[BTS FF Freelance] Revenge – (Oneshot)

cover-r-1

Title : REVENGE

Author : Valleria Russel/Heni Kurniyasari

Cast : – Tzuyu ‘Twice’ as Shin Hyerin

  • Park Jimin as himself
  • Jeon Jungkook as himself

Genre : Hurt, Drama, Alternate Universe

Length : Oneshoot

Rated : Teens-15

Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran saya sendiri. Jangan mengkopi apapun tanpa izin ya. Semua yang ada di cerita ini adalah milik saya kecuali tokohnya 🙂 kalo ada waktu luang boleh kunjungi blog saya http://www.valleriarussel.blogspot.com ada ff juga di sana. Terima kasih dan selamat membaca ya semua!!

―Aku tidak pernah sendiri, aku selalu memilikinya. Jiminku.

Mati kau! Dasar wanita sialan! Aku akan mengirimmu ke neraka malam ini! Dasar jalang! Aku akan mencincang tubuhmu, lihat saja nanti. Kau tidak akan lepas dariku, sial! Aku akan melakukan apapun untuk memberikan bekas luka permanen di wajahmu dan itu akan kupastikan terjadi malam ini! Kau tidak akan kubiarkan hidup senang dengan pria brengsek itu! Kalian sama brengseknya bagiku. Kalian berdua adalah makhluk paling hina di mataku! 

“Mau sampai kapan kau melampiaskan amarahmu pada samsak tinju itu? Kau menantangnya balapan bukannya adu tinju.”

Air mata yang menggenang di mataku jatuh tepat saat mendengar seruan Jimin. Aku menghapus air sialan ini dan berbalik menghadapnya. Dia adalah teman baikku. Aku tidak memiliki teman wanita, semua yang menjadi temanku adalah seorang pria.

“Aku hanya sedang bersenang-senang! Jangan merusaknya dan enyahlah!”

Dia memutar bola matanya lalu menghampiriku. Melepaskan gulungan kain yang membungkus tanganku. Aku hanya diam memperhatikannya.

“Nah! Inilah yang kau dapatkan selama tiga hari ini. Tanganmu yang cantik ini membiru gara-gara terus-terusan memukuli samsak yang tidak bersalah itu. Kau tahu, karena hatimu terluka kau jadi melakukan tindakan bodoh dengan menantangnya balapan. Padahal harusnya kau menantangnya bertarung, kau pasti akan menang! Waktumu untuk berubah pikiran tinggal sedikit, Hyerin.”

Aku memberikan kekehan setengah hati padanya, lalu kembali berbalik memunggunginya. “Sejak kapan aku menjadi seorang pengcut seperti itu, Jimin-ie? Kau temanku kan? Harusnya kau mendukungku!”

“Aku selalu mendukungmu, Hyerin! Tapi kali ini? Kali ini apa yang bisa kau harapkan? Apa yang kau tahu tentang balapan? Sejak kapan kau ikut-ikutan menceburkan dirimu ke dunia seperti itu? Aku sudah pernah mengatakan ini dulu padamu, dia tidak baik untukmu. Kau harusnya mendengarkanku.”

Pengelihatanku kabur lagi karena air mata bodoh ini kembali menggenang. “Tapi ketika itu aku mencintainya, Jimin. Tidakkah kau mengerti? Belum ada seorang priapun yang berhasil membuatku bertingkah bodoh seperti ini. Aku yakin sekali, dia pasti sedang menertawakanku. Mereka pasti sedang asyik menertawakan nasipku sekarang ini.”

“Dulu, dia pernah bilang padaku jika dia tidak akan menyakitimu, tapi lihatlah, semua perkataannya adalah omong kosong. Kau harusnya tidak termakan oleh rayuannya. Kau seharusnya mempertahankan dirimu untuk tidak terjatuh padanya, Hyerin. Apa kau tahu, sekarang ini, apa bedanya kau dengan gadis-gadis sebelummu yang pernah ia kencani? Kau sama seperti mereka, kau tidaklah seistimewa seperti dugaanmu selama ini.”

Isakan lolos juga dari mulutku. Lengan Jimin menarikku padanya dan memelukku erat. “Hentikan, Jimin! Hentikan! Aku tahu ini semua adalah salahku. Aku tahu. Aku menyesal karena tidak mendengarkanmu. Aku akan pastikan padamu, malam ini, aku akan membuat luka permanen di wajah wanita sialan itu!”

“Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik. Kau pasti bisa melakukannya. Kau pasti bisa.”

Aku memejamkan mataku dan menarik napas panjang untuk menenangkan diriku. Tidak, aku tidak akan menangisi mereka lagi. Air mataku terlalu berharga untuk itu.

Setiap malam selasa dan malam jum’at tempat ini selalu ramai. Semua orang berkumpul di sini untuk berpesta dan menonton balapan liar. Ada sebagian dari diriku yang mengatakan jika ini salah, tapi sebagian dari diriku yang lain tidak akan membiarkanku untuk menjadi seorang pengecut. Aku tidak akan mundur di detik-detik penentuan. Aku akan membuktikan padanya, tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh Shin Hyerin. Aku akan membuatnya menyesal karena pernah mengenalku. Akan kupastikan malam ini, semua rasa sakitku akan terbayar. Wanita sialan itu harus menutup wajahnya selamanya karena merasa malu dan rasa sakitnya harus sampai ke jiwanya hingga setiap kali dia melihat bayangannya di cermin, dia akan selalu mengingatku dan semua penderitaanku.

Jimin menggenggam erat tanganku dan memberiku semangat. Aku tahu, setiap hal dalam hidupku, baik itu buruk ataupun tidak, aku akan selalu memilikinya untukku. Dia adalah satu-satunya yang kupercayai, kakakku, partner hidupku.

“Kita sudah mengelilingi arena ini sebanyak lima kali dan kita sudah melewati setiap tikungan dengan kecepatan maksimal. Setidaknya harapan untuk melihat kau muncul sebagai pemenangnya sekarang sudah naik dari 0% menjadi 95%,” ujarnya.

Aku tersenyum kecil padanya. Urat-uratku yang menegang segera menjadi rileks. “Itu semua tidak akan terjadi tanpamu, Jimin-ie. Aku selalu tahu hal-hal yang tidak mungkin kulakukan, akan menjadi mungkin jika kau ada bersamaku.”

Dia terkikik pelan. “Tidak, jangan katakan hal-hal yang cengeng saat ini! Kita membutuhkan semangat. Aku akan meneriakkan namamu saat kau menjadi pemenangnya nanti. Kita membutuhkan banyak tenaga. Sekarang, minum ini dulu, kau akan merasa lebih tenang dan segar. Air putih selalu membantu,” katanya.

Aku menerima sebotol air mineral darinya. “Thanks.”

“Tinggal beberapa menit lagi. Katakan padaku, apa yang kau inginkan dan aku akan mengabulkannya saat ini juga,” serunya.

“Berikan aku sebuah pelukan dan aku akan memenangkan pertandingan ini,” ujarku.

Dia tersenyum lebar dan meraihku dalam pelukannya. Aku menahan pelukannya cukup lama. Mataku terkunci pada mata hitam seseorang yang dulu pernah kusayangi, ya setidaknya dulu aku berpikir aku menyayanginya. Aku memeluk Jimin dengan erat. Untuk sesaat air mata kembali mengaburkan penglihatanku, aku segera mengedipkan mataku dan memberikan tatapan sedingin es padanya.

“Hei, kau baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja. Mari kita beri pelajaran pada orang-orang brengsek itu,” jawabku.

Jimin menggandeng tanganku menuju mobil sportnya yang baru saja dimodifikasi dan aku merasa jadi wanita paling seksi saat mengemudi mobil ini.

“Apa kau suka mobilnya?”

“Ini adalah salah satu hal terbaik dalam hidupku, Jimin-ie. Terima kasih banyak karena sudah mengizinkanku untuk mengendarainya,” seruku.

Dia tertawa geli. “Apapun untuk gadis yang cantik,” balasnya.

“Jangan merayuku. Ini bukan waktu yang tepat. Sekarang biarkan aku menunjukkan skil mengemudiku padamu ya.” Aku mengacak rambutnya lalu menutup pintu dan kacanya.

Aku menjalankan mobil seksi ini ke garis start dan dari sini aku bisa melihat bagaimana manusia-manusia menjijikan itu bermesraan. Ya ampun, harusnya aku menyediakan kantung untuk menampung muntahan.

Musuhku itu memberikan tatapan kesalnya padaku dan aku memberikan senyuman lebar padanya. Tidak akan kubiarkan kau bernapas dengan tenang setelah kau menghancurkanku, Jalang.

Pria yang berdiri diantara kedua mobil kami, memutar benderanya dan aku menggas mobil Jimin dengan kecepatan penuh. Kilatan-kilatan menyakitkan dari kejadian paling keren dalam hidupku kembali berputar-putar di kepalaku.

Bagaimana aku menonton mereka bercumbu. Bagaimana aku melihat mereka menjelek-jelekkanku. Bagaimana aku melihat dengan mataku sendiri caranya menatap wanita sialan itu. Bagaimana dia bertingkah seolah-olah aku ini bukanlah siapa-siapa untuknya. Bagaimana dia sama sekali tidak merasa bersalah. Bagaimana dia bisa memutuskanku begitu saja.

Adrenalin dalam diriku memuncak seiring lubang di hatiku menganga lebar. Aku kembali menggas mobilnya dan berbelok tajam di tikungan. Aku tahu musuhku ini adalah seorang pembalap yang handal, tapi dia tidak bisa meremehkan kemampuanku.

Aku sudah berjanji akan memberinya luka permanen dan ini adalah saatnya. Harusnya kau memilih lawan yang tepat untukmu, Nona! Dalam sekejap aku berhasil menyerempet mobilnya dan dia oleng seketika. Aku memelankan kembali kecepatanku. Dan memberikan sedikit senyuman padanya.

Wanita itu menatapku tajam. Dengan cepat aku kembali berada di sampingnya dan memberikan tabrakan ringan dari arah samping. Aku menyaksikan saat kepalanya membentur kaca. Ah itu tidaklah seberapa. Saat dia ingin membalasku, aku kembali memelankan laju mobilku.

Nah! Sekarang, kau baru akan berpikir jika aku bukan seorang gadis yang bisa kau injak-injak begitu saja harga dirinya. Mulai hari ini, kau akan berpikir ulang untuk merebut pacar orang.

Sedikit lagi kami akan tiba di tikungan terakhir dan ini adalah tikungan paling tajam yang di miliki arena ini. Saatnya kita akhiri permainan ini, gadis manis! Aku kembali mempercepat laju mobilku dan menempatkan lagi posisiku disampingnya. Dia melirikku dan aku sama sekali tidak menemukan rasa takut di sana. Ah kali ini kau haruslah merasakan takut karena wajahmu yang cantik itu akan segera hilang.

Tepat saat jalannya menikung tajam aku memutar kemudi dan kembali menyerempet mobilnya dari samping dengan keras. Satu kali, dua kali, dan tiga kali. Mobil yang dikendarai Kang Boram keluar dari arena dan masuk ke hutan, menabrak pohon besar lalu berhenti dengan paksa. Ban mobil itu bahkan masih berputar dengan kencang.

Aku menginjak rem dengan keras hingga menimbulkan suara berdecit di jalan. Aku melihat asap mengepul dari mesin mobilnya. Meledak atau tidak, akan kupastikan luka di wajahmu tidak akan pernah hilang seumur hidupmu. Aku tahu sisi wajahnya menabrak kaca dengan keras, kaca sisi kemudinya bahkan pecah dan pecahan kaca itu menggores pipinya dengan luka yang cukup dalam. Selamat menikmati nasipmu, Kang Boram! Salam sayang dariku.

Setelah itu aku kembali menggas mobilku dan mencapai garis finis. Semua orang berteriak senang. Hal pertama yang tertangkap mataku adalah Jimin. Pria itu berdiri dan menghampiriku. Dia memperhatikan keadaan mobilnya dan mendapati sedikit lecet di sana.

“Apa yang terjadi dengan mobilku?”

“Oh ayolah, kau tidak mau memberi selamat padaku?”

Lalu senyuman lebar dengan gigi putihnya muncul dan dia mengangkatku. Jimin memutar tubuh kami dan aku tertawa lepas. Ya ampun, rasanya begitu lepas dan bebas! Sekarang perasaanku sudah membaik.

Jimin menurunkanku dan memberikan ciuman cepat dipipiku. “Shin Hyerin! Kau membuatku sangat bangga hari ini!”

Dia berteriak dengan keras dan orang-orang di sini mengangkat minumannya untuk merayakan kemenanganku. Sudut mataku menangkap mobil Kang Boram yang baru saja sampai. Keadaannya sangat mengenaskan, mobilnya penyok, kacanya pecah, dan dia terluka cukup parah. Aku menertawakannya dalam hatiku. Itu sangat pantas untuk didapatkan olehnya.

“Aku mentraktirmu makan untuk merayakan kemenanganku. Sekarang, kau tidak boleh lagi meragukan kemampuan mengemudiku karena aku adalah salah satu dari pembalap pendatang baru yang sedang diincar oleh gangster-gangster besar Seoul,” kekehku.

Jimin memutar bola matanya. “Serius, Hyerin! Aku tidak akan setuju jika kau menerima tawaran mereka untuk bergabung,” balasnya.

“Tenang saja! Aku tidak memiliki niatan untuk bergabung, aku selalu suka menjadi petarung yang tangguh, dunia pergangsteran tidak pernah ada dalam daftar hidupku,” ujarku.

“Bagus, jika kau sampai menerimanya, aku tidak akan pernah menganggapmu temanku lagi.”

“Ouh! Kau melukai hatiku, Park Jimin.”

Kami saling tersenyum dan menikmati makanan enak di salah satu restoran kimchi paling baik se-Seoul. Aku mendapatkan cukup banyak uang hasil dari kemenanganku kemarin malam dan anggaplah ini juga ajang untuk memulai kembali hidup baruku.

Aku akan melupakan pria brengsek yang sudah menyakitiku itu juga dengan pelacur kesayangannya. “Jadi kupikir, aku akan mulai bertarung lagi besok malam.”

“Jika perasaanmu sudah membaik aku mengizinkan, tapi jika kau masih dalam kondisi yang buruk aku tidak ingin kau membunuh musuhmu itu,” kekehnya.

“Aku tidak sekejam itu, Tuan. Kau tenang saja, setelah misiku untuk mengalahkan wanita jalang itu dan memberikan luka di wajahnya perasaanku menjadi lebih baik dan aku juga merasa telah lepas dari semua rasa sakit,” balasku.

“Aku senang mendengar itu dan aku akan menemanimu malam ini.”

“Tidak, Jimin-ie. Kau tidak perlu menemaniku. Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah gara-gara aku.”

Dia baru saja akan membalas perkataanku saat suara cempreng seseorang menghentikannya. “Kau! Kau wanita sialan! Apa yang sudah kau lakukan padaku? Lihat ini! Kau senang sekarang karena sudah membuatku cacat!”

Aku berdiri dari duduk nyamanku saat melihat dua orang yang tidak ingin kulihat lagi wajahnya kini berdiri di hadapanku. Aku memperhatikan keadaan Kang Boram. Kepala diperban, sisi kiri wajahnya dijahit, lengannya juga dijahit, dan kakinya diperban juga. Wah! Ini adalah rekor yang fantastis!

“Hyerin, ini adalah masalah kita. Harusnya kau melukaiku bukannya Boram,” ujar Jungkook dengan nada datarnya.

Aku berdecak malas padanya. “Melukaimu? Aku tidak tahu harus melukaimu dengan cara apa. Jika saja ada sebuah ide yang terpikirkan olehku mungkin aku tidak akan menantangnya. Selain meneriakiku, apa yang ingin kalian berdua lakukan di sini?”

Sebisa mungkin aku menahan semua rasa sakit yang mendadak mengelilingiku. Setiap kali melihatnya, bayangan-bayangan sialan itu kembali menghantuiku. Hari itu, semua cinta sudah berakhir, semua impianku sudah hancur. Dan dia adalah penyebab dari semua penderitaan yang kualami. Tidak akan pernah ada maaf untuknya.

“Hyerin, aku tahu aku sudah menyakitimu, tapi aku tidak bisa melihat Boram tersakiti seperti ini. Dokter bilang, bekas luka di wajahnya tidak akan hilang kecuali dia melakukan operasi plastik.”

Yes! Misi berhasil! “Dan lakukan saja! Kaliankan orang kaya, uang tidak pernah menjadi masalah,” balasku enteng.

Aku tahu saat ini dia sangat geram dengan sikap acuh tak acuhku. Rasakan itu, Jeon Jungkook! Hari ini kau baru saja tahu jika kau melukai seorang wanita maka kau akan mendapati dirimu sendiri melawan monster tanpa hati.

“Hyerin!”

“Jangan berteriak ataupun mencoba untuk menyentuhnya! Kau akan berhadapan denganku.”

Jimin menahan tangan Jungkook yang hendak memukulku. Aku tidak pernah sendiri, aku selalu memilikinya. Jiminku.

“Sebelum aku mengirimmu ke ICU cepat enyah dari hadapanku dan jangan pernah ganggu kehidupan Hyerin lagi!”

“Semoga kau cepat sembuh, Boram. Ah maksudku harusnya aku meledakkan mobilmu kemarin ya,” kekehku.

Mereka pergi dari tempat ini setelahnya dan Jimin tentunya tidak akan membiarkanku bertemu lagi dengan mereka. Aku memberikan cengiran lebarku padanya.

“Terima kasih untuk sikap pahlawanmu yang datang tepat pada waktunya. Dia tidak akan macam-macam denganmu,” ujarku.

“Jika dia berani bisnis orangtuanya akan bangkrut dalam sekali jentikan jariku, Hyerin.”

Aku tertawa mendengar perkataannya. Jimin adalah pria baik-baik, aku sendiri heran mengapa dia bisa betah menjadi temanku dan selalu menjagaku. Sedang Jungkook, mantan pacarku itu, dia juga putra pengusaha, tapi perusahaan keluarganya tidak lebih besar dari keluarga Park. Benar katanya tadi, jika dia mau perusahaan keluarga Jeon bisa dia buat bangkrut dalam sekali jentikan jari.

“Kurasa aku sudah kehilangan semua rasa sakitnya! Aku merasa sangat bahagia sekarang,” kekehku. Aku tidak tahu mendadak aku merasa begitu senang seperti ini.

“Ms Shin, aku selalu menjadi penyebab rasa senang muncul di hatimu.”

Kami terkikik pelan. “Kau benar. Terima kasih banyak. Salah satu keburuntunganku adalah memilikimu sebagai temanku,” balasku.

Selamat tinggal Jungkook. Sekarang kau sudah lihat jika Shin Hyerin bukanlah seorang gadis cengeng yang manja, yang tidak bisa melakukan apa-apa saat ada seseorang dengan berani melukainya. Aku tidak akan pernah membiarkan satu orangpun hidup bahagia setelah dia melukaiku. Kau akan selalu mengingatku, Jeon Jungkook. Kau akan selalu mengingatku.

TAMAT~

 

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] Revenge – (Oneshot)

  1. cgjin

    WAAAHHHH DAEBAKKK!! INI.KARAKTER WANITA YANG KUCARI-CARI DALAM FANFIC!! DAN AKHIRNYA ADA(BTS) YANG BUATTT!!! KEREN BANGET KAK!! *joget heboh* #plak

    Buat sequel dong kak~ ini pengen tau kelanjutannya gimana huhuhuT.T kalo.ga buat juga sih gapapa, cuman kasih saran aja sih hehehe

    Nice fic, unnie!

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s