[BTS FF Freelance] Loosing You – (Oneshot)

cover-ly-1

Title : LOSING YOU
Author : Valleria Russel/Heni Kurniyasari
Cast : – Tzuyu ‘Twice’ as Cho Soojung
• Park Jimin as himself
Genre : Hurt, Drama, Alternate Universe
Length : Oneshoot
Rated : Teens-13
Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran saya sendiri. Jangan mengkopi apapun tanpa izin ya. Semua yang ada di cerita ini adalah milik saya kecuali tokohnya 🙂 kalo ada waktu luang boleh kunjungi blog saya http://www.valleriarussel.blogspot.com ada ff juga di sana. Terima kasih dan selamat membaca ya semua!!

─tapi yang pernah gagal diantara kami dulu tidak akan pernah ada lagi. Aku tidak akan membiarkan apa yang sudah berakhir kembali lagi.

June 2013
Pengelihatanku buram setelah mendengar ucapan seseorang dihadapanku. Dia tersenyum sendu padaku.
“Aku benar-benar minta maaf, Soojung. Kita tidak bisa melanjutkan semua ini. Aku akan sibuk dengan persiapan debutku dan semua fokusku sekarang adalah untuk mewujudkannya. Aku tidak ingin menyakitimu dan hubungan ini akan sia-sia,” lanjutnya.
Aku masih bertahan dengan kebisuanku. Mulutku tertutup dengan rapat, telingaku mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mataku memandang kedalam mata teduhnya. Hatiku berdenyut dan dahiku berkerut saat merasakan perih.
Inilah yang selalu aku takutkan akan terjadi. Aku berdoa setiap saat pada Tuhan ketika dia membuatku menyerahkan hatiku pada seseorang, kumohon jangan pernah ambil dia dariku. Aku akan hidup dengan itu. Aku hanya tidak bisa percaya jika Tuhan sampai detik ini tidak juga mengabulkan permintaanku ataukah memang Dia tidak pernah mendengarkan permintaanku sama sekali. Aku pernah meminta padanya dulu ketika aku kecil untuk menjaga orangtuaku, tapi Dia menewaskan mereka dalam kecelakaan pesawat. Aku pernah meminta untuk menjagaku dan sisa-sisa hidup yang kumiliki dengan baik, tapi Dia mengirimku ke rumah asuh yang mengerikan hingga membuatku terpaksa hidup dibawah siksaan dan pukulan rotan hingga berakhir di jalanan.
Hari ini mungkin aku telah disadarkan, Tuhan tidak pernah mendengarkan keluh kesah serta memperhatikan penderitaanku. Dia membuatku jatuh hati pada pria yang kini duduk di hadapanku hingga tidak pernah berpikir tentang hidup tanpa dia setelah ini dan Dia merenggut pria ini dariku begitu saja, mematahkan hatiku. Membuat permusuhan permanen denganku selamanya.
“Soojung…”
Aku tidak lagi mengindahkan kata-katanya. Tubuhku seperti terprogram dan kakiku membawaku pergi meninggalkan restoran cepat saji itu. Dia berteriak padaku, tapi otakku tidak mengizinkanku untuk berhenti. Semuanya sudah jelas, dia mendepakku dari hidupnya, tidak membiarkan aku jadi bagian dari mimpi besarnya yang akan segera menjadi kenyataan dalam beberapa hari. Dia tidak menginginkanku di hidupnya sebesar aku menginginkannya. Baiklah, Park Jimin akan kutunjukan padamu jika akupun bisa mewujudkan mimpiku tanpa dirimu. Pergilah dan nikmati waktu-waktu debutmu yang menyenangkan itu. Selamat tinggal.
~~~

Tuan Kim berteriak dengan senang seraya mengacungkan jempolnya padaku. “Selalu menyenangkan bekerja sama denganmu, Soojung.”
“Begitu juga denganku, Pak.”
Aku meninggalkan ruang pemotretan hari ini untuk kembali ke ruang ganti. Aku mendapatkan tawaran untuk menjadi pembawa acara di acara musik Inkigayo hari ini bersama dengan seorang Idol dari grup Monsta X, kalau tidak salah ingat namanya adalah Kihyun, ya benar Kihyun. Aku bukanlah seorang penggemar k-pop jadi aku tidak tahu banyak wajah-wajah Idol, tapi aku cukup familiar dengan nama beberapa grup yang namanya sudah cukup besar.
Setelah tahun-tahun berat, akhirnya inilah yang kupilih untuk hidupku. Menjadi seorang model dan bintang iklan tidak terlalu buruk untukku. Itu cocok dan membuatku nyaman. Umurku sudah 20 tahun sekarang dan itu merupakan umur yang legal di negara ini, itu artinya aku sudah cukup dewasa. Nanti aku akan membujuk Ryu untuk mengizinkanku membawa mobil. Ah dia adalah manajerku.
Karirku sebagai seorang model telah kumulai tiga tahun yang lalu beberapa bulan setelah pria itu mengakhiri hubungannya denganku. Pekerjaan ini membuatku mendapatkan banyak uang sekarang hingga aku tidak perlu mengkhawatirkan akan makan apa aku hari ini dan seterusnya. Aku senang pada akhirnya aku bisa merasakan hidup yang lebih baik dibandingkan sebelum ini.
“Jungie, kau sudah siap? Mereka sudah menghubungi kita, kau tahu kau harus melakukan persiapan sebelum tampil nanti.”
“Tenanglah, aku harus menampilkan yang terbaik nanti agar mereka semua tidak kecewa karena telah membayarku. Kita akan sampai tepat waktu, aku berjanji.”
“Maafkan aku, aku hanya gugup, kau tahu ini adalah acara tv live pertamamu,” serunya.
Aku terkikik mendengar antusiasmenya. “Aku cukup gugup untuk hari ini, Ryu. Aku harap kita tidak mengacaukan apapun.”
“Oh tidak, semua orang akan menyukaimu.”

Kami tiba di gedung SBS sepuluh menit kemudian. Ryu sudah menyiapkan gaun dari sponsor yang menginginkan aku untuk mempromosikannya ke media. Ada banyak wartawan di sini dan Idol-Idol yang mengisi acara hari ini sepertinya juga baru sampai. Aku mengenakan kaca mata hitamku dan memberikan senyuman manis kepada beberapa penggemar yang memotretku. Bagi mereka yang sering melihat majalah fashion tentu wajahku sangat mereka kenal. Aku muncul di cover berbagai macam majalah setiap bulannya.
Ryu membimbingku melangkah menuju ke ruang rias yang disiapkan untuk pembawa acara wanita. Seorang pekerja sudah menungguku di sana dan menyambutku.
“Ini ruang rias Anda, Nona. Acara akan dimulai 20 menit lagi dan sepuluh menit sebelumnya kami akan memberikan pengarahan pada Anda dan partner Anda,” jelasnya.
Aku mengangguk seraya tersenyum. Setelah itu Ryu mulai sibuk dengan alat make up dan rambutku. Tangan-tangan ajaibnya selalu membuatku terkesan, dia mengubah wajahku menjadi begitu cantik dalam beberapa menit, menata rambutku dengan tatanan yang sulit ditiru orang lain.
Aku tiba di belakang panggung bersama Ryu tepat waktu dan kami disambut dengan senyuman menyenangkan dari para crew di sini. Aku membungkuk hormat pada mereka semua. Seorang pria membungkuk hormat padaku, dia memiliki senyuman memikat. Kutebak dia adalah partnerku nanti, Kihyun.
“Senang bertemu denganmu, Soojung sunbaenim.”
“Jangan sekaku itu, aku tidak berasal dari dunia musik, jadi buang embel-embel sunbaenim dan panggil aku Soojung,” balasku.
Pengarah acara memberitahu apa saja tugas-tugas kami hari ini dan urutan acara serta nama-nama grup yang akan tampil hari ini. Aku dan Kihyun latihan sebentar dan ini tidak sesulit itu, kami hanya menempatkan kata-kata yang sama yang harus kami ucapkan bersama-sama dibeberapa kesempatan.
Aku dan Kihyun membuka acara musik ini dengan senyuman dan semangat yang cukup bagus. Penontonnya banyak sekali dan ini cukup membuatku terkesan. Bagaimana jika dulu aku memutuskan untuk ikut audisi di salah satu ajang pencarian bakat, mungkin aku tidak akan menjadi model.
Grup demi grup tampil dengan bagus hingga sekarang aku dan Kihyun sedang bersama dengan tujuh orang pria dengan nama grup Bangtan Sonyeondan. Mereka baru saja mengeluarkan album special dengan musik video berjudul ‘Fire’ yang baru saja dirilis.
Mereka memperkenalkan diri dan saat itulah mataku menangkap seseorang begitu saja, dari ketujuh wajah itu mataku dengan mudahnya menangkap wajah itu. Pria itu. Park Jimin. Dia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya kembali menatap kamera yang sedang menyorot mereka. Salah atau tidak dalam tatapan beberapa detik itu aku melihat ada rindu di sana.
Tiga tahun yang lalu dia meninggalkanku dalam kehancuran dan hari ini ketika takdir mempertemukan kami kembali, aku sudah berhasil dengan hidupku begitu juga dirinya, tapi yang pernah gagal diantara kami dulu tidak akan pernah ada lagi. Aku tidak akan membiarkan apa yang sudah berakhir kembali lagi. Kalau tahu pekerjaanku kali ini akan membawaku untuk bertemu dengannya lagi maka aku akan menolaknya.

Begitu acaranya berakhir, aku langsung menemui Ryu dan memintanya untuk membereskan perlengkapan agar aku bisa segera pergi dari sini. Aku tidak bermaksud untuk terlalu percaya diri tentang kemungkinan dia akan menemuiku lagi, tapi aku tidak mau bertemu atau bicara dengannya sampai kapanpun. Entah rasa seperti apa ini, yang jelas semua cinta sudah mati.
“Ada apa? Kenapa kau terburu-buru?”
“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Sekarang, ayo kita pergi. Pekerjaan sudah selesai dan kau bisa mengurus sisanya. Aku benar-benar tidak ingin berada di sini lebih lama lagi,” tukasku.
Dia menghela napas pasrah dan akhirnya mengangguk setuju. Aku membuka pintu ruang riasku dan mengedarkan pandanganku ke semua arah. Mataku melotot saat melihat Kihyun dan Jimin berjalan bersama kearah sini. Ini buruk!
Aku menarik Ryu keluar dan berjalan nyaris berlari keluar dari gedung, memasang kaca mata hitam dan memakai tudung sweaterku. Ryu membawaku menuju mobilku.
“Soojung, tunggu!”
“Ryu, cepat buka pintu mobilnya!”
“Soojung, dengarkan aku dulu.”
Detik berikutnya tanganku ditarik, membuatku dengan terpaksa harus membalikkan tubuhku.
“Jangan pernah mencoba untuk melarikan diri seperti dulu!”
Setelah tiga tahun, hari ini untuk yang pertama kalinya aku bisa memandang wajahnya dalam jarak sedekat ini. Mata itu. Bibir itu. Bahkan aroma mint dari napasnya masih begitu mempengaruhiku.
“Lepaskan tanganmu!”
“Tidak sebelum kau mau ikut aku pergi sekarang,” ujarnya.
“Cih! Kau pikir siapa dirimu hingga bisa bertingkah seolah-olah kita saling mengenal.”
“Aku ingin memperbaiki semuanya, Soojung. Aku tahu aku telah menyakitimu dulu…”
“Tidak, kau tidak menyakitiku, Jimin, tapi kau menghancurkanku. Sudah tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Semua yang dulu pernah kita miliki telah berakhir. Kau sudah memutuskan untuk menendangku dari hidupmu dan aku sudah berhasil bangkit sekarang. Silakan pergi, aku yakin kau memiliki segudang kesibukan lain yang lebih penting daripada menahanku di sini.”
“Soojung…”
“Jimin, kumohon pergilah dan jangan pernah menemuiku lagi seperti ini. Sudah tidak ada lagi kesempatan. Aku sudah menjatuhkan hatiku padamu dulu, tapi bukannya menjaga kau malah mematahkannya. Malam itu, saat aku meninggalkanmu, aku juga telah meninggalkan semua cintaku dan menyisakan rasa sakitnya saja untuk kunikmati sendiri.”
“Aku mohon, Soojung. Jangan seperti ini,” bisiknya.
“Kenapa? Ini semua keinginanmu. Kau dulu bilang jika hubungan kita akan sia-sia dan itu benar adanya. Lagipula itu sudah sangat lama. Pergilah Jimin! Aku tidak ingin membuat skandal apapun denganmu,” tegasku.
Aku menyentak tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku lantas masuk ke dalam mobil. Ryu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Kau tidak pernah bilang tentang Jimin BTS padaku.”
“Itu hanya cinta bodoh yang tidak penting, Ryu.”
Tiga tahun yang lalu adalah akhir dari semua penderitaanku Jimin. Kau adalah bagian dari kehancuran terbesar yang pernah kualami dan aku tidak akan membiarkan bagian-bagian dari masalalu yang menyakitkan kembali ke kehidupanku yang sekarang. Maafkan aku.

TAMAT~

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s