[BTS FF Freelance] My Wife’s Amnesia? – (Chapter 3)

picsart_07-07-10-39-54

PART 3

TITLE: My Wife’s Amnesia?

Cast: Kim Taehyung || Cho Mijoo (OC)/You || Park Jimin || Others!

Genre: Romance,Mariage life, School life

Author: MyB (FB: Melia febryanti, IG: @ebyasra12)

***

Kicau burung dipagi hari terdengar begitu merdu. Sejuknya udara pagi menembus fentilasi ruangan, dan sinar matahari menembus etalase kamar milik Taehyung dan Mijoo. Mijoo tidak tahu ada dimana dan kenapa ia bisa ada ditempat asing seperti ini. Ketika ia terbangun, ia mengusap tempatnya berbaring.

“Rasanya nyaman,” Gumamnya seraya mengusap-usap tempatnya.

Mijoo terus mengusap tempatnya berbaring dan tangannya merayap. Matanya terbelalak ketika merasakan tangannya menyentuh tangan seseorang. Tangan Mijoo menyentuh dagu, hidung dan mata. Perlahan ia menoleh ke kiri dan amat sangat terkejut ketika melihat Taehyung tertidur disampingnya.

“Aaaa!! Yak! Byuntae! Bangun kau!” Mijoo berteriak histeris kemudian memukul wajah Taehyung dengan bantal berkali-kali.

“Yak! Kenapa kau memukulku?” Taehyung langsung tersentak bangun dan menghalangi wajahnya dari pukulan bantal.

“Justru aku yang bertanya apa yang kau lakukan padaku!” Mijoo bangkit dari tempat tidur lalu menarik sprei membuat Taehyung terseret dan terjatuh ke lantai.

Bokong Taehyung menimpa lantai dengan sangat tidak mulus. Ia mengusap bokongnya berkali-kali.

“Aww! Apa maksudmu? Kita sudah terbiasa tidur seranjang, Joo.” Bela Taehyung. Ia mendadak lupa kalau Mijoo amnesia.

“Mworago? Hei! Aku ini masih anak sekolah. Bagaimana mungkin aku terbiasa tidur seranjang dengan seorang lelaki?! Kau sudah gila ya?!” Bentak Mijoo marah.

Taehyung bangkit dan meringis kecil. Ia masih berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia kembali teringat kalau Mijoo amnesia. Sebenarnya Taehyung berharap semua itu hanya mimpi, namun ketika ia bangun, kondisi Mijoo tetap sama. Ini kenyataan.

“Aish, maksudku.. Kamar di apartemen ini hanya satu, dan semalam kau pingsan. Daripada aku membiarkanmu tidur diluar lebih baik aku membawamu ke kamar.” Ujar Taehyung.

Mijoo mendekat dan melotokan matanya. Dengan secepat kilat ia menggapai telinga Taehyung lalu menjewernya sekuat mungkin.

“Lalu kenapa bukan kau saja yang tidur diluar, hm? Apa kau tahu aku ini sangat berharga dan tidak akan membiarkan siapapun menyentuhku! Termasuk kau!” Bentak Mijoo lagi seraya menguatkan jewerannya. Gadis yang dulunya polos ini berubah drastis seperti seorang nenek sihir.

“Aww! A-aku tidak menyentuhmu! Kau tertidur dan aku juga tertidur. Sssh!” Taehyung berusaha menjelaskan dibalik rasa sakit akibat jeweran Mijoo.

“T-tolong lepaskan, ini sakit!” Pinta Taehyung.

Mijoo melepas paksa jewerannya sementara Taehyung mengusap telinganya yang sudah tampak merah padam.

Sekarang sudah pukul 06.00 KST. Mijoo menepuk dahinya dan teringat sesuatu.

“Oh iya! Sekolah.” Gumamnya lalu berlari kecil ke kamar mandi dan mengunci pintu seaman mungkin, berjaga-jaga agar Taehyung tidak masuk.

Taehyung terduduk di tepi ranjang dan melongo. Ia menggaruk kepalanya berkali-kali kemudian mengacak rambutnya dan wajahnya hingga tak berbentuk.

“Aku bisa gila.” Gerutunya lesu.

SKIP

Mijoo menyodor paksa helm yang tadi dipakainya kepada Taehyung. Taehyung yang terus berkata sabar dalam hati menerima helm Mijoo dengan senyum lebar layaknya idiot yang tidak punya masalah.

“Kalau bukan karena tidak ada bus lagi, aku tidak mau menaiki motormu.” Ucap Mijoo ketus.

Taehyung mengangguk-angguk, rasanya sedikit sakit saat Mijoo mengatakan itu.

“Ucapkan terimakasih, Joo.” Pinta Taehyung penuh harap.

Mijoo memutar bolamatanya jengah, “Gomawo.” Ucapnya asal dan tidak ikhlas.

“Kurang ikhlas. Coba lagi.” Goda Taehyung.

Mijoo berdecak kesal, “Gomawo, Kim Taehyung. Puas?” Ucapnya penuh penekanan. Mijoo segera berbailik dan hendak berjalan, namun tangannya segera dicegat Taehyung.

“Aish, apa lagi?” Tanya Mijoo kesal.

Taehyung merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut berwarna biru.

“Biarkan aku menjepit rambutmu.” Ucap Taehyung seraya menyampingkan poni panjang Mijoo dan menjepitnya. Mijoo hanya bisa bengong dan membeku.

Taehyung tersenyum sumringah, “Kalau seperti ini, kau tidak kerepotan lagi dengan rambutmu. Neomu yeoppo. Sangat cantik.” Pujinya tulus.

Mijoo mengerjap tiga kali dan berbalik kemudian kembali melanjutkan perjalan. Disepanjang koridor dan lorong sekolah Mijoo terus menyentuh jepit rambut biru itu. Ia yakin tidak ada riwayat penyakit jantung, tapi kenapa jantung itu terus berdetak kencang? Mijoo heran.

Sesampai di kelas Mijoo segera duduk di kursinya dan menetralkan nafasnya yang sempat tidak teratur.

“Ada apa denganmu?” Tanya Eunha, teman sebangkunya yang bingung melihatnya.

Mijoo tidak menyahut dan memilih menopang dagunya dengan kedua tangan.

Eunha mengendikkan bahu dan melihat pintu keluar. Ia mengernyit bingung.

“Kau sendirian? Mana Taehyung?” Tanya Eunha lagi. Ia tidak akan lupa saat-saat Mijoo dan Taehyung mempertontonkan kemesraan mereka di sekolah. Dan.. berpelukan di depan kelas Mijoo? Semua itu membuat gadis-gadis di sekolah ini iri pada Mijoo.

Mijoo menghela nafas singkat, “Sudah mati!” Jawabnya ketus.

Eunha menutup mulutnya refleks karena terkejut, “Sudah mati?” Ulangnya.

“Apa? Sudah mati?” Siswi disamping Eunha menimpali, gadis bernama Choi Hyesun.

“Taehyung sudah mati? Itu artinya…” Seseorang disamping Hyesun juga menimpali, Jeon Mira namanya.

“Itu artinya dia.. Kya!!” Lalu mereka berdua berteriak histeris.

Mijoo menutup kedua telinganya karena suara berisik itu mengganggunya.

“Mijoo, maksudmu, apa kau putus dengan Taehyung?” Tanya kedua gadis itu yang entah sejak kapan sudah berada di depan Mijoo.

Mijoo melongo dan menaikkan kedua alisnya terkejut. Memangnya sejak kapan aku berpacaran dengan Taehyung? Batinnya.

“Mwoya?! Kenapa kau tidak menjawab, eoh? Jawablah!” Paksa Hyesun seraya menggebrak meja Mijoo.

“Aish.. Kalian ini bicara apa? Sudahlah jangan ganggu aku!” Seru Mijoo marah karena terusik.

“Setidaknya jawab pertanyaan kami.” Tegas Mira seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.

Mijoo berdecak dan menatap kedua orang itu tajam, “Kalau benar begitu, kenapa? Pergi! Jangan ganggu aku! Kalian berisik sekali.” Omelnya.

“Mwo?!” Eunha terbelalak kaget.

Kedua gadis itu bersorak gembira dan berjoget-joget lalu kembali ke tempat mereka semula.

Mijoo menghela nafas panjang. Sebenarnya ia tidak mengerti apa yang dimaksud kedua orang itu, dan ia memilih menjawab seperti itu agar kedua orang itu tidak mengganggunya.

“Mijoo, kau bercanda ‘kan?” Tanya Eunha tak percaya.

“Anio.” Jawab Mijoo seraya memandang ke luar jendela.

Eunha menampar pipinya pelan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Mijoo putus dengan Taehyung? Ini bisa jadi berita besar. Batin Eunha.

.

.

.

Taehyung berusaha mati-matian menahan malu di depan teman-teman sekelasnya. Telinga merah padam Taehyung menjadi bahan olok-olokan di kelas itu.

“Yak! Taehyung, apakah itu bekas ciuman?” Tanya Namjoon disambut tawa kerasnya.

Taehyung menggertakkan giginya dan menatap Namjoon dengan sinis.

“Jangan seperti itu padanya, kawan. Mungkin ia memakai lipstick di telinganya sebelum ke sekolah.” Timpal Jimin kemudian tertawa terpingkal-pingkal.

Taehyung hendak bangkit dari tempat duduknya, tetapi ia segera ditahan oleh teman sebangkunya. Sungguh, Taehyung tidak pernah menjadi bahan olok-olokan seperti ini kecuali dengan Namjoon dan Park Jimin.

SKIP

Saat istirahat, Mijoo ke toilet wanita. Ia bercermin di cermin besar dekat wastafel. Ia menyentuh jepit rambut biru yang diberikan Taehyung tadi pagi. Mijoo teringat pujian dan senyum yang Taehyung berikan padanya. Dan tanpa sadar, Mijoo senyum-senyum sendiri. Ketika ia sadar, ia menggeleng cepat kepalanya dan menepuk-nepuk kedua pipi tembamnya.

“Sadarlah Mijoo! Itu tidak mungkin. Ini hanya perasaan seorang gadis yang mudah luluh. Aku tidak boleh tertipu.” Gumamnya meyakinkan diri sendiri.

Kemudian Mijoo keluar toilet dan berjalan di lorong sekolah. Ia merogoh kedua sakunya dan menggembungkan pipinya, merasa sedikit bosan. Apakah tidak ada yang menarik di sekolah ini? Batinnya seray melihat kanan dan kiri.

Melihat pemandangan sekolah membuat Mijoo tidak fokus pada arah jalannya dan tanpa sadar, ia menabrak seseorang yang tengah bermain ponsel yang berlawanan arah darinya.

“Akh!” Pekik Mijoo seraya menyentuh keningnya yang bertabrakan dengan bahu seseorang itu.

“Omo! Maaf aku tidak sengaja. Gwaenchana?” Tanya seseorang itu panik.

Mijoo mengangkat kepalanya dan menatap seseorang itu, “Gwaencha-” Kalimatnya terputus.

“Aigoo.. Tampan sekali.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] My Wife’s Amnesia? – (Chapter 3)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s