[Chapter 5] Of Alienate and A Mirage: Frailty

of-alienate-and-a-mirage-poster-2

Of Alienate and A Mirage

by risequinn

BTS members with some OCs
| genres AU!, Fantasy, Friendship, School Life, Sci-Fic | length 2k words | rating PG-17 |

Prev:
Prolog & Introduction | 1: A Secret of Nomina High School | 2: New Elementer | 3: A Punishment | 4: Who is He?

.

.

Mereka kerap menyebutnya ‘sesuatu yang tidak ada’.

.

.

Chapter 5: Frailty

Verna hanya menunduk usai melewati gerbang rumahnya. Di depan pintu sana, Valco tengah berdiri sembari melipat tangannya. Tatapannya tajam, mengarah lurus ke sosok Verna yang kini memijak pada beranda rumah.

“Kenapa baru pulang?” suaranya lirih namun datar, membuat Verna bungkam selama beberapa saat.

“Tadi mencari buku, lalu menonton Carden berlatih sepak bola, Kak.” jawab Verna kemudian. Gadis itu menghentikan jengkahannya tepat di depan sang kakak.

“Carden?!”

“Iya, dia teman sekelasku.”

Valco melangkah maju. Wajahnya tampak sedikit memerah. Ia tahu jika Verna memang sedang dekat dengan Ketua Dewan tersebut. Tetapi, Valco tidak akan membiarkan mereka untuk dekat terlalu lama. Ini sudah cukup. Valco hanya tidak mau jika Verna terluka pada akhirnya nanti.

“Verna, menjauhlah darinya!”

“A-apa?”

“Menjauh dari Carden!”

Yang dilakukan Verna hanya diam sembari mengerjapkan mata dengan bingung. Semakin hari, gadis itu semakin tidak mengerti ada apa dengan semua ini. Dengan sekolahnya, dengan Carden, bahkan dengan kakaknya sendiri. Hal-hal yang terjadi seolah berputar dikepalanya silih berganti.

“T-tapi kenapa, Kak?” tanya Verna setelah terdiam selama beberapa saat, yang justru mendapat picingan tajam dari sang kakak.

“Bisakah kau melakukan yang kuminta tanpa bertanya apa alasannya?!” sahut Valco.

“Tetapi aku tidak bisa menjauhinya tanpa alasan.”

“Verna!”

“Dia seseorang yang baik, Kak.” Verna masih bersikukuh. Bagaimanapun, Carden yang dikenalnya adalah pemuda baik hati yang mau berteman dengan dirinya di hari pertama gadis itu masuk ke Nomina. Ia tidak bisa menjauhi Carden begitu saja tanpa mengerti apa maksud Valco dan apa salah Carden sesungguhnya.

Sementara, Valco mulai geram lantaran Verna belum pernah menentang perintahnya. Ia bahkan berasumsi bahwa adik perempuannya sudah terpengaruh sifat Carden, sehingga Verna menjadi seperti ini.

“Itu hanya sementara!” seru Valco tidak sabaran.

“Apa maksudmu?”

“Lakukan apa yang kau inginkan, dan lihat sendiri bagaimana dia memerlakukanmu nanti.” Valco meninggalkan kediaman mereka usai menuntaskan kalimatnya. Ia tidak ingin memandang Verna, pun mendengar pembelaannya. Valco memilih untuk sendiri sekarang ini. Lagipula, berbicara dengan Verna hasilnya akan sama saja. Gadis itu keras kepala, dan entah bagaimana Valco harus memperingatkannya.

“Kak Valco, tunggu! Kak!”

 

***

 

Ravendra menyudutkan diri di dalam kamar flat-nya. Ia membuang ranselnya begitu saja. Tidak ada yang spesial pada hari-harinya. Pagi berangkat ke sekolah, petang baru sampai di rumah. Ravendra bahkan tidak tahu sekarang tanggal berapa dan hari apa. Ketika berada di sekolah, yang ia ingat hanya seragam yang tengah dipakainya. Jika ia memakai pakaian olah raga, berarti itu adalah hari Sabtu. Begitu saja setiap hari, tanpa tahu keramaian-keramaian yang terjadi di Roovel belakangan ini.

Banyak toko-toko yang menyiapkan kembang api ketika Ravendra melewatinya saat pulang sekolah tadi. Beberapa poster juga tertempel di berbagai sisi kota untuk mengingatkan warga agar mereka datang ke acara tersebut. Namun tampaknya, hal itu tidak menarik perhatian Ravendra sama sekali.

Pesta kembang api, untuk apa semua itu memangnya? Tidak ada kegunaannya. Toh, sampai sekarang ia tetap sendiri. Tetap dianggap sebagai sesuatu yang tidak ada. Ravendra sempat berpikir untuk datang, tetapi pergi tanpa teman atau saudara akan terasa sia-sia saja.

Jujur saja, Ravendra lelah menjadi seperti ini. Ia benci jika harus sendirian. Diasingkan tanpa seorang pun mau bertegur sapa dengannya. Ia hidup, tetapi seolah tidak. Ia terlihat, tetapi seolah kasat mata.

Ravendra mencuci wajahnya kemudian menuju meja makan. Pemandangan di luar flat dari jendela yang terbuka membuat si pemuda mendengus keras. Malam ini sangat cerah. Selagi menyantap makan malamnya, Ravendra menikmati pemandangan tersebut. Tidak banyak yang berubah sejauh ini selain gedung-gedung di ujung jalan yang tengah direnovasi.

Sudah tiga tahun berlalu setelah kejadian itu. Tetapi selama tiga tahun, Ravendra tidak bisa melupakan kejadian yang menimpanya tersebut. Kejadian yang membuatnya harus tinggal di dalam Alienate’s Room selama ini.

Ravendra tidak menyangka bahwa rahasianya akan terungkap dengan cara seperti itu. Seseorang yang merupakan adik tingkat si pemuda membongkar semuanya ketika ujian tengah semester berlangsung.

Murid-murid pada gedung A tentu tidak pernah menunjukkan sampai sejauh mana mereka dapat mengendalikan elemennya. Mereka cukup mengisi beberapa soal mengenai pembelajaran yang diperoleh selama setengah semester tersebut. Tetapi, karena merasa tidak adil, seluruh murid di gedung C mengajukan protes besar-besaran tentang peraturan itu. Mereka meminta agar murid di gedung A juga menunjukkan kemampuannya.

Ravendra masuk ke salah satu dari mereka yang berada di gedung A. Ia memang sangat pandai dan tanpa melewati tes apapun, ia dapat masuk ke gedung A secara cuma-cuma. Ravendra mendapat beasiswa karena kepandaiannya tersebut. Karena tidak ingin masalah ini terdengar ke luar sekolah, para Master pun mengiyakan permintaan murid-murid dari gedung C. Mereka mengadakan tes untuk seluruh murid di gedung A seperti yang dilakukan oleh murid gedung B dan C.

Satu-persatu murid menunjukkan kemampuan mereka yang luar biasa. Selain karena mereka sangat pandai, mereka juga mampu mengendalikan elemen yang dimiliki dengan tepat. Tidak ada kesalahan sama sekali dalam tes tersebut. Sampai pada akhirnya, tiba saat Ravendra menunjukkan kemampuannya. Ia terdiam selama beberapa saat membuat semua orang memicingkan mata. Keringat dingin telah membanjiri pelipisnya saat itu. Ravendra tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain diam.

Ketika seorang Master bertanya kepadanya, Ravendra hanya menunduk dalam. Ia terlahir sebagai manusia biasa tanpa elemen, jadi ia tidak bisa menunjukkan apapun kepada mereka. Ia masuk kemari tanpa melalui tes, jadi tidak ada yang tahu sebenarnya jika Ravendra bukanlah seorang elementer. Ia merahasiakan ini dari semua orang, bahkan Raizel, adik kandungnya sendiri. Hanya satu orang yang tahu tentang keanehannya ini, namun orang tersebut telah tiada; Ibunya.

Pada akhirnya, semua orang tahu bahwa Ravendra tidak memiliki elemen apa-apa. Mereka meminta Ravendra dimasukkan ke Alienate’s Room dan menggantikan seorang gadis yang diasingkan di sana. Gadis tersebut dikeluarkan dari sekolah, kemudian Ravendra mendapat julukan alienate setelah itu. Peraturan ujian tengah semester yang seperti itu pun berlaku hingga sekarang, tetapi peraturan lama tentang ujian akhir untuk murid-murid di gedung A tetap diberlakukan; mereka hanya diminta untuk mengisi beberapa soal sebagai syarat kenaikan tingkat.

Ravendra meletakkan alat makannya dan berdiri di samping jendela. Tangannya terkepal kuat, kemudian dihantamkan pada birainya. Elemen adalah sebuah anugerah, begitu yang sering dipelajarinya. Seseorang yang tidak memiliki elemen sama sekali, akan diberi elemen tertentu pada suatu kesempatan. Untuk itu, Ravendra akan tetap hidup sampai ia memeroleh anugerahnya, entah sampai kapan.

 

***

 

Carden mulai cemas karena Verna melihat sosok Ravendra di atap gedung sekolah. Pagi tadi, saat bertemu dengan Verna setelah tiga hari menikmati libur, Carden memilih untuk menghindar daripada dilempari bermacam-macam pertanyaan. Mungkin gadis itu juga menyadarinya, tetapi Carden sungguh-sungguh tidak dapat bertemu Verna sekarang ini. Ia tidak bisa menjelaskan apapun jika Verna lagi-lagi bertanya soal kemarin sore, selain mengelak jika ia tidak melihat apa-apa.

Tetapi, Carden juga tidak akan pernah bisa lama-lama menghindar. Selain karena mereka berada di kelas yang sama, Carden adalah teman pertama Verna. Gadis itu hanya akan berbicara dengannya. Ia tidak terlihat akan berbicara dengan siapapun setelah masuk ke sekolah ini. Karena itu, Carden bingung harus melakukan apa sekarang.

Mata pemuda itu mencuri pandang ke arah tempat duduk Verna. Sang gadis tengah sibuk menulis sesuatu pada buku catatannya. Matanya terfokus pada Master Loui yang hari ini mengampu mata pelajaran kedua tentang planet misterius yang mengganggu orbit saturnus. Carden yakin betul bahwa gadis itu tidak mengerti tentang apa yang Master Loui sampaikan. Ia hanya berusaha untuk mencari fokus lain daripada fokusnya terpecah dengan hal-hal yang tidak berguna.

Liby telah menceritakan padanya tempo hari jika gadis ini sempat masuk ke ruang kesehatan karena mendadak pusing. Carden yakin, pusing yang dialami Verna bukanlah pusing biasa. Carden pernah mengalaminya dulu. Ia tidak dapat fokus dan pikirannya terganggu, mengakibatkan kepalanya berdenyut pun nyaris kehilangan kesadaran.

Setelah ia membaca beberapa buku di perpustakaan, barulah Carden mengerti mengapa seorang elementer selalu diserang pusing yang luar biasa. Hal itu disebabkan oleh otaknya yang terlalu banyak memikirkan hal-hal lain. Seorang elementer harus memiliki fokus yang sangat baik. Mereka tidak dapat memikirkan hal-hal sembarangan. Mereka bahkan tidak bisa bermimpi.

Carden tahu apa yang menganggu pikiran Verna akhir-akhir ini. Beberapa hari yang lalu ia bertanya apakah Carden memang tidak punya teman di sekolah ini? Pemuda itu telah menjawab tidak, namun tampaknya hal itu tidak menyurutkan niat Verna untuk mencari tahu lebih banyak. Ditambah dengan kejadian bertemu dengan Ravendra di atap sekolah itu, Carden rasa Verna harus menemui Master vitakinesis untuk menyegarkan kembali otaknya.

Tetapi, lagi-lagi Carden hanya sanggup diam. Ia tidak bisa berbicara dengan Verna sebelum keingintahuan gadis itu memudar dengan sendirinya. Ia tidak bisa menjelaskan apapun soal si alienate, karena itu merupakan pantangan di sekolahnya.

 

***

 

“Ada pesta kembang api!” Aron memekik sembari menghambur ke dekat meja karib-karibnya. Mereka tengah berkumpul di kafetaria Nomina High School sekarang ini, menikmati beberapa kudapan yang disediakan, selagi bertukar obrolan ringan.

“Kita berempat akan pergi bersama, kan?” Raizel menyuarakan sebuah tanya yang dibalas anggukan cepat oleh yang lainnya.

“Tidak ingin mengajak Car―”

“Jeanneth!” senyum yang terlengkung pada bibir Raizel serta merta lenyap usai Jeanneth menyela dengan mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya.

“Maaf, aku lupa.” sesal Jeanneth kemudian. Membuat Aron, Raizel, juga Evan terdiam dan saling pandang.

“Kupikir, kita juga harus mengakhiri ini.” ujar Evan. Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya yang malang itu terus dijauhi oleh mereka semua.

“Apa maksudmu, Evan?! Ini tidak akan pernah berakhir jika anak kurang ajar itu tidak meminta maaf pada kita.” Raizel menyahut dengan berapi-api. Nampan makan siangnya telah ia jauhkan begitu saja, tanda bahwa ia sudah tidak berselera untuk makan lagi.

“Ra, kautahu jika semua itu bukan keinginannya.” jawab Evan.

“Aku tahu. Tetapi bisa, kan, dia mengatakan tidak? Dia egois, Evan!” seru Raizel.

“Raizel benar. Dia menjadi angkuh setelah mendapat jabatan itu.” timpal Aron. Pemuda itu mengambil beberapa potong keripik kemudian memakannya dengan segera.

“Hei, dia hanya menjalankan tugasnya, teman-teman. Ayolah, kalian pasti mengerti ini. Kalian bukan anak kecil lagi.” jelas Evan dengan sabar.

“Dan kenapa kau jadi membelanya, Evan?!” Raizel bertutur dengan nada marah. Ia memicing tajam ke arah si pemuda vitakinesis yang kini ikut-ikutan menjauhkan nampan makan siangnya.

“Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Ini semua menjadi tidak terkendali.”

“Berhentilah, Evan! Aku memperingatkanmu!”

“Sudahlah, jangan bertengkar! Kaubilang jika kita bukan anak-anak lagi, tetapi sikap kalian justru menunjukkan semua itu.” Jeanneth bertutur dengan keras, mencoba meluruhkan segala perdebatan hari ini. Ia memandang karibnya satu-persatu. “Aku tidak membela siapa-siapa, tetapi kupikir jika ini semua memang salah dari awal. Kita menjauhi Carden hanya karena dia menjadi seorang Ketua Dewan Sekolah. Dia tidak memiliki teman dan dijauhi oleh semua orang setelah itu. Dia terpaksa menjalankan tugasnya tanpa dukungan, dan kita juga tidak tahu mengapa tiba-tiba Carden yang ditunjuk menjadi ketua, bukan? Seharusnya kita membantunya, bukan justru seperti ini.”

Raizel tiba-tiba berdiri dari kursinya. “Jika kalian ingin mengajaknya bergabung kembali, silahkan! Itu artinya kalian sudah siap untuk kehilanganku.”

“Raizel!” bentak Evan.

“Jangan membentakku, Evan!”

“Aku mendukung Raizel.” Aron pun berdiri sembari mengacungkan tangannya.

“Aron, jangan membuat semuanya menjadi rumit!” Evan memicing ke arah pemuda yang merupakan adik tingkatnya itu dengan tatapan marah.

“Aku tidak membuatnya semakin rumit. Aku hanya mengutarakan apa yang kurasakan selama ini. Kalian tidak pernah mendapat titah darinya, maka dari itu kalian merasa semua ini baik-baik saja. Carden telah menjadi boneka orang-orang dewasa bertitel ‘Master’ itu!” jelas Aron.

“Jika memang seperti itu, siapa yang salah? Carden, begitu?” Jeanneth ikut berdiri dari kursinya dengan membuat gebrakan kecil pada meja mereka. Seluruh perhatian terpusat pada keempatnya saat ini. “Tugas kita sekarang adalah membuat otak dibalik nama Ketua Dewan Sekolah itu sadar dan berhenti bersikap seenaknya. Mereka tidak bisa memanfaatkan Carden seperti ini. Untuk itu, aku membutuhkan kalian. Tolonglah, Aron, Raizel, ayo berjuang sama-sama untuk mengembalikan Carden seperti dulu!”

Raizel hanya terdiam. Begitupun dengan Aron. Tetapi, keduanya tidak ingin mengakhiri perdebatan ini dan menerima permintaan Jeanneth begitu saja. Raizel maupun Aron telah merasakan bagaimana mereka menerima hukuman yang diperintahkan oleh Carden. Meskipun mereka tahu jika hukuman itu adalah perintah Master, tetapi tetap saja, Carden lah yang menjalankan tugasnya. Ia berlagak seolah berkuasa dengan memberi perintah-perintah tersebut pada mereka.

“Lakukan saja yang kalian mau!” Raizel meninggalkan meja mereka usai bertutur demikian. Ia sungguh-sungguh tidak dapat menerima Carden kembali setelah mengingat apa yang dilakukannya kepada gadis itu.

“Raizel! Oh, ya Tuhan, gadis itu keras kepala sekali, sungguh!” Evan memekik frustasi dengan mengacak rambutnya sendiri. “Tolong kau beri pengertian kepada Aron, sementara aku akan mengejar si gadis petir itu, Jean.”

Jeanneth mengangguk. “Semoga beruntung, Evan.” ujarnya kemudian menatap Aron yang masih berdiri di sebelahnya.

“Kau juga, omong-omong.” Evan lantas berlari pergi menyusul Raizel. Ia harus membantu Carden dan mengembalikan pemuda itu seperti semula; Carden yang ceria dan suka tertawa. Sesungguhnya, Evan juga tidak menyukai sikap Carden yang seperti sekarang. Tetapi, ia yakin jika Carden berubah pasti karena suatu hal. Dan hal tersebut berada di sekolah mereka ini, di Nomina High School.

 

***

 

Leevi mendapati sosok Verna menaiki anak tangga pada gedung A. Gadis itu mungkin hendak menuju ke kelasnya. Ia sendirian, tidak bersama dengan Carden. Entah iseng atau merasa memiliki tanggung jawab atas perintah seniornya, pemuda itu mengikuti Verna naik ke sana meskipun itu bukan gedung di mana kelasnya berada.

Namun kemudian, Leevi dibuat tercengang. Verna tidak mungkin sedang menggunakan kekuatannya di tempat umum begini, terlebih ini berada di area sekolahnya. Gadis itu bisa mendapat hukuman jika ketahuan menggunakan kekuatannya sembarangan. Nomina bukan sekolah yang membiarkan murid-muridnya mencoba elemen di sembarang tempat. Itu merupakan sebuah peraturan yang berlaku sejak sekolah ini berdiri beberapa dekade silam.

Leevi yakin jika Verna mengetahui peraturan tersebut, jadi untuk apa gadis itu menggunakan kekuatannya di sekolah seperti ini? Ingin mencapai kelas dengan lebih cepat? Leevi segera berlari menuju ke kelas Verna, tetapi gadis itu tidak berada di sana. Ia justru mendapat protes dari beberapa teman setingkat Verna karena masuk ke area mereka tanpa izin.

Leevi tidak mengerti ada apa dengan semua ini.

Verna menghilang.

 

 

 

To be continued…

Jung Hoseok as Evan (elemen: vitakinesis)

tumblr_oeboe6nket1s70o1po1_500

Min Yoonra as Raizel (elemen: elektrokinesis)

x_f786a42a

siluetjuliet’s OC
Visual: Bae Hyowon

Advertisements

10 thoughts on “[Chapter 5] Of Alienate and A Mirage: Frailty

  1. Pingback: [Chapter 6B] Of Alienate and A Mirage: Mission Accomplished – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Pingback: [Chapter 6A] Of Alienate and A Mirage: Rescue Mission – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Echaaaa why carden whyyy chaa?
    Kenapa semua2nya gasuka carden whyy? Padahal kan carden ngga temenan sm bpk2 botak yg makan sarden tiap hari dan nggak ngakuin anaknya sbg anak haram kan cha? (Plis mih beda kasus)

    Kesalahan carden apa coba sampe aku penasaran? Iya sih, aku tau jimin emg agak yadong tapi kok yha sanpe segitunya jin nyuruh nayeon ngejauhin jimin… takut nay digrepe-grepe sama jimin apa gimana? /plak.

    Dan yeokshi itu si kakakyoon duheh kesian amet kaga dianggep, makanya bang jan galak2, jan ketus2, jan durhaka sama adek, kualat kan jadinya /digampar.
    Mbayunra gabole deket2 kayungi juga yha? Padahal pengen pelok… pengen kawinin… /apadeh/

    Maap yha neng akikah kalo ngomen agak nyeleneh, bikoz kusangat rindu lanjutannya. AYO ECHA LANJUTIN, TANGGUNG JAWAB UNTUK MENJAWAB KEKEPOANKU /bawa pecut/
    /dikeplak echa gegara rusuh mulu/

    Liked by 1 person

  4. Lisa Thouw

    Akhirnya tau juga alasan knp Yoongi diasingkan. Tp itu yang protes emng siapa dlu? Namjoon kah?
    Dan skrng penasaran knp Verna dilarang dkt2 sama Jimin.hemmmm

    Btw, itu Verna ilang kmna? Jgn2 nyamperin Yoongi.kkkk~

    Nextnya ditunggu, Cha.
    Mian br sempet menjejak skrng.

    Like

  5. wulan dari

    wahhh suka banget sama ff ini… ga sabar nunggu kelanjutannya… aku heran kenapa valko ga suka banget kalo verna deket” sama carden… padahal carden kan baik.. dan bukan salah carden juga kalo dia jadi dewan sekolah.. mereka jahat banget, dengan ngejauhin carden..

    Like

  6. yg pertama kali terlintas di kepalaku : berapa umur suga? umur suga berapa kalo kejadian dia dijadikan alienate udah 30 tahun?? tua banget dong, atau dia immortal???
    ahh… jd jimin dijauhin karena jd dewan sekolah? ya ampun… kasian…
    tentang keberadaan suga yg dirahasiakan, apa cuma jimin yg tahu? karena dia dewan sekolah? verna ilang itu pergi ke atap kan? cari tahu siapa orang yg dia liat waktu itu? duh kakkkk jangan lama2 dong postingnya… penasaran…….

    Like

  7. yg pertama kali terlintas di kepalaku : berapa umur suga? umur suga berapa kalo kejadian dia dijadikan alienate udah 30 tahun?? tua banget dong, atau dia gak immortal??? ahh… jd jimin dijauhin karena jd dewan sekolah? ya ampun… kasian… tentang keberadaan suga yg dirahasiakan, apa cuma jimin yg tahu? verna pergi ke atap kan? cari tahu siapa orang yg dia liat waktu itu? duh kakkkk jangan lama2 dong postingnya… penasaran…….

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s