[Oneshot] Imperfectly Us

2016-parksibs
Imperfectly Us

a ficlet by tsukiyamarisa

BTS’ Park Jimin & OC’s Park Minha

3500+ words | AU, Family, Life | 17

(trigger warning: self-harm, obsessive-compulsive thoughts, and mention of anxiety)

.

Apakah kami sungguh baik-baik saja?

.

.

.

Menurutmu itu lucu, hah?!

Satu sentakan kemarahan, menggumpal layaknya beban di dalam dada. Diiringi dengan langkah-langkah kaki yang bergerak cepat, berderap di sepanjang trotoar tanpa benar-benar memperhatikan jalan. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya lekas menyingkir, tatap disipitkan saat mereka berusaha menatap sosok seorang gadis yang memasang muka kusut tersebut. Sebagian malah mulai berbisik-bisik, mengeluhkan tentang betapa tak sopannya kelakuan anak muda di zaman ini.

Persetan.

Park Minha sudah cukup dibuat marah hari ini, ditertawakan hanya karena isi otaknya yang tidak rasional. Ia sudah cukup lelah beradu argumen dengan beberapa orang temannya—mereka semua yang menganggapnya aneh karena membenci kontak sosial berlebih. Memangnya kenapa kalau dia merasa takut? Apa itu hal yang salah?

Kalian bahkan tidak tahu apa yang membuatku takut, berengsek!

Memaki-maki bukanlah hal yang asing bagi gadis itu; ia menjadikannya sebagai bentuk pertahanan diri. Setelah semua yang ia alami saat duduk di bangku sekolah dulu, setelah semua bentuk penindasan dan ejekan yang diberikan, masih bisakah ia berlaku seperti orang-orang normal lain? Well, Park Minha tahu bahwa jawabannya adalah tidak—tapi ia terlalu malas untuk menjelaskan hal itu pada manusia-manusia berpikiran dangkal seperti mereka.

Buat apa?

Kalau mau tertawa, ya tertawa saja!

Dan barang kali, aku akan mendoakan agar kalian kena sial atau semacamnya, batin Minha berapi-api, seraya ia mencengkeram tali tas selempangnya erat-erat. Gerak tungkainya sama sekali tak diperlambat, menyeberangi jalan raya bahkan tanpa melihat lampu tanda lalu lintas. Ia sudah tak peduli lagi, tidak karena ia benci jika rasa takutnya sudah muncul ke permukaan, mengambil alih semua kendali, dan….

Minha menarik napas dalam, sebuah usaha untuk meredakan emosi yang lekas gagal lantaran ia sudah keburu meneteskan air mata. Lebih dari segalanya, Minha benci dirinya sendiri yang seperti ini. Ia tidak suka jika otaknya mulai berulah, memikirkan segala sesuatu dalam dosis yang terlalu berlebihan dan tak wajar. Hal semacam itu hanya akan berakhir pada isakan dan rasa lelah, tapi mau bagaimana lagi? Ini bukan seperti lampu yang bisa dengan mudah dimatikan atau dihidupkan; kalian salah jika kalian berpikir bahwa seseorang harus selalu punya kendali atas apa yang terjadi.

Sembari mengusap lelehan air tersebut dengan sebelah tangan, Minha menghentikan langkahnya tepat di depan gedung flat tempat ia tinggal. Maksud hati hendak segera bergelung di kasurnya, mungkin sembari mendengarkan musik atau menceritakan kekesalannya pada sang kakak. Namun….

Lagi, Park Minha? Lama-lama, kamu akan membuat Jimin bosan dengan kisahmu yang itu-itu saja!

Ingin rasanya Minha mendorong kalimat itu jauh-jauh dari benaknya, lantaran ia toh tahu bahwa hal tersebut tak benar adanya. Jimin akan mendengarkannya, lelaki itu akan menghibur Minha tanpa memprotes atau menyalahkan. Kalau ada orang yang bisa memahaminya, itu adalah sang kakak lelaki sekaligus saudara kembarnya. Lantas kenapa….

Itu karena aku benci menjadi beban. Seolah hidup kami belum cukup berat saja, iya kan?

“Maafkan aku, Kak.”

Berbisik lirih, Minha akhirnya memilih untuk membalikkan badan dan berjalan menjauh. Ia tidak bisa menghadapi Jimin, tidak dalam kondisi seperti ini. Untuk sementara ia terpaksa menghadapi semuanya sendirian, mungkin hanya ditemani satu atau dua pil obat pereda nyeri agar sakit kepala serta sakit yang menggerogoti hatinya dapat sedikit lesap. Tapi, ke mana ia harus pergi sekarang?

Ke studio milik Yoongi—kekasihnya? Atau ke kafe tempatnya bekerja paruh waktu, mungkin mengobrol dengan Seokjin? Atau….

Untuk apa? Tidak merepotkan Jimin tapi merepotkan yang lain? Lebih baik kamu sendiri saja, Park Minha!

Itu benar.

Ia tidak boleh merepotkan orang lain, tidak lagi. Ini adalah kelemahannya, dan Minha tahu itu. Ia tahu, ia mengakuinya, dan ia tidak mau beban ini menjadi milik orang lain. Mereka juga pasti akan merasa lelah, dipaksa untuk mendengarkan kisah yang tidak rasional dan diharuskan memberi konsolasi. Untuk sekali ini, Minha ingin agar ia bisa melewati apa yang telah terjadi dengan kekuatannya sendiri.

Seraya memikirkan satu tempat di mana ia bisa menghabiskan waktu, Minha pun menggerakkan kakinya lagi. Berjalan menjauh dari flat tempat ia tinggal, seraya tangan bergerak untuk menyumpal kedua telinga dengan earphone. Biarkan lagu-lagu favoritnya menjadi teman, sementara ia mencari halte bus terdekat.

Semuanya akan baik-baik saja, Park Minha.

Ia harus percaya itu.

.

-o-

.

Park Jimin bisa merasakan jika sesuatu yang salah sedang terjadi—terlebih jika hal itu berhubungan dengan saudarinya.

Menghentikan keasyikannya memelototi layar laptop dan software pembuat lagu, Jimin melirik jam yang ada di atas meja dan mendesah panjang. Ketika adiknya tidak tiba di rumah pada pukul lima sore—seperti yang ia janjikan pagi tadi—Jimin masih mencoba untuk berpikiran positif. Mungkin ia pergi ke tempat Yoongi, mungkin ia sedang mengerjakan tugas, atau lain sebagainya. Namun, setelah dua jam berlalu dan Minha tak kunjung muncul maupun menjawab teleponnya, Jimin seketika tahu bahwa sesuatu yang salah pasti sedang terjadi.

Firasatnya mengatakan bahwa Minha pasti tak sedang bermain atau bersenang-senang saat ini.

Entah bagaimana ia tahu, yang jelas Jimin tak akan duduk diam saja sementara saudarinya berada di luar sana. Rasa mengganjal serta kegelisahan itu sudah mulai tumbuh di dalam dirinya, menggedor-gedor rongga dada hingga membuat sesak. Lengkap dengan keringat dingin yang muncul di kedua tangan serta tengkuknya, menghadirkan sedikit rasa mual selagi ia menyambar jaket dan lekas berlari keluar dari flat mereka.

“Ada apa denganmu, Minha-ya?”

Sebagian dari diri Jimin mungkin sudah tahu jawabannya, kendati ia masih tak mau untuk mengungkapkannya keras-keras. Mengenal Minha, ia tahu bagaimana adiknya itu bertingkah. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah bisa gadis itu kendalikan, sesuatu yang seringnya membuat sikap impulsif Minha muncul ke permukaan.

Dan parahnya—

Aish, berhenti berpikir yang tidak-tidak, Park Jimin!”

Jimin mendaratkan pukulan pada kepalanya sendiri, masih sambil menggerakkan langkah dan membuat asumsi. Satu hal yang ia yakini, Minha tak mungkin berada di dekat sini. Pun dengan studio milik Yoongi, karena Minha pasti tak mau menganggu keasyikan lelaki itu bekerja. Ia pasti mencari tempat lain, suatu tempat yang baru pernah Jimin kunjungi sekali namun masih lekat di dalam ingatannya.

Haruskah aku ke sana?

Lelaki itu bimbang sejenak, mata menatap halte bus yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Meskipun ia sedang cemas, bagian rasional dari otaknya mengatakan bahwa ia berlebihan. Bahwa ada kemungkinan ia tak akan bertemu Minha di sana, bahwa ada probabilitas bahwa gadis itu baik-baik saja. Bagian rasional itu jugalah yang berusaha menenangkan Jimin, sekaligus berteriak bahwa orang lain pasti akan menertawakan kepanikannya yang hanya berdasarkan firasat semata.

Tapi, tahu apa mereka?

Bagian rasional itu tak pernah menang.

Atau tepatnya, Park Jimin tidak pernah membiarkannya untuk menang—baik itu di masa lalu maupun hari ini. Sekali lagi memasukkan pemikiran tadi ke laci terdalam di kepalanya, bagian yang sudah sejak lama tak pernah Jimin pedulikan. Hidupnya toh memang berantakan; Jimin mengakui itu selagi ia meloncat masuk ke dalam bus dan memilih kursi yang ada di pojok paling belakang.

Karena baginya, keberadaan sang adik jauh lebih penting untuk dipikirkan saat ini.

Ia harus menemukan Minha…

…atau ia akan menjadi kakak lelaki yang benar-benar payah dan tak bisa diandalkan.

.

-o-

.

“Minha-ya.

Untuk kali ini, Jimin beruntung. Ia bersyukur karena telah mengabaikan pemikiran rasional tadi, bersyukur karena ia lebih mengedepankan intuisi dan firasatnya. Tepat sepuluh langkah ia berjalan memasuki taman di kompleks ini, dan maniknya sudah menemukan sosok Minha yang sedang duduk sendirian di sebuah kursi kayu.

Minha bergeming, tapi Jimin tahu bahwa sang adik tak akan mengusir presensinya. Tidak karena ia sudah terlampau lelah untuk berlari, kendati menjawab sapaan Jimin juga tidak menjadi preferensi utamanya saat ini. Minha masih berpegang teguh pada keputusannya untuk mengatasi masalah yang ada seorang diri, bahkan ketika Jimin sudah duduk di sampingnya dan melingkarkan lengan pada bahunya.

“Kenapa tidak pulang, hm? Kamu tidak mau menceritakan masalahmu lagi?”

Seratus angka untuk Jimin.

Yang ditanya mengatupkan kedua belah bibir makin rapat, menahan isakan untuk tak meluncur dari sana. Matanya memanas, selagi ia mengalihkan pandang agar tak perlu menatap Jimin. Ia tidak boleh membuat Jimin khawatir, tidak sekarang. Tapi, apa yang harus ia ucapkan kepada kakaknya?

Sebuah kebohongan yang lain?

Gadis itu bergerak untuk menggigit bibirnya, masih belum mengeluarkan jawaban. Jimin—yang tampaknya menyadari fakta itu—memilih untuk ikut bungkam. Tatap beredar ke sekeliling taman, tempat yang telah menjadi teman Minha menghabiskan waktunya sejak gadis itu masih duduk di bangku SMP.

Hanya saja, bagi Jimin, tempat ini terasa bagai kenangan buruk.

Minha mengenal taman ini, lantaran saat orangtua mereka bercerai dulu, ia dan ayah mereka tinggal di kompleks perumahan yang terletak hanya beberapa meter jauhnya. Adiknya yang kala itu masih berumur tiga belas tahun, hampir setiap hari memilih untuk menghabiskan waktu di bangku taman ini karena ia terlalu malas berada di rumah dan bercengkerama dengan ayahnya. Jimin memahami itu—lagi pula ia sendiri juga tak pernah suka berada di rumah bersama ibu mereka.

Tapi, untuk kembali ke sini setelah sekian tahun….

Rasanya, Jimin kembali diingatkan akan kegagalannya di masa lalu. Akan dirinya yang tak berani melawan perintah sang ibu, sehingga tak sekali pun ia pernah datang untuk menjenguk Minha. Hidup mereka sempat terpisah selama tiga tahun, tiga tahun yang penuh dengan rasa sepi dan sendiri. Tiga tahun yang tampaknya akan selalu menghantui, yang dalam diam telah membawa banyak perubahan ke dalam hidup keduanya.

Jimin menyesali itu… dan ia….

“Aku baik-baik saja. Yuk, pulang.”

Suara Minha memecah senyap, selagi ia bangkit berdiri dan meraih tasnya. Sebelah tangan terulur ke arah Jimin, ujung-ujung bibir berjungkit membentuk senyum yang terlihat dipaksakan. Kedua matanya memerah, tapi Jimin memilih untuk tak berkomentar selagi ia meraih jemari itu. Menggenggamnya erat-erat, kepala dianggukkan seraya ia berusaha menutupi kegelisahannya sendiri. Rasa sakitnya sendiri.

“Oke. Ayo kita pulang.”

.

-o-

.

Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja sekarang.

Minha menarik napas, menghitung sampai angka lima, sebelum mengembuskannya dan mengulangi hal yang sama. Netra kemudian tertuju pada panci yang berisi air mendidih, juga dua bungkus ramyeon yang siap untuk dimasukkan. Tadi, segera setelah mereka tiba di flat, Minha berkata bahwa ia akan menyiapkan sesuatu untuk dimakan sementara Jimin berganti baju. Memasak selalu bisa menjadi pengalih perhatian bagi dirinya, sampai….

“Kak Jimin?”

Mengeraskan suaranya, Minha menolehkan kepala ke pintu kamar. Berharap bisa mendengar balasan Jimin, tapi hanya heninglah yang ia dapatkan. Padahal, Jimin sudah berada di dalam sana selama hampir setengah jam. Bukan hal yang wajar, terlebih setelah apa yang terjadi seharian ini. Atau lebih tepatnya, kecemasan di benak Minha mulai berulah lagi.

“Kakak?”

Sang gadis memilih untuk mematikan kompor lebih dulu, mengabaikan kegiatannya memasak makan malam. Kaki bergerak cepat ke kamar tidur Jimin, ketukan ia daratkan pada permukaan kayu yang ada. Lima ketukan dan Jimin tak membalas, maka Minha pun memutuskan untuk mencoba membuka pintu seraya memanjatkan doa.

Cklek.

Pintu itu tak terkunci, yang lekas menghadirkan kelegaan. Tapi, tepat kala gadis itu melangkah masuk dan menggapai saklar lampu, kelegaan yang sempat hadir pun sontak hancur berkeping-keping. Menyerpih, terbang menjauh, sementara Minha memandangi Jimin yang duduk meringkuk di sudut kamar—tepat di antara meja dan tembok, jelas sedang berusaha untuk bersembunyi dari dunia.

Namun, Minha masih tetap bisa melihatnya.

Ia bisa melihat bagaimana kakak lelakinya menundukkan kepala, menyembunyikan wajah di antara kedua lutut yang ditekuk. Ia bisa melihat bahunya berguncang, tak lagi menawarkan rasa aman atau kehangatan seperti biasa. Ia bisa melihat bagaimana kedua tangan itu mengepal, lengkap dengan memar di buku-buku jari yang tampak jelas ketika Minha sudah berada di dekatnya. Dan lebih parah lagi, ia bisa melihat….

“K-kak Jimin?”

Berusaha mengabaikan sebuah gunting yang tergeletak di atas lantai, tepat di samping Jimin, Minha mengulurkan tangan. Menyentuh pundak Jimin, menunggu sampai kakaknya itu mendongakkan kepala dan tak lagi menyembunyikan lengannya. Gadis itu berusaha keras untuk tak menangis, tapi pertahanannya seketika runtuh ketika ia melihat dua buah garis merah di bagian atas lengan kiri Jimin.

Tidak sampai mengeluarkan darah, tapi….

“Kak Jimin?”

Gelengan pelan diberikan Jimin, selagi ia kembali menunduk dan menyembunyikan wajah. Enggan berbicara, enggan menjelaskan. Lelaki itu sudah cukup lelah menghadapi rasa bersalah yang menggumpal di dalam dadanya, dan kali ini, ia pun tak mau mengakui kelemahannya yang lain. Kelemahan yang agaknya menghadirkan suatu kenangan buruk di benak sang saudari, lantaran Minha hanya bisa diam terpaku selama beberapa jenak lamanya.

Dulu, Minha pernah melakukan itu.

Beberapa bulan yang lalu mungkin lebih tepat, ketika ia gagal mengendalikan luapan amarah serta perasaan tak berguna di dalam dirinya. Impulsif seperti biasa, sebuah dorongan yang dipicu oleh adrenalin dan dapat menghadirkan rasa tenang. Waktu itu, Jimin-lah yang menangis dan tak kuasa berkata-kata. Ialah yang pada akhirnya membuat Minha berjanji untuk lebih berusaha mengontrol diri, kendati melakukannya ternyata tak semudah mengumbar janji. Meskipun begitu, Minha memang berhasil. Setidaknya sampai hari ini, sampai ia melihat Jimin melakukan hal yang sama dan rasa sakit yang tak nyata itu kembali datang.

Apakah kami sungguh baik-baik saja? Sungguh bisa menjadi lebih baik?

Minha tidak yakin.

Kendati demikian, ia tetap memilih untuk menyingkirkan gunting itu jauh-jauh lebih dulu. Kedua lengan terulur seraya ia beringsut mendekat, menarik Jimin ke dalam dekapannya. Untunglah sang kakak tidak menolak, lamat-lamat bergerak untuk berganti menyembunyikan wajah di antara helai-helai rambut sebahu saudarinya dan mulai meneteskan air mata.

“M-maaf… Minha… m-maaf… t-tapi aku… aku tidak bisa menahan diri dan—“

Respons Minha adalah gelengan, selagi ia mengeratkan pelukannya. “Ini salahku, Kak. K-kamu tidak perlu….”

“Aku… aku yang tidak bisa diandalkan, kan?” Jimin memotong, nadanya pahit. “S-seperti biasa.”

Itu tidak benar, tidak bagi Minha. Namun, alih-alih langsung mengucapkannya, Minha memilih untuk ikut menangis. Ikut menyandarkan kepala pada pundak Jimin, meluapkan perasaan bersalahnya di sana. Kalau saja tadi ia memilih untuk membagi masalahnya pada Jimin, apa hal ini akan tetap terjadi? Minha tidak yakin. Suka atau tidak suka, kehadirannya senantiasa terasa bagai beban dan perkara. Bahkan ia saja memandang dirinya dengan cara seperti itu—seseorang yang hanya bisa menyusahkan dan tidak seharusnya merusak hidup Jimin.

Maka, diiringi tarikan napas berat, Minha pun menarik diri. Sekali ini lebih dulu mengulurkan tangan, menghapus air mata kakak lelakinya sebelum berkata, “Kak Jimin… seharusnya… seharusnya aku yang meminta maaf. Aku yang… aku yang tidak mau membagi bebanku, kan? Dan itu bukan karena kamu tidak bisa diandalkan. A-aku hanya….” Minha berganti menghapus jejak-jejak tangisnya, lalu mengeluarkan satu kalimat yang selama ini berputar-putar di dalam pikiran. “Aku tak merasa pantas, untuk terus-menerus merepotkanmu.”

“Minha….”

Minha mengedikkan bahu, berusaha membuat masalah yang ia alami seharian ini terlihat sebagai sesuatu yang sepele. Berusaha bertingkah normal, berusaha menunjukkan kepercayaan dirinya. “Bukan Kak Jimin yang tak pantas, tapi akulah yang—“

“Hentikan.”

Satu permintaan dari Jimin, yang ia ucapkan tepat pada waktunya lantaran topeng kepercayaan diri Minha baru saja retak dan perlahan hancur. Berusaha menguasai diri, ia pun beralih mengulurkan tangannya untuk menangkup pipi sang adik. Spontan membuat Minha mengatupkan bibir rapat-rapat, selagi keduanya bertukar tatap. Tatap yang membuat Minha harus mati-matian menahan air matanya lagi, seraya Jimin akhirnya berbisik lirih, “Tidak ada yang boleh berkata kalau adikku tidak pantas untuk diperhatikan.”

Balasan Minha adalah seulas senyum pahit. “Aku yang mengatakannya untuk diriku sendiri, Kak.”

“Kenapa?”

Kuriositas Jimin keluar masih dalam bisikan, menggantung di kesunyian malam selama beberapa sekon. Minha menggunakannya untuk berpikir, merangkai kata-kata yang tepat selagi ia memaksakan senyum—lagi. “Karena aku ingin Kak Jimin menjalani hidup tanpa harus terus-menerus memikirkanku. Tanpa harus… entahlah, Kak. Aku ini beban, kamu tahu? Beban yang cukup berat, yang akan terus merepotkanmu dan menghalangimu untuk benar-benar bahagia. Orang lain mungkin punya adik perempuan yang normal, yang menyenangkan dan—“

“Aku tidak butuh itu.” Jimin menelan ludah, merasakan pahit ikut meluncur turun di dalam kerongkongannya. “Aku tidak butuh keluarga normal, aku tidak menginginkannya. Lagi pula….”

Minha tidak memotong ucapan Jimin, menunggu meskipun rasa ingin tahunya meluap-luap. Di mata gadis itu, Jimin adalah orang yang lebih baik dibandingkan dirinya. Lebih mudah bergaul, lebih memiliki tujuan dan mimpi yang jelas. Jimin akan memiliki hidup yang jauh lebih menyenangkan tanpa dirinya, kendati Minha sendiri tak yakin apakah ia bisa menjalani hidup tanpa presensi kakak lelakinya.

Jadi….

“Kurasa…” Jimin kembali membuka mulut, beralih mengelus puncak kepala saudarinya sebelum berkata, “…sudah saatnya aku menceritakan sesuatu padamu, kan?”

.

-o-

.

“Aku menyembunyikannya, Minha-ya.

Park Jimin memulai, segera setelah keduanya bergelung di sofa ruang tengah dengan secangkir cokelat hangat di tangan masing-masing dan sebungkus keripik kentang. Sebuah usaha yang ia lakukan untuk memperbaiki keadaan, untuk setidaknya membuat hari mereka menjadi lebih tertahankan. Terlebih, mempertimbangkan pengakuan yang akan segera ia buat… well, Jimin rasa ia akan langsung menyalahkan diri sendiri jika Minha kembali menangis.

Ralat: ia pasti akan menyalahkan diri sendiri.

“Apa yang….” Minha memandangi permukaan cokelat hangatnya, mengisi paru-paru dengan oksigen sebanyak mungkin. “…apa yang Kak Jimin sembunyikan?”

Jawaban Jimin jelas, tanpa niat untuk menutup-nutupi barang sedikitpun. “Karena aku sama sepertimu. Tapi, aku terlalu takut untuk mengakuinya.”

“Seperti… diriku?” Minha berusaha mengonfirmasi, memastikan ia tak salah dengar. “M-maksud Kakak….”

Jimin meletakkan cokelat hangatnya di atas meja terdekat, mengangguk muram. “Itu tadi…” Jemari Jimin menelusuri bekas luka yang baru ia buat. “…bukan kali pertama untukku.”

“Kakak….”

“Aku juga memilikinya, Minha-ya,” ujar Jimin, kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Pikiran-pikiran tidak rasional sepertimu, rasa panik itu, ketakutanku akan banyak hal… tapi aku tidak bisa menunjukkannya, bukan? Aku… aku tidak mau kamu menjadi seperti diriku. Aku tidak mau menambah bebanmu. Jadi… maaf kalau kamu harus melihatku seperti… seperti ini.”

Pernyataan itu tak disangka, Minha tahu itu. Ia juga tahu betapa takutnya Jimin, betapa sang kakak ingin menjaga rahasia ini agar ia dapat selalu terlihat sebagai seorang lelaki yang bisa diandalkan. Lebih dari segalanya, mereka berdua sesungguhnya memiliki masalah yang nyaris serupa. Sesuatu yang baru ia sadari kini, yang mendorongnya untuk bersikap lebih kuat dan lekas memberikan penghiburan.

“Tidak apa-apa kalau kamu… kecewa padaku atau semacamnya.” Jimin memulai lagi, tepat saat Minha baru saja menyelesaikan pemikirannya. “Maksudku… kakak lelaki sepertiku….”

“Sejak kapan pula aku butuh keluarga normal?” Minha lekas-lekas buka suara, tak ingin melihat Jimin berpolah seperti tadi lagi. “Aku menginginkannya dulu, tapi sekarang… sekarang aku hanya membutuhkan kakak. Dan untuk yang tadi… aku… aku minta maaf.”

Manik keduanya lantas bertemu, kali ini dengan sorot yang penuh kehangatan serta rasa paham. Kendati percakapan mereka bukanlah jenis percakapan yang ringan serta penuh tawa, tetapi entah mengapa kelegaan itu tetap datang ke dalam benak. Seolah memberi mereka kesempatan untuk menutup hari tanpa kegelisahan, untuk melupakan perkara yang terjadi walau hanya sementara.

“Kemarilah, Minha-ya.”

Menurut, Minha ikut meletakkan cangkirnya di meja dan membiarkan Jimin mendekapnya erat-erat. Lengan saling melingkari tubuh satu sama lain, sementara detik-detik berlalu pergi dan membawa sisa-sisa kecemasan yang ada. Keduanya butuh waktu beberapa menit sebelum memisahkan diri, namun kali ini ditemani senyum yang tulus serta gelak tawa kecil.

“Omong-omong, Kak Jimin….”

“Ya?”

“Boleh aku tidur di kamarmu malam ini?”

.

-o-

.

Bohong kalau Jimin berkata bahwa ia tidak membutuhkannya.

Minha memang terkadang meminta dirinya untuk menemani, lantaran gadis itu kerap mendapat mimpi buruk atau susah untuk tetap terlelap. Jimin tak pernah merasa keberatan, lantaran ia sendiri sesungguhnya memiliki masalah yang hampir sama. Hanya saja, ia tak pernah mengutarakannya secara langsung.

Sampai hari ini tiba, dan ia pun memutuskan untuk mengaku sembari merebahkan diri di samping adiknya.

“Ini konyol, tapi aku merasa lebih baik seperti ini. Setidaknya, aku tahu kalau aku tak akan sendiri.”

“Terlebih saat kamu mendapat mimpi buruk.” Minha melanjutkan, berbaring pada sisi kanan tubuhnya sementara Jimin menarik selimut untuk melindungi keduanya dari udara dingin. “Kak Jimin?”

Hm?”

Minha bergerak mendekat, mencari-cari kehangatan yang menguar sebelum memulai satu topik yang sedikit tak disangka Jimin. “Ulang tahun kita sebentar lagi. Hanya kurang beberapa hari saja.”

“Aku tahu.” Jimin membalas dalam bisikan, mendadak teringat akan rasa sakit yang menyengat di lengan kirinya. Tempat ia telah menorehkan luka tadi. “Aku….”

“Tidak mau membicarakannya?”

“Aku hanya….” Satu gelengan pelan. “Apa yang tadi telah terjadi… aku harus mengakui kalau sebagian besar dari penyebabnya adalah ulang tahun kita. Sama sepertimu, aku….”

“Kakak benci menjadi dewasa, aku tahu.” Minha lekas melanjutkan, mengulurkan tangan untuk membungkam mulut Jimin. “Tapi, maksudku bukan itu. Aku hanya ingin mengajak Kak Jimin pergi ke suatu tempat.”

“Pergi?”

Mmm-hmm. Ayo kita pergi liburan berdua, melupakan semua masalah ini dan….” Minha mengambil jeda sejemang. “Aku juga belum memikirkannya lagi, sih. Tapi, bukankah itu kedengarannya asyik?”

Jimin memikirkannya, mempertimbangkan. Mereka berdua memang tidak pernah suka merayakan ulang tahun, menerima ucapan selamat yang terlalu berlebihan serta diingatkan soal keharusan menjadi dewasa atau semacamnya. Untuk apa? Toh keduanya punya cara masing-masing untuk menjadi dewasa, bukannya harus senantiasa mengikuti kehendak serta nasihat bodoh dari orang lain. Orangtua mereka sudah cukup sering melakukan itu dulu, suatu hal yang membuat baik Jimin maupun Minha membenci pesta ulang tahun lebih dari apa pun juga.

Namun, pergi liburan bersama….

“Kurasa idemu boleh juga. Aku akan mencari tempat yang menyenangkan untuk berlibur. Mungkin pantai atau semacamnya?”

Tak ada kata yang Minha lontarkan, karena gadis itu sudah keburu memeluk Jimin erat seraya menarik sudut-sudut bibirnya selebar mungkin. Senyum yang benar-benar menunjukkan rasa bahagianya, sementara Jimin terkekeh dan membalasnya dengan cubitan ringan pada pipi sang adik.

“Kalau begitu, selamat tidur, Minha-ya. Urusan pantai kita pikirkan besok, oke?”

“Selamat tidur juga, Kak Jimin. Minha sayang kakak.”

Jimin tertawa kala kalimat terakhir itu terucap, kalimat yang dulu sering Minha ucapkan sewaktu ia masih kecil. Mendengarkannya membangkitkan nostalgia, sekelumit memori indah di antara hal-hal buruk yang pernah terjadi. Hal-hal buruk yang tak lagi ingin Jimin pikirkan, tidak karena seharian ini sudah cukup menguras tenaga dan emosinya.

Minha tertidur lebih dulu, ekspresinya terlihat tenang sementara Jimin merapikan selimut yang tersampir di tubuhnya. Lengan kemudian bergerak untuk merangkul kembarannya dengan protektif, menepuk-nepuk punggung sang gadis sembari ia sendiri memejamkan mata. Berharap agar kantuk cepat datang, agar hari ini dapat segera berakhir dan menjadi salah satu bagian dari lembar-lembar sejarah di dalam hidupnya.

Lagi pula, ia masih punya hari esok untuk dipikirkan.

Dan untuk itu, Jimin hanya punya satu harapan.

.

.

.

Karena tak ada hari esok yang sempurna,

tapi setidaknya Jimin bisa berharap agar hari-hari mereka jauh lebih baik dibandingkan hari ini.

.

.

fin.

happy 22nd birthday, kakak sayang! ❤

maaf baru bisa di-post hari ini, karena jadwal postnya kan emang baru hari Jumat XD

Anyway, have a blessed 22 years old, Jimin-ah! Please keep smiling and shining!

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Imperfectly Us

  1. ((salfok ama tulisan ficlet padahal isinya 3000an words 😂😂😂))
    Its okay kak, aku ttp suka kok ama ff nya ㅋㅋㅋㅋㅋ

    Huwaa aku baper keras ㅠㅠㅠㅠㅠ
    Seperti biasa, ff life nya kak tsuki ngena bgt ><
    Ga ingin tumbuh dewasa, yak itu bener bgt! RT keras bag itu kak!! Wkwk….
    Kembaran satu ini kadang bikin iri /plak/ Jadi pengen punya kakak kyk Jimin…
    Oke intinya ni ff bisa bikin aku merenung sejenak, mengingat soal masalah2 hidup spt si kembar '-'

    Last, hbd buat kak Jimin and kak Minha!! /tembak confeti/

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s