[Ficlet-Mix] Of a dare, Nightmare, & Let her go

Of a dare, Nightmare & Let her go

a fanfic special for tsukiyamarisa’s birthday
by cachalpannia, snqlxoals818, siluetjuliet, a c u

BTS’ Park Jimin with OC’s Park Minha

genres FAMILY; Comedy, Horror, Fantasy, Family, Hurt/comfort | length 4 Ficlets | rating PG15

1st

Sudah berkali-kali Minha mengorek-ngorek tasnya, dan sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari. Sudah berkali-kali Minha berkeliling kamar—bahkan apartment—dan sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari. Ingin sekali ia berteriak kencang-kencang karena nyaris berada di ambang batas sabar. Ditambah, Jimin sama sekali tidak ikut membantunya. Kembarannya itu asyik bergelut di kamar, dan katanya sedang tidak mau diganggu-gugat. Padahal,

“Ah iya,” Akal sehat Minha barulah timbul, “Barangkali di kamar Jimin ada.”

Segera tungkai mungilnya itu melangkah ke kamar yang pintunya tertutup rapat-rapat. Kalau Minha jeli, mungkin ada segel juga di knopnya.

“Jimin-ah,” Pelan-pelan Minha mencoba mengetuk dan menempelkan daun telinganya ke daun pintu. “Punya pulpen tidak? Aku butuh pul—”

“I have a pen … I have an apple. Ugh! Apple pen~”

Belum selesai Minha menuturkan kalimat memelasnya, ia malah mendengar sesuatu dari dalam sana.

“I have a pen … I have pineapple. Ugh! Pinapple pen!”

Lamat-lamat dahi gadis bermarga Park itu mengernyit. Penasaran apakah sang kembaran sedang menjawab pertanyaannya sembari meledek atau,

“Apple pen … Pinapple pen … Ugh! Pen-pineapple-apple-pen!”

Cekrek. Cukup sudah. Minha sontak membuka kamar Jimin yang langsung memerlihatkan sosok lelaki dia atas kasur dengan pakaian dalam dan bokser berwarna kuning, pose memegang dua buah benda masing-masing di sebelah kepalanya, dan ekspresi wajah ingin dipukul seratus kali di dalam ring. Di depan kasur tersebut, tepatnya di atas televisi, terdapat posel dengan flashlight menyala yang menandakan kalau ia sedang merekam.

“Bwahahahahahahahahahaha!!”

Dan karena Minha tiba-tiba masuk, aksinya terhenti saat itu pula, “Minha! Sudah kubilang, ‘kan, jangan ganggu aku!”

Diomeli begitu, Minha malah tertawa makin keras sambil guling-gulingan di lantai. Kemudian meledek Jimin dengan ikut-ikutan bernyanyi memakai suara sumbangnya, “I have a pen … I have an apple. Ugh! Apple pen! Bwahahahahahahahaha!!”

“Minha diamlah! Aku kena dare dengan teman-teman sekampus, tahu!”

Dan aksi guling-gulingan yang nyaris terlihat seperti pemerkosaan pun terjadi di dalam kamar Jimin setelahnya.

~

2nd

Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Jimin mengatakannya secara gamblang. Tanpa ekspresi, tanpa nada candaan, dan tatapan kosong. Membuat Minha seketika bergidik ngeri dan tertawa hambar demi menutup rasa gugupnya.

“Lucu sekali, Kak,” celetuk Minha yang masih mempertahankan tawanya. Berharap sedetik kemudian Jimin ikut tertawa, namun perpustakaan kampus mereka dilahap sunyi. Minha bungkam.

Seolah sikap Jimin malam ini yang terlampau aneh belum cukup mengganggu kenyamanan Minha, pemadaman listrik yang tiba-tiba menjadikan segalanya sempurna. Minha ingin segera merapatkan tubuhnya pada sang kakak. Tetapi ada sebuah bisikkan di hatinya yang menyuruhnya tetap diam di tempat. Tetap waspada, meski Minha tak tahu apakah mencurigai saudara kembarnya sendiri ini patut dilakukan atau tidak.

Park Jimin memang tampak berbeda dari biasanya. Alih-alih lekas pulang karena cuaca malam ini tidak bersahabat, Jimin menyuruh Minha datang ke perpustakaan. “Temani aku mengerjakan tugas,” katanya. Minha menurut. Duduk berhadapan dengan sang kakak sembari membaca buku. Perpustakaan cukup sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa di deretan bilik dekat pintu masuk dan hanya ada sepasang saudara kembar ini yang menempati deretan bangku yang saling berhadapan dengan dibatasi meja panjang. Jimin tak bersuara sedikit pun. Kepalanya tertunduk, fokus menatap lembar-lembar kertas, tanpa berniat mengajak Minha berbincang. Dua puluh menit berlalu, kalimat tanya tadilah yang membuka percakapan mereka.

Minha masih bergeming. Angin kencang di luar sana menggoyangkan pepohonan dan menimbulkan derak memilukan. Tak ada cahaya setitik pun yang masuk. Tak ada teriakan gempar dari mahasiswa yang ketakutan. Yang ada hanyalah sunyi, seolah di perpustakaan ini hanya ada mereka berdua.

Minha berdeham. Tangannya yang gemetar menggenggam buku. Menyembunyikannya dari pandangan Jimin, kendati gelap masih menyelimuti yang tak bisa menunjukkan apa yang mereka berdua lakukan. Hal itulah yang membuat Minha gugup. Ia tak tahu ke mana arah manik Jimin tertuju, namun rasanya Minha seakan diawasi. Rambut halus di tengkuknya seketika meremang.

“K-Kak?” Minha memberanikan diri untuk bersuara. Terdengar seperti bisikan. Ia bahkan tak yakin Jimin mendengarnya.

Suara derit bangku yang digeser, pikir Minha. Menandakan Jimin mungkin saja berpindah tempat. Minha mengeratkan cengkeramannya. Menajamkan indra pendengaran, berharap langkah kaki samar dapat didengarnya, namun tetap sunyi. Kak Jimin tidak akan berbuat apa-apa.

Seberkas cahaya kilat menyusup masuk dari jendela di belakang Minha sebelum gelap kembali menyelimuti. Minha hampir berteriak lantaran mendapati Jimin di sampingnya dan menatapnya tajam. Sejak kapan ia berpindah tempat?!

Seulas seringai terbentuk. “Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?” Suara Jimin terdengar serak, berat, dan agak memaksa—memaksa Minha untuk lekas menjawab pertanyaan yang sama yang ia abaikan tadi.

“P-pernah,” jawab Minha akhirnya.

“Siapa?”

Hening sejemang sebelum Minha kembali bersuara. “Orang-orang yang aku benci. Kakak tahu, kan si—”

“Kalau begitu, bunuh mereka,” ujar Jimin memotong ucapan Minha. Ketegasan terpancar di tiap katanya.

Minha kembali bergidik. “Apa maksudmu, Kak?”

Tersentak, Minha merasakan pergelangan tangannya ditarik. Lalu sesuatu yang dingin menyentuh telapak tangannya. “Ini hadiah dariku. Sebuah belati perak. Gunakan untuk membunuh mereka.”

Sekuat tenaga Minha menarik tangannya dan belati itu berdenting mencumbu lantai. Cepat-cepat ia bangkit berdiri, membuat kursi kayu yang ia duduki tadi terguling. “Sebenci apa pun aku kepada mereka, aku tak pernah benar-benar ingin membunuh, Kak! Itu perbuatan—”

“Perbuatan yang pantas dilakukan.”

Minha mendengar kekeh pelan yang menyeramkan. Ia menggeleng. Sungguh, ini bukan kakaknya. Ini bukan Park Jimin-nya.

“Minha-ya.”

“Siapa kau?” Teriakan melengking itu menggema.

“Aku? Aku kakakmu.”

“Tidak! Kau bukan kakakku!” Minha mengangkat buku di pegangannya tinggi-tinggi, bersiap menghantam kepala lelaki itu, yang jelas bukan kakaknya, jika ia berani mendekat.

Tawa kencang menggelegar. Secepat kilat, jemari lelaki itu sudah mencengkeram leher Minha. Tak ingin membuang kesempatan, sekuat tenaga ia melayangkan buku itu tepat mengenai kepala si lelaki.

.

.

ARGH!”

.

.

Jerit kesakitan itu membuat Minha membuka kelopaknya lebar-lebar dan mendapati Park Jimin melompat-lompat sembari memegang kepalanya.

Ya! Kenapa kamu memukulku?” Jimin masih mengaduh.

Minha mengerjap cepat. Mengedarkan pandang, ia menyipitkan mata saat menjumpai sinar matahari dari jendela kamarnya. Ia terduduk di tempat tidurnya. Melihat Jimin yang mengusap-usap kepalanya, bukan lelaki ‘psikopat’ yang menyerupai kakaknya.

“Sakit, tahu.” Jimin mengerucutkan bibirnya. Seolah ingin menangis dan Minha tak bisa menahan tawanya. “Oh! Kamu senang melihat kakakmu menderita, Minha-ya?”

Hehehe…. Maaf, ya, kakakku sayang.”

Well, syukurlah itu hanya mimpi buruk. Karena Park Jimin benar-benar tidak pantas menjadi seorang psikopat. Pfft.

~

3rd

Park Minha belum pernah merasa sebahagia hari ini, ketika Petrel—si burung laut raksasa—mendarat tepat di kediamannya untuk membawa gadis itu pergi ke Mahoutokoro, tempat yang selalu ia idam-idamkan untuk ditinggali.

Ditungganginya Petrel dengan hati berdebar. Sepanjang perjalanan, seulas senyum tak lepas disunggingnya. Sudah begitu lama gadis itu menanti hari ini tiba, hari dimana ia dapat tinggal dan menetap di Mahoutokoro sebagai murid di sana.

Mahoutokoro adalah nama sebuah sekolah sihir, omong-omong.

Rasa sumringah yang membuncah terpaksa ia tahan sejenak ketika petrel mendarat mulus di gerbang Mahoutokoro. Seorang pria paruh baya berjenggot hijau telah berdiri di sana, dan membantu Minha turun dari punggung Petrel. Lantas, Minha mengusap sayap Petrel yang licin sebagai ungkapan terimakasih dan membiarkan burung laut raksasa itu terbang meninggalkan dirinya—bersama pak tua berjenggot hijau.

“Berapa usiamu?”

Tanpa membiarkan Minha menyelesaikan ritual membungkuk dan mengucapkan salam, pria berjenggot hijau itu lebih dahulu memberikan pertanyaan yang mengejutkan.

“19 tahun, Tuan.” Jawab Minha dengan suara bergetar, pasalnya lelaki di hadapannya ini terlihat tidak bersahabat.

“Cadius. Namaku Cadius, dan kau?”

“Minha. Park Minha.”

“Kau datang sangat terlambat, nona.” Minha menunduk selagi Cadius melanjutkan, “aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa datang ke tempat ini, tapi aku tidak peduli.”

Diserahkannya sehelai jubah ajaib pada Minha. “kuberitahu kau, tempat ini bukanlah tempat yang menyenangkan, jika kaurasa tak mampu lebih baik pulanglah sekarang.”

Minha menggeleng kuat-kuat dan menyambar jubah dari tangan Cadius.”Tidak, Tuan. Aku tidak mau pulang. Aku sudah berjuang sangat keras untuk datang kemari.”

“Terserah kau saja. Cepat ikuti aku!”

***

Rasa-rasanya Minha ingin mengumpat, tapi tidak mungkin. Kamar asrama yang ia tempati terlalu kecil, kalau berteriak bisa-bisa kamar sebelah mendengar. Menyebalkan.

Tadi, ketika Cadius mengajaknya berkeliling sekolah sebelum mengantar ke kamar, Minha tak sengaja berpapasan dengan Park Jimin, saudara kembarnya—yang menjadi alasan utama gadis itu berada di sini—namun, saudara kembarnya itu mengabaikannya. Bahkan saat Minha memanggil namanya, Jimin tetap berlalu tanpa menaruh atensi sama sekali.

Park Jimin dipisahkan darinya sejak mereka berdua berusia delapan tahun.  Normalnya, para penyihir muda akan mulai memasuki Mahoutokoro pada usia sebelas, namun Jimin berbeda. Katanya sih, Jimin istimewa. Sementara Park Minha terlalu tua untuk menjadi murid baru di Mahoutokoro—seperti kata Cadius.

Murid-murid di Mahoutokuro dibedakan menjadi 3 kelas menurut warna yang dibiaskan jubah ajaib pad masing-masing murid. Warna merah jambu untuk penyihir pemula, warna emas untuk penyihir yang sudah ahli, serta warna putih untuk penyihir ilmu hitam.

Minha menyadarinya, saat berpapasan dengan kakak kembarnya tadi, gadis bersurai cokelat itu melihat jubah yang dikenakan Jimin berwarna putih, itu artinya Jimin merupakan satu dari praktisi ahli sihir yang jumlahnya terbatas di seluruh dunia.

Apakah karena hal itu kakaknya jadi sosok pribadi yang angkuh? Minha tidak tahu..

Padahal, Minha mati-matian berlatih sulap agar bisa bertemu dengan Jimin. Sesungguhnya, Minha tidak punya kemampuan apa-apa, karena ia seorang Muggle yang berusaha mengelabui banyak orang agar ia terlihat seperti penyihir sehingga dapat diasingkan ke tempat ini.

Karena seorang penyihir tidak boleh berkeliaran sembarangan di dimensi manusia. Begitu pula sebaliknya, seorang Muggle—manusia yang tak memiliki kemampuan sihir apapun—tidak seharusnya berkeliaran di Mahoutokoro.

Sekarang, Minha pusing sendiri melihat jubah ajaib yang ia kenakan tidak berubah warna menjadi merah jambu, atau emas, apalagi putih. Untung saja ia membawa jubah palsu berwarna merah muda yang sudah ia bawa dari rumah.

Lekas disimpannya jubah ajaib pemberian Cadius, lantas mengenakan jubah merah muda buatannya. Ia ingin berjalan-jalan sejenak keluar dari bilik asramanya yang pengap. Namun, baru saja ia membuka kenop pintu pandangannya mendadak gelap.

***

“Apa kau sudah kehilangan akal sehat?”

Suara parau menyambangi indra pendengaran Minha. Ketika kelopak matanya terbuka sempurna, Minha melihat sesosok lelaki duduk di tepian, menatapnya nyalang. Minha menatap sekeliling di mana hanya ada langit yang menaungi pandangannya dan beton kasar di bawah pijakannya. Minha tidak tahu kapan dan bagaimana caranya ia tiba di atap asrama saat ini.

“Kak Jimin?” Gadis Muggle itu berusaha mengenali sosok lelaki yang sedang bersamanya.

Jimin berdiri, lantas menghampiri sang adik. “Jelaskan padaku, bagaimana bisa seorang muggle datang kemari?”

“Karena muggle yang satu ini merindukanmu, Kak.”

Jimin mencebik mendengar jawaban adiknya. “Pulanglah, akan kupanggilkan Petrel utuk mengantarmu.”

“Tidak mau!” Tolak Minha seraya mengulurkan tangan, ingin memeluk Jimin, namun langsung ditepis oleh lelaki pemilik netra pekat itu.

“Jangan sentuh aku! Kau akan terluka jika menyentuhku.” Hardik Jimin. “Pulanglah, Minha-ya. Kumohon.”

Jimin mengalihkan pandangan dari adik semata wayangnya, berusaha menyembunyikan wajah pias dan  kesedihan yang dirasakannya dengan bersikap angkuh pada Minha. “Kau akan mati jika aku hidup bersamamu. Aku ini berbahaya.”

Di sisi lain, gadis bermarga Park tak lagi mau menahan rasa sakit hatinya. Air matanya bergulir deras, lututnya melemah. Dia tidak ingin pergi dari sini jika tanpa Jimin. Park Minha tak lagi ingin merasakan kesepian di rumah, tak lagi mau merasakan rindu yang mencengkeram ulu hatinya setiap saat ia memikirkan Jimin. Karena, hanya Park Jimin satu-satunya keluarga yang ia punya.

“Lalu, apa gunanya aku tetap hidup jika tanpamu, Kak?”

Seloroh tanya yang Minha kumandangkan tak lantas mendapat jawaban, bahkan dari langit sekalipun. Hanya isakan lirih dari keduanya menambah pahit kemelut kenyataan yang harus mereka berdua hadapi.

Jimin tidak pernah meminta pada Tuhan untuk memiliki kemampuan sihir menyebalkan macam

ini. Sesungguhnya lelaki berperawakan mungil itu hanya ingin menghabiskan hidup bersama adiknya, Park Minha. Begitu pula sebaliknya, Minha sudah berjuang sejauh ini untuk bisa bertemu dengan Jimin.

Tapi, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan sekarang. Jadi, harus bagaimana?

~

4th

“Kakak.” Semburat garis bingung menggores garis wajah cantik milik Minha ketika indera penglihatannya tidak menemukan sosok Park Jimin di dalam kamar. Menutup pintu kamar dengan teratur, ia pun berjalan ke arah pintu ke kamar mandi dan mengetuknya terlebih dahulu, tidak ada sahutan dari dalam.

“Tidak ada. Ke mana dia? Tidak biasanya dia keluar rumah selama ini.”

**

“Mereka tidak menyediakan jus, tapi aku menemukan kopi.” Kim Taehyung duduk di seberang Jimin dan menyodorkan sekaleng kopi ke arahnya

Tersenyum kecil, Jimin meraih kopi kaleng tersebut. “Terimakasih, Taehyung. Kau memang sahabat terbaikku di seluruh penjuru dunia.”

Taehyung tertawa renyah selagi membuka sodanya. “Jangan berterimakasih dulu. Aku membelikannya untukmu berbekal niat jahat. Ini sogokan supaya aku bisa mendengar gosip tentang masalahmu dengan Minha akhir-akhir ini.”

Jimin juga membuka kaleng kopinya sambil tertawa kecil. “Kami tidak punya masalah apa pun.”

“Oh, ya? Aku meragukannya.” Taehyung menyesap sodanya lagi, lalu menaruhnya di meja.

“Uhm, aku butuh bantuanmu.”

“Waow, sepertinya kalian memiliki masalah yang rumit. Apa yang bisa kubantu?” katanya kemudian.

**

“Aku darimana dan mau ke mana itu bukan urusanmu, Minha. Dan kuberitahu, berhenti mengikuti ke mana pun aku pergi. Aku juga harus bermain dengan yang lain, bukan denganmu selamanya. Kau juga harus melakukan hal yang sama.”

 

Desau angin malam meniup tubuh kurus Minha yang hanya dibalut dengan sehelai baju. Ia memeluk kedua lutut dan menenggelamkan wajahnya di sana. Sudah tiga hari Minha menikmati kesendirian dan kesedihannya. Baik di rumah, maupun di sekolah. Tidak ada Jimin lagi yang sering menghampirinya ke kelas dan mengajaknya ke kantin bersama. Tidak ada lagi Jimin yang setia menunggu Minha untuk berangkat ke sekolah bersama. Ia tidak tahu kenapa Jimin harus bereaksi berlebihan hari itu. Ia pun tidak tahu apa kesalahannya.

Minha kesepian. Ia merasa tidak berarti lagi ketika yang tersayang tidak di sisinya. Ia tidak punya siapa-siapa selain Park Jimin, saudara kembarnya. Mengangkat kepala, dengan mata bengkak, Minha memandang ke langit lepas. Memerhatikan pesona malam yang begitu indah. Ribuan bintang dilihatnya itu tak mampu menghibur bahkan memberi ketenangan pada hatinya. Ia memejamkan matanya lalu menarik dan mengembuskan napasnya.

“Pemandangan dari sini memang menakjubkan.”

Suara itu menembus benteng kabut hitam di sekeliling Minha. Ia membuka mata dan menoleh dengan cepat. Napasnya tercekat ketika mendapati Taehyung sudah duduk di sampingnya.

“Kau?” Minha mengusap airmata yang membasahi pipinya. “Bagaimana bisa kautahu aku di sini?”

Hahaha, tidak sulit bagiku untuk menemukanmu, teman.” Ia melirik gadis itu, dan tersenyum manis. Namun, ia tidak mendapatkan balasan yang semestinya. “Wah, kau memang hebat memilih tempat dengan pemandangan yang indah, ya.” Katanya lagi.

Minha pun tersenyum. “Ini salah satu tempat kesukaanku di seluruh dunia,” gumamnya, lalu wajahnya berubah murung. “Tempat persembunyianku dan Kak Jimin. Dan aku tahu, Jimin pasti yang memberitahumu, ‘kan? Ah, si pendek itu, Hhe.”

Mereka berdua terdiam. Menikmati pemandangan di malam hari kota Seoul, menikmati embusan angin, menikmati kesunyian. Tiba-tiba Taehyung mengulurkan tangan kanannya ke arah Minha. “Selamat ulangtahun, Minha.”

Minha menoleh kaget.

“Aku sudah memberi ucapan juga kepada Jimin, dan sekarang giliranmu.” Seulas senyum masih menghiasi wajah Taehyung.

Minha merasakan airmata menusuk-nusuk kelopak matanya. Mengerjap beberapa kali, ia pun mengulurkan tangan, menyambut uluran tangan Taehyung. “Terimakasih, Kim Taehyung. Kau orang pertama yang mengucapkannya padaku.”

“Tidak, bukan aku. Tapi Jimin. Sebenarnya itu ucapan selamat ulangtahun dari Jimin. Aku hanya mewakilinya saja.”

“Ya? Ji … Jimin?”

Taehyuung mengangguk. “Ya, itu titipan dari Jimin. Dia tidak bisa mengucapkannya secara langsung. Dan dia juga menyampaikan, kalau kau tidak boleh terus-menerus sendiri seperti ini. Dia ingin kau bahagia, Minha. Bahagia ketika tidak bersama dengan dirinya. Ia menjauhimu semata-mata hanya untuk kebaikanmu. Dia ingin kau bahagia, Minha.”

Airmata sudah menggenang di pelupuk matanya. Isakan kecil pun ikut menguar perlahan dari mulutnya.

“Hey, jangan menangis.” Gumam Taehyung sambil menepuk punggung Minha ragu-ragu.

Mendengar ucapan itu, air mata Minha bukannya berhenti, malah mengalir semakin deras. Air matanya tidak mau berhenti. Mengalir terus tanpa bisa ditahan. Ia berharap air mata itu bisa meredakan rasa sakit di dadanya, tetapi tidak bisa. Semakin ia menangis, semakin sakit dadanya.

Tanpa sepengatahuan Minha, Jimin berdiri dengan jarak sepuluh meter di belakangnya dan Taehyung. Tersenyum pahit dan berharap semua akan berjalan dengan sesuai harapannya.

Jangan bersedih lagi, Minha. Aku ada di sini, di belakangmu. Yang akan selalu mengamati dan memastikan kebahagiaanmu.

Fin.

Selamat ulangtahun, Mba Amer

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet-Mix] Of a dare, Nightmare, & Let her go

  1. KYAAAAA CHACHA KAYEN MIBEC DAN KAKCU AKU SUKA BANGET INI GIMANA DOOOONG T T SEMUANYA KECE-KECE AKU TIDAK BISA BERKATA-KATA LAGI HUHUHU

    #1 INI JIMIN KENAPA DARE-NYA GITU BANGET HAHAHAHAHAAH XD tapi aku sukaak, dan makin sukak pas masuk dia cuma pake bokser KYAAA BISA LIAT ABS KAKAK DONG ((bubar)) terus itu kenapa kalimat endingnya harus “adegan guling2 kaya pemerkosaan” aku kan jadi makin iya-iya di siniii u,u

    #2 KENAPA INI CUMA MIMPI KENAPA PADAHAL JIMIN AS KILLER KAYANYA SO HOT KYAAAA ((sudahi mer incestnya sudah)) padahal udah asik bayangin jimin serius gituuu, eh malah dia kena pukul… maaf ya kakak sayang, nanti minha cium deh biar sakitnya ilang ((gak))

    #3 FANTASY-NYA KECE AAAAK APALAGI JIMIN AS PENYIHIR JAHAT INI LAMA-LAMA AKU BAKAL PUNYA SINDROM SUKA LIAT JIMIN JADI JAHAT GIMANA DONG 😦 btw itu akhir ceritanya mungkin bakal “tidak apa-apa jika bahaya, aku lebih baik hidup dalam bahaya, mati juga tidak apa-apa” ((pulang mer pulang))

    #4 JADI APAKAH INI JIMIN MATI APAKAH DIA PERGI JAUH ATAU KEMANA TIDAAAAAAAK ((guling-guling menangis)) iya deh kak minha bakal bahagia, lagi pula minha punya yang lain kok, kan ada minyoongi kenapa malah dikirimin kim taehyung sih kak ((dilempar)) ((padahal taetae juga temen)) ((maafkan aku taetae))

    INTINYA KALIAN BEREMPAT SUPER AAAAK SINI BIAR AKU KASIH CIUM SATU-SATU DULU :*

    MAKASIH SEMUANYAAA ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s