[Chapter 2] Quest for Seven: Naked Statue, Pegasi, and Some Bird-Women

quest-for-7-copy

Quest for Seven

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Kim Namjoon, Jung Hoseok, Kim Taehyung, Jeon Jungkook

OC’s Jung Mia, Lily O’Brian, Kim Mony

.

Chaptered | Greek Mythology!AU, Friendship, Adventure, Life, slight!Historical, slight!Fluff | 15

loosely based on Greek Mythology and Percy Jackson series by Rick Riordan, with some fictional character here and there 

.

previous: Prologue | #1: Sound of Lyre

.

.

#2: Naked Statue, Pegasi, and Some Bird-Women

.

.

Kalau seseorang berani berkata bahwa ini adalah mimpi, mungkin Jungkook akan langsung memohon pada Zeus untuk menyambar orang tersebut dengan petir.

Karena ini terlalu nyata dan terlampau mengerikan untuk disebut mimpi.

Berguling ke balik bebatuan, Jungkook memandang kawan-kawannya yang juga sudah berpencar. Ekspresi horor tampak di wajah, sementara makhluk yang menyerang mereka mulai mengayun-ayunkan senjata. Menghancurkan beberapa gedung, debam langkahnya terdengar menggema di telinga. Butuh beberapa waktu bagi Jungkook untuk memproses semua ini, sampai suara di dalam otaknya mulai meneriakkan rencana-rencana.

Ia harus melawan.

Masih sambil mengamati makhluk tersebut (atau tepatnya patung batu raksasa yang bisa bergerak), Jungkook mulai beringsut ke arah tas rajut yang mereka tinggalkan di tengah jalan. Berusaha untuk tidak berjengit saat ia menyadari bahwa patung itu berupa sosok seorang lelaki, telanjang bulat dan membawa pedang yang juga terbuat dari batu. Entah apakah ia bisa melihat atau tidak, yang pasti Jungkook harus segera mencapai tempat perbekalan serta senjata mereka tergeletak.

“Jungkook!! Kau mau apa?!”

Pekikan itu milik Mony, yang berlindung bersama Lily di balik reruntuhan kuil terdekat. Ia tampak ngeri, siap untuk berteriak lagi sementara Jungkook buru-buru meletakkan telunjuk di atas bibir. Memintanya untuk diam, selagi Jungkook sendiri berjalan ke arah senjata yang berserakan di atas tanah berpasir, tepat tak jauh dari—

“Kookie, awas!!”

Terlepas dari perintah Jungkook untuk tetap diam, Mony meneriakkan peringatan itu tepat pada waktunya. Sukses menghindarkan sang lelaki dari ayunan pedang batu, menyelamatkan kepala Jungkook dari kemungkinan tersambar. Menahan napas, Jungkook pun mulai mengumpulkan ketiga pedang serta busur panah yang ada. Manik bergerak untuk mencari teman-temannya yang lain, ketika ia menyadari bahwa si patung sedang melangkah ke arah Mony dan Lily.

“Kim Mony!” Jungkook langsung memperingatkan, baru akan berlari mendekat saat….

“Berhenti di sana!”

Seraya mengajak Mony untuk bergerak menjauh, Lily meneriakkan perintah itu. Sesuatu yang awalnya tidak Jungkook pahami, sampai ia melihat si patung berhenti bergerak. Memberi waktu bagi Lily dan Mony untuk bergabung dengan dirinya, napas masih terengah selagi Mony membuka mulut untuk bertanya, “K-kenapa patungnya—”

 .

.

BRAAAKK!!

.

.

Kelegaan itu tampaknya tak bertahan lama, lantaran si patung sudah kembali bergerak. Mengayunkan pedangnya hingga menebas tempat persembunyian Mony dan Lily tadi, siap untuk menyerang.

Holy shit, bagaimana cara kita mengalahkan patung telanjang ini?!”

Namjoon, Hoseok, Mia, dan Taehyung berlari mendekat. Mereka juga tampak terguncang, serpih-serpih bebatuan menghiasi rambut. Tempat mereka berlindung rupanya lebih dulu diserang si patung, tepat sebelum patung itu mendengar teriakan Mony dan mengarahkan pedangnya ke arah lain.

“Ia mengikuti suara musuhnya.” Jungkook mengambil konklusi, meskipun kata-katanya sama sekali tak menjawab pertanyaan Namjoon barusan. “Patung itu….”

“Tapi, ia berhenti saat mendengar suaraku.” Lily mengingatkan dalam suara rendah, maniknya dilebarkan. “Aku memerintahkannya untuk berhenti dan—”

“Anugerah Aphrodite,” potong Jungkook, seketika itu juga paham. “Ia akan menuruti kata-katamu.”

“Kalau begitu—”

“AWAS!!”

Kali ini, teriakan itu adalah milik Hoseok. Si patung—rupanya sudah menyadari bahwa ia menuju ke arah yang salah—mulai membalikkan badan dan berjalan menghampiri ketujuhnya. Membiarkan pedang terayun tanpa mengenai apa pun, sampai suara Hoseok tadi mencapai telinganya.

Detik itu juga, ujung pedang raksasa terarah pada mereka. Derap langkah si patung berubah mantap, penuh tujuan sementara Hoseok mengeluarkan suara seperti tercekik. Gumam maaf terlontar, selagi Jungkook teringat akan aksi Lily tadi dan seketika mendapatkan ide.

“Lily, alihkan perhatiannya,” ucap Jungkook langsung, mengambil keputusan. “Beri perintah-perintah pada patung itu, jauhkan dari kami sampai aku tahu cara menghentikannya.”

“Aku akan ikut denganmu.” Taehyung mengajukan diri, meminta salah satu pedang yang dibawa Jungkook. “Ayo.”

Meskipun terlihat takut, keduanya lekas mematuhi perintah Jungkook. Taehyung siap dengan pedangnya, mengikuti Lily yang berlari ke sisi kiri seraya berteriak, “Hei patung tak tahu malu, sebelah sini! Kami di sini! Tundukkan kepalamu!”

“Tolong beritahu kami kalau kau punya rencana yang bagus.” Namjoon ikut mengambil pedang, diikuti oleh Hoseok yang memilih busur dan panah. Melihat keberanian (serta kenekatan) Lily dan Taehyung tampaknya telah berhasil mengobarkan semangat mereka. Kendati misi yang diberikan masih belum jelas, tapi niat mereka untuk bertahan hidup dari serangan si patung telanjang jelas ada. Siapa juga yang mau mati terinjak di tempat seaneh ini?

“Aku mungkin punya rencana,” ucap Jungkook, menggenggam gagang pedang yang telah dipilihnya dan menatap Mony. “Pada masa perang, patung-patung seperti ini adalah buatan Hephaestus. Ada mesin otomatis yang menggerakkan patung-patung tersebut, menjadikannya semacam pengawal bagi kota.”

“Dari mana kau tahu soal itu?” Hoseok menaikkan alis seraya mengetes tali busurnya, mencoba memasang panah di sana. “Dan bagaimana cara mengalahkannya?”

“Anugerah Athena.” Jungkook menunjuk kepalanya. “Semua informasi itu ada di dalam sini. Dan untuk mengalahkannya—”

“Hei, berhenti dan jangan turunkan kakimu! Diam di sana—AKU BILANG BERHENTI!”

Mereka serempak menoleh ke arah Taehyung dan Lily yang nyaris terinjak, agaknya mulai kesusahan untuk mengendalikan si patung. Situasi makin mendesak; Jungkook tahu mereka harus segera bertindak sebelum segalanya menjadi makin buruk.

“Hancurkan patung itu,” geram Jungkook, tanpa sadar meraih tangan Mony dan menggenggamnya. “Hoseok, Mia, lakukan apa saja untuk menghancurkan batu yang membentuknya. Paling tidak lapisan luar, sampai kita bisa melihat mesin yang menggerakkannya.”

“Bagaimana dengan kalian?”

“Mony akan menghentikannya saat mesin itu sudah terlihat,” ujar Jungkook mantap, sementara Mony melebarkan manik. “Itu satu-satunya cara.”

“Aku—”

“SEKARANG!”

Jungkook menarik Mony, mengisyaratkan Namjoon untuk mengikuti mereka. Membiarkan kedua anak keluarga Jung untuk bergabung dengan Taehyung dan Lily, menyampaikan usul Jungkook untuk menghancurkan patung yang ada.

“Aku tidak tahu jika rakyat Yunani Kuno sudah mengenal teknologi macam ini.”

“Manusia tidak membuatnya,” jelas Jungkook, menimpali Namjoon sementara mereka bertiga mengamati. “Itu buatan dewa, barangkali terabaikan sejak perang berakhir. Mungkin ada yang mengotak-atiknya, atau mungkin juga mesin itu mengalami kerusakan dan menganggap siapa pun sebagai lawan.”

“Kalau begitu….” Mony menarik tangannya yang masih bertautan dengan Jungkook, mencuri atensi sang lelaki. Ia terlihat seperti mau menangis, kedua netra berkaca-kaca seraya bergumam, “T-tidak mungkin aku bisa mengalahkannya, Jungkook.”

Jungkook menatapnya, tahu bahwa Mony benar-benar takut. Namun, mereka tidak punya pilihan lain. Mony-lah yang mendapat anugerah dari Hephaestus, sehingga Jungkook berasumsi jika hanya gadis itulah yang bisa menghentikan si patung.

“Kim Mony.” Jungkook akhirnya berkata, meletakkan kedua telapak di atas bahu sang gadis berambut merah. “Kau bisa melakukannya.”

“Aku takut, Kookie. A-aku….”

“Aku akan melindungimu.” Jungkook melanjutkan, bersungguh-sungguh. “Percayalah padaku, oke? Kau tidak akan terluka selama kau bersamaku.”

Mony tampak ingin membantah, menangis atau merengek karena sesungguhnya ia tak mau berada di sini. Namun, tatapan Jungkook telah membuat lidahnya kelu. Ia tak punya pilihan lain, tidak karena Jungkook sudah keburu berpaling ke arah Namjoon dan berujar, “Ketika aku memberi aba-aba nanti, aku ingin kau menggunakan kekuatanmu. Tolong bawa kami ke puncak kepala patung itu.”

“Menerbangkanmu… setinggi kurang lebih dua puluh meter?” Namjoon mendongak, menatap puncak kepala si patung yang menjulang di tengah kegelapan. Ada beberapa anak panah yang menancap di batu berwarna putih keabuan tersebut, jelas merupakan hasil serangan Hoseok yang sibuk memanah dari balik tempatnya bersembunyi.

“Menurutku, kau pasti bisa mengendalikan pergerakan angin.” Jungkook membenarkan. “Tapi, sebelumnya, aku ingin kau melakukan sesuatu.”

“Kurasa anugerah Athena membuatmu lebih cocok jadi pemimpin, Jungkook.” Namjoon mengulum senyum, menatap si patung yang mulai retak di sana-sini. Selain Hoseok, Mia pun rupanya ikut menggunakan busur dan panah yang ada. Lily sendiri masih meneriakkan perintah demi perintah, diiringi Taehyung yang terlihat seperti berdansa di antara kedua kaki si patung seraya menghantamkan pedang dengan sekuat tenaga.

“Sejujurnya, semua rencana ini muncul begitu saja di otakku.” Jungkook mengangkat bahu. “Baiklah, apa kau siap?”

“Apa yang harus kulakukan?”

Ujung telunjuk Jungkook terarah ke langit. “Petir. Gunakan itu untuk menghancurkan si patung.”

“Got it.”

Namjoon langsung berlari memasuki pertempuran, mengacungkan pedangnya ke arah langit. Berkonsentrasi, menyebabkan awan tebal mulai bergulung di atas sana. Tak lama, suara gemuruh datang mengikuti, selagi Namjoon memerintahkan Lily dan Taehyung untuk menjauh dari si patung.

“Rasakan petir ini!”

Mengacungkan pedangnya ke arah patung tersebut, Namjoon berharap akan melihat kilat yang menyambar dan membawa kehancuran. Namun, alih-alih, hanya aliran listrik kecil yang muncul. Menyala terang, sebelum akhirnya padam lagi.

“Sialan, sialan!” Namjoon mengibas-ngibaskan pedangnya, berusaha memanggil petir sekali lagi. “Hei, petir! Hei, aliran listrik yang berasal dari angkasa!! Kenapa kau tidak menuruti perintahku, sih?!”

“Namjoon, kau bisa terinjak!”

Hoseok menembakkan beberapa anak panah pada kaki si patung, tapi hanya beberapa saja yang menancap pada sasaran. Sisanya meleset, mungkin karena ia kelewat cemas akan nasib sahabatnya. Patung itu kini hampir sepenuhnya berada di atas Namjoon, siap untuk menginjak atau menebaskan pedang, sementara sang pemilik kekuatan Zeus masih mengayunkan pedangnya sendiri tanpa hasil.

“Petir, petir, ayolah datang, ayolah….”

“Namjoon, pergi dari sana!”

Usaha Hoseok kali ini membuahkan hasil. Mendongak tepat pada waktunya, Namjoon langsung bertemu pandang dengan telapak kaki si patung pria telanjang. Sukses membuatnya terbengong selama beberapa milisekon, sebelum akhirnya melempar diri ke samping, masih sambil menggumamkan “petir, petir, petir”, dan—

.

.

JDEEEER!!

 .

.

KRAAKK!!

 .

.

 “NAMJOON!”

Hoseok langsung berlari mendekat, Mia berada tepat di belakangnya. Entah bagaimana, lelaki itu akhirnya sukses memanggil petir yang berkekuatan cukup besar. Menghantam tepat pada tubuh si patung, mencungkil batuan yang ada di beberapa tempat. Namjoon sendiri tergeletak tak jauh dari sana, terkapar sementara aliran listrik-listrik kecil masih menjalar di tubuh.

“Kim Namjoon! Dude, ini tidak lucu! Aku belum mau melihatmu mati, apa lagi gara-gara tersetrum! Jawab aku, Nam—“

“Wow, rasanya aku bisa berdansa dengan listrik setelah ini.” Namjoon sekonyong-konyong berkemam, mengerjapkan matanya berulang kali sementara ia mendudukkan diri. “Hai, Jung Hoseok. Mau bersalaman denganku?”

Hoseok memberi tatap seolah Namjoon sudah gila, tampak menyesal karena sudah bersikap terlalu khawatir. Memutuskan bahwa lelaki di sampingnya itu baik-baik saja, ia pun mengembalikan fokus pada patung yang sekarang berhenti bergerak. Aliran listrik masih menyelimuti, kendati Hoseok curiga kalau semua itu tak akan bertahan lama.

“Apa kau bisa membawa kami ke atas sana?”

Jungkook, masih dengan Mony di sampingnya, mendekati Namjoon yang sekarang sedang memeriksa rambutnya (surai yang dicat pirang itu berdiri tegak, omong-omong). Dengan cepat menilai situasi yang ada, otak berusaha memikirkan alternatif-alternatif, tepat ketika Mony menarik ujung bajunya.

“Jungkook… b-bagaimana….”

“Ada apa, Mony?”

Mony menunjuk ke tumit kiri si patung, yang batuannya sudah tercongkel hingga lepas. Jalinan kabel-kabel perak dan emas tampak di sana, begitu rumit dan tampak seakan tak berarti. Namun, menilik dari ekspresi Mony….

“Kau bisa menghentikannya? Dari sana?”

Sejemang, Mony tampak ragu. Tatap bergerak cepat dari Jungkook ke tumit si patung, berulang kali sementara keningnya berkerut dalam. Berpikir dan menyelesaikan berbagai tugas di sekolah tak pernah menjadi favorit Mony—gadis itu lebih suka bernyanyi di kelas musik. Tapi, untuk kali ini, ia mendadak tahu bahwa rusaknya salah satu kabel itu akan berakibat pada berhentinya gerakan si patung.

“T-temani aku, Jungkook. Tidak apa-apa… kan?”

Sesungguhnya Mony malu, lantaran ia tak pernah bersikap manja atau merengek selain di hadapan Wooshin—kakak lelakinya, dan Bambam—sahabat masa kecilnya. Tapi, dari semua orang yang ada di sini, Mony hanya mengenal Jungkook. Ditambah lagi, temannya semasa SMA itu juga sudah berjanji, bukan?

“Oke.” Jungkook mengangguk tanpa ragu, mengajak Mony untuk mendekati si patung. “Ayo kita bereskan.”

Mereka mendekati tumit patung tersebut, Jungkook bersiaga dengan pedangnya sementara Mony mulai menyentuh kabel-kabel yang ada. Gadis itu sempat tersentak kaget saat merasakan energi yang mengalir di tiap kabel, tapi lekas berusaha menenangkan diri dan kembali mencari. Dengan tangan gemetar berusaha memilah, mengotak-atik, sampai ia menemukan apa yang dirasanya tepat.

“K-Kookie?”

“Ya?”

“Y-yang ini. Bisa bantu aku untuk… untuk menghancurkannya?”

Menarik pedangnya, Jungkook membalas tanya Mony tersebut dengan mantap. “Mundurlah sedikit. Biar aku memotong kabel yang kau maksud.”

Menurut, Mony segera bergerak menjauh dan bersembunyi di balik tubuh Jungkook. Mengamati bagaimana sang lelaki mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, kemudian membiarkan bilahnya menebas udara dan kabel yang ditunjuk Mony.

Seketika itu juga, cairan hitam pekat berbau bensin menyembur keluar hingga membasahi keduanya.

“Apa-apa—“

Jungkook belum sempat memprotes, karena patung raksasa setinggi dua puluh meter tersebut baru saja mengeluarkan bunyi berderak aneh. Seketika menghadirkan rasa tegang, cemas jika kedua lengan batu itu akan kembali bergerak, sampai desisan keras terdengar dan….

“Oh, oh! Patungnya akan roboh! Menyingkir dari sana!”

Jungkook menyambar lengan Mony tepat pada waktunya, memelesat menjauh dan bergabung dengan teman-teman mereka yang sudah lebih dulu mengambil jarak. Tanpa kata menyaksikan bagaimana patung besar tersebut roboh ke belakang dengan suara berdebam keras, jelas tak lagi bisa menyerang ataupun mempertontonkan badannya yang tak dilapisi kain.

Lalu, hening kembali datang.

“S-selesai? Kita menang?”

Hoseok-lah yang pertama berbicara, disambut dengan anggukan lemah dari Mony. Gadis bersurai merah itu jelas terguncang, masih tak menyangka kalau ialah yang telah menemukan kelemahan si patung. Ia… ia berhasil menyelamatkan mereka semua, benar begitu? Oh, dan tentunya, Jungkook juga membantu! Teman SMA Mony itulah yang menawarkan rasa aman ketika…

“Kau hebat sekali, Kim Mony! Bagaimana bisa kau menemukan kelemahannya semudah itu?”

Detik itu juga, Mony tersadar dari lamunannya. Tubuh terpaku saat ia merasakan pelukan singkat Jungkook, diikuti dengan senyum cerah kendati keduanya masih dilapisi cairan hitam pekat yang licin dan berbau tidak enak. Jeon Jungkook baru saja memujinya, dan yang bisa Mony lakukan hanyalah membuka-tutup mulutnya tanpa suara.

“Mony, kau tidak apa-apa?”

Mony menggeleng-geleng cepat, pipinya memanas. Tidak hanya Jungkook, semua mata di sana sekarang memerhatikannya. Kekaguman serta kelegaan tampak di wajah mereka, selagi Mony buru-buru membalikkan badan dan mengucapkan sederet kalimat yang—demi dewa-dewi, sebaiknya mereka merekam rekor dunia ini!—belum pernah ia lontarkan sebelumnya.

“A-aku butuh mandi. Bagaimana cara kita membersihkan semua ini?”

.

-o-

.

Mencari air? Bukan masalah besar.

Julukan Poseidon mungkin memang “Sang Penguasa Lautan”, tapi anugerah yang diberikan sang dewa pada Mia mencakup seluruh air yang ada di muka bumi. Sederhananya, mudah saja bagi gadis itu untuk melacak keberadaan air terdekat: kepala ditelengkan seolah berusaha mendengarkan, lantas memimpin teman-temannya dengan yakin ke sebuah pemandian umum di kota.

“Kurasa sebaiknya kita beristirahat di sini.” Namjoon mengusulkan saat ia melihat tempat yang dimaksud Mia, lekas disetujui oleh enam orang lainnya. “Kita pikirkan apa langkah kita selanjutnya besok, oke?”

Tak ada yang menolak.

Pemandian umum yang ditemukan Mia barangkali bukan tempat istirahat ternyaman, tapi itu cukup bagi mereka saat ini. Tempat itu memiliki beberapa kolam untuk berendam serta air yang mengalir dari belasan pancuran berbentuk kepala singa, semua beratapkan langit dan amat terbuka. Kemudian di sisi kiri dan kanannya, terdapat beberapa bilik—mungkin dimaksudkan untuk berganti baju atau melakukan hal-hal yang membutuhkan privasi. Tak jauh dari sana, sebuah kuil serta altar persembahan berdiri menjulang, dikelilingi oleh lapangan berumput yang tampaknya bisa menjadi tempat mereka beristirahat.

Jungkook dan Mony langsung menuju ke pemandian, membasuh diri mereka yang tersiram oli dan berganti baju. Sementara itu, lima orang lainnya bergegas untuk menggelar alas tidur dan selimut, menggunakan tas rajut yang diberikan sebagai bantal. Senjata tergeletak tak jauh dari mereka, sampai Taehyung buka suara dan mengajukan usul yang terdengar masuk akal.

“Apa kita perlu membuat giliran jaga?”

“Mengingat apa yang baru saja kita alami….” Hoseok menambahkan, melirik Namjoon yang langsung membenarkan. Maka, giliran jaga pun segera dibagi. Namjoon yang menawarkan diri untuk berjaga sendirian di urutan pertama, kemudian Taehyung dan Lily, Jungkook dan Mony, serta sepasang kakak-beradik Jung di urutan terakhir.

“Bangunkan kami jika ada sesuatu.” Hoseok mengingatkan, merebahkan diri di samping adiknya dan segera pulas. Pun dengan kelima orang lainnya, meninggalkan Namjoon untuk terjaga seorang diri ditemani nyala api unggun yang telah dibuat Mony.

Untunglah, malam itu bisa mereka lalui tanpa serangan dari monster atau patung telanjang lainnya. Giliran jaga Namjoon berjalan dengan lancar (kecuali saat lelaki itu benar-benar bosan, mencoba berjalan mondar-mandir, dan malah hampir menginjak bara api); kemudian disusul Taehyung dan Lily yang memanfaatkannya untuk membicarakan “kencan ajaib” ini. Jungkook dan Mony mengisinya dengan percakapan seputar kuliah (sang lelaki memulainya dengan kalimat: “Kalau dunia benar-benar hancur, kurasa aku tak perlu pusing memikirkan kuliah, sih.”), sementara Hoseok terlonjak kaget saat Mia membangunkannya dengan bisikan, “Kak, kita diserang patung wanita telanjang!”

“Tidak lucu, Jung Mia.”

Mia, yang sedang memakan sepotong roti pemberian Hermes, tergelak. “Aku hanya memastikan kau tidak bermimpi yang aneh-aneh, tahu.”

“Sejak kapan aku mimpi aneh-aneh?!”

“Sejak aku tidak sengaja masuk kamarmu dan melihat kau tidur sambil meraba-raba diri sendiri?” Mia balik bertanya, tertawa makin puas sementara Hoseok memajukan bibir. Sudah lama mereka tidak bercakap-cakap seperti ini, dan sejujurnya Mia merindukan presensi Hoseok di dalam hidupnya. Padahal, gadis itu baru menjalani program pertukaran mahasiswanya selama dua bulan, tetapi….

“Aku senang bisa melihatmu, meskipun caranya harus seperti ini.” Hoseok tahu-tahu buka suara, menopangkan dagu pada kedua lutut yang ditekuk. “Tapi, bukan berarti aku senang diserang patung aneh atau diharuskan terbang dengan sandal bersayap.”

“Aku tahu.”

“Dan lagi, aku mulai khawatir jika kau dan Joshua….” Hoseok berdeham, memasang cengiran saat ia melihat pelototan dari Mia. “Yah, siapa suruh kalian berdua sama-sama mengikuti program pertukaran ke Amerika? Meskipun aku tahu jika pacarmu itu lelaki baik-baik….”

Please, Jung Hoseok.” Mia memutar bola mata. “Kami bahkan tinggal di asrama yang berbeda dan—“

Pembelaan Mia terpotong oleh suara ringkikan, sukses membuat keduanya langsung berdiri tegak dan menyambar senjata. Mata dipicingkan ke ufuk timur, tempat mentari mulai beranjak terbit sementara kegelapan lamat-lamat memudar. Sesosok hewan bersayap muncul dari sana, terbang menembus keheningan pagi, lantas mendarat tak jauh dari tempat Hoseok dan Mia berdiri.

“Jangan dekati kami!” Hoseok sudah memasang anak panah pada busurnya, siap menembak. “Kami bisa mengalahkanmu hingga… hingga hancur berkeping-keping!”

Jelas sekali jika Hoseok sedang berusaha menekan rasa takutnya, mengocehkan apa saja agar makhluk berbentuk kuda bersayap itu bergerak mundur. Tapi, bukannya menurut, hewan berbulu putih bersih tersebut malah meringkik makin kencang dan mulai bergerak maju. Menapakkan keempat kakinya di atas permukaan altar, dengan anggun menghampiri Hoseok dan Mia tanpa rasa takut.

“A-aku peringatkan! Pergi dari sini atau—“

“Ada apa ribut-ribut?”

Terbangun seraya mengusap mata, Namjoon berusaha mendudukkan diri. Netra ikut tertuju pada si kuda bersayap, yang masih terlihat tenang dan tak berbahaya. Kontras sekali dengan Namjoon yang langsung bergerak cepat, menyambar pedang dan membangunkan keempat teman-temannya menggunakan nada panik.

“Kuda bersayap! Ada kuda bersayap, teman-teman! Oh, astaga! Apa kuda itu akan berubah menjadi raksasa dan—“

“Tunggu sebentar.”

Menghentikan kepanikan yang ada, Mia melangkah maju. Abaikan peringatan serta teriakan kakak lelakinya, sebelah tangan terulur seakan hendak mengundang kuda tersebut mendekat. Sang gadis terlihat begitu yakin, kepala ditelengkan sementara keningnya berkerut sejenak tanda sedang berkonsentrasi.

“Mia?”

“Itu seekor pegasus,” balas Mia, menyebutkan nama makhluk di hadapan mereka dan mendapat balasan ringkikan senang. “Sepertinya… dia datang membawa pesan.”

“Kau sedang menebak-nebak atau….?”

“Aku bisa mendengarnya,” balas Mia, menolehkan kepalanya sejenak ke arah Hoseok untuk memberinya tatap bingung. “Apa yang dipikirkan… dikatakan pegasus ini… aku memahaminya.”

“Tentu saja. Itu bagian dari anugerah Poseidon.” Suara Jungkook tiba-tiba terdengar, selagi yang bersangkutan berjalan ke samping Mia. “Poseidon menciptakan kuda pertama di dunia, dan dia bisa berbicara dengan semua jenis kuda.”

“Kau berkata seolah ini hal yang normal,” balas Hoseok, suaranya mulai tenang tapi masih dalam posisi siaga. “Menurutmu kuda itu bisa dipercaya?”

Jungkook tidak menjawab, hanya menggerakkan ujung dagunya ke arah Mia. Mengisyaratkan yang lain untuk ikut melihat, sementara sang gadis sudah mengelus bulu putih si pegasus dan menepuk-nepuk surai di belakang kepalanya.

“Bagaimana menurutmu, Mia?”

Pegasus ini bilang kalau reaksi kalian terlalu berlebihan,” ujar Mia, menoleh ke arah Namjoon dan Hoseok. “Dan ya, dia membawa pesan dari Olympus.”

Semuanya diam, menunggu sementara Mia kembali mengelus si kuda dan mendengarkan. Beberapa menit kemudian, barulah gadis itu menganggukkan kepala tanda mengerti. Membiarkan si pegasus untuk berjalan menjauh dan mulai merumput, sementara ia menghampiri keenam temannya yang sudah memasang tatap ingin tahu.

“Apa pesannya?”

“Hanya memberitahu jika tiga dewa yang hilang adalah Nemesis, Zelos, dan Phobos.” Mia tampak kecewa, lantaran informasi ini tidak banyak membantu. “Kabar baiknya, pegasus itu dikirim untuk membantu kita. Ia juga bisa memanggil teman-temannya jika dibutuhkan.”

“Nemesis, Zelos, Phobos,” ulang Jungkook. “Dewi pembalasan dendam, dewa kecemburuan, dan dewa rasa takut.”

“Dan kita diharuskan mencari mereka? Dua dewa dan satu dewi yang….” Taehyung berusaha mencari kata. “…kedengarannya tidak menyenangkan?”

Jungkook tidak langsung menimpali. Ia teringat akan kata-kata Athena di Olympus soal keseimbangan dunia, berusaha menghubungkannya dengan fakta yang baru saja ia terima. Sepintas, dewa-dewi dengan sifat negatif seperti mereka memang tidak terdengar seperti korban yang patut diselamatkan. Tetapi….

“Bagaimanapun, kita tetap tidak akan bisa pulang sampai bisa menemukan mereka, kan?” Lily akhirnya menyuarakan pendapat, mengingatkan akan tugas yang tak bisa ditolak. “Kita tetap harus mencari mereka, Tae.”

“Yeah, kau benar.” Taehyung menghela napas. “Ditambah lagi, kencan di sini sudah tak terlalu menarik bagiku. Aku ingin cepat-cepat makan Nutella yang dicampur cokelat Cadbury lagi.”

“Kalau begitu, lebih baik kita menyusun rencana.” Namjoon kembali duduk, membuka tas rajutnya dan mengamati persediaan yang ada. Berusaha mencari ide, tapi malah menemui kebuntuan saat ia melihat terbatasnya jumlah makanan serta air bersih yang mereka miliki. “Um, teman-teman….”

“Kenapa?”

“Aku menerima ide apa saja saat ini,” ucap Namjoon pasrah, mengambil sepotong roti dengan mimik muram. “Kita harus mendapatkan makanan dan minuman tambahan, kita juga harus menentukan akan mencari ke mana. Dan jujur saja, aku tidak punya saran apa pun.”

“Apa kita benar-benar tak punya petunjuk?”

“Ramalan yang diperdengarkan Apollo pada kita adalah satu-satunya petunjuk.” Jungkook-lah yang membalas pertanyaan Mia tersebut, lantas mengulangi ramalan yang entah bagaimana sudah ia hapal di luar kepala. “Suara lira sang dewa, mengusik batin tujuh anak manusia. Tiga di sisi kegelapan, tak terlacak dan terperangkap.

“Kita sudah tahu artinya sampai sejauh itu,” potong Lily, mengingat-ingat. “Bagaimana dengan paragraf selanjutnya?”

Nada berdenting memanggil, tempat mentari dan rembulan lahir,” lanjut Jungkook. “Aku merasa jika bagian itu mengarah pada tempat yang akan kita tuju. Meskipun sebenarnya….”

“Sebenarnya?”

“Aku tidak terlalu menyukai ini.” Jungkook mengangkat bahu. “Kalau apa yang kupikirkan benar, itu artinya kita harus berlayar untuk mencapai tempat yang dimaksud.”

“Berlayar?” Mony tampak terkejut, nyaris menjatuhkan roti yang sedang ia makan. “Naik kapal dan menyeberangi lautan? Ke mana?”

“Tempat mentari dan rembulan lahir,” ulang Namjoon. “Secara teknis, kita bisa melihat matahari terbit dan bulan di langit dari mana saja, kan? Jadi, yang dimaksud ramalan itu pastilah suatu tempat yang lebih spesifik.”

Jungkook langsung membenarkan. “Pulau Delos, itu tebakanku. Tempat Apollo dan Artemis dilahirkan.”

“Tempat dewa matahari dan dewi bulan lahir.” Hoseok tahu-tahu berkata, mendadak paham. “Bagian ‘nada berdenting memanggil’ itu… mungkinkah ada suatu musik di pulau yang kausebut tadi?”

“Pulau Delos adalah tempat yang sakral bagi Apollo dan Artemis.” Jungkook mengetuk-ngetuk dagu. “Berbagai suara musik dan keindahan alam dapat ditemui di sana. Masuk akal jika yang dimaksud oleh ramalan tersebut adalah Pulau Delos.”

Kalimat Jungkook barusan memiliki nada final, yang membuat ketujuhnya bungkam dan berpikir. Tak ada gunanya untuk menolak hal tersebut, mencoba-coba untuk mencari tempat lain yang lebih tak pasti. Suka atau tidak, mereka harus mencoba berlayar. Pilihannya hanya itu, atau misi ini tidak akan pernah selesai.

“Berlayar membutuhkan kapal,” kata Namjoon, akhirnya memutuskan untuk mengambil peran memimpin dan mendata apa saja yang mereka perlukan. “Kita juga butuh perbekalan tambahan, dan itu artinya kita harus mencari pasar di dekat sini.”

“Kita bagi tugas?”

“Itu cara tercepat.” Namjoon menepuk pundak Hoseok, setuju. “Uang yang diberikan seharusnya cukup untuk mendapatkan perbekalan tambahan, tapi masalah kapal….”

Taehyung mengacungkan tangannya, tanpa diminta berkata, “Biar Lily yang melakukan itu!”

“Kenapa aku??”

“Kalian lihat Lily kemarin, kan?” Taehyung masih tampak bersemangat, merangkul gadisnya dengan bangga. “Lily bahkan bisa meminta patung batu untuk melakukan apa yang ia perintahkan! Kalau begitu, ia pasti juga bisa—“

“Apa kau baru saja menyuruh pacarmu sendiri untuk mencuri kapal, Kim Taehyung?”

“Ini demi kebaikan bersama,” balas Taehyung kalem. “Kita toh diminta menyelamatkan tiga dewa yang berkekuatan negatif. Jadi, membujuk seseorang untuk menyerahkan kapalnya tidak terdengar terlalu buruk, kan? Iya, kan?”

“Aku tidak yakin, Tae—“

“Mengingat keterbatasan dana, kurasa itulah pikiran terbaik,” ujar Namjoon setelah berpikir cepat, akhirnya menerima usul Taehyung. “Baiklah, kalian bisa mencari kapal. Kita tidak tahu seberapa jauhnya pelabuhan dari sini, jadi kalian bisa pergi menggunakan pegasus tadi. Ajak Mia dengan kalian, bagaimana?”

“Si pegasus bilang, ia bisa mengangkut kita bertiga sekaligus.” Mia mengalihkan pandang dari si kuda bersayap, tampaknya baru saja berkomunikasi melalui pikiran. “Ia setuju untuk membawa kita ke pelabuhan terdekat. Oh, dan omong-omong, namanya Aspros. Ia lebih suka dipanggil begitu daripada ‘si kuda bersayap’.”

“Senang juga berkenalan denganmu, Aspros! Namaku Kim Taehyung, dan gadis manis ini kekasihku, Lily O’Brian!”

Aspros meringkik kencang, mengepak-ngepakkan sayapnya sebelum kembali merumput. Taehyung menganggap itu sebagai tanda bahwa perkenalannya diterima dengan baik, tampak puas pada dirinya sendiri selagi ia mulai membereskan barang-barang. Mengambil pedang yang ia gunakan kemarin, kemudian menyodorkan sebuah belati perak pada Lily.

“Kau pakai ini, aku akan melindungimu dari segala bahaya.”

Aw, kau manis sekali, Taehyung.” Lily memberikan kecupan singkat di pipi Taehyung, sontak membuat lelaki itu bersemu dan memasang cengiran bodoh. “Kita berangkat sekarang?”

“Bagaimana dengan kalian?” Mia menoleh ke arah kakaknya, selagi ia sendiri mengambil tabung yang berisi anak panah dan menggantungkannya di punggung. “Kalian berempat akan pergi ke pasar?”

“Kami juga akan langsung berangkat,” timpal Namjoon, sementara tiga yang lain lekas bersiap. “Mia, boleh aku minta tolong untuk memanggil dua pegasus lagi? Kita jelas butuh bantuan untuk mengangkut barang-barang, dan kami akan langsung mencari kalian setelah selesai membeli perbekalan nanti.”

“Tentu.”

Bersiul memanggil Aspros, Mia mengutarakan keinginannya di dalam hati. Menyampaikannya pada si kuda putih, yang lekas mengetukkan kaki depannya dengan bersemangat dan mengeluarkan suara-suara aneh. Agaknya itu adalah cara ia memanggil, karena tak lama kemudian, dua ekor pegasus mulai tampak di udara.

“Yang berbulu cokelat terang bernama Kastanos, yang hitam itu Mavros,” ucap Mia ketika mereka sudah mendarat di samping Aspros. “Katanya, mereka akan mengantar kalian dan juga membantu membawakan barang-barang. Pegasi memiliki ikatan yang memungkinkan mereka untuk melakukan kontak batin. Jadi, Kastanos dan Mavros pasti bisa mencari posisi Aspros. Kita akan bertemu lagi nanti.”

“Baiklah.” Namjoon mengelus Mavros, merasakan bulu hitamnya yang lembut dan hangat. “Semua sudah siap?”

“Tidak ada cara selain terbang, ya?” Hoseok memasang muka cemberut, tak begitu ingin menaiki kuda terbang meskipun ia juga tak mau ditinggal. “Mia….”

“Aku sudah berkata pada Mavros untuk tidak terbang terlalu tinggi atau melakukan gerakan yang aneh-aneh,” sahut Mia, bersiap untuk menaiki Aspros yang sudah menekuk kakinya dan merendahkan diri. “Sampai nanti, Kak Hoseok. Berhati-hatilah, oke?”

Diikuti Lily dan Taehyung yang lekas memanjat punggung Aspros, sang pegasus putih pun mulai mengepakkan sayap dan berlari memutari lapangan berumput. Bersiap-siap, lantas mengembangkan kedua sayap hingga mereka tidak lagi menyentuh daratan. Tak butuh waktu lama, Aspros dan ketiga anak manusia yang menumpanginya sudah merupa menjadi titik kecil di angkasa.

“Baiklah.” Namjoon meraih tasnya, memastikan ketiga kawan mereka sudah tak terlihat sebelum menyarungkan pedang di pinggang dan melanjutkan, “Bagaimana kalau kita juga berangkat?”

.

-o-

.

“Tidak melakukan gerakan aneh-aneh, hah?! Lalu yang tadi itu apa?! Dasar hitam!”

Bukannya tersinggung, Mavros malah mengeluarkan dengusan yang terdengar seperti tawa. Kepala bergerak untuk menyundul bahu Hoseok, yang langsung memaki-maki dan memasang jarak. Namjoon, Jungkook, dan Mony sudah tak terlihat, menghilang di antara kerumunan orang yang menyesaki pasar. Hoseok sendiri terpaksa ditinggal untuk menunggui Mavros dan Kastanos, menanti di balik sebuah reruntuhan bangunan yang berada di dekat pasar agar tak menarik perhatian.

Atau lebih tepatnya, Hoseok tak bisa ikut karena ia terlalu sibuk mengeluarkan isi perut dan meredakan mual yang melanda.

“Awas kalau kau berani melakukan gerakan menukik dan memutar lagi!” Hoseok masih menunjuk-nunjuk Mavros, yang sekarang mengalihkan wajah dan mulai mengelus-elus Kastanos dengan sayang. “Astaga, kalian juga tidak perlu bermesraan di hadapanku, kan?!”

Kendati Hoseok punya dugaan bahwa sepasang pegasus di depannya tak akan ambil peduli pada kekesalannya, niat Hoseok untuk mengomel masih belum reda. Lagi pula, sang lelaki yakin benar jika adiknya tidak akan menipu atau mengkhianati dirinya. Mia itu gadis yang manis, tidak seperti dua kuda bersayap di hadapannya. Hah, lihat saja! Hoseok bersumpah kalau ia akan membalas Mavros suatu hari nanti!

“Omong-omong, mereka tidak akan pergi sampai berjam-jam, bukan?”

Hoseok kini mulai mengoceh sendiri, mendudukkan diri di atas rerumputan seraya memainkan busur. Sudah hampir tiga perempat jam ia menanti—yang sebagian besarnya ia habiskan untuk muntah, meminum air banyak-banyak, dan merebahkan diri. Setidaknya, kepala Hoseok sudah tidak sepening tadi. Mualnya pun telah hilang, yang ia buktikan dengan adegan mengomeli Mavros barusan.

Dan sekarang, Hoseok mulai bosan.

Seraya mencabuti rumput, lelaki itu mulai mendendangkan nada-nada yang datang ke benaknya. Dalam hati mencatat bahwa ia harus memasukkan komposisi ini ke dalam musik buatannya, nanti jika ia berhasil kembali dengan selamat ke masa depan. Menyebalkan bukan, bagaimana otak Hoseok yang tadinya tidak mendapatkan inspirasi tahu-tahu—

“Jung Hoseok! Panahmu! Bantu kami!”

—inspirasi itu pun kembali lenyap.

Bangkit berdiri, Hoseok memasang anak panah pada busurnya dan berpaling ke arah teriakan. Iris melebar saat ia melihat Mony yang berlari sambil menyeret karung berisi perbekalan, begitu pula halnya dengan Jungkook dan Namjoon. Bedanya, kedua lelaki tersebut berusaha mengangkut karung seraya menebaskan pedang. Melawan dua monster buruk rupa yang tampaknya sedang berusaha mencakar dan mencabik, sukses membuat Hoseok membeku sesaat.

“Hoseok!!”

Tersadar, Hoseok langsung menembakkan panah ke salah satu monster tersebut. Mereka memiliki rupa kisut, seperti dua wanita tua yang seharusnya sudah mati sejak lama. Tubuh keduanya adalah tubuh manusia, tapi hal yang sama tak berlaku untuk kedua lengan serta kaki mereka. Alih-alih, sayap serta sepasang kaki yang dipenuhi bulu burung ada di sana. Lengkap dengan telapak yang berbentuk cakar, siap untuk mencengkeram atau mencakar siapa saja. Kedua wanita-burung itu mengepak-ngepakkan sayap dengan mengancam, sorot mata berkilat merah sementara desisan meluncur dari mulut.

“Kalian tidak akan bisa mengalahkan tuan kami!”

Kalimat itu jelas dimaksudkan sebagai peringatan, tetapi diabaikan Hoseok yang terlampau sibuk menembakkan beberapa panah lagi. Sasarannya adalah dua pasang sayap yang sedang terkembang itu, berharap agar monster wanita-burung yang sedang menyerang dapat terjatuh dan terpaksa menapak di daratan. Kalau sudah begitu, tentunya mereka akan mengalami kesusahan untuk menggunakan cakar yang ada, kan?

“Terus alihkan perhatian mereka, Hoseok!” seru Namjoon, selagi ia memberi isyarat pada Mony untuk lebih dulu berlari mendekati Kastanos. Mony—yang tampaknya sudah ingin menangis lagi—tidak membantah. Ia lekas mendekati Kastanos, lantas mulai mengikat karung yang ia bawa di tubuh si pegasus. Semua dilakukannya tanpa pikir panjang—anugerah dari Hephaestus jelas sedang bekerja dan membuat jarinya mampu bergerak dengan terampil.

“Mony, ini!”

Namjoon melemparkan karung yang ia bawa, lantas menyambar bawaan Jungkook dan melakukan hal yang sama. Membiarkan Mony untuk mengikat karung-karung perbekalan tersebut di tubuh Kastanos dan Mavros, sementara ia mulai menebaskan pedangnya dengan gerakan lebih terfokus.

“Aku akan mencoba memanggil petir lagi, Jungkook!” Namjoon mengingatkan, berkonsentrasi. “Pergilah dengan Mony, bawa Kastanos ke tempat yang lain berada! Kau juga, Hoseok! Bersiaplah!”

Mengikuti aba-aba Namjoon, Jungkook mengibaskan pedangnya untuk kali terakhir dan menghasilkan sayatan lebar di tubuh salah satu wanita-burung. Tanpa menoleh berlari menghampiri Mony, membantunya untuk menaiki Kastanos sebelum ia ikut melompat naik. Tak perlu disuruh, Kastanos pun langsung berderap dan mengembangkan sayapnya.

“Namjoon, ayo!”

Hoseok sudah menaiki Mavros, menanti. Ia masih dalam posisi siap memanah, tapi tak berani meluncurkan apa-apa karena terlalu takut mengenai Namjoon. Sementara itu, kawannya masih sibuk memanggil petir. Menanti sampai aliran listrik merambati pedangnya, sebelum ia mengacungkan bilah itu dan….

“HA, RASAKAN ITU!! KAU BAHKAN TIDAK LEBIH ENAK DARI AYAM BAKAR!”

Sambaran petir Namjoon berhasil mengenai salah satu dari wanita-burung, yang seketika hancur menjadi debu dan tak menyisakan jasad apa pun. Meskipun begitu, wanita-burung yang lain lebih beruntung. Ia hanya mendapatkan efek samping dari serangan Namjoon, terpelanting sementara sang lelaki menggunakan kesempatan yang ada untuk melompat ke punggung Mavros.

“Mavros, susul Kastanos dan cari Aspros!”

Sang pegasus meringkik, dengan cepat memacu keempat tungkainya dan menjejak ke angkasa. Membawa mereka pergi, sehingga Namjoon selama sesaat berpikir jika mereka telah benar-benar lolos. Namun….

“Makhluk itu mengikuti kita!!”

Hoseok memekik, dengan cepat melepaskan anak-anak panah ke segala arah. Kepanikannya membuat ia lupa akan rasa takutnya pada ketinggian, meskipun kepanikan itu jugalah yang menggagalkan anak-anak panahnya untuk mengenai sasaran. Butuh beberapa menit bagi Hoseok untuk menenangkan diri, menarik satu panah hingga mengenai si wanita-burung tepat di jantung dan meledakkannya menjadi serpihan abu.

“DASAR KAU BURUNG SIALAN!! SUDAH TUA MATI SAJA KAU! MATI!!”

“Hoseok—“

“PERGILAH KE NERAKA KARENA KAMI TAK BERNIAT MENYANTAPMU, DASAR BUSUK!”

“Wow, wow, Jung Hoseok!” Namjoon mengeraskan suara, menarik atensi sahabatnya. “Kau baik-baik saja?”

“Pikirmu kita baik-baik saja?!”

Hm, kau baik-baik saja kurasa.” Namjoon mengambil kesimpulan, meninju pundak Hoseok yang duduk di depannya. Dari sudut mata, mereka bisa melihat Kastanos yang membawa Jungkook serta Mony. Rupanya Mavros terbang cukup cepat, karena mereka tak butuh waktu lama untuk menjajari Kastanos.

“Baik-baik saja?”

“Kalian mengalahkan para harpies itu?” Jungkook balik bertanya, menoleh ke belakang. “Kurasa jawabannya adalah ‘iya’, kan?”

“Kau menyebutnya apa?” Hoseok menyambar, jelas masih emosi. “Dua burung tua itu punya nama?!”

“Harpy, monster berbentuk wanita setengah burung,” jelas Jungkook. “Atau harpies dalam bentuk jamak. Cukup mudah dilawan, asal kau tidak lebih dulu dicakar dan dibawa pergi.”

Uh-huh, kita beruntung.” Hoseok memutar bola matanya dengan sarkastis, beralih untuk memegang leher Mavros erat-erat. Akhirnya sadar bahwa ia sedang terbang, dahi disandarkan pada surai si pegasus sembari ia memejamkan mata. Hanya dengung konversasi Namjoon, Jungkook, dan Mony yang terdengar, samar di telinganya sementara mereka menuju ke arah timur.

Butuh sekitar setengah jam perjalanan sampai mereka tiba di pesisir pantai, mendarat di samping Mia, Taehyung, dan Lily yang sedang bercakap-cakap dengan seorang pria tua. Melompat turun dari pegasus masing-masing, keempatnya lantas berjalan mendekat dan mendengar kalimat bernada persuasif yang sedang dilontarkan Lily.

“Ah, yang datang mendekat ini kapalmu, benar? Kapal Anda indah sekali, Tuan. Para dewa-dewi di Olympus pasti akan memberikan imbalan yang setimpal.”

“Bagaimana kapal kita?” Namjoon bertanya lebih dulu, ditujukan pada Taehyung dan Mia yang tampak kagum. “Sukses?”

“Pria itu setuju meminjamkan kapalnya.” Taehyung membuat tanda kutip di udara dengan kedua tangan, menyeringai puas. “Kami hanya perlu menunggu sampai kapal itu datang, dan Lily harus terus berbicara agar efeknya tidak pudar.”

“Harus kuakui, cara ini licik tapi efektif.” Mia menambahkan, terkagum-kagum saat ia melihat kapal yang mendekat. Ukurannya sedang, tidak terlalu kecil tapi juga tak terlalu mewah hingga menarik perhatian. Ada dua layar, putih dan merah, yang terkembang di sana. Beberapa orang tampak di geladak, melempar jangkar dan menggerakkan kapal untuk menepi di dermaga.

“Kurasa kau juga harus membujuk mereka, Lily.” Taehyung menyenggol gadisnya, menunjuk rombongan orang yang mulai turun dari kapal. “Kau pasti bisa!”

“Terima kasih banyak, Tuan. Kami akan menggunakan kapal ini demi tujuan baik, jadi Anda tak perlu khawatir. Sekarang, Anda bisa pulang dan beristirahat. Aku ingin bercakap-cakap dengan beberapa awak kapal yang ada sebelum berlayar.”

Pria tua itu mengangguk, dengan patuh mengikuti saran Lily untuk pergi dari sana. Ia terlihat seperti dihipnotis, berbalik dan berjalan tanpa membantah. Hal yang sama terjadi dengan para awak kapal, yang seketika disambut suara ceria dan menggoda milik Lily sebelum diarahkan untuk pergi menjauh dari sana.

“Nah, beres,” kata Lily dengan suara sedikit serak, melambai pada beberapa pria yang mendadak tampak mabuk—jelas berada di bawah efek anugerah Aphrodite. “Bagaimana dengan perbekalan? Boleh aku minta air?”

“Sempat diserang tapi bukan masalah besar.” Jungkook menjelaskan, menceritakan dua harpies yang sempat menghalangi sementara Taehyung menyodorkan wadah air pada Lily. “Apa ini artinya kita akan segera berlayar?”

Semua menoleh untuk mengamati kapal yang baru saja diperoleh Lily, membiarkan rasa ragu dan takut berdentam di dalam dada. Kendati begitu, keinginan mereka untuk segera naik serta menjalankan misi pun terasa sama kuatnya. Mereka sudah sejauh ini, dan inilah satu-satunya jalan agar mereka bisa kembali melihat masa depan.

.

.

.

“Ayo kita berlayar ke Delos, teman-teman.”

.

tbc.

.

dictionary

  • Zeus: Dewa langit dan petir, pemimpin dari para dewa Olympian.
  • Hera: Dewi pernikahan, pengorbanan, dan kesetiaan.
  • Poseidon: Dewa penguasa seluruh lautan.
  • Demeter: Dewi pertanian dan kesuburan bumi.
  • Athena: Dewi kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, strategi, dan perang.
  • Apollo: Dewa musik, pengobatan, matahari, puisi, dan ramalan.
  • Artemis: Dewi kemurnian, perburuan, bulan, sekaligus pecinta alam.
  • Ares: Dewa peperangan, kekerasan, kekuatan, dan pertumpahan darah.
  • Aphrodite: Dewi cinta, kecantikan, dan hawa nafsu.
  • Hephaestus: Dewa api, penempa besi, dan perajin senjata.
  • Hermes: Dewa pembawa pesan, perdagangan, dan perjalanan.
  • Dionysus: Dewa anggur (wine) dan pesta.
  • Hades: Dewa penguasa Dunia Bawah.
  • Nemesis: Dewi pembalasan dendam dan keseimbangan.
  • Zelos: Dewa kecemburuan dan dedikasi.
  • Phobos: Dewa rasa takut, saudara dari Deimos (dewa kepanikan).
  • Titanomachy: Perang antara Titan (dewa-dewi generasi pertama) dengan dewa-dewi Olympus.
  • Perang Raksasa: Terjadi setelah Titanomachy, merupakan perang antara para dewa-dewi Olympus dengan para raksasa.
  • Olympus: Gunung tempat istana para dua belas Olympian berdiri dan tinggal.
  • Oracle of Delphi: Roh ramalan yang melayani Apollo, sang dewa ramalan.
  • Lira: Alat musik serupa harpa, tapi berukuran lebih kecil.
  • Drachma: Koin yang digunakan pada zaman Yunani Kuno.
  • Chiton: Pakaian khas Yunani Kuno yang terbuat dari kain linen, dijahit pada bagian pundak dan sisi tubuh. Chiton untuk pria lebih pendek dibandingkan kaum wanitanya.
  • Himation: Jubah yang dikenakan di atas chiton, biasanya disematkan di bagian pundak dengan pin atau bros.
  • Ambrosia: Makanan para dewa dan dewi.
  • Pegasus: Kuda bersayap dalam mitologi Yunani. (jamak: pegasi)
  • Harpy: Monster wanita bertubuh dan berwajah manusia, tapi memiliki sayap dan kaki seekor burung. (jamak: harpies)
  • Delos Island: Pulau tempat Leto (ibu Artemis dan Apollo) melahirkan keduanya. Pulau ini adalah tempat sakral bagi Apollo dan Artemis.

.

.

Hai semua!

Nggak nyangka bisa update seminggu sekali, semoga ke depannya bisa tetap lancar, ya! Anyway, terima kasih atas responsnya di chapter satu, maaf karena komentarnya belum sempat dibalas (mana ini di-post tengah malam wkwk). Semoga besok bisa dibalas semua, ya! Yang pasti semua udah kubaca dan semuanya bikin semangat buat ngelanjutin ^^

Jangan lupa review-nya untuk chapter ini, plus sampai jumpa besok untuk Halloween-Fic yang akan di-post menjelang tengah malam juga!

See ya!

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “[Chapter 2] Quest for Seven: Naked Statue, Pegasi, and Some Bird-Women

  1. Pingback: [Chapter 3] Quest for Seven: Lost and Stranded – BTS Fanfiction Indonesia

  2. juliahwang

    KAMER HUHU AKU HABIS BACA KOMEN KAYEN GAK NYANGKA INI ITU 5K WORDS OH MAI WARBYASAH 👏👏👏

    Aku gatau mau komen apalagi untuk chapter ini. Bawaanya tegang mulu bacanya HAHAHA dag dig dug mereka bisa atau nggak 😂 gemes juga liat mony sama hoseok astaga mony dengan kepanikan dan hoseok yg mulai lebay plis hoseok itu pen ku jatuhin dari ketinggian 😂 TAPI SUKA BAT UMPATAN-UMPATANNYA HOSEOK HAHAHA 😅

    Jungkukku as always yaa warbyasah memang anugerah athena ❤ dan yeah setuju sama namjoon, dia lebih cocok jadi pemimpin. Suka banget bagian mereka make anugerah mereka tau kak ❤
    Mia, km selalu mengingatkanku akan percy cuma lebih ‘kalem’ ya, sukak ❤ Lily oh lily dia emang cocok dapet anugerah aphrodite emang ❤ dan sisanya masih luar biasa 💕💕💕

    Btw si patung besar kenapa aku malah keinget patung batunya upin ipin sih kak 😅
    Dan aku nemu satu typo (entah beneran typo atau emang begitu) itu ada kata ‘pegasi’ yg mungkin maksudnya ‘pegasus’ atau mungkin itu emang sebutan lainnya?

    Itu aja untuk komen kali ini, mau komen panjang takut nyepam 😂 pokoknya semangat dan kip writing kamer ❤
    di tunggu chap selanjutnya~

    Like

    1. Tbh tiap chapter sekitar 5k sih emang panjangnya juls syukurlah kalian bertahan aku cinta kalian :””

      Mia kan cewek jadi dia ga seheboh percy wkwk dan untungnya dia juga ga segesrek percy sih… malahan tadinya anugerah poseidon itu mau buat hoseok tapi ntar gaada yg megang apollo (lagian hoseok kurang keren buat main2 ombak gitu pffft)

      Pegasi itu jamaknya pegasus sih wkwkwk jadi kalo satu pegasus kalo banyak pegasi bukan pegasuses (????) ((ga ngelawak kok ga))

      Anw makasih ya juls~ ♡

      Like

  3. Yak yak… Ini apa ini seru sekali kak amer omegat…….
    Di tengah2 keseruan lawan patung telanjang(?) ((sumpah pas baca sebutan ini tadi rasanya aneh wkwk)) eh Namjoon yaelah petirnya gagal XD XD Ngakak hard aku ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
    Juga itu kuki-mon ama lily-tae astaga pasangan yg bikin adem pas tegang2 begini /pfft/ Manis sekalee ya mereka ini ekhem….
    Oke Hoseok itu rada2 kece ya bawa panah busur kyk di mv BS&T /ehe/ Beda aja, pas abis naik pegasus dianya malah muntah2 wkwkwk….
    Dan terakhir Jungkook, fix ini harusnya dia aja yg mimpin kalik yeth… ((tapi Namjoon jg cucok kok, mungkin chp dpn baru keliatan jiwa leader-nya haha))

    Keyo, skrg aku mau bilang kalo ini cerita seru abizzzz (thumbs up) Serasa baca novel aja jadinya, kalik aja inj cocok dibukukan kak ((lagi addict sama novel/plak))
    Dan oiya, spt yg dibilang kakak rupanya knj memang ga cocok dpt anugerah Zeus ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ Kaget bgt tadi baca dia ampe hampir keinjek trus kesetrum(?) gt wahahaha ngakak XD

    Oke lagi2 aku recehin box komen ini ((buru2 ngacir))

    Like

    1. Patungnya emang telanjang nak aku cuma menyatakan fakta kamu jangan lupa tutup mata ya masih kecil /KRIK

      Hahahaha aku suka menistai knj sih jadi mungkin kayanya lama sampe dia keliatan berwibawa… /dilempar

      Dan berhubung ini sangat based on PJO series, nanti aku bisa diamuk fansnya (termasuk aku sendiri) kalo dijadiin novel wkwk apalah ini hanya ff abal2 :”

      Makasih banyak ya ratih~ ♡

      Like

  4. GEMES BANGET SAMA MONY TOLOOOONG > <
    Lalu lily nya udah lily banget! Yeokshi!!! Dan kayanya cewek yg 'waras' cuma mia ya………
    Seru banget ini mer! Tegang, lucu, serius; semuanya ada 😆 jadi ga berasa udah baca 5k words 😄

    Like

  5. Yeaaaaaaay~~~~~
    Akhirnya di-update~~~~~~~~~~~
    Ceritanya seru bangettt >//////////<
    Terus berimbas aku jadi ingin nulis dan main mmorpg laaaaah :")))))) /dasar hobi ngegame memaaaang wkwkkwkwkwk/

    Semoga ke depannya update lancar terus ya Kak~~
    Ku akan dengan sabar menunggu Kakak update QF7 ini~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Like

    1. Oke, ini adalah kepotong /lempar meja/ -___-

      REVISI: (wkwkwk)
      Yeaaaaaaay~~~~~
      Akhirnya di-update~~~~~~~~~~~
      Ceritanya seru bangettt >//////////<
      Terus berimbas aku jadi ingin nulis dan main mmorpg laaaaah :")))))) /dasar hobi ngegame memaaaang wkwkkwkwkwk/

      Semoga ke depannya update lancar terus ya Kak~~
      Ku akan dengan sabar menunggu Kakak update QF7 ini~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Like

      1. masih aja kepotong /marah/ wkwkkw

        Tambahan aja deh~
        Sumpah ya itu, penjelasannya baik banget Kaaak, duh si JK apalagi, nggak heran sih dia kedapetan anugerahnya Athena yang emang sangat-sangat-sangat dibutuhin sepanjang perjalanan
        Hyaaaaaaaa intinya asik banget sumpah ngebayanginnya, berasa nonton film >/////<

        Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s