[BTS FF Freelance] Broke Up – (Ficlet)

75e76a539ff78d954c3dcbf53019bdaf

[BTS FF Freelance] [Ficlet] Broke Up

Broke Up

a story by ketkatherin

[BTS’s] Min Yoongi and [OC’s] Min Yeonhe |

PG-15 | Hurt/Comfort, Family,  | 258 words

Cr pict : Pinterest

“Aku putus dengan kawanmu itu, Kim Taehyung”

Decitan  suara bola basket yang bertemu dengan ring menimbulkan suara yang cukup  nyaring ditelinga ketika sang pemain menshootnya. Bias sinar surya  dikala hari hampir menginjak fase senja masih menyinarkan cahayanya.  Pun, angin musim semi yang ikut meramaikan suasana senja dengan  berhembus menerpa surai abu-abu milik seorang pria berkulit putih pucat  yang sudah seharian berada ditengah lapangan basket ditemani terik sang  mentari. Ia melempar bola itu dan sukses menshootnya untuk yang kesekian  kalinya. Lantas, bunyi decitan itu juga senantiasa masih terdengar  dilapangan basket sekolahnya.

“Tuan Min terlihat lelah sekali”  Ujar seorang lelaki yang duduk dipinggir lapangan basket lalu melempar  sebotol air mineral padanya. Tak perlu waktu lama, ia segera  menangkapnya lalu menandaskannya.

“Kak Yoongi, kau lama sekali  sih bermainnya apa kau tak melihatku yang sedari tadi duduk dibangku  penonton?” Persensi seorang  gadis dengan nada meninggi yang datang dari  bangku penonton sontak membuatnya tersedak. Min Yoongi terkejut bukan  main, gadis yang tak bukan adalah sang adik yang masih berada dilapangan  basket. Setaunya, gadis itu sudah seharusnya berada dirumah sejak enam  puluh menit yang lalu dan pulang bersama kekasihnya sekaligus kawan baiknya, Kim Taehyung. Tapi  opsinya salah, gadis itu menunggunya. Rautnya yang terlihat kesal  menambah ribuan pertanyaan dibenaknya.

“Sejak kapan kau disini  Yeon? Aku tak melihatmu sejak tadi” Ujarnya dengan alis terjungkit  sebelah, lantas melempar botol kosong didekat temannya, Kim Seokjin.

“Kak  ayo pulang aku ingin berbicara sesuatu padamu” Ujar sang adik dengan  nada yang kentara defensif. Yoongi hafal betul bagaimana adiknya itu.

“Kau baik-baik sa-“

“Aku sedang tidak baik kak” Sambarnya cepat.

“Seokjin-ah  aku harus pulang. Yeonhe sepertinya sedang tak baik” Ujar Yoongi lantas  menyambar tas ransel biru tuanya dekat Seokjin buru-buru.

“Apa  yang terjadi padanya?” Tanya Seokjin yang memincingkan matanya berukuran  kecil saat menatap Yoongi yang terkena biasan sang mentari. Lantas,  lelaki bersurai abu-abu itu mengendikkan bahunya dan berlari kearah sang  adik yang sudah menjauhi lapangan itu. Meninggalkan kawannya yang  memainkan bola basket yang Yoongi tinggalkan ditengah lapangan  sendirian.

“Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Yoongi  yang menyamakan langkahnya dengan sang adik yang berjalan sangat lamban.  Membuat Yoongi gemas dibuatnya, karna sejak tadi sang adik hanya  bergeming, berjalan dengan menunduk, menatap trotoar dan menabrak  beberapa orang pejalan kaki yang lain. Jika boleh jujur Yoongi merasa  tak enak dengan para pejalan kaki karna ulah adiknya.

“Yeonhe-ya-”  Tak tahan, Yoongi memanggilnya dengan selembut mungkin. Emosinya sudah  sampai diubun-ubun, tak tahan dengan sikap Yeonhe yang sangat lesu.  Yoongi tau, adiknya sedang dalam masalah serius.

Min Yeonhe,  menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Lantas, menghentikan langkahnya  dan menatap Yoongi tanpa ekspresi. Mencoba mengumpulkan kekuatannya yang  ambruk sedari tadi. Diikuti Yoongi yang menatap adiknya dengan datar,  menunggu sang adik membuka suara dan menjelaskan padanya. Bukankah ia  yang ingin membicarakannya pada Yoongi tadi?

“Apa yang terjadi denganmu?”

“Aku  putus dengan kawanmu, Kim Taehyung itu” Ujarnya. Garis dikening Yoongi  mulai menyatu dengan alis yang ikut terjungkit sebelah. Ia masih tak  bisa mengerti perkataan gadis dihadapannya itu. Ia memegang bahu sang  adik dan memutarnya hingga menghadap dengannya.

“Bagaimana bisa?”

“Entah, ia mengatakan padaku bahwa aku tak layak untuknya, baginya ia adalah seorang pecundang dan pemberontak dan-“

Yeonhe  menghentikan penjelasannya. Fluida bening dipelupuk matanya mulai jatuh  perlahan. Ia tak kuasa menahan emosi dan rasa kecewa yang ia simpan  sedari tadi. Yeonhe masih tetap menunduk, rambut coklat gelapnya yang  terurai menutupi sebagian wajahnya. Bahunya naik turun, Yoongi tau  adiknya itu sedang terisak. Ia bahkan tak tau harus bagaimana sekarang.  Ia menarik pergelangan tangan kanan sang adik, menuntunnya menuju halte  yang lengang dekat tempat mereka berbincang lalu mendudukkannya disana.

“Lanjutkan”  Ujar Yoongi setelah dirasa berada pada posisi yang nyaman untuk  berbincang masalah yang bisa dibilang sangat penting. Yeonhe bergeming,  tangannya mencengkram kuat rok sekolahnya sembari menutup katup netranya  rapat-rapat, mencoba mengingat kembali kejadian yang ia alami dengan  mantan kekasihnya enam puluh menit yang lalu.

“Taehyung mengatakan bahwa ia tak pantas bersamaku”

“Dia  menganggap bahwa aku ini gadis baik-baik yang tak pantas bersama  seorang lelaki pemberontak sepertinya” Ujar Yeonhe masih dengan muka  tertunduk, menatap sepatu Converse merah, barang couple nya dengan  Taehyung.

“Aku masih mencintainya juga mengaguminya. Aku tak  pernah berfikir bahwa ia adalah seorang pecundang yang tak pantas  bersamaku. Aku mengaguminya apapun kekurangannya bahkan jika ia seorang  pemberontak atau pembunuh keji sekalipun. Aku mengagumi hatinya yang  tulus dan sifatnya yang ceria” Tambah Yeonhe, lalu terisak kembali.  Mengingat kejadian itu kembali, sudah cukup membuat hatinya pilu.  Menambah rasa pening yang mulai menjalar dikepalanya.

Yoongi  memijit pelipisnya pelan. Disisi lain, Yeonhe adalah adiknya. Namun,  disisi yang lain pula Taehyung adalah temannya. Ia tau apa yang dialami  Taehyung sehingga Taehyung memilih jalan yang sebenarnya membuatnya  semakin pelik. Yoongi tak bisa mengatakan apapun selain memberi tau hal  yang sebenarnya terjadi pada Yeonhe. Ia tak ingin berlagak bijak kendati  ia tak tau harus melakukan apa.

“Jujur, aku tak tau harus bagaimana sekarang, tapi aku ingin kau tau”

“Bahwa Taehyung sedang dalam fase tersulitnya saat ini. Ia merasa bahwa-“

Yoongi  bergeming menatap adiknya yang terlihat kacau saat ini. Seketika itu  sang adik mendongak, menatapnya dengan air mata yang membasahi pipinya.  Hatinya bagai dicambuk saat ini melihat sang adik dalam keadaan yang  kacau.

“Apa yang terjadi pada Taehyung kak?”

“Aku tak bisa menceritakannya padamu”

“Kak kumohon, katakan saja”

“Taehyung yang akan menjelaskannya sendiri padamu nanti. Ini menyangkut keluarganya”

Yeonhe kembali bergeming. Mencoba mencerna pernyataan sang kakak yang membuat hatinya semakin perih.

“Pikirannya sedang pelik Yeonhe-ya. Aku sendiripun juga tak mengerti apa maksud Taehyung”

“Tapi percayalah, ia sama sepertimu ,sangat tulus padamu. Ia pun juga sangat mengagumimu bahkan sampai saat ini” Ujar Yoongi.

“Kak Yoongi” Lirih Yeonhe dengan tangisnya yang semakin kencang sembari membungkam mulutnya. Mencoba meredam suara tangisnya.

“Sudah jangan menangis lagi. Kau jadi jelek kan. Hapus air matamu” Ujar sang kakak sembari menghapus air matanya.

“Aku  bukanlah kakak yang baik. Tapi, aku paham betul keadaanmu. Biarkan  Taehyung menenangkan pikiran kacaunya dulu dan kau Yeonhe-ya bersabarlah  sebentar, jika Taehyung sudah merasa baik kau bisa bicarakan segalanya  dengan baik-baik bersamanya. Percayalah, aku dibelakangmu”

Gadis  bergaris Min itu memandang lekat iris coklat kakaknya. Tak selamanya  Yoongi adalah kakak yang terlihat dingin, ia tau  kakaknya memiliki  sifat yang jauh lebih baik yang disebut dengan ’kehangatan’.
Lengkungan  kurva tipis disudut bibirnya terbentuk kembali. Yoongi lega bukan main,  sang adik dapat tersenyum kembali meski ia tau itu senyuman yang  memaksa.

“Terimakasih kak. Hatiku sudah lebih baik sekarang” Ujar  Yeonhe lantas berhambur memeluk sang kakak, menumpahkan rasa perih yang  merengkuh relungnya. Yoongi mengelus surai halus sang adik. Ia tak  peduli bagaimana pandangan orang-orang yang sama-sama sedang menanti bus  seperti dirinya dan Yeonhe, yang jelas adiknya sudah merasa lebih baik  sekarang kendati belum sepenuhnya.

“Mau makan ice cream cotton candy? Aku yang traktir” Tawar Yoongi ditengah isakan sang adik yang mulai mereda.

Mendengar  pernyataan Yoongi barusan berhasil menciptakan senyum lebar pada katup  gadis bergaris Min itu dan melepas pelukannya dengan Yoongi.  Mengembalikan aura ceria sang adik dan mengusir suasana melankolia yang  sempat mengudeta.

“Baiklah kak. Tapi kali ini kau harus mencoba rasa Bubble Gum”

“Ah, tidak tidak- Kau saja yang memakan rasa itu”

“Apa sih yang salah dari rasa Bubble Gum kak?”

“Tak ada yang salah”

“Lalu mengapa kau membencinya?”

“Ah sudahlah. Busnya sudah datang”

“Kak Yoongi jawab pertanyaanku. Mengapa kau membenci rasa Bubble Gum?”

“Kau ini banyak tanya”

“Sungguh! Menyebalkan!”

.
.

.

.

.

.

fin.

Maafkan daku kalo ffnya ancur parah dan nggak banget :’v Namanya juga baru pertama kali kirim ff begini:’v Meski aku telah mecoba menulis bejibun ff tapi nggak ada yang beautiful :’v

Well, Makasih buat readers yang setia baca cerita ini sampek selesai juga buat admin yang udah pos ff ini. Kudoakan bisa cepet ketemu member bangtan ya min :’v

Pembaca yang baik biasanya nggak ngilang gitu aja lo, jangan lupa tinggalin jejak kritikannya dikolom bawah :’v

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s