[Vignette] It’s Not A Date (Maybe)

Processed with VSCO with m3 preset

it’s not a date (maybe)

a vignette by tsukiyamarisa

BTS’ Min Yoongi, Kim Seokjin, OC’s Park Minha, Lee Yein

1000+ words | The King’s Magazine!AU, Friendship, slight!Romance | G

.

related to: Of Magazine Layout, Coffee, and Sudden Date | An Advice to Proper Date

.

.

Kenapa juga Yoongi jadi kebingungan begini di hadapan Minha?

.

.

.

.

 

“Pesananku sama dengannya.”

Park Minha mengedikkan kepala ke arah Yoongi, yang disambut kerjapan mata dari sang lelaki sementara pelayan kafe mencatat. Mengulang pesanan mereka berempat—Yoongi, Minha, Yein, dan Seokjin—sebelum beranjak untuk memberikannya pada barista. Tinggalkan Yoongi yang masih terpana, berdeham kecil sebelum akhirnya berbicara.

“Kamu boleh memesan apa saja, tahu. Tidak perlu menyamakannya denganku.”

“Bukan menyamakan.” Minha menundukkan kepala, terlihat malu. “Aku memang suka iced americano. Kebetulan saja—“

“—selera kita sama?” Yoongi menyelesaikan, lantas memalingkan muka saat ia menyadari betapa konyolnya kalimat itu. Toh, mereka tidak berkencan. Titik. Tak ada yang boleh membantah, karena maksud Yoongi mengajak Minha ke JY’s Cafe didorong oleh alasan membalas budi semata.

Keduanya kini bungkam, tak tahu harus berbicara apa sementara Yoongi mengalihkan pandang pada Seokjin.

Berbeda dari dirinya dan Minha, rekan kerjanya yang satu itu sedang berdebat dalam diam dengan seorang gadis. Lee Yein, kekasih sekaligus partner Seokjin dalam usaha book-cafe ini, tampaknya masih tak paham mengapa Seokjin memaksanya untuk ikut duduk. Padahal, pada hari-hari lain, Yein-lah yang akan mengambil makanan dan minuman untuk mereka nikmati berdua. Gadis bersurai panjang itu kini memelototi Seokjin sejenak, mencubit lengannya sebelum bangkit berdiri.

“Yein-a, sesekali beristirahat sejenak tidak apa-apa, kan? Ayolah.”

Seokjin ikut berdiri, mengejar Yein yang melangkah menuju dapur. Secara tak sadar meninggalkan Yoongi berdua saja dengan Minha (“Hei, padahal tujuanku kemari bersama Seokjin kan demi menghindari kecanggungan!”), membuat lelaki itu mengeluarkan deham-deham gugup sambil mengetukkan jemari di atas meja. Astaga, ini menggelikan sekali. Kenapa juga Yoongi jadi kebingungan begini di hadapan Minha?

Um… Yoongi?”

Yang dipanggil menoleh cepat, nyaris saja terlonjak saat ia mendengar suara Minha.

“Er, ya?”

“Aku ingin bertanya soal sesuatu.” Minha memainkan jemarinya yang bertautan di atas meja, lantas menyembunyikannya di balik lengan sweter yang terlalu panjang saat ia menyadari bahwa Yoongi mengamati. “Tolong jawab yang jujur, ya?”

Sang lelaki mengangguk, kendati sesungguhnya ia tak sedang berkonsentrasi pada kata-kata Minha. Sebaliknya, satu bagian kecil dari otaknya sibuk berteriak, “She’s kinda cute and—tunggu, apa yang sedang kaupikirkan, Min Yoongi?!!”

Min Yoongi pasti sudah gila.

“Yoongi?”

“Ya, kenapa?” Balasan itu keluar terlampau cepat, dalam nada yang terdengar aneh dan tak wajar. “M-maksudku, tadi kamu sedang bicara apa?”

“Aku ingin bertanya,” ulang Minha sekarang menarik tangannya dan meletakkannya di pangkuan. “Kamu tahu… dari semua desain yang kubuat selama ini….”

Yeah?”

“Apa aku pernah mengecewakanmu? Ada desain yang kamu anggap jelek atau—“

“Tidak.”

“Sungguh?”

Yoongi tampak salah tingkah sekarang, mengingat bagaimana ia melontarkan jawaban tersebut dengan teramat yakin dan nyaris tanpa berpikir. Tapi, ia juga tak sepenuhnya berbohong. Yoongi memang peduli pada tampilan artikelnya, namun ia bukanlah tipe lelaki yang akan mempermasalahkan sebuah desain dan melakukan protes karenanya. Lagi pula, Yoongi tahu jika gadis di hadapannya ini pasti sudah bekerja keras—

“Terima kasih,” ujar Minha ketika Yoongi tak menjawab, kedua maniknya berbinar senang. “Sesungguhnya, aku selalu ragu dengan kemampuanku membuat desain. Jadi, aku senang kalau kamu tidak kecewa.”

Perkataan itu sebenarnya sederhana, tapi Yoongi mendapati dirinya ikut menaikkan ujung-ujung bibir saat ia melihat ekspresi Minha. Kepala ditelengkan selagi sang gadis memulai topik baru, menjelaskan desain untuk artikel milik Yoongi yang tengah ia garap, dan….

Hm, kalian sudah akrab saja, ya.”

Menginterupsi percakapan, Seokjin dan Yein kembali muncul dengan nampan di tangan mereka. Satu yang berisi pesanan mereka, sedangkan yang lain berisi pesanan Minha dan Yoongi. Dua iced americano dan dua cinnamon roll, yang diletakkan oleh Seokjin di atas meja selagi ia memberi Yoongi tatap penuh arti.

“Apa?”

“Bukan apa-apa. Lanjutkan saja obrolan kalian, aku ingin melewatkan waktu dengan Yein,” ujar Seokjin sambil mengibaskan tangan, lantas duduk di hadapan Yein. Dengan sengaja mengabaikan Yoongi, selagi ia melempar candaan-candaan ke arah gadisnya—yang hanya memasang muka datar dan memberi tatap curiga. Well, dilihat dari respons Yein yang baru saja menendang kaki Seokjin di bawah meja, Yoongi juga bisa menebak kalau rekan kerjanya itu pasti baru saja melontarkan kalimat yang berbau cheesy.

Sama sekali tidak membantu.

Tapi….

“Yoongi? Kamu keberatan jika aku melihat-lihat koleksi buku di sini sebentar?”

“Silakan saja.” Yoongi mengedikkan kepala, membiarkan Minha berjalan ke rak buku terdekat dan mulai mengamati dengan penuh semangat. Ia sendiri memilih untuk menyesap minumannya, abaikan Seokjin dan Yein yang kembali berdebat dalam gumaman, sampai Minha kembali duduk—tanpa membawa buku apa pun.

“Aku ingin sekali berkunjung ke sini lagi,” ujar Minha tanpa diminta, mengedarkan pandang ke sekeliling. “Koleksi bukunya bagus sekali, tempatnya juga nyaman.”

Hmm.” Yoongi mengangguk, ikut-ikutan mengamati sebelum membenarkan. “Aku setuju.”

“Sayang sekali aku masih punya setumpuk pekerjaan di kantor.” Minha menghela napas, mengerucutkan bibirnya (dan membuat benak Yoongi kembali menjerit-jerit). “Bagaimana denganmu, Yoongi?”

“Kenapa denganku?” Yoongi balik bertanya, mengamati Minha yang sekarang mulai makan. “Aku juga punya setumpuk pekerjaan, aku setuju kalau kembali ke sini terdengar menyenangkan, dan kalau kamu berkata bahwa koleksi bukunya bagus….”

“Menurutmu kita punya selera yang sama dalam hal buku?” Minha langsung bertanya, tanpa merasa bersalah menyuapkan sepotong cinnamon roll ke dalam mulutnya sementara Yoongi hampir tersedak. Mereka bertukar tatap sejenak—Minha dengan ujung garpu yang masih terkulum di dalam mulut sementara Yoongi menepuk-nepuk dadanya sendiri.

“Er—menurutmu begitu?”

“Bukankah kamu yang seharusnya menjawab pertanyaan tadi?”

Pada akhirnya Yoongi hanya memasang cengiran, membiarkan Minha mengoceh soal judul-judul buku favoritnya sementara ia menimpali (“Ah, aku juga suka yang itu”; “Penulisnya memiliki pemikiran yang bagus sekali”; “Sungguh? Aku baru saja selesai membaca buku itu minggu lalu”; dan “Beritahu aku pendapatmu kalau sudah selesai nanti, oke?”). Biarkan konversasi mereka berputar pada topik tersebut, selagi Yoongi diam-diam melirik Seokjin dan mendapati kawannya terus-menerus melempar sorot puas dan menyebalkan.

Uh, memang apa lagi yang salah dengan dirinya?!

Pertanyaan itu baru terjawab saat jam menunjukkan pukul setengah dua kurang sepuluh—tanda waktu istirahat sudah hampir habis.

“Aku akan datang lagi sepulang kerja nanti,” janji Seokjin seraya berjalan keluar, melambai pada Yein. “Kita jadi nonton kan, malam ini?”

Lee Yein mengangguk, memberi isyarat agar Seokjin lekas pergi saat lelaki itu mulai membuat gerakan kiss-bye. Adegan yang membuat Yoongi memutar bola mata, sampai Seokjin menariknya mendekat, membisikkan sesuatu, dan….

“Aduh! Perutku mendadak sakit! Kalian duluan saja, oke?”

…dan ia kembali membuka pintu kafe, berlari masuk, lantas menghilang dari pandangan.

Meninggalkan Yoongi yang masih terpaku, benak sibuk mengumandangkan kata-kata yang tadi dibisikkan Seokjin kepada dirinya.

Kau jelas sekali tertarik padanya, Min Yoongi! Akan kuberi waktu berdua, manfaatkan dengan baik! Ajak dia kencan—kencan sungguhan, paham?

Tidak, Yoongi tidak paham.

Yoongi tidak mau paham.

Hanya saja….

“Terima kasih untuk hari ini, Yoongi,” ujar Minha selagi mereka berjalan kembali ke kantor. “Sesungguhnya aku bukan tipe orang yang mudah mengobrol dengan orang lain, tapi… entahlah. Seperti katamu, mungkin ini karena selera kita sama?”

“M-mungkin.”

“Kamu teman mengobrol yang menyenangkan,” lanjut Minha, mengimbuhinya dengan ekspresi senang—yang menurut Yoongi—terlihat manis. “Oh ya, soal buku tadi—“

“Beritahu aku kalau kamu sudah selesai membaca. Kamu sudah berjanji,” sambar Yoongi cepat, memasukkan kedua tangan ke dalam kantong jaket sebelum ia menambahkan, “Kita akan membahasnya saat kamu sudah selesai… ng… mungkin kita bisa kembali mengunjungi JY’s Cafe di hari libur nanti? Tempatnya nyaman, dan kamu berkata ingin ke sana lagi, dan… shit, lupakan saja, aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kubicarakan. Kamu pasti sudah ada rencana dengan kakakmu di hari libur, kan?”

Entah apakah kata-katanya itu terdengar beraturan, atau malah aneh setengah mati dan membuat Minha mengerutkan keningnya dalam. Yang jelas, gadis itu butuh waktu untuk mencerna perkataan Yoongi. Mempertimbangkannya, lantas menggeleng pelan.

“Aku tidak ada rencana apa-apa dengan Kak Jimin,” sahut Minha. “Dan ya, aku akan memberitahumu jika sudah selesai membaca buku itu, Min Yoongi.”

“O… oke.”

“Hm, oke.” Minha ikut mengulang kata-kata Yoongi, tampak malu. “Kalau begitu, kurasa aku akan—“

“Nah, yang ini pasti ajakan kencan sungguhan!!”

Nyaris seperti deja vu, Kim Taehyung melompat keluar dari balik pot tanaman besar (apa yang dia lakukan di sana?!) dan menuding Yoongi dengan sorot penuh tuduhan. Ekspresi tampak puas, selagi ia berpura-pura menjadi reporter dan mulai membanjiri rekan kerjanya dengan berbagai macam tanya. Ia bahkan masih berteriak penuh semangat saat Yoongi menarik Minha masuk ke dalam lift, dengan sengaja mendorong Taehyung agar tak ikut masuk dan membuat gadis di sampingnya makin merah padam.

Kendati begitu, Yoongi mendapati dirinya tak begitu peduli.

Terserah jika Taehyung mau menyebarluaskan kabar itu, terserah jika ia mau membuat gosip macam-macam. Ia sudah lelah terus-menerus membuat klarifikasi, terlebih ketika yang ia lakukan hanyalah mengajak Minha ke sebuah book-cafe dan membahas isi sebuah buku bersama.

Lagi pula, yang tadi itu benar-benar menyenangkan, kok.

Jadi, tak ada salahnya kan, jika ia ingin melewatkan waktu dengan Minha lagi?

.

.

fin.

BUAT YANG MEMINTA KEJELASAN KENCAN-BUKAN-KENCAN KEMARIN

UDAH PUAS BELUM SEKARANG??

 

Advertisements

8 thoughts on “[Vignette] It’s Not A Date (Maybe)

  1. Pingback: When Chaos Ensues | the fallen petals.

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s