[Vignette] More Than a Neighbour

untitled

a fanfiction by darkchocobee

.

Park Jimin [BTS] and OC as the main casts

.

Vignette | School life, Friendship, slight!Angst | PG-13

Semua berawal dari kepindahan keluarga Park.

Moura tengah membawa plastik penuh sampah ketika itu terjadi. Surai hitamnya yang biasanya menutupi wajah dikucir asal dengan karet gelang, membuatnya terlihat lebih berantakan dari seharusnya. Ia memakai kaus putih yang sudah berubah warna menjadi kecoklatan dan training hitam kumal miliknya sedari sekolah dasar.

Intinya, Moura terlihat berantakan.

Kendati demikian, penampilannya tidak mencegahnya memperhatikan wajah-wajah baru di kompleks perumahannya.

Netranya tertuju pada mobil truk yang tengah mengangkut barang-barang milik tetangganya. Seorang wanita menginstruksikan di mana barang-barang itu perlu ditaruh, sementara beberapa orang pria mengangkutnya ke dalam rumah.

Kedua obsidiannya beralih pada pemuda yang ikut membantu kegiatan angkut-mengangkut tersebut, meneliti penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Pemuda itu jelas-jelas lebih tua darinya. Sekitar dua tahun, mungkin?

(Moura berusia tiga belas tahun, omong-omong.)

Mengenakan kacamata berbingkai hitam yang seringkali melorot dari batang hidungnya, pemuda itu tersenyum ketika ia melihat wanita paruh baya–yang Moura tebak adalah Nyonya Park–menyuruhnya beristirahat sejenak dan membawakannya minuman dingin.

Samar-samar, Moura bisa mendengar Tuan Park yang memprotes pemuda itu, mengatakan bahwa sebagai laki-laki di rumah tangga ini, mereka harus membagi beban. Dengan nada penuh canda, tentunya.

Pemuda itu masih menenggak air minumnya tatkala Tuan Park memanggil namanya untuk kembali melanjutkan pekerjaan.

“Park Jimin, jangan terlalu lama istirahatnya!”

Pemuda itu–Park Jimin–membuat gerakan hormat dengan tangan kanannya dan menimpali, “Siap, Pak!”

Saat itu, Moura mengabaikannya, berpikir bahwa Park Jimin ini adalah seorang pemuda biasa yang akan memperlakukannya seperti yang lainnya lakukan.

Tanpa mengamati keluarga Park untuk yang kedua kalinya, gadis itu kembali masuk ke rumah. Mungkin, Jihoon akan mengomel karena ia terlalu lama membuang sampah.

Namun, saat itu Moura tak bepikir dan tak berniat untuk mengenal Park Jimin lebih jauh. Moura pikir, Park Jimin takkan menjadi seseorang yang berarti di dalam hidupnya.

Dan saat itu, Moura belum tahu akan ada orang yang membuka pintu ke perasaan terpendamnya.

.

.

.

Basah.

Air membasahi sekujur tubuhnya, membuat seragamnya basah seluruhnya. Buku-buku pelajarannya pun ikut basah seluruhnya. Moura yakin catatannya sudah nyaris menjadi bubur kertas saat ini. Tidak hanya itu, fakta bahwa tasnya terlalu besar dan terlalu berat untuk ditopang tubuhnya tidak meringankan penderitaannya.

Moura cuma ingin pulang.

Namun, alih-alih berjalan lebih cepat, kecepatan langkah kaki gadis itu malah bertambah pelan. Yang dilakukannya hanyalah berjalan pelan dengan tatapan kosong. Sudah tidak ada niatan lagi mencoba melindungi tubuhnya dari air hujan setelah kejadian itu terjadi.

Ini bukan salah orang lain.

Bukan salah mereka kalau dia sombong. Bukan salah mereka kalau dia dikucilkan. Bukan juga salah mereka kalau dia dingin.

Bukan.

Ini salahnya sendiri yang tidak bisa berbicara dengan benar. Ini salahnya sendiri mengatasi kegugupannya dengan menutup mulut, enggan berbicara apapun, takut mengatakan sesuatu yang akan melukai teman-temannya. Ini juga salahnya kalau dia tidak bisa tersenyum di saat gugup.

Ini semua salahnya.

Jadi, tidak heran kalau hari ini beberapa kakak kelasnya malah mendatanginya, membentaknya untuk memperbaiki sikapnya di depan umum. Tidak heran pula kalau tidak ada satu pun yang membelanya, malah berbisik-bisik di antara sesamanya sembari mengatakan bahwa Moura pantas mendapatkannya.

Tubuhnya gemetar saat itu, tetapi tidak ada yang menyadarinya. Tidak ada yang menyadari buku-buku jarinya memutih karena menggenggam tangannya sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu telapak tangannya nyaris terluka karena ia menghujamkan kuku-kukunya hanya untuk menghilangkan rasa takut.

Kemudian, seseorang mengambil payungnya secara sengaja, meski orang itu tahu betul Moura berjalan kaki ke rumahnya. Orang itu tahu betul Moura tidak dijemput. Moura juga tahu betul orang itu takkan menggunakan payungnya, karena ia pulang dengan mobil.

Ia tahu, karena orang itu adalah teman sekelasnya.

Moura bisa saja menunggu sampai hujan reda, tetapi Moura juga tahu bahwa orang itu mengharapkan yang lain.

Jadi, Moura pulang tanpa berlindung apapun, berpikir bahwa dia pantas menerimanya.

Tiba-tiba, Moura kembali merasa takut. Takut kalau kakak-kakaknya mengetahui kondisinya saat ini. Takut kalau peristiwa ini akan terulang kembali. Takut kalau Jihoon akan menghampiri senior-senior yang membentaknya–karena Moura tahu Jihoon takkan segan-segan melakukan itu untuknya. Takut kalau masalahnya akan membesar dan semua orang akan terkena masalah hanya karenanya.

Memikirkan-memikirkan posiblitas itu membuat rasa sesak muncul di dada. Kepalanya berdenyut sakit, sementara pandangannya menjadi kabur akibat air mata.

Tanpa disadari, kakinya sudah membawanya ke depan pintu gerbang rumahnya. Moura menatap pintu gerbang rumahnya tanpa ada niatan untuk masuk.

Apa jadinya kalau Jihoon atau Carys melihatnya? Bagaimana reaksi mereka? Tentunya ia hanya akan menjadi beban.

Beban. Padahal, Moura paling tidak suka menjadi beban.

Jadi, yang dilakukannya hanyalah terjongkok di depan gerbang rumahnya, memeluk lututnya, dan melawan dingin yang menusuk kulit. Ia menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya.

Lalu, Moura menangis tanpa suara.

Hanya air mata yang menjadi bukti tangisannya. Ia tidak terisak, maupun mengeluarkan sepatah kata pun.

Deritan gerbang tertangkap di rungunya, tetapi Moura tidak berani mengangkat wajahnya, takut kalau-kalau yang muncul malah kakaknya.

Namun, alih-alih suara Jihoon atau Carys, Moura malah mendengar suara pemuda yang rasanya familiar.

“Kamu nggak apa-apa?”

Moura tertegun. Sontak, ia mengangkat wajahnya, hanya untuk menemukan seorang pemuda berkacamata tengah memayunginya dan menatapnya khawatir.

Dia anak dari keluarga Park. Itulah yang pertama kali terlintas di pikirannya.

Moura nyaris mengusap air matanya kalau ia tidak ingat sekarang hujan. Kalau ia mengusapnya, Park Jimin akan curiga kalau ia menangis. Toh, air matanya tersamarkan oleh air hujan.

“Kenapa hujan-hujanan?” tanya Jimin lembut, lalu berjongkok di hadapan sang gadis.

Moura menggeleng lemah.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat, tetapi Moura lebih suka begitu. Dalam hati, ia berterimakasih akan Jimin yang tidak menanyakannya macam-macam.

Setelah Jimin merasa Moura lebih tenang, ia menyunggingkan senyumannya dan berkata, “Ayo, masuk. Kubuatkan teh hangat.”

Dan rasanya Moura tidak bisa menolak ajakan yang disertai senyuman hangat itu.

.

.

.

Nyonya Park memberi Moura secangkir teh setelah berdebat dengannya, menyuruh gadis itu untuk pulang dan mandi agar tidak masuk angin yang berkali-kali ditolak Moura dengan gelengan lemah. Gadis itu mengutarakan terimakasih meski nyaris tidak terdengar.

“Kenapa bisa sampai begini, nak?” tanya Nyonya Park khawatir.

Moura sungguh berterimakasih akan kekhawatiran Nyonya Park padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi ia sungguh tidak ingin ditanyai macam-macam saat ini. Menceritakannya ke Jihoon atau Carys saja tidak sanggup, apalagi ke orang asing yang baru berinteraksi dengannya hari ini.

“Sudahlah, Bu. Jangan tanyai dia macam-macam. Biar dia menenangkan diri,” ujar Jimin menyela serangan pertanyaan Nyonya Park. “Ya, kan, Moura?”

Moura terkejut akan bagaimana Jimin tahu namanya, tetapi yang dilakukannya hanyalah mengangguk pelan.

Nyonya Park menghela napas, tersenyum hangat dan menepuk punggungnya beberapa kali. Akhirnya, wanita paruh baya itu menyerah mencoba membuat Moura menceritakan semuanya.

“Aku akan berada di dapur kalau kamu mencariku,” bisik Nyonya Park kepadanya, “dan kau, Park Jimin, jaga Moura baik-baik. Ibu mau melanjutkan memasak.”

Dan Moura tidak tahu harus bicara apa dengan pemuda di hadapannya.

.

.

.

“Kak Jimin tujuh belas tahun?” tanya Moura.

Jimin mengeluarkan cengirannya. “Kenapa? Terlihat lebih tua, ya?”

Moura menggeleng pelan. “Kelihatan seperti lima belas tahun bagiku.”

“Kuanggap ini sebagai pujian,” ujar Jimin ceria.

Moura hanya terdiam untuk sejenak. Tak ada satu patah kata pun yang terlontar darinya. Tatkala ia merasakan sepasang netra yang menatapnya lekat-lekat, Moura baru sadar kalau Jimin mungkin menunggu responnya.

Kemudian, Moura kembali teringat akan teman-temannya yang menganggapnya dingin karena miskinnya respon darinya.

Apakah Jimin akan berpikir seperti itu juga? Padahal, ini pertama kalinya ia bisa mengobrol dengan orang yang seumuran dengannya. Bukan karena Moura tidak mau, tetapi karena orang-orang menjauhinya.

(Selisih empat tahun, sih, tetapi anggap saja seumuran karena wajah Jimin menunjukkan begitu.)

Moura membalas tatapan mata Jimin, menggertakkan gigi dan memaksa dirinya untuk berbicara.

“A-aku–”

Nggak usah dipaksakan juga nggak apa-apa, kok,” ujar Jimin yang membuat Moura kembali menutup mulutnya. “Aku rasa aku tahu apa masalahmu. Rasa bersalahmu, caramu menghukum dirimu sendiri … semuanya terpampang jelas, Mou.”

Moura menundukkan wajahnya. Tiba-tiba, converse buluknya terlihat begitu menarik untuk diperhatikan daripada wajah pemuda Park itu.

“Moura anak baik. Hanya orang-orang bodoh saja yang nggak tahu itu,” tutur Jimin. “Jadi, jangan paksa dirimu untuk orang-orang bodoh itu, tapi jangan biarkan mereka menginjak-injakmu. Jangan jadikan kesalahan mereka jadi kesalahanmu. Kamu nggak bersalah.”

Jimin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Maaf kalau aku terkesan mencampuri urusanmu dan sok tahu, tapi aku nggak bisa melihat seseorang yang nggak bersalah malah merasa bersalah. Nggak sanggup melihatmu menghukum diri sendiri. Nggak sanggup membiarkanmu berpikir bahwa ada yang salah dengan dirimu. Padahal, merekalah yang pada akhirnya merugi karena tak mendapatkan kepercayaanmu.”

Moura mati-matian menahan air mata, tetapi tak berhasil.

Dasar lemah, batinnya kesal kepad dirinya sendiri.

“Menangislah kalau memang kamu sedih,” ujar Jimin hangat, menepuk-nepuk punggungnya lembut, “tapi sehabis itu, kamu harus tersenyum.”

Kemudian, Moura terisak keras.

Tangannya menggenggam ujung kaus yang dipakai Jimin, sementara pemuda itu masih menepuk-nepuk punggung sang gadis, mencoba menenangkannya.

Rasa canggung itu masih ada. Bagaimanapun, mereka baru berkomunikasi hari ini.

Namun, ada rasa hangat yang terselip di dalamnya. Ada suatu kehangatan dari caranya menenangkan Moura.

Apa ini yang disebut teman?

“Tersenyumlah sehabis ini, oke?”

.

.

.

Jihoon benar-benar nyaris menghajar siapapun yang membuat Moura sedih.

(Moura bersyukur ia tidak langsung pulang saat itu. Kalau tidak, mungkin Jihoon akan menghajar para senior dan teman sekelas yang memaki Moura di depan umum.

Untung saja, ada Jimin yang mencegah aksi brutal dari kakak mini Moura itu.)

Gadis itu tersenyum tipis mengingatnya. Walaupun ia sama sekali tidak suka dengan apa yang akan dilakukan Jihoon, tetapi gadis itu merasa bahagia. Setidaknya, Jihoon peduli kepadanya.

Reaksi Carys berbeda. Tentu saja, yang dilakukan gadis itu lebih rasional dari yang akan dilakukan Jihoon. Alih-alih marah kepada yang membuatnya tak nyaman, Carys memeluk erat adiknya itu, menanyakan kondisinya dan bagaimana perasaannya saat ini, membuatkannya susu hangat yang disukainya.

Lihat itu. Moura Lee bisa tersenyum juga rupanya.”

Moura mendengar salah seorang teman sekelasnya berbisik kepada yang lainnya. Moura menatap tajam ke arah mereka, dibalas dengan seringaian menyebalkan dari kelimanya.

Setahu mereka, seseram apapun Moura terlihat, gadis itu takkan pernah membalas perlakuan mereka.

Namun, saat ini lain.

Moura menghampiri kelima orang yang berada di kelas yang sama dengannya–ia tidak ingin memanggil mereka dengan sebutan teman lagi–kemudian menggebrak meja yang mereka pakai.

Salah satu gadis di situ terpekik takut. “A-apaan, sih?”

Moura tidak berkata apa-apa. Alih-alih, matanya mengamati mereka lekat-lekat.

Tanpa berkata apa-apa, Moura mendengus meremehkan. “Bodoh.”

Kemudian, gadis itu melenggang pergi.

Lega rasanya melihat wajah-wajah ketakutan dari kelima orang itu.

Ini semua karena kepedulian Jihoon, walaupun dalam bentuk brutal yang tak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ini juga karena pelukan Carys yang menenangkannya dari segala perasaan yang berkecamuk di dalam hati.

Dan ini semua karena Jimin, tetangga barunya yang menunjukkan sisi baik pertemanan, juga menolongnya meski mereka orang asing.

Moura menarik sudut-sudut bibirnya ke atas.

Mungkin, kapan-kapan ia akan membalas teh hangat yang waktu itu–walau secara teknis Nyonya Park yang membuatnya. Traktir es krim, mungkin?

Moura akan memikirkannya nanti saja. Yang penting, sekarang ia akan pulang dan bertemu kakak-kakaknya–juga Park Jimin, tentu saja.

.end.

A/N: I’m baaaaaaaaaaaaack! Ada yang kangen aku? /nggak

Advertisements

7 thoughts on “[Vignette] More Than a Neighbour

  1. AKUU KANGEN KAMUUU AYAA DUHEEH MAS JEMEN LEMBUT BGT KEK LELEMBUT. /mami hyper/

    Deayaa kukangen dedek mou dan terbayarkan di fiksi ini. Ingin mengumpat, karena ini bikin baper fix. Mami jg lagi ngerasain kek mou, ga sama persis sih cuman ya gitu kan enak yha kalo ada awowok tamvan macem jimib yg ngepukpuk. Huhuhuu mou beruntung.

    Ah udh ah, mami mau lanjut bapering egein.

    Like

    1. mih…..lelembut itu beda lagi mih…. AKU JUGA KANGEN MIH SINI KUPELUK DULU KU KANGEN MAMIH DAN BTSFFI BESERTA STAFFNYA
      Ehehehe mamih sedang baperan rupanya. Yah, apa boleh buat mih. Realita tidak seindah fiksi /digeplak/ Kalo aku yang ngepukpukin aja gimana mih?
      Selamat baperin, mih! dan thankchu mamiiih~

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s