[Vignette] Falling Into Pieces

260897-copy

falling into pieces

a vignette by tsukiyamarisa

BTS’ Jin as Killian & OC’s Icy

1000+ words | AU, Fantasy, Angst | 15

.

Ia lupa bahwa kutukannya masih dan tidak akan bisa terhapus.

.

.

.

.

Killian tak tahu apa yang ada di ujung jalan ini.

Ditemani salju yang meluruh menghiasi bumi, ditemani hawa dingin yang menyergap serta menusuk. Lelaki itu terus berjalan kendati tubuhnya gemetaran, terus menapak kendati kakinya dipenuhi luka. Berharap untuk menemukan sesuatu, sebuah perlindungan dan konsolasi di tengah dukanya. Barangkali akan ada gadis yang mengulurkan tangan kepadanya, dengan senyum manis serta kata-kata menenteramkan.

Ah, khayalannya terdengar makin bodoh saja.

Mungkin ini efek dari telapak dan tungkainya yang terasa makin sakit, juga punggungnya yang ngilu. Darah sempat mengucur dari tempat-tempat itu; membuat tiap langkah yang ia rajut menjadi bernoda merah, menodai kemeja putihnya dengan bercak-bercak serupa kelopak mawar. Sebuah keindahan yang palsu, begitu batin Killian berkata, sama seperti dirinya yang tak lagi dipandang indah dan dianggap sebagai pengkhianat.

Padahal, kesalahan Killian sepele.

Ia hanya ingin menjalin persahabatan, berkawan karena menurutnya itu bisa menciptakan perdamaian. Sayangnya, sosok yang ingin ia jadikan teman itu berasal dari pihak lawan. Dari kubu yang selalu dianggap nista dan rendah oleh kaumnya, para budak yang tidak pantas mendapat belas kasihan.

Maka, keputusannya pun mudah saja.

Kalau Killian mau berteman dengan mereka, itu berarti belas kasih juga tak pantas untuk ia dapatkan. Apa yang dulu ia anggap sebagai keluarga telah membuangnya, memotong sepasang sayap Killian tanpa sentuhan kelembutan. Itu hukumannya, kutukan yang harus ia tanggung seorang diri entah sampai kapan.

Sebulan barangkali? Setahun? Dua tahun?

Killian bergidik, menggerakkan kedua lengan untuk memeluk tubuh.

Atau sepuluh tahun? Selamanya?

Tidak terdengar menenteramkan, tapi Killian sendiri tahu jika bersikap optimis tak lagi ada gunanya. Ia sudah berjalan di muka bumi ini selama tiga hari berturut-turut, dan tak seorang pun mau mengulurkan tangan untuk membantunya. Beberapa sengaja tidak mengacuhkan, yang lain memberinya tatap ngeri. Maka wajar jika Killian sudah berhenti berharap; dalam hati terus-menerus meneriakkan keinginan untuk jatuh tersungkur, tak sadarkan diri, atau lekas lesap dari—

“Kamu terluka, Tuan.”

Killian sontak berhenti, kepala terdongak untuk mengamati figur yang berdiri tepat di hadapannya. Menghalangi, selagi sepasang alisnya berjungkit naik. Iris kelamnya melebar saat melihat jejak darah Killian, surai panjangnya yang sehitam arang menari mengikuti tiupan angin. Ia terlihat takut, tapi juga anggun dan baik hati pada saat yang bersamaan.

Respons pertama Killian adalah menggeleng cepat.

“Kamu tidak bisa melihat jika kamu terluka?” Gadis itu, yang mengenakan pakaian serba putih dan tampak berpendar di tengah salju, berdecak. “Kamu tahu kenapa aku memilih untuk menghampirimu, Tuan?”

Satu gelengan lagi.

“Darahmu menodai salju,” ucap sang gadis lirih, memejamkan kelopaknya sejenak. “Itu menarik perhatianku, karena salju yang susah-payah aku jaga tak lagi seputih biasanya.”

“M-maaf, aku….”

“Ikutlah ke tempatku,” tawar si gadis salju, membalikkan badannya dan memberikan isyarat agar Killian mengikuti. “Setidaknya, kamu bisa menyembuhkan luka-luka itu daripada berkeliaran di sini.”

Begitu saja, dan Killian tak butuh waktu banyak untuk memutuskan. Ia memilih untuk mengikuti gadis yang baru saja menyelamatkannya, yang telah menawarkan sedikit kenyamanan di tengah kerasnya dunia. Killian tidak mungkin menolak itu, tidak meskipun sesuatu di dalam dirinya berkata kalau ini mustahil.

Killian tidak peduli.

Karena saat ini, ia sedang berharap agar kutukan yang ditimpakan padanya tidak menjadi nyata.

.

-o-

.

Icy, sang peri salju.

Killian pernah mendengar soal peri-peri yang bertebaran di muka bumi, menjaga diri tetap tersembunyi seraya melakukan tugas masing-masing. Hanya saja, ini adalah kali pertama bagi dirinya untuk melihat salah satu dari mereka secara langsung.

Gadis itu telah membantu Killian untuk memulihkan diri, mengobati luka-lukanya dan memberi Killian tempat untuk beristirahat. Pondok kayu milik Icy hanya memiliki satu kamar, tapi Killian sama sekali tak merasa keberatan untuk tidur di sofa panjang yang tersedia. Menghabiskan waktunya di sana, selagi bulir-bulir salju yang berjatuhan tampak dari jendela.

Ini adalah keajaiban, begitu batin Killian berkata setiap harinya, bahkan setelah ia menetap di pondok ini selama sebulan penuh. Baginya, Icy memang terasa seperti sesuatu yang magis di tengah duka dan cobaan. Terlepas dari fakta bahwa keduanya belum banyak bertukar obrolan, Killian tetap merasa bersyukur. Icy juga tidak memaksa atau mendorong Killian untuk menceritakan asal-usulnya, hal lain yang mendatangkan kelegaan di hati sang lelaki.

Lagi pula, kalau boleh, Killian ingin tetap hidup seperti ini saja.

Ia mulai menyukai rutinitasnya: bangun di pagi hari dan menikmati roti serta cokelat hangat, menonton Icy yang bermain dengan salju di halaman, kemudian membaca beberapa buku milik sang gadis sambil menatap api yang menari di perapian. Pernah sekali Killian bertanya soal perapian tersebut, yang langsung dibalas Icy dengan pelototan.

“Hanya karena aku peri salju, bukan berarti aku harus tinggal di dalam gundukan salju! Kamu ini payah sekali!”

Kala itu Killian hanya bisa menggaruk tengkuk, menggumamkan permintaan maaf. Namun, detik berikutnya, ia bisa melihat Icy yang sedang menahan kekehan. Jelas menertawakan ketidaktahuannya, tapi entah mengapa berhasil membuat Killian ikut menaikkan sudut-sudut bibir.

Kali pertama ia kembali tersenyum, setelah hari-hari yang terasa bagai satu abad lamanya.

“Icy?”

Killian mengeluarkan sapaan itu disertai senyum simpul, yang mulai terasa wajar bagi dirinya. Menunggu sampai Icy menanggalkan jubah putihnya, sebelum melanjutkan, “Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Hm?” Icy membalas, melangkah melewati Killian menuju meja di dekat dapur. Tangan meraih keranjang yang berisi kukis, mulai memakannya selagi ia mendongakkan kepala. “Ada apa?”

Sang lelaki berjalan mendekat, menyandarkan tubuh pada dinding pondok yang ada di hadapan Icy. Sebenarnya, ia sudah lama ingin mengutarakan perkara ini. Ia penasaran, tapi ia juga merasa enggan untuk merusak suasana damai yang ada. Hidup seperti ini saja sudah cukup bagi Killian, namun….

“Kenapa kamu menolongku? Kamu bahkan berani mengakui identitasmu. Tidakkah….” Killian menggigit bibir, kepala ditelengkan seraya melanjutkan dalam bisikan lirih, “Apa kamu tahu siapa aku sebenarnya?”

“Tidak.” Jawaban Icy datang nyaris tanpa jeda, tatapnya tetap tenang meski diburu dengan pertanyaan. “Aku hanya tahu kalau kamu bukan manusia—aku bisa merasakan itu, tahu. Sama sepertiku. Tapi, karena kelihatannya kamu tidak mau bercerita….” Icy mengedikkan bahu. “Kamu toh tidak buruk-buruk amat, Killian.”

Icy menutup percakapan mereka dengan mengunyah sepotong kukis, kemudian beranjak ke kamarnya dan berkata kalau ia akan tidur lebih cepat malam ini. Tinggalkan Killian yang kini mengulas senyum lega, ekspresi bahagia bertandang ke wajahnya. Icy tidak mengusirnya, tidak pula memiliki prasangka yang buruk soal dirinya. Gadis itu memang selalu terkesan menjaga jarak, tapi Killian tahu jika ia peduli. Ia memerhatikan Killian, dan lelaki itu berjanji jika ia akan membalas kebaikan hatinya.

Mungkin, mungkin di satu tempat di masa depan nanti, mereka bisa menjadi lebih akrab lagi.

Mungkin, Killian memang ditakdirkan untuk hidup di bumi.

Dan mungkin, ia bisa bahagia meskipun ceritanya tidak semewah yang ada di dongeng.

Karena pada detik itu, detik ketika harapan kembali datang berembus, Killian telah melupakan sesuatu.

Ia lupa bahwa kutukannya masih dan tidak akan bisa terhapus.

.

-o-

.

Icy tidak terbangun pada pagi berikutnya.

Hari sudah siang, dan Killian terpaksa menerobos masuk ke dalam kamar tidurnya. Mengamati sang gadis yang lelap tak bergerak, tak menjawab, juga tak mendengar usaha Killian untuk membangunkannya. Icy tetap diam, dan tepat ketika Killian mengulurkan tangan untuk meraba keningnya, sang lelaki pun terlonjak.

Tubuh Icy dingin.

Dingin adalah hal yang wajar bagi sesosok peri salju, tapi dingin yang dirasakan Killian ini memiliki aura tak wajar. Ini bukan dingin yang membawa kedamaian dan keindahan seperti salju buatan Icy; ini adalah dingin yang lebih kejam, menusuk, liar, dan membunuh. Killian bisa merasakan itu kendati kekuatannya saat ini sangatlah terbatas—bagaimana kehidupan mulai menyurut dari raut wajah Icy.

Awalnya ia memutuskan untuk menunggu, mengira jika apa yang dialami Icy adalah sesuatu yang wajar untuk seorang peri salju. Mungkin ia sakit, mungkin ia akan segera sembuh, mungkin yang perlu Killian lakukan hanyalah duduk menemaninya dan memastikan Icy tetap bernapas. Tapi, setelah dua hari berlalu, Killian pun sadar bahwa ia telah membuat sebuah kesalahan besar.

Ini salahnya, akibat dari kebodohannya yang memercayai harapan dan kebahagiaan.

Pagi itu, tatkala Killian meletakkan sebelah tangannya di dahi Icy seperti biasa, ia melakukan hal lain. Ia berkonsentrasi menyalurkan sisa-sisa kekuatan abadinya, menghadirkan cahaya terang, dan merasakan aura dingin yang kejam itu sedikit terangkat dari tubuh Icy. Bodoh bukan, bagaimana keegoisan Killian telah menghalanginya untuk menyadari fakta penting ini?

Maka, hari itu juga, Killian menuliskan sebuah pesan dan meletakkannya di atas nakas—tepat di samping tempat tidur Icy. Mengguratkan rasa terima kasihnya, kebahagiaannya, dan juga kebenaran mengenai dirinya. Tak lupa menutupnya dengan permintaan maaf, serta satu kalimat singkat bernada harapan.

Harapan yang ia buat untuk Icy, bukan lagi untuk dirinya.

Ia berharap agar Icy bahagia, agar ia bisa menemukan apa pun yang ia inginkan, agar sang peri dapat terus menari di tengah butir-butir salju yang menemani.

Memejamkan matanya, Killian pun membiarkan dirinya untuk menggenggam tangan Icy. Sebuah kali pertama dan terakhir, seraya ia membiarkan seluruh kekuatannya berpindah pada sang gadis. Biarkan sinar kehidupan kembali pada Icy, sementara ia perlahan-lahan mulai memudar dan menyerpih pergi.

Killian ingat, bagaimana dirinya melangkah di sepanjang jalan hari itu.

Ditemani salju yang meluruh menghiasi bumi, ditemani hawa dingin yang menyergap serta menusuk. Lelaki itu terus berjalan kendati tubuhnya gemetaran, terus menapak kendati kakinya dipenuhi luka. Berharap untuk menemukan sesuatu, sebuah perlindungan dan konsolasi di tengah dukanya. Barangkali akan ada gadis yang mengulurkan tangan kepadanya, dengan senyum manis serta kata-kata menenteramkan.

Dan gadis itu memang ada.

Hanya saja, akhir bahagia tidak akan pernah ada bagi mereka.

Hal-hal semacam itu hanya bisa terjadi dalam dongeng.

“Selamat tinggal, Icy. Maafkan aku.”

.

.

.

Karena pada kenyataannya malaikat yang terbuang dan tercampakkan sepertinya telah dikutuk untuk selalu sendiri.

.

fin.

gara-gara satu instafic, lalu saya diteror (?) Kak Yeni disuruh buatin Seokjin!fallen-angel AU dan beginilah hasilnya…..

Anyway, Quest for Seven aka QF7 masih diketik, jadi post-nya besok yaa! Untuk hari ini silakan menikmati Killian-Icy dulu ❤

See ya!

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] Falling Into Pieces

  1. OMO OMO OMOOO KILLIAN MATI YA ITU??? ANJAY KECE SEKALI KUSUKAAAAA 😘😘😘
    Eh malaikat bisa mati ga ya……?
    Ini vignette ya tapi ko berasa drabble (HEH!) maksudnya ga berasa panjang. Suka suka suka banget banget 😆 ini dijadiin chapter seru kali ya *EH *pfft

    Oh iya itu icy kenapa bisa (hampir atau udah) mati gitu? Kutukannya killian? Semisal semua yg deket killian bakal mati?

    Like

    1. mati terus kece……………………….. ASTAGA MENDING KILLIAN BUAT ALETA SINI *diseret fyre menjauh*
      bisa kak bisa, di ff yg ao3 itu kan juga mati XD

      dan no! apa itu jadiin chapter apa???? *tewas*

      yeap itu kutukannya killian, dan buat ngilanginnya ya killian harus mau berkorban gitu ehehehe maap kalo geje /?

      makasih kayeeen ❤

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s