[BTS FF FREELANCE] Trapped in a Marriage – (Chapter 15)

14

Title

Trapped in a Marriage

Author

Yoohwanhee

Main Cast

Jeon Jungkook [BTS] 

Jung Hyerin [OC]

Kim Taehyung [BTS]

Ryu Sujeong [Lovelyz]

Genre

Romance, Marriage-Life, Sad, AU!, Conflic, School-Life

Length

Chaptered

Rating

PG-17

Summary

Resiko dalam sebuah pernikahan adalah: Masalahmu, masalahku juga. Itu karena kita harus melengkapi satu sama lain, jangan biarkan sesuatu tersembunyi diantara kita. Kalaupun ada yang kau sembunyikan, izinkan aku untuk mengetahuinya. 

Disclaimer

BTS dan cast lainnya milik orangtua, agensi, dan Army, kecuali OC adalah milik author. Cerita murni hasil pemikiran author, so DO NOT PLAGIATOR. Jika ada kesamaan plot, tokoh, judul, dll adalah ketidak sengajaan.

SORRY FOR TYPO and HAPPY READING

Note: Cast dan rating bisa berubah disetiap chapternya.

Chapter sebelumnya:

Terdengar suara kekehan kecil dari seberang sana “Aku lebih merindukanmu. Cepatlah datang, aku akan menunggumu dirumah. Kami sudah menyiapkan makan malam yang spesial untukmu.”

Jungkook kembali tersenyum lebar “Ne, tuan putri. Memangnya masakan ap-“

BRUKK!

Mobil itu terdorong jauh dengan mobil silver yang barusan menabraknya dari samping, membuat mobil sport hitam itu terbentur di pembatas jalan dan hampir terjatuh di sungai disebelahnya. Dahi lelaki itu terbentur keras di stir mobil dan kaca di sampingnya. Sementara ponselnya yang tadi masih terhubung dengan Hyerin itu kini sudah tergilas oleh roda mobil silver yang tadi menabraknya.

Kedua kelopak mata lelaki itu terbuka pelan. Jeon Jungkook masih sadar walaupun hanya bisa menggerakkan kedua kelopak matanya saja. Lelaki itu sangat lemah. Banyak darah yang kini keluar dari kepalanya dan mengucur dengan derasnya. Dengan tenaga yang masih tersisa, lelaki itu bergumam pelan dengan suara yang melemah “H-hyerin…”

Dan, mata Jungkook tertutup rapat setelahnya. Menandakan bahwa ia sudah tidak sadarkan diri lagi—

—atau mungkin… Mati?

//Trapped in a Marriage//

-Tolong, bernafaslah demi diriku (1)-

//Trapped in a Marriage//

Presdir Jeon keluar dari mobil dan segera berlari masuk ke dalam rumah sakit. Tadi dirinya ditelepon oleh pihak rumah sakit dan mengatakan bahwa anaknya, Jungkook, mengalami kecelakaan dan kini berada di rumah sakit Hanguk. Langsung saja beliau menghentikan meeting nya dengan para pengusaha lain dan segera menuju ke rumah sakit. Mencari-cari tempat dimana anaknya berada. Tungkai itu kadang berhenti sejenak untuk sekedar bertanya pada perawat yang lewat mengenai keberadaan anak sulungnya, Jeon Jungkook.

Annyeonghaseyo, Presdir Jeon. Anak Anda di sebelah sana.” Ucap perawat itu sembari menunjuk kearah kanan. Presdir Jeon lalu segera bergerak menuju tempat yang ditunjuk oleh perawat itu setelah mengucapkan terima kasih pada sang perawat.

Kini, dirinya telah menginjakkan kakinya di UGD, tempat yang ditunjuk oleh perawat tadi. Diantara banyak ranjang yang ada di ruang UGD itu, yang ditatapnya hanya satu, yang berada paling ujung dan sedang dikelilingi oleh para dokter itu.

Dapat dilihatnya kepala sang anak diperban oleh dokter itu. Sementara dokter yang lainnya memeriksa detak jantungnya, ada pula yang memeriksa badannya untuk melihat luka-luka yang ada pada lelaki itu.

“Dimana walinya?! Kita harus cepat memberitahu-“

“Disini!”

Sontak semua dokter yang tadinya sibuk dengan pasiennya itu kini mengarahkan pandangannya pada Presdir Jeon yang baru saja bersuara. Beliau lalu segera berjalan menghampiri para dokter itu. “Saya ayahnya.” Serunya. Sesekali matanya melirik keadaan sang anak yang terbaring di atas ranjang putih itu.

Salah satu dokter dengan nametag ‘Lee Jonghyun’ itu lalu berjalan mendekati Presdir Jeon. Sebelum berbicara, ia menunduk perlahan. Wajar saja, semua orang tahu siapa itu Presdir Jeon, seorang presdir perusahaan terbesar di Korea yang selalu merakyat dan memberikan bantuan pada masyarakat dengan sukarela. Salah satunya Rumah Sakit Hanguk ini. Mereka mendapatkan bantuan besar dari BlueSaphire Company karena itulah Presdir Jeon sangat dihormati disini.

Annyeonghaseyo, Presdir Jeon.” Sapa dokter Lee seraya menunduk.

“Anakku baik-baik saja, ‘kan?” Tanya Presdir Jeon dengan wajah khawatir. Dokter Lee berdeham pelan lalu menjelaskan mengenai kondisi Jungkook “Anak Anda memiliki kerusakan besar diotaknya, beberapa pembuluh darah pecah di sekitar otaknya. Kami telah mengoperasinya namun itu hanyalah operasi kecil yang dilaksanakan untuk menghentikan pendarahan diotaknya.”

Dokter Lee berhenti sejenak lalu bertanya “Tapi, Presdir, apa anak Anda pernah mengalami kerusakan di otaknya? Atau kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan?”

Mendengar itu, Presdir Jeon mengangguk “Ya, saat ini dia masih dalam masa pemulihan ingatannya.”

Sontak Dokter Lee menjentikkan jarinya begitu mendapat jawaban dari Presdir Jeon. Kemudian pria itu kembali melanjutkan penjelasannya tadi “Otak anak Anda telah rusak sebelumnya dan masih dalam masa penyembuhan. Karena itulah kami mengkhawatirkan kesembuhan otaknya. Walaupun melakukan operasi besar, namun tetap saja tidak akan ada gunanya. Ia masih belum pulih sebelumnya sementara kerusakan kembali terjadi pada bagian sekitar otaknya. Yang kami takutkan adalah saat dimana secara tiba-tiba ia mengidap penyakit gangguan otak. Karena tanda-tandanya memang tidak terlalu jelas jika ia akan mengidap penyakit gangguan otak atau tidak.”

Presdir Jeon menekuk alisnya. Ia harus bagaimana? Ia tidak mau jika Jungkook keluar dari ruang operasi dengan semua ingatan yang sudah terhapus. Beliau punya begitu banyak kenangan dengan anak sulungnya itu dan tentu saja ia tidak akan membiarkan Jungkook melupakan semua kenangan itu.

“Apa… tidak ada cara lain?”

***

Mobil itu kini berhenti di depan rumah sakit Hanguk. Seorang gadis dengan dress putih selutut itu langsung menghambur turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Sementara seorang lelaki yang berada di jok pengemudi itu juga ikut turun lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit.

Gadis itu, Hyerin, terlihat terburu-buru. Tidak peduli lagi dengan kakaknya, Hoseok yang mengejarnya di belakang dan memanggil-manggil namanya untuk sekedar memperingati agar gadis itu berhati-hati. Namun gadis itu seolah tidak mendengar suara lantang kakaknya itu yang sudah menggema disetiap sudut lobby rumah sakit itu. Yang ada dipikirannya sekarang hanya satu.

Jeon Jungkook.

Begitu mendapat pesan dari Heera mengenai apa yang terjadi pada Jungkook, Hyerin langsung menelepon sang kakak untuk mengantarnya ke RS Hanguk. Ia begitu terkejut setengah mati sampai-sampai tidak berpikir dengan jernih sebelumnya. Bayangkan saja bagaimana kagetnya Hyerin begitu mengetahui orang yang barusan berbicara di telepon dengannya dengan keadaan baik-baik saja kini sudah berada di rumah sakit.

Tungkai gadis itu tetap tidak berhenti walaupun tahu ada banyak orang yang berdiri di depan lift. Ia pun menuju ke tangga darurat, naik ke lantai empat. Sementara Hoseok yang berada jauh di belakangnya terhenti dan tengah mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal itu, tidak berniat untuk mengejar sang adik lagi.

Tap tap tap tap…

Gadis itu baru berhenti melangkah naik ke anak tangga begitu menyadari bahwa dirinya sudah berada di lantai empat. Ia lalu segera berjalan keluar dari pintu tangga darurat itu da melangkah mencari kamar yang ditempati Jungkook karena tadi sebelum datang kesini ia mendapat kabar bahwa Jungkook telah dipindahkan di bangsal VIP dengan nomor kamar 3042.

Gadis itu kini tidak peduli dengan keringat yang bercucuran dari dahinya, nafas yang tersenggal-senggal, serta terusan putih yang digunakannya yang sudah agak kusut itu. Ia hanya ingin melihat Jungkook secepatnya dan menghambur memeluk lelaki itu. Karena tujuannya datang kesini hanyalah untuk memastikan Jungkook baik-baik saja.

Namun begitu gadis itu berdiri tepat di depan kamar bernomor 3042 dengan nama ‘Jeon Jungkook’ di bawahnya itu, Hyerin hanya bisa diam mematung. Netranya menangkap sesuatu dari balik kaca kecil yang ada di pintu itu. Tangannya bergetar perlahan, begitu pula bibirnya. Berusaha melawan rasa takutnya. Ia takut begitu ia masuk dirinya akan mendengar sesuatu yang akan membuatnya menangis.

Tangan itu dikepal kuat. Keberanian kini lebih mendominasi diri gadis itu. Ia pun menggeser pelan kamar itu dan masuk ke dalam.

Tidak ada yang spesial disana. Yang ada hanyalah keheningan yang sangat.

Dapat dilihatnya Heera duduk di atas sofa dan memandangnya “Oh, eonni…” lirihnya dengan seulas senyum getir di wajahnya. Hyerin tidak membalas dan hanya terus menatap sosok lelaki yang kini terbaring lemah di atas ranjang putih yang agak besar itu.

Itu Jungkook! Sedang tertidur pulas dengan perban dikepala serta lengannya.

Tes…

Air mata gadis itu mengucur begitu saja. Ia tadinya tidak ingin menangis namun apa daya, ia tidak bisa membendung kesedihannya begitu melihat sosok yang dicintainya itu terbaring lemah dengan keadaan yang sudah tidak bisa dideskripsikan itu membuatnya ingin menangis.

Dengan gontai, gadis itu berjalan menghampiri ranjang yang ditempati Jungkook. Menatap lamat-lamat wajah lelaki itu yang penuh luka di sekitarnya. Air mata gadis itu pun kembali mengalir.

Tangan Hyerin kini bergerak untuk meraih tangan Jungkook yang tergeletak di atas kasur ranjang itu. Menggenggamnya erat seolah-olah tidak akan pernah melepaskan genggaman itu lagi.

Setitik air mata kembali jatuh membasahi pipi Hyerin. Gadis itu menangis. Menangis melihat keadaan Jungkook yang seperti ini. “Dasar lemah! Tertabrak sedikit saja harus diperban seperti ini. Kau itu Jeon Jungkook! Orang terkuat yang ku kenal tapi kenapa jadi begini?” lirih Hyerin dengan bibir bergetar serta air mata yang kini semakin mengucur deras.

Hyerin menggenggam tangan itu erat tepat di depan wajahnya. Ia menunduk, membiarkan rambutnya menjadi penghalang air mata kesedihannya.

“Bangunlah, bodoh! Bangun! Tidak seharusnya kau disini!” ujar Hyerin lagi, kali ini dengan suara lebih tinggi, membuat Heera yang tadinya hanya memandangi gadis itu kini berjalan menghampirinya dan merangkul bahu Hyerin. “Eonni, tenanglah!” pinta nya. Hyerin hanya diam dan menatap Jungkook dengan mata sayu, sementara kedua pipinya sudah basah karena air mata Hyerin yang tak kunjung berhenti mengalir.

SREET!

Heera yang tadinya sedang menenangkan Hyerin kini menoleh ke belakang begitu mendengar suara pintu tergeser. Taehyung, Jin, Yoongi dan Sujeong kini berdiri di ambang pintu, memandangi Jungkook dengan tatapan cemas. Wajah mereka menyiratkan kesedihan yang sangat begitu melihat Jungkook dengan perban yang begitu banyak di badannya. Kemudian satu persatu dari mereka masuk ke dalam ruangan dan berjalan kearah ranjang yang ditempati Jungkook.

“A-ada apa ini? Kenapa Jeon Jungkook bisa ada disini?” Ucap Jin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Teman yang selama ini tidak menghormatinya sebagai hyung itu kini sedang terbaring di atas ranjang putih dengan perban di kepala serta lengannya. Ia tidak percaya bahwa Jeon Jungkook yang dulunya tangguh dan gigih itu bisa terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ia hanya bisa menatap Hyerin dengan tatapan tanda tanya, mengharapkan jawaban dari gadis yang sedang menangis itu.

Ya, Jeon Jungkook! Jangan berpura-pura sakit dan bangunlah! Kami tahu kau itu kuat dan tidak selemah ini!” Jin menatap Jungkook lamat-lamat sembari berbicara dengan Jungkook yang sedang tertidur. Taehyung dan Yoongi yang berada di belakang Jin hanya bisa menunduk sedih. Mereka tahu bahwa Jungkook tidak mati dan masih dalam kondisi tidak sadar tapi kenapa terasa sangat sedih begitu melihat wajah teduh lelaki itu?

Mata lelaki yang bernama Kim Seokjin itu mulai berkaca. Cairan bening mulai memenuhi pelupuk matanya melihat temannya yang dikelilingi oleh selang infus itu. Kilas balik kini terputar indah dipikirannya.

Sejak masuk di Elioxe, mereka berempat selalu bersama. Jungkook, Jin, Yoongi, dan Taehyung. Selalu bersama setiap waktu dan menjalani hari-hari bersama. Walaupun mereka pernah berada di jalan hidup yang sesat. Merokok, bermain di klub, minum alkohol. Menganggap semua itu adalah kesenangan dan bahkan hobi bagi mereka. Namun setelah mereka sadari, ternyata semua itu hanyalah kesenangan dunia semata. Kesenangan yang sebenarnya adalah waktu disaat mereka bersama. Menikmati waktu disaat keempat manusia itu tertawa bersama, itu adalah kesenangan yang tak tertandingi di dunia manapun.

Mereka berempat saling mengenal satu sama lain. Bahkan mungkin tidak ada sifat atau kebiasaan Jungkook yang tidak diketahui Taehyung, Yoongi, maupun Jin. Mulai dari kebiasaan baik sampai buruk. Sungguh, semua itu sama sekali tidak membuat mereka keberatan, bahkan mereka mengerti dengan semua kebiasaan buruk dan baik lelaki itu.

Dia tidak mati ataupun koma. Tapi mengapa mereka merasa sangat kehilangan walaupun hanya melihat teman seperjuangan mereka itu terbaring lemah seperti ini?

“Dia akan bangun.” Ucap Yoongi seraya menepuk pelan bahu Jin, mencoba meyakinkan pada temannya itu bahwa Jungkook baik-baik saja.

Sujeong yang berada di samping Hyerin itu kini hanya bisa menatap sedih wajah orang yang dulu sempat menjadi orang yang membuat hari-hari Sujeong lebih cerah dari biasanya itu. Sujeong akui bahwa Jungkook adalah orang pertama yang bisa membuat dirinya rajin pergi ke sekolah pagi-pagi tanpa mengkhawatirkan sarapan paginya.

Ia merasa Jeon Jungkook adalah orang yang sangat berharga baginya. Orang yang bisa mengubah kebiasaan buruknya menjadi lebih baik.

Karena itulah ia merasa sedih saat mengetahui bahwa Jungkook kecelakaan dan harus menderita seperti ini. Siapa yang tidak sedih saat melihat orang yang sangat berharga baginya kini terbaring lemah di atas ranjang tanpa kepastian apa dia bisa sembuh atau tidak?

SREET!

Pintu kembali terbuka, menampakkan sosok Presdir Jeon serta istrinya disana, ditambah dengan Hoseok yang terlihat terengah-engah di belakang mereka. Tidak ada sama sekali dari keenam orang itu yang mengalihkan pandangannya dari sosok lelaki yang sedang berbaring lemah itu

Disaat Nyonya Jeon berjalan menghampiri mereka, baru itulah keenam manusia itu sadar bahwa Nyonya Jeon telah berada di dalam ruangan itu. Sebagian dari mereka—yang tidak menangis— menunduk perlahan pada Nyonya Jeon.

“Apa yang perlu kalian tangisi? Dia baik-baik saja” ucap Nyonya Jeon seraya meraih pundak Hyerin yang disebelahnya sedang menangis itu.

“Dia hanya perlu operasi dan selesai. Semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak sakit sama sekali.” Ujar Presdir Jeon dengan kedua netranya yang menatap wajah teduh sang anak yang sedang tertidur. Sementara mereka yang mendengar ucapan beliau hanya diam dan mengangguk pelan.

Beliau tau Jungkook adalah anak yang kuat. Walaupun dirinya pernah merasa bersalah karena telah menjadikannya sebagai anak haram, anak yang seharusnya tidak dilahirkan di dunia ini. Namun dengan lahirnya seorang Jeon Jungkook, beliau merasa hidupnya jadi lebih berwarna. Banyak kenangan yang dibuatnya bersama anaknya itu. Banyak pengetahuan yang disalurkannya pada anak sulungnya itu.

Dirinya begitu menyayangi Jungkook, sama seperti dirinya menyayangi Heera.

Sesungguhnya ia juga menyayangi Heera. Beliau hanya tidak mau Heera merasa bahwa beliau lebih memberikan perhatian lebih pada Jungkook. Beliau memilih Jungkook untuk dijadikan sebagai pewaris perusahaannya, namun Heera juga memiliki sedikit bagian didalamnya. Tapi Heera tidak akan memiliki perusahaan itu, hanya Jungkook yang akan memegang perusahaan itu.Karena menurut Presdir Jeon sendiri, laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang berbeda.

Dan Heera pun mengerti. Ia sama sekali tidak membangkang perkataan ayahnya itu. Ia pun memilih untuk belajar di luar negeri. Tujuannya sebenarnya untuk belajar seni, namun tiba-tiba ia ditawari jadi penulis majalah terkenal di Boston. Namun tentu saja dia masih terus menjalani pendidikannya di sekolah seni. Gadis berumur enam belas tahun sepertinya masih punya banyak mimpi yang harus dicapai. Ada banyak harapan yang singgah didalam hatinya jika kelak dia beranjak dewasa nanti.

Namun untuk sekarang, harapannya hanya satu…

Semoga kakaknya itu bisa membuka kembali matanya dengan keadaan yang baik-baik saja.

***

Ruangan itu gelap. Tidak, hampir gelap. Dengan satu penerangan di tengah-tengah ruangan, lebih tepatnya di atas meja kayu berbentuk persegi itu. Terdapat beberapa kertas di atas meja tersebut, tak lupa sebuah laptop hitam juga terletak di sana.

Di satu sisi meja, seorang pria dengan jas hitam tampak sedang memeriksa sesuatu disebuah kertas. Sementara di sisi lainnya terdapat seorang lelaki dengan baju seragam sekolah Elioxe. Sebuah nametag tertulis ‘Kim Hanbin’ tertera disana. Lelaki itu terlihat sedang termenung dengan sebuah borgol yang terpasang di pergelangan tangannya. Kedua bola matanya menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.

Beberapa detik berlalu dengan keheningan sampai akhirnya sang pria berjas hitam bersuara, lebih tepatnya bertanya pada Hanbin “Nama?”

Hanbin diam. Tidak berniat menjawab pertanyaan pria itu.

Sang pria pun menghela nafas kasar lalu menengok melihat nametag yang digunakan Hanbin pada seragam sekolahnya. “Kim Hanbin…” gumamnya pelan seraya mengetikkan sesuatu dilaptopnya. Sementara Hanbin masih diam dengan pandangan kosong.

Lalu, sebuah pertanyaan kembali menerobos pendengaran remaja itu.

“Apa kau menabrak mobil itu dengan sengaja?”

“Ada masalah apa kau dengan korban?”

“Jawab!!”

“Kenapa kau ingin sekali membunuh korban?” Suara pria itu menaik, menandakan bahwa ia mulai marah sekarang. Sementara Hanbin masih terus diam dan menatap kosong didepannya.

Kesabaran pria itu sudah habis. Ia pun berdiri dengan menghentakkan kedua tangannya di atas meja dan berteriak frustasi “Aish, dasar brengsek! Katakan sesuatu! Apa kau pikir diam saja akan menyelesaikan semuanya, hah?! Pekerjaanku ini tidak mudah dan kau-”

“Tolong…”

Sontak pria itu terdiam dan menoleh pada Hanbin dengan tatapan tajamnya. Hanbin yang ditatapnya hanya menjulurkan kedua tangannya kearah sang pria berjas hitam itu.

“Masukkan aku ke dalam penjara!” Pinta lelaki itu, membuat pria yang di hadapannya mengerutkan alisnya bingung.

Aku… ingin mengakhiri perbuatan keji ini.

***

Malam hari itu, Hyerin serta teman-temannya, Sujeong, Taehyung, Jin dan Yoongi masih berada di rumah sakit. Seolah-olah mereka tidak rela untuk membiarkan Jungkook sendiri di kamarnya. Tentu saja di sana ada yang menjaga Jungkook. Ada Heera serta Nyonya Jeon disana. Sementara Presdir Jeon sedang mengurus semua persiapan yang diperlukan untuk keberangkatan mereka ke Amerika Serikat besok.

Keadaan di dalam ruangan itu hening. Ditambah dengan dinginnya pendingin ruangan yang ada di sana. Di antara manusia-manusia itu, mereka hanya duduk tercenung tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Wajah mereka menyiratkan kesedihan. Kesedihan karena mereka harus mengatakan selamat tinggal untuk Jungkook karena lelaki itu akan meninggalkan mereka besok.

Nyonya Jeon menggeser pintu ruangan itu. Semua orang lalu menolehkan kepala mereka ke arah pintu dan mendapati Nyonya Jeon yang sudah berjalan masuk dengan sepiring buah-buahan.

“Kalian bisa makan dulu. Sudah empat jam kalian berada disini dan tidak makan apa-apa.” Tawar Nyonya Jeon seraya meletakkan piring berisi buah-buahan itu. Ia lalu mengambil botol dari kulkas kecil yang ada di sudut kamar itu. Setelahnya ia menyajikan botol yang berisi jus jambu itu tepat disamping piring buah-buahan tadi. “Maaf aku hanya menyajikan buah-buahan pada kalian. Makanan lainnya belum dibawakan suamiku.” Ucap Nyonya Jeon.

Mereka hanya tersenyum tipis dan membungkuk pelan pada Nyonya Jeon “Gwaenchanhayo.”. Mereka lalu segera melahap apa yang disajikan Nyonya Jeon itu.

Terkecuali Hyerin. Gadis itu tetap diam termenung. Menatap kosong apa yang didepannya tanpa peduli dengan suara garpu yang memenuhi seisi ruangan itu.

Sedaritadi yang dilakukannya hanya duduk diam diatas sofa itu dan memikirkan sesuatu, yang tentu saja berkaitan dengan lelaki yang kini sedang terbaring dengan selang infus di tangannya itu.

Ya, yang ia pikirkan sedaritadi hanyalah Jungkook. Maksudnya, sudah empat jam berlalu dan lelaki itu masih belum siuman. Sebenarnya ada apa dengannya? Entahlah. Hyerin tidak tahu itu normal atau tidak tapi menurutnya ini aneh. Sangat aneh. Atau mungkin perasaannya saja?

“Hey.”

Teguran Sujeong sukses membuat gadis itu tersadar dari lamunan panjangnya. Hyerin pun melemparkan tatapan tanda tanya pada Sujeong “Ada apa?”. Lalu Sujeong menunjuk buah-buahan yang ada di atas meja dengan dagunya, mengisyaratkan pada Hyerin untuk memakan sedikit buah-buahan itu.

Hyerin hanya menggeleng pelan lalu bertanya “Oh iya, bagaimana dengan Hanbin?”

Sujeong yang tadi sedang mengunyah buah apel itu lalu menjawab “Dia ditahan di Tahanan Remaja selama setahun lebih mengingat apa yang dilakukannya itu adalah kejahatan yang cukup besar untuk seorang pelajar sepertinya.” Jelas Sujeong sambil memasukkan potongan buah apel itu ke dalam mulutnya. Hyerin lalu mengangguk pelan mendengar penjelasan temannya.

“Apa kau benar-benar tidak mau makan? Kau belum makan sejak tadi.” Ujar Sujeong seraya menunjuk buah-buahan yang ada di atas meja itu. Mendengar itu, Hyerin hanya menggeleng dan segera beranjak dari duduknya “Aku ingin keluar sebentar, ingin mencari udara segar.” Kata gadis itu dengan nada datar lalu berjalan keluar dari kamar itu. Sementara Sujeong yang ditinggalkannya hanya bisa menatap kepergian temannya dengan tatapan bingung.

“Jungkook-ah!”

Hyerin yang tadinya baru menggeser pintu kamar itu tiba-tiba berhenti melangkah begitu dirinya mendengar suara wanita paruh baya memanggil nama Jungkook. Lalu setelahnya terdengar suara ribut-ribut dari belakangnya.

“Kau sudah sadar!”

“Syukurlah.”

“Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Hyerin tertegun. Ia ingin sekali berbalik dan menatap lelaki itu, lalu menghambur memeluknya dan mengatakan bahwa ia begitu mengkhawatirkannya. Namun ia terlalu takut. Takut jika air matanya jatuh begitu ia melihat netra lelaki itu memandangnya lembut. Ia sama sekali tidak ingin Jungkook melihat air matanya. Sekalipun itu air mata bahagia.

Tungkai itu serasa membeku. Gadis itu tidak bisa melangkah keluar ataupun berbalik. Sementara suara ribut-ribut dari dalam kamar itu semakin terdengar. Menyadari itu, Hyerin pun mencoba melangkah keluar dari ambang pintu itu meskipun setengah dari hatinya menginginkannya untuk berada bersama yang lainnya di dalam.

“Hyerin-ah!”

Deg!

Jungkook memanggilnya!

Suara serak itu benar-benar jelas memasuki indera pendengaran Hyerin. Ia tidak bisa berkutik. Ia benar-benar merindukan suara itu. Suara dari sosok lelaki yang dicintainya, Jeon Jungkook.

Dengan langkah berat, gadis itu mencoba untuk berbalik lalu melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan setengah merunduk.

Heera yang menyadari situasi itupun segera membisikkan sesuatu pada ibunya, Nyonya Jeon. Lalu beberapa detik kemudian Nyonya Jeon mengulas sebuah senyum tipis dan segera mengisyaratkan pada yang lainnya untuk keluar sebentar. “Kalian bicaralah.” Ucap Nyonya Jeon pada Hyerin dan Jungkook. Lalu beberapa detik kemudian beliau berbalik dan mengarahkan yang lainnya untuk keluar dari ruangan.

Sreet!

Pintu pun tergeser, menutup rapat begitu mereka telah keluar dari ruangan itu. Kini yang ada hanyalah dentingan jarum jam serta suara dari mesin kecil di samping ranjang Jungkook.

Lelaki itu hanya menatap Hyerin lamat-lamat, sementara gadis yang ditatapnya hanya diam. Sesungguhnya Hyerin sedang menahan tangisnya sekarang. Ingin sekali ia menangis dan memukul Jungkook karena telah membuatnya khawatir. Pelupuk mata gadis itu sudah penuh. Dipenuhi oleh cairan bening yang sebentar lagi akan jatuh itu.

Keadaan beberapa detik itu sangat hening. Sampai akhirnya Jungkook menghela nafasnya lalu tersenyum tipis dan berucap “Aku buat masalah, ya?”

Tes

Pertahanan Hyerin lepas sudah. Gadis itu menitikkan air mata begitu mendengar suara serak itu. Entah kenapa hanya mendengar suara Jungkook membuat Hyerin ingin menangis sekarang juga. Sangat menyakitkan baginya untuk melihat wajah Jungkook yang polos namun pucat itu. Terlihat jelas bahwa lelaki itu sedang menahan sakit saat ia berbicara tadi.

Hyerin tidak boleh begini. Ia tidak boleh menangis di hadapan Jungkook. Jung Hyerin, sadarlah! Gadis cantik sepertimu akan terlihat jelek saat menangis! Kau mau terlihat jelek di hadapan orang yang kau cintai ini, eoh?, batin gadis itu. Tangannya lalu bergerak untuk mengusap bagian bawah matanya tanpa merespon perkataan Jungkook tadi.

Dan tentu saja Jungkook melihat itu semua. Ia melihat gadis itu menitikkan air matanya tadi. Sungguh, ia merasa sedikit sakit sekaligus bersalah begitu melihat Hyerin meneteskan air mata seperti itu dihadapannya. Tersirat jelas diwajah gadis itu bahwa ia begitu mengkhawatirkan keadaan Jungkook. Dan sekali lagi, ia merasa bersalah.

Seet!

Tangan kiri yang tertancap jarum infus itu bergerak ke atas. Meraih bahu Hyerin dan menariknya kedalam pelukan hangat dari seorang Jeon Jungkook. Sontak saat itu juga, Hyerin meneteskan air matanya lagi, lalu terisak pelan. Ia tidak bisa menyembunyikan tangisan itu lagi. Akhirnya ia pun menangis dipundak Jungkook.

Jungkook mengelus pelan surai panjang milik gadisnya itu dengan lembut. Seolah-olah ingin menyalurkan seluruh kasih sayangnya melalui elusan lembut itu. Sesekali Jungkook mencium puncuk kepala gadis itu “Maaf… Maafkan aku.”

Hyerin yang menangis pelan dipundak Jungkook itu lalu berucap “Kenapa kau harus disini, bodoh?! Kau seharusnya berada di rumah sekarang, bukan disini.” Isak Hyerin. Gadis itu masih tidak bisa berhenti menangis sementara Jungkook yang mendengar tangisan gadis itu hanya bisa mencoba menenangkannya “Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Bisiknya pelan lalu kembali mengelus lembut rambut Hyerin dan mencium pucuk kepalanya.

Lalu kemudian Jungkook melepaskan pelukan itu. Ia menatap Hyerin lekat lalu tersenyum tipis seraya menghapus sisa air mata di ujung mata gadis itu “Jangan menangis dan tersenyumlah. Bukankah kau senang bahwa aku sudah berada dihadapanmu sekarang dan menatapmu seperti ini? Kenapa kau malah menangis?” desisnya seraya tersenyum dan menggenggam erat kedua tangan Hyerin. Sontak saat itu juga Hyerin berhenti menangis. Tidak, lebih tepatnya menahan tangisannya lagi.

Namun, tiba-tiba Hyerin mengerutkan alisnya begitu menyadari bahwa senyuman di wajah lelaki itu hilang seketika dan tergantikan dengan wajah yang terlihat bingung. Saat itu juga genggaman Jungkook yang hangat itu terlepas.

Ingin sekali Hyerin bertanya ada apa, namun suara Jungkook mendahuluinya.

“Kau… siapa?”

Deg!

Hyerin menekuk alisnya tidak mengerti. Pertanyaan Jungkook yang disertai dengan nada bicara yang terkesan dingin itu membuatnya diam membeku. Kenapa Jungkook? Ada apa dengannya sampai-sampai ia tidak mengenali Hyerin secara tiba-tiba begitu?

Hyerin mencoba untuk meraih tangan Jungkook dan berbicara “Ada ap-“

“J-jangan sentuh aku!” ujar lelaki itu lalu mundur, menghindar dari Hyerin yang mencoba meraih tangannya.

Mata Hyerin berkaca. Ada apa sebenarnya? Apa ingatan Jungkook hilang? Tidak mungkin jika ingatannya hilang tiba-tiba seperti tadi. Lalu sebenarnya situasi apa ini? Hyerin bingung. Melihat wajah Jungkook yang ketakutan begitu dirinya meraih tangan lelaki itu membuatnya ingin menangis. Sungguh, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Jungkook sekarang.

Dilihatnya Jungkook turun dari ranjang putih itu dengan tergesa-gesa. Tak peduli dengan selang infus yang tadinya tertancap ditangannya itu sudah putus dan menggantung di ranjangnya. Hyerin memanggilnya untuk tetap berada di tempat tidur namun lelaki itu hanya acuh dan berjalan gontai menuju luar ruangan dengan cepat.

Namun baru saja lelaki itu akan menggeser pintu, tiba-tiba dia merasakan pusing yang luar biasa.

Bruk!

Dan Jungkook pun ambruk. Pandangannya memudar, kemudian menghitam.

“Jeon Jungkook!!!”

***

Hyerin, Taehyung, Sujeong, serta Yoongi dan Jin terlihat duduk tercenung di depan sebuah ruangan yang barusan dimasuki oleh Presdir dan Nyonya Jeon. Wajah mereka menyiratkan kekhawatiran. Kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu membuat mereka takut. Jeon Jungkook yang tiba-tiba hilang ingatan dan tidak sadarkan diri begitu saja membuat mereka berpikir bahwa Jungkook memiliki penyakit yang sangat menakutkan.

SREET!

Pintu ruangan itu terbuka, menampakkan sosok Presdir Jeon dan istrinya. Air muka mereka terlihat khawatir. Lalu keduanya berjalan menghampiri teman-teman sang anak yang terlihat duduk tercenung di sana.

Menyadari bahwa Presdir dan Nyonya Jeon telah keluar dari ruangan. Mereka pun berdiri dengan wajah yang menantikan setiap kata per kata yang akan dikeluarkan oleh beliau.

“Jungkook… dia menderita alzheimer.”

Deg!

Semua terkejut. Beberapa dari mereka terduduk lemas dan menitikkan air mata.

“Cedera parah yang dialaminya di bagian kepala membuatnya mengidap penyakit ini. Gejalanya berkembang secara perlahan-lahan. Namun kemungkinan bahwa Jungkook mengidap penyakit ini hanyalah sembilan persen. Dia tidak sepenuhnya menderita Alzheimer.” Jelas presdir Jeon.

Nyonya Jeon yang sudah menitikkan air matanya sedaritadi lalu berucap “Kami akan membawanya ke Amerika Serikat.”

Hyerin terkejut. Tidak, semua yang ada di sana terkejut. Amerika? Jungkook akan dibawa ke luar negeri?

“Toh memang dari awal kami sudah berniat untuk membawa Jungkook ke Amerika. Dia memang harus dirawat disana.”

Semua terdiam. Hyerin yang mendengarnya hanya bisa diam membeku. Lalu perlahan air mata menetes dari pelupuk matanya. Jungkook baru saja kembali dan kini dia harus pergi lagi? Tidak bisakah Jungkook berada di sini? Hyerin sudah cukup tersiksa dengan perginya Jungkook dua minggu ini, dan jika kali ini Jungkook pergi, mau jadi apa dirinya? Dia bisa-bisa jadi gila! Dan itupun ditambah dengan ketidakpastian berapa lama Jungkook akan dirawat disana.

Gadis itu hanya bisa menangis dalam diam. Namun lama kelamaan ia tidak bisa menahannya. Lalu dengan tiba-tiba ia berlutut, menumpahkan semua tangisannya disana. Tanpa peduli suara teman-temannya yang menyuruhnya untuk tenang.

Hyerin benar-benar tidak sanggup untuk melihat kepergian Jungkook yang kedua kalinya.

“Jungkook…” isak Hyerin ditengah-tengah tangisan kerasnya itu. Lalu setelahnya pandangan gadis itu memudar. Kepalanya terasa pusing dan berat. Semua bagian dari tubuhnya melemas.

Dan…

Gadis itu pingsan seketika.

***

Keesokan harinya…

“Dimana Hyerin?”

Tanya Taehyung pada Sujeong yang duduk di jok sebelahnya, sementara kedua netranya terfokus pada jalan yang ada didepannya. Hari minggu ini Jungkook akan diberangkatkan ke Amerika Serikat dan mereka berniat untuk melihat wajahnya untuk yang terakhir kali. Mungkin Jungkook akan lama disana jadi mereka ingin menjenguknya dulu sebelum lelaki itu pergi.

Sujeong yang mendengar pertanyaan Taehyung tadi lalu segera bersuara “Hyerin tidak bisa pergi hari ini untuk mengantar Jungkook ke bandara.” Jawab Sujeong yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Mengetik pesan balasan pada Hyerin sebenarnya. Sementara Taehyung hanya mengerutkan alisnya mendengar jawaban Sujeong. “Kenapa? Apa dia sedang sakit? Atau mager?” sahut lelaki itu sembarang.

Mendengar itu, Sujeong pun memutar bola matanya “Ya, dasar tidak peka! Itu karena dia tidak mau menangis lagi seperti kemarin. Kau mau dia pingsan lagi seperti kemarin? Melihat Jungkook dalam keadaan seperti itu membuatnya sedih, bisa-bisa ia stres berat jika ia terus-terusan menangisi Jungkook.” Jelas Sujeong panjang lebar. Taehyung hanya mengerucutkan bibirnya dan menekuk alisnya “Toh Jungkook tidak mati, kenapa dia harus menangi-“

“Diam dan fokuslah ke jalan, sebelum aku memberi jitakan padamu.” Tukas Sujeong dengan nada suara dingin, membuat Taehyung tertawa dalam hati karena ia berhasil membuat Sujeong kesal dan itu sangat lucu baginya. Entahlah. Apa Taehyung yang sakit jiwa atau bagaimana, tapi begitu mendengar Sujeong mengomel dan mengancam seperti tadi, ia merasa bahwa semua itu menjadikan gadis itu terlihat imut. Ckck…

Lampu lalu lintas kini berada beberapa meter dari mobil mereka. Taehyung segera menekan pedal rem begitu melihat lampu lalu lintas itu menunjukkan warna merah yang mengharuskan mereka untuk berhenti sejenak. Dan seperti biasanya, ia bersandar dan menatap gadis yang duduk di sebelahnya itu.

Kemudian seulas senyum ditampakkannya “Ngomong-ngomong, kenapa kau pakai makeup hari ini?”

Deg!

Sujeong yang tadinya sedang sibuk men-stalk akun idolanya lewat ponselnya itu kini terdiam membeku. Astaga, apa sebegitu kentara makeup yang digunakannya? Padahal ia hanya menggunakan foundation dan ditambah dengan sedikit blush on dan lipstik berwarna natural. Ia sengaja menggunakan sedikit makeup agar bisa mendukung pakaian yang digunakannya hari ini, dress selutut berwarna biru muda dengan paduan warna putih di bagian bawah.

Oh hey, jangan berpikir ia ingin terlihat cantik di depan kekasih yang sekaligus tunangannya itu—Kim Taehyung.

Walaupun sebenarnya sepertiga dari tujuannya menggunakan dress serta makeup hari ini adalah ingin menarik perhatian Taehyung. Yah, setidaknya ia ingin mendengar Taehyung memujinya.

Gadis itupun hanya menghela nafasnya malas, berusaha berakting sebisa mungkin dan tidak menunjukkan pada Taehyung bahwa barusan ia kaget karena tiba-tiba Taehyung bertanya mengenai penampilannya. Ia mengibaskan rambutnya sombong lalu bersuara “Kim Taehyung-ssi, kenapa kau selalu menggombal disaat seperti ini? Waktu itu juga sama, kau menggombal saat kita berhenti sejenak seperti ini-“

“Siapa yang ingin menggombal?” balas Taehyung datar.

DOENG!

Oh tidak, harga diri Ryu Sujeong… Lagipula kenapa dia terlalu percaya diri bahwa Taehyung akan menggombal lagi seperti saat itu. Astaga.

Sujeong mengumpat dalam hati lalu bersuara “A-apa?” tanya Sujeong dengan sedikit menolehkan kepalanya pada Taehyung yang sedang menatapnya itu.

“Aku hanya ingin memberitahukan ini padamu dan tolong jangan marah. Wajahmu jadi semakin jelek, tahu!” ledek Taehyung dengan tampang tak berdosanya.

Baiklah, harga diri Ryu Sujeong entah sudah melayang kemana. Melihat wajah menyebalkan Taehyung itu membuatnya ingin melempar sepatu yang digunakannya sekarang tepat diwajah lelaki itu. Oh sungguh, Sujeong tidak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Tidak, bukan marah, melainkan kesal. Ah entahlah, mungkin dua-duanya.

Dengan menggertakkan giginya, ia menatap tajam Taehyung. Jari-jarinya mengepal, ia akan segera meluncurkan jitakan supernya kali ini. Tidak peduli jika yang akan dijitaknya itu adalah kekasihnya sendiri, yang penting dirinya harus melampiaskan semua kekesalan itu pada lelaki yang sekarang memandangnya dengan tatapan aneh.

“Kau benar-benar menyebal-“

SREET!

Tangan kanan lelaki itu kini menghentikan pergerakan tangan kanan Sujeong yang tadinya hampir mendaratkan sebuah jitakan kuat di atas kepalanya. Menggenggam tangan gadis itu dan menurunkannya perlahan. Sementara kedua netranya menatap lekat netra lainnya yang berhadapan dengannya. Menyalurkan rasa kasih sayangnya pada gadis itu melalui tatapan itu.

Oh, jangan tanya lagi apa yang dirasakan Sujeong sekarang.

Jantungnya serasa ingin melompat keluar sementara darahnya berdesir cepat. Lalu perlahan semburat merah tampak samar-samar di pipi gadis itu. A-apa yang harus kulakukan? Dia terlalu mempesona, batin Sujeong.

Cukup lama kontak mata itu berlangsung. Cukup lama juga jantung Sujeong berdegub kencang karenanya. Sampai akhirnya Taehyung mengulas sebuah senyum simpul lalu… menggelengkan kepalanya?

“Masih jelek. Kukira melihatmu dari jarak dekat akan membuatmu terlihat cantik tapi ternyata tidak. Maaf ya, hehe.” Ejek lelaki itu lagi. Dengan tampang tak berdosanya, ia mengalihkan pandangannya dari Sujeong yang sekarang sudah menggertakkan giginya dan menatap Taehyung dengan tatapan yang terkesan menyeramkan. Sementara Taehyung dengan damainya menginjak pedal gasnya begitu melihat lampu lalu lintas itu sudah hijau. Sungguh, Kim Taehyung kini menempati posisi pertama sebagai orang yang paling menyebalkan bagi Sujeong.

Baiklah, sepertinya Sujeong tidak bisa menahan lagi jitakannya sekarang.

Pletak!

Ya! Sakit, tahu! Arasseo, kau cantik. Saking cantiknya aku sampai mati-matian menyukaimu.”

“Lalu apa peduliku? Terserah kau saja, dasar curut sok keren!”

Ya!!! Tidak bisakah hanya sekali jitakan? Sakit, tahu!”

“Oh, maaf aku tidak tahu kalau itu sakit. Mau mencobanya lagi? Mumpung gratis.”

“Tidak, terima kasih.”

Pletak!

YA. Ryu Sujeong!!!”

***

Gadis bersurai panjang itu terlihat berdiri mematung di depan jendela. Memandang ke luar jendela yang menampakkan taman kecil rumah keluarganya itu. Kini, Hyerin sedang berada di rumah keluarganya di Gangnam. Berniat untuk menenangkan diri di rumah ini dan melupakan hal-hal yang belakangan ini menjadi alasannya untuk menangis.

Cklek!

Pintu kamar itu terbuka. Menampakkan sosok Nyonya Jung yang membawa nampan yang berisi sepiring roti dan teh untuk anaknya. Beliau berjalan masuk dan meletakkan nampan itu di meja kecil yang ada di samping tempat Hyerin berdiri sekarang.

“Hyerin-ah, setidaknya makanlah sesuatu. Tadi malam kau tidak makan, apa kau mau membiarkan perutmu kosong sampai besok?” ujar sang ibu seraya meraih pundak anaknya itu.

Hyerin hanya diam dan tetap tidak berpaling dari jendela “Apa Jungkook sudah berangkat?” Tanya gadis itu setelahnya.

Nyonya Jung menghela nafas lalu berujar “Eomma dapat kabar dari Sujeong kalau mereka baru saja mengantar Jungkook ke dalam pesawat. Sujeong mengirimimu pesan dan menelponmu berkali-kali tapi katanya kau tidak menjawab teleponnya.”

“Kenapa kau tidak ikut mengantarnya?”

Hyerin kembali diam. Netranya hanya terfokus pada taman kecil yang berada di luar jendela. Lalu sedetik kemudian ia tersenyum tipis dan menunduk pelan “Aku tidak bisa.” Lirihnya pelan. Setitik air mata terlihat mengucur dari pelupuk matanya. Ia sudah cukup menahannya, menahan semua air matanya untuk jatuh lagi. Matanya sudah cukup memerah karena itu.

“Dia alzheimer, eomma. Itu berarti bisa saja dia kembali dari sana dan melupakan semuanya disini, bukan?” Ucap Hyerin seraya mengusap bagian bawah mata kanannya. Ia lalu tersenyum getir “Aku merindukannya. Aku merindukannya sampai rasanya ingin mati. Dan sekarang? Ia harus pergi dan meninggalkanku lagi dalam jangka waktu yang aku pun tak tahu entah itu satu bulan, satu tahun, atau mungkin saja selamanya. B-bagaimana bisa aku mengantarnya sementara hatiku menginginkannya untuk tetap disini?” isak gadis itu.

Sang ibu hanya bisa menatap anaknya dengan tatapan sedih. Ia tahu betul perasaan itu. Perasaan khawatir yang sangat itu. Khawatir jika suatu saat nanti Jungkook kembali dengan ingatan yang terhapus. Atau bisa saja Jungkook tidak akan pernah kembali.

Beliau tahu bahwa Hyerin memikirkan itu semua. Hyerin takut jika Jungkook tidak akan kembali.

Nyonya Jung mengelus pelan pundak anaknya lalu berucap “Hyerin-ah, yang perlu kau lakukan sekarang adalah mendoakan yang terbaik untuknya meskipun dia tidak berada disini sekarang, bukan menangisinya seolah-olah lelaki itu memang tidak akan pernah kembali. Eomma yakin dia akan kembali, tenanglah.”

Seolah tidak mendengar perkataan ibunya, Hyerin tetap menangis. Entah kenapa tangisan kali ini sangat sulit untuk dihentikan. Sembari terisak, ia berucap pelan “Aku takut… Aku takut Jungkook tidak akan pernah kembali. A-aku takut suatu saat nanti aku akan mendengar kabar bahwa Jungkook telah tiada.”

Sang ibu terlihat berkaca. Ia jadi ikut sedih mendengar semua lirihan anaknya itu. Rasa sedih yang mendalam yang kini sedang dirasakan anaknya benar-benar membuat hatinya bergetar. Sungguh, ini adalah pertama kali dalam hidupnya melihat sang anak menangis putus asa seperti ini.

Beliau meraih kedua pundak Hyerin lalu memeluknya. Benar. Yang anaknya itu perlukan sekarang hanyalah sebuah pelukan hangat yang bisa menenangkannya dan menghentikan air matanya. Pelukan yang menenangkan dari seorang ibu.

“Dia kuat. Eomma yakin dia pasti bisa melewati semua rasa sakit itu karena dia sangat kuat. Namun, kekuatannya itu tidak akan berarti apa-apa tanpa doamu, doa kita semua.” Ucap Nyonya Jung seraya mengelus lembut surai coklat milik sang anak. Memberikan ketenangan dengan elusan lembut dan penuh kasih sayang itu. Sementara Hyerin masih tetap menitikkan air matanya didalam pelukan sang ibu.

Beliau lalu tersenyum tipis lalu melepas pelukan itu, menatap mata memerah anaknya seraya memegang kedua pundak anaknya itu.

Dengan wajah yang menyunggingkan sebuah senyuman tipis itu, sang ibu berucap walaupun hatinya sedikit tergores melihat anaknya dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

Senyuman tipis yang terkesan dipaksakan itu sedikit mengembang seiring empunya bersuara “Doakanlah agar lelaki itu sembuh dan bisa kembali menemanimu disini, karena sesungguhnya Tuhan lah yang menentukan hidup atau mati, bukanlah tangisanmu.” Ucap beliau dengan nada selembut mungkin. Lalu ia kembali memeluk Hyerin. Membiarkan anaknya itu memikirkan perkataannya barusan didalam pelukannya.

***

“Kau mengingat kami?”

Pertanyaan itulah yang pertama menyapa Jungkook yang kini sedang terduduk di sebuah kursi roda itu. Lelaki itu hanya tersenyum lemah sementara wajahnya yang kelihatan pucat seperti tidak mendukung senyuman yang ditampakkannya. Lalu ia mengangguk pelan dan menjawab dengan suara serak “Tentu saja”

Sontak saat itu juga, Jin yang bertanya pada Jungkook tadi menghela nafas lega. Begitu pula Yoongi, Sujeong, serta Taehyung yang berdiri di belakangnya. Sementara Jungkook hanya terkekeh pelan melihat tingkah laku teman-temannya.

“Kau tidak apa-apa, ‘kan?” tanya Yoongi yang berdiri di samping Jin. Jungkook hanya membalas dengan anggukan lemah serta desisan pelan “Ya, tidak apa-apa.”

Lalu kedua bola mata lelaki itu mengedar mencari-cari seseorang yang kebetulan sekali tidak ada disana.

“Dimana Hyerin?” Tanya Jungkook dengan tatapan tanda tanya yang diarahkannya pada keempat orang dihadapannya itu. Tiga dari mereka hanya diam dan menunduk tidak menjawab. Dan terpaksa Sujeong lah yang menjawabnya karena kebetulan dia lah yang menerima kabar pertama bahwa Hyerin tidak bisa ikut mengantar Jungkook ke bandara.

“Hyerin tidak bisa ikut. Sesuatu yang mendadak terjadi dan mengharuskannya untuk tidak ikut dengan kami.” Jelas Sujeong dengan sedikit tambahan kilah didalam ucapannya barusan.

Jungkook terlihat sedikit kecewa namun akhirnya ia tetap mengangguk mengerti. Lalu perlahan tangan kirinya yang terhubung dengan selang infus itu bergerak untuk mengambil sesuatu dari saku baju pasiennya.

Sebuah origami berukuran sedang yang sudah dibuatnya beberapa waktu lalu.

Tangan pucat itu lalu terulur memberikan origami itu pada Sujeong yang berdiri di depan kursi rodanya. Dengan sebuah senyum tipis yang terkesan lemah itu, Jungkook berucap sembari menyerahkan origami ungu itu pada Sujeong.

“Tolong berikan pada Hyerin.” Pinta Jungkook lemah. Gadis bersurai hitam kecoklatan itu mengangguk pelan lalu meraih origami yang diberikan Jungkook itu. Walaupun sebenarnya ia cukup ragu untuk memberikan origami itu pada Hyerin. Karena sesungguhnya ia sedikit takut jika Hyerin akan menangis lagi seperti kemarin.

Senyuman tipis yang terkesan lemah di wajah lelaki itu lalu perlahan menghilang. Tangannya mengepal pelan di ujung baju pasien yang dikenakannya. Lalu perlahan kepalan itu menguat sampai akhirnya tangan kekar lelaki itu terlihat bergetar. Beriringan dengan itu, sebuah rintihan sakit keluar dari bibir Jungkook

“Akh.”

Rintihan pelan itu terdengar samar-samar diindra pendengaran keempat teman Jungkook itu. Mereka terlihat sedikit kalut lalu segera bertanya pada Jungkook.

“Apa ada yang sakit?” Tanya Taehyung panik seraya menyentuh pelan pundak Jungkook.

Jungkook terlihat menggeleng pelan dengan rahang yang mengeras. Lalu sedetik kemudian ia menyunggingkan sebuah senyuman paksa yang terkesan lemah “Tidak terlalu sakit.” Desis Jungkook.

Semua teman-temannya terlihat mengarahkan tatapan khawatir pada Jungkook. Jawaban lelaki itu memang menyatakan bahwa apa yang dirasakannya tidak terlalu sakit namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan itu semua. Wajah pucat dengan pelipis yang berkeringat dingin itu menandakan bahwa sekarang lelaki itu sedang bertarung dengan rasa sakit yang mencoba menguasainya. Urat-urat disekitar pelipisnya terlihat jelas. Bibir pucat lelaki itu bergetar hebat, menahan seluruh rasa sakit yang menyerang kepala bagian atas serta bagian belakangnya.

Yoongi yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan temannya itu langsung berjongkok dan menatap Jungkook dari bawah, untuk melihat jelas air muka temannya itu.

“Apa kau benar tidak apa-apa?” Tanya Yoongi memastikan.

Namun bukannya berkata bahwa ia benar-benar kesakitan sekarang, Jungkook malah menggeleng dan menyunggingkan sebuah senyum lemah yang dipaksakan.

“Tidak apa.”

Yoongi malah menggeleng mendengar jawaban kawannya itu. Ia tahu bahwa Jungkook tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Setetes air mata yang kini sudah berada di ujung mata Jungkook menandakan bahwa lelaki itu sedang dalam keadaan sakit yang sangat sampai-sampai ia ingin menangis karena rasa sakit yang dirasakannya di bagian sekitar kepalanya itu.

Sampai akhirnya Yoongi pun mengambil ponselnya. Menelpon Nyonya Jeon yang tadi pamit untuk pergi check-in tiket pesawat mereka. Ia tidak bisa membiarkan temannya kesakitan seperti ini sementara mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menanyakan keadaan lelaki itu.

Namun, belum juga sambungan telepon itu terhubung, Jungkook kembali merintih sakit. Kali ini terdengar lebih jelas dari rintihan sebelumnya. Kepalan tangannya semakin menguat, rahangnya mengeras, dan setitik air mata yang tadi tersendat di ujung matanya tadi kini terjatuh, menjadi penanda bahwa rasa sakitnya kini sudah melampaui batas dan dirinya tidak bisa menahan itu semua lagi.

Lalu dengan seketika, kepala Jungkook tertunduk tiba-tiba. Kepalan tangannya melonggar.

Rasa sakit itu berhasil menguasai dirinya serta otak lemahnya, dia kembali tak sadarkan diri.

***

Hyerin terduduk dengan kedua mata yang terpaku lurus kedepan. Ia sama sekali tidak bergerak sedari tadi. Mata bengkaknya terlihat memerah. Ia benar-benar terlihat sangat kacau hari ini.

Sujeong yang duduk di sofa di sebelahnya hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan dan menatap Hyerin dari samping. Sesampainya dari bandara ia berniat untuk mampir melihat temannya yang tadi tidak sempat ikut untuk mengantar Jungkook ke bandara. Dan apa yang dilihatnya sekarang membuat hatinya bergetar. Temannya itu kelihatan sangat tersiksa. Wajah Hyerin yang menyiratan kesedihan serta kepedihan yang mendalam membuat Sujeong ikut iba terhadapnya.

“Ini. Jungkook tadi memberikannya padaku.”

Hyerin tersadar begitu mendengar nama lelaki yang menjadi beban pikirannya belakangan ini. Ia pun menoleh pada Sujeong dan memandangi benda yang ada di tangan temannya itu dengan tatapan tanda tanya

Sebuah origami ungu.

“Dia memberikannya beberapa saat sebelum ia tak sadarkan diri dan dibawa ke dalam pesawat.” Jelas Sujeong.

Dia sempat tak sadarkan diri lagi ternyata, batin Hyerin. Gadis itu hanya diam sebentar lalu meraih origami berwarna ungu muda itu. Sujeong yang menyadari hal itu lalu tersenyum tipis kemudian berdiri “Aku sudah harus pulang sekarang.” Pamitnya seraya menepuk pelan pundak temannya.

Sebelum ia pergi dari kamar Hyerin, pandangannya ia arahkan pada wajah sedih temannya itu. “Jung Hyerin, semangatlah. Aku tahu betul kau tidak pernah selemah ini sebelumnya. Kau itu gadis ceria dan tidak ada yang bisa mengubah sifat ceria serta hiperaktifmu. Dan tolong jangan berubah menjadi Hyerin yang lain hanya karena Jungkook pergi meninggalkanmu untuk sementara.”

“Karena sesungguhnya, aku seperti tidak melihat sosok temanku Jung Hyerin sekarang.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Sujeong berjalan pergi meninggalkan Hyerin yang diam mematung di atas sofa itu. Gadis itu seolah-olah tidak mendengar perkataan Sujeong dan terus menatap lurus kearah depan. Tangannya bergerak membuka lipatan-lipatan pada origami itu sampai akhirnya origami ungu itu kini menjadi sepucuk kertas yang memiliki tulisan-tulisan didalamnya.

Itu tulisan tangan Jungkook, namun agak sedikit tidak rapi seperti biasanya.

Mata indah gadis itu hanya bisa menatap lurus kertas ungu ditangannya. Entah kenapa ia merasa belum siap untuk membacanya. Ia takut air matanya akan jatuh lagi disaat membaca surat itu.

Gadis itu mengambil nafas perlahan lalu menghembuskannya. Lalu perlahan ia mulai membaca satu persatu kata yang ditulis Jungkook dikertas itu. Bersamaan dengan itu juga, bibirnya bergetar menahan tangis.

‘Hyerin-ah, hai? Aku sengaja menulis surat ini untukmu karena aku ingin mengucapkan salam perpisahan. Bukan salam perpisahan untuk selamanya, namun untuk beberapa waktu. Kau tahu bukan bahwa aku memiliki penyakit yang berkaitan dengan ingatanku? Oh, sebenarnya ini bukan penyakit karena aku tidak merasakan sakit dimanapun. Hei ingat, aku ini Jeon Jungkook, orang terkuat sekaligus terbrengsek yang pernah ada. Bukankah begitu? Kkk.

Hyerin-ah. Kudengar dari ibuku bahwa kau menangisiku kemarin. Saat mengetahui itu aku benar-benar merasa bersalah. Kau tahu apa janji yang telah kubuat di hadapan Tuhan? Aku telah berjanji untuk tidak pernah membuatmu menangis karenaku. Dan rupanya aku sudah melanggar janji itu, dan ini sudah ke dua kalinya. Pertama kali kau menangis karenaku di hari dimana Hanbin mengurungmu disebuah gudang, dan yang kemarin adalah kedua kalinya. Aku merasa berdosa untuk itu karena aku telah berjanji pada Tuhan. Jadi, bisakah kau melakukan sesuatu untukku? Bisakah kau tidak menangis lagi disaat aku pergi? Tetap tersenyumlah demi diriku. Aku malah tambah terluka jika mengetahui bahwa dirimu menangis karenaku. 

Aku tidak mau kehilangan ingatanku untuk kedua kalinya karena itu sudah cukup menyulitkan. Aku tidak ingin melupakan tatapan serta senyumanmu, aku tidak ingin melupakanmu, dan aku tidak ingin melupakan cerita kita. Karena itu aku akan berusaha untuk sembuh semampuku disini. Tolong doakan aku. Dan ingat! Jangan menangis. Hapus kembali air matamu yang barusan terjatuh itu. Sampai jumpa, Jung Hyerin…’

Air mata itu terjatuh tepat diatas tulisan Jungkook di kertas ungu itu. Membasahi tulisan itu sehingga beberapa hurufnya jadi kelihatan tidak jelas. Tinta pulpen yang digunakan terlihat sedikit menyebar karena cairan bening yang barusan membasahinya itu.

Hyerin menangis, lagi.

Kali ini tangisannya jadi lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tangisan sesenggukan itu terdengar seperti sebuah tangisan penuh kepedihan. Isakan tidak henti-hentinya dikeluarkan gadis itu dan terdengar seperti seseorang yang sudah putus asa.

Sementara sebuah pesawat kini sudah terbang melewati tepat di atas rumah milik keluarga Jung itu. Menjadi penutup bagi tangisan Hyerin hari ini.

Semoga kau cepat sembuh disana, Jeon.

***

Satu tahun kemudian…

Jung Hyerin yang tadinya adalah seorang siswi kelas 2 di Sekolah Elioxe kini sudah menjadi siswi kelas 3 sekaligus senior disana. Siswi yang dikenal sebagai primadona Elioxe karena kecantikannya itu kini menjadi lebih terkenal karena prestasinya. Ia sadar bahwa kecantikan bukan apa-apa tanpa didukung oleh otak yang cerdas, karena itulah ia mulai rajin belajar dan mencoba banyak hal menuju masa depannya.

Sekarang ia sedang fokus dalam hal sastra guna mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis. Disamping itu ia juga sedang fokus untuk ujian yang semakin dekat itu. Dirinya telah menjadi Hyerin yang super sibuk sekarang.

Yah setidaknya ia bisa menyibukkan diri dan melupakan hal sedih mengenai Jungkook. Ia berpikir bahwa tidak ada gunanya untuk menyiksa diri sendiri dengan merenungkan kepergian Jungkook. Toh yang penting lelaki itu bisa sembuh dengan pergi meninggalkannya. Kini cara berpikir gadis itu sudah lebih dewasa dan dalam. Kini dia tidak lagi egois dan menginginkan Jungkook untuk tetap disini. Asalkan Jungkook sembuh, Hyerin tidak keberatan menunggu lelaki itu, sekalipun itu satu tahun, dua tahun, ataupun sepuluh tahun.

Tapi, sudah satu tahun berlalu, gadis itu masih saja belum mendapat kabar dari Jungkook. Karena menurut apa yang didengarnya dari Sujeong, Jungkook tidak boleh dihubungi selama dia berada di sana karena itu akan mengganggu proses pengobatannya. Nyonya Jung juga sudah memberitahukan padanya bahwa penyakit alzheimer yang diderita Jungkook itu memang tidak parah tapi disaat Jungkook mulai mengingat sesuatu yang bersangkutan dengan gadis itu, penyakitnya akan kambuh dan menyerang otaknya.

Seperti kejadian satu tahun yang lalu di bandara, disaat Jungkook tiba-tiba tidak sadarkan diri. Saat itu rasa sakit yang dirasakan Jungkook terjadi karena otaknya yang merespon terlalu berlebihan saat mengingat sesuatu mengenai Hyerin. Hal itu juga terjadi pada saat Hyerin bicara dengannya di rumah sakit lalu.

Entahlah, Hyerin merasa seolah-olah ini semua adalah salahnya.

Satu bulan telah berlalu. Kehidupan kelas 3 yang sebenarnya telah dimulai. Mulai dari banyaknya tugas serta rangkuman materi, belum lagi pengayaan yang harus diikuti setiap siswa serta ujian tertulis dan praktek. Selama itu juga, Hyerin jadi lebih fokus dalam belajar. Sosok Jung Hyerin yang selama ini hanya fokus dalam membaca novel ataupun sekedar duduk-duduk santai dan menghabiskan waktu di kafe bersama Sujeong itu kini telah menghilang. Belakangan ini dia malah jadi tergila-gila dengan belajar. Kini bukan buku novel lagi yang selalu diborongnya dari toko buku, melainkan buku-buku yang berisi tentang kumpulan soal serta rangkuman materi pelajaran yang tebalnya bisa sampai lima senti.

Rupanya gadis itu sudah mulai fokus untuk mengejar masa depannya.

Bukankah keputusannya setelah lulus dirinya akan menjadi seorang desainer baju sekaligus penulis?

Yah menulis adalah kerjaan sampingannya sementara desain adalah kerjaan utamanya, karena itulah ia ingin memfokuskan dirinya pada ujian akhir sekolah kali ini agar bisa diterima di universitas terbaik di Korea Selatan dan mewujudkan tujuannya menjadi seorang desainer baju sekaligus penulis. Walaupun agak sulit untuk bisa menekuni keduanya, ia tetap berusaha. Karena terkadang untuk mencapai kesuksesan selalu dimulai dengan kesulitan serta pengorbanan demi rintangan-rintangan yang akan datang.

Sampai akhirnya datanglah ujian akhir sekolah. Hyerin tidak terlalu merasa terbebani akan itu karena ia sudah mempersiapkan dirinya dari jauh hari. Yang perlu dilakukannya hanyalah mengingat kembali pelajaran yang telah dipelajari selama ini. Toh Elioxe hanya fokus dalam pelajaran perbisnisan. Maka yang perlu diingat-ingat dari pelajaran yang selama ini dipelajarinya hanyalah mengenai bisnis. Ujian akhir sekolah di Elioxe memang beda dengan sekolah lainnya. Jika sekolah lainnya memiliki tiga pelajaran yang diutamakan, yakni matematika, sains, dan bahasa, maka Elioxe memiliki empat pelajaran yang diutamakan. Ditambah dengan satu pelajaran lagi yaitu perbisnisan.

Namun tidak menutup kemungkinan saat lulus nanti para siswanya ingin memilih jalan lain dan bukan memilih perusahaan atau perbisnisan. Seperti Hyerin yang lebih memilih untuk menjadi seorang desainer baju dan penulis.

Begitu ujian akhir sekolah selesai, minggu berikutnya mereka melaksanakan upacara kelulusan.

Hyerin memasuki aula sekolah dengan sedikit membungkuk karena tepat di belakangnya terdapat deretan kursi para wali siswa. Matanya sedikit membulat begitu mendapati seorang lelaki yang tak lain adalah Yoongi itu melambaikan tangan padanya dan mengisyaratkan kepadanya untuk duduk bersama dideretan kursi depan. Ia lalu tersenyum seraya mengangguk kemudian berjalan mendekati teman-temannya di sana.

Tepat di depan deretan kursi yang ditempati mereka, terdapat panggung besar yang menjadi pusat perhatian seluruh manusia yang hadir di aula ini. Di atas panggung itu, terdapat sebuah podium serta sebuah banner panjang nan besar bertuliskan ‘Upacara kelulusan siswa Elioxe Senior Highschool angkatan ke-12’ tergantung di sana.

Tepukan tangan mulai terdengar begitu sang kepala sekolah naik ke atas panggung dan berdiri di balik podium dengan senyum yang merekah lebar diwajahnya. Kepala sekolah lalu menyampaikan sambutannya kepada seluruh wali dari masing-masing siswa yang sudah menyempatkan diri untuk hadir. Lalu setelahnya upacara kelulusan pun dimulai dengan adanya pidato pembukaan dari kepala sekolah.

Topi kelulusan itu kini sudah bertengger tepat di atas kepala setiap siswa. Sebagian dari mereka ada yang tertawa bahagia namun ada juga yang malah menangis mengingat kenangan mereka selama berada di sekolah ini. Meninggalkan masa-masa sekolah memang sangat berat karena masa-masa itu begitu berarti untuk ditinggalkan.

Selesai upacara kelulusan, mereka sempat berfoto-foto untuk mengabadikan hari ini. Walaupun cuaca Seoul saat itu memang sedang dalam keadaan bersalju namun hal itu sama sekali tidak mengurangi niat mereka untuk bersenang-senang hari ini. Oh ayolah, ini adalah hari kelulusan!

“Selamat atas kelulusan kalian” seru Heera seraya meloncat-loncat riang dan menepukkan tangannya, ikut berbahagia dengan teman-teman kakaknya yang baru lulus itu.

Hyerin yang melihatnya hanya terkekeh pelan “Selamat untukmu juga, karena telah resmi menjadi siswa Elioxe.” Ujar Hyerin dengan senyum yang merekah diwajahnya. Gadis itu kemudian mendekat dan memeluk adik iparnya senang.

Sementara di belakang Hyerin, terdapat Sujeong yang senyam-senyum sendiri mengirim pesan pada ibunya yang kebetulan sedang tidak ada di Korea itu. Ketiga lelaki lainnya—Taehyung, Jin, dan Yoongi— sedang berbincang-bincang tentang universitas yang akan mereka pilih nanti.

Kedai tteokbokki yang ada di samping sekolah menjadi tempat mereka berkumpul hari ini. Tidak biasanya mereka bisa berkumpul seperti sekarang dan menghabiskan waktu berharga ini dengan berbincang-bincang dan saling bercanda. Maksudnya, tidak biasanya mereka berkumpul seperti sekarang tanpa Jeon Jungkook didalamnya.

Ya, Jeon Jungkook tidak ada sekarang.

“Yoongi oppa, ini gratis, kan?” Heera dengan wajah super cute nya bersuara, membuat Yoongi yang tadi baru saja akan duduk itu langsung terhenti dan menatap adik Jungkook itu.

Lalu senyuman lebar merekah diwajah lelaki itu. Ia lalu tertawa dan menepuk tangannya sekali “Tentu saja, sayang. Makanlah yang banyak karena hari ini semuanya gratis.”

Tadinya Heera sempat jijik dipanggil ‘sayang’ oleh Yoongi, namun setelah mendengar kata gratis, tentu saja wajahnya jadi berubah seratus delapan puluh derajat ditambah dengan mata yang berbinar-binar. Oh tidak hanya Heera, tapi semua orang yang duduk di meja panjang itu “Benarkah?” respon mereka tidak percaya.

“Semua gratis karena yang akan membiayai semuanya adalah… Taehyung!” Seru Yoongi yang langsung disambut mata bulat Taehyung. Tatapan Taehyung yang tadi fokus pada Sujeong di sebelahnya kini mengarah pada Yoongi dengan tatapan yang terkesan tajam dan dingin. Oh, untung saja Yoongi adalah hyung nya, kalau tidak dia pasti sudah menjitak kepala lelaki itu karena sesungguhnya Kim Taehyung sudah belajar banyak cara menjitak yang ampuh dari kekasihnya, Sujeong.

“Kim Taehyung! Kim Taehyung!”

Seruan seruan Yoongi dan teman-temannya membuat Taehyung harus menghela nafas pasrah dan mengangguk pelan “Arasseo, arasseo. Aku yang bayar.” Ujarnya pasrah.

Sontak semuanya langsuk bersorak gembira “Kim Taehyung! Aku tahu kau itu memang pria sejati!” timpal Jin sembari merangkul temannya itu yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya.

Sementara Taehyung hanya bisa diam dan menatap Jin dengan glare andalannya. “Hyung, lalu selama ini kau kira aku ini apa? Tentu saja aku pria sejati!” ucapnya seraya melepas rangkulan Jin dan melipat kedua tangannya didepan dada, lalu berpose gaya sesombong mungkin yang bisa saja mendapat tamparan dari Jin yang duduk di sampingnya. “Makanlah sesuka kalian, silahkan pesan apa saja sekalipun itu yang termahal.” Ucapnya tak kalah sombong dengan yang tadi.

Heera yang mendengarnya langsung mengarahkan tatapan datarnya pada Taehyung “Oppa, ini kedai tteokbokki, bukan restoran rusia. Tidak ada yang mahal ataupun yang murah disini. Semua sama, tahu! ” Timpalnya. Taehyung hanya bisa memasang tampang kaget. Benar juga, ini di kedai tteokbokki. Oh, apa ini efek dari kekayaan yang dimilikinya? Entahlah, ia benar-benar merasa bangga sekaligus malu sekarang. Tapi pertanyaannya… dia bangga karena apa?

Ha ha. Entahlah. Kim Taehyung itu memang aneh.

Sementara di sisi lain meja, Hyerin sedang memerhatikan teman-temannya yang sedang bercanda gurau itu. Melihat mereka membuat dirinya ikut tersenyum dan merasakan kebahagiaan. Walaupun ia tahu ada yang tidak lengkap disini.

Bagaimana keadaan Jungkook sekarang? Apa yang dilakukannya? Apa dia juga tertawa seperti mereka sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan itu sampai sekarang belum terjawab. Hanya bisa mengambang indah di pikiran Hyerin. Gadis itu mengulas senyum tipis dan memandang ke luar jendela kedai. Langit dengan awan abu-abu yang bertebaran kini menghiasi hari yang bersalju ini.

Ini kebiasaan barunya belakangan ini.

Ia selalu menatap langit dan benda-benda langit lainnya di atas sana jika ia merindukan Jungkook. Karena menurutnya, dimanapun mereka berada, tapi mereka tetap memandang langit yang sama, bukan begitu? Karena itulah, ia merasa dekat dengan Jungkook setiap dirinya memandang langit.

Lalu tidak sengaja, bibirnya berucap pelan. Terdengar seperti gumaman.

“Bagaimana kabarmu disana… Jeon Jungkook?”

Kring!

Suara bel dari pintu kedai itu sukses mengalihkan pandangan Hyerin. Sontak Hyerin menoleh dan mendapati seorang lelaki berdiri disana.

“Hai?”

Mata Hyerin membulat begitu menyadari bahwa orang itu adalah orang yang familiar di matanya. Ia memasang tampang terkejut setengah mati. Mulutnya setengah terbuka. Tidak hanya dia, tapi semua orang yang duduk semeja dengan gadis itu.

Tunggu, itu…

Bukankah?

-To Be Continue-

Yuhuuu~ selesai juga yaampun.

Chapter ini tuh ya ‘FULL OF MAGER’.  Chapter ini hampir tiga minggu terbengkalai tak disentuh sama sekali. Sumpah, liat tulisan-tulisan di word aja males gitu /malahcurcol-,-/. Lagian ini kan harusnya full sama adegan sad gitu kan ya. Tapi aku gak ahli gitu buat yang sad-sad otomatis males aja nulisnya :v /bow/

Jadi, maapin kalo chap kali ini agak lama updatenya. Aku mager banget nulis chap ini, beneran! Dan, oh… tinggal satu chapter lagi /elap air mata/

Menuju ending pemirsah :* Itu aja ayy.. sampai jumpa di chap selanjutnya /lambailambai/

Next Chapter:

“Jungkook telah kembali!

 “Kau dan Jungkook… Kurasa kalian harus berpisah.”

“Dia tidak ditakdirkan untukmu! Kalian sama sekali tidak ditakdirkan untuk bersama, kau mengerti?!”

“Kau memang tidak bisa hidup tanpanya, tapi Jungkook?! Dia bisa mati karenamu.”

 “Apa katamu? Sungai Han?!”

“Dia bunuh diri.”

“Aku tidak yakin bisa melihatmu lagi—“

“—Jeon Jungkook.”

Trapped in a Marriage: Chapter 16a

Advertisements

37 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Trapped in a Marriage – (Chapter 15)

  1. Kenapa aku jadi nangis baper gini thor ? Author tega banget bikin aku galau gara gara kooki sama hyerin. Huwaaaaa tinggal 1 chap lagi kan ?
    Aku pasti akan terus mengenang ff ini, meskipun udah end nantinya.
    Buat author, fighting ya nulis endingnya ! Semoga jadinya hyekook couple happy ending.

    Like

  2. wuuuuaaaaaa😭😭😭
    sumpah part ini bkin gue nangis ..
    sdih pake bangetttttttttt ..
    eon updatenya yq cepat yach .. gue pnsaran bngat .. 😟😟

    Like

  3. sumpah baper abiss … itu yg dateng jungkook atau hanbin???… daebak lahh di tunggu next chapternya ya chingu…. klo bisa jgn lama2 ya hehehe

    Like

  4. Dah mw ending aja eon😩😩
    Gk rela…sueerrr..
    Endingnya happy kan???
    Kuki gk mati kan???
    Next chap hrus happy y eonn..bnyak scene romancenya y??

    Like

  5. ahh…ffnya sedih banget..jungkook orang yang kuat sekarang kelihatan lemah…lalu bagaimana hubungannya jungkook dan haerin..?aaahhh…sdih”…chapter selanjutnya ditunggu…

    Like

  6. Akhirnya update jg chap ini… hikz sdih bget, uri Kuki ksihan…. gra2 Hanbin si kunyuk tu pang jd ky gini /dendamsmahanbin/

    Aduh… air mataku hmpir tertumpah sperti hyerin tp gk jd tumpah. Klo Hyerin dithan2 tp gk lama tumpah jg /author:apaseh/ hehe

    Yoohwanhee, jgn mager terus… ttp lnjutin y ff ini… aku tau jika dirimu memang mulai sibuk krena bnyknya tugas, sabar Yoohwanhee, satu tahun lg bru lolos dri kls 9

    Bentar lg mau end ya, aduh… gmna ni? Yoohwanhee gmna ni? Aduh ky apa ini? /author: manakutau/ agak sedikit sdih gtu klo emang ff ini mau hbis…

    Mungkin sgini saja driku

    Yoohwanhee, fighting!!!^^

    Like

  7. huaaaa author sayang bikin aku mati penasaran 😭😭😭😭
    semoga happy ending yha author sayang aku tunggu next chap nya 😘

    Like

  8. hiks hiks….. #sumfehaslimataakurambaikucimata
    ya ampun tinggal 1 cap lagi. ANDWAE….!
    Serius ini cerita bikin aqu bhapher maksimal..suwer aku sampe takut bsok mata aku bengkak krn bnyk nangis soalnya aq bacanya mlm”./curhat
    yg pasti ini feelny ngena bgt thor, Fighting!

    Like

  9. Huweeee 😥 gua gak mau ending loh thor sumvah jangan bikin sad ending dong thor bikin adegan jungkook sama hyerin yang banyak sampe punya anak” maaf ya thor baru komen :* #tebar civok bareng jhope :v

    Like

  10. Dear author yoo ^^
    maaf ya thor chapter 14 aku gak comen , minggu2 smalem byk bgt tugas kuliah , malah bentar lg UTS hadehhh :3 lah kok malah curhat :3
    authorrr aduhh kok jd kek drakor W sih wktu kookie oppa kecelakaan ? yg pas scene kang chul mau di tabrak truk tp selamat itu loh , yeaah gx mirip kali sih , wkwkkw mngkin aku jga aja yg ngalay mirip2 pin gitu #aduhhbhskuabsurdkali
    gx mau ngira2 dlu , nnt takut salah ^^
    buruan ya thor next nya , hwaiting 🙂 🙂

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s