[BTS FF Freelance] Seoul Meow Meow [Oneshot]

fb_img_14706657985110125

Seoul meow meow

Cast : Kim Taehyung

Genre: Fantasi , sageuk

Rank :12pg

Story; S.S Donquixote

Cover: Seftriani Sefi

.

.

.

“Selamat pagi teman,”

Seseorang pria dewasa, berjanggut putih berjalan di halaman rumah temannya. Dia adalah Janghyun, pria yang mengunjungi, Wool, seorang pendeta.

Janghyun terihat membawa guci putih dengan tulisan mantra. Yang ditulis secara vertical.

“Ada apa temanku,” tegur Wool.

“Aku punya sesuatu untukmu,” Janghyun memberikan guci tersebut.

Wool memegang gucinya, “Guci?” ia memurat-mutar guci tersebut.

Ketia ia hendak membuka guci tersebut, “Jangan dibuka!” seru Janghyun.

“Kenapa?”

“Didalam guci ini ada siluman kucing, aku memberikannya padamu agar kau bisa membuat upacara pembebasan Taetae,”

“Taetae?”

“Nama siluman ini. Dia salah masuk ke dalam pintu reinkarnasi, ia roh manusia yang masuk pintu kelahiran binatang. Jalan satu-satunya adalah melakukan upacara, mengantarnya kealam baka. Aku percaya kau bisa membantunya. Siluman ini sangat jinak dan pantas kembali”

“Tapi gerhana bulan 7 hari lalu dan gerhana selanjutnya akan bertahun-tahun lamanya,”

“Aku hanya bisa meminta bantuan padamu,”

“Mudah-mudahan aku masih hidup,”

.

.

.

Beberapa hari kemudian rumah sang pendeta, Wool, terbobol perampok. Mereka merampok benda-benda berharga termasuk guci yang ada roh kucing. Para perampok menjual kepada bangsawan. Seiring berjalannya waktu, guci tersebut kini berada di toko antic Seoul.

Tahun 2016 . ..

Guci itu kini berada di rak, penuh debu. Karena pemilik toko membiarkan benda-bendanya berdebu, agar terkesan benda yang ia jual benar-benar tua dan antic.

Suatu hari seorang anak kecil bersama ibunya datang berbelanja. Sang ibu sibuk bergelut dengan perihasan antic. Ia membiarkan anaknya berkeliaran. Sang bocah tiba pada rak guci, bocah itu tertarik dengan guci yang berisi siluman.

Yang namanya anak kecil pasti mempunyai rasa penasaran sangat tinggi. Tentu saja si bocah membuka penutup guci. Tiba-tiba muncul asap putih dari guci. Bocah itu panic. Ia ketakutan akan kemarahan orangtuanya.

Sang bocah berlari meninggalan lokasi kejadian agar terlepas dari tuduhan. Sementara itu asap kian menebal. Munculah seorang laki-laki. Ia tergeletak di lantai, setengah sadar, kepala pusing. Ia memijat kepalanya seraya berusaha berdiri, terhuyung-huyung.

“Mwo-ya . . “ Taehyung berkedap-kedip. “Apa aku sudah berada di alam baka?”

Tetapi penampakan orang-orang, serba-serbi beraksessoris di depannya, memupuskan dugaannya. Taehyung mengetahui dirinya masih di bumi selama 400 tahun.

“Arghh~ aku masih di bumi . . .”

.

.

.

Taehyung berjalan-jalan mengamati kota abad 21. Berbeda sekali dengan suasana era joseon. Baju yang ia kenakan, hanbok—bagian atasnya berwarna biru dan yang bawa berwarna biru agak gelap.

Serba modern yang ia temukan, lebih terang dengan warna—warni cahaya lampu. Tak ada lagi pepohonan, rumah-rumah terbuat dari rotan dan kayu. Semua terihat kokoh dibandingkan zaman dulu.

Taehyung berjalan, berjalan dan berjalan hingga ia merasa lapar. Akhirnya ia berhenti di restaurant makan china. Restaurant tersebut terlihat tak begitu ramai. Taehyung dapat melihat orang makan dari luar. Ini membuat perutnya semakin berbunyi lantang.

Taehyung berdiri di samping orang yang sedang makan. Ia melihatnya dengan wajah memelas. Sang pelanggan terganggu, begitu juga merasa kasihan dengan Taehyung.

“Nak, kau tidak mau makan?” tanya pria tua dengan ramah.

“Saya tidak punya uang . . .” sahutnya memelas dengan bahasa sangat baku, bahasa joseon.

“Aigooo . .  kau duduklah, aku mentraktirmu,”

Taehyung duduk di sebrang meja pria tersebut, “Kamshamnida!”

Ia memesan satu mangkok jajjangmyung untuk Taehyung. Setibanya pesanan tersebut, Taehyung langsung saja menyambar makanan tanpa menggunakan sendok atau garfu. Ia memegang mangkok, didekatkan ke muka dan makan seperti binatang.

“Aigooo . .. makanlah dengan sumpit, nak,” tegurnya.

Taehyung berhenti makan, sang pria tua memberinya sumpit. Taehyung berusaha menggunakan sumpitnya, tetapi tentu saja taehyugn kesulitan.

“Paman, saya tidak bisa menggunakan sumpit ini,” ujar Taehyung.

“Ahh, pasti kau lama di luar negeri, iyakan. Kau, walaupun di Negara orang lain, harusnya belajar menggunakan sumpit.” Nasehatnya.

“Ajushi, tolong garfunya,” pintanya.

“Apa itu garfu?” tanya Taehyung polos.

Sang pria tua sedikit terkejut karena pertanyaan Taehyung, ia tidak yakin Taehyung serius menanyakannya, “Garfu, temannya sendok,”

“Temannya sendok? Seperti apa temannya sendok?”

“Nak, apa kau tidak pernah makan?” tanya pria tua itu, “Atau jangan-jangan kau tidak pernah makan mie, kau makan makanan lembut. Apa kau sakit parah?” pria itu menjadi cemas pada keadaan Taehyung, apalagi wajah Taehyung yang pucat, menjanjikan Taehyung terserang penyakit kronis.

Taehyung tidak tau apa yang dikatakan sang pria tua, “Ye . . “ Taehyung hanya mengangguk, mengiyakan kata pria tua itu, sebab Taehyung bingung harus menjelaskan dari mana pada pria tua.

Pemilik restaurant lekas memberinya sebuah garfu, kemudian ia ngajari Taehyung cara makan dengan garfu.

“Begini caranya,” sang pria tua itu menancapkan garfu ke dalam mie lalu memutar-mutar kemudia dia angkat, memperlihatkan Taehyung fungsi garfu dengan benar.

“Mengerti?”

“Ye . . “

Sang pria tua memberinya garfu. Perlahan-lahan Taehyung menggunakan garfu sesuai contoh yang diberikan. Ia makan terkesan terburu-buru, Taehyung tak bisa menahan dirinya yang sudah beratus tahun belum makan.

.

.

.

Malam hari dan Taehyung kesepian. Ia terus berjalan, hanya itu yang dapat ia kakukan. Malam dengan rintik-rintik hujan, membuatnya kesal. Ia meraung-raung mencakar hujan.

“Kurang ajar!” raungnya kesal.

Kucing memang terkenal benci air termasuk siluman kucing, Kim Taehyung. Ia berteduh di emperan cafe, duduk di sana seraya menjilat-jilati tangannya.

Saat kantuk menyerang ia tidur sembarang tempat. Siangnya ia tiba di taman yeouido, taman yang cocok untuk tinggal. Disana Taehyung menghabiskan waktu tidur dan juga bermain dengan anak kecil. Lebih tepatnya ia mengganggu anak-anak bermain bola. Hingga Taehyung terkena amukan para orangtua yang anaknya menangis, ulah Taehyung.

“Dasar gila!” umpat ibu-ibu pada Taehyung.

Hal seperti itu sudah tak jadi masalah bagi Taehyung. Namun perut kosonglah ancaman paling mengerikan. Ia sudah dua malam belum makan.

Beruntung taman tersebut dikunjungi kru film. Salah satu staff membagi makanan dan minuman. Taehyung mengetahui dari penciumannya pun, menghampiri bau sedap makanan.

Ia dapat melihat orang-orang mendapat makanan. Taehyung mengantri untuk mendapat makanan. Pada stan makanan tersebut tertulis, bahwa makan tersebut adalah tanda dukungan agensi pada artisnya. Gambar sang artis pun ada di banner stan.

“Ini untuk anda, seamat makan!” ujar seorang perempuan seraya menyerahkan makanan pada Taehyung.

“Saya belum makan selama dua malam, saya boleh meminta satu lagi?” pinta Taehyung.

Perempuan itu sedikit terkejut, “Eh? Ne . .  tentu saja,” ia memberikan tambahan.

“Kamshamnida,” sahut Taehyung ceria pada wajahnya yang pucat.

Dan begitulah hari Taehyung. Antara kesal dan tidak punya tenaga untuk mengeluh. Menjadi seorang sebatangkara hal tersulit untuknya.

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s