[Chapter 3] The Throne of Orient: Grip of Guilt

the-throne-of-orient-copy

The Throne of Orient

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Suga as Fyre, Jimin as Alven, Jungkook as Devin, J-Hope as Hale, and OC’s Aleta

Chaptered | Kingdom!AU, Friendship, Life, Romance | 13

previous: Prologue | #1: Fall and Feud | #2: At Stake |

.

“Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab atas segalanya.”

.

.

.

.

Grip of Guilt

.

.

 

Ancaman dari Cumblerton boleh membuatnya kesal bukan main, tapi sekarang rasanya Fyre ingin mati saja.

Kabar dari Alven sukses membuat semua rasa lelahnya menguap, digantikan debar jantung yang berpacu kuat dan keringat dingin di tengkuk. Sang pangeran Orient menggerakkan kakinya secepat mungkin di sepanjang lantai pualam, mendorong pintu kayu yang terletak di sudut paling kanan koridor dengan napas terengah. Manik bergerak liar, sampai ia menemukan sosok gadisnya yang terbaring tak bergerak.

“Ini salahku.”

Bisikan itu keluar dari bibir Fyre, selagi ia mendudukkan diri pada kursi di samping ranjang. Jemari spontan terulur untuk menggenggam tangan Aleta, merasakan panas akibat demam yang menguar dari sana. Sekali lagi menghadirkan sentakan rasa bersalah di hatinya, fakta bahwa ia—selalu dirinyalah—yang menyebabkan semua ini.

Alven memang sudah berkata jika kondisi Aleta kurang-lebih serupa seperti sebelumnya, pun dengan herbalis istana yang menyatakan jika gadis itu hanya perlu meminum obat yang sudah diracik saat ia terjaga nanti. Semua meyakinkan Fyre agar ia tak perlu cemas, tapi lelaki itu tak bisa melakukannya. Terlebih, mengingat beban akibat semua perkara Cumblerton ini, mungkin saja kan kalau—

Hentikan, Fyre. Hentikan!

Membentak diri sendiri, Fyre lantas memejamkan kelopaknya erat-erat. Membiarkan bulir-bulir air itu untuk menyelusup turun, membasahi kedua belah pipinya. Melihat Aleta seperti ini selalu membuat hatinya sakit, nyeri yang mengingatkan Fyre akan kesalahannya bertahun lalu. Ia, sang pangeran yang seharusnya bisa melindungi, malah menjadi seseorang yang nyaris merenggut nyawa Aleta. Ia telah merebut kesempatan yang seharusnya dimiliki gadis itu, masa depan yang barangkali akan lebih baik jika saja ia tak bersikap egois.

Tapi, semua sudah terlambat.

“Maafkan aku, Al. Maafkan aku.”

Fyre mungkin sudah mengucap frasa itu berulang-ulang, tak terhitung banyaknya sejak ia pertama kali melihat Aleta terbaring tanpa daya. Menyatakannya diikuti getar ketakutan, mengatakannya lagi diiringi penyesalan mendalam, juga menggumamkannya tanpa sadar tiap kali ia terlelap. Padahal, Aleta juga sudah menegaskan kalau ia telah memaafkan Fyre.

Hanya saja, memaafkan dirinya sendiri tak akan semudah itu, bukan?

“Maaf karena aku selalu merepotkanmu,” ujar Fyre lagi, kali ini sambil menundukkan kepala dan menyandarkan pelipisnya di tepi kasur. Menarik napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan, “Cepatlah membaik, Aleta. Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab atas segalanya.”

.

-o-

.

“Kau juga butuh istirahat, Fyre.”

Alven melangkah memasuki kamar pada pukul delapan pagi, menepuk pundak Fyre yang tertidur dalam posisi duduk. Ada lingkaran hitam di bawah mata lelaki itu, rambutnya mencuat berantakan saat ia membuka mata. Mengerjap, lantas memandang Alven yang memberinya sorot khawatir.

“O-oh, Alven.” Fyre menahan kuap, melirik Aleta yang masih belum sadar. Secara otomatis menggerakkan tangannya untuk meraih kompres yang ada di dahi gadis itu, baru saja akan mencelupkannya ke dalam baskom berisi air ketika Alven kembali berbicara.

“Fyre, kau tidak bisa bersikap seperti ini.”

Hmm, aku tahu.” Fyre menjawab dalam gumaman, memeras dan meletakkan kain tersebut di atas kening Aleta sebelum melanjutkan, “Aku tidak seharusnya tertidur ketika sedang menjaga Aleta. Maafkan aku.”

“Fyre….”

“Kau tidak perlu cemas, Alven.” Fyre mengangkat bahu, berusaha terlihat kuat—yang langsung gagal di mata Alven. Bagaimana bisa Alven percaya, ketika pundak itu tampak bagai digelayuti beban seberat ratusan karung gandum? Hal terakhir yang mereka butuhkan saat ini adalah mendapati sang putra mahkota ikut sakit, dan Alven tak akan membiarkan itu terjadi.

“Istirahatlah, Fyre. Seberapa pun besarnya tanggung jawab yang kaurasakan terhadap Aleta, kau juga punya tanggung jawab terhadap nasib Orient serta—“

“Hentikan.” Fyre mendesis, meletakkan kepalanya di antara kedua tangan. “Hentikan, Alven. Aku tidak cukup kuat, tidak cukup baik, untuk mengatasi semua itu. Nasib Orient, huh? Apa yang harus kulakukan ketika menjaga Aleta saja aku tidak bisa?”

“Kau harus beristirahat,” ulang Alven, masih tetap bertahan pada kata-katanya. “Tolonglah, Fyre….”

Fyre menggeleng, tegas. “Aku akan mengganti air ini dulu,” sahutnya, bangkit berdiri dengan sedikit sempoyongan dan meraih baskom. “Kau boleh ikut menjaga Aleta di sini, tapi aku tidak akan kemana-mana, Alven. Tidak lagi.”

Tanpa menunggu Alven menjawab, Fyre melangkah lamat-lamat menuju kamar mandi. Memberi Alven kesempatan untuk berpikir sejenak, juga mengamati saudarinya yang tak akan bisa membantu. Fyre itu keras kepala, dan Aleta adalah satu-satunya orang yang mampu melunakkan hati sang lelaki. Bahkan, Alven yang sudah mengenalnya bertahun-tahun saja selalu gagal, senantiasa mengalah pada keinginan sang pangeran.

Namun, itu dulu.

Dulu, Alven juga tidak akan keberatan membiarkan Fyre menunggui Aleta. Ia tahu jika kawannya itu bisa diandalkan, bisa menjaga Aleta dengan baik. Tapi, sekali lagi, itu adalah masa lalu. Masa ketika mereka tidak dipaksa untuk berhadapan dengan perkara pelik macam Cumblerton, ketika semuanya tampak berjalan dengan lancar serta tanpa hambatan.

Sedangkan sekarang….

“Aleta tidak akan senang jika ia tahu kau memaksakan diri.”

Sekarang, Alven memutuskan untuk balik melawan Fyre dan memaksanya. Menyeretnya ke tempat tidur kalau perlu, lantas menyuruh Devin untuk menjaga sang pangeran agar tak kabur. Alven akan melakukan apa saja, kendati itu berarti ia harus memancing argumen dengan Fyre.

“Aleta tidak seharusnya menyukai diriku,” jawab Fyre, meletakkan wadah berisi air dingin ke atas meja dan menghela napas lelah. “Dan aku tidak seharusnya menyukai dirinya. Bersikap aku bisa melakukan segalanya, ketika nyatanya aku hanya membuat ia menderita.”

“Kau tidak benar-benar memaksudkan itu, Fyre.”

“Kenapa tidak?” Fyre membalikkan kalimat Alven dalam pertanyaan, namun ia sengaja menghindari tatap aide-nya. “Akan lebih baik jika ia tidak pernah memaafkanku. Aku… aku pantas menerima itu.”

Alven mengacak rambutnya dengan sebelah tangan, jelas-jelas frustrasi. Obrolan ini jelas bukan salah satu jenis obrolan favoritnya. Mengungkit masa lalu adalah suatu hal yang lebih suka Alven hindari kalau bisa. Hanya saja, dalam kondisi seperti ini….

“Aleta memaafkanmu.” Alven berkata dengan tegas, mengepalkan kedua tangannya. “Ia memaafkanmu, begitu pula denganku. Jangan buat aku menyesali itu, Fyre.”

“Barangkali, akan lebih baik juga jika kau menyesal—“

“Kau tidak tahu apa-apa, Fyre!” Alven sekarang menaikkan nada suaranya, nyaris membentak. Selama beberapa sekon lantas melirik Aleta yang masih tak bergerak, merasa bersalah karena ia terpaksa melakukan semua ini di hadapan adiknya. “Tapi, Fyre—“

“Keluar.”

“Dengarkan aku—“

“Keluar, Alven.” Fyre mengangkat kepala, menatap Alven tepat di mata. “Aku memang bukan lelaki yang baik, tapi aku tidak mau bertengkar denganmu. Tidak di sini.”

“Aku adalah saudaranya.”

Fyre tak menjawab.

“Aku berhak untuk tetap berada di sini,” lanjut Alven, bersikeras. “Jika aku benar-benar membencimu, atau menyesali kata maaf yang pernah kuberikan, maka aku tidak akan melanjutkan percakapan ini. Aku akan membawa Aleta pergi, mencarikan tempat yang lebih aman dan lebih baik untuknya, sekarang juga. Tapi, aku tidak melakukan itu. Kau tahu kenapa?”

Sang pangeran Orient masih bungkam, kedua bibirnya dirapatkan hingga membentuk garis tipis. Rahang menegang, namun ia memilih untuk mendengarkan lebih dulu. Jujur saja, otak Fyre bahkan tak bisa berfungsi dengan benar saat ini. Semua kalimatnya terdengar seperti racauan—pertanda lain bahwa ia hanyalah seorang lelaki yang tak berguna.

“Tidakkah kau penasaran, apa alasanku memaafkan dirimu?” Alven kembali melempar kalimat, maniknya kini terlihat pilu. “Aku bisa saja menyimpan dendam pada dirimu seumur hidupku, Fyre. Aku bisa, tapi aku tidak melakukan itu. Aku memilih untuk memaafkanmu, kembali menjadi sahabat dan aide-mu, bersumpah untuk selalu setia apa pun yang terjadi. Semuanya, semua ini, aku melakukannya demi Aleta.”

Alven agaknya sukses menarik atensi Fyre, membuat ekspresi kaku yang dipasang lelaki itu lamat-lamat luntur. Digantikan oleh sorot ingin tahu, selagi dirinya kembali mendudukkan diri di samping Aleta. Meraih jemari gadisnya, dengan lirih merepons, “Apa maksudmu?”

“Kau tahu apa yang dikatakan Aleta padaku? Tepat sebelum semua peristiwa itu terjadi?”

Fyre seketika menegakkan tubuh, maniknya bergerak cepat saat ia mendengar kata-kata Alven. Kegelisahan kembali merayap, begitu kentara hingga membuatnya tampak makin pucat. Bibir gemetaran, kedua lengan tanpa sadar bergerak untuk memeluk diri sendiri. Ia bagai diburu oleh seseorang, oleh sesosok makhluk tak kasat mata yang tidak akan pernah mengampuni dirinya. Semua kenangan buruk itu menjelma layaknya hantu, terus menggelayuti punggung Fyre selama bertahun-tahun lamanya.

“Fyre, kau mendengarku?”

Sang lelaki menggeleng. Tak yakin apakah ia siap mendengar kelanjutan cerita Alven, tak kuasa jika ia harus menanggung beban yang lain. Namun, tanpa peduli apakah Fyre merasa siap, Alven sudah kembali membuka mulut. Menceritakan segalanya, semua fakta yang tak pernah dibayangkan oleh Fyre selama ini.

“Aleta menyuruhku untuk percaya padanya. Percaya jika apa yang akan ia lakukan waktu itu adalah pilihan terbaik.”

Detik itu juga Fyre menoleh, tampak tak percaya. “Tapi, itu bukan—“

“Itu pilihannya.” Alven cepat-cepat berkata, menepuk-nepuk tubuh Aleta yang berada di sampingnya. “Itu pilihan yang dibuat Aleta, yang pada akhirnya ia jalani meskipun berisiko. Aleta tahu jika pilihannya itu berbahaya, Fyre, terlepas dari usianya yang pada waktu itu masih tiga belas tahun. Aku tidak berhak untuk menyalahkan atau meragukannya.”

“Maka, kau memaafkanku.”

Alven membenarkan. “Kau selalu berkata jika kau akan bertanggung jawab. Pada akhirnya, aku pun memercayai dirimu. Kalian menentukan pilihan, kalian mau menanggung akibat yang ada. Lagi pula….”

“Lagi pula?”

Sang aide sekarang memasang senyum kecil, menelengkan kepalanya sedikit. “Yah, jika Aleta ada di posisimu dan kau ada di posisinya, kau akan melakukan hal yang sama, kan? Aku tahu kalau kau pasti akan berbuat demikian.”

Tidak ada jawaban, tapi Fyre lekas mengiakan pertanyaan Alven barusan di dalam hati. Jika saja Aleta sampai melakukan hal yang sama seperti dirinya di masa lalu, Fyre pasti tidak akan tinggal diam. Sama seperti Aleta yang dulu berkorban demi dirinya, maka ia pun juga akan berbuat demikian. Tanpa keraguan, tanpa kontemplasi.

“Yang sudah terjadi tak akan bisa kita perbaiki, Fyre,” ucap Alven akhirnya, memecah keheningan. “Jadi, untuk sekali ini, tolong dengarkan aku. Kalau kau ingin bertanggung jawab, ingin melakukan yang terbaik demi adikku, pergilah beristirahat. Tidurlah selama beberapa jam, sementara aku menjaga Aleta. Kau boleh kembali berkunjung nanti, lalu kita akan membicarakan semua ini dengan kepala dingin. Oke?”

Tahu bahwa ia tak lagi punya alasan untuk membantah—terlebih karena Alven bersikap amat rasional saat ini—Fyre pun terpaksa menurut. Sedikit berat hati membiarkan dirinya bangkit, bergerak mendekat untuk mengelus puncak kepala sang gadis, kemudian melangkah keluar dari kamar sambil berujar:

“Beritahu aku kalau dia sudah bangun, ya?”

.

-o-

.

Semua orang menuduh dirinya.

“Putra mahkota membuat masalah lagi!” Begitu kata orang-orang di gerbang istana.

“Membuat repot sang raja saja!” Itu bisikan yang diberikan para pengawal, yang diam-diam merasa kesal karena diharuskan membantu menyelesaikan perkara.

“Bagaimana nasib Orient nantinya, ya.” Si wanita tua yang bertugas menyapu dan membersihkan istana mengomel layaknya ia tahu segalanya.

“Apa kau tahu apa yang sudah kaulakukan, Fyre?! Akibat dari semua perbuatan bodohmu?”

Dan ayahnya, Raja Fielbert, menudingnya dari kursi tempat ia bertakhta. Amarah kentara di kedua maniknya, kata-kata tegas keluar dari mulutnya, sementara Fyre hanya mampu bungkam. Tubuh gemetaran, tapi bukan karena rasa takut. Fyre tidak takut pada ayahnya, ia lebih mencemaskan konsekuensi dari tindakannya dan apa yang akan terjadi pada Aleta.

“Aleta….”

“Pergi ke kamarmu dan pikirkan perbuatanmu!” Fielbert kembali membentak, memotong usaha Fyre untuk menanyakan nasib Aleta. “Diamlah di sana, sampai kau merasa bisa bertanggung jawab dan mendapatkan maaf dari kami semua. Mengerti?!”

Langkah Fyre tersaruk dan lunglai saat ia menuju ke kamarnya, tatap berulang kali berkelebat ke kamar tempat Aleta terbaring. Alven pasti ada di sana, juga menyalahkan dirinya seperti penghuni istana yang lain. Alven akan membencinya setelah ini—bahkan Fyre sudah bisa melihat sorot penuh emosi itu saat ia berpapasan dengan Alven di gerbang tadi.

Semua salahmu, Fyre. Salahmu dan tindakan bodohmu itu!

Bahkan batinnya pun memberontak, terus memaki-maki Fyre selagi sang lelaki menangis dan terisak. Tubuh bergelung di atas kasur yang terasa dingin, seorang diri dipaksa menghadapi realita serta senyapnya malam. Ketika ia akhirnya bisa memejamkan mata pun, bayang-bayang menyeramkan itu masih mengikutinya. Semua peristiwa yang telah ia alami terulang di dalam mimpi, disertai sosok sang ayah, pengawal istana, para pekerja, Alven, dan juga Aleta. Mereka semua memalingkan wajah darinya, tak lagi mau mengenal atau mengakui eksistensi Fyre.

Ia terbangun pada hari berikutnya dengan keringat dingin, menolak untuk menyentuh makanan apa pun yang diantarkan, dan kembali mengulangi siklus mimpi buruk yang ada. Fyre pikir dunianya sudah berakhir, sampai pada suatu malam, dua hari setelah insiden itu, Aleta datang ke mimpinya.

“Aku selalu percaya padamu. Aku tidak akan pergi kemana-mana.”

Sang gadis mengucapkan itu dengan senyum, jemari bertautan dengan milik Fyre. Mimik wajahnya tidak dilintasi oleh keraguan barang sedikit pun, kehadirannya membawa harapan di tengah keputusasaan yang ada. Aleta berhasil membuat Fyre menangis lagi, hanya saja, kali ini ia menangis bukan karena rasa takut.

Ia menangis karena ia tak merasa pantas mendapat kepercayaan Aleta.

“Aku akan membuatmu bahagia, Aleta. Aku berjanji.”

Ketika Fyre membuka matanya lagi, ia lekas melakukan hal pertama yang terlintas di dalam pikiran. Menepati janji yang telah ia buat, meskipun kata-kata itu adalah ungkapan yang terajut di dalam mimpi. Berderap memasuki aula utama, Fyre menghadap Raja Fielbert dengan tekad baru di kedua matanya.

“Aku akan bertanggung jawab. Aku akan melakukan apa saja untuk Aleta.” Fyre menelan saliva, mengangkat kepala untuk menatap ayahnya lurus-lurus. “Aku tidak akan kabur dari tanggung jawabku. Suatu hari nanti, aku akan membuktikannya.”

Fielbert mendengar itu semua seraya menaikkan alis, tampak terkejut tapi juga bangga melihat putranya mau bersikap berani. “Baiklah, kita akan lihat nanti, Fyre.” Itu jawabannya. “Aku akan mengawasimu.”

Satu anggukan paham diberikan Fyre, sebelum ia berjalan keluar dan bermaksud untuk mengecek kondisi Aleta. Berpikir jika kalimat ayahnya telah menyelesaikan segalanya, sampai ia menyadari bahwa ia salah. Salah besar.

“Menurutmu aku akan mengizinkanmu untuk masuk? Aku tidak peduli kalau kau itu pangeran, berhentilah mendekati saudariku!”

Alven membanting pintu kamar itu tepat di depan wajah Fyre. Tinggalkan sang kawan yang hanya bisa terpaku, sekali lagi nyaris terseret ke dalam jurang keputusasaan yang ada. Hatinya sakit, tetapi jauh di dalam sana, Fyre juga tahu kalau ia pantas menerima ini.

Maka, ia pun meminta maaf.

Terus dan terus, berkali-kali berdiri di hadapan pintu itu seraya menyerukan penyesalannya. Ia tak lagi peduli dengan tatap yang diberikan para pekerja istana, tak akan menyerah meski Alven mengomelinya. Fyre terus kembali ke depan kamar itu, berharap agar Aleta segera sadar dan permintaan maafnya lekas diterima.

Butuh seminggu penuh sampai Alven akhirnya keluar, matanya sembab tapi ia mengulurkan tangan ke arah Fyre. Tahu-tahu menyatakan bahwa ia sudah memaafkan sang lelaki, bahwa ia merasa jika hal itulah yang pasti diinginkan sang adik. Alven tampak sama lelah dan takutnya dengan Fyre, sehingga ia perlu waktu beberapa menit sebelum akhirnya berkata, “Aku takut, Fyre. Sudah selama ini, tapi Aleta tidak kunjung bangun. Aku… aku sudah kehilangan ayah dan ibuku. Aku tidak… a-aku tidak mau….”

Saudara kembar Aleta itu lantas menangis, menumpahkan semua bebannya di hadapan Fyre. Mereka kembali berbicara setelahnya, saling berbagi beban dan giliran menjaga Aleta. Melewati tiga malam lagi tanpa tidur yang cukup, sampai suatu pagi, Fyre merasakan gadis itu bergerak di sampingnya.

Semalam, ia telah menyuruh Alven untuk tidur di kamarnya sendiri dan berjanji untuk menjaga Aleta. Melewati jam-jam dalam senyap dan senandung kecil, menggumamkan alunan-alunan nada yang membentuk lagu favorit mereka. Fyre sendiri tak begitu ingat bagaimana ia bisa berakhir tertidur tepat di samping Aleta, sebelah tangan bertautan dengan jemari sang gadis yang tahu-tahu bergerak lemah.

“Aleta?”

Sepasang kelopak itu menggeletar pelan, lalu membuka, dan mengizinkan sepasang iris di dalamnya untuk mengamati Fyre lekat-lekat. Ujung-ujung bibir bergerak lambat untuk membentuk senyum, selagi Fyre kembali meneteskan air mata saat ia mendengar kalimat pertama yang keluar dari bibir Aleta.

“Aku senang… melihatmu… baik-baik saja.”

.

-o-

.

Fyre terbangun dengan sentakan.

Bantalnya basah, tanda bahwa ia pasti kembali meluruhkan air mata di dalam tidurnya. Kepala terasa sedikit pening, masih dipenuhi gambaran-gambaran dari mimpi yang baru saja ia alami. Mimpi yang berisi sepotong masa lalu, begitu tepat dan akurat sehingga membuat ia bergidik. Akhir dari mimpinya boleh bahagia, tapi bukan berarti ia bisa mengenang masa lalunya tanpa merutuki diri.

Bagai kebiasaan, Fyre menggerakan tangan untuk menggapai dua cincin yang ia jadikan bandul kalung. Cincin yang diberikan oleh mendiang ibunya, tepat satu tahun sebelum beliau meninggal akibat sakit dan Fyre menyebabkan semua perkara buruk itu terjadi. Ibu Fyre adalah anak dari salah satu bangsawan di Norden, dan kedua cincin tersebut adalah harta berharga yang dimilikinya secara turun-temurun. Cincin yang pada akhirnya tidak beliau gunakan di saat pernikahan; sebagai ganti diwariskan kepada Fyre yang saat itu masih belum terlalu memahami maknanya.

“Kalau kamu sudah menemukan gadis yang tepat, yang ingin kamu jaga seumur hidupmu, berikan cincin ini pada dirinya.” Sang ibu memberikan pesannya sambil mengelus surai hitam Fyre, yang sibuk memainkan dua cincin itu dengan jemarinya. “Berjanjilah, bahwa kamu akan membuatnya bahagia. Seperti seorang raja yang harus mendahulukan kepentingan rakyatnya, kamu juga harus menjadi seorang lelaki yang bisa memperjuangkan gadismu kelak. Ini serius, Fyre. Jangan anggap cincin ini sebagai mainan, mengerti?”

Kala itu, Fyre mengangguk, dengan semangat membuat janji dan menyatakan kalau ia akan menjaga cincin tersebut baik-baik.

Lalu segalanya perlahan runtuh, hancur, dan Fyre hanya membiarkan kedua cincin tersebut menggantung di lehernya.

Setelah semua yang terjadi, Fyre tak pernah berani untuk memberikannya pada Aleta. Ia takut jika ia tidak bisa menepati janjinya, takut jika ia tak cukup mampu untuk menjaga Aleta atau memberikan kebahagiaan bagi dirinya. Bahkan, setelah sang raja menyetujui hubungan mereka pun, Fyre masih tak tahu harus bagaimana. Cincin ini lebih dari sekadar pengikat, ini adalah simbol tanggung jawab serta janji yang akan ia pikul nanti.

Itulah yang membuatnya ragu. Yang mendorongnya untuk menyimpan cincin itu seorang diri, sampai detik ini tiba dan Fyre merasa seperti baru disiram seember besar air.

Bukankah ia sudah berjanji untuk selalu bertanggung jawab? Untuk berubah menjadi lelaki yang lebih baik, yang mau memperjuangkan hal-hal yang ia anggap benar? Fyre senantiasa mengucapkan semua pernyataan tersebut, mendeklarasikannya dengan suara mantap dan berani.

Dan ia bersungguh-sungguh.

Tak pernah sekali pun Fyre berpikir bahwa apa yang ia ucapkan adalah sebuah dusta, sebuah kalimat manis demi memenangkan hati orang lain. Itu adalah kejujuran, rangkaian kata yang nantinya akan mewujud menjadi tindakan. Terlebih pada saat ini, ketika bahaya dari Cumblerton datang mengancam dan nyaris menghancurkan gadisnya.

Cincin ini milik Aleta, pikir Fyre sambil melepas rantai kalung yang melingkar di lehernya, lantas mengambil salah satu cincin putih keperakan yang berukuran lebih besar. Tanpa ragu menyematkan cincin tersebut di jari manisnya, kemudian melompat turun dari kasur dan berlari keluar. Ini milik Aleta, ini adalah bukti bahwa aku tidak sedang bermain-main. Cumblerton harus menyerah, atau aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri.

Mendorong pintu yang menuju kamar Aleta hingga terbuka, Fyre bersyukur karena Alven sedang tak berada di sana. Saudara kembar Aleta itu mungkin sedang ke kamar mandi, atau mengambil makanan dari dapur istana. Bukan masalah, karena itu artinya ia bisa memiliki waktu untuk dihabiskan berdua saja.

“Aku tahu kalau kamu pasti akan segera bangun, Aleta.” Fyre menunduk di atas sang gadis, dengan lembut memasangkan kalung berbandul cincin perak tersebut pada leher Aleta. “Kamu memercayaiku, dan aku akan percaya padamu. Aku ada di sini, dan itu artinya kamu akan baik-baik saja.”

Tangan Fyre bergerak menangkup wajah Aleta yang pucat, mengelusnya perlahan. Menghadirkan kehangatan, tubuh baru saja bergerak untuk mendaratkan satu kecupan di atasnya, tepat ketika suara menggumam tersebut terdengar menyapa rungu. Sontak membuat Fyre bergeming, tatap bertemu dengan mata Aleta yang perlahan terbuka, persis seperti apa yang terjadi bertahun lalu.

“Aleta?”

Sang gadis mengerjap, bibir membentuk senyum simpul yang menghadirkan gelombang kelegaan serta menenteramkan hati.

.

.

“Senang melihatmu sudah kembali… Fyre.”

.

.

tbc.

chapter ini mungkin sedikit lebih slow ya, dan sorry not sorry itu bagian flashback sama masa lalu mereka emang belum diungkap semua HAHAHAAHA ((dilempar)) selamat menunggu untuk kelanjutannya, dan jangan lupa tinggalkan review~ ^^

Advertisements

6 thoughts on “[Chapter 3] The Throne of Orient: Grip of Guilt

  1. Pingback: [Chapter 5] The Throne of Orient: Letter of Truth – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Pingback: [Chapter 4] The Throne of Orient: Chaos and Chance – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Kak itu mereka bertiga dulu knp?? Kenapa? Aleta knp? Fyre knp?? Ada apa ini??? ((banyak tanya/plak))
    Keasyikan baca eh tetiba ketemu tbc…
    Tapi apa itu, kak.. 키스 ? /digampar/
    Gegara alfy(?) romantis beud jadi baper saya /waks/ ((alfy=aleta-fyre; singkatan buat sendiri /dilempar/))
    Makin ke sini makin banyak misteri yg belum keungkap ya.. Jadi tambah kepo ><
    Oiya, Leo nya jgn lama2 sembunyi ya, entar beneran jadi Lyndon /krik

    Like

    1. mereka bertiga dulu kecil, sekarang udah besar /krik
      iya itu ki…kis…… errr, anak kecil jangan kepo dong, belom waktunya! /disapu

      btw nama kopelnya jangan alfy dong kok kedengerannya aneh (?) /.\ kupikir dulu deh nama kopelnya ntar minggu depan diungkap /krikkrik

      leo belom mau muncul nih, katanya dia masih sibuk persiapan comeback jadi munculnya taun depan /dihajar/

      makasih ya ratiiih ❤

      Like

  4. Pasti ada 1 misteri yang masih ditutup2in ya….. justru itu yg bikin serunya. Kalo dibongkar semua kan apa lagi yg mau ditunggu dari ceritanya 😄

    Dan btw, masa aku ketawa sih pas baca yg ibunya fyre bilang “ini serius, fyre” 😂 *abaikan saja!*

    Semangat buat next chap nya ^^)9

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s