BTS FF Freelance] Zero Black – (Chapter 2#Ch.1)

zero-black-1

Zero Black

fic by Rae

Kim Namjoon (BTS)

 Choi Zelo (B.A.P)

Oh Sehun (EXO)

Kim Yugyeom (GOT7)

And Others

Intelligence Live/Drama/Tragedy/Little bit Thriller/PG-17 | Chaptered

.

Only story, plot, and cover which belong to me. Casts are belong to God, agency, fams, and fans.

Warn : typo(s) and little bit murdered 

.

.

.

CHAPTER 1

.

.

Deretan bangunan tua tak terpakai di pinggiran kota Seoul. Jauh dari keramaian kota yang seperti tak pernah tidur. Di kelilingi pepohonan yang membuat tempat itu seolah tenggelam dalam warna hijau tua yang mendominasi. Menghadap ke utara tetapi pintu masuknya berada di selatan. Tembok kusam yang penuh grafiti asal adalah karya seni tersendiri.

Sore sudah beranjak. Matahari mulai menampakkan mega merahnya. Burung sudah kembali ke sarangnya. Dan mulai tampak setitik cahaya putih redup dari celah bangunan itu.

Pemuda tinggi itu membuka pagar besi rendah sedada yang sudah berkarat. Decitannya terdengar saat besi tua itu dipaksa bergeser untuk membuat ruang masuk. Pagar itu kembali ditutup dan si pemuda mulai menyusuri jalan setapak yang membelah rumput di lapangan belakang bangunan itu. Membawa langkahnya untuk sampai di bangunan dengan santai.

Pintu baja tua menyambutnya. Lengannya meraih pegangan pintu dan membukanya ke dalam. Cahaya tidak terlalu terang langsung menyambutnya.

“Hyung, kau sudah pulang?” satu-satunya orang yang berada di sana bersuara. Menyambut kedatangan Kim Namjoon.

“Dimana yang lain?” Namjoon melepas jaket kulitnya dan menggantungkannya di gantungan baju dekat meja televisi.

“Sehun Hyung pergi mencari makanan. Zelo seperti biasa, mengadu tubuhnya dengan lantai dance jalanan.”

Namjoon mengangguk. Ia menuju ke ujung ruangan di mana letak kulkas berada. Mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya hingga setengah.

“Oh ya Hyung, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

Mata Namjoon mengikuti gerak Yugyeom yang segera masuk ke dalam ruangan lain di sana dan kembali dengan selembar kertas di tangannya.

“Ini Hyung.”

Namjoon menerima kertas yang disodorkan Yugyeom. Sebuah foto anak laki-laki kira-kira seusia Zelo, tersenyum sangat lebar dengan seragam sekolahnya. Matanya memicing dan ia memandang Yugyeom seolah meminta si bungsu menjelaskan.

“Namanya Lee Hwanhee. Dia anak pemain musikal terkenal Lee Jaehwan.”

Namjoon tahu Lee Jaehwan. Bahkan semua orang pun pasti akan mengetahuinya. Lee Jaehwan seorang pemain musikal terkenal, tidak ada sudut kota manapun yang tidak mengenalnya.

“Kenapa kau menunjukkannya padaku?” Namjoon kembali menyerahkan foto itu pada Yugyeom.

Yugyeom kemudian berjalan ke sebuah papan besar penuh bermacam-macam kertas yang tergantung di dinding, dekat papan panahan milik Zelo. Ia mengambil satu paku pines dan menempelkan foto itu pada papan.Kemudian memandangi foto itu dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana trainingnya.

“Dia menghilang empat hari yang lalu.”

Alis Namjoon bertaut. Menghilang? Empat hari yang lalu?

Namjoon berdiri di sebelah Yugyeom dan ikut memandangi foto Lee Hwanhee.

“Bagaimana kau tahu?” tanyanya.

Bahu Yugyeom terangkat. “Sehun Hyung siap kapanpun ia mau.” Kemudian tersenyum penuh arti.

Oh Sehun memang mengagumkan. Tanpa disuruh, seluruh informasi sudah mengalir deras ke mereka. Mata-mata satu itu tak pernah bisa di tebak. Selalu mencuri start satu langkah dari Namjoon.

Dan Namjoon hanya akan tersenyum terimakasih.

“Apa kita perlu mencarinya Hyung?”

Namjoon melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Kakinya di silangkan.

“Tapi kenapa media tidak gencar menyiarkan berita ini? Lee Jaehwan terkesan menutupi hilangnya sang putra.”

Yugyeom mengikuti Namjoon. “Kau benar Hyung. Kurasa ada yang aneh di sini, bukankah begitu?”

Seringaian tipis tersungging di bibir Namjoon.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tubuh tinggi itu menyatu dengan musik dari speaker sedang yang mereka bawa. Kaleng bekas susu yang di letakkan di pinggir arena itu sudah tampak penuh dengan lembar uang. Musik berhenti dan tarian menakjubkan itu juga berhenti. Riuh tepuk tangan menyambut.

Zelo membungkuk tanda terimakasih sebentar sebelum mengambil kalengnya dan mematikan sambungan listrik speaker.

“Lumayan banyak Zel?”

Senyum tersemat di bibir remaja tinggi itu.

Zelo membalik snapbacknya dan mulai menghitung uang di dalam kaleng. Cukup banyak namun harus ia bagi empat. Karena ia tidak sendiri di sini.

Setelah selesai dengan urusan pembagian hasil, Zelo mengambil ranselnya di sebelah speaker. Ia melambaikan tangan salam perpisahan pada teman-temannya.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan ia harus segera pulang. Jalanan akan sangat gelap seiring beranjaknya malam.

Sekelilingnya sepi. Dan juga gelap.

Zelo mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senternya. Redup namun lumayan untuk menerangi jalannya. Sekitar seratus meter lagi, ia akan sampai di kompleks bangunan tua tak terpakai. Di sanalah rumahnya.

Tiba-tiba Zelo berhenti. Ia refleks memandang lurus ke depan. Kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri. Terakhir, ia berbalik ke belakang. Perasaannya mengatakan, ia sedang di awasi.

Jangan ragukan instingnya. Ia hidup dalam dunianya selama hampir delapan belas tahun umurnya.

“Siapa di sana?!” teriakannya menggema di tengah kesunyian.

Wajar karena ia berjalan di jalanan yang hampir tidak pernah di lalui orang. Sendirian dalam kegelapan.

Sebenarnya, Zelo tidak khawatir jika dirinya memang sedang di awasi. Perampok bahkan pembunuh sekalipun, ia tidak masalah. Tapi, ia perlu mengetahui siapa itu karena hal itu wajib kata Namjoon.

Suara krasak-krusuk terdengar dari arah kanan. Di sana hanya ada pepohonan tinggi dan sangat gelap. Zelo mengarahkan senternya ke balik pepohonan namun ia tidak mendapatkan apa-apa.

“Mungkin kali ini aku salah.” Gumamnya.

Kembali tidak peduli, Zelo melanjutkan perjalanannya sebelum semakin malam dan semakin gelap.

.

.

.

.

.

.

Seseorang menyeringai di balik topi hitamnya yang menutupi sebagian wajahnya. Kekehan kecil kemudian terdengar.

“Bocah itu bukan sesuatu yang bisa di remehkan.” Bisiknya pada sambungan telepon.

“Choi Zelo?” tanya seseorang di seberang.

Ia mengangguk. “Kau terlalu meremehkan insting seorang snipper handal sepertinya.”

Kemudian suara tawa dari telepon mengusik sepi. “Cukup amati saja pergerakan mereka, Baek Hyung.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun mendobrak kasar pintu baja di depannya. Ia terlihat kesal saat memasuki ruangan. Mengundang tatapan tanya dari Namjoon, Yugyeom, dan Zelo yang sudah tiba di sana.

“Kenapa Hyung?”

Sehun mendengus dan menutup pintunya. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan meraih remote televisi setelah sebelumnya melemparkan sekantong penuh makanan ke atas meja.

Televisi itu menyala dan menampilkan sebuah acara berita.

“Lihat itu.”

Ketiga pasang mata di sana fokus ke layar datar televisi yang menampilkan wajah seorang anak laki-laki seusia Zelo yang sedang tersenyum dan memakai seragam. Sama persis seperti foto yang di tunjukkan Yugyeom pada Namjoon tadi.

“Lee Hwanhee menghilang sejak empat hari yang lalu.” Namjoon bersuara.

“Kurasa Yugyeom sudah memberitahumu, Joon.”

Namjoon mengangguk dan mengambil remote dari tangan Sehun untuk mematikan televisinya.

“Kurasa kau mendapatkan sesuatu, hyung.”

Sehun mengendikkan bahunya dan beranjak dari sofa. Ia menuju kulkas dan mengambil sekaleng soda.

“Aku pergi ke rumah makan bibi Han. Di sana aku berpapasan dengan Bang Yongguk dan Kim Junmyeon.”

Semuanya nampak terkejut. Zelo mengalihkan pandangan dari papan panahan miliknya menjadi memandang Sehun.

“Lalu hyung?” tanyanya.

“Mereka menanyakan keberadaan kita dan bagaimana hidup kita delapan bulan belakangan. Tapi aku tidak menjawab. Karena aku tahu maksud mereka sebenarnya bukan itu.”

Dahi Namjoon berkerut. “Maksudmu, Hyung?”

Sehun meneguk sodanya sampai habis kemudian melemparkannya ke tempat sampah.

“Interogasi. Dan menduga menghilangnya Lee Hwanhee ada sangkut pautnya dengan kita.”

Bahu Yugyeom merosot ke bawah dan ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Zelo menembakkan pistol mainannya dan peluru berupa anak panah kecil itu menancap di papan panahan dengan bunyi ‘tak’ yang keras. Sementara Namjoon berdiri dan mengumpat.

Tidak ada yang pernah meragukan tebakan Oh Sehun. Dia seorang mata-mata yang dulunya di segani.

“Kita akan mencari Lee Hwanhee.”

“APA?!”

Namjoon tidak menjawab. Ia lebih memilih menuju papan besar tempat foto Hwanhee di letakkan.

“Putra artis musikal Lee Jaehwan. Delapan belas tahun. Menghilang sejak empat hari yang lalu. Motif belum diketahui.” Intonasi Namjoon tegas. Seperti tak bisa dibantah.

Sisi kepemimpinannya kembali. Seorang Kim Namjoon dengan segala macam ide dan rencana briliannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ruangan itu tidak luas. Penuh tumpukkan kardus dan terasa pengap. Tidak ada apapun selain kegelapan yang bisa ia temukan. Pegal di sekujur tubuhnya terasa sangat menyiksa, ditambah dengan ikatan pada kedua tangan dan kakinya. Wajahnya sudah di penuhi oleh memar dan beberapa luka gores. Ia begitu pucat.

Hanya berharap seseorang akan datang dan menyelamatkannya.

.

.

.

To Be Continued

Chapter 1. Terimakasih atas waktunya ^^

Mohon kritik dan saran ya^^

Advertisements

3 thoughts on “BTS FF Freelance] Zero Black – (Chapter 2#Ch.1)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s