[BTS FF Freelance] So That I love You – (Chapter 1)

so-that-i-love-you

SO THAT I  LOVE YOU
Chapter 1

Author : Rhifaery

Main Cast :  Jeun Jungkook , Choi Yewon and member BTs

Genre : School Life, Comedy

Rate : PG 15

Desclimer : The character in this story is not mine. BUT, the ideas and the story it self are

              MINE

23th March 2013. Bangtan’s Dorm, Seoul..

“Mwo? Sekolah? Aku tidak mau Hyung!” Tukas Jungkook  cepat. Begitu kata tolakan itu keluar dari mulutnya,  tak perlu waktu lama untuk mengambil kembali ponselnya dan melanjutnya permainan game favoritnya.

Pria jangkung bermata topaz itu tak tinggal diam. Kembali di rebutnya ponsel itu hanya supaya anak asuhnya mendengarkan ucapannya.   “Kalau kau tidak mau sekolah, sama saja artinya kau membenarkan artikel tersebut!”

“Hyung, itu terlalu jelas. Seharusnya kau suruh saja penulis artikelnya sekolah agar dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”

Pria bernama Bang Shihyuk itu menghela nafas panjang, “Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, kau itu belum lulus SMA, sudah  jadi kewajibanmu untuk meneruskannya hingga lulus!”

“Tak bisakah aku mengikuti progam home scholling saja?”  Masih tak mau kalah, Jeun Jungkook terus menyelah  tanpa sedikit pun menatap pria yang sudah tiga tahun  menjadi manajernya itu.

“Media tidak akan percaya jika mereka belum melihatnya sendiri!”

“Buat apa memikirkan media, mereka hanya memikirkan kelemahan-kelemahanku  menjadikannya bahan menarik perbincangan mereka!”

“Aisshh kau ini. Kim Nam-Yeon, tolong kau beri nasehat anak buahmu  ini, aku sudah lelah membujuknya!” Shihyuk beranjak meninggalkan  Jungkook, sebagai gantinya dia memerintahkan Sang Leader BTS untuk membujuk maknaenya tersebut.

Lantas pria berpenampilan sangar -Kim Nam-Yeon- segera melepas I-phone yang sedari tadi menempel di telinganya. Omelan manajer  itu benar-benar mengganggu jadwal istirahatnya. Sebuah tindakan bodoh jika dia memaksa Jungkook melakukan sebuah hal. Karena maknae satu ini tidak akan meneruti omongan siapapun kecuali dirinya.

“Baca artikel ini…- Dia merampas ponsel Jungkook, sebagai gantinya dia memberikan ponselnya yang sudah tersambung pada sebuah laman.

“Jika kau baca artikel itu, kau akan tahu bahwa 79% idol Korea benar-benar memiliki IQ di bawah rata-rata. Itu karena kebanyakan dari mereka mengesampingkan pendidikan sekolah demi alasan popularitas saja.”

Perkataan Nam-Yeon sukses menarik perhatian semua yang ada di ruangan itu. Lima member yang tadinya sibuk melakukan aktifitas pribadi kini menjadi teralihkan dengan duduk mengerumuni Jungkook.

“Benar-benar menyedihkan. Fans akan kecewa jika salah  satu anggota kitaada  yang terbukti belum lulus SMA.” Park Jimin, pria paling pendek yang berposisi sama dengannya   –main vocal- angkat suara.

“Hei Jeun Jungkook… – Kali ini JungHo seorang main dancer grup angkat suara “Apa kau tidak malu, di sini hanya kau yang belum lulus SMA. Itulah sebabnya IQ-mu sangat rendah dan itu membuktikan kau yang terbodoh disini.”

“Hyung, aku tidak bodoh!” Tukasnya sedikit kesal

“Tentu saja kau bodoh. Tidak ada orang sebodoh dirimu yang menolak untuk kembali ke sekolah.”

Lagi-lagi Jungkook mendengus pasrah. Hyung-hyungnya ini sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkannya saat dia kembali ke sekolah. Dia lantas beranjak dari shofa, memposisikan dirinya sebaik mungkin dan bersiap menyampaikan kegundahan hatinya.

“Sekolah itu melelahkan Hyung, kau tahu kan betapa padatnya schedule kita  kali ini. Konser, latihan, fan meeting , syuting iklan, photoshoot majalah belum lagi persiapan kita untuk come back dengan album baru. Aku bukan bukan seorang robot yang bisa melakukan semua kegiatan itu ditambah lagi dengan semua tugas sekolah nantinya. Itu melelahkan.”

Semua terpaku mendengar pernyataannya. Bahwa yang sebenarnya adalah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Nam-Yeon saja sampai harus menghela nafas panjang. Pertanda bahwa dia tak bisa membujuk lebih banyak dari apa yang manajer harapkan.

 “Hahaha… Jeun Jungkook imajinasimu terlalu tinggi. Kita ini bukan robot, tapi kita adalah alien.” Kim Taehyun atau yang biasa di sapa V, menyelah tanpa memberi solusi. Begitu tatapan-tatapan mata itu menghujamnya seolah mengatakan – bukan waktunya untuk bercanda- V segera memperbaiki kata-katanya.

“Kau tahu  kan semua alien pandai-pandai, jadi kau harus sekolah, okey.” Sambungnya yang semakin tidak beres.

Menyadari situasi yang begitu rumit, menejer Bang Shihyukkembali mendekat ke arah mereka. Di tepuknya punggung Jungkook pelan seolah dia tahu semua kegundahan hatinya. Bukan hanya Jungkook saja yang dia perhatikan. Keenam member lainnya, Kim Namyeon, SeokJin Ah, JungHo Seok, Min Yoongi, Park Jimin dan juga Kim Taehyung adalah satu-satunya alasan mengapa dia berada disini. Sejak nama Bangtan Boys dibentuk empat tahun lalu, tak butuh waktu lama untuk menerbangkan sayap mereka di industri hiburan K-POP Korea. Album yang laris di pasaran, jumlah fans yang membludak tentunya itu hanya bisa di bayar dengan kerja keras.

“Kau tahu apa perbedaanmu dengan robot?” Manajer mulai bertanya.

“Dia manusia dan robot adalah mesin.” Potong Kim Taehyun tiba-tiba.

“Aku tidak bertanya padamu.” Tukas manajer agak kesal. Dia menatap kembali Jungkook.

“Jawabanku sama dengan Taehyun Hyung.” Sahut Jungkook yang semakin membuatnya frustasi. Sebuah keputusan yang sangat tepat jika dia harus mengirimkan Jungkook kembali bersekolah.

“Kita manusia bisa membuat robot sedangkan robot  tidak bisa membuat manusia. Jika kau berpikir dirimu robot, maka kau hanya perlu melakukan apa yang kau suka Jungkook-ah. Robot tidak mempunyai masa depan dan  tidak berkesempatan melakukan hal yang disukai, tapi kau, masa depanmu masih panjang apa jadinya jika kau tidak sekolah dan saat kau berhenti menjadi penyanyi?”

Keenam orang yang duduk mengililingi Jungkook mengangguk setuju. Ucapan menejernya ada benarnya juga. Sebuah kesalahan besar jika mereka menganggap panggung hiburan adalah segalah.

“Saat ini kau adalah seorang penyanyi, mempunyai banyak fans, juga dikenal oleh publik. Namun tidak seamanya kita bisa mengandalkan dunia hiburan. Akan jadi apa kita nanti, masa depan kalian terlalu panjang. Dan seorang idol, kalian bisa mengatakan bahwa itu adaah kesempatan.”

Jungkook menggigit bibir bawahnya perlahan. Memikirkan setiap kata demi kata yang keluar dari mulut manajernya ini. Kini kenam member plus satu menejernya menatap penuh harap padanya. Setelah mendapat nasehat panjang lebar keputusan tetaplah berada di tangannya.

“Masih tidak mau sekolah?” Tanya Jin, member tertua sekaligus visual member.

 “Oh came on. Apa lagi yang perlu kau kawatirkan Jungkook-ah? Kau bisa mencari gadis-gadis cantik disana.” Min Yoongi atau yang biasa dipanggil Suga merangkulnya.

“Dan pastinya kau akan mendapat pesangon dari menejer hyung. Bukankah begitu hyung?” Timpal Jungho.

Menejer Hyung langsung memalingkan muka. Seolah-olah tak mendengar apa yang barusan anak asuhnya katakan. Tapi sejujurnya satu kalimat itulah uyang menjadikan Jungkook menjadi  tertarik.

“Benarkah itu Hyung?”

“Tentu saja, uang saku dari Manejer Hyung, ditambah tetua Seok Jin Hyung dan leader kita Kim Namyeon. Coba hitung berapa won yang kau dapat setiap harinya?”

“Hey, bocah tengil mengapa aku kau ikut-ikutkan!” Jin menjitak kepala JungHoo dengan keras disusul sebuah jiakan jua dari Sang  leader. Sekalipun usianya terlampau mudah dibanding JungHoo, dia tak segan-segan memberi pelajaran dari anak buahnya yang terlampau menyebalkan.

Jungkook tertawa melihat aksi lucu para Hyung-hyungnya ini. Namun satu pertanyaan terlintas lagi dalam kepalanya, “Bagaimana dengan semua tugas yang akan aku dapat nantinya, kegiatan fan meeting BTs, tentu aku tak dapat melewatkannya bukan?”

“,Kau tidak usah cemas masalah tugas, ada staff yang akan menanggani itu. Dan soal konser ataupun fan meeting tentunya pihak sekolah akan memberikan dispensasi untuk itu. Kau hanya perlu sekolah dan mencetak image baikmu dihadapan fans. Arraseo?”

Jungkook mengangguk setuju menyikapi penjelasan terakhir manajernya. Sebelum akhirnya dia berdiri dan beranjak ke kamarnya, “Baiklah aku akan memikirkannya lagi.”

Namun sesaat iapun teringat akan kalimat terakhir, “Dan pastikan kalian akan menyiapkan beberapa won untukk sebagai uang saku.!”

###

27th March 2013. Seoul Performing Art, Seoul..

Jeon Jungkook berdiri mematung di depan gerbang sebuah sekolah yang nantinya akan dia masuki. Tertulis tulisan besar, Seoul Performing Art, sebuah sekolah ternama yang dipilih oleh menejernya sendiri untuk melanjutkan pendidikan SMAnya yang sempat tertunda 2 tahun karena cuti. Dia sebenarnya belum yakin akan keputusannya kembali bersokolah. Teman baru yang dijumpainya pasti berusia lebih muda darinya dan yang lebih penting dia sangat khawatir jka ada fans yang akan mengejar-ngejarnya seperti kejadian 3 tahun silam sesaat posisinya menjadi seorang trainne.

“Apa yang sedang kau pikirkan, kau sudah cukup tampan untuk berangkat ke sekolah.” Ujar Jin Hyung.

Pagi ini dia telah memasakan sarapan untuknya, menyiapkan air panas juga beberapa kebutuhan sekolah termasuk seragamnya. Dia benar-benar tipikal seorang eomma. Berbeda dengan member-member yang lain. Mereka yang pada dasarnya ikut mengantar hari pertama sekolah Jungkook rupanya tidak benar-benar mengantar. Hanya sesaat ketika melihat sekumpulan gadis-gadis cantik, mereka akhirnya lebih memilih untuk tebar pesona dibanding mengurusi kegundahan hati Sang maknae.

“Hyung, bagaimana jika aku dikejar-kejar fans di sana?” Tanyanya khawatir.

“Kau ini bicara apa, sekolahmu adalah sekolah yang banyak dihuni oleh artis-artis, jadi tidak akan ada yang mengejarmu.” Jawabnya sembari menata rambut Jungkook yang sudah mulai berantakan.

“Aku merasa belum percaya diri masuk kesana, teman-temanku akan  lebih muda dan itu membuaatku merasa tidak naik kelas.”

“Hahaha…- SeokJin Hyung tertawa- “Itu masalahmu sendiri Jungkook-ah, kau harusnya sudah sekolah satu tahun yang lalu tapi kau memilih menundanya.”

Jungkook mendesah berat. Satu alasan yang ingin dia sampaikan adalah malas! Terbesit kenangan tiga tahun lalu dari ingatannya namun ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat agar Hyungnya itu tidak sampai menanyakan sesuatu padanya.

“Hyung, gomawo sudah membantuku mempersiapkan semuanya, tapi satu hal yang belum kau lakukan.”

“Wae?” Jin mengeryitkan wajah.

“Berikan aku uang saku.” Sesaat mengatakannya Jungkook memasang wajah yang sedemikian imut sehingga memungkinkan Jin akan menendangnya.

“Kau pikir aku benar-benar eomma-mu. Pakailah gajimu sebagai uang sakumu sendirinya.”

Jungkook mendengus kesal. Sudah ia duga hal ini akan terjadi. Tadi pagi manaejrnya berakting buru-buru supaya tidak sempat memberi uang saku padanya, Sang leader Rap Monster berpura-pura tak bawa dompet dan sekarang Seokjin Hyung berkata dengan sangat apa adanya.

“Ternyata kau benar-benar mirip eomma Hyung, selain perhatian kau juga pelit.” Ungkapnya langsung.

“Hey, Jeun Jungkook kemari lah, kita perlu mengabadikan moment ini.” Teriak Yonggi yang langsung membuat Jungkook dan Jin segera menuju ke sana.

“Siapa yang memotret?” Tanyanya.

“Aku sudah menyuruh gadis cantik itu untuk memonternya.” Ungkap Jimin.

“Baiklah, satu… dua… tiga KLIK!

“Bagus, tidak begitu buruk. Gomawo cantik.” Ungkap Jimin begitu melihat hasil fotonya. “Baiklah Jungkook-ah, ini adalah hari pertamamu sekolah, semoga beruntung.” Sambungnya merangkul Jungkook.

“Segera kenalkan pada kita jika kau menemukan gadis yang kau suka” Sambung Taehyun.

Mereka semua kompak merangkul Jungkook dan saling memberi ungkapan-ungkapan semangat. Sampai akhirnya Sang manajer datang memberitahukan bahwa sudah saatnya Jungkook masuk ke sekolahan itu sendiri. Dipandangnya mobil yang mengangkut  6 Hyung kesayangannya tersebut. Berangkat ke sekolah untuk pertama kali. Inilah bagian aneh dari hidupnya yang harus dijalaninya.

###

Pukul 08.00 lebih 5 menit. Bel tanda masuk berbunyi dan Jungkook masih terlantung di koridor sekolah mencari kelasnya. Manajernya  tadi memang keterlaluan. Harusnya dia pergi setelah mengantar Jungkook ke dalam  kelasnya. Tapi pria itu malah terburu-buru pergi dengan meninggalkan secarik kertas yang berisikan jadwal pelajaran. Tidak ada denah ruang kelasnya dan dia merasa masih malu untuk bertanya.

Syukurlah ada beberapa murid wanita yang berbaik hati mengantakan Jungkook menuju kelasnya. Walaupun pada akhirnya wanita itu meminta imbalan dengan pose foto dengannya.

Jungkook lalu beranjak duduk di bangku paling belakang yang notabennya itu bangku kosong karena tidak di duduki murid. Kedatangannya sukses mendapat perhatian beberapa murid yang ada di kelasnya.

“Lihatlah, bukankah itu salah satu personil BTS, kudengar dia bersekolah hanya untuk menepis artikel tersebut?” Ujar salah seorang murid laki-laki yang duduknya tak jauh darinya.

Laki-laki agak gempal yang duduk di sampingnya ikut menyelah, “Berani taruhan, dia tidak akan sanggup menyelesaikannya hingga lulus.”

Tak peduli dengan apa yang dibicarakan mereka, Jungkook mengeluarkan headseat dari tasnya, berniat menyumpal telinganya.

“Ya setidaknya dengan dia bersekolah, dia bisa membuktikan bahwa dia tak sekedar jual tampang namun juga pikiran.”  Sial…. ucapan laki-laki tengil itu masih juga terdengar.

“Kau bicara seperti itu karena memang tampangmu tak laku jual hahaha.”

Dalam hati Jungkook ikut tertawa mendengarnya. Mengingat badan laki-laki itu yang gempal dengan balutan lemak, tentu saja dia memang tidak layak debut. Jadi tidak seharusnya dia mencela orang sebelum mengaca pada diri sendiri.

Brakkk! Sebuah  kotak tiba-tiba tergeletak keras di mejanya. Belum sempat dia bertanya, seorang gadis menatapnya dengan berkacak pinggang. “Ibumu menitipkanku kue beras untukmu sebagai ungkapan hari pertamamu kembali ke sekolah.”

Jungkook terpaku sejenak. Menyadari siapa gadis yang sekarang ini ada di hadapannya. Saat memorynya berkutat, dia langsung teringat seseorang yang bukan sekedar teman melainkan lebih dari teman.

“Arin-ah,  kau sekolah disini juga?” Tanyanya sumringah. Respek kedua tangannya langsung memeluknya erat. Membuat seisi kelas gempar dengan tindakannya tersebut. Jungkook tak lagi peduli dengan semua reaksi itu. Pikirannya hanya terfokus pada satu orang yang mungkin saja bisa menyelamatkan di kleas ini. Dan dia juga menyadari betapa ia sangat merindukan orang itu.

Pelukan itu terlepas begitu saja sesaat menyadari gadis itu tak membalas pelukannya. Terlalu malu melakukannya di tempat terbuka. Sekali pun mereka berteman sudah begitu lama.

“Kau benar-benar membuatku kaget Arin-ah, apa kau di kelas ini juga dan sejak kapan kau menjadi tertarik dengan seni. Ternyata dunia benar-benar sempit.”

“Hentikan bicaramu bodoh, kau membuatku malu!” Ucarnya sedikit berbisik. Dari dulu sampai sekarang rupanya Jungkook masih orang yang sama. Cerewet.

Jungkook tersenyum manis. Jika Arin mengatakan dirinya cerewet maka Jungkook bisa saja mengatakan bahwa Arin adalah sosok pemalu. Dia mencubit pipinya gemas. Sesuatu yang jarang dilakukannya lagi karena kesibukannya.

 “Jadi, kenapa kau tak memberitahukan padaku kalau kau sekolah disini? Bahkan untuk menghubungiku saja kau sudah jarang, sekarang dimana tasmu? Mulai hari ini kau harus duduk denganku, aku sama sekali belum punya teman selain dirimu.” Diraihnya tas langsung dari punggung Arin dan di letakkan tepat di samping mejanya.

“Hey Jeun Jungkook… kembalikan  tas-ku!!!” Teriaknya. Dia menggapai-gapai tangan Jungkook yang memegang tasnya. Sialnya untuk kali ini, dia merasa kurang tinggi.

“Tidak mau… kau harus duduk denganku disini…”

“Aku tidak kelihatan jika di belakang.”

“Apanya yang tidak kelihatan, kau tinggal membuka mata!” Jungkook tersenyum menggoda. Tidak peduli dengan seisi kelas yang sudah jenuh dengan perbuatannya.

 “AKKHHH…. JEUN JUNGKOOK KAU KEMBALIII….!!!!”  Sebuah teriakan keras berasal dari pintu depan yang pemiliknya langsung membaur memeluk Jungkook erat seolah tak mau melepaskannya.

“Hey Hwang Nana, lepaskan aku…. Ughh kau berat!”

“Praaakk… apa maksudmu, berat badanku baru saja turun lima kilo dalam seminggu.” Gadis Hwang itu langsung memukulkan bukunya di kepala Jungkook.

“Ani, aku hanya bercanda, pisss…!” Katanya melambangkan angka V lewat jarinya.

Hwang Nana tersenyum lantas merangkul pundak Jungkook menuntunnya duduk di sampingnya. Mengabaikan Arin yang masih saja cemberut karena Jungkook menolak mengembalikan tasnya.

“Kau tahu, aku langsung menuju kemari begitu membaca berita di akun weibomu. Bagaimana kabarmu sekarang? Wahhh… kau semakin tampan, kita harus mengabadikan momen ini.” Nana mengeluarkan I-phone dari dalam tasnya.

“Hana, Dul Sit, Kimchi!!

Kriikk! Foto itu pun berhasil di ambil.

“Yewon-ah, aku ingin foto berdua saja dengannyam bisakah kau membantu?” Katanya pada Arin. Tanpa ragu, Arin lalu menerima I-Phone  itu dan mengambilkan gambar mereka berdua.

“Bagus sekali. Akan kutulis sebuah caption: Pertemuan kembali tiga sahabat yang sempat terpisah….”

“Tidak ada wajaku disana, bagaimana kau menuliskannya menjadi 3 sahabat?” Ujarnya sinis.

“Tak masalah, semua orang pasti tahu kalau kita adalah sahabat sejak SD dan tidak akan ada yang memisahkan persahabatan kita, bukankah begitu Jeun Jungkook?”

“Betul sekali!” Jungkook mengangguk setuju. Walaupun pernyataannya membuat Arin semakin kesal.  “Ayo kutraktir kalian makan, aku sangat merindukan kebersamaan kita selama ini.”

“Ani, kalian saja, sepertinya kelas akan dimulai sebentar lagi.”

“Hey, tak boleh menolak. Ini adalah hari-hari kembalinya 3 pahlawan perjuangan, bukankah seperti itu Hwang Nana?”

“Nde…” Nana lantas mendahului mereka berjalan ke arah kantin. Sekalipun dilihatnya Arin yang begitu malas meninggalkan bangkunya.

“Jeun Jungkook tak usah menarik seragamkuuu….”

###

“Wah… aku benar-benar tak percaya kau begitu banyak mengetahui soal BTS.” Jungkook berseru sambil melahap kimchi yang dipesannya. Disampingnya Nana sedang menggebu-gebu menjelaskan obsesinya tentang BTS. Entah itu hanya bualan biasa atau ada maksud tertentu didalamnya. Jungkook mengenal Nana sejak kecil, jadi tidak susah menebak apa yang saat ini menjadi wataknya.

“Harusnya kau juga percaya, bahwa sesaat melihat video debut pertamamu, aku langsung menraktir seluruh isi kelas menuju kantin.” Sambungnya. Dari sisinya Arin meliriknya dengan malas. Kemudian berseru.

“Yah, itu terjadi hanya hari libur, tidak banyak di kantin waktu itu.” Sebuah pernyataan yang menohok Nana. Disenggolnya Arin sedikit agar tidak perlu ikut campur dalam pembicaraannya kali ini.

Gwanchena Nana-shi, mendengarmu membicarakan soal BTS pun sudah membuatku senang.”

Ucapan yang langsung disambut anggukan setuju oleh Nana, “Nde, sekarang BTS sudah cukup terkenal, aku yakin seluruh Korea sudah pasti mengenalnya.”

“Yaaahh… tidak semua kecuali aku yang tidak mengenal anggota-anggotanya.” Arin berkata malas. Membuat kedua mata itu langsung menatap tajam ke arahnya.

“Kau mengenalnya hanya tidak mau mengakuinya.” Komentar Nana.

“Ya, aku memang mengenalnya barusan darimu.”

“Apa kau bercanda, bahkan di ponselmu tersimpan lagu-lagunya. Dia bahkan pernah berkata bahwa suarumu seperti malaikat Jungkook-ah.”

Mata Arin langsung melotot. Tidak, mana pernah dia mengatakan itu. Dia hanya mengatakan suara Jungkook bahwa bagus. Nana saja yang sengaja melebih-lebihkan untuk mempermalukan dirinya.

“Hahaha, memang tidak ada yang bisa menolak pesonaku Nana-yah.” Sambung Jungkok menaikkan kerah bajunya seolah-olah bahwa dirinyalah idol yang didambahkan para wanita.

“Berani bertaruh, dia pasti masih mengingat peristiwa tiga tahun lalu.”

“Akkhhh… hentikaaannn…!” Arin berteriak kalap. Mana mungkin dia hanya diam saat kedua temannya ini semakin membuatnya malu. “Apa kau tahu, aku sama sekali tidak punya hak untuk bicara sesuatu yang tidak penting seperti itu. aku ini seorang trainne.”

Uhuuukk Uhuukk. “Trainne? Kau seorang trainne?” Jungkook terbatuk lantaran terkejut.

“Dia baru saja menjadi trainne di sebuah agensi yang tidak terkenal.” Sambung Nana.

“MWO? Stidaknya aku dipilih tanpa melakukan audisi Nana-yah?”

“Ya, tapi akhirnya kau akan gagal debut  karena bakatmu tak sebanyak Jungkook-ssi, benar bukan?” Sambil mengatakan itu, Nana berkedip ke Jungkook. Menyatakan dia tidak benar-benar mengatakan itu. Namun reaksi Arin yang justru tidak pernah ia pikirkan. Dia berdiri dan mengambil gerakan seolah-olah mau mencekik Nana.

“HWANG NANA!!! Kau ini teman macam apa? Kau beharap aku tidak jadi debut?”

“Akkhh… Jeun Jungkook tolong aku!” Teriak Nana histeris. Arin benar-benar berusaha mencekiknya. Alih-alih dimintai pertolongan, Jungkook justru memilih agar pembicaraan ini menjadi lebih serius.

“Aishh sudah hentikan, Arin-ah, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau adalah seorang trainne, setahuku cita-citamu bukan seperti itu?”

“Mimpi kan boleh berubah, lagi pula kau juga tak pernah memberitahumu tentang grup boybandmu itu.” Pertanyaan itu sedikit menyudutkan Jungkook, mengingat bahwa semua yang dikatakan Arin adalah benar.

“Min…-

“YA! Mimpimu memang boleh berubah, tapi kelakuanmu sama sekali tak berubah. Harusnya kau bisa menahan sedikit emosimu itu mengingat bahwa kau adalah seorang trainne.”

“Hwang Nana, kau ini temanku apa bukan sih, kenapa kau selalu menjelek-jelekanku di depan orang ini.”

“Itu karena kau benar-benar berubah, Yewon-ah. Ucapanku benar kan?” Nana melempar ucapannya pada Jungkook dan disambut anggukan setuju.

“Ya, dia memang sedikit berubah.” Ujar Jungkook semakin membuat Arin sebal. Namun mendengar kata berikutnya membuat darah Arin seakan-akan berdesir, “Berubah sedikit cantik.”

DREEKK!

###

17.00 pm. Jungkook’s Home..

Arin tak habis pikir. Jeun Jungkook, dia menyebutnya cantik? Baiklah, mungkin dia akan bersikap biasa terhadap orang lain yang mengatakan begitu. Taejun dan Jisung teman pria sebangkunya juga sering menyebutnya begitu atau bahkan berterang-terangan menginginkan Arin menjadi kekasihnya. Kenyataan bahwa kalimat tolol itu keluar dari mulut Jungkook, sahabat kecil yang sekarang menjadi teman sekelasnya, membuatnya sedikit… aneh.

“Eomma, kau sedang membuat apa?” Pikirannya seketika teralihkan saat melihat eommanya yang sibuk mengeluarkan bahan makanan dari dalam  lemari es. Daripada dia terlihat tolol memikirkan hal seperti itu, Arin lebih memilih ikut melakukan apa yang dilakukan eomma.

“Tentu saja ttaebokki, masih banyak bahan yang tersedia dan tidak terpakai. Apa tadi kau memberikannya pada Jungkook?” Pertanyaan eomma lagi-lagi mengingatkannya pada hal tolol yang seharusnya tidak ia ingat.

Seisi rumah sudah cukup senang begitu mendapat kabar bahwa  Jungkook akan kembali bersekolah. Terlebih lagi jika sekolah itu adalah sekolah yang sama dengan Arin. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Eomma langsung membuatkan sekotak kue beras yang selama ini menjadi favorite Jungkook, dengan sebuah harapan agar anaknya itu lebih sering-sering pulang ke rumahnya sendiri.

Nde, dia bahkan tidak menyentuhnya atau sekedar mengucapkan terima kasih. Benar-benar anak kurang ajar bukan?” Sinisnya.

“Dia mungkin ingin memakannya di dorm bersama Hyung-hyungnya.” Eommanya tetap membela karena memang itulah kebiasaan anak laki-lakinya jika sudah pulang maka ia ingin dibuatkan kue beras untuk dimakan bersama para hyungnya.

“Heii, apa yang kau lakukan, nanti tanganmu kotor?” Eomma memekik melihat tangan Arin yang menyentuh adonan tepung.

“Eomma, aku hanya ingin membantu.”

“Eomma tidak membutuhkan bantuan sayang, cepat pergilah ke kamar. Kau pasti capek setelah pulang sekolah. Jika ayahmu pulang, nanti biar eomma bangunkan.”

Arin menghela napas sebal. Perempuan yang ia panggil eomma itu, selalu melarangnya mengerjakan sesuatu sehingga dia merasa seperti tamu. Semenjak kepergian eomma kandungnya 15 tahun silam, Arin sudah menganggap Nyonya Jeun sebagai eommanya sendiri. Walaupun pada kenyataannya beliau adalah ibu dari sahabat kecilnya Jeun Jungkook.

Kesibukan ayahnya membuatnya lebih sering kemari dibanding menghabiskan waktu di rumah sendiri. Hal serupa juga didukung oleh Nyonya Jeun yang merasa kehilangan putranya akibat kesibukannya di industri hiburan. Tak jarang Arin dan Jungkook bertemu di tempat sama. Sedikit mengobrol tentang kabar walaupun akhirnya waktu menyadarkan mereka dan mengharuskan Jungkook menjalani aktivitas awal.

Arin pun berjalan memasuki kamarnya. Sebuah tempat yang sebenarnya sudah keluarga Jeun siapkan untuk dirinya perlukan apabila akan menginap. Hingga sesaat dia melihat satu kamar disampingnya yang terbuka lebar. Kamar Jungkook.

Ekspektasinya terlalu tinggi untuk mengira bahwa Jungkook akan pulang hari ini. Nyatanya kamar ini baru dibersihkan oleh pembantu, seperti runtinitas setiap minggunya.

Perlahan, ia pun melangkahkan kaki ke dalam. Ruangan yang sama dengan warna cat yang sama pula. Inilah tempat yang menjadi saksi akan dunia masa kecilnya. Bermain puzle seharian atau menyusu lego yang menjadi permainan favorite Jungkook. Kadang jika ia kecapekan, ia akan tertidur di dalamnya sampai ayahnya bingung mencarinya.

Sulit menyakini bahwa waktu terlalu cepat berubah. Lantas ia mengambil boneka alien yang tergeletak di depannya. Hadiah ulang tahun yang Arin berikan saat usianya 10 tahun. Arin tersenyum sendiri mengenang betapa susahnya  ia mencarikan Jungkook boneka itu. Hanya untuk membelinya saja, ayahnya harus turun tangan memesankan ke pembuat boneka terkenal se Korea, lengkap dengan ukuran, warna ataupun model yang diinginkan Jungkook.

“Cita-citaku adalah ingin menangkap para alien yang merusak bumi?” Begitulah celoteh Jungkook kecil. Arin yang masih polos hanya bisa bertanya, “Memangnya kau tahu wajah alien?”

Jungkook mengangguk, “Dia kecil, berwarna hijau, bermata tiga, punya kepala lonjong sekaligus punya banyak tangan seperti cumi.” Maka sejak saat itu, Arin menyimpan pernyataan itu dalam-dalam dan memberikannya dalam bentuk boneka. Bukan main, Jungkook sangat senang menerima hadiah itu. Menganggap Arinlah seorang rekan yang bisa membantunya menangkap alien.

Secuail dari kenangan masa lalu itu ia tinggalkan sebagai gantinya ia menatap sebuah pigora, berisikan tujuh orang laki-laki termasuk Jungkook di dalamnya. Jadi inikah yang namanya BTS? Arin tidak benar-benar mengenalknya, hanya saja ia tak mau mengenal sebelum Jungkook sendirilah yang mengenalkannya pada Arin. Apalah arti pertemanannya selama sepuluh tahun, jika hal seperti ini saja Arin yang harus mencarinya sendiri. Seperti Nana.

Tepat pada samping foto itu, ada pula foto dirinya dan Jungkook semasa kecil. Foto mereka saat menghadiri acara ulang tahun salah satu temannya. Benar-benar sialan, karena Jungkook menaruhnya pada bingkai berbentuk monyet. Padahal dia sangat tahu bahwa Arin sangat membenci hewan tersebut.

Diantara semua benda-benda itu, satu hal yang menarik perhatiannya adalah sebuah batu. Yang ia sisipkan pada bingkai foto itu. Agak tersenyum, Arinpun akhirnya mengambil batu itu. Bnear-benar totol karena seorang Jeun Jungkook masih percaya dengan bualannya semasa kecil. Dia perhatikan detail bentuk batu itu, kecil, bulat dan hitam. Ia dekatkan di dada tepat dalam hatinya dan ia pun berdoa….

“Apa yang kau lakukan disini?” Sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya. Membuatnya terlonjak tak percaya dengan sosok yang ada di depannya.

“Tidak apa-apa.” Ucapnya ragu dengan memandang lurus ke laki-laki yang saat ini ada di dekatnya. Betapa cepat tuhan mengabulkan permintaannya.

“Apa yang ada di tanganmu itu, coba kulihat?”

Segera Arin menggelak saat Jungkook menanyakan isi tangannya, “Aniyo, tidak ada apa-apa?”

“Aku tadi melihatmu memegang sesuatu, sini biar kulihat?”

“Sudah kubilang tidak ada- WAAA! APA YANG KAU LAKUKAN?”

“Memberimu pelajaran!”

Jungkook menarik tangan Arin cukup kencang sehingga sukses membuat tubuh gadis itu membelakanginya. Sambil tertawa jahil Jungkook menahan tubuh Arin dengan kedua tangannya dan langsung menggeletiki pangkal pinggangnya dengan cukup kencang. Arin pun menggeliat kegelian sambil berusaha melepaskan diri dari Jungkook.

“Ah, ah, ah andwaeee, hentikan  Jeun Jungkook, ini geli Hahaha?”

Bersamaan itu, Jungkook akhirnya bisa merebut benda itu dari tangan Arin. Sebuah batu. Ia hanya memandangnya sekilas dan meletakkan kembali di tempatnya.

 “Kau memberikannya padaku, mengapa kau mengambilnya kembali?” Ujarnya berbaring di atas tempat tidur. Kedua tangannya terlipat dijadikan bantal yang menumpu kepalanya. Baru ia sadari bahwa Jungkook memakai boxer pendek selutut dan sleeveless hitam polos. Memperlihatkan otot-otot bisepnya yang kini mulai terlihat.

“Aku hanya tak percaya kau masih menyimpannya?” Jawabnya seadanya. “Oh iya, ada PR yang harus aku kerjakan, aku ke kamar dulu bye…”

“Tunggu!” Tangan kekar itu tiba-tiba menahan tangannya. Sementara tangan satunya sibuk mencari isi dari dalam laci kamarnya. Begitu sesuatu itu sudah ia temukan, ia pun lantas memberinya pada Arin, “Ini untukmu.”

Sebuah album BTS kini sudah berada di tangannya. Adalah sesuatu yang selama ini diinginkan untuk didapatkannya.

 “Minhae karena tidak memberikannya dari awal. Kau tahu dua bulan belakangan ini jadwalku sangat sibuk. Bahkan untuk bertemu denganmu atau pulang ke rumah pun terkesan jarang. Namun sekarang ini aku ingin memberi tahumu bahwa usahaku tidak sia-sia. Semua rasa lelah, capek, letih, rindu semuanya akan tertuang disini. Dan aku ingin kau mendengarkannya.”

Arin mendengarnya dengan seksama untaian panjang Jungkook. Mau bagaimana lagi, keinginannya selama ini sudah tersampaikan dan dianggapnya cukup. Bibirnya membentuk kurva senyum tipis yang dia persembahkan padanya, “Gomawo. Aku akan mendengarkannya mulai sekarang, menghafal liriknya, dari fakta profil semua akan kuhafalkan dalam waktu semalam.”

“Shireo? Apa ini sama saja dengan pengakuan seorang fans?”

“Apa? Tentu saja tidak bodoh. Bukankah sebagai sahabat kita harus saling mendukung?”

“Seorang fans kan juga sama-sama mendukung?”

“Hey, kukira hanya kau saja yang ada di BTS. Biar kulihat, ada Rap Monster, Suga, J-Hope, Jimin, V dan hey, siapa Si Tampan ini? Jin? Ya aku menyukai Jin, habisnya dia tampan sekali, bolehkah aku minta nomor teleponnya?” Arin berkata sambil membaca sampul depan DVDnya.

“Tentu saja tidak. Hentikan, kau semakin mirip Nana.” Cecar Jungkook. Sedikit terheran-heran, apakah setiap wanita akan begini ketika melihat pria tampan?

“Ayolah, Jeun Jungkook. Kenalkan aku padanya, apa kau cemburu karena tak memiliki wajah setampan dia?”

“Sudah diamlah!”

###

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] So That I love You – (Chapter 1)

  1. thor perasaan nama rapmon KIM NAM JOON kok
    kim nam yeon sih

    fighting!!
    good luck saranghae taetae oppa
    army
    lanjut jngan lama2

    Like

  2. Salam kenal author !
    Wuuaaahhhhh !!! Ini ff-nya seru deh. Tapi masih ada typo-nya thor, dan aku rada ngerasa aneh baca nama member bts di awal cerita.
    Tapi tetep semangat ya authornim untuk ngelanjutin ff ini.

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s