[BTS FF Freelance] – Fantasy of A Liar – (Chapter 7)

foal4

Fantasy of A Liar (Chapter 7)

by zerronozelos

Main Cast :

| Han Hyun Woo (OC) | Min Yoon Gi |

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst (not sure) etc.

SchoolLife!AU

Rate : T

Length : Chaptered

A/N : Ide cerita murni dari imajinasi liar saya. Kalaupun ada kesamaan, saya jamin tidak akan seluruhnya karena ide cerita datang darimana dan siapa saja—atau kita berjodoh 😀 .. ati-ati, banyak typo bertebaran. […] for flashback. Saya tidak yakin bisa membuat cerita menjadi singkat, karena cinta butuh proses lebih untuk mendalaminya *uhuk* Maaf saya update nya lama :v

Happy Reading and leave a comment please ><

.

.

[ .. Kau tahu apa fantasi terbesar seorang pembohong? .. ]

.

.

Han Hyun Woo POV

Sial. Jari telunjuk dan ibu jariku terasa mau patah. Di depan kelas, papan tulis tak lagi punya celah. Penuh dengan coretan spidol. Materi biologi kelas tiga sempat membuatku pusing, aku memang agak sulit menghapalkan materi. Apalagi materi genetik yang super duper kompleks. Aku harap otakku bisa segera memahami apa yang dijelaskan oleh guru. Mungkin siapapun sering mendengar soal tes DNA, dan bab ini punya penjelasannya. Seringkali aku juga mendengar tes DNA dari drama-drama yang kutonton untuk membuktikan apakah mereka anak dari orang tua mereka. Mengapa menggunakan tes DNA? DNA merupakan penyusun gen. Gen terdapat di dalam kromosom, kromosom terdapat di dalam inti sel, dan inti sel terdapat di dalam sel-sel penyusun tubuh.

Sel-sel seluruh tubuh manusia mengandung kromosom yang berasal dari kedua orang tuanya, artinya individu tersebut mendapatkan DNA sebagai materi genetik yang hanya berasal dari kedua orang tuanya. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa dilakukan tes DNA. DNA akan dicocokkan dengan DNA kedua orang tuanya karena anak mendapat materi genetik dari kedua orang tuanya. Ternyata aku ini keren. Kalau ada sesuatu yang salah, maklum sajalah karena aku masih belajar.

“Hyun Woo.”

Bisik-bisik tetangga. Aku menoleh ke arah samping kanan.

“Apa?”

“Jariku kram.” Hye Ri memperlihatkan jari-jarinya yang memerah akibat terlalu lama menulis.

“Punyaku serasa mau patah.”

TAK

Tutup spidol mampir di dahi. Aku menegakkan kepala.

“Han Hyun Woo, dilarang bicara saat mencatat. Kau tahu peraturannya, ‘kan.”

“I-iya, Ssaem.”

“Teruskan mencatat.”

“Sa-saya ingin ke toilet, Ssaem.”

“Cepat kembali setelah itu.”

Kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Aku cuma bisa bolos pelajarannya sekali seumur hidup dan itu adalah hari ini. Maka dari itu aku tidak boleh ragu-ragu untuk kabur. Setelah menarik kursi, aku pun cepat-cepat pergi dari kelas. Sempat-sempatnya Hye Ri mengutuk karena tidak mengajaknya pergi bersama. Maafkan aku, Hyeri-ah. Tapi aku harus menyelamatkan diriku dari Si Muka Kuda terlebih dahulu.

Buat apa ke toilet, tidur di ruang kesehatan bahkan lebih menyenangkan. Di awal masuk kelas tiga aku pernah berjanji belajar lebih giat karena sebentar lagi aku masuk universitas. Tapi ternyata susah. Aku seperti bicara omong kosong kepada diriku sendiri, karena pada akhirnya aku bersemangat di awal namun mulai melambat di akhir. Semua orang berkata ingin berubah, tapi cuma sedikit yang benar-benar berubah. Dan aku tidak termasuk yang ‘sedikit’ itu

Ruang kesehatan semakin dekat, tinggal beberapa meter aku melangkah dan kasur yang empuk akan menyambutku. Menunggu untuk ditiduri. Pintu bercat putih terbuka, seseorang keluar dari ruang kesehatan lalu menutup pintu. Sial sial sial, aku kembali ke kelas saja kalau tahu dia berada di sini. Cepat-cepat balik badan sebelum aku berpapasan dengannya. Atau aku bisa pingsan karena ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Tidak, aku tidak kuat kalau disuruh mengingat-ingat soal ciuman masker. Maaf, tapi aku menyebutnya seperti itu.

“Itu kau, Han Hyun Woo?”

CHECKMATE

Diriku telah ditemukan.

Argh, aku tidak siap bertemu Min Yoon Gi hari ini.

Tolong, jauhkan dia dariku selama beberapa saat agar aku bisa berpikir jernih lagi.

Kaki-kakiku semakin cepat melangkah, malah lebih mirip lari kecil. Tapi suara langkah kaki berat dari belakang terdengar semakin keras. Jangan bilang kalau dia lari. Aku ketakutan setengah mati jika dia bisa menyamai langkahku.

“Han Hyun Woo.”

“…”

“Kenapa kau berjalan cepat-cepat begitu? Sedang kebelet, ya? Ingin cepat sampai toilet?”

Fitnahlah aku sekejam-kejamnya, aku tidak mau berhenti untuk sekedar mengomelimu.

Tidak untuk hari ini.

“Tapi arah toilet sebaliknya, kenapa kau malah ke sana.”

Benar juga.

“Oh, kau habis dari toilet?”

Tidaaaakkk…

Aku bisa gila. Kenapa suaranya keras sekali. Memang secepat apa Yoon Gi bisa menyusulku.

Kenapa dia terus mengikutiku. Berhentilah.

“Mau kutemani ke toilet?”

Tidak tahan lagi. Aku pun melempar sepatu ke arahnya.

“Apa-apaan kau ini? Sepatu jelek seperti itu bisa membuat seragamku kotor.”

“Tentu, sudah hampir tiga bulan aku tidak mencucinya.”

“Pantas aku mencium bau busuk, ternyata itu dari sepatumu. Kau pasti sedang sangat kebelet. Pagi tadi saat mandi tidak sekalian?”

“Bicara apa kau. Aku tidak kebelet.”

“Lalu kenapa jalan—atau lari seperti itu?”

“Aku baru memikirkan sesuatu, mungkin tadi aku tidak kebelet. Tapi entah mengapa setelah melihat wajahmu, aku langsung kebelet.”

“Tunggu, maksudmu wajahku ini merangsangmu untuk kebelet?”

“Stop. Berhenti bicara!”

“Tapi serius. Wajah tampan sepertiku?!”

“Cih.”

Terus saja seperti itu, memuji diri tiada habis sampai teori bumi datar diwujudkan.

Lagian percuma juga kalau wajah tampan tapi merangsang orang lain untuk kebelet.

Aku berlari mengambil sepatu yang tergeletak di samping kaki Yoon Gi. Terlalu lama berada di sini bisa membuatku separuh gila. Setelah sepatu dalam genggaman, aku balik badan. Tapi dahiku menubruk sesuatu.

“Ah.”

“Oh, Hyun Woo-ya.”

Kedua tanganku memegangi dahi, aku berusaha mendongak untuk menemukan seseorang yang tubuhnya sekeras batu. Dia pasti laki-laki, aku yakin tadi menubruk sesuatu yang rata dan keras. Pasti dada seorang laki-laki. Prediksiku mutlak.

“Kim Tae Hyung?” Setelah aku berteman dengannya, aku jadi sering bertemu dia dimana-mana.

Jangan-jangan .. kata orang-orang, jodoh tidak kemana.

Hampir saja aku terbahak.

“Perlu ke ruang kesehatan? Sepertinya kau menubrukku terlalu keras.” Tawar Tae Hyung sambil memegangi lenganku.

“Dahiku bengkak gara-gara menubrukmu.”

“Ayo, ke ruang kesehatan. Aku akan mengompres dahimu.”

“Tunggu sebentar.”

Kami berdua lantas menoleh mendengar perkataan Yoon Gi yang menginterupsi.

“Dasar drama. Kau pasti sengaja menabraknya, ‘kan? Kau juga, Kim Tae Hyung, apa dia sakit separah itu sampai harus dikompres segala huh?”

Min Yoon Gi.

Omelannya sebelas dua belas dengan ibu-ibu.

Aku tidak tahu kalu dia punya bakat mengomeli sedetil itu. Kami berdua bahkan terkejut karena orang yang dielu-elukan oleh semua gadis di sekolah berubah mirip ibu-ibu dalam beberapa detik terakhir. Tae Hyung melepas pegangannya, Min Yoon Gi mengomel sampai membuat Tae Hyung ketakutan. Tidak tidak, tapi bolehkah aku menyebut ini sebuah .. kecemburuan mungkin. Lagi-lagi aku hampir terbahak.

“Jangan tertawa kau, Han Hyun Woo.”

Yoon Gi bisa membaca raut wajahku ternyata. Seketika itu juga aku mengatur ekspresi wajah.

“Aku menyesal karena sudah menahan tawaku yang berharga.” Aku menanggapi santai.

“Sialan.”

“Jadi kau ingin ke ruang kesehatan atau tidak?” Tanya Tae Hyung.

“Tentu saja. Kau berhutang soal ini tahu.” Telunjukku menunjuk dahi.

“Maaf.”

Kami berdua berjalan menuju ruang kesehatan. Memang tujuanku sejak awal ke ruang kesehatan, tapi terhambat gara-gara ada seseorang yang tidak diinginkan menghalangi jalan. Yoon Gi menatap ke arah kami, dia pasti berpikiran untuk mencincang sesuatu. Seperti daging orang misalnya. Tae Hyung tetap memasang senyuman hangat meski diberi tatapan pembunuh. Pasti Tae Hyung termasuk golongan orang-orang tidak peka. Mungkin ketidak pekaannya melebihi Min Yoon Gi.

Ruangan didominasi warna putih menyambut kami berdua. Aku segera menghampiri tempat tidur. Ini beribu-ribu kali lebih menyenangkan ketimbang mendengarkan Si Muka Kuda menjelaskan materi genetika. Tae Hyung sibuk mengambil kompres dan baskom, lalu mengisinya dengan es. Bagaimanapun juga dahiku tidak bengkak parah, tidak sampai harus mendapat perawatan macam itu. Tapi sayang sekali kalau menyia-nyiakan niatan baik orang lain.

Tanpa sadar, Min Yoon Gi masih memaku diri di depan pintu. Mengamati kegiatan kami berdua. Seolah-olah mengontrol segala sesuatunya agar terlihat stabil—padahal kami bukan grafik keuangan. Aku menghela napas, lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingku.

“Kalau mau duduk silakan saja.”

“Tidak sudi.”

Perkataannya mungkin terdengar pedas bagi sebagian orang, namun telingaku sudah cukup terlatih untuk mendengar hal-hal vulgar maupun tak mengenakkan semacam itu. Tae Hyung mendekat lalu mengangkat tangan guna menempelkan kompres ke dahi. Tiba-tiba tempat tidur yang kududuki bergetar.

“Biar aku saja.”

Tangan Yoon Gi dengan cepat merebut kompres dari Tae Hyung.

Tae Hyung hanya terdiam, terpana dengan sikap Yoon Gi yang tidak bisa ditebak sama sekali.

Ya. Berikan padaku.” Aku meminta padanya.

“Tidak mau.” Tolak Yoon Gi.

“Apa-apaan kau ini?!”

“Tidak mau.”

“Aku akan mengambilkan kompres lainnya.” Potong Tae Hyung sambil menunjuk lemari.

“Oh, terima kasih.” Aku melempar senyum.

“Tidak. Tunggu.” Ujar Yoon Gi cepat.

Tae Hyung yang bersiap mengambil kompres pun dibuat berhenti berjalan. Padahal dia bermaksud baik kepadaku. Emosi seorang Min Yoon Gi tidak tertahankan. Bahkan lebih parah dari remaja perempuan yang mengalami premenstrual syndrome. Dia berlaku aneh. Terlampau aneh sampai aku tidak mengerti harus berkomentar apa. Takut kena marah.

“Mari kita keluar bersama.”

Tiba-tiba Yoon Gi menarik lengan Tae Hyung lalu menyeretnya ke arah pintu. Yang membuatku heran adalah mengapa Tae Hyung terlihat pasrah? Oh, tidak, jangan mau dipermainkan oleh Yoon Gi, Tae Hyung. Berjungalah untuk mendapatkan hakmu. Kenapa kau malah diam begitu?!! Apa aku harus turun tangan untuk melepaskan tangannya darimu?!

Aku mendengar Yoon Gi menggumam. Kalau tidak salah seperti ini ‘daripada berebut, lebih baik kita berdua keluar dan meninggalkan dia sendirian’. Berebut apa? Kompres? Dasar gila. Tidak bermutu.

Mereka berdua benar-benar meninggalkanku di ruang kesehatan sendirian dengan pintu tertutup. Ah, benar-benar membingungkan. Aku  berbaring lalu menarik selimut. Agenda tidur siang di sekolah tidak boleh terganggu. Lagipula aku tidak sering-sering melakukan hal nakal semacam ini. Jangan sumpahi aku menjadi anak bodoh.

Terdengar suara benturan keras dari arah pintu, aku sontak duduk. Pintu terbuka dan menampakkan seorang siswi dengan wajah tanpa dosa. Aku menghela napas. Bukan aku yang mempengaruhi Hye Ri agar membolos pelajaran di ruang kesehatan. Dia datang karena keinginannya sendiri. Murni tanpa bujukan. Hye Ri segera berbaring di sebelahku. Aduh, sungguh jatah tempat tidur pun berkurang.

Aku pun mendorong Hye Ri.

Ya!” Bersamaan dengan teriakannya, dia terjatuh.

“Maafkan aku, tempat tidur di sebelah sana kosong.”

“Lama-lama kalian berdua sama.”

Hye Ri berbaring di tempat tidur sebelah.

“Siapa maksudmu?”

“Kau dan Yoon Gi. Siapa lagi.”

“Hah?”

“Jadi, kau masih suka padanya?”

“Entahlah.”

Tiba-tiba Hye Ri ribut duduk dan menatapku.

“Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui perasaanmu sendiri?”

“Aku jadi bimbang.”

“Kalian berdua memang sama-sama tidak jelas.”

“Apa?”

“Ini semua seperti permainan.”

Permainan? Kira-kira siapa yang menawariku bermain permainan seperti ini? Tentu Min Yoon Gi. Aku sudah sangat serius mengungkapkan perasaanku waktu itu. Tapi yang kudapat hanya senyum arogan dan pujian karena aku berkata suka dengan cara yang tidak biasa. Jadi bisa disimpulkan permainan ini dibuat oleh siapa. Permainan tarik ulur sangat tidak menyenangkan. Dan Hye Ri dengan mudahnya melontarkan kalimat seperti itu.

“Kau yang mengungkapkan pertama kali, menunggu untuk sebuah kepastian. Dia yang mendapat pengakuan pertamamu, menunggu untuk sebuah keyakinan.” Hye Ri tersenyum

“…”

“Yang aku tahu, semuanya adalah proses. Dan .. wajar saja, kita masih remaja beridealisme tinggi.”

“Aku hanya—“

BRAK!

“Jung Hye Ri kau dipanggil Na Sonsaengnim.”

Pintu ruang kesehatan terbuka, Tae Hyung tampak berdiri di sana. Anak itu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, ya? Tidak sopan sekali.

“Benarkah? Astaga, dia akan melakukan apa padaku?!!” Hye Ri melolong.

“Entahlah. Tapi beliau ingin kau segera ke ruang guru.”

“Baiklah.”

Dalam sekejap Hye Ri pun menghilang.

Aku menatap Tae Hyung, yakin sekali kalau tadi cuma akal-akalan untuk mengisengi Hye Ri. Tapi, aku sama sekali tidak menemukan senyuman nakal atau apapun di wajahnya. Dia hanya menatapku datar.

“Kau juga ingin bolos pelajaran? Mengapa masih di sini?”

“Kupikir kita perlu bicara berdua.”

“Baiklah.”

Tae Hyung menghampiriku dan menarik tanganku. Lantas kebingungan luar biasa melanda. Aku menahan badan.

“Bicara di sini saja.”

“Aku butuh tempat privasi untuk bicara padamu.”

“Hmm .. baiklah.”

Min Yoon Gi POV

Kemana anak bernama Kim Tae Hyung itu?

Sial.

Tiba-tiba saja dia menghilang tanpa jejak.

Padahal niatku untuk menjauhkannya sebentar dari Han Hyun Woo. Dan, apa-apaan acara kompres segala. Berlebihan. Dada Tae Hyung bukan batu ataupun tembok. Mungkin Tae Hyun pergi membeli minuman. Kedua kakiku meluncur menuju ruang kesehatan. Tidak tahu mengapa tapi aku harus bergegas ke ruang kesehatan. Seolah-olah aku takut kehilangan sesuatu—atau seseorang?

“Han Hyun Woo.”

Pintu ruang kesehatan terbuka lebar, tapi hanya ada ruangan serba putih yang menyambutku. Aku tidak menemukan bentuk kehidupan apapun di dalam ruang kesehatan. Penasaran, aku pun mengitari seluruh sudut ruangan. Tapi tidak ada tanda-tanda Han Hyun Woo di sini. Jangan-jangan orang itu kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran. Sepertinya aku terlambat.

Sekalian saja aku tidur di sini. Tangan menyibak selimut, kedua mataku membelalak.

“Bodoh sekali. Kenapa dia meninggalkan ponselnya.”

Jiwa ingin tahu pun muncul seketika. Beruntung, ponsel Hyun Woo tidak diberi pengaman apapun. Dasar gadis bodoh dan ceroboh.

Sasaran pertama kali adalah galeri. Bagus. Ponselku sudah siap untuk menerima transfer foto-foto aibnya. Aku pun terdiam. Bisu sudah mulutku.

Foto pertama yang terbuka adalah masker. Dan aku tak mau berkomentar apapun.

Foto kedua adalah secarik kertas penuh coretan di sana-sini. Gadis aneh. Apa motivasinya memotret coretan kaki ayam seperti ini. Susah payah aku mencoba membaca apa tulisannya.

Setelah hari itu, aku penasaran.

Apa yang akan kau hadapi mulai sekarang?

Apa yang akan kuhadapi mulai sekarang?

Aku mencoba menitipkan air mataku bersama dengan tenggelamnya matahari senja.

Sebuah perasaan terlahir dari ratusan juta keajaiban.

Walau kau tidak berubah .. atau walau kau berubah.

Kau tetaplah kau.

Tapi aku khawatir.

Suatu hari kita akan menjadi dewasa dan aku menjadi serpihan kenanganmu.

Namun, aku melihat hamparan langit luas.

Aku merasa, kita yang kecil bisa bertemu.

Aku pun bersyukur karenanya.

Jemariku bergerak menggeser foto, tampak seseorang yang sedang menundukkan kepala.

Bajingan hina.

Aku mengatai diriku sendiri yang tertunduk dalam foto itu. Pasti Hyun Woo mengambilnya saat berada di dalam bus. Di saat itu perasaanya digantungkan. Hatinya diremukkan, oleh orang tak berperasaan sepertiku. Semakin hari, dia bertambah kuat. Laki-laki brengsek seperti Min Yoon Gi membuat otaknya menggerus logika. Terus percaya dengan kejaiban tak berujung.

Semalam Hyun Woo hadir dalam mimpiku. Aku berlari mencoba menggapai tangannya .. namun tak bisa. Dia tak lagi menawarkan tangan. Hanya diam melihatku lalu berjalan pergi, perlahan kegelapan memakanku. Baru aku sadar bahwa semua cahaya yang membuatku bertahan dari sesaknya kegelapan berasal darinya.

Penyesalan menghinggapi hatiku.

Beban ribuan ton mengikat kaki, membuatku tak bisa berlari untuk mengejar kepergian Hyun Woo. Aku pun mati dalam kegelapan.

“Han Hyun Woo.”

Tidak perduli dia sekarang berada dimana, aku hanya perlu meneriakkan namanya ke seluruh penjuru sekolah.

BRAKK!

Dentuman keras pintu ruang kesehatan menabrak tembok. Aku berlari dengan harapan bisa segera menemukan Han Hyun Woo. Bukan saatnya memperdulikan pandangan orang lain terhadapku. Toh aku sudah dicap buruk sejak dulu oleh semua penghuni sekolah. Tidak guru tidak murid, semua menganggapku separuh gila.

Yang kutahu, sekarang aku hanya harus lari lebih cepat.

Satu-persatu ruangan kudatangi.

Nihil.

Han Hyun Woo bagai lenyap ditelan bumi.

Ponsel. Aku pun mengecek nomor telepon Hye Ri, cuma dia teman Hyun Woo yang kutahu. Setelah mengirimkan pesan singkat, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mengatur nafas serta degup jantung. Belum pernah aku merasakan dorongan sebesar ini untuk bertemu seseorang. Hyun Woo bersukur kami yang kecil bisa bertemu di bawah hamparan langit luas. Sepele, tapi cukup bagiku untuk membuat keputusan dalam waktu singkat.

Sekarang .. atau tidak sama sekali.

Ponselku bergetar, satu pesan singkat dari Hye Ri. Sialan. Hye Ri sendiri tidak tahu dimana keberadaan temannya. Pupus sudah. Lagi pula, kemana anak itu?! Jangan bilang kalau dia bolos sekolah lagi untuk bermain game online. Tidak lucu. Aku harus menyusulnya sekarang juga.

“Tunggu sebentar.”

Jangan remehkan orang sepertiku, aku punya nomor ponsel dari pemilik gedung game center itu. Cepat-cepat aku menelponnya. Dia sendiri pasti mengerti kenapa aku menelponnya, tidak lain adalah karena aku sedang butuh sesuatu. Pemilik gedung itu adalah salah satu relasi baik yang dimiliki Abeoji. Tidak sulit untuk mendapatkan informasi darinya.

“Apa? Tidak ada? Baiklah. Terima kasih, Ahjussi.”

Lucu sekali, Han Hyun Woo. Rupanya kau ingin main petak umpet denganku.

Asalkan dia tidak pulang ke rumah, akan kucari lagi ke seluruh penjuru sekolah untuk menemukannya. Bodoh. Disaat-saat krusial, dia malah menghilang pergi. Persis seperti mimpiku. Tapi saat ini aku tidak dirantai beban, aku bebas berlari. Aku mampu untuk mengejar dan mencarinya. Tali sepatu diikat kencang, mari kita mulai semua ini. Dimanakah kau bersembunyi, Han Hyun Woo?

“Min Yoon Gi!”

Pekikan kecil mengejutkanku. Aku menoleh.

“Kau lihat dimana Hyun Woo?”

Hye Ri, dengan nafas terengah-engah menghampiri. Wajahnya penuh rasa khawatir.

“Tidak.”

“Sial.”

“Aku akan mencarinya.”

“Hah? Yang benar saja.”

Mata Hye Ri menatapku tidak percaya. Aku jadi penasaran, selama ini hal apa saja yang pernah Hyun Woo ceritakan tentangku kepadanya.

“Aku serius, bodoh.”

“Akhir-akhir ini kalian terlihat sama satu sama lain.”

“Apa?”

“Memang benar kata orang-orang, kalau berjodoh itu pasti mirip.”

“Wajah kami bahkan tidak ada mirip-miripnya sama sekali.”

“Aku bicara soal tingkah laku, bodoh.”

“Kalau begitu kau cari di daerah timur sekolah, aku akan mencari di daerah barat.”

Kami berdua bersiap memulai ekspedisi dengan misi menemukan Hyun Woo.

***

Ponsel Hyun Woo berada di dalam saku celana. Sudah dua jam lebih aku berputar-putar di tempat yang sama. Entah bagaimana hasil yang Hye Ri dapatkan. Tidak ada yang menyadari kalau Han Hyun Woo menghilang tiba-tiba di sekolah ini kecuali aku dan Hye Ri. Kemana anak bernama Kim Tae Hyung itu? Batang hidungnya saja tidak kelihatan. Dia pasti tidak tahu kalau Hyun Woo menghilang. Harusnya Hyun Woo melihatku disaat-saat seperti ini, disaat aku kerepotan mencari dirinya.

“Aku bisa gila.”

Satu botol minuman kutenggak cepat. Belum ada kabar dari Hye Ri yang menyisir daerah timur sekolah. Kemana perginya anak itu?

Perasaan lama telah terisi kembali. Aku memandang masa lalu. Perasaan ditinggalkan yang selalu menghinggapi hati. Terlalu kuat untuk dienyahkan. Mengakar hingga setiap keping darahku. Perasaan yang membuatku terus mundur ke tahun-tahun suram. Kali ini aku pun tidak mau merasa kehilangan lagi. Sudah cukup berdiam diri selama bertahun-tahun.

Aku kembali berdiri, berjalan pelan guna memulihkan tenaga yang luruh oleh keringat. Botol kosong kulempar begitu saja saat melewati tempat sampah. Cuma aku orang yang keluyuran di tengah jam pelajaran begini. Kira-kira untuk siapa aku menghabiskan waktuku di koridor? Padahal markasku berada di rooftop. Tapi bahkan seseorang bisa menarik kuat Min Yoon Gi untuk bergerak di sekitar kelas, dia punya magnet dan medan magnet yang kuat.

“Yoon Gi!”

Pundakku ditepuk keras dari belakang. Spontan aku menoleh lalu mendapati Hye Ri yang wajahnya sangat kucel.

“Dia tidak ada dimana-mana.” Hye Ri memberi laporan.

“Kau sudah cari di kamar mandi? Yakin dia tidak terkunci di sana?”

“Seratus persen yakin.”

“Lalu bagaimana selanjutnya?”

“Aku sudah lapor wali kelas. Kita tidak bisa mengatasi semuanya sendirian.”

“Kenapa kau lapor? Kita bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Kalau kau tidak mampu, maka aku yang akan melakukannya.”

Hye Ri menghela napas.

“Han Hyun Woo adalah salah satu orang penting dalam hidup kita. Aku harap kau menganggapnya begitu. Kau tidak bisa mencarinya sendirian, Hyun Woo adalah salah satu siswa di sini. Dia masih siswa resmi. Pihak sekolah juga punya tanggung jawab terhadapnya. Jadi aku berharap bukan hanya kita yang merasa kehilangan. Semua orang harus merasa kehilangan dia.”

Setelahnya datang wali kelas kami. Hye Ri langsung melapor lagi. Samar-samar aku mendengar Hye Ri mengatakan bahwa Hyun Woo tidak ada dimanapun. Wajah wali kelas tampak khawatir. Entah khawatir karena ada laporan yang masuk tentang hilangnya salah satu siswa atau khawatir karena kasus ini bisa menyebar dan membuat nama sekolah jelek. Bagaimanapun juga aku tidak bisa menghentikkan pikiran buruk yang memang asalanya datang dari hati.

Itu semua karena aku antisipasi.

Dan pikiran buruk adalah suatu kebiasaan yang memang aku kembangkan dalam diriku sendiri. Karena manusia tidak akan pernah tahu nasib, maka dari itu pikirkan kemungkinan terburuk. Jangan hanya mengharap kemungkinan terbaik. Selama masih ada kemungkinan terburuk maka semua orang akan memikirkan berbagai cara.

“Wali kelas akan mencoba memanggil pihak keamanan sekolah. Sekarang, bagaimana dengan kita?” Hye Ri menghamipiri.

“Terserah kau saja. Aku akan tetap mencarinya. Kabari aku kalau dia sudah ditemukan.”

“Baiklah.”

Author POV

Hyun Woo menggerak-gerakkan kedua tangannya yang berhimpitan. Tali berukuran sedang melingkari pergelangan tangan. Dia sibuk melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikat kuat. Tidak masuk akal. Mau berteriak juga rasa-rasanya tidak mungkin. Tidak akan ada yang keluar dari mulut Hyun Woo. Dia juga seakan buta karena dia tak bisa melihat apa-apa.

Han Hyun Woo sadar kalau dia disekap.

Sepelan mungkin Hyun Woo mencoba melepaskan ikatan tali yang berpotensi membuat kulit tangannya iritasi. Pekerjaan ini harus dilakukan hati-hati kalau tidak ingin ketahuan. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa kondisinya bisa sampai begini. Hyun Woo ingat kalau dia masih harus menunggu Tae Hyung yang pamit ke kamar mandi. Setelahnya gelap .. dan bau aneh menyeruak masuk hidung.

“Hmph ..”

Dia seakan dipaksa diam. Pasti susah payah Hyun Woo menahan hasrat ingin mengomel. Yang lebih penting sekarang adalah melepaskan diri, bukan malah mengatai-ngatai orang yang menyekapnya. Apabila dipikirkan kembali dan berulang-ulang, apa yang orang itu inginkan? Menyekap Hyun Woo bukanlah pilihan baik. Tidak ada yang menyadari kalau Hyun Woo hilang. Percuma saja menelpon rumah karena ingin minta uang tebusan. Orang tuanya tidak semudah itu percaya.

Tiga jam yang lalu ..

Kim Tae Hyung dan Hyun Woo berjalan bersamaan menyusuri koridor kelas satu. Langkah Tae Hyung tampak tergesa-gesa sehingga membuat Hyun Woo kebingungan. Wajahnya juga datar sedari tadi. Suasana sekitar terlihat suram. Hyun Woo sendiri tidak mengerti aura apa yang sedang dikeluarkan oleh lelaki bermarga Kim itu. 

“Kenapa tergesa-gesa? Kita bisa berjalan santai.” Ujar Hyun Woo.

“…”

“Oi, Tae Hyung.”

“Diamlah.”

Dan setelahnya tidak ada lagi suara. Hyun Woo menurut-nurut saja karena suara Tae Hyung terdengar bergetar. Dia tidak berani menanyakan lebih lanjut apa yang sedang terjadi sehingga membuat mereka harus berjalan seperti dikejar anjing liar begini. Saat itu Hyun Woo sadar kalau Tae Hyung mengarahkan mereka berdua ke kamar mandi. Seketika itu juga pikiran aneh berputar-putar di dalam kepala Hyun Woo.

“T-Tae Hyung.” Panggil Hyun Woo ragu-ragu.

“Tenanglah. Aku memang ingin mengajakmu bicara tapi bukan di toilet. Aku hanya kebelet pipis saja.” Tae Hyung menoleh dan tersenyum.

“Oh, baiklah. Aku tunggu di sini saja.”

Hyun Woo berhenti berjalan, lagi pula tidak mungkin dia ikut masuk ke toilet anak laki-laki. Bisa-bisa gempar satu sekolah. Akhirnya Tae Hyung berjalan sendiri menuju toilet yang berada di belokan pertama. Hyun Woo melipat kedua tangannya di depan dada sembari berpikir. Kira-kira apa yang Tae Hyung ingin bicarakan? Kenapa bicara di ruang kesehatan saja dia tidak mau. Padahal ruang kesehatan notabenenya sepi. 

Apakah ini sesuatu yang sangat privasi?

Tiba-tiba Hyun Woo merasa sok jadi orang penting yang siap menerima rahasia terbesar dari orang lain. Lagaknya saja sudah seperti saksi kunci. 

“Hahaha ..”

Dia tertawa membayangkan wajahnya sendiri. Sudah dua puluh menit lebih Tae Hyung pergi ke toilet. Tapi belum ada tanda-tanda kemunculan darinya. Hyun Woo menatap jarum jam tangannya.

“Kenapa lama se—hmph!!”

Bau menyengat menusuk hidung Hyun Woo. Ini kloroform. Dia terkejut saat ada kain menutup separuh wajahnya ke bawah. Disertai tangan yang membekapnya dengan kuat. Perlahan-lahan mata Hyun Woo terasa berat, dia memaksakan diri agar tidak pingsan. 

Namun Hyun Woo tetap pingsan.

Dan sekarang keadaan Hyun Woo menjadi seperti ini. Tangan terikat. Mulut di dibekap menggunakan kain yang diikat di belakang kepalanya. Jangan lupa mata yang dipaksa tertutup oleh kain gelap. Hyun Woo awalnya merasa takut.

Tetapi dia sadar kalau ketakutan tidak bisa menyelamatkan dirinya. Pelan-pelan Hyun Woo tenang dan mulai mencoba melepaskan diri. Dia tidak peduli kalau penculik itu menertawakan dirinya yang sedang berusaha kabur. Mungkin saja penculik itu berada di depan Hyun Woo dan menatapnya geli. Pergelangan tangan Hyun Woo terasa perih dan panas.

Percuma sebenenarnya. Tali ini mengikat tangan Hyun Woo dengan kuat, sampai mustahil rasanya kalau tidak dipotong dengan pisau. Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang mendekat ke bagian belakang kepalanya. Ikatan kain yang membekap mulut Hyun Woo dilepas oleh seseorang. Tidak masuk akal.

“Apa yang kau lakukan?!” Hyun Woo bertanya galak.

Tidak ada sahutan ataupun jawaban. Hyun Woo semakin kesulitan menganalisa siapa orang yang menculiknya. Dia tidak bisa melihat dan orang itu tidak mau menjawab.

“Kuberi tahu kau. Tidak ada gunanya kau menyekapku seperti ini. Sekolah tidak akan mencariku, dan keluargaku bukan orang yang mudah percaya dengan ancaman lewat telepon.”

Lagi-lagi, tidak ada sahutan.

Hyun Woo menghela napas.

“Aku minta maaf kalau aku punya salah kepadamu, siapapun kau di situ. Aku tidak tahu kalau aku menumbuhkan dendam di dalam dadamu. Maafkan aku. Tapi mari kita bicarakan baik-baik hal yang kau benci dariku. Aku harap aku bisa merubah diri.”

“Benarkah?”

Kali ini ada sahutan. Tapi Hyun Woo mengerutkan dahi. Penculik itu memakai aplikasi untuk mengubah suaranya. Sungguh pintar. Hyun Woo berpikir kalau penculik itu sudah merekam suaranya sejak tadi dan memutarkan suara aslinya yang sudah diubah lewat aplikasi. Dan bisa diambil suatu kesimpulan kalau semua ini sudah direncanakan. Hyun Woo berdecak tak mengerti.

“Kau ingin apa dariku?” Tanya Hyun Woo.

“Seseorang ..”

“Apa maksudmu?”

“Berhenti mendekati seseorang.”

Hyun Woo sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang ini. Ditambah suaranya yang diubah menjadi cempreng membuatnya kebingungan. Berhenti mendekati seseorang? Hyun Woo mendekati seseorang? Tapi siapa?

“Siapa yang kau maksud? Aku tidak sedang mendekati seseorang.”

“Pembohong. Kau tahu siapa yang kumaksud.”

Min Yoon Gi. Pasti orang itu maksudnya.

“Maksudmu Min Yon Gi?”

“Ya.”

“Aku sudah berhenti mendekati dia. Aku juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini kami sering bertemu. Tapi sudah kuputuskan kalau aku berhenti mendekati dia.”

“Kau .. menyukainya?”

“Entahlah. Tapi kalau kau menyekapku hanya karena hal seperti ini, maka semuanya tidak berguna buatmu. Kau tidak perlu memaksaku untuk tidak menyukainya, karena aku sudah bertekad seperti itu.”

Hening sesaat. Hyun Woo merasa degup jantungnya bertambah cepat. Dia ingin sekali melihat reaksi orang ini. Lalu Hyun Woo kembali bicara.

“Harusnya kau bicara baik-baik denganku. Tidak harus dengan cara seperti ini.”

“Mana bisa?!”

Suara cempreng menggema di dalam ruangan, Hyun Woo menelan saliva berat. Tampaknya penculik itu marah besar kepadanya.

“Gara-gara kau, Han Hyun Woo, sikap Yoon Gi menjadi berubah. Dia tidak lagi sering berada di rooftop. Tidak lagi sering menggambar bunga krisan. Tidak lagi sering merenung. Kau membuatnya benar-benar berubah. Aku membencimu.”

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Kupikir kau sangat mencintainya.”

“Tentu saja!”

Hyun Woo berpikir apakah dia lebih baik diam dan berhenti bicara atau terus menanggapi perkataan penculik itu. Tiba-tiba kain penutup matanya bergerak. Apa maksud orang ini?! Kenapa dia melepaskan penutup mataku?! Batin Hyun Woo bingung luar biasa. Cahaya lampu membuat mata Hyun Woo menyipit, silau. Butuh beberapa menit hingga kedua matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada.

“Dasar kau Jung Ye In ..”

Dia tidak salah lihat. Kalimat Hyun Woo tertelan di pangkal tenggorokan. Hyun Woo menatap penculik itu.

Ini tidak benar

.

.

.

TBC

Maaf sekali chapter ini kurang dari 5k words. Saya bingung harus memutus sampai mana. Dan adegan culik-menculik itu terdengar sangat klise. Terima kasih sudah mau baca dan sampai jumpa di Fantasy of A Liar Chapter 8 😀

Advertisements

12 thoughts on “[BTS FF Freelance] – Fantasy of A Liar – (Chapter 7)

  1. billa

    Aih Author lama sekali post’a.. Ini ff paling di tunggu” dan biasanya selalu di update sebulan sekali. Itu siapa yg nyulik hyun woo? Taehyng kah? Atau taehyung dalang di balik semuah ini?
    Okaylah di tunggu next post nya thor, dan maaf baru baca sekarang :’

    Like

  2. Hyeri_17

    MIAN THORR BARU BACAAA!!! AAIHHHH AKU DAH TUNGGU FF INI DARI AWAL AKU LIBURAN SEKOLAH SAMPE SEKARANG. BIKIN MAKIN PENASARAN AJA THOR. Keep writing ya thorrr. Kenapa yoonginya gk lsgsg ngomong aja sihh TT_TT

    Like

  3. Kurotata

    Author~~ gue makin suka ama suga disiniii >_< ARGH akhirnya dia peka hahaha
    Dan bukannya yein udah mati ya? Masa iya hantu? Terus jangan bilang kimtae tuh dalang dibalik semua ini (?)

    Segitu aja… Ditunggu next chap nya~~~

    Like

  4. Permana

    baguuusss kak ..jadi penasaran kelanjutan nya . Tae hyung kenapa lam banget dikamar mandinya?? Akhirnya Min Yoon Gi sadar!!
    semangat buat kak author 🙂

    Like

  5. kirito

    Sumpah author aku nunggu banget ff ini… suka disaat suga nyari nyari hyun woo dan saat dia cemburu kalau hyun woo deket sama taetae… aku oenasaram kenapa tuh orang bisa hapal suga sering ngegambar bunga… btw taetae kok kamu tidak bertanggung jawab sih?! Apa jangan” kamu juga biang onar hyun woo di culik?

    Like

    1. Makasih udah mau baca
      Mungkin orang itu udah mengobservasi Yoon Gi dari lama😂
      Maafin Tae Hyung yang tidak bertanggung jawab, keburu kebelet pipis mungkin dianya. Makasih udah mau nebak nebak juga😄

      Like

  6. Dae93

    Author yaampun lama banget hiks ㅠ.ㅠ
    Gatau harus bilang apa deh, begitu baca judul “Fantasy of a Liar” di email, jerit jerit dan langsung cus buka xD
    Min Yoongi akhirnya dirimu peka juga hohoho
    Ditunggu next chapternya

    Like

    1. Maaf banget ya kalau lama. Sebenernya chapter ini sudah dikirim dari september, hanya saja harus menunggu giliran untuk di post. Terima kasih sudah mau jerit jerit pas baca judulnya😂
      Maafin Yoon Gi yang baru peka sekarang

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s