[BTS FF Freelance] Brother or Boyfriend? (Chapter 4)

2016-06-30-20-51-42_deco

Brother or Boyfriend?

Story by : CGJin

Genre : Romance, School-life, friendship, family-life, AU, comedy

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Cast :

Kim Seokjin [BTS] as himself

Min Yoongi [BTS] as Kim Yoongi

Jeong Hoseok [BTS] as Kim Hoseok

Kim Namjoon [BTS] as himself

Park Jimin [BTS] as Kim Jimin

Kim Taehyung [BTS] as himself

Jeon Jungkook [BTS] as Kim Jungkook

You [OC/Reader] as Kim Hayeon

Other cast will coming soon…

Disclaimer :

OC’s name and story are mine. Don’t be a siders and plagiarism!

Maafkan Hye yang banyak typonya disini T.T

 

Sebelumnya :

“Ayo tidur,” ujar Seokjin lembut. Hayeon mengangguk, dan ia membaringkan tubuhnya disamping Seokjin. Bantal empuk, kasur lembut, dan selimut hangat membuat Hayeon merasa nyaman. Seokjin mengecup kening Hayeon pelan.

“Have a nice dream…”

“You, too…”

Mereka pun tidur dengan tangan Seokjin yang melingkar di pinggang Hayeon dan Hayeon yang bersandar di dada bidang Seokjin ditemani rembulan yang bersinar terang menembus kaca kamar Seokjin dan menyinari mereka berdua.

***

.

.

.

.

.

Hayeon’s POV

 

Pagi, yah. Pagi! Aku benci pagi! Harus bangun pagi, mandi pagi, masak pagi, makan pagi, pokoknya aku benci pagi!!

Kulihat ke samping kananku. Seokjin sudah tidak ada disana. Apa dia sudah pergi ke kantor? Ah, tidak mungkin. Ini baru jam enam pagi.

Lalu, pria bahu lebar itu kemana?

Aku segera turun dari kasur dan meleset ke kamarku dan segera mandi setelah mengambil pakaianku. Setelah selesai, aku menyusun buku yang akan digunakan hari ini ke tasku. Setelah itu aku menjinjing tasku dipunggungku dan turun ke bawah, tentu setelah merapikan rambutku dan memoleskan sedikit make-up ke wajahku.

Aku menuju ke dapur dan kulihat Seokjin sedang memasak. Aku tersenyum dan memeluknya dari belakang. Ia terkejut.

“Oh! Hyennie-ya! Kau mengagetkanku!” ujarnya tanpa mengalihkan matanya dari panic. Aku terkikik kecil mendengarnya.

Mian, oppa~ tumben kau mau bangun pagi untuk memasak,” ujarku. Ia tersenyum.

“Memangnya kenapa? Tidak suka, ya?”

“Iya, biasanya kau akan menyuruhku bangun dan memelukku dengan erat. Aku rindu itu, kakakku yang imut ini…” aku mengeratkan pelukanku padanya. Ia mematikan kompor dan melepaskan pelukanku, lalu berbalik melihatku.

Humm? Kau serius?” tanyanya dengan nada menggoda. Aku mengangguk.

Arraseo.. nanti malam kau tidur lagi di kamarku. Aku akan membangunkanmu dengan sweet, little princess!”

Ia mengacak-acak rambutku gemas. Aku mengerang kesal, “Yakkk oppaa! Aku sudah merapikannya agar bagus, kenapa diacak?!! Hyaa aku harus merapikannya lagi!!”

Seokjin tertawa gemas, “Kau itu lucu, makanya kuacak-acak. Lagipula, kau terlihat sexy dan imut,” ujarnya dengan nada menggoda lagi. Aku menggembungkan pipiku, dan merapikan rambutku yang acak-acakan akibat ulahnya.

“Ya sudah, aku ke ruang makan dulu. Lebih cepat masakknya.”

Seokjin menggangguk, dan mengecup dahiku. Aku tersenyum, dan pergi ke ruang makan. Terlihat para kakakku sudah berkumpul disana. Tapi, ada yang kurang.

Morning…” sapaku pada mereka. Kakakku semua menjawabku, tapi dengan nada berbeda, ekspresi berbeda, dan dengan kata-kata yang berbeda pula. Dan, Hoseok menjawab dengan bahasa Arab. Oppa itu kenapa, sih?

“Oh ya, mana Jimin oppa dan Yoongi oppa?” tanyaku pada mereka.

“Yoongi hyung sudah ke kantor, dan Jimin pergi ke studionya,” jawab Namjoon. Aku mengangguk mengerti, lalu duduk di samping Jungkook.

“Makanan sudah siap!” ujar Seokjin dan kami pun memekik bahagia. Perutku sudah keroncongan.

Oh ya, tambahan informasi tentang kakak-kakakku ini. Kalau berurusan dengan makanan, maka mereka nomor satu dalam merebutkannya. Kalau disuruh melakukan hal lain seperti mencuci, memasak, melakukan pekerjaan sekolah, pasti banyak alasan, kecuali Seokjin dan Jimin. Mereka benar-benar menurut saat disuruh melakukan hal-hal seperti itu.

Jal mokhae seubnida!!”

***

“Ayo! Kita sudah terlambat!!” pekikku pada kedua pria tampan ini dan segera berlari masuk ke dalam sekolah. Kedua pria itu mengikutiku dan berlari secepat mungkin. Sampailah kami dikoridor sekolah dan berada dipertigaan. Jungkook segera berbelok ke kiri untuk ke kelasnya, dan kami segera berbelok ke kanan untuk ke kelas kami. Semoga saja gurunya belum datang. Kami segera membuka pintu kelas kami.

SHIT!

GURUNYA SUDAH BERADA DI DALAM!

Jwi-jwisonghabnida, seonsaengnim!” ujar Taehyung dan membungkukkan tubuhnya, begitupula denganku. Meski aku sudah kekurangan oksigen, aku tetap membungkuk sopan pada pria yang notabene-nya adalah guruku.

“Baiklah, tapi..”

Kami hanya akan bersiap keluar.

“Karena pertama kalinya, saya maafkan. Jangan ulangi lagi, Kim Taehyung, Kim Hayeon.”

Kami menghela nafas lega, “Gamsahabnida, seonsaengnim!”

Kami pun segera duduk dikursi masing-masing dan mengeluarkan buku pelajaran kami.

Bagaimana dengan Jungkook, ya? Aku penasaran.

Hayeon’s POV end

***

Seokjin’s POV

“Kim sajangnim, tuan Kim Hoseok ingin bertemu dengan anda.”

Aku mendongkakkan kepalaku saat sekretarisku menyebutkan nama ‘Kim Hoseok’ dan menutup dokumen yang tengah kukerjakan, “Suruh dia masuk.”

Sekretarisku membungkuk sesaat dan keluar dari ruanganku. Setelah beberapa detik, Hoseok langsung masuk dan berlari kearahku.

Hyung!” pekiknya padaku dan itu tepat di WAJAHKU!

YAK! Sudah kubilang berkali-kali jangan berteriak di depan wajahku! Pekak, tahu?!” bentakku padanya. Dia hanya nyengir kuda.

Mianhae, hyung. Habisnya ini kabar gembira!”

“Kabar gembira macam apa yang membuatmu sampai beraninya berteriak di wajahku, huh? Duduk saja dulu.”

Kami pun pindah ke sofa kantorku. Ia mengambil tasnya dan membukanya, lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan memberikannya padaku. Aku memandangnya bingung.

“Apa ini?”

Hyung buka saja dulu.”

Aku membukanya dengan rasa penasaran. Setelah kulihat isinya yang ternyata sertifikat, aku menganga, dan melihatnya dengan tatapan tak percaya.

“Ho-Hoseok-ah, ini benar-benar nyata?” tanyaku padanya dengan nada tak percaya. Hoseok mengangguk mantap.

“Benar, hyung. Kau tak percaya, ‘kan?”

“Ba-bagaimana bisa?!”

“Karena aku berusaha keras, hyung! Sesuai perkataanmu!”

Aku memekik bahagia. (Suara lumba-lumbanya Seokjin, ingat? Nah itu -_-)

“YAAAHH!! HOSEOK-AH!!! HYUNG BANGGA PADAMU!! CHUKKAHAEYO!!!” pekikku dan menjabat tangannya dengan cepat. Dia hanya tersenyum malu-malu.

Gomawo, hyung…”

“Yaahhhh! Aku sangat bahagia!! Juara satu nasional?! Itu luar biasa, Hoseokkie~!!” pekikku lagi. Aku benar-benar senang.

Kenyataanya, Hoseok juara satu nasional dalam bidang menari.

Ah, dongsaengku yang satu ini memang pandai menari.

“Malam ini hyung akan mentraktirmu makan enak! Katakan, kau mau makan apa?”

Jinjja, hyung?! Aku ingin daging sapi!” pekiknya. Aku terkekeh.

“Baiklah. Hyung akan mentraktirmu makan daging sapi malam ini direstoran yang enak!”

Hoseok memekik bahagia, dan sangat memekakkan telingaku.

“HOREEE!!! DAGING SAPIII!! AKU AKAN DATANG PADAMUUU!! TUNGGU AKUU~!” ia berkeliaran dikantorku. Hah, dia selalu saja hyperactive. Kapan dia akan tepar? Aku khawatir ia menyimpan sesuatu dibalik ke-hiperannya itu.

Oh, aku tahu satu. Dan, rahasia itu ada di dalam hati kami bertujuh. Meski yang lain tidak tahu ada orang lain yang memiliki rahasia itu, aku mengetahuinya.

Aku menutup mataku dan menghela nafas panjang.

Biarkan Tuhan yang memilih nanti. Apakah diriku atau keenam saudaraku yang akan menjaga dan melindunginya nanti dimasa depan.

Seokjin’s POV end

***

 

“Baiklah, pelajaran hari ini selesai. Kerjakan tugas halaman 17. Minggu depan sudah harus diletakkan dimeja saya. Sekian.”

Choi seonsang segera keluar dan seisi kelas mulai ricuh. Ada yang bermain, ada yang keluar, ada yang tidur, dan lain sebagainya.

Berbeda denganku. Para gadis baik dari kelasku maupun kelas lain, berombongan datang kepadaku. Aku hanya bisa menghela nafas.

Kyaa Taehyung oppa!! Boleh minta tanda tanganmu?”

Oppa! Boleh berfoto denganmu?!”

“Taehyung oppa! Kau sangat tampan!”

Aku memang tampan, terima kasih sudah menyadarinya. Tapi, kalian benar-benar menggangguku.

“Berhenti,” ujarku pada mereka tanpa menatap mereka. Mereka semua diam, dan hanya menatapku. Aku menghela nafas.

“Bisakah kalian pergi? Kalian benar-benar menggangguku. Tanda tangan? Aku bukan artis. Foto? Aku tidak menjual wajahku sehingga mudah berfoto. Tampan? Terima kasih, aku memang tampan. Tolong berhenti.”

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

KYAA OPPA!!!”

ASH! Tidak mau diam juga! Malahan mereka semakin gila!

BRAK!

Semua segera melihat ke sumber suara, termasuk diriku. Itu Hayeon! Dan, dia berjalan kearahku lalu menarik tanganku.

Oppa, bagaimana kalau kita keluar?”

Ah, gomawo, Hayeon.

“Ah! Untung  kau mengingatkanku, Hayeon-ah! Aku ingin membeli sesuatu. Temani aku!” aku segera menyeretnya keluar. Tapi, seseorang menghentikan langkah kami.

“Kim Hayeon, berani-beraninya kau mengambil Taehyung oppa sesuka hati? Memangnya dia pacarmu?!” pekik salah satu gadis pada kami. Hayeon membalikkan kepalanya. Ia tersenyum meremehkan.

Wae? Itu hak-ku untuk mengaturnya.”

“Memangnya kau siapa, huh?!”

Hayeon merangkul bahuku.

“Aku?”

Mereka menatap Hayeon tak percaya. Gadis yang memekik tadi mengepalkan tangannya. Hayeon menunjuk dirinya sendiri.

“Adik imutnya.”

Seisi kelas tak percaya dengan perkataan Hayeon. Aku mengetok kepala Hayeon pelan.

“Kenapa dibilang, bodoh! Sudahlah, ayo!” aku segera menyeretnya keluar dari suasana mencekam(?) ini.

Ck, memalukan!

Taehyung’s POV end

***

Author’s POV

Night, at 20:00 P.M.

Hayeon bersiap-siap berangkat ke restoran yang dijanjikan Seokjin. Dress putih sampai lutut dengan V neck lalu rambut coklat bergelombang yang diikat setengah dan yang lainnya dibiarkan terurai. Make-up natural dengan bibir merah cerah dan pipi pink tipis dan eye shadow bergradien biru putih dan pink menambah kecantikannya. Parfum wangi dan perhiasan yang menghiasi tangannya sangat indah dan memakai choker berwarna hitam semakin menambah keseksiannya. Setelah merasa ia siap, ia turun ke bawah dengan membawa tas kecil berwarna putih tulang.

Hayeon melihat semua kakaknya sudah berada diluar. Gadis itu segera memakai High-heelsnya yang setinggi lima sentimeter berwarna hitam. Ia segera masuk ke mobil mewahnya Seokjin. Para pria yang berada di dalam langsung menatapnya dengan tak percaya.

Hey, kau tak salah mobil, bukan?” Tanya Hoseok. Hayeon bersiap menjitak kepalanya.

“Kau kira aku siapa, huh? Dasar!”

“Hehehe… habisnya aku tak bisa mengenalmu. Kau cantik sekali,” ujar Hoseok. Hayeon tersenyum manis.

“Jujur, kau sangat cantik malam ini, Hayeon..” kali ini Jimin dengan wajah memerah. Hayeon terkekeh.

“Kau memerah, Jimin oppa… lucu sekali..”

Jimin segera menutup wajahnya karena malu.

Taehyung dan Jungkook hanya mengangguk setuju dengan kata-kata Jimin tadi. Namjoon mengacungkan jempol pada Hayeon. Seokjin tersenyum manis.

“Kau benar-benar cantik bahkan dengan make-up tipis, Hayeon-ah,” puji Seokjin. Hayeon tersenyum manis padanya.

Gomawo, dan seharusnya kau sudah menjalankan mobilnya, oppa.”

“Benar, ayo berangkat!”

Mobil Seokjin pun berjalan melewati jalanan Seoul yang berisi beberapa pengendara juga.

***

.

.

.

.

.

.

A/N : Hello~ Hye kembali! Gimana? Apa ada perkembangan dari tulisan Hye? Hehehe…

Oh ya, terima kasih bagi semua reader yang sudah baca FFabsurd Hye ini dan sudah meninggalkan reviewnya, ya~ Hye benar-benar menghargai itu. Leave review again, ya, readers~

 

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] Brother or Boyfriend? (Chapter 4)

    1. Hi~

      Eh? Ga sabaran? Hye buat makin ga sabar lagi di chap selanjutnya hehehehe *senyum evil* /lah/

      Thank you sudah membaca & menreview!

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s