setelahnya dan berjanji akan membangunkanku pukul 9 pagi nanti. Aku pun menurut, karena seingatku jam 8 malam adalah jadwal showcase Bangtan Girls.

-o-

Alih-alih berharap akan dibangunkan pukul 9 pagi. Tapi rupanya aku terbangun sendiri jam 8 lebih 13 menit. Dan kebetulan pintu kamar terbuka bersamaan, samar-samar aku memperhatikan  seseorang yang memasuki kamar.

“Seok Jin oppa!” seruku terkejut. Karena kukira yang akan muncul adalah Anna.

“Sudah jam 8. Kau belum sarapan, cepat turun!” Suruhnya dan langsung hengkang lagi dari kamar. Sementara aku merapihkan diri, mandi dan berpakaian serta menata rambut. Seok Jin menunggu di dapur.

“Cepat makan!” Seok Jin menyodorkan bubur abalone―tanpa daging tentunya, padaku. Aku menerimanya sambil mengangguk kikuk, dan langsung memasukkan beberapa sendok bubur ke dalam mulut seperti orang kelaparan. Sambil makan, aku menyadari suatu hal aneh  karena hawa sepi yang menyertai. Pasalnya asrama sudah sangat bersih dan tak ada tanda-tanda kehidupan selain aku dan Seok Jin sekarang. Karena kami ber-7 sudah dikabarkan debut bersama, maka asrama kami pun disamakan dan berpisah dengan trainee yang belum beruntung untuk debut.

Oppa, kemana yang lain?” tanyaku penasaran. Selagi menungguku makan, Seok Jin beralih duduk menatapku. “Mereka sudah berangkat ke stage.”

“Sepagi ini?”

“Iya. Ini hari debutmu. Kau harus ekstra gesit dan serba pagi. Cepat habiskan.”

“Tapi, mengapa kau? Maksudku, kenapa oppa yang kemari?”

Seok Jin menghela nafas, “Aku disuruh manajer untuk menjemputmu karena dia tahu kau gelisah semalaman tak bisa tidur. Anna yang memberi tahu manajer.”

Uhuk, aku tersedak dan membuat acara makanku tiba-tiba terhenti, merasa malu sendiri mendengarnya karena itu sudah jelas merepotkan Seok Jin. Tapi aku benar-benar tak bisa menutupi rasa gelisah ini sejak semalam.

Ya…, hati-hati kalau makan. Kau ini aneh ya, makan bubur saja tersedak.” Seokjin malah mengomentariku.

“Maaf,” kataku.

“Tak masalah. Ini air minumnya.” Gelas berdesain keroppi kesukaanku disodorkan Seok Jin. Dia peka, syukurlah. Aku tidak jadi mati karena tersedak ‘kan.

Masih berdiri di tempatnya Seok Jin lagi-lagi meracau. “Kau pasti tertekan. Lihat…, matamu bengkak dan hitam begitu. Habis menangis dan tak bisa tidur? Hal yang wajar.”

Seok Jin akhirnya berangsur meninggalkan tempatnya, berjalan ke arah dapur dan membuka kabinet serta kulkas. Mengambil sekeruk bongkahan es batu dan membungkusnya dengan kain.

“Nanti di dalam mobil, kau kompres matamu. Aku tunggu di lobi dekat resepsionis ya.” Setelah Seok Jin menyimpan kain kompresan di samping mangkuk buburku, aku mengangguk dan mempercepat makan.

-o-

Kelihatannya para staff sangat sibuk sambil berlalu lalang mencari mobil. Dan jujur saja aku kehilangan Seok Jin yang tak tahu ada dimana. Mobil van milik Bangtan Boys terparkir di depan gedung. Mungkin ada baiknya aku menuju kesana; pikirku.

“Rina-ya!” panggil Seok Jin, yang ternyata sudah berada di dalam mobil. Melihat Seok Jin di dalam mobil, aku berinisiatif langsung masuk dan duduk di sampingnya.

Selama perjalanan, Seok Jin terlihat lebih pendiam, mungkin sedang menghafal lagu dan gerakan. Bahkan yang sudah pro pun masih butuh latihan. Sedangkan aku dengan pasrah menyandarkan diri sambil mengkompres mata bengkak sialan ini.

Hening seakan menguasai kami walaupun tak lama, karena setelahnya ponselku berdering dan sedikit mengganggu aktifitas Seok Jin yang langsung menatap ponselku tajam.

Yeoboseyo,” kataku menjawab panggilan. (Hallo)

Dimana? Kau sudah pergi?”

“Di jalan. Sudah.”

Dengan siapa?

“Jin oppa.”

Ah sial!”

“Kenapa?”

A-ani, bukan apa-apa. Kakiku menabrak meja. Tak masalah, tak sakit.” (Tidak)

Aku menaikkan alis mendengar alasannya, “Lain kali berhati-hati. Yasudah, kututup ya.”

Seok Jin yang mendengar namanya barusan disebut menoleh padaku. “Nuguya?” (Siapa?)

“Jungkook oppa.”

“Oh…, dia kurang cepat sih.” Gumam Seokjin, membuatku sukses melongo menatapnya, mencari maksud diantara kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya itu.

“Maksud―”

“Oh iya…, aku baru saja mengecek fancafe. Sejak streaming V apps kita kemarin. Banyak yang mencari tahu siapa kamu, loh Rina.” Lanjut Seokjin, mengalihkan pembicaraan.

Aku hanya menaikkan alis sambil menggaruk-garuk rambut. Apa sosokku harus bocor di hari sebelum aku debut? ㅠㅠㅠ

-o-

@Seoul’s Olympic Gymnasium

Sebelum turun, Seok Jin memerintahku untuk mengenakan masker dan tas, agar fans mengira aku hanyalah seorang stylish noona, dan tidak menyebabkan berita hoax antara kami. Seok Jin turun dari mobil lebih dulu, petugas pun langsung bersigap membuat jalan agar para fans tidak mengacau. Perjalanan dari parkiran ke backstage panggung membutuhkan waktu yang lumayan menyita mengingat para fans bergerombol langsung ingin meraih Seok Jin. Sayangnya, Seok Jin hanya menunduk tak berani memperlihatkan batang hidung, tangannya juga terus-menerus menutupi wajah. Membuat beberapa fans kecewa karena biasanya Seok Jin akan mendadahi mereka atau minimal tersenyum ke arah mereka.

Seok Jin baru mau menaikkan wajahnya ketika sudah masuk save zone di dalam stadium. Melihat kondisi Seok Jin, stylish noona sigap memberinya tisu, seolah tahu apa yang terjadi pada laki-laki di depanku ini.

“Apa yang terjadi pada Jin hyung?” tanya Jungkook yang sedari tadi menunggu di balik pintu kaca.

“Sepertinya mimisan, ia terlalu memaksakan diri, sih.”

“Semua orang memaksakan diri disini!” balas Jungkook ketus lalu berlalu meninggalkan. Entah kenapa pula Jungkook mendadak sinis begitu. Ah siapa peduli. Ini hari debutku, aku tak boleh memikirkan hal aneh lain selain hafalan lagu dan gerakan untuk performance nanti.

Di ruangan stylish, member Bangtan Boys dan Girls berkumpul untuk dipolesi make up. Beberapa diantaranya ada yang sibuk diurusi dan ada juga yang menunggu giliran. Salah satunya aku, Anna, Hana dan Sasa.

“Jin hyung kemana?” tanya Yoongi pada Jungkook, yang juga belum mendapat bagian untuk di make up. Jungkook menoleh pada Suga kemudian mendelik lagi, “Dibawa oleh staff medis. Hidungnya berdarah tadi,” jawabnya ketus lalu berlari ke sebelah Taehyung yang sedang duduk manis di depan cermin.

Ya! Maknae sialan! Kalau kau kesal jangan membuat semua orang kena semprotmu juga, dong!” Gerutu Yoongi. Orang yang digerutui hanya mendelik masa bodoh. Aku jadi penasaran sendiri, apa yang telah menganggu pikiran anak itu hingga kesal dan mengabaikan hyungnya?

Seok Jin memasuki ruangan, sepertinya hidungnya sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Baru ketika aku ingin menanyakan kabarnya, Seok Jin sudah di kerumuni para stylish dan member Bangtan untuk ditanyai. Tapi tidak dengan Jungkook, laki-laki itu hanya duduk menghadap cermin dan memperhatikan apa yang terjadi di belakangnya. Benar-benar menyebalkan si Jungkook itu. Ada apa dengannya?

Setelah semua member sudah selesai dengan urusannya masing-masing. Kami semua siap-siap berkumpul membentuk lingkaran untuk briefing yang dipimpin oleh Namjoon.

“Hey satukan tangan kalian ke tengah-tengah, kita selebrasi!” Mendengar suruhan sang leader, semua member Bangtan menelungkupkan tangannya ke tengah-tengah, menumpuknya menjadi satu dari 14 pasang tangan.

“Bangtan…,” seru Rapmon. Dan bersamaan kami menjawab, “Hwaiting!”

Semua mulai bubar dan fokus pada pekerjaannya masing-masing di atas panggung nanti. Yoongi sudah siap memegang mikrofon, mengawali salam pembuka. Teriakan penggemar begitu menggema di dalam stadium ketika Yoongi mulai naik ke atas panggung kemudian disusul oleh para member Bangtan Boys yang lain. Tak butuh waktu lama bagi Yoongi untuk memberi sapaan pada penggemar, karena setelahnya Bangtan Boys langsung membawakan lagu Silver Spoon-nya mereka.

Ara yang sedari mondar-mandi mulai mengeluh. “Aku tegang sekali, Ya Tuhan.”

“Rasanya aku ingin menangis,” tambah Sasa.

Sambil memegangi perut tak karuan, Suhi juga ikut-ikutan,“Perutku sepertinya sakit, ada apa denganku?”

“Kenapa kepalaku rasanya panas?” lagi-lagi Hana ikut mengeluarkan suara.

C yang sedari tadi kelihatannya kalem duduk-duduk langsung berdiri. “ASTAGA AKU LUPA LIRIK!” Ternyata C lebih parah dari yang lain.

Baiklah itu biasa, stage pertama, baru debut, sakit perut, ingin kencing, lupa lirik, lupa gerakan, jantung berdegup tak karuan, itu wajar. Walaupun ada sedikit perasaan tegang sekaligus kagum dan merasa ‘woah’ ketika melihat sunbae di atas panggung, tapi aku masih bisa mengatasi rasa gugup. Toh, pada akhirnya aku disini karena uang, bukan mengejar para sunbaeku. Aku yakin sunbaeku juga butuh uang. Jadi teoriku mengejar uang tak salah ‘kan?

“Kalian tolong kondisikan diri! Tenanglah! Minum air. Lihatlah maknae kita saja santai begitu.” Kata Anna menenangkan adik-adiknya.

“Mana mungkin bisa tegang, dipikirannya hanya uang,” C langsung menyahut karena sedari tadi juga ia memperhatikanku yang biasa-biasa saja.

Suhi mengangguk-anggukkan kepala setuju. “Ya, C benar. Mungkin dia sudah kehilangan feel menjadi artis.”

“Aku tegang, asal kalian tahu. Tapi semakin kalian rasa, tegangnya semakin menjadi, baka!” dituding begitu, aku sewot dan langsung bersumpah serapah pada keduanya dengan bahasa campur aduk.

“Aduh…, sudah jangan bertengkar! Sebentar lagi kita akan naik panggung. Sunbae kita sudah masuk lagu RUN.” Anna mencoba melerai kami sambil memegang pundakku menjauh dari C dan Suhi. Setuju dengan perkataan Anna, kami pun mulai berlari berebut sisi stage untuk persiapan naik ke atas panggung.

“Maafkan aku tadi, Rina.” Kata C seraya menarik tanganku.

Melirik ke arah tangan yang ditarik, aku tersenyum sambil menatap C. “Tak masalah. Maafkan aku juga.”

“Aku…maafkan aku juga.” Sahut Suhi mengikuti.

“Bangtan Girls, siap-siap!” Seru coordi.

‘Stage pertamaku. Buatlah aku sukses.’ Batinku.

Semuanya sudah siap di tempat, kami berencana muncul dari bawah. Sehingga stage yang akan menaikan kami ke atas panggung. Dengan posisi yang sudah dilatih sebelumnya, kami langsung memasang posisi dan menunggu stage naik.

“C siap? Aku akan menindihmu,” tanya Sasa.

“Sial, aku benci jadi V.” kata C langsung mengeluh. “Astaga eonni, kau berat!”

Sorry,” Sasa cengengesan.

“Sasa eonni, tekuk kakimu! Aku tak bisa lurus.” Kataku yang merasa tak nyaman dengan posisi sekarang. Sasa langsung menekukkan kakinya.

Semua hening menunggu stage naik. Memikirkan gerakan dan lirik, takut-takut lupa di atas panggung, bisa bahaya. Tapi tiba-tiba dengkuran yang terdengar begitu kentara melewati gendang telinga kami disela-sela keheningan.

“Teman-teman…, Ara eonni tertidur.” Suhi yang berdekatan dengan Ara langsung tahu siapa yang tengah mendengkur keras.

“Siapapun, tolong bangunkan dia!” perintah Anna panik. Aku hanya tak habis fikir bagaimana bisa dia tertidur disaat-saat genting menuju stage begini.

Perlahan stage mulai naik. Gugup tentu saja dirasakan. Tapi siapa peduli karena sebentar lagi aku akan terbiasa dengan ini semua.
Awalnya para penggemar berteriak mendengar intro lagu. Tapi mendadak melongo karena yang muncul bukanlah Bangtan Boys. Sedikit aneh mungkin karena lagunya berubah sedikit. Tapi akhirnya mereka ikut bernyanyi bersama. Jadi, apakah mereka sudah mulai menerima kami sebagai public figure?
Tarian dan lagu kami sudah memasuki akhir, Namjoon bernama panggung Rapmonster itu dengan gagahnya memperintahkan lewat earphone, “Ladies, siap-siap lagu kedua kalian. Danger!” sahutnya. Kami siap mengambil posisi dan intro lagu langsung berganti.

Bergerak, kanan-kiri, maju-mundur, di atas panggung, kami mencoba melakukannya sebaik mungkin. Walaupun lelah, asa kami tak sia-sia pada akhirnya. Lagu berhenti, penggemar bertepuk tangan. Member Bangtan Boys mulai naik ke panggung dan berdiri tepat di belakang kami. Perlahan, kami membariskan diri menghadap penggemar. Membungkukkan badan bersama-sama dan dipimpin Anna.

Hana..dul..set,”

Annyeonghaseo Bangtanseonyondan Yeoja imnida,” sahut kami bersamaan. Mendadak penggemar hening. Mungkin terkejut karena mengganti nama ‘boys’nya disini.

Namjoon mengambil alih dan mulai menjelaskan. “Halo, ARMYs! Mungkin kalian terkejut dengan kedatangan 7 orang perempuan disini dan tiba-tiba men-cover dan me-re-make lagu kami, bukan?”

Namjoon berdeham sejenak.

“Kami akan memperkenalkan adik kami ini sebagai Bullet Proff Girls. Bedanya mereka adalah versi perempuannya. Tujuan kami membentuk mereka adalah untuk lebih mengeskpresikan perasaan ARMYs. Tentu karena kebanyakan ARMYs adalah perempuan, maka Bangtan Girls disini sangat akan memahami perasaan kalian atau bahkan mungkin mewakili kalian.” Jelasnya. Penggemar mulai riuh, ada yang berteriak, ada yang menyukainya, ada yang membenci. Pro dan kontra mulai terdengar.

“Kegiatan Bangtan Girls akan sama seperti kami. Seperti adik dan kakak, kami akan bersama-sama walaupun kami atau salah satunya memiliki jadwal. Kami berharap kalian semua bisa menerima adik kami sebagaimana kalian menerima kami.”

Acara pun dilanjutkan dengan perkenalan Bangtan Girls. Dari mulai Anna hingga sampai padaku. Beruntung acara sukses sampai akhir walaupun sedikit riuh.

Showcase Bangtan Girls yang bersamaan dengan mini concert Bangtan Boys akhirnya selesai. Ketika di backstage, Jungkook mulai mendekatiku. Lagi-lagi sikapnya berubah drastis kembali normal. “Apa kau gugup tadi?” tanyanya. Stylish eonni yang tengah merapikan make upku menatap Jungkook sebentar, lalu fokus lagi. Aku menggeleng sebagai jawaban.

Jungkook kemudian mengerutkan dahinya, “Sayang sekali, padahal aku mengharapkanmu gugup.”

Sejurus kemudian ke-6 member Bangtan Girls berpelukan, menangis bahagia. Sementara aku hanya berdiri seperti orang bodoh menatap mereka. Untungnya Anna menarikku ke dalam pelukan. Walaupun awalnya aku bingung tapi akhirnya ikut menangis juga. Bahagia sekaligus terharu, akhirnya bisa debut bersama.

Ketika semua sudah tenang, Jungkook tiba-tiba memelukku. Erat seolah tak ingin dilepas. “Sukses, Rina.” Bisiknya di balik telingaku, singkat namun berarti.
Sudah lama sekali Jungkook tak memelukku seperti ini. Pernah sekali saat itu ketika aku dinyatakan lulus ujian masuk SOPA, dia memelukku serupa. Jujur saja, ketika pertama kali datang ke gedung agensi, hanya Jungkook yang mau menemani dan mengantarkanku ke kamar asrama. How friendly he is, wajar begitu banyak penggemar wanita disana yang mengaguminya.

“Semua siap-siap lagi. Hitouch kalian akan segera dimulai!” Perintah coordi. Sigap, cepat, ekstra gesit. Benar kata Seok Jin, menjadi artis apalagi di hari debut tak semudah kedengarannya.

Aku berbaris mengambil posisi disebelah Jungkook, mengikuti member Bangtan Girls yang lain―berdiri di samping sunbaenya. Satu-persatu, penggemar mulai memasuki garis barisan hitouch. Bersalaman dengan para member. Ada yang tersenyum, ada yang sedikit sinis, bahkan ada yang ketus, ekspresi mereka serba ada. Baru ketika sampai pada Hana yang berdiri setelah Jimin, seorang wanita menarik rambut Hana.

“JANGAN DEKAT-DEKAT DENGAN JIMIN-KU! JIJIK AKU MELIHATNYA!!” Teriaknya tak kuasa. Membuat semua member Bangtan terkejut dan mencoba menenangkan wanita ini.

Akh…, iya maafkan aku, tolong lepaskan rambutku,” pinta Hana meringis kesakitan memegangi rambutnya.

Barisan hitouch pun terpotong dengan kedatangan petugas keamanan yang mengamankan. Wanita itu langsung diurusi oleh petugas.

“Lepaskan dia, nona!” pinta petugas.

Noona, tolong lepaskan Hana. Kumohon!” pinta Jimin sambil mencoba melepaskan tangan yang masih menarik-narik rambut Hana. Alih-alih melepas rambut Hana, wanita itu malah berteriak sejadi-jadinya sambil mengacungkan telunjuk pada member Bangtan Girls.

“AKU TAK MENYUKAI KAU DAN KE-6 TEMAN PEREMPUAN GENITMU ITU UNTUK MENDEKATI MEMBER BANGTAN BOYS!!!!”

Wanita jalang ini mengganggu saja,’ batinku kesal sambil mengepalkan tangan. Entah inisiatif darimana, aku mendekati wanita itu dan langsung menamparnya tanpa permisi.

PLAK!!

TO BE CONTINUED

AUTHOR’s NOTE

Hallo, sorry for late updates. Kami berdua ngebut nyelesain ini biar nyantai hehe. Next time bakal diusahain fast update. Mind to review or likes, maybe? Thanks readers!><

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Survive to be an Idol (Chapter 2)

    1. Haluu, makasih udah mampir ><
      Kalau disini kelamaan nunggu update bisa mampir ke lapak saya ya hehe, di sana udah chapter 3. Hari Sabtu saya mau update chapter 4 nya anyway /spoiler wkwkkw. MAKASIH BANYAK LOOOOH❤️‍❤️‍❤️‍

      Like

  1. Next juga akhirnya , aduh itu ngapa si rina nampar org nnt image artis nya jd buruk dong , malah baru debut lg , haduhhh
    itu jungkook cemburu yaa sma jin tor ??
    next deh thor pokok nya , hwaiting thor 🙂 🙂 🙂

    Liked by 1 person

      1. Anyway saya ngga tau loh ini komen mendadak ilang 😦
        Kalau dirasa kamu lama nunggu updatean dari sini, mampir aja ke lapak saya hihi. Di sana udah chapter 3. Hari Sabtu saya mau update chapter 4 nya anyway /spoiler wkwkkw

        Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s