[Chapter 4] The Throne of Orient: Chaos and Chance

the-throne-of-orient-copy

The Throne of Orient

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Suga as Fyre, Jimin as Alven, Jungkook as Devin, J-Hope as Hale, and OC’s Aleta

with BTS’ Rap Montser as Razel 

Chaptered | Kingdom!AU, Friendship, Life, Romance | 13

previous: Prologue | #1: Fall and Feud #2: At Stake | #3: Grip of Guilt

.

Sejak kapan Cumblerton berubah menjadi seperti ini?

.

.

Chaos and Chance

.

.

“Berhentilah mengkhawatirkanku, Fyre.”

Baru beberapa jam sejak Aleta sadar, dan gadis itu sudah menuntut untuk membahas segalanya. Apa yang terjadi di Vesperia, apa yang harus mereka lakukan, serta apa yang telah ia lakukan. Nadanya mendesak, sampai-sampai Fyre terpaksa membalasnya dengan ancaman sembari ia menyodorkan cawan yang berisi obat.

“Kita bisa menunda obrolan ini, Al.”

“Lantas membiarkan satu hari terbuang sia-sia?” Aleta menelengkan kepala, memasang mimik wajah yang membuat Fyre akhirnya mengeluarkan desahan kalah. “Kita hanya punya waktu sekitar seminggu lagi, Fyre.”

Pernyataan itu benar adanya, tak melebih-lebihkan ataupun diucapkan untuk membuat panik. Lagi pula, sang gadis penasihat kerajaan memang nyaris selalu benar. Ia adalah tipe seseorang yang tak pernah sungkan mengungkap fakta—tak peduli seberapa pun menyakitkannya realita yang ada. Dulu, Fyre-lah yang mengajarinya untuk berbuat demikian; sesuatu yang sekarang membuatnya menggigit bibir dan terpaksa menelan kepahitan.

“Setidaknya kita bisa berbicara di sini,” lanjut Aleta, memandang Fyre penuh harap. “Ajak kakakku dan Devin, lalu kita akan mulai menyusun rencana. Aku tahu kalau aku memang tak bisa berbuat banyak saat ini….” Sang gadis melirik cawannya yang sekarang kosong, tahu bahwa ia tak akan diizinkan untuk berkeliaran di istana selama beberapa hari. “Tapi setidaknya, aku bisa melakukan ini, kan?”

Keduanya bersitatap selama beberapa sekon, sukses menghadirkan ekspresi bersalah di wajah Fyre. Tahu bahwa perdebatan mereka tidak akan berlanjut, sang pangeran Orient pun memilih untuk beranjak. Memberi tahu salah seorang pengawal yang ada di koridor untuk memanggil Alven dan Devin, lantas kembali ke samping Aleta yang masih menunggu.

“Sudah kupanggil,” ucap Fyre, bergerak meraih cawan di tangan Aleta dan berganti menyodorkan piring yang berisi roti. “Makanlah lebih dulu, oke? Aku tidak ingin melihatmu sakit lagi.”

Aleta menurutinya, mengambil sepotong roti dan mulai mengisi perut. Biarkan senyap datang sementara ia mengunyah, beberapa kali mengulurkan potongan-potongan roti agar Fyre mau ikut makan. Namun, sang lelaki hanya menggeleng dan memalingkan wajah ke arah jendela.

Karena jujur saja, pernyataan Aleta tadi telah mengusik sesuatu di dalam dirinya.

Gadis itu bukannya tak bisa apa-apa—Fyre sendiri tahu apa yang bisa dilakukan Aleta dan apa yang dia inginkan sejak kecil. Tumbuh besar bersama, sang lelaki paham benar jika Aleta selalu menaruh perhatian pada keahlian memanah atau bermain pedang. Itulah yang Aleta inginkan saat kecil dulu, untuk menjadi ahli panah atau ahli pedang, kemudian berdiri bersisian dengan kakak lelakinya. Bahkan sampai sekarang pun, ia masih sering meminta Fyre untuk mengajarinya memanah. Aleta toh tidak buruk-buruk amat dalam hal tersebut, hanya saja….

Salahmu, salahmu, salahmu.

Sama seperti kemarin, pemikiran itu kembali muncul dalam benak Fyre. Sejak insiden tersebut terjadi, Aleta menjadi lebih mudah jatuh sakit—terutama saat musim dingin hampir tiba. Ahli kesehatan istana berkata jika kekebalan tubuhnya melemah, bahwa akan lebih baik jika ia tak menghabiskan terlalu banyak energinya untuk melakukan aktivitas fisik. Terlalu berisiko, begitu katanya, sehingga baik Fyre maupun Alven pun sama-sama setuju untuk tak menempatkan Aleta dalam bahaya.

Butuh waktu sekitar tiga tahun sampai sikap protektif Fyre sedikit berkurang, sampai ia mau mengajak Aleta untuk kembali mengunjungi lapangan dan membiarkannya berlatih memanah. Tidak terlalu sering, tentu; dan Fyre selalu memastikan bahwa dirinya atau Alven ada di sana. Setidaknya itu cukup untuk mengembalikan senyum Aleta, kendati mimpi serta keinginannya semasa kecil dulu harus dikubur dalam-dalam.

Fyre masih menyalahkan dirinya sendiri untuk itu.

Sama seperti semua penyesalan lain yang bertumpuk di dalam benak, penyesalan yang ini pun agaknya tak mau lesap. Tahun boleh berlalu, namun tidak berarti Fyre bisa lupa. Ia akan terus memikirkannya, gurat cemas tampak di wajah, dan….

“Fyre?”

…Aleta pasti akan tahu.

Aleta selalu tahu, selalu bisa menebak apa yang berkecamuk di benak Fyre. Menepuk-nepuk tempat kosong di sisinya, gadis itu mengundang Fyre untuk mendekat. Sesuatu yang tak pernah bisa ditolak sang pangeran, tak pernah bosan dilakukan kendati mereka sudah melewati hal ini berulang kali.

“Maaf.”

“Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mengingatkanmu akan hal itu,” balas Aleta, mengulurkan sebelah telapak untuk menangkup pipi Fyre. “Berhentilah memasang rupa muram dan ksuut. Aku lebih suka melihatmu tersenyum, tahu.”

Membiarkan Aleta mengusap pipinya perlahan, Fyre pun lamat-lamat berusaha memasang senyuman yang diminta sang gadis. Kelopak terpejam untuk menikmati kenyamanan singkat yang ada, selagi Aleta beralih merapikan helai-helai rambutnya yang berantakan. Fyre sama sekali tak berniat untuk menarik diri, kalau saja….

Eum, Yang Mulia?”

Panggilan Devin dari ambang pintu sontak memaksanya bergerak menjauh, berdeham penuh wibawa sementara Devin sendiri terlihat malu. Aide kedua di Orient itu tampak ingin kabur, kontras dengan Alven yang malah terkekeh dan tanpa permisi melangkah masuk untuk mendudukkan diri di kursi yang ada.

“Duduklah, Devin.” Fyre akhirnya memerintahkan, menunjuk kursi kosong yang masih tersedia. “Kau bisa membantuku untuk memberi laporan mengenai apa yang kita peroleh di Vesperia.”

“Dan maaf karena kita terpaksa membicarakan masalah ini di sini,” imbuh Aleta, yang lekas disambut gelengan dari Devin. “Hanya saja, menurutku akan lebih baik jika kita segera menyelesaikannya.”

Tidak ada yang membantah kata-kata itu, semuanya duduk dalam diam dan siap menyusun rencana. Menunggu, sampai raut muram sang pangeran berganti dengan keseriusan dan ketegasan.

“Baiklah, ayo kita cari cara untuk menyelamatkan Orient dan tiga kerajaan lainnya.”

.

-o-

.

Fyre menceritakan semuanya, isi dari percakapannya dengan Killian dan Lucy di Vesperia.

Dibantu Devin, ia menjelaskan kecurigaan mereka mengenai niat jahat Cumblerton di balik perjanjian yang ditawarkan. Bagaimana Cumblerton pernah mengancam Vesperia dan Meridies, serta bagaimana keempat kerajaan yang ada akan ikut terancam. Ia juga menyebutkan niat Killian untuk membantu, meski sesungguhnya ia lebih suka untuk tidak melibatkan ketiga kerajaan lainnya sampai keadaan benar-benar memaksa.

“Aku setuju.” Alven langsung menanggapi. “Tidak ada gunanya untuk membesar-besarkan masalah sekarang, tidak sampai kita benar-benar tak punya pilihan.”

“Tak punya pilihan…” ulang Devin, kening berkerut. “Mengingat apa yang telah dikatakan Pangeran Killian dan Putri Lucy, menerima perjanjian pernikahan itu jelas bukan pilihan. Kita tak akan melakukannya, yang mana….”

“Yang mana, jika kita tidak bisa menemukan cara untuk membuat Cumblerton mundur secara baik-baik, maka pada saat itulah kita benar-benar tak punya pilihan.” Fyre melanjutkan, jelas tidak menyukai prospek tersebut. “Aku yakin, Vesperia, Meridies, dan Norden pasti akan bertarung di sisi kita. Melawan Cumblerton, kekuatan dari empat kerajaan yang ada sudah dapat dipastikan menang. Hanya saja, aku tidak ingin semua ini berujung pada pertumpahan darah.”

Semua setuju dengan pernyataan itu. Terlebih, mengingat betapa liciknya Cumblerton, Fyre yakin jika mereka pasti sudah mempertimbangkan semua ini dan menyiapkan rencana-rencana lain. Satu-satunya cara untuk menghentikan mereka adalah dengan menyodorkan sebuah kejutan, hal yang tak akan disangka oleh Cumblerton dan dapat menjatuhkan sang raja dalam sekali hantam.

“Aku meminta Hale untuk pergi ke Cumblerton,” ucap Aleta saat ia melihat Fyre sibuk berpikir, tahu bahwa ini saatnya mengambil alih keadaan. “Kamu ingat kan, kalau dia berasal dari sana?”

Yeah. Menurutmu dia bisa membantu?”

Aleta mengangguk. Tanpa diminta menjelaskan isi percakapannya dengan Hale, semua masa lalu lelaki itu serta ketidaksukaannya pada Cumblerton. Tak lupa dengan kerusuhan yang pernah terjadi, juga bagaimana raja Cumblerton terdahulu serta salah seorang pangeran mereka tewas terbunuh.

“Hale jelas tidak menyukai Cumblerton.” Aleta melanjutkan, diikuti persetujuan Alven. “Aku memintanya untuk mencari tahu apa yang terjadi di Cumblerton saat ini, semua kelemahan mereka yang dapat kita gunakan sebagai senjata.”

“Kurasa itu hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini,” sahut Alven. “Itu kan yang kita butuhkan, mencari tahu kelemahan Cumblerton?”

Fyre membenarkan, tapi ekspresi cemas masih tampak di wajahnya.

“Hale seharusnya sudah tiba di Cumblerton.” Aleta berusaha menenangkan, seolah ia bisa membaca pikiran Fyre. Secara otomatis mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari sang pangeran, mengelusnya perlahan sebelum melanjutkan, “Kita hanya bisa berharap agar dia menemukan sesuatu yang berguna, lalu kembali ke Orient sebelum batas dua minggu yang diberikan tiba.”

Semua terdiam, sampai Devin membuka suara dan mengungkapkan rasa takut yang ada dalam suara kecil.

“Maaf, tapi… aku hanya berpikir jika menggantungkan semuanya pada satu harapan itu terdengar—”

“Tentu saja kita tak sebodoh itu,” potong Alven, bertukar pandang singkat dengan Aleta. “Kita juga harus melakukan sesuatu. Benar, kan?”

“Kita bisa mencoba bertanya pada warga Cumblerton yang sekarang menetap di Orient.” Aleta langsung menimpali, mengiakan pertanyaan Alven. “Itulah yang rencananya akan aku lakukan, kalau saja….”

“Kamu sudah melakukan banyak hal demi masalah ini, Aleta.” Fyre menatap tautan tangan mereka, berganti menawarkan rasa nyaman seperti yang telah dilakukan Aleta beberapa saat lalu. “Dan aku setuju denganmu, karena tampaknya kita memiliki pemikiran yang sama. Pergantian kekuasaan di Cumblerton jelas mencurigakan, terlalu banyak masalah yang terjadi akibat ulah si raja berengsek ini. Tugas kita sekarang adalah mengungkapnya, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Aku bisa pergi ke pemukiman warga.” Devin lekas menawarkan diri, bangkit dari tempatnya duduk sembari mengepalkan tangan. “Aku akan menemui setiap warga Cumblerton yang ada di Orient, menggali informasi apa pun yang mereka miliki.”

“Terima kasih, Devin.” Fyre langsung mengangguk, setuju untuk mengirim Devin ke kota. “Kau juga, Alven. Bantu Devin untuk mencari informasi, oke?”

“Tentu.” Balasan Alven datang tanpa jeda, seraya ia ikut bangkit dan bergerak untuk mengacak puncak kepala saudarinya. Bertukar senyuman singkat, sorot mata dipenuhi semangat saat ia berjalan untuk menyusul Devin yang sudah lebih dulu membuka pintu.

“Kalau begitu, kami akan berangkat sekarang. Lebih cepat lebih baik, bukan?”

.

-o-

.

Cumblerton tampak serupa, tapi juga tak sama.

Hale tiba di kerajaan ini kemarin malam, setelah tiga hari berlayar bersama kapal yang mengangkut berbagai hasil alam Orient untuk dikirimkan ke Cumblerton. Selama beberapa jam menghabiskan waktunya untuk berkeliling, mengamati tiap bangunan serta pusat kerajaan yang familiar bagi dirinya. Bagaimanapun juga, ini adalah tempat Hale lahir dan tumbuh besar. Lelaki itu ingat benar bagaimana dirinya dulu menghabiskan waktu dengan bermain di lapangan, belajar di bawah pepohonan, menikmati sup hangat di kedai makan favoritnya, hingga sekadar berjalan-jalan untuk menikmati pemandangan.

Semua yang dulu terlihat indah di matanya, yang Hale pikir masih akan terlihat sama sampai ia menjejakkan kaki di alun-alun kota.

Karena tempat itu, tempat di mana pertunjukan kesenian biasa diadakan sementara para pedagang berjualan berbagai macam camilan, kini telah berubah. Tak ada lagi sekelompok anak muda yang bermain alat musik, tak ada tawa serta keriuhan penonton yang menghangatkan. Bahkan para pedagang pun tidak tampak, praktis membuat alun-alun Cumblerton tak lagi dihiasi gerobak beraroma menggoda.

Alih-alih, Hale bisa melihat rakyat Cumblerton berkumpul di sana. Berdesak-desakan dan saling mendorong, kacau balau hingga membuat rerumputan hijau tercabut. Beberapa pengawal istana berdiri di sekeliling mereka, tampak bosan harus menghadapi protes yang terus-menerus diteriakkan. Apa pun yang tengah dilakukan oleh rakyat Cumblerton, jelas sudah jika raja mereka yang baru tak mau susah-susah mendengarkan.

Lantas, mengapa mereka tak melawan?

Memosisikan dirinya di dekat pepohonan, Hale berusaha mendengar dan menyaksikan dengan lebih jelas. Mata disipitkan, sampai ia melihat seorang pria paruh baya bergerak maju. Beberapa warga lain berusaha menghalanginya, sementara pria tua itu meneriakkan sesuatu dan—

“Diam atau kalian akan melihatnya mati!”

Membelalakkan kedua matanya, Hale menyaksikan salah seorang pengawal istana yang tadinya hanya diam bergerak menarik pedang. Mengancam, memaksa pria itu untuk mundur. Namun, alih-alih menurut, Hale malah mendengar teriakan lain yang kali ini begitu jelas menyapa rungunya.

“Beritahu Raja Lyndon kalau ia tidak bisa terus-terusan memeras harta kami! Apa yang ia lakukan di istana, hah? Apa dia juga yang membunuh raja sebelumnya dan—“

Kelanjutan dari ucapan itu adalah semburan darah, sementara Hale lekas-lekas memalingkan wajah dan menahan napas. Keringat dingin mengalir di tengkuk, kengerian merambat sementara jeritan pilu itu menodai malam. Rasa-rasanya Hale bisa melihat bagaimana pedang itu menebas si pria tua yang menuntut keadilan, melupakan jarak sekitar sepuluh meter yang sebenarnya terbentang. Tambahkan pekikan serta kerusuhan lain yang tercipta, rakyat yang terpaksa mundur dan kembali meneriakkan protes mereka tanpa berani berbuat lebih.

Sejak kapan Cumblerton berubah menjadi seperti ini?

Pemikiran itu terus menghantui Hale, bahkan ketika ia sudah beranjak untuk mencari penginapan kecil yang cukup tersembunyi. Berputar-putar di benaknya, tak mau hilang hingga pagi menjelang. Semua ini membuatnya frustrasi, terlebih saat ia mengingat bahwa Orient pun tengah menjadi sasaran Raja Lyndon.

Menggeleng-geleng, Hale beralih meneguk minuman dingin yang ia pesan dan berusaha menjernihkan kepala.

Saat ini sudah tengah hari, dan Hale baru saja selesai menanyai beberapa warga serta mencuri dengar obrolan. Ia mencoba untuk tak mengungkit-ungkit kejadian semalam, berperan sebagai seorang pemuda yang baru saja pulang setelah sekian tahun menempuh pendidikan di luar Cumblerton. Untunglah tak ada yang curiga, lantaran sebagian besar dari mereka sudah terlalu putus asa dan memilih untuk memberinya tatap bersimpati.

Dari apa yang Hale dengar, kondisi di Cumblerton ternyata makin memburuk sejak beberapa bulan lalu. Raja Lyndon yang sukses mendapatkan takhta dan mengalahkan pemberontak ternyata tak sebaik yang dipikirkan rakyat, keberhasilannya memudar menjadi mimpi buruk seiring dengan berjalannya waktu. Upeti dan pajak yang semakin naik adalah awal mula perkara, pemicu bagi beberapa warga untuk diam-diam pindah ke Orient. Namun, itu belumlah segalanya.

Raja Lyndon mulai enggan mendengarkan masalah para rakyatnya, mengabaikan mereka bahkan saat kekeringan melanda musim panas lalu. Ditambah lagi, setiap upaya untuk memprotes atau melakukan perlawanan akan berakhir buruk—pilihannya adalah menjadi tahanan kerajaan atau dibunuh di tempat dengan tuduhan pencemaran nama baik raja. Beberapa mencoba bertahan dan memperjuangkan tanah tempat mereka tinggal, beberapa mencoba kabur tapi menemui kegagalan. Semenjak pembantaian mulai dilakukan, tampaknya tak ada lagi rakyat yang bisa pergi dari wilayah Cumblerton dengan mudah. Satu-satunya yang bisa mereka perbuat adalah menggantungkan harap pada kemungkinan bahwa Raja Lyndon akan terguling dari takhta, kendati mereka masih tak tahu harus melakukan apa demi mencapai tujuan tersebut.

Semua kacau, dan apa yang kiranya akan dilakukan sang raja jika informasi ini sampai terkuak?

Hale meneguk minumnya lagi, kening berkerut tanda berpikir.

Jelas sudah jika ia harus berhati-hati saat kembali nanti, mencari kapal yang akan melakukan perjalanan ke Orient dan menyelusup di antara awak yang ada. Besar kemungkinan, kapal yang akan ia tumpangi nanti adalah milik kerajaan. Satu yang diperuntukkan untuk memasok persediaan makanan khusus orang-orang di istana, serta mengirimkan hasil ternak Cumblerton ke Orient—setidaknya bagian dari perjanjian yang itu masih berlaku.

Sungguh luar biasa, pikir Hale, bagaimana keluarga kerajaan bisa bersikap normal dan terus menutupi semua ini.

Atau mungkin, memuakkan adalah kata yang lebih tepat.

Seraya dalam hati memaki-maki Raja Lyndon sebagai seseorang yang tak waras, Hale mulai menyusun rencana. Ia tahu jika dirinya harus cepat-cepat kembali ke Orient, melaporkan semua yang telah ia lihat dan dengar pada Fyre. Kekuasaan serta kendali Raja Lyndon terhadap Cumblerton tak lagi bisa dibiarkan berlarut-larut; dan Hale tak akan membiarkan raja sialan itu untuk melakukan hal yang sama pada Orient. Pada tempat yang telah menjadi tempat tinggalnya, rumah yang telah—

“Hale?”

Respons Hale adalah bergerak secepat kilat.

Melayangkan tangan pada belati yang ia selipkan di ikat pinggang, Hale menggenggam gagang berlapis kulit itu seraya bersiap menyerang. Tatap diarahkan pada seorang lelaki yang mengenakan seragam istana, jantung berdebar keras selagi ia berusaha mengenali.

“Ini aku. Razel.”

Suara itu tidak asing, dan Hale butuh waktu beberapa sekon sampai ia mengenali lelaki bersurai pirang yang bernama Razel itu. Menyadari jika lawan bicaranya sama sekali tak bersenjata, kedua tangan terangkat tanda bahwa ia datang dalam damai.

“Razel?” Hale menyebutkan nama itu, sementara ingatannya bekerja. Lelaki ini adalah salah seorang kawan, yang bekerja bersama dengan Hector—mendiang sepupunya dulu. Mereka seumuran, bahkan pergi ke sekolah yang sama. Hanya saja, Hale tidak menyangka jika Razel masih hidup sementara satu-satunya keluarga yang ia punya….

“Sudah lama aku tak melihatmu,” ucap Razel sembari mengangguk, mendudukkan diri di kursi kedai yang ada di samping Hale. “Kau seperti menghilang dari Cumblerton… atau kau memang tak pernah berada di Cumblerton selama beberapa tahun terakhir ini?”

Hale menegakkan tubuh, tampak waspada. Sejak dulu, Razel memang terkenal akan kepintaran dan intuisinya. Fakta yang sama sekali tak membantu, sembari Hale berusaha memutar otaknya untuk mencari-cari alasan.

“Aku menyesal, karena tidak bisa menyelamatkan Hector.” Razel melanjutkan saat ia mendapati ekspresi waspada di rupa Hale, merasa seolah ia perlu menjelaskan sesuatu. “Kita memang baru saja bertemu lagi, tapi kurasa ini bukan saatnya untuk berbasa-basi. Sudah sejak lama aku ingin mengatakan ini padamu, hanya saja….”

“Kau berkata seolah kau tidak menuduh Hector sebagai salah satu pemberontak.” Hale akhirnya berujar, mencoba memastikan. “Apa yang ingin kau sampaikan, Razel?”

“Kau banyak berubah.” Razel mencoba mencairkan suasana, memasang senyum tanda bahwa ia membenarkan pernyataan Hale barusan. “Aku tidak menyalahkanmu—banyak yang memang berubah semenjak kerusuhan tiga tahun lalu. Aku sudah mencoba mencarimu sejak itu, tapi….” Razel mengetukkan jemari di meja, bertukar tatap bersahabat dengan Hale sebelum melanjutkan, “…aku tidak bisa menemukanmu.”

Balasan dari Hale adalah helaan napas, diikuti ekspresi penuh duka. “Aku tidak bisa terus tinggal di sini.”

“Tapi sekarang, kau berada di sini.”

Kali ini Hale memilih tak berkomentar. Razel tampaknya datang dengan niat baik, tapi Hale sudah memutuskan untuk tidak membuka mulut sampai si kawan lama menceritakan segalanya. Kepercayaan adalah sesuatu yang mahal, dan Hale sudah memutuskan bahwa ia tak akan semudah itu—

“Hector dan aku, sesungguhnya kami bekerja demi Raja Romulus.”

—baiklah, sepertinya Razel berhasil menebak apa yang Hale mau dan memilih untuk langsung berkisah.

“Aku mendengarkan.”

“Kecurigaan rakyat benar, hanya saja mereka tak punya bukti yang cukup kuat,” kata Razel dalam bisikan, tubuh dicondongkan ke arah Hale agar tak ada yang bisa mencuri dengar. “Raja Romulus dan pangeran pertama Cumblerton, mereka memang sengaja disingkirkan agar tak bisa memiliki takhta. Lyndon-lah yang tampaknya menjadi dalang di balik semua ini, ia jugalah yang menghabisi semua orang yang memiliki hubungan dengan Raja Romulus.”

“Termasuk Hector.”

“Termasuk Hector.” Razel mengiakan, lantas menambahkan, “Identitasnya terbongkar sebelum ia sempat kabur, sehingga ia pun ikut menjadi korban. Pemberontakan yang waktu itu terjadi sebenarnya hanyalah topeng—aku yakin benar ada yang sengaja menyusupkan kaki-tangan Lyndon untuk membuat kerusuhan.”

“Dan semua ini tidak cukup untuk menjatuhkan Lyndon dari takhta?”

Razel menggeleng. “Seperti yang kubilang, rakyat tidak punya bukti. Aku sendiri berhasil mempertahankan penyamaranku, berpura-pura setia pada Lyndon. Menurutmu, apa yang mendorongku untuk tetap bekerja di istana, huh? Setelah Hector tiada, aku tahu jika aku tak bisa tinggal diam. Aku melakukan apa yang perlu kulakukan. Itulah sebabnya aku mencarimu, berharap agar kau mau bekerja di istana bersamaku.”

“Maksudmu….” Hale memberi jeda, memikirkan perkataan Razel. Berita ini begitu mendadak, tapi juga sukses mengonfirmasi kecurigaan serta rumor yang beredar. Kalau saja mereka bisa menemukan bukti yang cukup kuat, itu berarti Lyndon tak lagi bisa berkuasa di Cumblerton. Semua kekacauan ini akan menemui akhir, dan Cumblerton dapat kembali menjadi seperti dulu.

Terdengar sederhana, namun juga rumit pada saat yang bersamaan.

“Hale?”

“Kau juga sedang berusaha untuk menjatuhkan Lyndon,” ucap Hale akhirnya, paham. “Untuk Hector, dan juga untuk rakyat Cumblerton.”

Razel membenarkan. “Sang raja tak bisa dibiarkan terus berkuasa, Hale. Di sini, protes dan kerusuhan sering sekali terjadi. Selalu ada korban, lalu rakyat akan mundur, dan mereka akan mengulangi aksi itu setelah jeda beberapa hari. Ditambah lagi, raja sedang berencana untuk memperluas kekuasaan. Ia mendorong adiknya—Putri Lyra—untuk menikah dengan pangeran Orient. Kalau sampai itu terjadi….”

“Itu tidak akan terjadi. Aku tahu kalau Pangeran Fyre tak akan setuju.”

Perkataan itu meluncur begitu saja sebelum sempat Hale sadari, sukses menarik atensi Razel dan menghentikan ocehannya. Ekspresi terkejut sekaligus pemahaman melintas di wajah, diikuti dengan berbagai macam rencana yang berputar-putar di dalam pikiran.

“Selama ini kau berada di Orient,” bisik Razel akhirnya, mengungkapkan apa yang sudah jelas dalam bentuk kata. “Dan sekarang, kau sedang berusaha menyelamatkan Orient. Mencari kelemahan Lyndon, sama seperti diriku.”

Mendengarnya, Hale sama sekali tak membantah ataupun membenarkan. Alih-alih, ia memilih untuk melakukan tugasnya dan langsung bertanya, “Kau punya ide? Apa pun yang dapat kita lakukan, untuk mencegah hal ini berkembang menjadi makin besar?”

Betapa leganya Hale ketika ia melihat Razel mengangguk, iris hitamnya berkilat penuh sekongkol. Memberi isyarat agar Hale bergerak mendekat, Razel mendadak tahu apa yang harus mereka lakukan. Rencana itu telah terbentuk sempurna di benaknya, disertai dengan harapan bahwa kali ini semuanya akan berjalan dengan baik.

.

.

“Kalau begitu, aku akan memberitahu rahasia ini pada dirimu, Hale.”

.

tbc.

.

.

razel

Kim Namjoon as Razel

Royal Counselor of Cumblerton

.

.

[attention]

okay, guys, I really don’t want to do this, but you left me with no choice. so excuse my slightly harsh words, because you were the one who asked for it, after all.

Kalau kemarin di Virgo saya memutuskan buat nge-lock chapternya karena terlalu banyak silent readers, kali ini saya nggak akan pasang-pasang password lagi. Terlalu ribet dan makan waktu, jadi Orient akan tetap di-post tanpa di-password.

Jadi tolong, buat yang selama ini masih diam-diam saja habis baca, tolong sadar diri sedikit, ya. Saya nggak akan sebut username atau siapa-siapa aja, tapi apa susahnya sih kalian ninggalin sedikit komen? Fic chapter itu tricky, karena in case ada detail yang kelewat atau pertanyaan nggak kejawab, kalianlah sebagai reader yang bisa merasakan itu dan kasih saran ke penulisnya.

Dan lagi, nulis fic chapter juga nggak mudah. Nulis komentar bahkan nggak perlu panjang, kurang dari 100 words bisa kan? Sedangkan ini per chapter-nya sampai 3000 words lebih, yang mana ini juga bukan satu-satunya fiksi yang lagi saya tulis.

Setidaknya kalau kalian masih mau baca dan menyemangati penulisnya, belajarlah buat meninggalkan komentar dan bukan cuma kabur setelah ngasih like setumpuk (and yes, my fellow author friends also have this problem, and we had just recently talk about it).

Thank you, and do (try) to leave some review, please.

Advertisements

16 thoughts on “[Chapter 4] The Throne of Orient: Chaos and Chance

  1. Pingback: [Chapter 5] The Throne of Orient: Letter of Truth – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Za

    Demi apa.. /aku sampe teriak sambil gulung2 kak gegara liat ‘tbc’/ #kesannya belum rela banget kalo ffnya yg chap 4 udah kelar.
    Makin seru ceritanya, makin penasaran lanjutannya, siapa sih yg jadi Raja Lyndon nya? Beneran Leo ga sih? *sok tau banget-_-‘
    Wah gemes sendiri nih nungguin lanjutannya..
    Semangat nulisnya ya kak.. 🙂

    Aku minta maaf dulu ya kak, jujur aku sering ngesave dulu ff yg baru dan baca kalo sempet jadinya sering ngga nulis komen deh..
    *kadang juga internetnya yg error, mau kirim komen ga bisa2 -_-” curcol dikit ya*
    Jadi mohon maafkan aku ya kak~ :-\

    Like

  3. Aduh… baca note kakak jadi ngerasa bersalah T_T
    Maaf, ya, kak…. Biasanya ff itu aku save dulu, bacanya waktu kalo ada mood dan biasanya dalam keadaan gak lagi nyambung ke internet. Aku minta maaf, ya, kak…
    Aku suka ff ini, walaupun pada dasarnya aku anak /? yang selalu menghindari ff romance.
    Menurutku fic chapter emang susah. Biasanya aku ngelewatin suatu hal kalo alurnya gak dipikirin mateng-mateng. Tapi aku lebih suka bikin fic chapter, karena alurnya lebih panjang. ^^
    Yah… biasku gak ada di sini.
    Tapi gak papa, seenggaknya ada biasku di VIXX. (tapi kok dia gak nongol-nongol?)
    Aku tunggu lanjutannya kak….
    Semoga aku sempet komen lagi di chap selanjutnya, dan semoga Leo cepet muncul.

    Like

    1. permintaan maafnya sudah dikabulkan (?) pangeran fyre sama nona (?) Aleta yaa :3
      iya fic chapter lebih panjang jadi bisa lebih detail ehehe tapi kalo ada yang kelupaan itu emang bikin repot u,u

      Mas Leo akan segera muncul kok, dan kelanjutannya udah dipost juga ^^
      Makasih yaaa 😀

      Liked by 1 person

  4. Wa wa wa…
    Oke 1 misteri terpecahkan, misteri lain keluar lagi /sigh
    Itu rahasianya Razel apa ya kira2? Apakah rencana duo 94z akan berhasil? Kita nantikan saja chp selanjutnya ((ngomong ala silet)) ((disuruh pulang))
    Hah, lagi2 geregetan ama Alfy ((kak amer blm confirm nama kapelnya tuh wkwk)) Dan fix, masa lalu mereka masih bikin kepo tanda tanya besar(?) Kode2 mulu dari chp2 sebelumnya, otak anak kecil ini ga kuat memecahkannya u.u
    And last, note nya ngena bgt itu kak.. (thumb up) Sbg penulis amatir yg lagi nyoba(?) chaptered itu emang kerasa susahnya /sedih/ But, ttp semangat kak amer! Ceritanya seru kok, aku suka ^-^
    Fighting!!

    Like

    1. hahaha iya ini nanti lama2 judulnya ganti jadi misteri orient /KRIKKRIK

      wkwk rencana razel gausah ditungguin, detailnya masih lama koook /dilempar

      oh iya, dan nama kopel!! Namanya Fyreta ya yang lebih unyu dan manis (?) jadi jangan panggil Alfy lagi that’s no no *goyang goyangin telunjuk*

      chapter emang susah sih huhuhuhu untunglah orient tinggal dikit lagi tapi aku belum rela pisaaah T T

      makasih ya anak kecil (?) tersayaaang wkwk

      Like

  5. Salah pokus sama potonya razel *bhay!
    Aku mau jadi silent readers saja deh yg ga mengungkapkan *tsah* apa yg sudah kutemukan 😎 (belagu amat lu pulang sana yen!) 😂
    Aku sangat penasaran sama rencananya mas razel 😆
    Dan aku suka a/n nya (~°^°)~

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s