[Chapter 4] Of Alienate and A Mirage: Who is He?

of-alienate-and-a-mirage-poster-2

Of Alienate and A Mirage

by risequinn

BTS members with some OCs
| genres AU!, Fantasy, Friendship, School Life, Sci-Fic | length 2k words | rating PG-17 |

Prev:
Prolog & Introduction | 1: A Secret of Nomina High School | 2: New Elementer | 3: A Punishment

.

.

Mereka kerap menyebutnya ‘sesuatu yang tidak ada’.

.

.

Chapter 4: Who is He?

“Belum bersiap?” pertanyaan itu Cia lontarkan ketika mendapati saudara kembar laki-lakinya hanya duduk-duduk di ruang makan dengan berpakaian kasual. Ia tidak mengenakan jas almamater ataupun seragam yang menunjukkan bahwa Carden akan pergi ke sekolah hari ini. Membuat si gadis melempar pertanyaan sekali lagi seraya duduk di seberangnya, “tidak pergi ke sekolah memangnya?”

Carden menggeleng. Tangannya digunakan untuk bertopang dagu di atas meja, sementara maniknya memerhatikan sang saudari yang tengah menyantap sarapannya. “Aku mendapat hukuman.” jawabnya kemudian.

Cia tertegun. Matanya membola ke arah Carden selagi dengan susah payah ia menelan sesendok sereal yang baru saja masuk ke mulutnya. “Hukuman ap― apa kau harus menanggung semuanya seorang diri?”

“Ya, aku harus.”

“Kenapa, Carden? Itu bukan salahmu!”

Carden terdiam. Tangannya kemudian terlipat di atas meja, sementara kepala tertunduk dengan mengembuskan napas keras. Konsekuensi menjadi seorang ketua adalah seperti ini. Dan Carden sudah membiasakan diri dengan itu. Ia lantas menatap Cia sekali lagi. Gadis itu tampak memasang mimik penuh penyesalan karena perbuatan darinya dan teman-temannya, Carden yang harus menanggung semuanya.

“Tetapi itu kelalaianku, Cia. Seharusnya hal itu tidak pernah terjadi dan kau tidak sampai terluka separah itu.” lirih Carden.

“Sekarang aku sudah baik-baik saja.” sahut Cia. Ia meletakkan sendok dan menyeka sudut bibirnya. Merasa kudapan yang disantapnya pagi ini tidak selezat biasanya akibat memikirkan hal-hal yang terjadi dengan saudara kembarnya. Cia memang lemah, ia bahkan tidak dapat melakukan apa pun untuk Carden di saat-saat seperti ini. Justru, Carden yang kerap berkorban demi dirinya.

Entah ia harus merutuki kehadirannya sebagai saudari kembar Carden ataukah memilih untuk mensyukurinya, yang jelas saat ini Cia harus melakukan sesuatu untuk saudaranya itu.

“Aku senang kau pulih dengan cepat. Segera berangkat ke sekolah sana! Nanti kau terlambat.” ujar Carden seraya bangkit dan merapikan peralatan makan.

Cia melirik Carden sebentar, lantas berjalan pergi meninggalkan kediaman mereka. “Aku akan berbicara dengan Master Lark nanti. Sampai jumpa.”

“Dia tidak akan mendengarkan ucapanmu!”

 

***

 

Verna mendapati meja Carden kosong hari ini. Dari awal pembelajaran, gadis pemilik elemen teleportasi itu tidak dapat fokus dan kerap melirik ke arah meja sang karib. Bagaimana pun, Carden mulai bersahabat dengan dirinya dari awal ia masuk ke sekolah ini. Dari yang banyak mengolok Verna karena masuk ke kelas favorit, Carden mau menemaninya tanpa mau melihat siapa gadis itu. Ia juga membantu segala kesulitan Verna, tanpa meminta imbalan apa-apa.

Jujur saja Verna heran, Carden seseorang yang baik, tetapi ia tidak memiliki teman sama sekali. Perbincangan keduanya di kafetaria kemarin membuat Verna sedikit berpikir; apa Carden sungguh-sungguh tidak memiliki teman dari dulu ataukah ia sengaja dijauhi oleh teman-temannya karena suatu hal? Tetapi, apa hal yang membuat mereka menjauhi Carden? Tidak ada alasan bagi mereka melakukan itu kepadanya.

Verna menatap ke arah layar proyektor sekilas. Ada beberapa kalimat yang tertulis di sana dan hendak disalinnya ke buku catatan. Tetapi selama sepersekian detik, matanya memburam. Padahal, ia berada di kursi paling depan. Verna mengucek matanya berkali-kali, namun pandangannya tidak lekas kembali normal.

Gadis itu terdiam sejenak, kemudian menarik-keluarkan napasnya secara teratur. Matanya pun terpejam, namun tiba-tiba pening menyerang sebelah kepalanya. Ada beberapa saat Verna mengalami hal seperti itu sampai akhirnya sebuah tangan menekan bahunya. Ia lekas membuka mata dan mendapati seorang teman setingkatnya berada di sebelahnya.

“Kau tidak apa-apa?”

Verna mengedarkan pandang. Master Axel masih mematung di depan kelas dan seluruh siswa di kelas itu melihat ke arahnya. Tatapan Verna pun beralih ke seseorang yang tadi melempar pertanyaan padanya. Gadis itu tampak khawatir melihat kondisi Verna saat ini.

“Aku hanya sedikit pusing.” jawabnya kemudian.

“Kalau kau kurang sehat, sebaiknya pergilah ke ruang kesehatan.”

Verna mengangguk untuk menjawabnya. Sementara, kelas kembali ke kondisi normal setelah itu. Gadis yang menanyai Verna pun duduk lagi di kursinya. Hanya terdengar suara Master Axel yang mengakhiri pembelajaran hari itu. Usai sang master meninggalkan kelas, para siswa mulai berhamburan keluar. Namun, tidak dengan Verna. Gadis itu masih merasa shock atas kejadian yang dialaminya beberapa menit silam.

Liby―gadis yang bertanya kepada Verna tadi―kembali mendekat ke arah si gadis. “Mau kuantar ke ruang kesehatan?” tawarnya.

Mendengar itu, Verna menatapnya sekilas dan mengangguk pelan. “Terimakasih.” ucapnya seraya merapikan alat-alat tulis, lalu mengikuti langkah si gadis berambut abu-abu itu pergi meninggalkan kelas mereka.

Verna menuruni anak tangga dalam diam, pun Liby tidak menciptakan suara untuk membuat sebuah obrolan dengannya. Keduanya terjebak hening sampai akhirnya tiba di lantai dasar.

Eum,” Verna menggumam pelan untuk membuka konversasi lebih dulu. “apa kau tahu di mana Carden?” tanyanya kemudian. Ia masih mengkhawatirkan sang karib melebihi kondisinya saat ini.

“Kau tidak tahu?” Liby menyahut dengan sebelah alisnya yang terangkat.

“Apa?” Verna berjalan cepat untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Liby.

“Carden mendapat hukuman.”

“Hukuman? Kenapa?”

“Karena dia seorang Ketua Dewan Sekolah, jadi dia mengambil seluruh tanggung jawab atas kejadian kemarin.” jelas Liby.

“Kejadian di belakang sekolah itu?” tebak Verna.

“Ya. Dia mendapat skorsing selama tiga hari.” tuturnya kemudian berhenti di depan sebuah ruangan. “Sudah sampai, masuklah.”

Verna menatap pintu kaca transparan itu dan mendapati plakat ‘Medical Room’ di atasnya. Ia pun memberi seulas senyum, lantas mengucapkan ‘terimakasih’ dan segera masuk ke sana.

 

***

 

Ravendra tengah berkutat dengan buku tulis dan penanya ketika layar komputer di depannya menampilkan materi yang harus ia pelajari hari ini. Hening selalu menyertai hari-harinya hingga kini. Tidak ada suara selain sound effect pada tayangan slide dan juga bunyi kerucuk pada perutnya. Benar, seharusnya Ravendra sudah memeroleh makanan pada jam-jam sekarang ini.

Tetapi, tampaknya hari ini Ravendra tidak menginginkan itu. Ia mengabaikan rasa lapar yang menderanya dan menjatuhkan pena begitu saja.

Bel istirahat kedua baru saja berbunyi. Ravendra mendengar pintu ruangannya diketuk beberapa kali, yang mau tak mau, ia harus bangkit berdiri. Petugas kebersihan Nomina yang datang. Ravendra tahu benar apa yang akan dilakukannya; memberikan makan siang kepada pemuda itu.

Ravendra menatap nampan berisi makanan dan jus wortel untuknya. Makanan itu membuat perutnya kembali memperdengarkan bunyi-bunyian aneh, tetapi ia justru mendorong nampan kayu itu selagi menggeleng pelan.

“Bawa ini semua pergi. Kau boleh memakannya kalau mau. Aku tidak memerlukannya!”

Usai mengucapkan kalimat tersebut, Ravendra menutup pintu ruangannya. Ia menghantamkan punggung pada pintu. Tangannya terangkat untuk menyengkeram rambut hitamnya, sementara tubuhnya merosot ke bawah hingga tersungkur di lantai. Setelah mendengar sol sepatu menjauh dari sana, ia berteriak sekeras-kerasnya.

Ravendra merasa jengah. Tidak ada teman untuk saling bertukar obrolan, pun berbagi mengenai semua hal. Bahkan petugas kebersihan Nomina saja tidak ingin berbicara dengannya, mengeluarkan sepatah kata pun, tidak. Hidup yang seperti ini menjadikan Ravendra sangat emosional. Namun, ia terpaksa bertahan sampai sekarang. Karena mati pun, justru dikatakan sebagai pecundang.

Ingin mengutuk hidupnya yang seperti ini juga percuma. Seseorang yang melahirkannya telah tiada. Pun jika ia melenyapkan orang yang membocorkan rahasianya, menyentuhnya saja Ravendra tidak akan bisa. Bahkan, sepertinya ia yang akan lenyap lebih dulu sebelum berhasil melenyapkan orang tersebut.

Ravendra meluruskan kakinya―masih berada di lantai. Satu hal yang diinginkannya jika suatu saat ia mendapat sebuah keajaiban dengan memiliki elemen apa pun itu adalah Ravendra akan membalas sakit hatinya selama ini kepada orang-orang yang mengucilkannya di Alienate’s Room Nomina High School.

Tunggu saja.

 

***

 

“Aron! Sedang apa kau?” Jeanneth bertanya ketika menjumpai sosok tinggi yang merupakan teman satu tingkatnya itu berdiri di pembatas antar gedung. Matanya sesekali melongok ke arah anak tangga dari gedung A seperti mencari sesuatu di sana.

“Bagus kau ada di sini, Jeanneth.” tutur Aron dan segera mendekat ke arah karibnya itu.

“Kenapa?”

“Kudengar ada murid baru di kelas A, sungguh?”

Jeanneth yang sempat khawatir akhirnya mampu mendengus dengan keras usai mendengar Aron bertutur demikian. Jeanneth pikir ada hal penting yang ingin ia lakukan, nyatanya… pemuda itu hanya mencari sesosok gadis yang beberapa hari belakangan menjadi buah bibir siswa-siswi Nomina High School.

“Ya,” jawab Jeanneth cepat.

“Seorang perempuan?”

“Begitulah.”

“Cantik tidak?”

PLETAK! Satu jitakan keras mengenai kepala si pemuda. Aron meringis karenanya, sementara Jeanneth―sang pelaku―justru menyilangkan lengannya di depan dada.

Ya! Otakmu itu kapan tidak memikirkan wanita, sih, Ron?” seru Jeanneth.

“Aku ‘kan hanya bertanya, Jean.” sahut Aron tidak terima.

“Itu yang membuatmu bodoh, tahu! Aku heran kenapa para Master masih menempatkanmu di kelas B bukan di kelas C saja.” Jeanneth dengan bersungut-sungut, menyeret pergelangan pemuda itu untuk menaiki anak tangga menuju kelas mereka berada. “Ayo, masuk kelas! Jangan berani mendekati dia, elemennya sangat kuat.”

“Sungguh? Apa? Terrakinesis sama sepertiku?”

Jeanneth mendengus sekali lagi. “Kalau terrakinesis dia tidak mungkin di kelas A, bodoh!”

“Lalu, apa elemennya?”

“Teleportasi.”

“Sungguh? Wow, itu hebat sekali!”

“Maka dari itu jangan berani mendekatinya. Urusi saja gadis pecinta ular yang selalu kau beri harapan itu, err, siapa namanya?”

Mendengar seorang gadis yang disebut-sebut oleh Jeanneth, Aron segera memercepat langkahnya―menyelaraskan dengan sang karib―sembari cekikikan. “Reyn? Haha, kami hanya teman, Jean. Sama sepertiku, dirimu, Evan, juga Raizel.”

“Tetapi kalian terlihat sangat dekat.” sahut Jeanneth.

“Kenapa, kau cemburu?” goda Aron menyenggol lengan si gadis menggunakan sikunya.

“Tidak, Aron! Terimakasih.” Jeanneth segera memasuki kelas, sementara Aron masih tergelak di ambang pintu yang memicu tolehan-tolehan dari rekan setingkatnya. Melihat itu, Jeanneth tidak tinggal diam. Ia memicing ke arah Aron dengan sorot menjelaskan; diam-atau-kuberi-pelajaran.

Aron pun segera menghentikan tawanya dan duduk di kursi pojok belakang.

 

***

 

Verna berjalan di pinggiran lapangan dengan botol air mineral digenggamannya. Langkahnya tertuju ke arah pemuda yang kini duduk di bangku penonton seorang diri. Seharian Verna tidak melihatnya karena mendengar bahwa pemuda itu mendapat hukuman skorsing, namun ia malah muncul di lapangan bola Nomina sore-sore begini. Beruntung tadi sekeluarnya ia dari perpustakaan untuk mencari sebuah buku usai pening di kepalanya membaik, Verna melihat si pemuda berada di sana. Jadi, ia mengurungkan niat untuk pulang dan menuju kafetaria guna membelikan minuman.

Hanya sekadar informasi, kafetaria di sekolah mereka akan tutup pada pukul lima petang. Karena pada sore hari masih banyak siswa-siswi Nomina yang berkeliaran untuk mengerjakan tugas-tugas atau sekadar melakukan kegiatan klub.

Dalam jarak cukup dekat, Verna dapat melihat pelipis Carden dibanjiri keringat. Sepatu bola yang semula dipakainya telah dibiarkan tergeletak begitu saja. Rambut hitam ber-highlight warna ungu itu tampak basah dan buliran keringat lain jatuh dari anak-anak rambutnya.

“Minum?” Verna beringsut duduk di sebelah Carden dengan tangan terulur memberikan minum.

Pemuda itu menoleh sepintas, kemudian mengulum senyum. “Terimakasih.” ujarnya, kemudian meraih botol yang Verna berikan. “Kenapa belum pulang?”

“Ingin menonton klub sepak bola berlatih.” sahut Verna.

“Oh.”

Keduanya terdiam setelah itu. Verna menatap Carden selama beberapa saat, membuat pemuda itu memicing selagi meneguk minumannya. Diperhatikan seperti ini oleh seorang gadis membuat Carden sedikit salah tingkah. Ia berdeham pelan, lantas membenarkan posisi duduknya.

“Kenapa?” tanyanya, yang lekas mengalihkan tatapan Verna darinya.

“Kudengar kau mendapat hukuman, kenapa masih datang untuk berlatih?”

Carden terkekeh sebentar. Ia sempat berpikir yang macam-macam saat Verna menatapnya seperti tadi, tetapi rupanya, gadis ini hanya mengkhawatirkan soal hukuman yang diterimanya. Kecewa? Tentu saja tidak. Carden bukan tipikal yang suka membawa perasaannya dalam segala hal. Terlebih itu untuk teman barunya ini. Carden sudah cukup senang bisa diakui sebagai teman gadis ini dan tidak memiliki maksud lain di samping itu.

“Hukumanku tidak mengikuti pembelajaran, bukan kegatan klub, Verna.” tuturnya.

Verna tampak memberengut mendengarnya. “Apa nilaimu juga akan berpengaruh jika kau mendapat hukuman seperti itu?”

Carden mengangguk cepat. “Tentu saja. Aku terancam mendapat Bdi seluruh mata pelajaran. Dan hanya kegiatan ini yang bisa menyelamatkan.” jelasnya.

“Jika tahu seperti itu, mengapa kau tetap melakukan ini?”

“Ini namanya pengorbanan.” Carden tersenyum getir. Tidak ada yang lebih membuatnya merasa lega selain menolong saudarinya. Lagi pula, dengan melakukan ini, Carden terbebas sesaat dari peraturan-peraturan sekolah yang mengekangnya. Masalah siapa yang menggantikan tugasnya selama tiga hari ke depan, semuanya telah diambil alih oleh Master Lark. Jadi, ia cukup bersantai sembari mengerjakan beberapa laporan yang harus ia kumpulkan pada saat masuk sekolah nanti. Dan seluruh laporan itu telah selesai sebelum ia pergi menjalani latihan klub sepak bola sore ini.

Sementara itu, Verna kembali terdiam. Ia memutar posisinya ke belakang; ke arah gedung-gedung inti sekolah mereka. Memerhatikan petugas kebersihan yang mulai melaksanakan tugasnya. Mereka membersihkan sampah dan menutup pintu ruang-ruang kelas. Namun, ada satu yang menarik perhatian gadis itu untuk segera berdiri dari duduknya; ada seseorang di atap gedung C.

“Siapa dia, Carden?”

Yang ditanya hanya menoleh sepintas, mengikuti arah telunjuk sang karib, kemudian meneguk air mineralnya sekali lagi.

“Siapa yang kaumaksud?”

Mata gadis itu mengerjap beberapa kali demi memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benda hidup yang tak kasat mata. “Lelaki itu; yang di atap sekolah. Siapa dia?”

Sekali lagi, Carden menoleh ke belakang. Ia menautkan alis sambil beranjak dari duduknya.

“Aku tidak melihat siapapun.”

Mendengar itu, si gadis lekas-lekas membolakan matanya ke arah Carden, lantas kembali melihat ke atap gedung.

“Mana mungk― kemana lelaki itu pergi?”

 

 

 

To be continued…

Min Yoongi as Ravendra

tumblr_oe9tqiec0g1s70o1po1_r1_500

Advertisements

7 thoughts on “[Chapter 4] Of Alienate and A Mirage: Who is He?

  1. Aaaaaa… Echa ini dh ada lanjutannya blm?
    Berasa gak mau berhenti baca nie…makin ksini semakin bikin penasaran.huhuhu

    Next nya ditunggu yaa ^_^

    Like

  2. nah loh verna mulai penasaran ama abang suga… duh kok sama… kenapa dia harus dikucilkan?? kenapa jimin bohong tentang suga ada di rooftop?? awwwwww….. penasaran kak….

    Like

  3. Aku masuh penasaran apa yg bikin Ravendra dikucilin kyk gitu, trus jg kenapa Carden sampe dijauhin sama temen2nya.
    Trs yg ada di atap itu siapaaaa?
    Aron sama Jean bener2 bikin gemes Kak, mereka pencair suasana ditengah cerita yg penuh misteri ini….

    Like

  4. NAHLOH ITU SIAPA YANG ADA DI ATAS NAH LOH??? APAQA SETAN? APAQA ARWAH GENTAYANGAN? APAQA SESEPUH NOMINA YANG SUDAH TIADA DAN MENCARI TUMBAL? /y

    BETEWE, aku gemes sama aron-jean aaaaaaaaaaaaaaaaa banyakin momen mereka dong kak/? Wkwkwk

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s