[BTS FF Freelance] I Will Survive ‘Bullying’ – (Chapter 1)

Processed with VSCO

I WILL SURVIVE ‘Bullying’ (1)

Author : @Aqilua

Cast : Kim Seokjin, Jung Yerin

Genre : Drama, Hurt

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Disclaimer :

Semua murni dari dalam otakku sendiri! Bila ada beberapa kemiripan dengan cerita lain sekali lagi itu hal yang tidak disengaja.

****

THIS IS NOT BEGINNING

****

Benci. Ya, benci. Satu kata yang menggambarkan perasaan hati ketika ada sesuatu yang menyakitkan, menyesakkan, mengecewakan sampai ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Benci ada karena kita tidak bisa menerima sesuatu yang menyakitkan. Dia lahir dari pertentangan. Dia datang dari negeri entah berantah. Dia lalu berkemah di hatimu bahkan membuat rumah jika kau membuatnya nyaman.

Benci itu telah bersarang di hati Kim Seokjin.

Bukan tanpa alasan. Seumpama jika kau memiliki sebuah mainan kesayangan lalu datang orang asing tiba-tiba merusaknya, bagaimana perasaanmu? Sedih, marah, kecewa dan benci, Seokjin merasakan semuanya.

Ia anak tunggal yang lahir di tengah-tengah keluarga super harmonis sekaligus sukses. Ayah dan ibunya sama-sama seorang pengusaha terkenal di dua perusahaan berbeda. Ayahnya begitu mencintai ibunya begitu pula sebaliknya tapi itu dulu. Sebelum kedatangan seorang pembantu muda dan anak perempuan sialnya.

Singkat cerita, ayahnya berselingkuh dengan pembantu rendahan itu lalu aib mereka terbongkar. Dengan sadar diri ayahnya mengangkat kaki dari rumah membawa pembantu rendahan tersebut bersamanya. Lalu bagaimana dengan nasib anak perempuan wanita itu? Di luar nalar, ibunya yang begitu menginginkan seorang anak perempuan memutuskan untuk mengambil gadis kecil yang ditelantarkan itu—Jung Yerin, mengangkatnya menjadi seorang anak. Aneh memang, tidak masuk diakaltetapi itulah kelemahan yang dimiliki oleh ibunya, mudah iba dan memaafkan berbeda halnya dengan Seokjin.

Yerin memahami itu. Mungkin saat ia balita ia tidak tahu menahu atas rasa benci yang diderita oleh seokjin tetapi seiring berjalannya waktu pria itu ‘memaksanya’ untuk paham. Jin mengejeknya, Jin menyiksanya dan Jin juga memukulnya—di belakang Nyonya Kim tentu saja. Kata maaf sudah tak berguna. Ia ingin lari tetapi mengingat bagaimana kebaikan hati Nyonya Kim, Yerin memilih untuk bertahan karena ia yakin, Seokjin pasti dapat berubah suatu saat nanti.

Selalu seperti ini. Yerin sudah menduganya. Jika Nyonya Kim tidak di rumah Jin akan mengusirnya agar tidur di luar dan untuk seminggu ia akan terus begini. Tidak ada kasur dan makanan. Beruntung ia sempat menyembunyikan uang saku yang diberikan Nyonya Kim padanya semalam. Jika Seokjin tahu, pria itu pasti akan merampasnya dan Yerin tidak mampu membayangkan apa jadinya jika ia tidak makan selama seminggu.

Malam yang panjang sudah berganti pagi. Sambil berjalan, gadis mungil itu menggaruk bekas gigitan nyamuk di sekitar tangannya. Hari pertamanya tidur di luar rumah saja sudah mendapat bekas gigitan nyamuk sebanyak ini apalagi jika sampai 7 hari. Berulang kali Yerin menghela nafasnya panjang. Ia enggan untuk masuk sekolah sebenarnya, apalagi jika bukan karena Seokjin. Cukup di rumah ia bertemu dengan pria itu dan diperlakukan semena-semena. Sekarang juga di sekolah? Memikirkanya membuat Yerin gelisah, tapi mau bagaimana lagi Nyonya Kim yang berisikeras ingin menyatukan sekolah keduanya.

Dan sekolah Jin sangat besar.

Yerin benar-benar terpana, empat gedung utama di hadapannya bertingkat tiga dan sangat terlihat… elit? Tentu saja, ini adalah salah satu sekolah terbaik di Korea dan parahnya, Yerin datang berjalan kaki berbanding terbalik dengan mereka yang rata-rata datang menggunakan kendaraan mewah. Gadis itu menatap gugup sekelilingnya, ia begitu canggung.

Semua menjadi semakin aneh ketika ia menjejakan langkahnya di selasar. Orang-orang yang berjalan melewatinya menatap ke arah dirinya lekat sambil berbisik-bisik lalu ada sebuah suara terdengar entah dari mana asalnya itu. “Yerin si anak pelacur?” semua mata langsung tertuju padanya, seketika mereka tertawa seakan-akan hal itu pantas untuk ditertawakan.

Yerin yang masih kurang paham atas situasi ini hanya bisa menundukan kepala, menyembunyikan wajah di balik surai panjang hitamnya sambil terus berjalan. Beberapa kali ia berpapasan dengan orang-orang di selasar, mereka juga menyebutkan kalimat yang sama, ‘Yerin si anak pelacur’ Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka berkata seperti itu?

Manik coklat Yerin sedikit teralihkan saat melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Ada kerumunan orang yang sedang memperhatikan kepada papan pengumuman. Entah mengapa Yerin jadi turut tertarik untuk melihatnya, saat ia mendekat dan berdiri di belakang kerumanan orang-orang tersebut keadaan yang awal mulanya ricuh perlahan-lahan berubah menjadi hening. Sejenak mereka menatap Yerin sambil berbisik-bisik bahkan ada pula yang tertawa, sampai pada akhirnya mereka semua memutuskan untuk bubar meninggalkan Yerin seorang diri.

Ia paham sekarang.

Ia paham mengapa ada yang memanggilnya ‘anak pelacur’. Ia paham mengapa orang-orang memperhatikannya. Ia paham mengapa orang-orang menertawakannya.

Yerin menggigit keras bibir bawahnya yang bergetar memperhatikan sebuah poster berukuran besar di papan pengumuman. Di poster itu terlihat jelas foto dirinya dengan huruf tak kalah besar bercetak tebal yang di bawahnya bertuliskan “JIKA KALIAN MELIHATKU PANGGIL AKU : YERIN SI ANAK PELACUR”

Pelakunya sudah sangat jelas. Gadis mungil itu mengehela nafasnya bergetar menenangkan diri agar tak menangis. Ia tidak boleh menangis, tidak boleh. Saat tangan kecilnya akan menarik lepas poster itu sebuah suara terlebih dulu menginterupsi.

“Bukankah bagus?”

Yerin membeku lalu ia menarik undur tanganya secara perlahan dan kembali menundukkan kepala. Ia tidak berani mencari tahu dari mana sumber suara itu berasal.

“Aku membuatnya khusus untuk menyambut kedatanganmu. Kau suka Yerin?” tanya Seokjin penuh cemooh lalu ia mendekat ke arah gadis mungil itu dan berbisik pelan di telinganya. “Dari responmu sepertinya kau tidak suka. Ingin melepasnya hm?”

Kepala Yerin terangguk lemah tanda mengiyakan. Bibir bawahnya sudah mati rasa akibat iaterus menggigitnya keras.

“Kalau begitu silahkan. Lepaskan saja, itu pun jika kau… berani?” tantang Seokjin dengan senyuman miring. Sejenak Yerin mengusap matanya yang berair dengan punggung tangan lalu ia mundur perlahan dan memilih untuk beranjak dari situ.

Ia dilecehkan, seharusnya Yerin bisa melakukan lebih dari sekedar melepas poster brengsek itu. Ia berhak menampar Seokjin dan memakinya… ya, seharusnya begitu.

****

Seokjin kecil nampak resah dalam tidur. Dahi mulusnya terus berkerut tak tenang, kelopak matanya sedikit bergetar lalu ia terbangun. Seokjin kecil tiba-tiba langsung menyibakkan selimutnya hingga jatuh ke lantai dan beranjak keluar dari dalam kamarnya yang gelap.

Ini sudah menjadi kebiasaannya. Saat mendapat mimpi buruk ia akan memilih tidur di kamar ayah dan ibunya. Seokjin kecil ingat, hari ini ibunya ada pekerjaan penting di kantor dan tadi pagi, ibunya mengatakan bahwa ia tidak pulang ke rumah. Itu artinya… hanya ada ayahnya dan itu bukan suatu masalah, yang penting ia tidak tidur sendirian.

Seokjin melihat kamar itu kosong. Ia masuk kedalam dan mengetuk pintu kamar mandi dengan tangan kecilnya tetapi tidak ada jawaban. Ayahnya tidak ada di kamar. Seokjin kecil beranjak keluar berusaha menemukan di mana keberadaan ayahnya. Saat ia melintasi ruang tamu, ia terpaku. Ada sosok kecil yang sedang tidur di atas sofa. Seokjin kecil mendekat dan memperhatikan sosok berambut panjang itu dengan mata polosnya. Nama gadis ini… Jung Yerin kalau tidak salah anak dari Jung Hera ssi salah seorang pembantu di rumahnya, ya Jin ingat itu. Ia hanya tahu sekedar nama karena ia dan Yerin tidak lah akbrab.

Ada sedikit pertanyaan di otaknya sekarang. Kenapa gadis ini tidur di sofa? Bukankah ia memiliki kamar? Melihat Yerin semakin meringkuk karena kedinginan Seokjin kecil refleks kembali menuju kamarnya dan membawa sebuah selimut tebal untuk menyelimuti tubuh ringkih Yerin. Selesai menyelimuti gadis itu Seokjin Kecil kembali melanjutkan perjalanannya mencari sang ayah. 

Rumah megah ini benar-benar sepi tetapi sama sekali tak membuatnya gentar karena Seokjin kecil bisa dikatakan pemberani mungkin kerena ia sudah biasa ditinggal sendiri dan hanya ada satu hal yang Seokjin kecil takutkan yaitu mimpi buruk. Kaki mungil itu sampai di dapur. Seokjn kecil melihat-lihat ke sekeliling dan ia harus merasakan kecewa karena ia tidak mendapati siapapun di sana. 

Mungkin ayahnya sedang pergi. 

Saat akan beranjak dari situ, kaki mungil Jin tiba-tiba saja terpaku. Manik hitamnya memperhatikan sebuah tempat yang berada di pojokan ruangan. Jika tidak salah… itu adalah kamar yang ditempati oleh Yerin dan ibunya. Melihat pintu kamar itu sedikit terbuka Seokjin kecil berjalan mendekat dan tanpa bisa dicegah… matanya dapat melihat secara langsung pemandangan apa yang ada di dalam sana.

Jin menyaksikan jelas ayahnya dan juga… ibu Yerin berdiri saling berhadapan. Bibir keduanya bertemu. Seokjin kecil memperhatikan kedua insan yang larut dalam suasana intim itu dengan tatapan datar yang sedikit polos.

Kenapa ayahnya mencium wanita lain?

****

Jika disuruh memilih Yerin lebih suka berada di sekolahnya yang dulu. Walau sekolahnya tidak semegah dan semewah sekolah Seokjin, setidaknya ia memiliki banyak teman di sana. Bagi Yerin sekolah adalah tempat pelarian terbaiknya. Saat di rumahYerin selalu mendapat banyak tekanan dari Jin dan hanya di sekolah ia dapat sedikit bernafas lega.

Sekarang nerakanya tidak hanya di rumah tetapi juga di sekolah. Berada di satu kelas yang sama dengan Seokjin benar-benar membuat batinnya semakin tersiksa. Pria itu bahkan sukses membuat dirinya tidak punya teman di hari pertamanya sekolah. Ia telah dicap sebagai orang yang harus di jauhi karena embel-embel anak pelacur. Ini baru hari pertama, bagaimana dengan hari-hari yang selanjutnya?

Memikirkannya membuat wajah manis itu semakin murung. Yerin bahkan lupa jika ia belum mengisi perutnya sedari pagi.

Sesampainya di rumah, gadis bersurai panjang itu langsung masuk menuju kamarnya dan berganti pakaian rumahan, kaos biru longgar serta celana panjang. Seketika Yerin duduk menghadap meja belajarnya dan mengerjakan tugas sekolah secepat yang ia biasa sebelum Seokjin masuk dan mengusir—

Brak

Yerin tersentak saat pintu kamarnya terbuka kasar. Selalu begitu, Seokjin selalu seenaknya jadi tidak usah heran.

Pria tinggi dengan balutan kaos berwarna hitam itu bersedekap memandang datar ke arah Yerin yang juga balas memandangnya—hanya sebentar, sampai kemudian gadis itu tampak menundukan kepalanya seperti biasa.

“Apa yang kau kerjakan.” Suara baritone itu bertanya arogan. Yerin menatap buku tulis di hadapannya sambil menggigit bibir bawahnya sekilas. “Mengerjakan t-tugas.”

Hening, kemudian Yerin merasakan pria itu berjalan mendekat ke arahnya membawa aura yang tidak mengenakan.

Sekarang apalagi?

Manik gelap Jin memperhatikan buku tulis Yerin di atas meja dan meraihnya. Ia meneliti tulisan yang tercetak di buku itu dengan wajah datar. Terlihat Seokjin kembali melempar pandanganya ke arah Yerin yang masih tertunduk dalam, ia menyeringai tipis.

Sebuah buku diletakan asal di hadapannya. Pada awal mulanya Yerin mengira, bahwa buku itu adalah buku tulisnya yang diambil oleh Seokjin barusan tapi… ternyata bukan, buku bersampul coklat itu bukan miliknya.

“Kerjakan tugasku. Jika besok aku tidak mendapat nilai sempurnakau akan tahu akibatnya,” ucapnya penuh  ancaman.

Sebenarnya sudah semenjak dulu Yerin dibuat heran. Jin dapat dikategorikan pintar di atas dirinya, tetapi pria ini sudah kelewat sering memerintahnya untuk mengerjakan tugas dan berakhir dengan dirinya mendapat hukuman dari pria itu karena nilai yang didapatkan tidak sempurna. Jujur, Yerin tidak mempermasalahkan hal itu yang menjadi masalah adalah Seokjin sudah mengambil buku tugasnya.

“Jin…” cicit suara  Yerin. Pria tinggi itu berhenti lalu menoleh ke arah Yerin tanpa minat. “B-Buku ku… aku…harus mengerjakan t-tugasku juga…” ucapnya dengan suara halus yang gemetar. Alis tebal pria itu hanya bertaut miring mendengar permintaan tersebut. “Ini?”Ia mengangkat santai buku Yerin. Gadis itu tergangguk pelan menatap takut Seokjin tanda mengiyakan.

“Ambil benda ini saat di kelas besok.”

Oh, demi Tuhan… tugas itupun bahkan dikumpul besok. Kedua bahu Yerin hanya dapat merosot lemah menatap pintu kamarnya yang  telah menutup.

****

Dunia malam adalah hal yang tak terpisahkan bagi hidup beberapa orang. Hey, anak-anak muda yang tinggal di kota besar juga mengangap itu adalah bagian terpenting dari dalam hidup mereka. Setelah setengah harimereka habiskan dengan menguras otak di sekolah, malam adalah waktunya untuk melepas penat.

Paradise club selalu ramai seperti biasa. Tempat ini dikenal sebagai salah satu club terbaik yang ada di Seoul, tempat Seokjin dan kawan-kawanya juga untuk menghabiskan malam yang panjang.

Seperti yang sebelum-sebelumnya, malam ini Seokjin datang sedikit terlambat. Saat kakinya melangkah ke dalam tempat itu suara bising langsung menyambutnya. Dapat dikatakan Seokjin adalah pelanggan lama tetapi para wanita malam di tempat ini seakan tidak pernah bosan untuk melihatnya. Terbukti, tidak sedikit mata yang menatapnya intim seakan-akan ingin menelanjanginya dengan tatapan itu.

“Oh lihat siapa yang baru saja datang!” Seru Namjoon. Jungkook dan Taehyung langsung mengikuti ke mana titik fokus mata Namjoon dan mereka menemukan Seokjin di sana.

“Si brengsek kita.” Taehyung mencela geli.

“Kau terlambat setengah jam.” Peringat Jungkook. “Berarti kau yang bayar malam ini.” Lanjutnya. Namjoon menegakkan tubuhnya di sofa sambil membeberkan ancang-ancangnya. “Aku akan mengambil barang yang paling bagus jika begitu.”

Jin mendesah malas seraya mengambil posisi untuk duduk. Mereka selalu begini, jika ada satu di antara mereka datang terlambat itu berarti ia harus membayar semua tagihan minuman bahkan sampai ke pelacur beserta uang sewa kamar, benar-benar aturan sialan.

“Kau datang sendiri?” tanya Namjoon menoleh ke segala penjuru arah, mencari seseorang.

“Menurutmu?” Seokjin balas bertanya sambil menuangkan vodka pertamanya ke  dalam gelas.

“Aish, Di mana dia? Kenapa kau tidak membawanya brengsek.”

“Aku tidak pernah bilang akan membawanya kemari.”

Kai berdecak. “Kau terdengar seperti seorang kakak yang posesif terhadap adiknya.”

“Berhenti mengatakan anak pelacur itu adikku jika kau masih ingin hidup Kim Namjoon,” ancam Jin dengan suara dinginnya. Namjoon berdeham tak nyaman lalu ia tersenyum canggung. “Santai, okay? Jangan ditanggapi terlalu serius.”

Pria itu meletakkan slokinya yang kosong di atas meja dan kembali buka suara. “Membawanya sama saja dengan menjatuhkan harga diriku. Gadis itu masih polos seperti bayi.”

Bisa dikatakan Seokjin memperhatikan Yerin selama ini hanya sekedar memperhatikan, tidak lebih. Jika para perempuan seusia Yerin sudah tahu bagaimana tata cara berdandan dan berpakaian, gadis itu masih bertahan dengan gaya rambut panjang berponinya yang membosankan, wajah pucat tanpa make up dan pakaian longgar di tubuh mungilnya. Gadis itu kelewat lugu membuat Seokjin semakin senang untuk menindasnya.

“Aku kira kau hanya bercanda.”

Satu alis Jin terangkat naik menatap Taehyung menanyakan kejelasan kalimatnya.

“Tentang poster itu. Aku terkejut kau benar-benar melakukannya.” Lanjut Taehyung sambil menghembuskan asap rokok di mulutnya. Ia tidak menyangka, Seokjin yang dikagumi karena sikap dingin dan acuhnya oleh para wanita seantero sekolah dapat melakukan hal gila semacam itu.

“Aku tidak pernah bercanda.” Jin tersenyum miring. “Itu belum apa-apa. Aku bahkan biasa memperlakukannya lebih spesial daripada itu.”

Taehyung hanya bisa melihat Seokjin sambil termanggu, diam tanpa kata. Mereka sahabat dekat. Masing-masing dari mereka tahu tentang satu-sama lain, termasuk di dalamnya kisah perceraian kedua orang tua Seokjin. Pria tersebut pernah mengatakan bahwa ayahnya pergi bersama salah seorang pembantu dan pembantunya itu meninggalkan seorang anak sialannya, tetapi mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui siapa yang dimaksudkan dengan ‘anak sialan’ oleh pria itu, Seokjin selalu tutup mulut karena ia tidak pernah tertarik untuk lebih dalam membahasnya. Mereka juga pernah mencari tahu dengan pergi bertamu ke rumah Seokjin beberapa kali, hasilnya nihil. Mereka tidak melihat adanya wajah baru di sana selain Seokjin, ibunya dan para pembantu yang sudah tidak asing. Tapi hari ini, tadi pagi lebih tepatnya Taehyung dan yang lainnya telah menemukan jawaban. Ternyata selama ini, Jin telah melampiaskan dendamnya tak lebih hanya kepada seorang gadis lugu?

“Hhh kau benar-benar kejam,” Sahut Jungkook. Bisa dikatakan hanya pria ini yang memiliki otak yang sedikit lurus dalam berpikir mungkin juga karena faktor jabatannya sebagai seorang ketua OSIS namun tetap saja kecintaanya terhadap minuman dan wanita sama saja seperti teman-temannya yang lain. “Ia gadis yang baik, aku bisa melihatnya walau baru pertama kali bertemu di sekolah tadi.”

“Gadis baik yang kurang beruntung lebih tepatnya,” ucap Jin santai. Ia meraih pemantik api dan menyalakan sebatang rokok yang terselip di bibirnya. “Karena darah si pelacur itu mengalir di tubuhnya.”

Jungkook menggeleng kecil memandang Seokjin. Ia memang tidak suka ikut campur urusan orang lain bahkan jika itu urusan sahabatnya sekalipun. Jungkook mengenal Seokjin dengan baik. Menasehati pria ini sama dengan berbicara dengan sebongkah batu, ia tidak perduli dengan apapun yang kau katakan dan tetap kokoh pada pendiriannya.

****

Yerin sangat senang ketika Bibi Shim mengatakan bahwa tuan rumahnya itu akan pergi keluar. Setidaknya ia akan tidur di kasurnya yang empuk malam ini namun harapannya pupus seketika saat melihat kehadiran Seokjin, pria berwajah angkuh itu tampak berjalan ke arahnya dengan hawa tidak menyenangkan.

“Aku harap kau tidak lupa di mana kau harus tidur dan… kalian, jangan pernah sekalipun coba-coba membukakannya pintu walau aku tidak di rumah. Jika kalian melanggar kalian akan tahu akibatnya.”

Haruskah pria itu juga mengancam orang lain?

Jam 2 subuh dan di sinilah Yerin sekarang, di depan teras rumah berteman dengan dinginnya udara malam. Gadis berbaju tidur tweety serba panjang itu duduk di atas lantai sambil bersandar pada tembok, manik coklatnya menatap kosong ke depan. Hari masih gelap, hanya lampu-lampu taman yang membuat tempat di sekelilingnya menjadi terang. Jika sudah berada di sini, mustahil bagi Yerin bisa tertidur walaupun kedua matanya terasa berat. Banyak nyamuk kelaparan menyengat kulitnya dan Yerin juga merasakan nafasnya sedikit sesak karena udara dingin, sama halnya seperti malam kemarin hanya saja gadis itu lebih memilih untuk menahan sakitnya. Yerin sebenarnya juga tidak tahu pasti sejak kapan ia menderita sesak nafas, yang jelas penyakit ini sering muncul ketika Seokjin selalu mengusirnya untuk tidur di luar.

Otak Yerin yang sedang menerawang tiba-tiba saja berpikir, bagaimana dengan hari esok. Seokjin, pria itu pasti banyak merancangkan rencana jahat untuknya. Yerin selalu menyakinkan dirinya bahwa ia memang layak menerima semua perlakuan kasar Seokjin selama ini. Wajar jika pria itu membencinya karena kesalahan yang telah diperbuat oleh ibunya. Itulah alasan yang membuat Yerin memilih untuk selalu diam dan tidak melawan walau sekasar atau sekejam apapun Jin memperlakukannya.

Kedua manik Yerin menyipit ketika ia melihat sorot lampu mobil itu dari kejauhan. Saat matanya dapat meneliti siluet mobil tersebut dengan jelas, ia yakin 100% bahwa itu adalah mobil milik Seokjin. ‘Bukankah ia tidak pulang malam ini?’ Yerin membatin.

Mobil putih keluaran merek ferrari itu terhenti tepat di halaman. Tak lama kemudian, sosok tinggi melangkah turun dari sana disusul oleh seorang wanita cantik berpakaian seksi, rambutnya panjang bergelombang dan dicat pirang. Wanita dengan dress mini berwana maroon itu menghampiri Jin sambil tersenyum menggoda, ia mengambil tengguk Seokjin hingga keduanya terlibat ciuman bibir sesaat. Yerin mengernyit melihat itu.

‘Apa wajar seorang teman berciuman?’ batinnya bingung.

Ia tahu Jin memang selalu membawa para wanita seksi keluar masuk rumah ini jika Nyoya Kim sedang tidak ada, hanya saja… Yerin berpikir jika wanita-wanita itu adalah teman akrab Seokjin karena mereka selalu tidur di satu kamar yang sama. Jin memiliki bayak teman wanita, itulah pemikiran polos Yerin.

Jin sebenarnya merasa risih saat wanita yang tidak ia ketahui namanya ini terus menggelayut padanya, wanita ini memeluk lenganya kelewat erat bahkan ia terlihat sengaja untuk menekan lengan Seokjin di dadanya. Jika tidak mengingat lekuk tubuh indah di dekatnya itu yang menjadi jaminan, mungkin ia sudah mendorong jauh-jauh wanita ini dan mengenyahkanya.

Manik gelap Seokjin menangkap adanya sebuah objek, sosok mungil tampak memperhatikan dirinya dan pelacur sewaanya ini dengan tampang polos. Sadar dengan arah tatapan Seokjin, Yerin cepat-cepat mengalihkan pandanganya, gadis itu hanya menatap lurus ke jari-jarinya yang saling bertautan di atas pangkuan.

“Oh? Kenapa gadis kecil ini berada di luar?”

Yerin mengernyit dalam diam, ia yakin gadis kecil yang dimaksudkan wanita itu adalah dirinya.

“Acuhkan saja,” ucap Seokjin datar. Ya benar acuhkan saja itu lebih baik bagi Yerin, kehadiran Seokjin benar-benar mempengaruhi mentalnya secara tak langsung. Saat suara pintu yang menutup terdengar, Yerin membuang nafasnya lega. Akhirnya kedua sosok itu berlalu pergi dan sekarang, ia hanya tinggal berharap supaya pagi cepat menjelang.

TBC

****

Versi asli ada di wattpad dengan tokoh utama salah satu member EXO.

Berteman yuks.

Wattpad : Aqilua

WordPress : Aqilua’qil

LINE : @Chikaaprila

IG : Yechikaprilia

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] I Will Survive ‘Bullying’ – (Chapter 1)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s