[Vignette] Remember When

1476197654710

Remember When

by risequinn

BTS’ Min Yoongi with OC’s Kim Nayeon
genres Angst, Romance | length ±1k words | rating T

I just own the plot and OC!

.

“Mau memainkan satu lagu menggunakan piano itu untukku?”

.

.

Salah Kim Nayeon adalah ia datang ke ruang klub musik dalam keadaan kacau. Beberapa saat lalu, terjadi perdebatan sengit antara Min Yoongi dan salah satu anggota klubnya. Entah perdebatan macam apa, namun hal itu membuat ruangan klub saat ini tampak berantakan dengan kertas-kertas partitur yang berserakan di lantai.

Min Yoongi―si ketua klub―tengah menyudutkan diri sembari menjambak rambutnya frustasi. Wajahnya tampak memerah dan sorot matanya setajam burung elang. Tangannya yang terkepal, dihantamkan pada tembok ruangan. Perbuatannya itu dengan cepat dihentikan oleh Nayeon. Ia menahan pergelangan Yoongi. Meski mendapat penolakan keras dari kekasihnya tersebut, Nayeon tidak menyerah. Beberapa kali nyaris terjungkal, namun tampaknya Nayeon juga bersikeras agar Yoongi tidak melakukan hal-hal yang bodoh seperti ini.

Keras kepala Nayeon terbayar dengan dengusan dari Min Yoongi yang kemudian menjauh dari dinding dan duduk di salah satu kursi. Nayeon tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun ketika Yoongi dalam keadaan seperti ini. Ia hanya berdiri dalam jarak yang cukup jauh dari pemuda itu seraya mengambil kertas-kertas partitur dari lantai dan merapikannya menjadi satu ke atas meja.

Nayeon melirik ke arah Yoongi; rahangnya masih mengeras dengan buku-buku tangannya memutih akibat terkepal dengan erat. Meski tidak tahu bagaimana persisnya perdebatan yang terjadi, Nayeon dapat merasakan bahwa Yoongi sungguh-sungguh marah kali ini. Bahkan, baru sekarang gadis itu melihat Yoongi seperti ini.

Nayeon merasa kebingungan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Memilih untuk pergi meninggalkan Yoongi sendirian tampaknya bukan opsi yang tepat. Pemuda itu dapat melakukan hal-hal yang bodoh lagi. Tetapi jika ia tetap di sini dan tidak melakukan apa-apa, maka sama saja menambah penderitaan si pemuda.

Nayeon lantas memberanikan diri mendekat dan duduk di sebelah Yoongi. Mengatur napas selama beberapa saat, sebelum akhirnya memandang pemuda itu lekat-lekat.

“Kak Yoon,” panggilnya pelan. Menunggu respons dari Yoongi yang kemudian memberinya tatapan singkat dan kembali pada posisinya semula. “mau memainkan satu lagu menggunakan piano itu untukku?”

Yoongi mengacak rambutnya sekali lagi. Matanya menyalang ke arah Nayeon seolah menjelaskan bahwa dirinya dalam keadaan yang tidak baik sekarang.

“Kamu tahu aku sedang―”

“Satu lagu saja, Kak. Setelah itu aku akan pergi dan tidak akan mengganggu tugasmu lagi.” Nayeon berkata dengan mengangkat dua buah jarinya sebagai pernyataan bahwa ia sunggung-sungguh berjanji soal itu.

Dengusan pelan dari Min Yoongi lah yang membalas ucapannya barusan. Keduanya bersitatap selama beberapa saat sebelum akhirnya pemuda itu beranjak menjauhi Nayeon dan duduk di depan piano besar yang berada tepat di sebelahnya.

“Baiklah.” ucapnya pelan.

Nayeon tersenyum lebar mendengarnya. Perasaannya sedikit bercampur aduk saat ini. Ia takut, senang, sedih dalam satu waktu. Gadis itu merasa hal yang dilakukannya justru membuat Yoongi semakin frustasi. Terbukti saat melihat ke arah si pemuda, ekspresinya belum ada perubahan sama sekali. Tetapi, toh, ini sudah terjadi. Nayeon hanya perlu melakukan suatu hal agar Yoongi dapat kembali tertawa lagi seperti biasanya.

“Lagu apa kali ini?” Nayeon bergerak mendekat. Mendudukkan diri di sebelah kursi yang Yoongi tempati selagi mendengarkan dengan seksama setiap nada yang dimainkan oleh kekasihnya tersebut.

“Kamu tentu dapat menebaknya.”

“All Of Me?”

“Ya, bernyanyilah untukku.”

Tersenyum sekilas, Nayeon akhirnya tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Yoongi kembali tertawa. Ia lantas berdiri. Berjalan mengelilingi piano besar milik universitas mereka, lalu menyanyikan lirik pertama dalam lagu All Of Me.

What would I do without your smart mouth?

Drawing me in and you kicking me out

You’ve got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down―

―Yoongi tiba-tiba menghentikan pergerakan jemarinya pada tuts-tuts piano itu. Membuat Nayeon menoleh cepat seraya mengerucutkan bibirnya.

“Kenapa berhenti, Kak?”

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Nayeon barusan. Min Yoongi terdiam dengan menatap gadisnya tajam. Sorot itu bahkan membuat Nayeon sempat pesimis; sepertinya ia telah gagal.

Pffft, hahahaha.” Dan kemudian sebuah tawa keras memenuhi seisi ruangan. Min Yoongi tergelak seraya memegangi perutnya. “Cukup, Nay, cukup! Perutku akan kram jika kamu terus bernyanyi. Aku lupa kalau suaramu itu sedikit, err, begitulah.”

Melihat itu, Kim Nayeon tersenyum lega. Tampaknya, ia tidak sepenuhnya salah karena datang kemari dalam keadaan semuanya masih kacau dan Yoongi yang tengah bersungut-sungut karena emosi. Toh setidaknya, kehadirannya di sini dapat membuat Yoongi melupakan sejenak masalah yang terjadi.

“Tapi aku senang.” ucap gadis itu kemudian.

Huh?”

“Karena aku bisa membuatmu tertawa seperti ini.”

“Kim Nayeon,”

Min Yoongi akhirnya tersenyum. Memandangi gadisnya dengan manik berbinar. Suasana hatinya sudah cukup baik sekarang. Ia dapat melepaskan―walau hanya sedikit―beban yang ditanggungnya sebagai ketua klub. Yoongi sadar, bahwa menyatukan banyak pendapat tidak semudah yang diperkirakan. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, maka sudah pasti berbeda pula pemikirannya.

Yoongi juga bersyukur gadisnya tidak pernah berada jauh darinya dalam keadaan-keadaan seperti ini. Mungkin jika Nayeon tidak datang dan membuatnya bermain piano hari ini, entah Yoongi akan melemparkan kekesalannya pada siapa.

“Sudah lebih baik, kan? Kalau begitu aku bisa kembali ke kelas dengan tenang sekarang.” Nayeon pun berjalan mendekat. Tangannya terulur guna merapikan rambut Yoongi yang tampak berantakan. “Jangan marah-marah lagi! Aku takut melihat wajahmu yang seperti tadi.”

Yoongi terkekeh pelan. “Hei, pacar cerewet! Terimakasih, ya?” ujarnya kemudian.

Nayeon lantas menyilangkan tangan. Bibirnya kembali mengerucut selagi melangkah mundur menjauhi Yoongi.

“Tidak mau menciumku, huh?”

“Nayeon-a!”

Gadis itu tergelak. “Haha, sampai nanti, Kak Yoon.” Ia melambai pada kekasihnya sebentar, kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan klub Yoongi.

.

.

Yoongi merasa jemarinya kebas. Ia menjatuhkan pena yang digenggamnya ke atas meja. Bibirnya memulas satu senyum pias selagi punggung menghantam sandaran kursi. Ingatan manis itu baru saja membayangi pikirannya. Membuatnya merasakan rindu yang teramat dalam juga sebuah perasaan bersalah yang menggerayang.

Pemuda itu semakin bimbang; apa yang harus ia lakukan sekarang?

Hari-harinya saat bersama Kim Nayeon selalu dipenuhi gelak tawa gembira dan hal-hal konyol yang dapat membuat mood Yoongi membaik. Pemuda itu ingat, bagaimana Nayeon yang tidak pernah bosan untuk tertawa meskipun hal itu kerap mengganggu tugas-tugas kekasihnya yang membutuhkan banyak konsentrasi. Dan setelah keduanya dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh, Yoongi merasa ada satu sisi dalam dirinya yang merasa sepi.

Seorang gadis yang merupakan tipe idealnya tengah berada di sekitarnya, namun tetap saja, ada hal yang menuntun Yoongi kini meraih ponsel dan membuka nomor kontak di dalamnya. Mencari nama ‘Kim Nayeon’ di sana, kemudian menekan tombol panggil demi menghubungi si cerewet yang saat ini mungkin tengah menunggu kabar darinya.

Nada sambung terdengar cukup lama membuat jantungnya berdebar dengan keras. Ketika panggilan itu diterima, Yoongi lantas mengambil napas dalam dan mengembuskannya perlahan.

“Halo, Nay. Apa kabar?”

.

.

.

fin.

Nayeon yang tau tetiba Yoongi nelpon dia, be like:

nayeon-kim

Bingung siapa risequinn? Baca ini ya >> Who’s risequinn?

Advertisements

6 thoughts on “[Vignette] Remember When

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s