[Vignette] Rebelliousness

s__14016579

Rebelliousness

by ayshry

[BTS’s] Kim Taehyung – [OC’s] Cassie Kim

AU!, Family/Ficlet/PG-17 (Untuk kata-kata tidak pantas dan kekerasan)

***

Pintu manohi berwarna cokelat itu ia banting hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Di sebalik pintu, seorang gadis menangis meraung-raung; meneriaki nama si pelaku pembantingan yang kini telah mengayunkan tungkainya menjauhkan diri dari rumah tersebut.

Teriakan itu masih menguar. Dengan sisa tenaga yang tersisa, sang gadis meraih gagang pintu lantas membukanya. Merangkak keluar dari kediamannya, dibantu dinding sebagai penyangga; ia kini berusaha berdiri dengan susah payah.

“DASAR BAJINGAN!”

Kalimat tersebut menguar dengan lancar sedang yang diteriaki sempat memandang namun hanya menunjukkan cengiran yang bagis sang gadis, terlihat memuakkan.

“PERGI KAU!”

Kali ini sang pemilik kaki menghentikan pergerakannya. Berbalik cepat, ia kini terlihat melambai-lambai pada sosok gadis yang terlihat berantakan itu.

“Tenang saja, aku tidak akan kembali,” ia berujar. Datar namun membuat sang gadis semakin kesal.

“Pergi saja ke neraka kau, Kim Taehyung!”

***

Dentuman keras musik beritme cepat itu membuat tubuhnya bergerak mengikuti irama. Botol minuman keras bersarang di tangannya sudah sejak ia bertandang ke sana. Di bawah kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan, ia bersama kerumunan orang lainnya tengah menghabiskan malam dengan penuh kesenangan.

Bagi Taehyung, malam yang liar adalah sebuah kesenangan. Tak penting soal jati diri, yang penting adalah kepuasan diri. Dan ia akan melakukan segala hal untuk mencapai hal tersebut meski harus menjadi seorang pemberontak sekali pun.

Sudah lebih dari satu tahun pemuda itu memutuskan untuk keluar dari rumah. Benar-benar keluar dan tak pernah menginjakkan kakinya di sana meski sang kakak berulang kali mencari dan hendak membawanya pulang. Setidaknya tinggal di luar lebih menyenangkan daripada terkurung di istanannya sendiri.

Rumah adalah neraka, baginya. Jadi, tak salah jika pemuda seperti Taehyung memilih untuk kabur dan terlepas dari segala belenggu yang mengurung jiwanya.

Menjadi seorang bajingan sepertinya sudah tertulis sejak awal di dalam hidupnya. Seperti sebuah takdir yang memang sengaja dirancang untuknya, seperti sebuah nasib yang tak bisa diubah dengan apa pun halnya. Taehyung telah memilih jalan hidupnya, namun yang dipilih adalah sesuatu yang menjerumuskannya ke lembah hitam nan kelam. Semakin dalam dan menyesatkan.

“Oi, Tae! Ada yang mencarimu!” Seruan dari sang kawan membuatnya mengerutkan kening juga mendekatkan diri guna mendengarkan di tengah riuhnya musik bertempo cepat, pun bervolume keras. “Ada yang mencarimu!”

Sang kawan pada akhirnya menarik lengan Taehyung untuk beranjak sejenak dari lantai dansa. Membawa si pemuda ke sebuah ruangan remang namun lebih tenang dari tempat sebelumnya, Taehyung yang tampak menunjukkan penolakan baru akan memberontak ketika sebuah suara menelusup rungunya.

“Kim Taehyung.”

Suara tersebut terdengar amat familier. Lekas, ia berbalik, dan dia benar. Si pemilik suara adalah seseorang yang mampu membuatnya menyeringai kini, sedang sang kawan telah pamit dan menghilang di sebalik pintu.

“Ada apa?” Menjatuhkan bokongnya di sebuah sofa empuk yang tersedia, Taehyung mulai menenggak minuman dari botol di tangannya. Baru dua teguk yang lolos ke tenggorokkannya, seseorang di sana lekas merebut botol tersebut dan melemparkanya ke dinding hingga pecah tak berbentuk lagi.

“Hei!” Taehyung membentak. Matanya menyalang lantas umpatan demi umpatan lolos dari bibirnya laiknya untaian kata-kata mutiara.

“Berhenti menyakiti dirimu sendiri, Tae.”

“Aku? Menyakiti diriku sendiri?” Tawa lantang menguar, bahkan semakin kencang seiring dengan raut cemas yang diarahkan padanya kini. “Jangan memandangku seperti itu, Cass!”

“Kau sudah keterlaluan. Aku tak bisa menahan diri lagi untuk tak membawamu pulang ke rumah.”

“Tunggu, kau bilang apa? Rumah? Memangnya aku punya rumah, huh?”

“KIM TAEHYUNG!”

“KAU TAK BERHAK MEMBENTAKKU, CASS!”

Gadis tersebut tampak menahan diri. Kedua tangannya sudah terkepal sejak tadi, mencoba meredam emosi agar tak meluap dan semakin menyakiti sang adik yang telah banyak berubah kini.

“Kau sedang tidak baik-baik saja, Tae, jadi … ayo kita pulang.”

“Jangan bertingkah seolah kau peduli kepadaku, Cass! Kau ingat? Saat itu kau yang membuangku. Kau yang menginginkan kepergianku!”

“Tak bisakah kau memaafkan kesalahaku waktu itu? Sungguh, aku—“

“Kau lebih memilih dia, Cass. Kau memilih bajingan itu dan membuangku, kau ingat itu?”

“Aku menyesal, Tae. Sungguh. Aku tak tahu kalau hal itu menyakitimu dan membuatmu menjadi seperti ini. Kukira kau hanya akan marah untuk beberapa saat dan kembali lagi. Rasanya … rasanya tak ada yang salah dengan hubungan kami. Tetapi kenapa kau menolaknya? Kenapa kau tak menyukai—“

“Dia bajingan, Cass, aku sudah memperingatkanmu sejak lama dan kau tak pernah sekali pun menggubris perkataanku!”

“Dia lelaki baik-baik!”

“Kau masih membelanya? Setelah semua yang kau alami dan kau masih menyebutnya lelaki baik-baik? Huh, ramuan apa yang telah ia berikan kepadamu sampai-sampai kau dibutakan olehnya?”

“Dia tak melakukan hal buruk kepadaku, Tae. Dia hanya pergi sebentar dan—“

“Dasar bodoh! Pemuda itu … pemuda yang kau puji-puji itu jelas saja bajingan yang hanya menginginkan hartamu, Cass. Dan lihat, lihatlah dengan kedua matamu itu! Dia sudah meninggalkanmu dan kujamin, berengsek sepertinya tidak akan pernah menampakkan diri lagi setelah segala yang ia lakukan padamu!”

“Taehyung-a ….”

“Apa? Aku salah? Aku tidak salah, Cass, kau yang salah! Kau telah dibutakan olehnya dan kau masih bisa membelanya? Sial, kukira kau akan sadar ketika ia meninggalkanmu. Hei, bangun! Keparat itu sudah menipumu, dia … dia tidak akan kembali dan kau tahu itu, tapi kau sengaja memanipulasi pikiranmu, ‘kan? Karena kau terlanjur jatuh hati padanya? Karena kau telah menaruh banyak harap padanya? Omong kosong!”

Gadis itu pada akhirnya tak mampu menahan berat tubuhnya dan merosot jatuh ke lantai bersamaan dengan likuid bening yang mengalir dari kelopak matanya. Ia menangis diikuti isakan kecil yang semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu yang kian melambat di sisinya.

Ruang kosong itu kini berisi isakan dari seorang Cassie Kim. Semua kata-kata Taehyung benar. Tak ada satu pun kebohongan di sana. Ia tahu tapi memilih untuk pura-pura tidak tahu. Karena dirinya, hatinya, juga pikirannya belum mampu menanggung segalanya. Pertahanan diri yang ia buat benar-benar salah, tapi apa mau dikata, Cassie memilih untuk melakukan segalanya demi menjaga harga diri. Terlebih di depan seorang adik yang sempat ia acuhkan hanya karena seorang laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya kini.

Isakan itu kian memekakkan telinga usai sebuah tangan bersarang di pundaknya lantas tepukan-tepukan kecil membuatnya menengadahkan kepala dan melayangkan tatapan tak percaya kepada si pelaku. Kim Taehyung berdiri di sampingnya, memberikan perlindungan juga mencoba menenangkan. Sungguh, Cassie sangat merindukan hal-hal yang berkaitan dengan sang adik. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali mendapatkan perlakukan hangat dari si pemuda.

“Jangan memikirkan yang tidak-tidak, aku seperti ini karena merasa kasihan padamu. Aku takkan pulang, kau tahu itu.”

Cassie memilih untuk diam karena memang tak ada kata-kata yang pantas ia ucapkan. Hanya menikmati sentuhan yang amat ia rindukan, hanya mengamati  wajah sang adik dari sebalik dwimanik yang terhalang cairan bening yang semakin menderas.

“Berhenti menangis.” Taehyung berujar datar, namun terbesit kepedulian yang susah payah ia sembunyikan.

“Aku … a-aku tidak tahu kenapa—“

“Diam saja. Aku tak suka mendengarmu berbicara di sela-sela tangisan. Lagi pula ingusmu ke mana-mana, tuh, dasar jorok!”

“Taehyung-a ….”

Berdecak sebal, sang pemuda kini berlutut di hadapan kakaknya lantas menyeka airmata dengan ujung lengan kaosnya. “Kubilang berhenti menangis.”

Mendapatkan perlakukan yang berbeda, membuat Cassie lupa bagaimana caranya menghentikan tangisan. Gadis Kim itu malah menangis semakin kuat. Isakannya bahkan membuat Taehyung mendengus sebal dan sempat kebingungan. Sekon berikutnya, ketika sang pemuda tak mampu memikirkan apa-apa untuk membungkam bibir kakaknya, ia pada akhirnya berkata, “Oke, aku akan pulang. Tapi berhenti menangis dan—“

“Taehyung-a, kau, hiks, kau ….”

Oh sial. Kenapa tangisnya semakin menjadi?

Di tengah kebingungan yang semakin menyudutkannya, Taehyung memutar otaknya demi menemukan cara yang tepat untuk menghentikan tangis menyebalkan itu. Masih mencoba mengajak sang otak membongkar sisa-sisa ingatan mereka bersama, tiba-tiba tubuhnya tertarik lantas merasakan dekapan hangat yang telah lama ia tinggalkan. Cassie Kim membawanya ke dalam pelukan.

“Jangan tinggalkan aku lagi … jangan pergi bahkan ketika aku … ketika aku yang menyuruhmu!” Susah payah Cassie berujar, membuat Taehyung mengerutkan kening demi mencerna perkataan sang kakak dengan benar. “Aku tak ingin kehilanganmu lagi, Tae, tidak … untuk selamanya.”

Untuk beberapa saat, Taehyung melupakan segala kekesalannya. Amarahnya luruh bersama hangatnya pelukan yang sudah lama tak ia dapatkan. Egonya perlahan melunak, bahkan ada bagian di dalam dirinya yang menyerukan kepadanya untuk segera kembali ke kehidupan semula. Menjadi sosok Taehyung yang menyenangkan dan membuang jauh-jauh sisi berandalan yang membuatnya menjadi seorang pendosa.

“Maafkan aku ….” Kalimat itu tiba-tiba lolos dari bibir Taehyung yang kini terkejut dengan perkataannya sendiri. Ia tak tahu, bagian tubuh mana yang membuatnya mampu mengeluarkan hal tersebut dari pikirannya.

Deru napasnya membaur bersama udara malam yang terasa sejuk. Membalas dekapan sang kakak tak kalah erat, Taehyung seperti mendapatkan kembali dirinya yang dulu. Tubuhnya masih berusaha menolak, tapi hatinya mulai terbuka dan terbesik keinginan untuk memperbaiki keadaan yang semakin memburuk karena ulahnya sendiri. Ia tak tahu, jika apa yang telah ia lakukan selama ini membuat sang kakak menjadi sakit seperti ini. Sebuah penyesalan timbul tanpa bisa dicegah, Kim Taehyung yang sempat melupakan fakta bahwa ia satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh gadis Kim itu mulai merutuki dirinya sendiri atas segala kebodohan yang telah ia perbuat.

“Kubilang berhenti menangis, bodoh!” Taehyung mencebik. “Jika kau masih terus terisak, maka aku takkan ikut pulang bersamamu.”

Satu pukulan mendarat di pundak sang pemuda. Kim Taehyung meringis kecil.

“Bagaimana aku bisa berhenti menangis jika kau terus-terusan seperti ini?”

“Apalagi salahku, Cass?”

“Banyak!”

Sejurus kemudian, Taehyung melepas pelukan lantas berdiri tiba-tiba. Sang gadis mendongak, matanya yang sembab memandangi Taehyung lekat-lekat.

“Kau mau—“

“Jadi pulang, tidak?” Taehyung memotong cepat lantas tangannya terulur demi membantu sang kakak berdiri. “Aku tak tahu kapan pikiranku berubah lagi, Cass. Jadi, ayo pulang sebelum aku memutuskan untuk merubah pikiranku kembali.”

Terburu-buru, Cassie menerima uluran tangan itu dan berdiri cepat.

“Kau bawa mobil, kan? Aku sedang dibawah pengaruh alkohol, omong-omong, jadi kau yang menyetir mobilnya, ya?”

Kim Taehyung mulai merajut langkah meninggalkan ruangan tersebut, disusul Cassie yang masih setengah terisak namun mulai bisa menenangkan diri terlebih karena sang adik mengubah jalan pikirnya dan memutuskan untuk kembali ke rumah.

Butuh waktu cukup lama bagi Cassie untuk menyadari segalanya. Menyadari kesalahannya di masa lalu, menyadari keegoisannya bahkan kepada adiknya sendiri. Butuh waktu yang sangat lama bagi Cassie untuk mengubah pikiran juga membuang segala emosi yang bersarang di dadanya. Ia tahu selama ini segala sesuatu yang terjadi pada adiknya adalah kesalahannya sendiri. Ia yang membuat Taehyung menjadi seorang pemberontak, ia pula yang merusak hidup indah sang adik. Dan sekarang, Cassie telah menyadari seluruh kesalahannya. Memantapkan diri untuk mengakui segala kekurangan juga kekhilafan di masa lalu, pada akhirnya ia merasa lega karena sang adik telah luluh dan mau kembali menjadi bagian dari kehidupannya lagi.

Meski bisa dibilang terlambat, tapi setidaknya segala sesuatu telah kembali pada tempatnya kini. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

-Fin.

Mbakes, ini kalau mau ketawa silahkan ketawa bikos aku pas baca ulang juga ngekek sampe sakit perut anjay ini mah ooc banget. Ooc di kimtete, ooc di kimkess juga bodo ah ya bodo yang penting wis kebikin inimah /digiles/

So guys, mind to review?

-mbaay.

Advertisements

15 thoughts on “[Vignette] Rebelliousness

  1. haduh haduh, aku kira tuh Taehyung gabakalan ikut pulang sama kaka nya. eh lah aku kira cassie kim ini istrinya masa, eh taunya kakanya xD wkwk ngakak aku. ouw ternyata tae pergi gegara kakanya toh, tapi ujung-ujung nya pulang juga kan haha.
    like it deh 💜💜

    Like

  2. Uuu pingin punya pacar kayak taetae… ke kakak aja peduli walaupun cassie emang salah dan tae” selalu benar wkwkw tapi taetae akhirnya mau pulang hiks hiks TT_TT btw si cwo yg ninggalin cassie pasti bakal bonyok sama taetae😡 cassie jangan ngebentak taetae lagi… dia jadi ga pulang ke rumah soalnya dia kabur ke rumah aku 😂

    Liked by 1 person

  3. Yaaa kenapa pada ngekek guling2???? Ini teh….asdfgjjkl wkakakakala
    Aku gatau siapa si pemuda berengsek di antara kekes n taetae…tapi kayaknya ini kakaknya kimnay yang udh ninggalin kekes hmmmph
    Indahnya mereka kalo lagi akur.. kekes sayang kimtete..huhu
    Walopun bego akan sayang menyayangi tapi kimsibling always eksis dengan kekompakannya perihal keplak mengeplak dong yaaa wkwkwkwkw
    Terakhir kumau bilang kampraaay kamu ya /ngacir/

    Liked by 2 people

    1. ANJAY KIMKES DATENG😂😂😂

      Ga di mana mana taecass wis terkenal dengan adegan kekerasannya kok, jadi ya itu dalam suasana dan keadaan apa pun keplak keplakan so pasti ada /digiles/

      Kamprayku kesayangan kamu kan ya kak? Kyaaaa btw kusayang kimtete, muah💜

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s