[BTS FF Freelance] Spiral Parade (Chapter 1)

4911617-2111140928-30253

Title: Spiral Parade (chapter 1)
Scriptwriter: Fuseliar
Main Cast: All Member BTS
Support Cast: All Member BTS
Genre: dark, horror, school life, dystopia AU
Duration: chaptered

Disclaimer : ini hanya cerita fanfic doank…. mohon dimaklumi bahwa member BTS punya yang Maha Kuasa. Dan ini fanfic punya saya…

Summary :

Hujan di awal musim panas – Namjoon menerima tantangan dari Hoseok – Senyum Namjoon benar-benar hilang dari wajahnya – “ini sudah 5 menit, sebaiknya kamu cepat” – Namjoon mulai menggigit bibir bawahnya – Hoseok menoleh kearah pintu yang telah terbuka – “hyung, kumohon berhentilah mendatangi ruangan itu.”

.

.

.

(My Dear Best Friend 1)

.

.

.

Hujan di awal musim panas selalu menjadi halangan bagi orang-orang yang ingin keluar dari rumah. Hujan mulai turun saat Namjoon mulai menenteng tas ranselnya. Jadi ia hanya bisa mendudukkan dirinya di sofa sambil memandangi hujan, berharap hujan cepat reda dan ia bisa segera pergi.

“ara? Belum berangkat?” Hoseok teman sekamarnya bertanya sambil membawa segelas kopi dari dapur.

“hujan, hari ini kamu enggak ke kampus?” Namjoon balik bertanya. Hoseok merebahkan dirinya di sofa depan Namjoon sambil menyeruput kopinya.

“enggak, besok pagi aku baru ke kampus. Aku belum bikin laporan progres di logbook sama bikin konsep lanjutan perancangan. Lagian aku juga enggak ada kuliah.” Namjoon kembali memandangi rintik-rintik hujan yang semakin deras diluar. Suara dengung komputer yang sudah 3 hari berturut-turut menyala demi tugas perancangan Hoseok mulai kalah oleh suara rintik-rintik hujan.

“bosen juga lama-lama kalo kayak gini, diem-dieman?” Hoseok memecah keheningan. Namjoon mengangkat alisnya, dalam hatinya ia tau mahasiswa desain di depannya ini memang gampang bosan dan hiperaktif, tidak bisa menikmati suasana tenang seperti seorang seniman yang sesungguhnya. Hoseok mengambil papan catur dari bawah meja kopi di depannya.

“main catur gimana?” tawar Hoseok sambil membuka papan catur dan menata setiap pion di atasnya.

“boleh” Namjoon menerima tantangan dari Hoseok.

Sebenarnya Namjoon tidak terlalu suka bermain dengan Hoseok, karena ia pasti menang dari Hoseok. Ia tau benar Hoseok orang yang agak berhati-hati saat melangkah, tapi otak jenius Namjoon selalu bisa menjatuhkan pion Hoseok tanpa ampun. Namjoon tidak lagi menghitung berapa kali ia menang dari Hoseok. Sejak mereka masih SMP, mereka sudah saling menantang satu sama lain diatas papan catur. Tak jarang sederet piala kompetisi catur mereka dapatkan. Seperti piala kompetisi catur nasional yang bertengger manis di lemari kamar Namjoon atau piagam catur kilat yang Hoseok simpan dalam map hijaunya. Kim Namjoon sang atlet catur brilian yang namanya melejit dikagumi banyak orang dan wanita, begitu kata Hoseok.

“kamu jalan duluan ya” Namjoon mengangguk dan mengambil satu pionnya untuk maju satu langkah memulai permainan.

“aku heran, enggak bosen-bosen kamu ngajak aku main catur” Namjoon memulai diskusinya. Hoseok memulai langkahnya dengan memajukan pionnya.

“oh, soalnya kita udah sering main gini kan? Lagian aku punya obsesi kecil buat ngalahin kamu diatas papan catur.” Namjoon mengendikkan bahunya dan mulai mengeluarkan kudanya.

“ah, iya juga padahal kamu atlet catur kilat” Hoseok tersenyum tipis dan mulai melangkahkan bishop-nya.

“Aku enggak pernah ngajak kamu main catur kilat” Namjoon menarik sudut bibirnya. Ia mulai meyakini bahwa semua ini menjadi sangat menarik. Dengan cepat tangannya menggerakkan pionnya.

“aku yang akan menang.” Namjoon tersenyum percaya diri. Hoseok menyeruput kopinya kemudian melangkahkan kudanya.

“ah, kita tidak akan tau apa yang akan terjadi nanti” Namjoon tetap menyungging senyumnya. Ia mulai melangkahkan bentengnya. Beberapa langkah kemudian papan catur di depannya berantakan. Namun Namjoon tetap menyungging senyumnya. Pionnya dalam posisi aman dan ia berhasil menekan Hoseok. Hoseok mulai kehilangan pionnya satu persatu, posisi yang menyedihkan.

“aku benci mengatakan ini, tapi mengalahkan seseorang yang punya bakat alami lebih susah dibanding orang yang belajar keras” keluh Hoseok sambil melangkahkan Queen hitam di papan catur.

“memangnya sejak kapan dunia ini adil?” balas Namjoon yang dengan cepat memindah posisi bishopnya memakan kuda hitam Hoseok.

“yap, setuju denganmu. Tapi aku bilang bukan tidak mungkin mengalahkan orang yang punya bakat alami.” Hoseok kali ini melangkahkan bentengnya.

“aku bisa mengalahkanmu Namjoon” tambah Hoseok. Namjoon mengangkat alisnya.

“itu tidak mungkin, kalaupun aku kalah itu berarti aku membuat kesalahan.” Hoseok tersenyum dan kembali menyeruput kopinya sebelum membuat gerakan baru di papan catur.

“ ah, gitu ya? pembelaan yang bagus sih” Namjoon tersenyum lebar menampakkan lesung pipinya dan mengerakkan bishopnya.

“Skak!” Hoseok tetap tenang dan menyeruput kopinya.

“Namjoon, kali ini kamu membuat kesalahan dan aku yang menang” Hoseok tersenyum lebar dibalik cangkir kopinya. Senyum di wajah Namjoon mulai redup.

“aku dengar kamu masih belum bisa mengalahkan Yoongi-hyung di kompetisi kemarin?” Senyum Namjoon benar-benar hilang dari wajahnya sekarang. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia kalah dari kakak kelasnya sendiri.

“padahal gaya mainnya Yoongi-hyung itu standart lho. Lebih jauh amatir dari kamu” Hoseok melangkahkan Queen hitamnya lagi. Namjoon menghela nafasnya keras-keras.

“segitu susahnya kah mengalahkan aku sampai kamu harus bikin acara ngeledek aku?” Hoseok tertawa geli. Pundaknya berguncang dan jari-jarinya sebrusaha menahan cangkir kopinya untuk tidak menumpahkan kopinya.

“kau tau, orang cenderung melakukan kesalahan saat dia over confident dan saat ia sedang tertekan. Tapi beberapa kasus saat orang tertekan bahkan cenderung mengeluarkan kemampuan terpendamnya. Kita biasanya nyebut ‘the power of kepepet’, tapi saat seseorang over confident atau terlalu percaya diri hasilnya berbeda. Ia merasa benar dan merasa tidak akan melakukan kesalahan.” Hoseok mulai cerewet.

“bla-bla-bla, maumu apa sih?” Namjoon bertanya sambil mulai melangkahkan bentengnya.

“aku sudah bilang kan? Kamu bikin kesalahan Namjoon, dan aku yang akan menang” Hoseok melangkahkan bishopnya dan menjatuhkan Queen putih milik Namjoon.

“menurutmu mejatuhkan Queen bisa mengalahkanku?” Namjoon bertanya lagi.

“hei, aku ini sudah bermain denganmu selama bertahun-tahun okay? Bohong rasanya kalo aku enggak membaca cara mainmu.” Hoseok menjatuhkan kuda putih Namjoon.

“jangan bercanda, kamu jarang menang dariku.” Namjoon menjatuhkan bishop Hitam Hoseok. Hoseok meletakkan cangkir kopinya.

“dasar manusia, kenapa keras kepala banget sih.” Omel Hoseok sambil melangkahkan Queen hitamnya.

“skak! Kali ini aku yang menang” Namjoon mulai memegang ujung dagunya dan berpikir keras. Di dalam pikirannya terlintas banyak cara untuk keluar dari situasinya sekarang. Sekilas pion-pionnya seperti lebih unggul, tapi sebenarnya tidak. Catur adalah permainan memperkirakan masa depan. Memperkirakan kemungkinan bergerak setiap pion-pion lawan dan memperkirakan strategi lawan.

“ini sudah 5 menit, sebaiknya kamu cepat sebelum waktunya dibatasi” Hoseok mengingatkan Namjoon sambil menyeruput kopinya. Namjoon mendengus keras dan dengan ragu ia membawa King putihnya ke posisi yang aman. Hoseok dengan cepat memindahkan benteng hitamnya. Namjoon mulai menggigit bibir bawahnya. Ia tidak terpikir kalau Hoseok akan menggerakkan bentengnya. Ia kembali mengingat semua langkah Hoseok. Selama ini ia tidak menyadarinya, Hoseok bermain dengan metode yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Ia harus menghadapi Hoseok dengan metode yang berbeda juga, tapi dengan posisinya yang sekarang itu sangat sulit. Diam-diam sudut bibirnya tertarik ke atas.

“aku enggak nyangka kamu bisa serius begini?” tanya Namjoon.

“Hyung!” Namjoon dan Hoseok menoleh kearah pintu yang telah terbuka. Seseorang telah berdiri disana sambil menenteng pedang ditangan kirinya.

“Hyung, waktunya makan.” Katanya dengan suara tegas. Namjoon dan Hoseok saling berpandangan.

“yah, padahal lagi seru-serunya main catur nih!” keluh Hoseok. Namjoon berdiri dan berjalan menuju orang itu.

“Jungkook benar, sudah waktunya makan aku bisa mendengar suara perutmu.” Hoseok menghela nafasnya. Ia membawa cangkir kopinya dan berjalan kearah Jungkook.

“aku belum menyelesaikan tugas perancanganku” keluh Hoseok lagi sambil berjalan melewati Jungkook dan pergi menyusul Namjoon. Jungkook hanya menundukkan kepala dan menutup pintu yang ia buka tadi.

“Hobi hyung,” Hoseok berhenti melangkah mendengar panggilan dari Jungkook, ia menoleh kebelakang.

“hyung, kumohon berhentilah mendatangi ruangan itu.” Ucap Jungkook lirih. matanya berkaca-kaca, tangan kirinya memegang erat pedang yang dibawanya.

“maksudmu?” tanya Hoseok dengan bingung sambil menggoyang-goyang cangkir kopinya yang kosong sejak awal.

“hyung, sadarlah! Namjoon hyung sudah mati!” Hoseok hanya diam. Lorong kampus menjadi lebih gelap dari biasanya. Tak ada orang yang berlalu lalang disana, hanya ada mereka berdua. Hoseok tetap menggoyang-goyang cangkir kopinya. Hoseok berbalik dan berjalan meninggalkan Jungkook. Ia memejamkan matanya sejenak dan menyesap kopinya. Di ujung lorong tampak beberapa orang berlari sambil membawa gulungan-gulungan kertas, beberapa berjalan berdua sambil mengobrol. Mereka melewati Hoseok begitu saja.

Semuanya terasa lain, semuanya terasa aneh, kemudian Hoseok berhenti. Sudah satu bulan berlalu sejak hari dimana Hoseok diseret paksa menuju neraka.

“hyung, ayo makan.” Jungkook memegang pundaknya. Hoseok berdiri dan mengambil cangkirnya. Ia tersenyum ke arah Jungkook.

“iya aku butuh makan supaya bisa ikut kelas studio siang ini” Jungkook tersenyum kecil dan mengelus punggung Hoseok

“iya, hyung harus makan supaya bisa ikut kelas studio siang ini” Hoseok melangkah riang menyusuri lorong kampus yang sepi. Jungkook hanya bisa tersenyum sedih memandangi kakak tingkatnya yang sedikit demi sedikit kehilangan akalnya. Tidak, Hoseok sudah di dalam neraka terlalu lama hingga ia kehilangan akalnya.

.

.

.

Author’s note:

Hai~ FF ini sangat terinspirasi dari anime judulnya Gakkou Gurashi. Oh, BDW udah nonton Train to Busan? Ini ff isinya zombie-zombie entar… wkwkwkwkwk 😀  …Oh iya makasih udah baca ini FF~

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Spiral Parade (Chapter 1)

  1. Fadhilah Septi

    Ini apaaaaa.. syet dah seru2.na baca, dah d bkin shock ma kookie yg dtang tiba2 bawa2 pedang pula!
    Lah koookkkkk ujung2.na d hadapin knyataan joonie appa dah mati, hoppie q yg jd stngah2 waras ~ huuaaa ini aaapppaa??!!! Kudu lnjuuuttt!! Srius ini d tnggu next chapt.na yaw~ T_T

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s