[EPISODE 6] BEAUTIFUL LIAR

CYMERA_20160127_221854.jpg

wisely present by Cachalpannia
Cast(s) :
[BTS’s] Jeon Jungkook — [OC] Yeon Nahyun — [BTS’s] Kim Taehyung
Genre(s) :
Drama, Fantasy, School-Life, AU
Rating : Teenager


Read :
[ EP 5 ] — [ EP 7 ]


“Kau membuat kepala sekolah sampai berdiskusi dengan ayahmu untuk mencabut beasiswaku, kau tidak pernah membuat hidupku di sekolah tenang sampai rasanya aku ingin sekali membunuhmu!”

Setelah kalimat terakhirnya itu, secepat kilat Nahyun menarik lengannya dari tangan Taehyung. Kemudian bergerak lebih kuat dan mendorong bahu Taehyung yang tulang belakangnya sudah menempel pada beton pembatas.

Ya! Yeon Nahyun!”

Tentu saja Jungkook spontan memekik dengan apa yang dilakukan sang dara tiba-tiba begini. Kendati kekuatannya yang lebih besar mampu menepis kedua lengan Nahyun dan menggenggamnya erat-erat, tetap saja ia merasa ngeri. Sudah cukup ia menderita sakit ditimpuk berbagai macam beda tajam dan keras oleh ayahnya. Ia tidak mau merasakan kepalanya pecah karena jatuh dari lantai lima.

“Kau gila? Tidak waras? Mau kuseret ke rumah sakit jiwa? Huh?!”

Bagai orang kerasukkan, yang dibentak hanya diam seraya menatap wajah Taehyung tajam-tajam dengan matanya nyalang. Napasnya seolah tertahan, menggumpal di dalam dada akibat susah payah melarang amarah yang bergejolak dalam benak dan batinnya untuk keluar.

“Atau mau kuseret ke kantor polisi?” Namun Jungkook masih menyuarakan emosi keterkejutannya yang semakin terdengar memancing Nahyun. Ia mendengus sebelum melanjutkan, “Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku saat itu. Seharusnya aku membiarkanmu bunuh diri saja. Untuk apa aku menyelamatkan—”

Sekonyong-konyong tawa Nahyun menggelegar. Membuat Jungkook mau tak mau menghentikan rentetan kalimatnya yang belum tuntas. Apa lagi yang Nahyun pikirkan kali ini? Apa lagi yang ada di kepalanya? Jungkook bersumpah kalau ia tidak akan pernah menemui gadis itu lagi atau nyawanya akan selalu terancam. Beri saja Jungkook cap sebagai lelaki-penakut kalau yang dihadapinya adalah Nahyun.

“Kau benar. Seharusnya kau tidak perlu menyelamatkanku. Aku tidak pernah tahu kalau seorang Kim Taehyung, anak sulung pemilik sekolah Taeyang, begitu dungu!” Berbarengan dengan cacian itu, si pemilik surai panjang menarik sebelah tangan kirinya dengan kasar. Sementara yang kanan masih ia biarkan berada dalam pengawasan Taehyung.

Cepat-cepat ia merogoh salah satu saku di baju hitamnya. Kemudian keluar bersama ponselnya yang Jungkook ingat pernah dilihatnya sekilas ketika terjatuh di kelas. Ia mengutak-atik layar benda pipih tersebut selama beberapa saat sebelum menekan tombol volume ke atas yang menandakan kalau ia tengah menaikkan frekuensi suara.

Hingga terdengarlah rekaman yang begitu kentara seperti benar-benar sedang terjadi saat ini. Awal mulanya adalah gelak tawa seorang bernada berat yang Jungkook yakin adalah milik Taehyung.

Hanya berani sampai di sini? Lantai lima? Melompat dari lantai lima tidak akan membuatmu tewas, bodoh. Kau hanya akan cacat dan hidupmu semakin menderita.

Hening sesaat, Jungkook mengernyit. Memori otak Taehyung seakan bekerja karena entah bagaimana ia bisa membayakan apa yang tengah terjadi dalam rekaman dari ponsel Nahyun tersebut. Ditambah saat ini ia sedang berada di lokasi yang sama. Sangat mendukung kinerja otaknya yang semakin lama semakin menimbulkan pening menusuk. Dalam benaknya seolah nampak sosok Nahyun berdiri di atas beton pembatas dan membelakangi Taehyung lantaran ingin melompat.

Kenapa diam saja? Tidak berani?” Suara Taehyung lagi-lagi keluar dari spiker kecil ponsel Nahyun.

Sebenarnya aku ingin sekali mendorongmu sekarang juga,” Taehyung seperti mendekat karena suaranya yang membesar dalam rekaman, “Tapi tidak seru lagi kalau Yeon Nahyun mati sekarang.

Ups-maksudku, Kim Nahyun.

Bagaimana? Sudah merasa menyesal dengan kesepakatan yang kau buat sendiri? Kau pikir kau bisa dengan mudah mengancamku? Sadarlah. Kekuatan dan posisiku jauh lebih besar.

Kesepakatan kita hanya sebatas saling menyembunyikan identitas. Lebih dari itu? Wewenangku jauh lebih besar darimu. Jangan berharap orang-orang sekolah akan percaya dengan kisah drama keluarga kita. Kau tidak punya bukti.

Aku hanya ingin keadilan. Apa itu salah?” Isakkan gadis terdengar untuk yang pertama kalinya. Jungkook yakin kalau itu adalah Nahyun.

Keadilan apa lagi? Ibumu hanya pelacur yang menggoda ayahku. Kemudian kau menuntut ingin hidup enak sepertiku? Kurasa kau sudah cukup beruntung bisa disekolahkan, Kim Nahyun—

Tidak. Aku tidak pernah menuntut lebih. Aku hanya ingin kau berhenti mengganggu hidupku! Kau tidak tahu, ‘kan, sudah berapa banyak telur yang jatuh ke kepalaku sejak kau menyebarkan rumor bahwa sebenarnya aku anak pelacur?

Rumor? Itu kenyata—

Kau tidak tahu, ‘kan, berapa kali aku harus membersihkan mejaku yang dicoret-coret setiap pagi? Kau tidak tahu, ‘kan, berapa kali lokerku basah penuh air sabun? Aku cuma melawanmu satu kali walaupun sudah berkali-kali aku merasa tertindas olehmu! Kau lupa dengan kesepakatan kita dan seenaknya menyebar—

Dengar, Kim Nahyun. Perlu kuulangi sekali lagi apa kesepakatan kita? Aku tidak akan menyebar status ekonomimu di sekolah, kau boleh bersandiwara sepuasnya. Dan dengan begitu, kau akan tutup mulut pada semua pihak, termasuk ibuku bahwa kau adalah anak dari ayahku. Tidak ada alasan buatku untuk tidak menyebar gosip lain tentangmu, karena perjanjian tersebut tidak ada.

Kau licik,

Memang. Dan kau kelewat bodoh. Turunlah. Lain kali kalau kau mengancam ingin bunuh diri, aku tidak akan peduli lagi.

Tidak ada suara Nahyun setelahnya. Gadis itu tidak menjawab, namun sepertinya mereka tengah melakukan sesuatu karena suara bising mendominasi rekaman. Jungkook mengira Nahyun dengan mudahnya berhenti dari aksi ingin-bunuh-diri, dan sedang berusaha untuk turun dari tembok pembatas dibantu oleh Taehyung. Tetapi,

Tidak mau turun? Cepat—Ya! Yeon Nahyun! Apa yang kau laku—!

BRAK.

Tahu-tahu saja Jungkook ngilu. Kepalanya sakit tanpa sebab di detik-detik berikutnya. Kemudian menghilang tanpa jejak beserta bayangan-bayangan ingatan di brangkas otak Taehyung. Maniknya membulat tanpa sebab, kembali terfokus pada sosok Nahyun di hadapannya. Mudah sekali ditebak kalau barusan adalah Taehyung yang jatuh ke lantai dasar. Banyak suara teriakkan orang yang terkejut di bawah sebelum akhirnya rekaman terhenti.

“Tadinya aku ingin mengancammu dengan rekaman ini kalau kau sudah sadar. Atau mengancam ayah kita kalau kau tewas atau melaporkanku ke polisi. Tapi ternyata kau lupa ingatan. Jauh sekali dari ekspektasiku.” Nahyun yang nampak sinting tertawa setelah memamerkan apa yang ia punya. Yang menurut Jungkook tidak ada esensi lucunya sama sekali.

“Apa yang kau lakukan padaku saat itu?” Jungkook mengeluarkan sopran berat milik pita suara Taehyung dengan penuh penekanan, dan menilik Nahyun tajam.

Namun dengan gamblang dan sebelah sudut bibir terangkat gadis itu menjawab, “Membunuhmu.”


Nahyun yakin kalau dirinya pernah merasakan ketidaknyamanan keadaan pagi ini. Sejak pertama kali ia melewati gerbang masuk sekolah, beberapa murid yang ada di sana segera menjauh. Yang tidak sengaja berpapasan tatap, langsung menghindar. Pun diam-diam melangkah lebih cepat sembari berbisik pada karib masing-masing. Awalnya ia tidak begitu peduli. Ia pikir mereka tengah membicarakan Nahyun yang wah-beruntung-sekali-Taehyung-tidak-diikutkan-dalam-ujian. Atau, wah-Nahyun-akan-memegang-peringkat-teratas-sekolah-semester-ini. Mengingat ini adalah hari pertama mereka akan melaksanakan ujian tengah semester.

Akan tetapi pandangan-pandangan yang seolah mencemooh dirinya semakin menguat kala ia mulai meniti langkah pada jejeran lantai koridor menuju kelasnya. Ditambah ketika ditemukannya sosok Taehyung di dalam kelas yang memberi informasi secara tak langsung pada pikirannya bahwa pemuda itu tetap diperbolehkan mengikuti ujian. Apa yang tidak bisa anak pemilik sekolah itu lakukan? Nahyun jadi tidak terlalu tertarik lagi membahas soal perizinan ujian Taehyung.

Beberapa murid yang tengah bergerumul bersama kubunya—terutama yang tadinya duduk di dekat meja Nahyun—terlihat membubarkan diri dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sementara yang memang memiliki posisi bangku di sekitar milik Nahyun hanya bisa memutar bola mata mereka sambil menghembuskan napas kesal. Kecuali Jiyeon dan Jimin. Dan Taehyung masih nampak kalem.

Nahyun mengerutkan dahinya heran. Bertanya secara ‘telepati’ pada Jiyeon tentang apa yang sebenarnya terjadi pagi ini. Ketika Nahyun duduk di tempatnya, gadis berponi itu segera mendekatkan bibirnya ke telinga Nahyun dan berbisik, “Nahyun-ah, ada yang menyebar gosip tentang kau yang mendorong Taehyung dari lantai lima.”

Sontak hal tersebut membuat Nahyun membeku di tempatnya. Jadi ini musabab dirinya mendapat tatapan aneh sejak ia menginjakkan kaki di lingkungan sekolah? Tiba-tiba saja kepalanya pening. Kalau ia bisa pingsan sekarang, mungkin ia akan menjatuhkan dirinya ke lantai detik itu juga. Kakinya lemas, terasa seperti jeli. Keringat dingin perlahan-lahan menguar dari setiap pori-pori kulitnya bersamaan dengan organ pompa darahnya yang kian berdentum-dentum tak karuan. Maniknya tidak berani melihat siapapun dan apapun. Ia cuma tertunduk, serta-merta materi ujian yang telah dipelajarinya dua hari dua malam meluap entah ke mana. Ia tidak lagi yakin kalau otaknya bisa berkonsentrasi selama ujian nanti.

Drrrt.

Sensor kejut sarafnya semakin menjadi-jadi ketika ponsel di tangannya bergetar. Menampilkan sebuah pesan singkat dari Taehyung yang isinya, “Ikut aku.”

Kepala Nahyun menoleh. Lelaki itu sudah lebih dulu berdiri dari bangkunya dan melesat keluar kelas. Oh, baru beberapa hari lalu mereka berseteru di atas rumah susun. Sekarang ia akan mengajaknya beradu argumen lagi? Bodohnya, Nahyun tetap melepas tas sekolahnya. Meninggalkannya di atas meja dan menyusul Taehyung keluar kelas. Bagaimanapun juga ia butuh penjelasan.

Intimidasi penglihatan yang dilakukan siswa-siswi satu sekolah memang masih belum seberapa bila dibandingkan dengan pembulian yang dilakukan ‘penggemar’ Taehyung tempo lalu. Ia harus berhati-hati setiap ingin ke toilet kalau tidak mau diceploki telur. Menjemur bukunya di lapangan setiap jam istirahat karena dalam beberapa hari lokernya banjir, kemudian berakhir dengan dirinya yang harus membawa pulang semua buku-buku tebalnya setiap hari karena ingin mengosongkan loker. Jiyeon dan Jimin juga harus berkorban membantu Nahyun membersihkan mejanya yang dicorat-coret setiap pagi entah oleh siapa.

Mengingat-ingat itu semua membuat Nahyun mual. Nampaknya sebentar lagi pembulian atas dirinya akan terulang.

Taehyung berhenti di koridor dekat perpustakaan yang sepinya bukan main. Paling-paling hanya ada CCTV yang mengintai. Nahyun yang sedari tadi melihat punggung lebar Taehyung kini beralih pada wajah dingin lelaki tersebut yang berbalik sambil mengangkat kedua tangannya, “Aku tidak menyebar apapun. Bukan aku yang melakukannya.”

Kalimatnya membungkam Nahyun yang sebenarnya sudah menyiapkan berbagai serbuan untuk menuding Taehyung.

“Yang mengetahui kejadian itu cuma Jiyeon, Jimin, dan kau. Mengingat dirimu masih amne—”

“Jadi Jimin dan Jiyeon juga tahu? Haruskah aku berhati-hati pada mereka? Astaga, berapa banyak musuhku di sekolah ini.” Sela Jungkook. Setengah tidak percaya kalau pasangan manis Jiyeon-Jimin juga ikut-ikutan membenci Taehyung. Ia pikir mereka netral. Tetapi melihat kedekatan mereka berdua dengan Nahyun, rasanya tak ada hal yang tak mungkin.

“Satu angkatan memusuhimu, omong-omong.”

“Apa saja yang sudah kulakukan pada mereka? Kenapa semua murid tampak membenciku?”

“Kau berubah. Kau tidak pernah memedulikan hubungan sosialmu di sekolah. Apa semua itu penting sekarang?”

Pincingan Nahyun membuat Jungkook berdehem. Terlanjur lupa kalau ia masih harus bersikap dingin dan acuh sebagaimana—menurutnya—sikap Taehyung pada normalnya. Gadis itu benar. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas seberapa banyak musuh Taehyung dan apa saja yang telah ia lakukan pada mereka. Jungkook kembali memasang wajah serius milik Taehyung. Kemudian melanjutkan,

“Baiklah, kau ingin aku berbuat apa?”


“Yeon Nahyun dan Kim Taehyung, luangkan waktu kalian sebentar dan temui Tuan Kim di ruangannya.”

Tuan Kim. Hati Nahyun mencelos, namun bibirnya menyunggingkan senyum asimetris. Bahkan gosip—yang sebenarnya adalah kenyataan—sudah tersebar luas ke seluruh penjuru sekolah sampai ke telinga ayah mereka sendiri. Ayah mereka, atau cuma ayah Taehyung? Nahyun yakin kalau sebentar lagi ia akan diadili dengan cara yang tidak adil. Mereka bertiga pernah saling bertemu setahun lalu ketika kasus dirinya dan Taehyung membuat keributan di kelas. Dan berakhir hanya dengan Nahyun yang mendapat poin kedisiplinan plus detensi sepihak. Tidak adil.

Guru Han keluar kelas setelah memberi mereka berdua pengumuman tersebut. Murid-murid lain menyusul keluar sembari berbisik-bisik. Salah satunya ada Nahyun dengar, dan mereka seakan tertawa, juga menduga jikalau Nahyun pasti akan dituntut ke kepolisian setelah ini. Ingin sekali rasanya melawan, menebas kepala mereka satu persatu dengan ranselnya saking sebalnya. Tetapi bagaimanapun juga, ia harus tenang. Saat ini dirinya tidak bisa sembarangan dan gegabah menyerang orang atau citranya akan semakin buruk.

Muka Jiyeon muncul dari sebelah kanan Nahyun ketika ia tengah merapikan alat tulisnya, “Kau yakin bukan Taehyung yang menyebarkannya?” Bisik anak itu, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Nahyun. Entah mengapa ia percaya pada apa kata Taehyung pagi tadi di koridor perpustakaan.

Tangan Jimin menepuk bahunya. Memberikan semangat, “Kalau kau butuh bantuan, segera panggil kami.”

Jiyeon mengangguk setuju. Belum sempat ia kembali berucap, Taehyung sudah muncul di antara mereka.

“Aku tidak ingat di mana ruangan ayahku di sekolah ini. Kurasa sebaiknya kita ke sana bersama.”

Ekspresi Taehyung yang datar bercampur polos membuat Jiyeon dan Jimin melongo ngeri. Ingatan Taehyung yang hilang benar-benar berdampak luar biasa sampai ia sudi meminta Nahyun jalan beriringan dengannya untuk menuntun arah, pikir mereka. Tak banyak berkomentar lagi, sepasang kekasih itu pergi setelah mengucap selamat tinggal dan semangat pada Nahyun.

“Mereka lucu.” Kata Jungkook tanpa sadar, “Maksudku, ekspresi mereka tadi begitu melihatku.”

Nahyun tidak menjawab. Tidak ada niatan untuk membalas pula. Ia hanya menyampirkan raselnya ke kedua bahunya dan mulai melangkah keluar dari kelas.

“Maksudku, apa aneh kalau aku minta tolong untuk pergi bersama pada adikku sendiri? Aku, ‘kan, sedang lupa ingatan.” Jungkook mengimbuh, membuat Nahyun bergidik geli. Lelaki itu juga sedikit-banyak menggoda Nahyun dengan frasanya barusan.

“Diamlah. Sikapmu yang seperti ini membuatku lebih ngeri. Aku lebih suka melihatmu jadi bengis.” Sahut Nahyun yang masih fokus berjalan menuju ruangan sang pemilik sekolah. Jungkook setia mengekor di belakang.

“Nahyun-ssi, bagaimana kalau sebenarnya aku—”

“Itu ruangan ayahmu,” Nahyun nampak tidak peduli dengan apa yang akan Jungkook ucapkan lantaran mereka sudah bertemu dengan sebuah pintu besar pula, “Masuklah lebih dulu, aku di belakang.”

Tidak jadi melanjutkan ucapannya, Jungkook berjalan dengan tubuh gagah Taehyung. Memutar knop pintu ruangan, dan memasukinya bersama Nahyun di belakang.


TO BE CONTINUED


a/n:

Jadi … MYANE BANGET INI BARU BISA UPDATE SEKARANG.
Seperti alasan klise para author pembuat fic berchapter di luar sana, aku juga sempet merasakan stuck di episode 7 yang menyebabkan ketidakberanian diri ini buat update episode 6 😢
Akhirnya dengan segala refreshing, meditasi, dan bertapa di berbagai tempat(?), ku memutuskan buat rombak plot. Membuat plot baru yang akhirnya bisa memberikan jalan menuju penyelesaian!!!(?)
Tinggal beberapa episode lagi. Anggap aja yang kemarin ditahan KPI jadi episodenya nggak bisa lanjut tayang(??) wkwk
Dan warning, setelah ini alurnya bakal maju mundur maju mundur banget. Semoga kalian nggak jadi bingung atau pusing dan tetap setia sama fic ini. Fighting!!!

Advertisements

6 thoughts on “[EPISODE 6] BEAUTIFUL LIAR

  1. Saking asyiknya ampe ga stop bacanya, tau2 bersambung d chapt 6. Aaaaaa suka bgt sama ceritanya, alur pake tanggal peristiwa bikin tambah greget.
    great job chingu.. Moga cepet dpt inspirasi utk lanjutin karyanya ^^

    Like

  2. Aaaaaaaa setelah sekian lama akhirnya kamu update juga,dan aku maklum kok kamu sempet stuck di beberapa moment sehingga aku sempet ngira kalau ff ini bakal berhenti ditengah jalan huhuhu sedih rasanya kalau ff g kita suka berhenti ditengah jalan,,oke btw masih binggung..kalau misalnya tubuh jungkook udah gak ada terus gimana caranya jungkook balik ketubuhnya,,atau pertanyaan lain seperti dimana arwah taehyung,apakah taehyung beneran suka sama tuh adek tiri nya..dan yg lebih penting apakah mereka akan jatuh cinta ?? Terus gimana kalau misalnya tuh cewe jatuh cinta sama taehyung bukan sama jungkook ? Dan gimana kalau jungkook jatuh cinta sama tuh cewe tapi tiba tiba harus pergi ? Dan gimana kalau misalnya taehyung bangun dan tiba tiba tuh cewe yg dia benci cinta sama dia ? Oke sip pertanyaan banyak dan biarlah ff kamu yg jawab seiring waktu /azek/ ditunggu yah chapter 7 nya serius nih tema ff nya anti mainstream banget loh..aku suka banget malah apalagi cast nya uri jungkook and my prince taehyungie

    Like

  3. than… aku semakin pusing dengan ini..
    karena ini terlalu lama ke tahan KPI bhahahhahahaha
    alhasil aku ngebut ngulang baca dr part.1 ffufufufuuh..

    curiga sm jiyeon yg nyebarin itu rahasia,,
    alesannya hhhmm mungkin aja jiyeon sirik soal nahyun.. (sirik tentang apa? “ENTAHLAH” )
    hahaahha

    atau mngkin ayahnya Taehyung ngirimin mata mata buat ngikutin anaknya kemana aja,, secara tae kan lupa ingatan takut takut anaknya nyasar kan *mleeeeeeh (pikiran macam apa ini)
    haha gegara anak buahnya yang ngikutin alhasil ketahuan deh kl tae itu dijahatin nayon… (trs hubungan aku nuduh jiyeon apa? kekkekekek entahlah.. inikan opsi otakku) hahahahh

    dan ujung ujung ini, nayon mulai agak biasa aja sama tae ya, sehabis kejadian bongkar bongkar rahasia kekkekkeke
    trs apakabar dengan abangnya nahyun???

    (oke fix as always aku kebanyakan ngoceh disini.. kekek maapkeun..)
    tulung part.7-nya jangan lama lama ketahan KPI yaa ahahahhaha
    *fighting

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s