[Chapter 3] Of Alienate and A Mirage: A Punishment

of-alienate-and-a-mirage-poster-2

Of Alienate and A Mirage

by risequinn

BTS members with some OCs
| genres AU!, Fantasy, Friendship, School Life, Sci-Fic | length 2.1k words | rating PG-17 |

Prev:
Prolog & Introduction | 1: A Secret of Nomina High School | 2: New Elementer

.

.

Mereka kerap menyebutnya ‘sesuatu yang tidak ada’.

.

.

Chapter 3: A Punishment

Bel baru saja berdering sebagai pertanda waktu istirahat pertama telah tiba. Master Rhea yang mengajar pada jam pertama baru saja meninggalkan kelas yang membuat seluruh siswa dapat bernapas lega setelahnya. Topik yang menegangkan, implementasi langsung di depan kelas, serta cara penyampaian dari Master Rhea yang cukup keras menjadikan seisi kelas diserang hawa panas secara tiba-tiba. Para siswa yang biasanya tertidur pun tidak berani memejamkan mata, bahkan sekadar berbincang dengan teman di sampingnya tidak dapat mereka lakukan.

Verna mengedarkan pandang ke seisi kelas. Teman satu tingkatnya belum ada yang meninggalkan kelas satu pun. Secara serentak, mereka memijat kening dengan wajah tampak depresi. Verna akui bahwa kelas Master Rhea cukup serius, sehingga mereka tidak dapat mengalihkan fokus kemana pun. Tetapi, itu cukup memberi hukuman kepada anak-anak yang sukar memperhatikan pelajaran. Mereka dapat fokus dan tidak melakukan hal yang merugikan teman-teman satu kelasnya. Namun, kelas seperti ini lah yang justru kerap dibenci oleh siswa-siswi Nomina. Yang pada kenyataannya, kebanyakan master di Nomina High School memiliki cara mengajar seperti Master Rhea.

Satu-persatu siswa di tingkat 4 kelas A mulai berjalan keluar ruangan. Sebagian masih betah berada di mejanya seraya memainkan smartphone mereka. Verna melirik ke meja Carden. Pemuda itu tengah mengemasi alat tulisnya ke dalam ransel dengan tergesa, menarik atensi Verna untuk mendekat ke sana.

“Hei, Carden. Mau ke kafetaria bersama?” tawar Verna yang langsung mendapat gelengan dari si empunya nama Carden tersebut.

“Tidak sekarang Verna, aku harus menemui Master Lark terlebih dulu.” jelas Carden setelahnya.

“Ada masalah apa?” alis Verna bertaut karena penasaran. Mata mengerjap beberapa kali selagi menatap Carden yang beranjak dari kursinya kemudian membagi seulas senyum pias.

“Tidak apa-apa. Pergilah ke kafetaria, nanti aku menyusul.”

“Baiklah.”

 

***

 

Gemetar yang tiba-tiba menyerang jemari Carden tidak dapat disembunyikan tatkala pemuda itu mengetuk pintu bercat putih mengkilap yang berplakat Master’s Room tersebut. Beberapa kali menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan nyatanya tidak mampu menghilangkan sedikit kegelisahannya. Justru, detak tidak beraturan pada organ pemompa darahnya semakin menjadi. Terlebih, usai Carden berhasil membuka knop pintunya dan melangkah masuk ke salah satu ruang skat yang ditempati oleh Master Lark. Lelaki paruh baya itu melempar tatap tajam di sebalik kaca mata yang membingkainya.

“Permisi, Master Lark mencari saya?” tutur Carden dengan nada pelan.

“Iya, duduklah.” sahut Master Lark tanpa berniat untuk mengubah arah tatapannya dari Carden.

“Terimakasih.”

Carden menarik kursi di depan masternya. Matanya mencari fokus lain yang membuatnya tidak bertemu pandang dengan Master Lark. Meski telah diprediksi sebelumnya bahwa hal seperti ini akan terjadi dalam waktu dekat, tetapi Carden belum sanggup mempersiapkan mentalnya. Pemuda itu memang memiliki keberanian yang luar biasa, namun nyalinya menciut ketika berhadapan dengan sang master. Terlebih, masalah yang hendak mereka bahas adalah masalah yang cukup besar.

“Langsung saja, jelaskan apa yang terjadi pada hari Sabtu di belakang sekolah!”

Terdiam sejenak, Carden nyaris saja tidak dapat menelan salivanya sendiri. Bagaimanapun, suara berat itu terdengar mengintimidasi dirinya. Membuatnya kini hanya menundukkan kepala selagi menjawab dengan suara pelan, “teman-teman dari kelas C menggunakan area belakang sekolah untuk berlatih.”.

Master Lark tampak menyalang marah. “Apa mereka tidak tahu peraturannya?!” gebrakan kecil lantas terdengar usai sang master meletakkan buku tebalnya ke atas meja dengan cukup keras.

Carden semakin menenggelamkan wajahnya. Merasa seluruh organnya kini diserang tremor yang kuat, membuat dirinya bungkam. Hal ini terjadi karena Carden lalai, bahkan berakibat fatal untuk Cia―saudari kembarnya―yang sampai saat ini belum dapat mengikuti pelajaran seperti biasa.

“Ma- maafkan saya, Master. Itu adalah kelalaian saya. Saya akan bertanggung jawab atas kejadian ini.” Carden akhirnya berujar pelan.

Namun tampaknya, hal itu tidak membuat Master Lark melunak. Sang master justru berdiri. Tubuhnya mencondong ke depan selagi kedua tangan digunakan sebagai tumpuan. Tatapannya begitu seram; tipikal kesiswaan yang bertindak dengan keras.

“Panggilkan semua murid di kelas C!” ujarnya tegas.

“Anda akan melakukan apa?” Carden bertanya seraya mengangkat wajahnya perlahan. Debar di dalam dadanya semakin tidak beraturan. Ini akan semakin buruk jika Carden tidak segera mengambil tindakan.

“Kumpulkan mereka semua, dan jangan banyak bertanya!”

Carden berdiri, menimbulkan bunyi decitan pelan dari kursi yang semula ia duduki. “Tetapi, Master, saya ingin bicara sesuatu.” ujarnya kemudian.

Master Lark menatap Carden acuh; seolah ia tidak ingin tahu apa yang ingin Carden sampaikan. “Aku tidak menerima pembelaan apapun, Carden!”

Carden menggeleng. “Saya tidak akan melakukan pembelaan, akan tetapi―” ia sengaja menggantungkan kalimatnya sembari menunggu respons dari sang master. Mendapati Master Lark mengangkat sebelah alisnya dan melipat lengan di depan dada, Carden lantas tersenyum tipis.

“Segera katakan!”

 

***

 

Riuh tampak memenuhi seisi aula. Seluruh siswa-siswi dari kelas C tengah berkumpul di sana. Perintah dari Master Lark telah dilaksanakan oleh Carden dengan baik. Cukup sulit memang mengumpulkan seluruh murid dari kelas ini. Selain karena jumlah siswanya yang banyak, penghuni dari kelas ini sungguh-sungguh menguji kesabaran Carden.

Nyaris sebagian siswa memiliki sifat yang sama, yaitu keras kepala. Mereka sempat menentang Carden saat ia mengumumkan bahwa seluruh siswa dari kelas tersebut harus berkumpul di aula. Jelas Carden harus sedikit mengeraskan suaranya dan berakhir ia mendapat makian dari seorang gadis yang dulunya adalah teman dekatnya.

Master Lark segera menghidupkan microphone-nya. Ia berdiri di panggung pada aula tersebut seraya menatap seluruh siswa dengan tajam. Membuat seluruh siswa akhirnya bungkam tanpa berani mengucapkan apa-apa.

“Kalian tentu tahu kenapa saya mengumpulkan kalian semua di sini?”

Para siswa mulai berbisik-bisik pelan. Mereka jelas sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh sang master terhadap seluruh siswa. Peraturan di sekolah ini sungguh-sungguh tidak dapat mentolerir segala bentuk kesalahan meskipun itu sangat kecil.

Master Lark membuat suara deham keras agar siswa kembali tenang. “Saya akan memberi hukuman untuk kalian semua.”

Seorang siswa tampak mengacungkan tangannya. “Kenapa kami semua mendapat hukuman? Yang berlatih di belakang sekolah hanya beberapa orang saja, Master.”

“Diam! Kalian semua ikut bertanggung jawab atas kejadian ini.” tegas Master Lark.

Siswa itu pun menurunkan tangannya seraya mendengus dengan keras. Seorang murid lain berdecak, kemudian menatap Raizel bengis. Telunjuknya terangkat guna menuding ke arah si gadis. “Ini semua gara-gara kau, Raizel!” ucapnya marah.

Raizel yang tidak terima atas tuduhan itu segera menepis jemari siswa tersebut. “Jaga bicaramu!”

“Memang siapa lagi? Bukankah kau yang mengajak teman-teman dan para senior untuk berlatih?” timpalnya.

“Aku tidak mengundang mereka, asal kau tahu. Aku hanya mengajak beberapa pengendali petir, bukan mereka semua!” Raizel melakukan pembelaan, membuat siswa itu menjungkitkan alisnya.

“Lalu siapa yang melakukannya?”

“Kenapa kau masih bertanya? Siapa lagi jika bukan Weston.”

Siswa yang merupakan teman satu tingkat Raizel itupun segera membenarkan ucapan si gadis. Ia masih ingat bagaimana Weston melakukan kekacauan besar dulu, dan bukan tidak mungkin jika pemuda itu melakukan sebuah kekacauan lagi sekarang.

“Benar. Pasti lelaki itu yang melakukannya.” siswa tersebut mengedarkan pandang ke seluruh barisan, tetapi tidak mendapati sosok Weston ada di antara mereka. “Hei, di mana dia sekarang?”

 

***

 

Weston melipat tangannya sembari menyandar pada sebatang pohon besar di puncak bukit. Senyum tersungging tipis pada bibirnya. Alih-alih menyesali perbuatannya, pemuda itu justru tergelak senang setelah melakukan satu kekacauan besar yang lain.

Weston pergi kemari bukannya takut pada hukuman yang akan diberikan oleh para master, ia terbiasa mendapat itu semua namun sama sekali tidak membuatnya angkat kaki dari Nomina. Siapa yang berani mengusir Weston memangnya? Ia berada di sini untuk berlatih; di tempat yang diberikan khusus untuk dirinya dari seseorang.

Satu kekehan ringan meluncur dari bibirnya sekali lagi. Weston berderap pergi selagi menatap sekolahnya dari atas bukit.

“Selamat menjalani hukuman, teman-temanku!”

 

***

 

“Apa yang terjadi Carden?” tanya Verna ketika Carden menemuinya di kafetaria. Pemuda itu telah membawa nampan makan siangnya dan segera melahapnya sejurus kemudian.

“Ada yang melanggar peraturan sekolah dan seluruh murid harus menanggung akibatnya.” ucapnya setelah berhasil menelan makanannya.

“Seluruhnya?”

“Hanya dari kelas C saja.”

“Kenapa begitu?”

“Memang seperti itu peraturannya.”

Verna tampak mengangguk kecil selagi bertopang dagu di atas meja. Gadis dengan rasa penasaran yang tinggi itu tidak membiarkan Carden menjelaskan hanya sampai situ. Ia mempunyai banyak pertanyaan lain, namun lebih dulu membiarkan Carden menghabiskan makan siangnya. Verna tidak mau nantinya pemuda itu tersedak karena harus menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.

Selang beberapa saat terdiam sembari meneguk jus wortelnya, Verna akhirnya melihat Carden meletakkan sendok dan menyeka sudut bibirnya. Gadis itu kemudian menyilangkan tangan―masih berada di atas meja.

“Carden, apa hal itu sering terjadi?”

Carden memandang Verna sepintas. “Ini yang kedua kalinya.” tuturnya.

“Sebelum ini apa―”

“Sebelum ini justru siswa dari kelas A yang melakukannya.”

Verna tertegun selama beberapa saat. Matanya membola ke arah Carden yang saat ini tengah meneguk jus wortelnya juga.

“Sungguh?”

“Ya,” pemuda itu mengangguk pelan. Sedikit mengingat kejadian setahun lalu dimana dirinya masih berada di tingkat tiga. “Bahkan Ketua Dewan Sekolah juga ikut berlatih di sana.”

“Lalu, apa yang terjadi dengannya?” Verna masih melempar berbagai pertanyaan, membuat Carden mendengus pelan selagi punggung dihantamkan pada sandaran kursinya.

“Dia dibebastugaskan, dan… aku yang harus menggantikannya.”

“Harus menggantikan? Apa menjadi ketua bukan kemauanmu sendiri?”

Carden menggeleng. “Bukan, Verna. Ada yang merekomendasikanku, tetapi aku tidak tahu siapa.” jelasnya. Hal yang sangat besar telah terjadi dalam hidupnya saat itu. Banyak yang ia syukuri, tetapi lebih banyak yang ia sesali usai semuanya berlalu.

“Begitu, ya.” Verna tampak memainkan telunjuk pada dagunya. Ia merasa ragu ingin bertanya perihal ini, tetapi ia begitu ingin tahu mengapa Carden selalu sendirian sebelum dirinya datang. Teman satu tingkatnya pun tidak banyak yang mengajaknya berbicara. “Omong-omong, apa kau tidak memiliki teman, Carden?” tanya Verna pada akhirnya.

Carden menatapnya tajam, lantas mengembuskan napas keras-keras. Airmukanya berubah sejurus kemudian. Sementara, Verna tahu sepertinya pertanyaannya kali ini salah. Namun, belum sempat ia meminta maaf atas itu, Carden lebih dulu menyela. Lengkap dengan rahangnya yang mengeras, juga tangan terkepal di atas meja.

“Tidak.” jawabnya tegas.

 

***

 

“Raizel.”

“Apa?!”

“Aku bukan ingin mengajakmu berkelahi.” Evan mendorong pintu aula perlahan selagi mendengar suara decakan dari si gadis pengendali petir yang tengah melaksanakan hukumannya itu.

“Lalu, mau apa kau kemari? Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun, kau dan semuanya, Evan!” jawab Raizel keras.

Evan berjalan mendekat, kemudian melempar sebuah minuman kaleng kepada karibnya tersebut. “Ini, minum dulu. Sedang tidak ingin bicara, tapi kau cerewet sekali.”

“Diam! Lebih baik kau membantuku selesaikan ini. Aku ingin istirahat, kakiku mau patah rasanya.” Raizel menyahuti sembari mendorong alat pel yang semula digenggamnya ke arah Evan.

Pemuda itu menggeleng perlahan atas ulah si gadis, namun tetap melakukan hal yang diminta oleh gadis itu. Evan dapat melihat jelas bahwa yang diucapkan Raizel soal kelelahannya bukanlah candaan. Gadis itu belum sepenuhnya pulih dan harus menjalankan hukuman ini.

“Kau tahu, Carden―”

“Ada apa dengannya? Aku benar-benar akan menghajarnya setelah ini.”

Evan berusaha membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam. Tetapi, Raizel justru memotong ucapannya dengan melempar tatapan nyalang. Gadis itu tampak bersungut-sungut, mengabaikan dengusan keras yang Evan keluarkan setelahnya.

“Tolong, Ra, izinkan aku berbicara dulu. Jangan memotongnya!”

“Baiklah, bicara saja!”

Evan lantas mendudukkan diri pada salah satu kursi di aula tersebut. Meletakkan alat pel, kemudian menyilangkan tangannya. “Carden berteman dengan murid baru itu.” ucapnya.

“Apa? Siapa?” tanya Raizel acuh.

“Kalau tidak salah namanya Verna.” jelas Evan. Sejurus, sorot pemuda itu berubah sendu. “Aku terkadang kasihan melihatnya, tapi―”

“Aku justru ingin menghabisinya, Evan. Biarkan saja dia berteman dengan siapapun, itu bukan urusan kita lagi.” Raizel menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai dengan meluruskan kaki. Tangannya digunakan untuk memukul daerah betis yang terasa sakit karena terlalu lama berdiri dan berjalan ke sana kemari untuk membersihkan tempat terluas di sekolah mereka ini.

“Hei, dia juga dihukum, kalau kau ingin tahu.”

“Apa hukumannya? Apa dia diminta membersihkan aula seorang diri? Tidak, kan?”

“Dia mendapat skorsing selama tiga hari.” sahut Evan, membuat Raizel segera menatap ke arahnya. “Dia mengatakan bahwa akan menanggung hukuman terberatnya, maka dari itu kalian hanya diberikan hukuman seperti ini.”

“Sungguh?” tanya gadis itu tidak yakin.

Evan mengangguk cepat. “Ya, kau masih mau menghajarnya? Area belakang sekolah itu memang tidak bisa digunakan untuk main-main, Raizel. Harus ada seorang master yang mengawasimu jika kau ingin berlatih. Beruntung tidak ada yang tewas akibat perbuatanmu.”

“Ini semua salah Weston, Evan!” tukas Raizel. Dihentaknya ke lantai minuman kaleng yang tengah digenggamnya. “Dia memberitahuku bahwa larangan itu telah dihapus, dan kami bisa menggunakan area belakang sekolah untuk berlatih setiap waktu.”

“Kau masih memercayainya?” Evan bertanya seraya mencondongkan tubuh, menumpu sikunya pada lutut.

“Dia bilang sudah berubah, setelah kejadian tiga tahun lalu. Dan sikapnya juga tidak sama seperti dulu. Tetapi ternyata…”

“Kau baru sadar sekarang? Seorang penjahat tidak akan benar-benar berubah, Raizel. Ada satu sisi dalam dirinya yang akan terus-menerus melakukan hal yang sama. Begitulah karakter manusia.” Evan kemudian berdiri. Meraih alat pel lagi dan berjalan mendekati Raizel. “Ayo, cepat selesaikan ini dan kuantar pulang.” ucapnya seraya menyorong gagang pel tersebut kepada si gadis.

Ah, kakiku benar-benar mau patah rasanya. Bisakah kau melakukannya sendiri, Evan?”

“Dasar!” Evan mendengus keras. Ia mengerti apa maksud Raizel kali ini; memintanya untuk menggantikan tugas si gadis. Namun, Evan tidak menolaknya. Bagaimanapun, membantu Raizel merupakan tugasnya sebagai seorang teman. Ia lantas berjalan sembari mengibaskan alat pel ke lantai aula dan area panggung besar, membuat Raizel tersenyum lebar karenanya.

“Terimakasih, partner.”

 

 

 

To be continued…

Park Jimin as Carden (elemen: telekinesis)

tumblr_oe9trbbssi1s70o1po1_r1_500

And, happy (late) birthday Park Jimin ❤

Advertisements

9 thoughts on “[Chapter 3] Of Alienate and A Mirage: A Punishment

  1. Pingback: [Chapter 6B] Of Alienate and A Mirage: Mission Accomplished – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Pingback: [Chapter 6A] Of Alienate and A Mirage: Rescue Mission – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Pingback: [Chapter 5] Of Alienate and A Mirage: Frailty – BTS Fanfiction Indonesia

  4. Lisa Thouw

    Namjoon diam2 menghanyutkan. Jd jahat gt.hahahaha…

    Punya temen kya Jhope sepertinya enak… gampang disuruh2.wakakakakakaka

    Sepertinya aku dh hapal semua nama2nya…yeyyy

    Like

  5. Pingback: [Chapter 4] Of Alienate and A Mirage: Who is He? – BTS Fanfiction Indonesia

  6. apa sebenernya yg bikin semua orang gak sukak sama jimin? apa maunya namjoon? apa fungsi yoongi disini? well, aku masih gak paham kenapa yoongi diasingkan, dan kenapa dia gak punya kekuatan padahal adeknya pengendali petir? yang diomongin jimin tentang pernah ada kekacauan sebelumnya yg dibuat sama anak kelas A itu yoongi kan? gara-gara namjoon? namjoon yg bikin yoongi diasingkan kan? huh tau lah… butuh mas gula nongol secepatnya……

    Like

  7. EH SUMPAH JADI IKUT KESEL BENERAN ITU SAMA SI WRSTON/? SIAPA SIH ITU/? LUPA/? Maz namjun apa yak kalo nda salah/?

    TABOK AJA SI WESTON, MAK YUNRA. TABOK AJA/?

    Etapi kok ku penasaran kenapa cardern segitu dibencinya/? Kayak temenan sama verna aja jadi gosip besar gitu/? Masa cuma gara gara jadi ketua dewan doang jadi dibully secara non verbal gitu/? Padahal dia kan baik :”)) atau jangan jangan dia nerima detensi terberat supaya kembarannya nggak dapet hukuman berat? Ah jadi makin tersentuh hati ini/? :”)))

    Kutunggi chap selanjutnya kak echaaaaa.

    Like

  8. Echaaa aku baru sempet ngepoin wp lgsg baca seriesmu uhuuyy… aku komen di part ini aja yhaa biar dikenang /apalah/

    First of all. KUKANGEN MAS AGYUSSS uhuhuhuuu. Kembalilah ke hatiku bang /plak

    Carden ini tipe2 superhero bgt ya, jadi pen bikin ftv judulnya “bantet-bantet superhero” wkkwkwkw. Siq mqh wajahnya kayak bapak2 penuh kasih sayang giduw, nafkahin aku paakk.

    Aku penasaran btw siapa yg merekomendasikan dia jd penanggung jawab para begundal2 di nomina sih duheh?

    Ku terharu mas epan totalitas bgt nulungin mba raijel, situ sahabat nyambi babu ya? /dihajar/ wkkwkwkw

    Dan cha plis teruskan ini cerita smpe tuntas, jgn pehapein aku… kudoqkqn hidupmu sejahtera, mwah :*

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s