[Chapter 5] The Throne of Orient: Letter of Truth

the-throne-of-orient-copy

The Throne of Orient

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Suga as Fyre, Jimin as Alven, Jungkook as Devin, J-Hope as Hale, VIXX’s Leo and OC’s Aleta

with VIXX’s Ravi as Xavier 

Chaptered | Kingdom!AU, Friendship, Life, Romance | 13

previous: Prologue | #1: Fall and Feud #2: At Stake | #3: Grip of Guilt | #4: Chaos and Chance

.

Ketika saatnya tiba, maka aku akan dengan yakin menyatakan bahwa aku berada di sisi kalian.

.

.

Letter of Truth

.

.

“Apa tidak ada informasi lain yang kalian tahu?”

Berdiri di tengah alun-alun Orient, Devin dan Alven mengedarkan pandang ke sekeliling. Menatap warga yang berkumpul membentuk lingkaran—para pendatang dari Cumblerton serta penduduk Orient yang dipenuhi oleh kuriositas. Ekspresi khawatir tampak di rupa mereka, tampak jelas bahwa warga sedang berusaha mencari tahu alasan di balik kemunculan dua aide kerajaan yang begitu mendadak.

“Apa Cumblerton akan melakukan sesuatu?” Seorang pemuda yang berambut cepak dan berbadan tegap memberanikan diri untuk balik bertanya, mewakili yang lain. “Ataukah keluarga kerajaan hanya ingin mengusir kami yang datang dari Cumblerton setelah mengetahui alasan sebenarnya?”

Devin tampak terkejut menerima pertanyaan itu, bibirnya seketika terkatup rapat. Sebagai aide, ia tahu benar bahwa membongkar urusan serta masalah yang dialami oleh kerajaan—khususnya Pangeran Fyre—saat ini adalah suatu hal yang tak boleh dilakukan. Membangkitkan kepanikan rakyat jelas bukan jawaban, tetapi jika ia diam saja….

“Orient telah berjanji untuk melindungi setiap orang yang berada di tanah ini.” Akhirnya Alven memberi jawaban, menegakkan tubuh selagi ia menatap si penanya dengan sorot yakin. “Baik Raja Fielbert, Pangeran Fyre, maupun anggota kerajaan yang lain—kami semua telah berjanji untuk tidak melakukan tindakan apa pun yang merugikan. Kalian yang sudah lama berada di Orient, bukankah kalian tahu bagaimana hukum di kerajaan ini dijalankan?”

Kalimat Alven tersebut tampaknya tepat sasaran, lantaran tak seorang warga pun memiliki niat untuk membantah. Alih-alih, beberapa dari mereka malah bergumam membenarkan. Teringat bagaimana raja selalu berusaha untuk mengumumkan tiap keputusan yang dibuatnya pada rakyat, bagaimana setiap pelaku kejahatan diadili tanpa memedulikan status atau kekayaan.

“Baiklah, kalian tidak akan mengusir kami.” Sang lelaki akhirnya berkata, tapi jelas bahwa ia masih belum puas. “Kalau begitu, apa tujuan kalian mengumpulkan informasi mengenai Cumblerton dari kami yang melarikan diri, hah? Haruskah kami percaya bahwa semuanya baik-baik saja dan tak ada masalah yang sedang terjadi?”

“Kalau kalian memilih untuk datang ke Orient, bukankah itu artinya kesetiaan kalian sekarang ada pada kerajaan ini?” Devin menyambar, melangkah ke depan Alven dan memasang raut tak suka. “Dan jaga bicaramu! Kau boleh berbicara semaunya padaku, tapi kau tidak seharusnya memperlakukan Alven—“

“Tidak apa-apa, Devin.” Alven buru-buru menyela, mendorong tubuh si aide kedua sekaligus kawannya itu untuk bergerak ke samping. “Sungguh, kurasa mereka juga berhak tahu.”

“Tapi—“

“Percayalah padaku.”

“Mereka sudah berlaku tidak sopan pada—“

“Apa yang berhak kami ketahui?” Si lelaki berambut cepak kembali buka suara, menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Sejauh ini, kalian sudah tahu betapa kotornya pemerintahan Cumblerton yang baru serta betapa tingginya pajak serta upeti yang diterapkan. Kami memilih untuk pindah. Kami sudah menceritakan itu, tapi kalian masih menginginkan informasi lain.”

“Jadi, memang ada informasi lain.”

“Aku akan menyebutnya rumor,” balas si lelaki. “Dan sebelum kau menuduhku, aku akan menyatakan lebih dulu bahwa kesetiaanku berada di Orient.”

“Tentu saja.” Alven bergerak maju selangkah, mengangguk paham. “Aku juga berpikir bahwa akan lebih baik untuk mengungkapkan ini pada warga. Kalian berhak tahu.”

“Katakan dan aku akan menjelaskan rumor yang terakhir kudengar beredar di Cumblerton—tepat sebelum aku pindah kemari.”

Alven menarik napas panjang. Memandang warga yang berkerumun sekali lagi, sebelum akhirnya menyatakan sebagian dari masalah yang sedang mereka hadapi. “Cumblerton ingin memperbarui perjanjian kerja sama mereka dengan Orient. Dan untuk itu, kami membutuhkan apa saja yang bisa membantu Orient untuk memenangkan negosiasi ini. Raja Cumblerton yang baru… well, kurasa kalian para pendatang sudah bisa menilai sendiri bagaimana sikapnya, bukan?”

Sebagian dari kebenaran, pikir Alven, diam-diam mengulum senyum saat ia mengingat perkataan Aleta dulu. Warga hanya butuh itu, satu trik untuk mendapat kepercayaan mereka tanpa memperbesar masalah.

Dan Alven sukses mempraktekkannya.

Ia bisa melihat bagaimana sedikit kecemasan kembali menghiasi ekspresi orang-orang yang berkerumun, tapi itu bukan segalanya. Alven juga bisa merasakan kepercayaan yang menguar dari sana, harapan bahwa pihak kerajaan akan menyelesaikan masalah ini dan melakukan yang terbaik demi Orient.

“Giliranmu.” Devin mengingatkan, mengedikkan kepalanya ke arah si lelaki. “Rumor apa yang kau maksud?”

“Apa kalian sudah tahu bahwa raja terdahulu dan pangeran pertama kami mati dalam kerusuhan?” Si lelaki memulai, menyatakan fakta yang sudah didengar oleh Alven dari Hale beberapa hari lalu. “Well, rumor beredar bahwa kematian itu disengaja. Bahwa Raja Lyndon-lah yang membunuh mereka.”

“Kau serius soal ini?”

Yang ditanya mengedikkan bahu. “Tak ada bukti kuat, itulah sebabnya dugaan itu tetap menjadi dugaan. Tapi….”

“Tapi?”

“Aku mendengar rumor lain. Tidak banyak warga yang tahu soal ini, bahkan aku merasa jika hanya aku sajalah yang tahu.”

Kali ini, lelaki tersebut sukses menarik atensi. Membuat gumam-gumam ingin tahu beredar di antara para warga, telinga terpasang siap untuk mendengarkan. Berita mengenai upeti dan pajak serta rumor bahwa Raja Lyndon adalah dalang kerusuhan memang bukan hal baru, tetapi yang ini….

“Kabarnya, kerusuhan itu bukanlah akhir bagi si pangeran pertama,” ucap si lelaki, sementara semua orang menahan kesiap mereka. “Karena aku sempat mendengar bahwa pangeran pertama Cumblerton masih hidup….”

Pekik kaget sekarang terdengar jelas.

“…dan ia sedang bersiap untuk membalas perlakuan saudaranya.”

.

-o-

.

“Lima hari. Aku hanya punya lima hari—ralat, empat setengah hari karena ini sudah menjelang siang.”

“Fyre….”

“Semua informasi itu tidak cukup, Aleta.” Fyre mendesah keras, kembali berjalan mondar-mandir di perpustakaan kerajaan. “Kita memang sudah mendapat sedikit informasi mengenai keburukan Lyndon, tapi hanya itu yang didapat Alven dan Devin, kan? Bukannya aku menyalahkan—aku tahu mereka sudah bekerja keras selama beberapa hari terakhir—tapi kita semua tahu kalau itu tidak cukup. Lalu rumor itu? Apa yang bisa kita dapatkan dari kabar yang bahkan belum jelas?”

“Kita akan memikirkannya, Fyre. Apa yang harus kita ucapkan saat berhadapan dengan Raja Lyndon dan sekutunya nanti—“

“Bahkan ayahku pun berkata jika semua ini tidak cukup untuk mengalahkan Lyndon berengsek itu!” Fyre masih melanjutkan racauannya, mengacak-acak rambut dengan frustrasi. Sebelah tangan menyambar perkamen dari atas meja, mengibas-ngibaskannya penuh amarah. “Lihat! Mereka sudah mengirim pesan lagi, berkata jika mereka akan datang ke Orient tepat pada hari keempat belas besok! Itu kurang dari seminggu, Aleta! Aku tidak bisa… aku….”

“Fyre, dengarkan aku….”

Fyre menggelengkan kepalanya cepat. “Aku tidak mau melihatmu terluka, Aleta. Kamu tahu itu, kan? Aku tidak mau, oke?! Aku tidak bisa membayangkan melihat Cumblerton menginjakkan kaki di kerajaan ini, memaksaku untuk setuju pada perjanjian, kemudian mengusirmu dari istana. Aku… aku…..”

Aleta langsung bangkit berdiri dari sofa biru tempatnya duduk, menghampiri Fyre yang sekarang menyandarkan punggung pada rak buku terdekat. Tanpa sengaja menjatuhkan beberapa buku serta gulungan perkamen, selagi kedua tangannya berusaha untuk mencari pegangan. Napasnya terengah, dan Aleta bisa melihat bagaimana kepanikan itu menguasai diri sang pangeran Orient.

“Fyre….” Aleta kembali memulai, perlahan mengulurkan sebelah tangannya untuk menangkup pipi sang lelaki. Mengusapnya dengan gerakan menenangkan, memohon agar Fyre mau menatap matanya dan mendengarkan ia sejenak. “Fyre, kita akan mencari jalan keluarnya.”

Satu gelengan diberikan oleh Fyre, lemah dan tak bersemangat. “B-bagaimana jika aku….”

“Kamu tidak sendirian, kamu tahu?” Aleta melanjutkan, kali ini membiarkan kedua lengannya menarik tubuh Fyre mendekat. Tanpa banyak kata meminjamkan bahunya sebagai tempat bersandar bagi lelaki itu, membiarkan Fyre menyembunyikan wajahnya di sana selagi isakan pelan mulai terdengar.

Sang putra mahkota, yang selama ini menutupi semua kegelisahannya dengan amarah dan perintah, kini telah membuang semua topeng yang ia kenakan.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Fyre,” ucap Aleta dalam bisikan, membiarkan suaranya berpadu dengan sedu sedan yang masih belum berhenti. “Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pergi.”

“T-tapi….”

“Aku mengerti.” Aleta lekas memotong, jemarinya memainkan helai-helai rambut Fyre yang berada dalam dekapannya. Berharap agar ia bisa memberikan sedikit kenyaman, berharap agar ia bisa meredakan badai yang berkecamuk di dalam sana. Ia harus bisa melakukannya; harus karena Fyre hanya menunjukkan sisi dirinya yang ini, semua kelemahannya, di hadapan Aleta.

“Aleta….”

Hm?”

“K-kenapa….” Fyre masih membiarkan air matanya mengalir, membasahi bahu Aleta. “K… kenapa aku harus menjadi seorang pangeran, Aleta?”

Tanya itu lirih, tapi Aleta bisa mendengarnya dengan jelas. Rasanya bagai dilempar ke masa beberapa tahun silam, ketika Fyre tak henti-hentinya mengeluh dan sering menghabiskan waktu dengan mengkhayalkan jalan hidup lain yang tak akan pernah bisa digapainya. Aleta sudah sering mendengarnya, akrab dengan semua kata-kata itu, dan ia tak bisa menyalahkan Fyre. Namun, sekarang….

Aku lebih suka mendengarmu mengeluh dan mengomel, Fyre, batin Aleta berkata, lantaran dirinya tak mampu memberikan jawaban lisan. Bukan yang seperti ini.

Ya, bukan yang seperti ini.

Fyre yang ini adalah Fyre yang telah menerima takdirnya sebagai seorang pangeran, yang tahu bahwa masa depan Orient adalah beban yang harus ditanggung pundaknya. Fyre tahu itu, dan sikap pasrahnya inilah yang terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan apa pun juga. Tak akan ada yang bisa memberikan jawaban untuk tanyanya, tak akan ada yang bisa memberikan janji bahwa ia dapat kabur dari takdir. Bahkan Aleta sekalipun hanya mampu bungkam, tangan beralih mengelus punggung Fyre seraya benak memanjatkan harap.

“Maafkan aku,” bisik Aleta setelah beberapa menit berlalu, jemari bergerak mengusap air mata yang menghiasi wajah Fyre selagi sang lelaki menarik diri. “Maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa, Fyre.”

“Aku….”

“Dan kamu tidak perlu minta maaf padaku,” lanjut Aleta, mengulas senyum untuk memastikan agar dirinya tak ikut mendengar permintaan maaf dan penyesalan Fyre. “Kamu hanya butuh istirahat, itu saja. Istirahatlah sejenak, dan aku akan memberitahumu jika ada kabar baru.”

“Aleta….”

“Sesekali, menurutlah pada saran penasihat kerajaan, oke?” Aleta memaksakan tawa, menautkan jemari mereka seraya ia menarik Fyre keluar dari perpustakaan. Ia tak memberi Fyre pilihan lain, tidak karena ia tak ingin melihat sang pangeran kembali meracau seperti tadi dan berakhir menghancurkan diri sendiri.

“Apa kamu akan menemaniku?” Fyre tahu-tahu menggumamkan tanya, memecahkan keheningan saat mereka hampir tiba di kamar sang pangeran. Tangan menarik Aleta agar berhenti melangkah, sorotnya terlihat penuh harap sampai-sampai Aleta tidak tega untuk menolaknya. Bagaimana ia bisa, ketika sesungguhnya ia juga amat merindukan hari-hari normal mereka serta kehangatan yang diberikan sang lelaki?

“Aku….”

“Kamu juga butuh istirahat agar tidak sakit lagi, kan?” Fyre melanjutkan tanyanya, enggan menerima penolakan. Tindakan yang membuat Aleta seketika mengulum senyum, selagi ia mengikuti langkah Fyre ke dalam kamar. Sang pangeran baru saja menyatakan fakta, mengutip kata-kata herbalis istana yang setiap hari mengantarkan obat untuk Aleta. Memang benar jika gadis itu juga butuh istirahat, tetapi….

“Aku akan tetap di sini,” ujar Aleta akhirnya, tatap tertuju pada tumpukan perkamen, tinta, serta pena bulu yang ada di meja. “Kamu bisa istirahat, sementara aku—“

“Apa penasihat kerajaan tidak mau memenuhi perintah sang pangeran sekarang?”

“Fyre, ayolah… aku bisa—“

“Atau apakah kamu tidak mau memenuhi perintah lelaki yang akan menjadi pasangan hidupmu nanti?”

Aleta sontak tergeragap, tak bisa mengeluarkan jawaban. Pada hari-hari biasa, ia mungkin akan mendorong Fyre menjauh sementara lelaki itu menertawakannya. Tapi, ini berbeda. Fyre tidak mengucapkannya dengan nada bercanda atau menggoda—ia menyematkan nada putus asa dalam tanya itu, dalam masa depan yang sama sekali belum pasti.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan kemana-mana, bukan?” Aleta menarik napas dalam, pada akhirnya ikut duduk di tepi ranjang Fyre dan membiarkan lelaki itu memeluknya. “Aku akan tetap di sini.”

“Aku tahu.” Fyre melepaskan rengkuhannya, menatap Aleta lekat. Tak mengucap kata, sampai ia akhirnya mendaratkan satu kecupan pada dahi gadisnya dan berbisik, “Maaf kalau sikapku hari ini payah sekali. Aku benar-benar tak bisa diandalkan dan….”

Aleta membungkamnya dengan cara meletakkan telunjuk di atas bibir Fyre, menelengkan kepala seraya berkata, “Aku tidak mau mendengar permintaan maaf apa pun.”

“Ah, benar.”

“Percayalah pada dirimu, Fyre. Kamu adalah pangeran yang baik, dan kamu pasti bisa—“

Berbeda dengan sebelumnya, kata-kata Aleta kali ini terpotong oleh debam pintu kamar sang pangeran. Sontak membuat keduanya terlonjak, lekas menoleh, sementara Devin yang berdiri di ambang pintu berdeham gugup dan tampak malu.

“M-maaf, Pangeran Fyre. Aku tidak tahu jika Nona Aleta sedang berada di sini.”

Fyre buru-buru menggeleng, bangkit berdiri sementara Aleta mengikutinya. “Ada masalah apa, Devin?”

“Ada kabar yang mungkin bisa membantu kita, Yang Mulia.” Devin lekas berucap, sukses menarik atensi Fyre dan Aleta. “Hale baru saja tiba dari Cumblerton.”

“Di mana dia sekarang?”

“Menunggu di dekat istal,” jawab Devin tanpa jeda, ujung-ujung bibir berjungkit naik saat ia melanjutkan pesannya, “Hale bilang, ia punya kabar baik dan rencana untuk menyelamatkan Orient.”

Satu kalimat itu cukup untuk membangkitkan kuriositas, selagi Fyre bertukar pandang dan anggukan dengan Aleta. Mengabaikan niat untuk beristirahat tadi, keduanya lekas melangkah keluar sementara Devin mengikuti. Biarkan secercah harap tumbuh di dalam benak, lamat-lamat mengusir hawa buruk yang tadi sempat terasa.

“Ayo kita dengar apa rencana Hale.”

.

-o-

.

Namun, belum sampai ketiganya mencapai istal, Alven sudah lebih dulu menghampiri. Satu tangan menggenggam perkamen yang dilipat, maniknya melebar penuh urgensi saat ia berhenti tepat di hadapan Fyre, Aleta, dan Devin.

“Kak Alven?”

“Kalian harus melihat ini,” ucap Alven, cepat-cepat menyorongkan perkamen tersebut ke arah Fyre. “Pengawal di gerbang depan mengatakan bahwa ada lelaki yang memberikan ini, meminta agar pesannya disampaikan padamu. Isinya… entahlah, aku tidak tahu harus berkata apa soal ini.”

Fyre mulai membuka lipatan perkamen tersebut. “Isinya buruk?”

“Mengejutkan lebih tepat,” balas Alven, masih sambil berusaha mengatur napasnya. “Tapi, jika isinya benar, maka ada kemungkinan kita bisa memanfaatkannya.”

Sang pangeran menjungkitkan alis, tapi fokusnya sekarang tertuju pada goresan tinta di perkamen tersebut. Sudah agak pudar, dan perkamennya pun tidak tampak seperti baru. Pesan entah dari siapa ini pasti sudah disimpan cukup lama, barangkali lebih dari satu atau dua tahun.

Fyre pun mulai membaca.

.

.

.

Aku tidak tahu kapan kau akan menerima surat ini, tapi ketika saat itu datang, aku akan mengasumsikan bahwa saat yang tepat bagiku pun telah tiba.

Aku datang ke kerajaan ini bukan untuk meminta perlindungan, bukan pula untuk menimbulkan masalah. Namun keadaan memaksa, dan saat itu aku tak punya pilihan lain. Satu fakta yang kuketahui: apa yang terjadi di Cumblerton bukanlah akhir karena kedua saudaraku jelas bermaksud untuk menguasai Orient dan tiga kerajaan lainnya.

Ketika saatnya tiba, maka aku akan dengan yakin menyatakan bahwa aku berada di sisi kalian. Apa yang telah dilakukan saudaraku patut mendapat balasan, dan aku berharap agar kita bisa bertemu untuk menjalin kerja sama. Demi Orient, juga demi Cumblerton yang lebih baik.

Pesan ini aku titipkan pada salah satu orang kepercayaanku yang menetap dan berbaur sebagai warga Orient, sementara aku sendiri memilih untuk mencari tempat persembunyian lain—demi keamanan orang-orang yang membantuku dan juga demi keamanan Orient. Tangan kanankulah yang akan menentukan kapan saat yang tepat bagi dirimu, sang pewaris takhta Orient, untuk menerima surat ini.

Semoga kita dapat segera bertemu.

The first prince of Cumblerton,

Leo

.

.

.

Senyap datang menyelusup, tepat setelah Fyre selesai membaca kata terakhir yang tertoreh di perkamen tersebut.

Berusaha memastikan bahwa ia tak sedang berhalusinasi, sang pangeran Orient pun kembali membaca perkamen yang ia bawa. Berusaha untuk memahami dan menyerap maknanya, menggabungkan informasi ini dengan berbagai fakta dan rumor yang sudah ia dapatkan sebelumnya. Kabar resmi yang beredar adalah pangeran pertama Cumblerton tewas dalam kerusuhan, sedangkan sebuah rumor menyatakan bahwa ia masih hidup.

Lalu surat ini datang dan….

“Apa ini berarti… rumor yang didengar Kak Alven dan Devin kemarin bukanlah sebuah rumor?” Aleta tahu-tahu memecah keheningan, tepat setelah ia selesai membaca pesan yang masih dipegang Fyre. “Mengenai pangeran pertama Cumblerton yang masih hidup dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan?”

“Dan jika dipikir-pikir lagi…” Alven mengubah posisinya menjadi bersedekap, mengingat-ingat. “…apa ini berarti ia dapat membuktikan kebenaran rumor yang lain? Soal bagaimana Lyndon sengaja membuat kerusuhan untuk menyingkirkan dirinya dan raja yang lama?”

“Kita harus mencari tahu.” Fyre akhirnya buka suara, mengambil keputusan. “Bagaimana menurut kalian?”

“Aku dan Devin akan mencari lelaki itu di pemukiman warga,” kata Alven cepat, diikuti anggukan Devin. “Ia jelas mencurigakan, dan bisa saja ia adalah tangan kanan yang disebut-sebut Pangeran Leo ini.”

“Aku setuju.” Fyre mengangguk, kilat bersemangat kembali muncul di matanya. “Bagaimana menurutmu, Aleta?”

Sang penasihat kerajaan kembali memandang surat di tangan Fyre, berpikir sejenak. Ini adalah berita baik, kemungkinan terbaik yang bisa mereka manfaatkan untuk memukul telak Raja Lyndon. Jika Pangeran Leo benar-benar masih hidup dan berada di sisi mereka, bukankah semua aib serta keburukan Lyndon secara otomatis akan terungkap? Rencana pembunuhan dan semua kerja sama kotor itu… well, hanya orang tak waras sajalah yang akan mau mempertahankan pria busuk macam dia sebagai raja.

Tapi, di sisi lain….

“Kita harus memastikannya lebih dulu,” ucap Aleta sejemang kemudian. “Kita temui Hale untuk mendengar kabar apa yang ia bawa, lalu kita susun rencana yang lebih matang setelahnya. Memastikan identitas si pengirim surat, juga mencari tempat persembunyian Pangeran Leo. Aku bukannya pesimis, tapi kita juga harus memastikan jika semua ini bukan jebakan.”

Tak ada yang membantah. Lagi pula, setelah semua yang terjadi, bersikap hati-hati memang diperlukan.

“Baiklah kalau begitu.” Fyre meraih tangan sang gadis, menggenggamnya erat dengan sikap menenangkan. “Ayo kita temui Hale sekarang.”

.

-o-

.

“Jadi apa yang ia katakan itu benar.”

Hale mengucapkan kalimat tersebut lamat-lamat, seraya dirinya membaca pesan yang tertulis di dalam perkamen. Tadi, Fyre mengawali percakapan mereka dengan cara menyodorkan perkamen yang kusam dan penuh lipatan itu ke tangannya. Meminta Hale untuk membaca, sekaligus mengonfirmasi apakah ia mendengar kabar yang serupa saat berada di Cumblerton.

“Kau juga mendengar desas-desus soal si pangeran pertama?”

“Kabar yang pasti mungkin lebih tepat.” Hale berdeham, membalas tatapan Fyre sebelum melanjutkan, “Ketika aku tiba di Cumblerton, keadaan benar-benar buruk. Protes terjadi di mana-mana, dan pengawal kerajaan membantai warga yang berani menjelek-jelekkan atau menyebar rumor buruk tentang raja. Namun, itu belum segalanya.”

“Lanjutkan.”

“Aku bertemu salah seorang kawan lama, namanya Razel,” ujar Hale, mengingat pertemuan serta percakapan mereka di kedai. Hari itu, Razel telah memutuskan untuk memercayainya dan mengungkapkan salah satu rahasia terbesar yang ia simpan. Ia bahkan membantu Hale untuk menyusup ke dalam kapal yang akan membawanya kembali ke Orient, juga menjanjikan bantuan untuk melawan Lyndon. “Dia bekerja sebagai penasihat kerajaan Cumblerton—“

“Penasihat kerajaan?”

“—dan pengikut setia Raja Romulus,” imbuh Hale cepat, menghapuskan kekhawatiran yang ada di wajah keempat pendengarnya. “Ia hanya berpura-pura patuh pada raja yang baru, mencari cara untuk membongkar kejahatan serta keburukan Lyndon dalam memperoleh takhta.”

“Baiklah.” Fyre mengembuskan napas, mengangguk dan meminta Hale untuk meneruskan. “Tadi kau berkata bahwa ia punya kabar yang pasti, kan?”

Hale mengiakan. “Razel… dia berkata padaku bahwa Pangeran Leo memang masih hidup. Dia bersembunyi, di suatu tempat yang bahkan tidak diketahui oleh Razel. Saat itu, Razel hanya membantu Pangeran Leo untuk keluar dari Cumblerton. Ia sengaja tidak mendapat informasi lebih banyak—demi keamanan sang pangeran dan keselamatannya sendiri.”

“Itu bisa dipahami.” Aleta kini ikut menanggapi, mengulas senyum penuh terima kasih untuk Hale. “Apa ada yang lain, Hale?”

Yang ditanya mengangkat bahu. “Razel hanya memintaku untuk menyampaikan ini pada kalian dan mengatakan jika ia sudah menyiapkan bantuan lain. Ia tidak berkata apa, tapi ia akan mengirimkannya saat waktu yang tepat tiba nanti.”

“Kuharap waktu yang tepat itu tidak lama lagi,” gumam Fyre, selagi ia bertukar pandang dengan kedua aide-nya dan Aleta. “Apa ini berarti kita harus mulai mencari sang pangeran yang hilang?”

Aleta menoleh ke arah kakak lelakinya, yang lekas memasang senyum menenangkan dan meremas bahunya dengan sikap menenangkan.

“Ini satu-satunya harapan kita saat ini,” ucap Aleta, mengambil keputusan. “Surat itu, berita dari teman Hale… kurasa kita harus memercayainya. Berhati-hatilah, dan pastikan bahwa Pangeran Leo benar-benar ada di pihak kita. Ia bisa menjadi kunci untuk memecahkan segalanya.”

“Kami mengerti.” Devin langsung merespons, mewakili Alven. “Kami akan segera mencari lelaki yang kemarin dan menemukan tempat Pangeran Leo bersembunyi.”

Devin lantas melangkah menuju kuda cokelat yang biasa ia tunggangi, mempersiapkan diri selagi Alven mengikuti. Meninggalkan Hale bersama Aleta dan Fyre, yang tampaknya masih ingin menggali informasi lebih detail dan menyiapkan cara sebaik mungkin untuk mempermalukan Raja Lyndon.

“Hale?”

“Ya, Pangeran Fyre?”

Sang pangeran tersenyum, mengedikkan kepala ke arah bangunan istana. “Ikutlah dengan kami, ceritakan apa yang kaulihat dengan lebih rinci. Oh, dan ingatkan aku untuk memberimu pangkat yang lebih baik dari sekadar pengurus kandang kuda saat semua ini selesai nanti, oke?”

.

-o-

.

Tidak susah bagi Alven dan Devin untuk menemukan lelaki itu.

Seolah sudah menanti, lelaki berambut hitam cepak dan bertubuh tegap itu tengah bersantai di alun-alun kota. Sibuk mendendangkan lagu, duduk di salah satu kursi batu yang ada. Abaikan hawa dingin tengah berembus kencang, tanda bahwa awal musim dingin telah tiba. Ia tetap duduk di sana, terbungkus lapisan pakaian tebal dan syal abu-abu, tapi tampak senang saat melihat Alven dan Devin mendekat.

“Apa kau yang mengantar surat itu ke istana?” Devin langsung bertanya tanpa basa-basi, melompat turun dari kuda yang ia naiki. “Siapa namamu dan di mana Pangeran Leo?”

“Kalian bisa memanggilku Xavier,” jawab si lelaki, mengangkat kedua tangannya tanda bahwa ia tak akan melakukan perlawanan. “Maafkan ketidaksopananku beberapa hari lalu, juga atas kabar yang terpaksa kusamarkan menjadi sebuah rumor. Bagaimanapun juga, aku harus memastikan lebih dulu, bukan?”

“Memastikan?”

“Apa yang tengah terjadi, dan apakah ini waktu yang tepat bagi Pangeran Leo untuk menampakkan diri,” jawab Xavier, mengalihkan pandang pada Alven yang baru saja turun dari kuda. “Kalian adalah aide Pangeran Fyre, benar?”

“Apa itu penting bagimu?”

“Barangkali itu akan memudahkan kalian untuk memahami tindakanku,” balas Xavier tanpa jeda. “Aku adalah aide Pangeran Leo, atau begitulah tugasku dulu.”

“Di mana Pangeran Leo sekarang?” Alven mengulangi pertanyaan Devin tadi, memutuskan bahwa ini bukan saatnya untuk memperpanjang basa-basi. “Apa sang pangeran memberitahumu?”

Jawaban Xavier adalah sebuah gelengan. “Aku tidak tahu tempat pastinya, tapi aku tahu ke mana Pangeran Leo memilih untuk bersembunyi. Kau harus mencarinya…” Satu jeda, yang digunakan Xavier untuk mengarahkan ujung telunjuknya pada pepohonan rimbun yang terletak di barat daya Orient. “…di hutan Mirs.”

“Hutan Mirs,” ulang Alven, rahangnya seketika mengeras selagi ia ikut mengamati pepohonan tinggi yang sudah mulai dihiasi salju. Jaraknya cukup jauh, dan Alven tahu betapa berbahayanya medan di sana. Hutan Mirs adalah hutan yang tidak dimiliki kerajaan mana pun, daerah netral yang digunakan sebagai perbatasan. Bebatuan di sana amat terjal, datarannya pun jauh lebih tinggi dibandingkan dataran tempat Orient berada. Tempat yang tepat untuk bersembunyi.

“Aku akan ikut denganmu, tentu.” Xavier mengulurkan tangan, seolah itu sudah jelas. “Dengan begitu, Pangeran Leo akan tahu bahwa aku memercayai kalian. Ini adalah satu-satunya cara untuk menjalin kerja sama dengan Pangeran Leo.”

Alven memandang tangan Xavier yang terulur, tak langsung menjabatnya. Alih-alih, ia membalikkan badannya untuk menatap Devin lekat.

“Aku akan pergi dengan Xavier.”

“Apa?”

“Kita tidak punya banyak waktu untuk dibuang sia-sia, jadi dengarkan dan turuti perintahku, Devin,” ucap Alven tegas, tanpa sadar mengeratkan genggaman pada gagang pedang yang tersarung di pinggangnya. “Kembalilah, beritahu kabar ini ke adikku dan Pangeran Fyre. Aku akan pergi mencari dan membawa Pangeran Leo ke istana bersamaku.”

“Tapi—“

“Kau sudah dengar apa kata-kataku,” ujar Alven, masih dengan nada datar dan tak bisa dibantah. “Aku butuh kau untuk menjaga Aleta di istana, juga Fyre. Jangan susul aku, jangan meminta pengawal istana yang lain untuk ikut mencari. Kurasa itu bukan cara yang tepat untuk mengatakan bahwa kau datang dalam damai.”

“Aku….”

“Ingat kata-kataku.” Alven memberinya tatap memperingatkan. “Apa pun yang terjadi, pastikan Aleta dan Fyre tetap aman di istana. Pastikan mereka tidak memberi perintah pada pengawal mana pun untuk menyusulku. Kau mengerti?”

Devin tidak menjawab, tapi keputusan Alven tampaknya sudah bulat. Mengembalikan fokusnya pada Xavier, sang aide pertama kerajaan Orient pun mengulurkan tangannya dan membiarkan Xavier untuk menjabatnya.

.

.

.

“Ayo kita temukan Pangeran Leo.”

.

tbc.

.

.

xavier

Kim Wonshik (VIXX’s Ravi) as Xavier

First Aide of Cumblerton

orient-leo

Jung Taekwoon (VIXX’s Leo) as Leo

First Prince of Cumblerton

.

.

hi, there!

untuk semua yang sudah berkomentar di chapter sebelumnya, terima kasih banyak! maaf karena ini baru mau otw membalas, tapi terima kasih (lagi) atas apresiasinya! Well, leaving some review isn’t that hard right?

Anyway, don’t forget to leave some review again, okay? ❤

Advertisements

15 thoughts on “[Chapter 5] The Throne of Orient: Letter of Truth

  1. Akhirnyaa, terungkap sudah Leo jadi apa (?)
    Alven sama Xavier, ati ati dihutan yaa, semoga selamat sampai ketemu Leo dan balik ke istana selamat juga.. /lambai2 tangan/
    Ditunggu banget kelanjutannya kak..
    Semangat nulisnyaa… 😉

    Like

  2. Aleta jaga kesehatan yah? Jangan sampe sakit lagi. Ini udah mulai tegang soalnya…
    Nanti fyre tambah khawatir

    Owh ya, udah chap 5, semangat ya buat lanjutin chap berikutnya.. And semoga jauh2 dari WB

    Like

  3. TUHKAN LEO….. LEO PANGERAN… LEO YANG SUARANYA BAGUS DI BEAUTIFUL LIAR ITU KAN? IYA KAN? /caps jeblok/
    Maapkeun kehebohan anak kecil ini kak, terlalu seneng akhirnya Leo muncul juga ㅠㅠㅠㅠㅠ
    Terungkap sudah siapa Leo, tapi ttp aja misteri lain…. Masih buanyak kak /dibuang/ Mungkin bener, harusnya judulnya Misteri of Orient aja /plak
    Eaa Fyreta (nama kapel yg sudah diresmikan) manis bgt ya… Tapi tadi aku nyaris(nyaris!) mewek pas baca gimana frustasinya mereka uh dpt bgt itu feel nya kak ㅠㅠ Semoga kedepannya mereka ttp bersama terus ya……
    And…. Itu Hale bolehlah dpt pangkat lebih tinggi, jangan jadi pengurus kandang kuda… Ini adek malah ngakak bacanya wkwk…
    Last, mau komenin kakak2 vixx juga… Yea, semenjak tau Vixx-lr yg beautiful liar (bagus bgt lagunya…) jadi bisa kenal member vixx (meski cuma Leo ama Ravi doang/plak) Ravi gans, Leo gans… Suka suara keduanya~ ((malah nge fangirl)) ((dibuang pulang))

    Okay cukup dulu komenan anak kecil yg suka nyasar kemana2 ini /pfft/ Oiya, ratingnya yakin masih 13 kak? /smirk/ Itu kemarin aja ada………… ((keburu ditendang kak amer))
    Ampe ketemu di chp 6 kak! Luv luv and semangat nulis misteri2nya ㅋㅋㅋㅋ

    Like

    1. iya Leo yang suaranya bagus yang jadi pacar pertamanya author itu nak ((dilempar))

      nah benar sekali misteri lain masih banyak aku sampe lupa misterinya apa aja tolong ingatkan saya *menangis* dan aku juga mau mewek kok nulis bagian fyreta itu padahal itu tidak ada dalam plot sebenarnya :”

      iya itu hale nanti naik pangkat deh kasian (?) dan emang abang2 LR itu keceee ayo sini aku kenalin lagu yang lain << semangat

      yaudah deh nanti chapter akhir ratingnya 17 sekalian gimana….?? /krik/ anyway makasih ya ratih! sama kaya QF7, lanjutannya nanti ada di https://thefallenpetals.wordpress.com/ jadi silakan berkunjung~ ^^ makasih lagiii ❤

      Like

  4. Yess, akhirnya Leo muncul (nama doang)
    Dan aide-nya Ravi? Jadi keinget LR.
    Kok aku bayanginnya lucu, ya, waktu Alven sama Devin ketemu Xavier di scene terakhir?
    Tapi setiap bayangin Devin, mesti bawaannya pengen nyubit XD
    Kutunggu lanjutannya, kak ^^

    Like

  5. Akhirnya terungkap juga dimana leo yah meskipun masih dalam tahap pencarian. Oh ya, untuk bang alven sama bang xavier hati hati ya nda usah macem macem dihutan.
    Untuk chapter 6 jangan lama lama ya thor☺

    Like

    1. semoga leo belum ilang di hutan ya ((lah))
      iya nanti disampein ke alven sama xavier biar hati-hati dan kembali dengan selamat :”

      yang pasti akan terus di-update seminggu sekali dan diusahakan nggak molor sih ehehe, makasih yaa ^^

      Like

  6. Finally terungkap sudah peran leo di sini. Aku udah curiga yg awal cowok rambut cepak itu pasti si rapi, soalnya nyolot gitu kan. Dan ternyata bener 😄
    Alven tiati ya. Nyampe ke istana lagi harus selamat. Jangan kaya icy yg pergi ke hutan balik2 mati 😂🔫

    Like

    1. untunglah aku pake bang jenab ya kak bukan sanghyuk.. mana cocok dia nyolot wkwk ciee kayen sekarang sehati sama bang rapi /krik

      NOOO JANGAN INGATKAN AKU AKAN INSIDEN ICY :” Kak Alven gaboleh kaya Icy kak alven masih harus ngeliat dek Aleta nikah dulu (((KRIK)))

      makasih kayeiiiin ❤

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s