[BTS FF Freelance] Please, Don’t Run – (Oneshot)

picsart_09-27-03-39-11

Please, Don’t Run

Oneshoot

Please, Don’t Run by @siken11 || Genre : Romance, Sad, Marrige life || Rating : PG – 17 || Lenght : Oneshoot || Main cast : Park Jimin – Han Hyunji || Other Cast : Find Yourself || Credit Poster : by author || Disclaimer @ BTS Park Jimin Min Yoongi and other

~

“Tertangkap karena sebuah kebohongan,

Tuntun aku, hentikan aku,

Bertahanlah, Jangan tinggalkan aku,

Selamatkan aku yang tengah dihukum ini”

~

Semua tokoh di ff ini milik Tuhan dan karakter fiktifnya adalah khayalan author semata. Dan maaf jika ada kesamaan tokoh. Cerita ini murni milik author.

FF ini pernah di post di blog pribadi author. ( http://www.bangjung.wordpress.com )

Gadis itu terpaku, ditempat ia berdiri. Sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dilantai, berusaha mati-matian menahan air matanya agar tidak tumpah ruah terjatuh dan menimbulkan suara tangisan yang memekakkan telinga. Jangankan untuk menangis, untuk terisak kecil saja, ia tak berani.

Dengan sisa tenaga yang ada ia mencoba membalikkan tubuhnya, melangkah menjauh dari lorong gelap yang tidak dapat menyembunyikan sepasang manusia yang tengah bercumbu disana.

Melihat pria yang tengah ia cari keberadaannya, ia temukan sedang bercumbu dengan wanita lain. Membuat hatinya sakit, sesak, remuk, entahlah bahkan ia tak bisa menggambarkan perasaannya sendiri.

Pria itu miliknya, yang baru saja sah menjadi suaminya tadi pagi. Ah, tidak! Bagaimana ia bisa menyebutnya suami atau miliknya, bahkan mungkin pria itu tidak pernah mencintainya. jangankan mencintai, menganggap keberadaannya saja tidak pernah. Mereka menikah karena perjodohan sang nenek pria itu sebelum meninggal. Hanya sebuah amanah.

Apa yang bisa ia harapkan dari pria itu, tidak ada. Gadis itu sadar jika ia bukan siapa-siapa, mulai sekarang, ah, tidak sejak awal ia tidak akan mengharapkan apapun, tidak akan.

Gadis itu melangkah gontai menuju kamar baru mereka, harusnya ini menjadi malam pengantin mereka, tapi yang menjadi pengantin wanitanya bukan dia melainkan wanita lain.

Lupakan! Lupakan kejadian tadi han hyunji! Lupakan! Ah, tidak sekarang margamu menjadi park, ya park hyunji.

Gumam hati kecil gadis bernama han hyunji itu yang sekarang sudah menjadi park hyunji. Gadis itu tidak pernah berfikir atau bermimpi akan menikah dengan Park Jimin, pewaris dari J park Corp yang juga merupakan perusahaan besar dikorea.

Kemudian hyunji berjalan kearah kamar mandi yang berada didalam kamar. Menyalakan shower, dan membasahi tubuhnya tanpa melepas gaun pengantinnya.

Gadis itu mulai terisak, dan menangis. Sekarang ia bisa dengan puas menangisi jalan kehidupannya tanpa merasa takut ada yang tahu, karena hyunji telah mengunci pintu kamar mandi sebelumnya.

~

~

Setelah satu jam didalam kamar mandi, hyunji keluar dengan memakai baju tidurnya. Hyunji terdiam mematung didepan pintu kamar mandi, ia terkejut mendapati suaminya sudah kembali kekamar mereka dan sekarang tengah berbaring dikasur seraya menutup matanya menggunakan lengan kanannya.

“Kenapa lama sekali, apa yang kau lakukan didalam sana! Dan berhentilah menatapiku”

Hyunji tercekat, tidak mampu berbicara. Hyunji kira jimin sudah tidur. Tapi ternyata tidak. Hyunji semakin gugup, melihat jimin bangun dari rebahannya dan melangkah kearahnya.

“Apa kau tidak akan menyingkir dari sana”

Hyunji langsung tersentak dengan suara dingin jimin, kemudian menyingkirkan tubuhnya menjauh dari depan pintu kamar mandi.

“Ma-ma-maafkan aku”

Jimin tidak menjawab, mengacuhkan keberadaan hyunji.

Hyunji menghela nafasnya, kemudian menyemangati dirinya sendiri dalam hati. bahwa ia akan kuat menghadapi ini semua, hanya sebentar, ya hanya sebentar

Tidak, sebelum ia melakukannya, aku yang akan melakukannya.

hyunji memejamkan matanya sejenak, kemudian berjalan kearah lemari pakaian . Ia mengambil baju tidur untuk jimin, meskipun mereka tidak saling mencintai. Hyunji tetap akan bersikap selayaknya seorang istri, dia harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.

Hyunji meletakkan pakaian jimin ditepi tempat tidur, dan kemudian ia membaringkan tubuhnya pada sisi ranjang satunya. Memiringkan tubuhnya membelakangi arah dari kamar mandi.

Jimin yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk melingkari pinggangnya, tersentak setelah melihat baju tidur yang disiapkan hyunji.

Tanpa mengatakan apapun jimin mengenakannya, seraya sesekali menatap punggung hyunji. Setelah selesai jiminpun ikut membaringkan tubuhnya membelakangi tubuh hyunji.

~

~

Keesokan paginya hyunji dan jimin pindah dari rumah orang tua jimin, karena ini permintaan kedua orang tua jimin, mereka berpikir akan lebih baik jika mereka hidup mandiri.

Bahkan, mereka tidak diberikan ijin untuk menyewa pembantu rumah tangga. Tapi mungkin sesekali ibu jimin akan meminta salah satu pegawainya untuk mengecek rumah jimin.

Jimin dan hyunji hanya mengangguk pasrah, menyetujui apa yang diinginkan orang tuanya.

Setelah sarapan pagi, jimin dan hyunji bergegas pindah kerumah baru mereka. Rumah minimalis modern yang cukup besar jika ditinggali hanya dua orang.

Hyunji segera membersihkan rumah, menata pakaian dan barang-barang mereka yang lain. Sedangkan jimin ia langsung pergi keluar rumah tanpa berpamitan.

Hyunji tahu kemana jimin akan pergi, pasti akan menemui wanita itu. Tidak mungkin jimin akan bekerja, karena ayah jimin memberikan jimin libur beberapa hari setelah pernikahan.

Tidak ingin terlarut dalam kesedihan lagi, setelah selesai membersihkan rumah hyunji menyiapkan makan siang seraya menunggu jimin.

Namun hingga pukul empat sore jimin belum kembali, hyunji menunggu jimin hingga tertidur disofa ruang tamu. Bahkan ia melewatkan makan siangnya hanya untuk menunggu jimin.

~

~

Hyunji terbangun, dan mendapati dirinya masih tertidur diruang tamu. Ia melihat jam, dan terkejut setelah tahu ia tertidur hingga petang.

Ia merutuki kebodohannya, apakah jimin sudah pulang, apa jimin sudah makan, bagaimana jika jimin marah. Hyunji langsung bangun dan mengecek sekitarnya. Namun hanya keheningan yang ia dapati.

Hyunji tahu ia semakin bodoh, menunggu jimin sama saja menegaskan bahwa ia benar-benar bodoh dan tidak berguna. Bahkan ia baru sadar jika ia melupakan kebutuhan dirinya sendiri, seperti makan siang yang ia lupakan.

Ia memutuskan untuk mandi dan kemudian menghangatkan masakannya yang tadi siang ia buat.

Ketika hyunji tengah memanaskan masakannya, terdengar suara pintu rumah yang dibuka. Mungkin itu jimin, pikir hyunji, dan benar jimin baru saja pulang. Terlihat jika jimin masih mengenakan pakaian yang sama.

Sejenak mereka saling pandang, hyunji melihat dengan pandangan kecewa dan sedih yang dengan sempurna ia tutupi. Sedangkan jimin menatap hyunji dengan pandangan biasa dan merasa tak bersalah.

Lama mereka berpandangan, hingga jimin lebih dulu memutuskan kontak mata mereka dan berdehem.

“Kau tidak perlu masak, aku baru saja makan diluar”

Tanpa melihat hyunji, jimin melangkahkan kakinya memasuki kamar.

Hyunji hanya tersenyum miris, harusnya ia tahu, tapi ia tidak bisa meninggalkan kewajibannya. Apalagi membenci jimin, itu tidak mungkin.

Sejak awal, kali pertama mereka bertemu hyunji sudah menaruh hati pada jimin. Jika hyunji bisa memilih ia tidak akan mau menaruh hatinya pada pria itu. Tapi apa daya, tidak akan ada yang bisa menolak jatuh cinta.

~

~

Tanpa mengeluh hyunji benar-benar menjalankan kewajibannya, memasak, mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan jimin. Meskipun jimin mengacuhkannya, dan terkadang tidak memakan masakannya.

Dengan sabar hyunji menghadapi sikap jimin, ia tahu posisinya. Namun setidaknya jimin mau memakai pakaian yang ia siapkan, meski terkadang tidak mau makan malam dirumah dengan alasan sudah makan diluar.

Untuk sarapan jimin terkadang masih mau makan, jika tidak terburu-buru kekantor. Untuk makan siang hyunji tidak pernah menyiapkannya.

Dan karena hal itu sekarang hyunji menyiapkan makan siang jimin dan akan mengantarkannya kekantor pria itu. Hyunji melakukan ini karena  permintaan ibu mertuanya.

Hyunji pergi kekantor jimin menggunakan taksi, karena dirumah mereka tidak ada supir.

Hyunji sudah sampai didepan pintu ruangan jimin, ia tidak mendapati sekretaris jimin dimejanya. Mungkin sedang makan siang, pikir hyunji. Jadi ia putuskan untuk masuk saja langsung keruangan jimin.

Baru hyunji membuka sedikit pintu itu, ia merasa menyesal karena memilih langsung masuk.

Jika saja ia mengetuk dulu mungkin ia tidak akan melihat adegan menyakitkan itu lagi. jimin dan wanita itu tengah berciuman diruangan jimin.

Dengan perlahan hyunji menutup pintu, kemudian berbalik untuk segera pergi. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak pecah.

Ketika ia berbalik badan hyunji bertemu gyuri dengan sekretaris jimin yang baru kembali.

“Oh, nyonya park. Apakah anda ingin bertemu dengan tuan park?”

“A-ak-aku, aku hanya ingin mengantarkan makan siang, tapi, sepertinya ia sedang bertemu dengan orang penting. Aku tidak ingin menganggunya. Bisakah aku menitipkan ini saja, padamu gyuri?”

Sang sekretaris agak bingung, mendengar nada serak hyunji. Dan sedikit bingung melihat mata hyunji yang sedikit memerah. Namun ia tidak berani untuk bertanya.

“Baiklah, akan aku sampaikan”

Hyunji memaksakan tersenyum, kemudian berlalu dengan tergesa. Meninggalkan tanda tanya pada sang sekretaris.

Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengamati apa yang baru saja terjadi. Dan kemudian tersadar akan sesuatu setelah melihat pintu ruangan jimin yang masih sedikit terbuka.

Pria itu berjalan kearah pintu dan menutupnya, gyuri yang melihat pria itu mengkerutkan dahinya bingung. Pria itu membungkuk dan berlalu melewati gyuri begitu saja.

Gyuri semakin bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Saat akan membalikkan tubuhnya gyuri tersentak ketika melihat atasannya sudah berada didepannya.

“Siapa yang berani membuka pintu ruanganku?”

Gyuri menelan ludah dengan susah payah.

“Ta-ta-tadi nyonya park hyunji datang untuk menemui anda tuan tapi ia urungkan, nyonya bilang anda sedang bertemu dengan orang penting. Tapi saya tidak tahu, apakah nyonya membuka pintu atau tidak”

Jimin mengkerutkan dahinya, gyuri yang melihat kebingungan atasanya kembali menjawab

“Tapi… tadi… saya melihat tuan min yang menutup pintu ruangan anda tuan”

Jimin memejamkan matanya dan mengerang pelan mendengar jawaban atas kebingungannya

~

~

Hyunji terduduk terisak, menekuk lututnya seraya membenamkan kepalanya dilutut. Hyunji kini berada ditaman dekat kantor jimin, ia bersembunyi dibalik pohon agak jauh dari keramaian. Gadis itu tak menyadari ada seorang pria yang tengah menatapnya iba.

Pria itu mendekati hyunji dan berjongkok didepan gadis itu. Hyunji yang merasa ada seseorang didekatnya langsung mendongakkan kepalanya.

Dan betapa gadis itu terkejut melihat siapa pria yang tengah berjongkok didepannya.

“Tu-tu, tu-an Min”

Pria yang dipanggil min yoongi itu adalah orang kepercayaan jimin, atau orang menyebutnya tangan kanan orang tersebut.

Yoongi memberikan sapu tangannya pada hyunji. Dengan tangan gemetar hyunji mengambil sapu tangan yoongi.

“Menangislah sepuasmu. Aku akan menemanimu. Dan panggil saja aku suga”

“Ta-tapi…”

“Lanjutkan saja menangismu, aku tahu semuanya. Tidak perlu menutupinya”

Tanpa disuruh dua kali hyunji langsung terisak kembali, sedangkan suga duduk disamping hyunji.

Suga menghela nafas berat, ia tidak habis pikir. Kenapa jimin dengan bodohnya menyia-nyiakan wanita sebaik hyunji.

~

~

Jimin mondar-mandir didalam rumah dengan perasaan tak karuan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan namun hyunji belum juga pulang.

Membuat ia khawatir. Bisakah ia menyebut ini khawatir,

ah, tidak, tidak. Elak jimin.

Namun jujur jimin mulai terbiasa dengan keberadaan gadis itu. Terbiasa dengan segala sesuatu yang diberikan gadis itu. Jimin menghela nafas beratnya.

Jimin menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu dibuka, dan menampakkan hyunji yang baru saja tiba.

Mereka saling berpandangan intens, hingga membuat hyunji gugup dan juga takut. Gadis itu mencoba mengalihkan pandangannya dengan sedikit menundukkan kepalanya dan berjalan perlahan kearah jimin.

“Dari mana saja kau!”

Mendengar suara dingin jimin yang sarat akan emosi, semakin membuat hyunji gemetar.

“Ma-maafkan aku, ak-aku tadi keluar sebentar. Aku akan memasak makan malam”

Hyunji melangkahkan kakinya menuju dapur, namun terhenti karena jimin menahan pergelangan tangannya.

“Tidak perlu!”

Jimin melepaskan tangannya dan berbalik kearah ruang kerjanya.

“Kenapa?”

Jimin menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan ambigu dari hyunji. Namun ia tidak membalikkan tubuhnya. Masih dengan membelakangi hyunji.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?”

Jimin masih terdiam tidak menjawab. Menunggu kalimat apalagi yang akan diucapkan hyunji.

“Jika kau tidak ingin menikah denganku, seharusnya kau tidak melakukannya. Mengapa kau melakukannya?”

Jimin meradang mendengar pertanyaan hyunji. Jimin berusaha menekan emosinya yang siap meledak kapan saja.

“Karena amanah!”

“Tidak, katakan dengan jujur. Aku mohon” Tanpa  hyunji sadari, ia sudah meneteskan air matanya.

“Jangan memaksa! Akan lebih baik jika kau tidak tahu”

“Tidak! Katakan padaku, apapun itu!”

“Baik! Aku katakan!” sejenak jimin memejamkan matanya, jangan salahkan aku jika kau semakin terluka, batin jimin “Karena kau, adalah syarat nenek. Aku harus menikahimu untuk menjadi seorang pewaris sah”

Hyunji terduduk lemas, hatinya benar-benar hancur tak tersisa. Apakah ia serendah itu.

“Kau yang ingin mendengarnya! Jangan salahkan aku”

Dengan cepat jimin keluar rumah, pergi meninggalkan hyunji sendiri dengan kaeadaan mengenaskan.

~

~

Dengan kecepatan tinggi jimin mengendarai mobilnya menuju rumah suga. Untuk sekarang datang ketempat kim yumi kekasih jimin bukanlah waktu yang tepat. Jimin tidak ingin menyakiti yumi dengan emosi yang meledak-ledak seperti sekarang.

Setelah jimin sampai dirumah suga, ia tidak langsung turun dari mobil. ia masih melampiaskan emosinya didalam mobil dengan memukul kemudi setir didepannya.

“Arrggghhh! Sialan!”

Jimin memejamkan matanya, berharap emosinya sedikit luruh. Ketukan kaca mobilnya membuat jimin menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati suga berdiri disana. Dengan gontai jimin keluar dari mobil.

“Kerasukan apa kau datang kemari?”

Jimin tidak menggubris pertanyaan suga, ia melangkahkan kakinya menuju kedalam rumah. Setelah sampai diruang tamu jimin langsung membaringkan tubuhnya.

Suga adalah sahabat jimin sejak kecil, jimin sudah menganggap suga seperti kakaknya sendiri.

Sebenarnya suga tahu jika jimin memiliki banyak masalah, namun tak urung suga juga menyalahkan jimin. Hanya demi menjadi pewaris ia harus menyakiti perasaan gadis tidak berdosa. Dan hanya demi cinta butanya kepada gadis murahan seperti yumi.

Jimin benar-benar buta akan cintanya pada yumi, ia tidak tahu kebenaran dibalik seorang yumi. Suga sudah berusaha memberitahu namun jimin seolah tuli mengenai hal itu. Jadi suga hanya bisa berdo’a agar jimin segera sadar.

“Katakan apa yang terjadi kali ini” jika suga sudah mengeluarkan nada dingin dan serius, tidak mungkin jimin akan menolak menjawab.

“Dia memaksaku untuk memberitahu alasanku menikahinya” Masih dengan berbaring jimin menjawab dengan pelan.

“Apa! Apa kau benar-benar sudah gila!” bentak suga.

“Dia yang memaksaku!” dengan emosi jimin membalas bentakan suga.

Jimin bangun dari berbaringnya, menatap suga dengan tatapan penuh dengan kefrustasian.

“Hentikan semua ini. Kau harus membuat keputusan!”

“Aku tahu” dengan frustasi jimin meremas rambutnya.

“Lalu apa yang kau tunggu, lepaskan yumi”

“Tidak! Aku mencintai yumi! Kenapa aku harus melepaskannya? Justru aku akan menceraikan hyunji!”

Suga ikut frustasi mendengar keputusan jimin. “Kau akan menyesal jika melakukan itu”

~

~

Hyunji terbangun dari tidurnya, ia memijit kepalanya pelan yang berdenyut. Mungkin efek karena semalaman menangis. Hyunji mengedarkan pandangannya kepenjuru kamar. hyunji menghela nafasnya, ia yakin jimin tidak pulang semalam, dan mungkin ia bermalam dirumah kekasihnya.

Dengan segera hyunji bangun untuk segera mandi.

Hyunji mengalihkan pikirannya dari kejadian semalam dengan beraktivitas seperti biasa. Ia memasak dan membersihkan rumah seperti biasa.

kau harus bertahan hyunji, sebentar lagi waktunya akan tiba

Hyunji tengah membersihkan ruang tengah, hingga pandangannya teralih kearah pintu yang baru saja dibuka. Dan memperlihatkan sosok jimin dengan keadaan yang cukup mengerikan. Wajah kurang tidur, bajunya yang berantakan.

Namun tetap saja bagi hyunji itu semakin membuat jimin tampan, ah, apa yang barusan gadis itu pikirkan.

Hyunji mengalihkan pandangannya “Akan aku siapkan sarapan”

Jimin melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mandi, ia tidak berminat kekantor hari ini. Akan lebih baik ia memperbaiki suasana tegang yang tercipta semalam setidaknya ia akan melakukannya dengan cara baik-baik.

Setelah menyiapkan sarapan, hyunji memasuki kamar untuk menyiapkan pakaian kantor jimin.

Bertepatan dengan hyunji yang menutup pintu lemari pakaian, jimin keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk dipinggangnya.

Hyunji tersentak terkejut mendapati jimin bertelanjang dada, jimin yang juga gugup dipandangi oleh hyunji dengan pelan berdehem. Membuat hyunji langsung mengalihkan perhatiannya dengan menatap kearah jendela kamar.

“Kau, kau tidak perlu menyiapkan pakaian kantor. Aku tidak pergi kekantor hari ini”

“Ba-baik-lah” masih dengan gugup hyunji kembali mengambil setelan baju santai untuk jimin. Setelah meletakkannya dikasur dengan bergegas hyunji keluar ruangan.

Jimin melihat dengan jelas rona merah yang berada dipipi gadis itu, membuat hyunji tampak cantik dan menggemaskan.

Ah! Apa yang kau pikirkan jimin!

Erang jimin dalam hati. namun segera tersadar karena perkataan hyunji.

“Sarapan sudah siap”

Tanpa hyunji sadari jimin tersenyum tipiss melihat kegugupan hyunji.

~

~

Usai sarapan mereka membersihkan rumah bersama, sebenarnya hyunji sudah melarang jimin agar beristirahat. Namun jimin bersikeras menolak.

Hyunji yakin jika jimin melakukan ini karena merasa bersalah dan ingin melakukannya secara baik-baik. Hyunji tahu ia tidak seharusnya memiliki perasaan berharap lebih pada jimin. Cinta itu benar-benar buta, meskipun jimin berlaku dingin dan mengacuhkan hyunji. Gadis itu tetap mencintai jimin.

Mereka tengah membersihkan ruang tamu, hyunji membersihkan rak buku yang berada dipojok ruangan sedangkan jimin, ia memindahkan beberapa barang untuk mengubah tata letak barang.

“Aaaaaa”

Teriak hyunji hampir terjatuh ketika hyunji berusaha meletakkan buku dirak paling atas, ia hampir terjatuh karena terpleset dikursi yang ia gunakan untuk pijakan.

Kebetulan, Beruntung jimin tadi tengah memindahkan barang didekat hyunji hingga dengan sigap ia menangkap tubuh hyunji.

Mereka saling berpandangan dengan intens. Hingga jimin tersadar akan posisinya yang masih merengkuh tubuh mungil hyunji.

Mereka saling melepaskan tubuh mereka dengan tergesa “Seharusnya kau lebih hati-hati!”

“Maaf, ma-maafkan aku”

Hyunji menundukkan kepalanya merasa takut dan juga malu bertatap muka dengan jimin. Sedangkan pria itu sendiri sedang mencoba menetralkan detak jantungnya.

Keheningan tercipta diantara mereka yang masih saling canggung satu sama lain, hingga suara dering ponsel jimin mengalihkan perhatian mereka.

“Ada apa?”

“Baiklah aku kesana”

Hyunji masih terpaku ditempatnya, ia tidak berani bertanya apapun pada jimin. Jadi jimin berinisiatif memberitahu pada gadis itu.

“Aku akan kekantor, ada masalah yang harus diselesaikan. Kau selesaikan saja”

Hyunji menganggukkan kepalanya. Tanpa mengganti baju jimin langsung pergi keluar rumah.

Ada perasaan lega dan juga senang ketika jimin memberitahu dirinya, namun hyunji tahu ia tidak boleh berharap apapun.

Dua hari lagi pernikahan mereka akan genap satu bulan. Itu berarti mereka akan segera bercerai.

Ya, bercerai.

Bukan hyunji yang menginginkannya namun jimin  yang ingin mereka bercerai. Seperti yang ia katakan pada kekasihnya dimalam pernikahan mereka, ketika hyunji memergoki mereka dilorong.

“Kumohon percayalah padaku, aku benar-benar mencintaimu!” jimin berusaha membuat kekasihnya yumi percaya padanya.

”Tapi oppa…”

“Sssssttt… Hanya satu bulan, setelah itu aku akan bercerai dengannya dan menikah denganmu” yumi menganggukkan kepalanya dan kemudian memeluk jimin.

Ingatan memori itu berputar kembali dikepala cantik hyunji. Gadis itu tahu akan posisinya, ia tahu benar sejak awal jimin memang tidak menyukai akan keberadaannya.

Hyunji menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah turun membasahi pipinya. Kemudian ia beranjak dari tempat ia berdiri dan kembali mengalihkan fokusnya untuk membersihkan rumah.

~

~

Setelah urusan kantor selesai jimin memutuskan untuk mengunjungi yumi dirumah gadis itu. Sebenarnya, lebih tepatnya itu adalah rumah yang dibeli jimin untuk ia tinggali bersama yumi setelah menikah. Tapi yang terjadi tidak seperti itu, jadi sementara waktu hanya yumi yang tinggal disana.

ia ingin meminta maaf pada yumi yang sudah dua hari ini ia abaikan. Dan berencana akan memberikan kejutan untuk yumi, karena sebentar lagi ia dan hyunji akan bercerai. Jujur hati kecil jimin merasa ada yang tidak benar saat ini, namun ia menepisnya

Jimin mengernyitkan dahinya mendapati sebuah mobil yang cukup asing baginya, ia yakin jika yumi tidak pernah memiliki mobil seperti itu. Atau mungkin orang tua yumi datang untuk berkunjung.

Jimin semakin mengkerutkan dahinya, melihat pintu depan yang terbuka. Dan dengan perasaan yang penasaran jimin dengan hati-hati membuka pintu. ia melangkahkan kakinya dengan pelan masuk kedalam rumah.

Samar-samar jimin dapat mendengar sebuah tawa seorang wanita dan pria yang tengah berbincang diruang tengah. Ia tahu jelas suara wanita itu, suara yang selalu mengatakan jika ia mencintai jimin. Suara yumi.

Tapi tidak dengan suara pria yang berada bersama kekasihnya itu. Jimin semakin mendekat kearah ruang tamu.

Serasa disambar petir, ia menyaksikan yumi tengah berciuman dengan pria lain. Jimin benar-benar serasa akan meledak sekarang juga. Ia benar-benar akan memukuli bajingan itu hingga mati.

Namun langkah jimin terhenti ketika mendengar percakapan mereka.

“Kapan kau akan menikah dengan pria bodoh itu honey. Aku sudah tidak sabar untuk segera membuatnya bangkrut dan merebut perusahaannya”

Tanya sang pria pada yumi dengan nada manja.

“Bersabarlah sebentar lagi oppa, sebentar lagi ia akan menceraikan istrinya. Dan akan menikah denganku, setelah satu bulan aku akan menceraikannya. Jadi dalam waktu satu bulan kita harus sudah benar-benar selesai”

Pria itu tertawa mendengar perkataan yumi.

Jimin semakin meradang, rahangnya semakin mengeras. Jadi selama ini kekasihnya seorang penipu, wanita murahan, berselingkuh dibelakangnya.

Dasar wanita jalang! Setelah ini akan kubuat kau membayar semua kebohonganmu.

Memejamkan matanya sejenak, untuk mengendalikan emosinya. Setelah sedikit reda, dengan tenang jimin mendekat kearah sepasang manusia bejat itu.

“Apa sudah selesai?”

Dengan lantang jimin berbicara tanpa menatap mata mereka, seolah jimin sangat jijik hanya sekedar untuk menatap mereka.

Sedangkan yumi dan pria itu nampak terkejut dan langsung salah tingkah bergetar takut.

“Jim-jimin se-sejak, sejak kap…”

“Jika sudah selesai pergilah dari rumah ini sekarang juga!” belum sempat yumi melanjutkan kata-katanya jimin dengan cepat menyela.

“A-ak-aku akan jelaskan ini…”

“Pergi sekarang! Atau aku kan membunuh kalian berdua!”

Dengan murka jimin membentak yumi.

“Dengar tuan park! Kau pikir kau siapa membentak kekasihku hah!?”

Pria itu tidak terima yumi dibentak, ia mendekati jimin dan menarik bahu jimin kasar.

“Kau pikir siapa kau, berani menyentuhku dengan tangan kotormu!”

“Brengsek!” pria itu mencoba melayangkan tinjunya kepada jimin. Namun belum sempat pria itu mengenai jimin, dengan sigap jimin menghindar dan menendang balik kearah perut pria itu, membuatnya tersungkur.

“Terakhir kali aku katakan! Pergi dari sini atau kubunuh kalian!”

Tanpa menunggu lagi yumi membantu kekasihnya yang tersungkur untuk segera bangun dan pergi dari rumah itu.

Jimin benar-benar merasa hancur, selama setahun menjadi kekasih yumi ternyata wanita jalang itu menipunya habis-habisan hanya demi harta.

“Aaaarrrgggghhhh!!!!”

Jimin berteriak dan memecahkan barang-barang yang ada disekitarnya. Dia benar-benar menyesal, dia menyia-nyiakan seorang gadis yang tidak bersalah dan tulus kepadanya. Dan sekarang ia juga akan dikhianati oleh kekasihnya sendiri dalam waktu yang sama seperti perlakuannya pada sang istri.

Namun sepertinya tuhan masih menyayangi jimin, dengan memberikan peringatakn kepadanya untuk segera sadar dan membuka mata hatinya yang tertutup.

~

~

Hyunji tak henti-hentinya menatapi jam dinding yang berada dikamarnya. Sekarang sudah pukul satu dini hari, namun tidak ada tanda-tanda jika jimin akan pulang. Ia sangat khawatir, apakah masalah yang terjadi sangat besar hingga jimin terlambat pulang.

Pria itu tidak pernah pulang selarut ini, palin malam hanya sampai pukul sebelas atau sepuluh malam.

Kekhawatiran hyunji terhenti ketika ia mendengar suara deru mobil jimin yang memasuki pekarangan rumah. Dengan tergesa hyunji keluar kamar untuk segera menghampiri jimin.

Namun hyunji terperanggah mendapati keadaan jimin yang sangat kacau, tercium bau alkohol disekitar tubuh jimin.

Hyunji mendekati jimin yang tengah berbaring disofa ruang tamu. Dengan hati-hati ia melepaskan sepatu jimin. Jujur ia ingin sekali bertanya ada apa sebenarnya dengan pria ini, tapi ia sangat takut.

Pria itu tidak bergeming, ia dapat merasakan kehadiran hyunji namun ia tidak berniat membuka mata sedikitpun. Ia membiarkan hyunji membuka sepatunya.

“Akan aku siapkan air hangat untukmu mandi, dan akan kubuatkan susu hangat”

hyunji berdiri dan hendak berjalan kearah kamar namun terhenti ketika tiba-tiba jimin memeluknya dari belakang. Ia dapat merasakan kepala jimin yang bersandar pada punggungnya. Hyunji yakin jika jimin memeluknya dengan posisi duduk, sedangkan ia berdiri membelakangi jimin.

“Biarkan seperti ini sebentar. Kumohon” hyunji hampir tak mendengar apa yang diucapkan jimin dengan lirih.

Hingga beberapa menit mereka betah dengan keadaan seperti itu tanpa bersuara sedikitpun.

“Kau harus mandi, akan lebih baik jika kau segera istirahat”

Dengan perlahan hyunji melepaskan pelukan jimin, pria itu tidak protes dan menuruti perintah hyunji dengan pergi kekamar.

Setelah menyiapkan air dan pakaian untuk jimin, ia pergi kedapur untuk membuatkan susu hangat untuk menghilangkan efek pusing dari alkohol.

Ketika hyunji kembali kedalam kamar, ia mendapati jimin sudah selesai mandi dan tengah duduk dipinggir ranjang seraya menundukkan kepalanya dalam.

“Minumlah dulu setelah itu istirahatlah”

Tanpa diperintah dua kali jimin langsung menegak habis susunya.

Setelah hyunji mengembalikan gelas kedapur, ia segera kembali kekamar dan berbaring membelakangi jimin yang duduk bersandar dikepala ranjang.

Hyunji sama gelisahnya dengan jimin yang tidak dapat tidur, ia ingin membicarakan sesuatu dengan pria itu, namun jika melihat keadaannya sekarang bukanlah waktu yang tepat.

“Aku tahu kau juga belum tidur”

Tubuh hyunji seketika menegang, bukan karena ia terkejut akan jimin yang memergokinya belum tidur. Namun apa yang tengah pria itu lakukan sekarang.

Jimin tengah memeluk tubuh hyunji yang tengah berbaring membelakangi dirinya, pria itu semakin merapatkan tubuhnya pada hyunji, melingkarkan tanganya dipinggang gadis itu, menyandarkan kepalanya tepat dibelakang tengkuk hyunji, membuat sang empunya semakin tegang.

“Biarkan seperti ini”

Mereka masih terdiam dengan pikiran masing-masing, sama-sama tidak tahu harus berbicara apa dan mulai dari mana.

Hingga akhirnya jimin memutuskan akan mengatakan segalanya pada hyunji dan meminta maaf atas segalanya.

“Park hyunji”

Hyunji masih terdiam, mendengarkan dengan seksama apa yang akan diucapkan oleh jimin, ia sudah siap apapun yang akan dikatakan oleh jimin apapun.

“Bertahanlah, jangan tinggalkan aku”

Gadis itu membulatkan matanya, ia terkejut, sangat. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya.

“Aku tahu aku sangat berdosa padamu, tapi, tetaplah bertahan disampingku. Buatlah aku mencintaimu”

Jimin membalikkan tubuh hyunji agar menghadap padanya, jimin menghapus air mata yang sudah luruh tanpa hyunji sadari.

“Kumohon bantu aku, selamatkan aku yang tengah dihukum ini. Maafkan aku jika aku pernah berpikir akan menceraikanmu, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan pernah!”

Hyunji tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun jujur ia sangat lega sekarang. Ia menganggukkan kepalanya.

Jimin semakin menarik tubuh hyunji agar merapat padanya dan meletakkan kepala hyunji agar bersandar didadanya. Gadis itu mulai terisak didalam pelukan jimin.

“Menangislah sepuasmu, aku akan ada disampingmu untuk menghapus air matamu. Dan berjanjlah setelah ini kau tidak akan menangis lagi, hanya boleh ada tangis bahagia dikeluarga kecil kita”

Hyunji menganggukkan kepalanya didalam dekapan hangat jimin. Ia tidak perduli apa yang membuat jimin menjadi seperti ini, tapi ia percaya jika suaminya benar-benar bersungguh-sungguh dalam setiap kalimat yang ia ucapkan.

Kita tidak akan pernah tahu seperti apa tuhan menuliskan garis takdir untuk setiap umatnya. Tapi kita harus percaya jika akan ada pelangi setelah hujan.

Seperti sebuah kehidupan, tuhan akan memberikan setiap umatnya sebuah ujian, namun sesulit apapun ujian itu tuhan tahu kemampuan dan batas setiap umatnya. Dan setelah ujian itu selesai mereka akan menuai hasil dari kesabaran mereka.

Seperti hyunji yang bersabar dalam menghadapi sikap jimin.

_ _ _ END _ _ _

Haiii.. haii… hello..

Bagaimana karya author, ini adalah ff oneshoot pertama author. Saya adalah author yang sama yang membuat ff I Knew Your Were Trouble. Maaf jika masih ada banyak typo disana-sini atau alurnya yang terlalu cepat atau apapun itu hehehe…

Saya sangat menunggu respon para readers dan terima kasih untuk admin bts fanfiction yang mau mempost ff saya diblog ini sekali lagi terima kasih.

Untuk ff I Knew Your Were Trouble sudah ada beberapa part diblog pribadi saya, silakan jika ingin mampir. Sekali lagi terima kasih

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] Please, Don’t Run – (Oneshot)

  1. Lian

    Terhuraaa, akhirnya si Jimin sadar juga.

    Aku suka ff nya. Huhu, ingin menangis bacanya. Kasian Hyunji.

    Butuh sequel thor, hehe. Tapi sampai segini aja udah cukup ko. Udah gitu aja, aku tunggu tulisan2 author yang lainnya. Semangat!

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s