[BTS FF Freelance] The White Wings – Ficlet

ficlet-july-poster

THE WHITE WINGS

©haeminchan

BTS’ Suga as Min Yoongi, OC’s Seo Hyunmi
FantasyAngstSad, Romance

PG-15

Disclaimer: Min Yoongi adalah milik Tuhan dan milik keluarganya. Tetapi cerita ini murni milik saya. Saya sangat menghargai kritik dan saran, tapi saya sangat membenci apabila karya saya ini dijiplak. Cerita ini terinspirasi dari komik jepang yang berjudul +Anima karya Mukai Natsumi-sensei.

.

.

.

“Langit biru tempat awan-awan putih itu bermain, sungguh tempat yang sangat indah bukan? Andaikan saja aku bisa menggapainya ….”

.

.

.

Gelak tawa yang begitu renyah terdengar menggema, mengirimkan berjuta-juta rasa yang begitu menyenangkan dalam hatiku. Entah bagaimana dan sejak kapan, aku selalu merasa ingin mendengarkan suara itu–suara yang mampu melelehkan gunung es sekalipun. Walau hanya dari kejauhan–walau gadis itu tidak pernah mengetahui siapakah sosok yang selalu mengagumi keberadaannya itu.

Dengan perlahan, kugerakkan roda-roda yang mengapit kedua rangka bawahku ini menyusuri lorong yang begitu panjang. Walau begitu, aku tetap tidak mengalihkan fokusku dari gadis yang tengah tertawa, berjalan ke berbagai arah–membantu seluruh kawanannya yang tengah tertimpa kesulitan di luar sana.

Andaikan saja aku punya cukup keberanian untuk mendorong roda-roda ini keluar sana dan menyapanya … hari ini pasti akan menjadi lebih sempurna. Langit yang begitu biru–begitu indah–serta para bunga yang bermekaran di luar sana, semua seolah-olah mendukungku untuk melaksanakan segala niatan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.

Menyapanya?

Jangan bercanda Min Yoongi. Gadis itu takkan pernah mau berkenalan denganmu, berkenalan dengan kaummu yang begitu ia benci. Takkan pernah–

“Tuan Min?”

Suara itu.

Harum tubuh itu.

Bayangan itu.

Dalam sekejap semua pemikiran yang ada di dalam benakku lenyap tak berbekas. Degup jantung yang semula terdengar dalam ritme yang begitu halus dan hanya mampu menerbangkan bulu-bulu putih nan menawan yang terjatuh di telapak tanganku, kini telah berubah.

Menjadi lebih cepat.

Menjadi lebih berwarna.

Meninggalkan sensasi aneh yang begitu menggelitik setiap inci sel dalam tubuhku.

Dengan satu sentakan yang begitu cepat, aku segera mendongakkan kepalaku. Mencoba mencari tahu apakah dirinya benar-benar sosok yang sedaritadi memenuhi pikiranku. Yang setiap hari memberiku semangat untuk kembali membuka mata dan memulai hari-hariku yang terasa semakin menyesakkan.

“Sedang apa Tuan ada di sini? Hari ini bukan hari kunjungan Tuan ke tempat kami, bukan?”

Napasku tercekat. Nada suara dan sorot matanya yang memancarkan aura kesedihan, ketakutan, tampak begitu jelas di mataku. Aku mencoba untuk menelan ludahku yang saat ini terasa begitu keras dan menyakitkan, dan perlahan membuka mulutku. Mencari rangkaian kata yang setidaknya takkan membuat ia melangkah pergi, dan menjauh dari hidupku. Selama-lamanya.

“Ti-Tidak … aku hanya–“

“Aku mohon–aku mohon padamu … sudahi semua ini Tuan. Aku–aku tidak akan memberi tahu kawananku kalau kau datang ke sini, tapi aku mohon … kami juga layak untuk hidup, Tuan.”

Gadis itu mengeratkan pegangannya pada cawan porselen yang telah terisi penuh oleh cairan pekat berwarna coklat tua di tangannya. Pundaknya terlihat bergetar–dia terlihat begitu rapuh dan putus asa. Sangat berbeda dengan sosok penuh semangat yang kulihat dari balik jendela besar itu, beberapa detik yang lalu.

“Seo Hyunmi … a-aku tidak bermak–“

“Aku–aku harus kembali untuk merawat kawananku, Tuan. Maafkan aku ….”

.

.

.

“Namun kini, langit biru itu berubah menjadi kelabu. Meninggalkan sejuta kegelapan yang begitu kelam … meninggalkan sosokku yang berdiri seorang diri di bawah kesedihan yang begitu mendalam.”

.

.

.

Roda-roda itu kembali kugerakkan, menyusuri lorong panjang yang semakin membuat kekosongan dalam hatiku terasa begitu jelas. Semua ini salah kami. Salahku. Aku memang pantas mendapatkan semua perlakuan ini–gadis itu, patut membenciku.

Kebebasan adalah satu-satunya hal yang selalu kuinginkan tapi takkan pernah bisa kudapatkan. Dan kebebasan adalah satu-satunya permata kebahagiaan yang telah kucuri dengan paksa dari genggaman mereka. Mengurung mereka dalam sebuah cangkang berisi kebahagiaan semu, yang kini telah berhasil mereka pecahkan.

Gagal! Percobaan ini gagal lagi!

Gadis itu, dan mereka semua, telah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh makhluk-makhluk rakus seperti kami dari mereka.

Panggilkan anak yang berikutnya! Kita harus dapat memastikan bahwa semua ini akan berhasil. Jangan biarkan orang-orang memandang remeh bangsa kita!

Teriakan demi teriakan yang akhir-akhir ini menjamah alam bawah sadarku, kembali membuat kepalaku berdenyut. Aku menghentikan putaran roda yang sejak bertahun-tahun sebelumnya mengirimkan berjuta rasa sakit dalam kalbuku. Memejamkan mataku dan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuang semua udara itu perlahan. Tanganku kini terangkat–mengusap dengan kasar wajah yang kini takkan pernah lagi ia lihat.

Gadis itu membenciku. Dan di sini, aku tidak dapat berbuat apapun selain terus memutar kedua roda yang mengapit rangkaku untuk berjalan maju.

Harus membutakan netraku. Menulikan pendengaranku. Mematikan setiap inci sel dalam otakku–agar aku tidak lagi memikirkan hal-hal lain di luar eksperimen itu.

.

.

.

“Gemuruh yang menggelegar, terdengar menggema–memekakkan telinga, dan memenuhi seluruh penjuru horizon dengan teriakannya yang begitu memilukan.”

.

.

.

Suara-suara putus asa kembali memenuhi setiap rongga pendengaranku. Membuatku terbangun dari tidur dengan napas yang tidak teratur dan debaran jantung yang mengirimkan jutaan ketakutan dalam benakku. Dadaku sesak. Pemikiran-pemikiran buruk mengenai gadis itu mulai merangkak memasuki otakku. Menyergap seluruh kewarasan yang kupunya. Merampas seluruh napas yang coba kugapai ditengah kegelapan yang memerangkapku.

Gadis itu mencoba mencari bantuan. Meneriakkan namaku dalam keputusasaan yang memilukan. Sedangkan aku hanya bisa berdiri dan tidak bisa melakukan tindakan apapun yang dapat menyelamatkan sosoknya.

Dengan gerakan cepat dan terburu-buru, aku meraih roda-roda penggerak itu ke arahku. Melompat dari ranjang putihku dan mendarat dengan susah payah pada penggerak laknat itu. Masih diliputi berbagai perasaan gelisah, khawatir, takut, dan berjuta kengerian dalam hatiku, aku mempercepat putaran roda-roda yang kini sudah mengapit rangkaku menuju desa kecil yang telah menjadi tempat tinggal kawanan Seo Hyunmi tiga bulan terakhir ini.

Berharap bahwa gagasan gila yang berputar-putar dalam otakku tidak akan menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan yang dapat meluluh-lantakkan seluruh kewarasan yang kumiliki.

.

.

.

“Sang Langit bersedih. Air matanya jatuh. Tetes demi tetesnya yang menyesakkan, terhempas dengan begitu keras. Membasahi Sang Bumi yang terlihat begitu mengenaskan.”

.

.

.

“Seo Hyunmi!”

Puluhan pasang netra yang kini tengah memandangi sosokku dengan berbagai ekspresi, tidak lagi kupedulikan. Dan semua itu diakibatkan oleh gadis cantik yang kini sudah babak belur, berlumur darah, akibat perlawanan yang ia lakukan demi membebaskan dirinya. Membebaskan jiwa dan raganya dari jeratan rantai besi para peneliti tak berperasaan itu.

Mendengar suaraku yang berulang-ulang kali memanggil namanya dengan perasaan takut, kalut, khawatir, Seo Hyunmi menolehkan kepalanya dan kini menatapku penuh permohonan. Keputusasaan yang luar biasa, benar-benar tercetak begitu jelas di kedua netranya yang begitu indah.

“Tuan …,” ujarnya lirih. Tubuhnya bergetar begitu hebat dan air mata pun meleleh begitu saja di paras cantiknya.

“Tidak. Tuhan kumohon … hentikan …. Seo Hyunmi!!!”

Aku kembali menggerakkan roda-roda penggerak ini menuju ke tempat Hyunmi dengan tergesa-gesa. Berharap agar tubuhku bisa sampai di sisinya saat ini juga.

Persetan dengan keberhasilan eksperimen gila yang direncanakan dokter itu untuk membuatku dapat bergerak dengan bebas. Persetan dengan semua orang yang kali ini sudah menghalangi jalanku menuju ke sisinya. Aku hanya ingin bersama Hyunmi. Aku hanya ingin hidup bahagia dengan sosoknya yang berada di sisiku selamanya.

Karena aku mencintainya.

Sangat mencintainya.

“Hentikan semua ini dan biarkan gadis itu pergi!”

“Tapi Tuan, ini semua sudah menjadi perintah Nona Shin Aera agar–“

“Persetan dengan kerakusan wanita licik itu! Pergi dari sisi Hyunmi sekarang juga!”

Aku memberontak. Mencoba membebaskan diriku dari cengkraman para peneliti yang kini sudah memegangi tangan kanan dan kiri, serta alat pengerakku, agar aku tidak bisa mendatangi sosok cantik yang tengah kesakitan di tengah sana.

Berkali-kali aku meneriakkan namanya hingga tenggorokanku begitu sakit. Namun, aku tahu bahwa ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kehidupannya yang begitu keras. Meninggalkan roda penggerak yang kini telah didorong menjauh dari Hyunmi, dengan susah payah aku menarik tubuhku ke arah sosok di tengah lapangan itu. Ke arah sosok yang kini tengah memberikan sebuah senyum manis nan lembut padaku. Sosok yang hingga akhir napasnya terlihat begitu agung. Terlihat begitu indah. Terlihat begitu memesona.

.

.

.

Air mata yang begitu hangat meleleh membentuk sebuah sungai kecil yang mengalir, membasahi setiap inci wajahku. Aku menyesal … sungguh-sungguh menyesal. Karena kerakusanku–kerakusan kami, kami harus melibatkan dirinya, melibatkan seluruh kawanannya, dan melibatkan hidupnya dalam penelitian konyol dan tak berarti ini.

Seharusnya semua ini tidak pernah terjadi. Seharusnya aku tidak pernah mengatakan kata-kata laknat itu pada-Mu, Tuhan.

Seharusnya aku tidak pernah mengucapkan permohonan seperti itu pada-Mu, Tuhanku.

.

.

.

“Kepada Tuhan yang begitu kubenci ….”

“Aku tahu bahwa permintaanku mungkin terdengar begitu konyol dan kekanak-kanakan untukmu-tapi … tapi tak bisakah aku kembali mengarungi angkasa menggunakan kedua sayap putihnya yang begitu anggun?”

“Menyeberangi senja yang begitu menawan. Menggapai bintang yang begitu gemerlap. Merasakan kebebasan dan keabadian di dunia yang begitu luas.”

“Bersama dengan sosok anggunnya di sisiku ….”

“Selama-lamanya.”

.

.

.

END

A/N.
Halo pembaca BTS Fanfiction Indonesia~
Perkenalkan, saya author freelancer baru di sini^^

Nggak banyak yang mau saya utarakan, hanya saja saya ingin mengucapkan terima kasih banyak karena kalian sudah mau membaca cerita saya. Semoga cerita ini berkesan untuk kalian.

With love,
Yayas. Yasmin. Mimin.

PS. Cerita ini dibuat untuk memperingati Hari Bhakti TNI Angkatan Udara Indonesia (29/06).

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] The White Wings – Ficlet

  1. Haloooooo. Aduuuh tulisan kamu rapih amat :”) aku malah terombang-ambing sama alurnya dan ngga paham si suga sama hyunmi ini mahluk apa(?) :”))) keep writing! Sering-sering kirim fic ke sini yaaa~

    Like

    1. Waah terima kasih banyak udah mau baca FF ini >////<

      Itu ceritanya si Yoongi manusia biasa, tapi sayang dia nggak bisa berjalan gitu karena kakinya lumpuh, kalau si Hyunmi nya itu manusia setengah burung gituu

      Akan mencoba sering kirim ff ke sini kok nantinya^^ hehehehe

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s