[Vignette] Our First Date

our-first-date-snqlxoals818

Our First Date

.

BTS’ Kim Seokjin & OC’s Lee Yein | college life, slight!fluff | vignette 1.547 words | G

.

It’s our first date, right?

.

4.30 PM

Satu jam menunggu, Yein masih duduk di bangku beledu panjang itu seorang diri. Sesekali ia keluar bioskop, berdiri di pagar pembatas dan melihat-lihat ke lantai bawah, eskalator, atau lift yang membuka; mencari sosok yang ditunggunya sejak tadi. Namun, kali ketiga Yein berdiri di sana, tidak ada tanda-tanda orang itu muncul.

Seingat Yein, Seokjin selalu menepati janji. Atau jika memang tidak datang, ia pasti lebih dulu memberi kabar. Sekarang, ponselnya pun tidak aktif. Khawatir? Ya, tentu. Meski kadang terlihat tak acuh, Yein bisa merasa khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Eh, atau Seokjin sedang menjailinya karena ini kencan pertama mereka setelah mereka resmi berpacaran? Awas saja kalau memang benar begitu!

“Oke, Lee Yein. Tunggu sebentar lagi.”

.

5.32 PM

.

Masih tidak ada kemunculan Seokjin satu jam berikutnya. Yein sudah menghabiskan dua gelas jus stroberi dan berakhir bersin-bersin di lobi bioskop. Menghindari tatap mata dari para pengunjung, ia memilih keluar dan duduk di bangku kayu, tak jauh dari pintu bioskop. Dari jarak ini, ia masih bisa melihat Seokjin jika laki-laki itu datang.

“Apa ajakan kencan kemarin itu hanya bercanda?” Yein mulai ragu. Bukan karena gagal kencan yang ia sesali, tapi rasa malu yang ia dapatkan. Dua jam menunggu di lobi bioskop, berkali-kali keluar masuk, dan petugas keamanan yang menatapnya curiga; bukankah itu sangat memalukan?

Kalau benar ini semua hanya ‘permainan’ seorang Kim Seokjin, laki-laki itu harus mati di tangannya!

.

6.31 PM

.

Namun, ketika akhirnya sosok Kim Seokjin terlihat dari pintu lift yang membuka satu jam kemudian, kemarahan Yein seketika lenyap. Bukan karena laki-laki itu datang membawa sebuket mawar atau boneka beruang merah muda yang menggemaskan sebagai permintaan maaf (alih-alih senang, Yein akan membuang dua benda menjijikan itu atau pergi dan pura-pura tidak mengenali kekasihnya), tapi penampilan Seokjin-lah yang membuatnya terkejut.

Rambut dan seluruh pakaiannya basah. Ada noda kecokelatan dan merah di sweter putihnya. Dan pelipisnya….

“S-Seokjin-a….”

“Maaf, aku telat, ya?”

Yein berdiri mematung saat Seokjin tiba di hadapannya dengan senyum lemah. Manik membola karena menyadari bahwa noda merah di pundak Seokjin adalah darah yang mungkin berasal dari luka di pelipisnya yang tertutup perban putih.

“Aku bisa—”

“Jangan,” kata Yein tegas. Ia menggeleng cepat. Meskipun Yein sangat ingin mendengar penjelasan Seokjin mengenai keadaannya yang begitu kacau seperti ini, tapi bukan itu yang terpenting. Setelah mendudukkan Seokjin di bangku kayu, Yein lekas melepas mantel hijaunya. “Mungkin memalukan, tapi pakai dulu,” katanya sembari menyampirkan mantel itu di pundak Seokjin. “Tunggu di sini sebentar, ya.”

Dan Yein sudah memelesat pergi tanpa bisa dicegah.

Seokjin merapatkan mantel hijau Yein. Bohong jika ia tidak merasa kedinginan dan lelah dan nyeri di beberapa bagian di tubuhnya. Pemanas di mall ini sangat tidak membantu. Lagi pula seluruh pakaiannya benar-benar basah, sulit untuk cepat kering di cuaca dingin, terlebih, ini sudah malam.

Hampir dua puluh menit Yein pergi dan Seokjin sudah bosan menunggu. Tapi ini tidak seberapa dibandingkan gadis itu yang telah menunggunya selama tiga jam, alih-alih pulang ke rumahnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kesal dan malunya Lee Yein duduk sendiri ketika ia sangat membenci menjadi pusat perhatian orang-orang. Meski tak mengutarakan lewat kata-kata, Seokjin bisa melihat raut kecemasan yang melingkupi wajah gadis itu saat ia datang tadi.

“Seokjin-a.”

Dua kantong kertas berukuran sedang disodorkan ke arah Seokjin. Ia mengerjap-ngerjap bingung menatap Yein yang membawa kantong itu. “Ini…?”

“Ganti bajumu,” kata Yein. “Ayo.”

Meringis lantaran nyeri itu terasa lagi, Seokjin bangkit berdiri. Yein ikut-ikutan meringis melihat Seokjin yang kesusahan berjalan. Ia mengalungkan lengan kanan Seokjin di pundaknya, dan memapahnya ke kamar mandi terdekat. Mereka menarik atensi beberapa pengunjung mall, tapi Yein tidak peduli. Seokjin lebih penting.

“Nah. Hati-hati di dalam, ya. Pastikan lantainya tidak licin. Kalau susah melangkah, minta seseorang di dalam sana untuk mem—”

Tepukan lembut di puncak kepala Yein, menghentikan laju ucapannya. Seokjin terkekeh pelan dan mengangguk. “Tunggulah di tempat tadi.”

“Tidak. Aku tunggu di sini,” kata Yein. Berdiri bersandar di tembok di depan pintu toilet pria sembari bersedekap.

Pasrah, Seokjin melangkah perlahan memasuki toilet dengan dua kantong di tangannya. Ia memasuki bilik pertama yang dekat dengan pintu, yang kebetulan kosong. Setelah menggantung mantel Yein yang kini lembab, ia membuka kantong pertama yang berwarna hitam. Sebuah sweter hitam dan kaos lengan panjang putih di dalamnya. Kantong kedua berisi jins hitam dan ada dua gumpal kaos kaki berwarna senada. Menilik dari merek yang tertera di depan dua kantong itu, semua ini tentu harganya sangat mahal. Dan seingat Seokjin, Yein tidak suka berbelanja baju yang mahal. Gadis itu pasti lebih memilih memborong banyak novel seharga semua pakaian ini.

Mungkin bisa dapat selusin lebih novel, pikir Seokjin.

Sedikit sulit Seokjin mengganti pakaiannya. Bahunya memar dan pinggangnya begitu sakit untuk sekadar menunduk. Tapi ia harus cepat. Hari ini ia telah membuat Yein terus menunggunya dan kencan yang ia rencanakan sepanjang kemarin malam, harus hancur berantakan karena kecelakaan kecil. Ia terserempet mobil yang hilang kendali saat ingin menyeberang. Hingga membuat tubuhnya terpental dan mendarat di aspal dingin. Yah, Seokjin cukup beruntung lantaran pengemudi itu tidak langsung lari. Ia juga hanya mendapat luka gores di siku dan sobekan kecil di pelipisnya. Tapi tetap sakit.

Setelah sepuluh menit berlalu, acara berganti pakaian yang sangat menyiksa itu pun berakhir.

Yein langsung menghampiri Seokjin dan mengambil alih dua kantong ke tangannya ketika laki-laki itu keluar toilet. Jeda sejemang, Yein mengamati penampilan Seokjin yang jauh lebih baik, dan tersenyum lega karena sweter dan jins yang ia beli terlihat pas dikenakannya.

“Kita ke toko baju,” kata Seokjin.

“Mau beli apa? Kamu masih kedinginan?” tanya Yein.

Seokjin menggeleng. “Beli mantel untukmu,” katanya, lalu mengedikkan dagu ke arah mantel hijau yang menggantung di lengannya. “Mantelmu lembab.”

“Oh. Tidak apa-apa. Aku pakai saja.” Memulas senyum, setelah meletakkan dua kantong itu ke lantai, Yein mengenakan mantelnya lagi. Menahan ekspresi wajahnya untuk tetap biasa-biasa saja, kendati hawa dingin perlahan menusuk-nusuk kulitnya. “Aku suka dingin. Ingat, kan?”

Tak mau berdebat di depan toilet pria, akhirnya Seokjin mengangguk. Ia bisa membelikan mantel untuk gadis itu di lain waktu. Lagi pula, Yein memang tidak terlalu suka dibelikan sesuatu. Kecuali menerima hadiah di hari ulang tahunnya.

“Ayo kita ke lobi di pintu barat. Aku sudah memesan taksi.”

“Kita mau pulang?” Seokjin menjungkitkan kedua alisnya. Menatap Yein yang tidak terlihat bercanda sama sekali. “Tapi kita belum kencan,” katanya, cemberut.

Menghela napas panjang, sebisa mungkin Yein menahan tangannya agar tidak melayangkan pukulan atau mencubit lengan Seokjin. Gadis itu memasukkan tangan kirinya ke dalam saku mantel dan menudingkan telunjuk kanannya tepat di depan hidung Seokjin yang memerah, kedinginan. “Dengan keadaan begini, kamu mau kencan huh?” Yein menggeleng-geleng, mendengus, menahan tawa. Seokjin makin cemberut. “Kita akan kencan kalau kamu benar-benar sudah sehat, Kim Seokjin-ssi.”

Seokjin tak sempat protes ketika Yein sudah menuntunnya untuk segera pergi dari lingkungan toilet itu sebelum lebih banyak orang yang membicarakan mereka. Kencan pertama mereka boleh saja gagal, tapi Seokjin cukup senang. Lantaran Yein sangat mengkhawatirkannya dan gadis itu tidak marah saat ia mengalungkan lengannya lagi di pundak kecil Yein. Dan bukannya mendorong Seokjin jauh-jauh, Yein malah mendaratkan tangan kanannya, yang tidak menenteng kantong, ke pinggang Seokjin, memastikan laki-laki itu berjalan dengan benar.

Well, momen langka seperti ini, sangat jarang terjadi, tahu.

Ugh, kamu benar-benar berat,” keluh Yein ketika mereka sudah memasuki lift yang kosong. Selagi melemaskan pundaknya yang kram, Yein melirik Seokjin yang kini menyandarkan diri dengan berpegangan pada besi yang menempel di pinggiran lift. Seokjin tampak pucat, lelah, dan keringat tipis membasahi keningnya. Dan ia tersenyum saat menyadari Yein menatapnya tanpa berkedip. Cepat-cepat Yein memalingkan wajah.

Hujan masih deras mengguyur kota ketika mereka tiba di lobi. Taksi yang dipesan Yein belum juga datang, mungkin terjebak macet. Di deretan kursi di dekat meja pusat informasi, ada satu kursi kosong di pojok kanan. Yein mengarahkan Seokjin ke sana sebelum ia pamit ke kios minuman.

Dengan gusar, Seokjin duduk di sana sementara Yein berdiri di sampingnya. Gadis itu hanya membeli satu gelas cokelat panas. “Kamu tidak minum?”

“Aku sudah minum dua gelas jus stroberi ukuran besar selama menunggumu tadi.”

“Oh.” Seokjin menyesap lagi minumannya dalam diam. Tak hanya membuat Yein menunggu lama, ia juga telah sangat merepotkan gadis itu dan menghabiskan banyak uangnya hanya untuk membelikannya pakaian. Ini benar-benar kencan pertama paling buruk sepanjang masa. Mungkin juga, cuma Seokjin laki-laki tersial yang mendapat musibah seperti ini.

Melihat Seokjin yang murung, membuat Yein gemas, lalu mengacak-acak rambut basah kekasihnya itu sebelum berjongkok dan menopang dagu. “Memikirkan apa, sih?”

“Kegagalan kencan pertama kita,” jawab Seokjin.

Yein manggut-manggut. “Kencan pertama, ya,” gumamnya.

“Maaf.”

“Sudahlah,” kata Yein, mengibaskan tangannya. “Lagi pula, ini bukan kencan pertama kita.”

Seokjin menoleh. “Benarkah?”

Setelah menutup kepala Seokjin dengan tudung sweter yang dikenakannya, Yein berkata, “22 Mei. Kedai tteokbeokki. Sepulang sekolah.” Tak mendapat respons apa pun, Yein menepuk lutut Seokjin pelan. “Kamu lupa? Itu kali pertama kamu makan tteokbeokki pedas di pinggir jalan dan kali pertama juga kita pergi berdua.”

Diam beberapa detik, Seokjin memutar lagi memorinya. Kedai tteokbeokki… di pinggir jalan… sakit perut…. “Ah, benar!”

“Dasar pelupa.”

Well, kejadian itu sudah lama sekali, sewaktu mereka kelas satu SMA. Wajar saja kalau ia lupa. Seokjin malah tidak menyangka kalau—Eh! Tunggu sebentar. “Yein-a.”

“Ya?”

Sama-sama menoleh, manik mereka berserobok. Sebuah seringai dan alis Seokjin yang meliuk-liuk naik-turun, agaknya bukan pertanda baik. Yein menggigit ujung lidahnya, merutuki dirinya yang sudah banyak bicara.

“Jangan—”

“Jadi, kamu menganggap itu kencan, hm?”

Cepat-cepat Yein bangkit berdiri. Berjalan menuju pintu keluar dan abaikan teriakan Seokjin di belakangnya.

.

“Ya! Lee Yein! Kakiku sakit, nih.”

.

Aku tidak peduli!

.

fin.

Advertisements

11 thoughts on “[Vignette] Our First Date

  1. Cieeee yein perhatian banget sama seokjin~ aku udah deg2an pas kak seokjin dateng berdarah tapi ini bikin gemaaaaaaaas lucu banget perhatiannya, kaya peduli ga peduli gitu mana yein beliin banyak banget buat seokjin yeoksi yein anti menstrim lah yang beliin cowoknya *peluk kayein* *dibuang*

    Dan kak seokjin, DEMI KESELAMATAN HUBUNGAN KE DEPAN dan DEMI KEMANISAN HUBUNGAN KALIAN mending kamu gausah beliin mantel apa sweter apa yang aneh2 buat yein deh wkwkwk percayalah minha tahu segalanya tentang yein *kibas rambut* *disapu*

    Aku menanti kelanjutannya ya kayen (kalo ada)~ kencan kedua boleh deeehhh ♡

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s