[Chapter 2] Bring Back the Shadow

img_6654

Bring Back the Shadow

by ayshry

BTS members with some OCs
| genres AU!, Friendship, Mystery, Thriller | length 3.1k words | rating PG-17 |

Seharusnya kematian itu tak pernah terjadi

Prev:
Prolog & Introduction Chapter 1

***

Tidak ada sesuatu yang aneh siang ini. Bagi Jimin, semua terlihat baik-baik saja. Perjalanannya menuju apartemen Yoongi juga lancar tanpa hambatan atau kemacetan yang mengepungnya. Tidak ada sesuatu yang salah, sejauh ini. Karena hari ini masih seperti hari-hari sebelumnya, bahkan seperti saat Jiyoon masih ada bersama mereka.

Sementara itu, cerita tentang Ahn Jiyoon masih berkecamuk di pikirannya, seperti sebuah televisi berlayar hitam-putih dengan kaset usangnya yang terputar tanpa bisa dicegah. Pemuda Park itu yakin semuanya masih akan membayangi hingga esok, lusa atau mungkin selamanya. Baginya, Jiyoon itu istimewa dan tentu saja kematian sang gadis membawanya ke dalam kegelapan yang tak tahu di mana akan ditemukannya secercah cahaya.

Kendaraan pribadinya baru saja memasuki arena parkir apartemen yang ditinggali oleh Min Yoongi; karibnya. Keluar dari mobilnya, Jimin mengayunkan tungkai sembari bersenandung riang. Sebenarnya pemuda itu terlambat jika mengingat jam yang ia janjikan untuk berkunjung, tapi ya sudahlah, yang penting dia tiba dengan selamat.

Menaiki lift menuju lantai enam belas—tempat di mana apartemen Yoongi berada—Jimin mendesah kecil lantas melirik arloji di pergelangan tangannya untuk membunuh waktu kosong yang ia lewati di dalam kotak persegi itu sendirian. Jujur, Jimin benci dengan lift. Tidak hanya karena ukurannya yang kecil dan membuatnya sesak, juga karena tempat tersebut terlihat amat seram—baginya.

Bunyi dentingan yang disusul dengan pintu baja terbuka membuat Jimin kembali dari lamunan. Lekas ia keluar dari sana lantas berjalan lurus hingga ujung koridor. Pemuda itu berbelok ke kanan, berjalan sekitar lima langkah dan berhenti di sebuah pintu. Iseng, Jimin menekan bel; meski faktanya pemuda itu bisa saja menerobos masuk karena sudah mengetahui password yang melindungi pintu rumah milik pemuda Min tersebut.

Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada juga tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu untuknya.

Apa Yoongi sedang di kamar mandi?

Sejurus kemudian, jemarinya sudah bermain-main di atas angka-angka yang tersedia di pintu tersebut hingga sebuah bunyi bip mengisyaratkan bahwa pintu telah terbuka. Jimin mendorong pintu perlahan lantas melangkahkan kaki memasuki ruangan.

“Yoongi?”

Tak ada jawaban. Perhatian Jimin segera teralih ke seluruh ruangan yang entah bagaimana menjadi gelap gulita—bahkan lampu otomatis di depan pintu masuk juga tidak berfungsi dengan baik. Anehnya lagi, ia tak mendengar suara apapun dari arah dalam selain alunan musik klasik yang—oh tunggu, sejak kapan Yoongi yang swag menyukai musik klasik?

“Min Yoongi. Hyung!

Lagi, Jimin memanggil nama karibnya itu. Kakinya ia gerakan pelan-pelan sedangkan tangannya mulai meraba-raba dinding sekitar demi menemukan sakelar lampu. Ketika langkah ketiganya berjejak, Jimin heran, sebab ada sesuatu yang lembek melindungi lantai dan berbekas di telapak kakinya.

Apa ini?

Pemuda itu berjongkok, matanya ia sipitkan agar bisa melihat dikegelapan. Warnanya putih, Jimin yakin meski penglihatannya tak berfungsi dengan amat baik karena tak ada cahaya yang mengimbangi.

“Garam,” gumamnya.

Lekas, Jimin berdiri. Ada hawa aneh yang menjalar di sekitarnya. Tiba-tiba, perasaan pemuda Park itu menjadi tidak enak. Mulai mempercepat gerakan, ia yang kebingungan semakin gencar mencari di mana sakelar lampu berada. Ketemu.

Ada keraguan yang tiba-tiba menjalar, meski begitu, ia tetap menekan sekelarnya. Lampu menyala, matanya terbelalak. Sekon berikutnya pemuda itu telah menyatu dengan lantai. Tubuhnya  melemah; seakan kehilangan kekuatan untuk menopang berat badan. Jeritan tertahan akhirnya menguar setelah akal sehatnya datang. Lekas, ia raba kantung celananya demi mengeluarkan ponsel yang terjebak di sana. Sulit, cukup sulit. Ketika ponsel telah berada di tangannya yang gemetaran, ia mencoba menghubungi sebuah nomor.

Telepon tersambung namun Park Jimin masih kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Kata-katanya terputus, mungkin seseorang di seberang sana tak mengerti satu kalimat pun yang menguar dari bibirnya. Sampai pada akhirnya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, pemuda itu berteriak histeris;

“MIN YOONGI DI BUNUH DI APARTEMENNYA!”

***

Hayoon bersama Namjoon, Taehyung dan Hoseok tiba di apartemen Yoongi ketika sekitar tempat itu telah ramai polisi yang berjaga. Para tetangga juga mulai berbisik sana-sini, membicarakan tentang kematian karib mereka; seperti ada sesuatu yang tak beres tentang hal tersebut.

“Park Jimin!” Hayoon adalah orang pertama yang menyerukan nama Jimin lantas menyeruak di antara kerumunan. Polisi sempat mencegah pergerakannya juga karibnya yang lain, namun kemudian mereka segera diberikan akses untuk masuk setelah seseorang—mungkin seorang detektif—memberikan izin. “Ada apa ini?!”

Jimin mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Di pandanginya satu-persatu mereka yang tengah berdiri di depannya lantas menyerahkan selembar kertas yang langsung di sambut oleh Namjoon.

“Foto ini ….”

Namjoon mengalihkan pandangan ke sekitar. Semuanya kebingungan.

“Foto terakhir yang kita ambil saat liburan musim panas lalu,” ujar Hoseok. “Dan tanda ini—“

“Jiyoon … dia juga berada di sana dan wajahnya di beri tanda silang,” potong Taehyung.

“Juga wajah Yoongi.” Kali ini suara berasal dari Hayoon yang mendadak lemas dan pada akhirnya terduduk di lantai.

“Hayoon-a, kau baik-baik saja?” Hoseok cemas, lebih cemas lagi ketika gadis itu mulai terisak.

Ketika mereka masih mencoba mencerna keadaan, seseorang tiba dengan wajah panik juga peluh membasahi wajah, pun kaos tipisnya.

“ADA APA INI?!” Adalah Kim Seokjin. Namjoon yang memberitahu dia perihal kabar buruk ini, dan sesegera mungkin ia menuju ke tempat kejadian. “Min Yoongi … kenapa? Apa yang terjadi padanya?”

Tak ada yang menjawab. Namjoon hanya menyerahkan selembar foto lantas menepuk pelan pundak Seokjin. “Hanya ini yang kami punya dan belum ada—“

“Yoongi di bunuh. Aku yakin. Dia … tidak mungkin dia mengeluarkan semua organ dalamnya sendiri dan melumuri diri dengan adonan aneh itu, ‘kan?” Akhirnya Jimin membuka suara dan pernyataannya barusan membuat semua gempar. “Mereka masih memeriksanya di dalam. Jika kalian sanggup—oh, kurasa ada baiknya kalian tak masuk ke dalam. Karena—“

Belum sempat Jimin menyelesaikan kalimat, semua yang di sana kecuali Hayoon—yang sengaja ditahan oleh Jimin—berlari memasuki ruangan. Beberapa petugas sempat menghalangi, namun tenaga mereka berempat terlalu besar untuk dilawan oleh dua petugas saja.

Namjoon syok. Begitu juga yang lainnya. Semua mematung, bahkan Taehyung langsung membuang wajah ketika jasad karibnya terekam di penglihatan.

“Apa yang kalian lakukan di sini?!” Teriakan menguar. Seseorang mendekati lantas menyuruh mereka untuk keluar. “Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk melihat kawan kalian yang—“

“Apa yang terjadi? Maksudku … bagaimana mungkin Yoongi menjadi seperti itu dan, keparat! Sebenarnya ada apa dengan semua ini!” Seokjin menggeram. Ia terlihat gusar, matanya memerah. mungkin amarah sudah menguasainya, namun sang pemuda tak mampu mengungkapkan segalanya.

“Tolong, tenanglah. Ini bukan tempat kalian, jadi silahkan tunggu di luar.”

“Yoongi Hyung … bagaimana bisa dia berakhir seperti ini?” Hoseok melayangkan pertanyaan. Matanya menerawang, pikirannya kacau. Ingin rasanya ia berteriak lantang, namun tenggorokkannya seakan tercekat; bahkan untuk berbicara saja terasa amat sakit.

“Tidak ada yang tahu. Baik itu aku atau siapa pun. Kami sedang mengusahakannya.”

“Seseorang membunuhnya, ‘kan?” tanya Taehyung.

“Sudah pasti.”

“Tapi … dengan cara sekejam ini? Bajingan!”

Seseorang yang mereka yakini sebagai detektif itu menghela napas panjang. “Dengar, aku dan yang lain belum pernah melihat kasus seperti ini dan jujur saja, semuanya sangat membingungkan. Tidak ada sidik jari, tidak ada bukti, hanya selembar foto dengan tanda silang yang mencoreng muka dua orang di dalamnya juga garam sebagai alat—oh sial, apa aku bisa menyebutnya sebagai alat pembunuhan? Tidak. Kami belum bisa mengatakan apa-apa untuk saat ini, tetapi korban, Min Yoongi, sahabat kalian telah mati dengan cara yang tak wajar. Sadis.”

“Siapa?” Suara lemah Namjoon menguar. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Siapa?” Detektif itu mengulang kembali pertanyaan yang keluar dari bibir Namjoon lantas melanjutkan, “Tidak ada sidik jari, Bung. Kami masih harus melakukan penyelidikan, jadi sebaiknya kalian keluar dan—oh, apa aku sudah mengatakan jika kami akan mengambil kesaksian kalian? Kudengar kalian bersembilan sudah bersahabat sejak lama, jadi—“

“Tujuh.” Potong Seokjin.

“Ya?”

“Kami sudah kehilangan salah satunya beberapa minggu yang lalu dan sekarang … Min Yoongi juga pergi. TIba-tiba.”

Sang detektif berdehem. “Maafkan aku. Tapi, bisakah kalian segera keluar?”

Keempat pemuda itu tak memiliki niat juga kekuatan untuk melawan. Menyeret tungkai mereka masing-masing dengan amat terpaksa, pada akhirnya mereka kembali berkumpul bersama Jimin dan Hayoon juga Jungkook yang entah sejak kapan berada di sana.

“Bagaimana dengan Yoongi? Apa aku … bisa melihatnya?” Hayoon berdiri tiba-tiba lantas berlari cepat. Jika saja Namjoon tak menahannya, mungkin gadis itu sudah memasuki tempat di mana jasad Yoongi terbujur kaku; dengan balutan garam dan keadaan yang tak mungkin sanggup dilihat oleh gadis Ahn tersebut. “AKU INGIN MENEMUI YOONGI!” Hayoon memekik, Namjoon mendekapnya erat.

“Tidak, Hayoon-a. Kau tak boleh melihat Yoongi dalam keadaan seperti itu.”

***

“Jiyoon-a.”

“Hmm?”

“Bagaimana kalau kita singgah di sebuah restoran terlebih dulu sebelum memulai pemburuan?”

Gadis Ahn itu tertawa. Menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu dengan mata menyipit, ia lantas bertanya, “Kau lapar, Kak?”

“Sedikit. Eum … aku lupa kalau belum makan dari siang tadi, hehe.”

Tsk, siapa suruh tak ke markas siang tadi, huh? Tadi Kak Seokjin memasak chicken cordon bleu untuk kita semua, tahu.”

“Wah? Benarkah? Sayang sekali. Aku ada kelas sampai jam dua dan langsung dilanjutkan dengan kegiatan klub. Jadi tak ada waktu untuk—“

“Bukan tidak ada waktu, tapi kau lebih ke terlalu menyibukkan diri sendiri. Lain kali jangan pernah melewatkan jam makan, Kak, kalau sakit bagaimana?”

Min Yoongi mengulum bibirnya. Ia ingin tertawa namun sengaja ditahannya. Tak disangkanya, Jiyoon seperhatian itu, kepada orang yang bahkan bertukar sapa saja bisa dibilang amat jarang. Biasanya hanya Hayoon yang perhatian padanya atau ada si Jimin yang terkadang bertingkah seperti yang paling peduli meski ujung-ujungnya ada maunya.

“Oi, Kak, melamun?”

Yoongi tersentak lantas terkikik geli karena pemikirannya barusan.

“Jadi makan, tidak? Oh, harus jadi. Ayo!”

Tanpa menunggu persetujuan dari Yoongi, gadis Ahn itu sudah terlebih dahulu menarik lengan sang pemuda. Menyeretnya dengan semangat ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Jiyoon menemukan meja kosong di dekat kaca besar. Lekas, ia langkahkan kakinya dengan tangan yang masih menyeret tubuh Yoongi dan duduk di sana. Seorang pelayan datang, Jiyoon sambut dengan senyuman.

“Jadi … kau mau pesan apa, Kak Yoongi?”

***

Apartemen Yoongi masih ramai; bahkan semakin ramai seiring berjalannya waktu dan para sahabatnya masih berdiam di tempat. Mereka seakan enggan berpindah dari sana barang sedikit pun. Ketika keadaan menjadi sedikit tenang, seseorang menghampiri mereka dan memperkenalkan diri sebagai Briptu Lee yang menangani kasus kawan mereka. Tak ada yang tertarik dengan obrolan singkat itu sampai seseorang yang lebih tua datang menghampiri.

Seorang paruh baya itu adalah Detektif Kang; salah satu orang yang juga bertanggung jawab atas kasus yang terjadi di wilayahnya tersebut. Berjalan terburu-buru, ia dekati Briptu Lee yang menyambutnya dengan penuh hormat.

“Oh, Briptu Lee. Bagaimana situasinya?”

“Jujur, ini kasus yang langka. Sangat langka. Aku—oh, bahkan kami semua belum pernah menemukan kasus seperti ini.”

Detektif Kang melirik ke sekumpulan orang yang terduduk lesu di dekatnya. Mata mereka semua sama-sama menatap kosong dan ada beberapa yang ia lihat saling menguatkan satu sama lain.

“Siapa mereka?” Ia berbisik.

“Sahabat korban. Sahabat dekat kurasa, dan … menurut instingku, kasus ini ada hungungannya dengan mereka.”

“Oh, ya?”

“Ada sebuah foto yang tertinggal di lokasi, dengan mereka bersembilan yang berada di dalamnya. Dua di antaranya mempuntai tanda silang di wajah masing-masing. Salah satunya adalah mayat yang terbujur di sana dan yang satunya adalah seseorang yang telah meninggal beberapa minggu yang lalu.”

“Pembunuhan berantai?”

“Entahlah. Polanya berbeda. Tapi sepertinya memang saling berhubungan.”

“Bagaimana dengan tim forensik?”

“Sedang mengambil sampel di dalam. Kau … mau melihatnya?”

“Tentu saja. Ayo—“

“Sebaiknya, kau siapkan dirimu, Detektif Kang,” bisiknya.

“Sialan. Kau kira aku ini amatiran, huh? Sudah berapa mayat yang kulihat dan kau kira mayat tersebut menyambutmu dengan senyuman?”

“Kalau aku menemui yang seperti itu maka bisa dipastikan aku akan mengundurkan diri dari jabatanku sekarang.” Briptu Lee bersungut. “Tapi, kurasa yang ini berbeda. Aku bahkan berencana untuk tidak memakan garam lagi setelah ini.”

Detektif Kang mengerutkan keningnya. “Kenapa? Kau hipertensi?”

Briptu Lee tersenyum masam. “Sebaiknya kau lihat sendiri dan kau pasti mengerti.”

Mengabaikan pernyataan kawannya itu, Detektif Kang memulai langkahnya dengan gagah. Melewati pintu masuk dengan percaya diri, laki-laki paruh baya itu tersentak kaget ketika mendapati pemandangan di hadapannya.

“APA INI?!” ia berteriak, bahkan hampir berbalik jika tak mengingat jabatan juga rasa gengsinya. “Sialan!”

Seorang petugas ahli forensik terlihat berjalan mendekatinya. Setelah melepaskan masker dan menyerahkan sarung tangan juga masker lainnya pada laki-laki itu ia memamerkan senyuman. “Sebuah mahakarya, bagiku.”

“Mahakarya apanya? Ini berantakan sekali … dan menjijikkan!”

“Sejujurnya aku benci mengatakannya, tapi yang terbaring di sana adalah mayat yang paling artistik yang pernah kulihat.”

Detektif Kang melayangkan pandangannya ke arah jenazah yang terbaring di atas kasur. Tubuhnya menyamping, memeluk sebuah guling; seperti orang tengah tertidur pulas. Hanya saja seluruh tubuhnya memutih—bukan putih yang normal—dan bertekstur halus. Sepucat garam—atau memang garam?

“Dia mirip sekali dengan patung.”

“Memang patung. Maksudku, pelaku sengaja membuat korbannya serupa dengan patung. Menempelinya dengan adonan garam.”

“Adonan garam?”

“Ya. Seperti adonan yang dibuat dengan mencampurkan garam yang telah dicairkan dengan tepung juga air hingga kalis. Mungkin seperti adonan kue? Hanya saja dengan garam sebagai bahan utama.”

“Kenapa harus garam?”

“Mumifikasi. Sudah digunakan sejak zaman dahulu untuk mengawetkan mayat dan memang berbahan dasar garam. Tapi … aku tak menyangka pekerjaannya sedetail ini.”

“Sepertinya kita sedang berhadapan dengan seorang maniak kali ini.”

“Dan Detektif Kang, selain foto kami juga menemukan sesuatu di tubuh korban.”

“Apa itu?”

“Ahn Jiyoon.”

“Ya?”

“Tato di punggung yang sepertinya dibuat ketika korban sudah tak bernyawa lagi.”

***

Kejutuh orang itu terlihat lemah. Mendapat berita duka dan harus kehilangan salah satu orang berharga yang mereka miliki menjadi pukulan telak yang mampu membuat semuanya kehilangan akal sehat. Jimin terutama, ia yang paling syok. Juga Jungkook yang sejak tiba di sana tak ada mengucapkan sepatah kata pun dan langsung menangis tak henti.

“Jungkook-a.” Hoseok mendekat. Ia sodorkan sebotol air mineral yang langsung di tolak oleh pemuda Jeon itu. “Sedikit saja.”

Jungkook menggeleng pelan. Matanya kembali berkaca-kaca lantas cairan bening kembali menganak sungai di pipinya.

“Kenapa?”

Hoseok mengalihkan pandangan ke sumber suara. Kim Taehyung.

“Kenapa semua hal buruk tiba-tiba saja menimpa kita? Setelah Jiyoon dan sekarang … Yoongi?” Mengacak-acak rambutnya kesal, pemuda Kim itu lantas menghantam dinding beton dengan tinjunya.

“Kim Taehyung!” Namjoon mendekat. Menarik pemuda itu untuk menjauh dari dinding sembari mencoba menenangkan.

“Ini salahku … aku, aku pernah meminta Yoongi untuk pergi dan sekarang … dia benar-benar pergi.” Pernyataan Hayoon barusan membuat semua mata di sana mengarah padanya, tak terkecuali Jungkook yang sedari tadi hanya tertunduk. “Aku yang membuat Yoongi menjadi seperti ini.”

“Ahn Hayoon.” Hoseok lekas mendekat. Ia tarik pergelangan tangan sang gadis lantas menggenggamnya erat-erat. “Jangan membicarakan hal yang tak masuk akal, oke? Aku tahu kau kebingungan, dan kita semua sama. Kejadian buruk terus-terusan terjadi dan tak mungkin mental kita tak terganggu. Tapi kuharap kau bisa menjadi lebih kuat lagi.”

“Tapi Hoseok-a … saat itu, aku benar-benar … aku ….” Hayoon kembali terisak. Ia menubrukkan kepalanya ke dada Hoseok dan menangis sejadi-jadinya di sana.

Semua orang tahu, saat itu; saat Hayoon kehilangan Jiyoon, ia memang benar-benar pernah mengatakan hal buruk pada Yoongi dan semuanya juga tahu jika perkataan itu tak lebih dari sekedar amarah yang tak mampu dikendalikan. Yoongi bermaksud baik, menenangkan Hayoon agar tak larut dalam kesedihan namun tampaknya Hayoon belum bisa menerima kenyataan sehingga perkataan itu menguar dengan sendirinya; membuat Yoongi terpaksa pulang lebih dahulu dari yang lainnya.

Mengingat kembali hal tersebut, tentu saja membuat semuanya memaklumi Hayoon kini. Menyalahkan diri sendiri adalah bentuk perlindungan diri yang ia buat tanpa disadari.

“Semua akan baik-baik saja, Hayoon-a. Ini bukan kesalahanmu.” Namjoon ikut mendekat, memberikan tepukan di pundak meski wajahnya menatap ke lain arah.

Ketika semua orang sedang sibuk dengan kesedihan masing-masing juga menenangkan satu-satunya perempuan yang berada di sana, seseorang datang.

“Aku tahu kalian semua masih dalam keadaan berduka, tapi aku butuh dua sampai tiga orang untuk memberikan kesaksian, terutama seseorang yang menemukan korban terlebih dahulu.”

“Aku dan Namjoon akan menemani Jimin,” ujar Seokjin.

“Yang lainnya kusarankan untuk pulang ke rumah dan menenangkan diri.”

“Aku masih ingin di sini,” ujar Hayoon.

“Tidak. Kita harus pulang. Aku dan Hoseok akan mengantarmu pulang.” Kali ini Taehyung yang bersuara. “Jungkook-a, kau ingin ikut bersama kami?”

Pemuda di sudut ruangan itu hanya memberikan pandangan kosong.

“Jeon Jungkook.”

Ia sedikit tersentak ketika sebuah tangan telah bersarang di pundaknya. “Kau ingin pulang atau ikut aku dan Hoseok mengantarkan Hayoon?”

“Aku pulang saja, Hyung.”

“Kau yakin bisa sendiri?”

Ia mengangguk. “Aku tidak kenapa-kenapa. Tenang saja. Kak Hayoon lebih membutuhkan kalian dan aku butuh waktu untuk menenangkan pikiran.”

“Baiklah.”

“Ayo, kita pulang, Hayoon-a.” Hoseok membantu Hayoon berdiri, disusul Taehyung yang memegangi sisi lain dari tubuh sang gadis.

Sebelum mereka bertiga meninggalkan tempat, Hayoon sempat mencuri pandangan ke dalam ruangan, berharap dapat melihat Yoongi setidaknya hanya sekilas meski yang ia dapatkan adalah punggung Seokjin yang lekas menghalanginya. Hayoon pergi dengan penuh penyesalan.

***

Secercah cahaya membuat kelopak mata milik Namjoon bergerak-gerak gelisah. Sekon berikutnya kedua matanya terbuka. Kepalanya terasa pening, berputar-putar hingga membuatnya mengerutkan kening demi mengeyahkan rasa sakit. Namjoon melihat ke sekitarnya, ada Seokjin di sofa seberang tengah terbaring tenang.

Oh, aku berada di markas?

Seolah-olah melupakan apa yang terjadi semalam, Namjoon lekas berdiri. Ia kebingungan, seperti ada sesuatu yang terlewatkan namun entah apa itu.

Mengayunkan kakinya perlahan, pemuda itu hendak berjalan ke dapur demi mengambil minuman dan membasahi kerongkongan yang gersang. Namjoon tiba di markas sekitar jam dua dini hari namun ia tak ingat hal apa lagi yang terjadi setelahnya. Mungkin ia tertidur karena kelelahan. bersama yang lainnya.

Berbagai pertanyaan telah diajukan. Membuatnya mengerahkan seluruh tenaga untuk berpikir guna mendapatkan bukti akan kasus pembunuhan karibnya; Min Yoongi. Sejatinya, semua pertanyaan yang terlontar tak ada yang mampu mereka jawab dengan benar kecuali perihal hubungan mereka dengan Yoongi.

Kim Namjoon tak ingat percakapan terakhir yang ia lakukan selain menyuruh pemuda itu berkumpul di markas pada siang hari dan Jimin yang bertugas menjemput pemuda Min itu lantaran kediaman mereka searah. Dan ketika Jimin tiba, saat itulah ia menemukan sahabatnya dalam keadaan tak bernyawa juga kondisi yang mengenaskan. Berubah menjadi patung garam; dengan organ dalam yang berceceran di lantai juga darah yang menyatu dengan garam yang tersisa di sana.

Omong-omong tentang Park Jimin, seingat Namjoon, selain bersama Seokjin, ia juga kembali ke markas bersama Jimin dan—oh, di mana dia? Ketika membuka mata tadi, pemuda Kim itu tak menemukan Jimin di sekitar mereka, hanya ada Seokjin di sana.

Apa Jimin sudah pulang?

Sementara pikirannya masih mencoba mencari sesuatu yang rasanya terlewatkan, tungkai panjangnya masih ia ayunkan menuju dapur. Namjoon sedikit berlari menghampiri lemari pendingin di sudut ruangan ketika kakinya menyentuh sesuatu yang lengket di lantai. Ia berhenti, menilik lantai yang berantakan dengan adonan putih lembek yang sepertinya, Namjoon pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.

Sekon berikutnya pemuda itu mengumpat kuat-kuat lantas menolehkan kepalanya ke sisi sebaliknya. Gerakannya terhenti tiba-tiba, matanya membelalak. Jeda terjadi beberapa saat sebelum suara baritonnya memenuhi ruangan, membuat Seokjin yang masih terlelap lekas terjaga dan berlari ke sumber suara.

“PARK JIMIN!”

.

.

to be continued

.

Mengenai cara pembunuhan dan media yang digunakan, saya terinspirasi dari novel karya Ruwi Meita yang berjudul Misteri Patung Garam. Sedangkan untuk pola dan lainnya tidak ada sangkut pautnya dengan cerita di novel tersebut. Mungkin memang ada beberapa bagian yang saya adopsi dari sana, tetapi dengan berbagai tambahan di sana-sini. Dan, sudah adakah yang bisa menebak siapa pelaku di balik dua—ah, tiga pembunuhan yang telah terjadi?

-mbaay.

Advertisements

17 thoughts on “[Chapter 2] Bring Back the Shadow

  1. diniA

    aku sempet curiga sama jimin eh ternyata jiminnya jg ikutan.. aku sih curiganya ama si hayoon nggak tahu bener apa enggak

    keren….. jd penasaran
    keep writing

    Like

  2. jung Raeki

    aisshh Jinjja,,
    gak bisa komentar lagi,,
    mungkin satu persatu dari mereka bakalan mati??
    btw, ngebayangin yoongi mati kaya gitu rada ngeri gua ,, ahhh.. it’s a long day~~

    they always in trouble. Mysteryous,,

    Like

  3. Omaigat ini ff keren binggo👍👍👍

    Hmmm apakah jungkook??
    Atau jangan2 jungkook berkolerasi dengan pembunuh sebenarnya? Apakah pembunuhnya punya penyakit tertentu jd dia lupa dengan yg dia lakukan? Apakah dia psikopat? Hmmmmm siapa pembunuhnya?? Satu? Dua? Atau lebih? Hahaha spekulasi yg terlalu berlebihan ala2 detektiv conan wkwkwk

    Like

  4. Pingback: [Chapter 6/END] Bring Back the Shadows – BTS Fanfiction Indonesia

  5. Pingback: [Chapter 5] Bring Back the Shadow – BTS Fanfiction Indonesia

  6. Pingback: [Chapter 4] Bring Back the Shadow – BTS Fanfiction Indonesia

  7. Haloo kak, maaf baru komen di chapter yang ini, karena part 1 sama prolog nya cuma baca dari kiriman temenku. Ahhh.. plot nya bagus banget ga bisa ketebak. suka deh genre kayak gini.
    Aku curiga sama beberapa orang disini…
    Hayoon, yah aneh aja sama cewek ini, soalnya di introduction + prolog, dia pernah ngomong kalau adiknya suka sama salah satu member bts, dia ga suka dan akan menolak.
    Jungkook, aneh, dia jarang nggabung, trus suga terakhir kan jalan bareng jungkook setelah main basket.

    Yah… itu aja yang bisa aku tulis. Semangat ya, untuk lanjutan ceritanya. Kami tunggu

    Like

  8. Pingback: [Chapter 3] Bring Back the Shadow – BTS Fanfiction Indonesia

  9. Park Nayoon

    ANDWEEE !!! Park Jimin mati 😭😭😫😫
    btw maaf author baru comment di part ini. 🙇🙇
    kalau tentang pembunuhnya….
    aku sih curiga ma seokjin… gak tau kenapa kok gw ngerasa curiga ama dia ya
    dan please author kenapa abang suga gw cara matinya kayak gitu 😭😭😭

    Like

  10. cgjin

    Aduh kak uda ditunggu tunggu akhirnya keluar jugaaa T.T maafkan aku yang baru komen sekarang.. Next kakk ditunggu yahhh >_<
    Makin bingung nih kak, siapa pelakunya.. Tapi, menurut analisa(?)ku, sepertinya pembunuhnya Jungkook. Dia menjadi sangat suka menyendiri dan sering diam. Mungkin hanya aktingnya saja? Hadeuhh capek berat mikirnya, kayak pecahin riddle HYYH bts wkwk
    Bukan orang berIQ tinggi yang bisa pecahin riddle serumit ini T.T wkwk

    Like

  11. RiskaRii

    Hi author, maaf baru komentar
    di chapt ini hihi
    entah kenapa aku jadi curiga sama gerak geriknya jungkook. Dia kayak ada dendam terpendam gitu dan sering menyendiri. Tapi belum tau juga sih sebenernya siapa pembunuhnya

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s