[Chapter 4] Bring Back the Shadow

img_6654

Bring Back the Shadow

by ayshry

BTS members with some OCs
| genres AU!, Friendship, Mystery, Thriller | length 2.8k words | rating PG-17 |

Prev:
Prolog & IntroductionChapter 1Chapter 2Chapter 3

***

“Kau yakin tidak apa-apa ditinggal sendirian, Hayoon-a?” Hoseok berujar dengan lembut. Tatapannya menyaratkan kecemasan namun tampaknya sang gadis enggan untuk sekadar membalas pandang atau bahkan menengadahkan kepala. Itu memang terlihat normal mengingat segala kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini dan tentu saja Hoseok memakluminya.

“Kurasa Hayoon akan baik-baik saja. Dia memang membutuhkan ruang sendiri untuk menangkan diri. Jadi, tidak apa-apa Hoseok-a.” Kali ini Seokjin yang membuka suara. Sebelah tangan telah ia daratkan pada punggung Hoseok lantas menepuknya pelan. “Ayo kita kembali ke markas, kurasa Namjoon dan lainnya masih menunggu di sana.”

“Tapi, bukankah sebaiknya—“

“Tenang saja, Hoseok-a, percaya padaku. Hayoon butuh waktu sendiri dan kita tak bisa memaksa untuk selalu berada di sampingnya.”

Embusan napas itu terdengar berat namun pada akhirnya Hoseok mengangguk lemah.

“Jangan melakukan hal yang tidak-tidak, mengerti?” Hoseok berujar, sedang Hayoon hanya menggerakkan kepalanya lemah. “Jika ada apa-apa segera hubungi kami. Ponselnya jangan dimatikan, aku dan yang lain akan mencari cara untuk menyelesaikan kegilaan ini, kuharap kau mengerti dan bertahan sampai saat itu. Oke?”

“Aku percaya padamu, Hayoon-a. Jangan buat kami khawatir selagi menenangkan diri, ya?”

Kali ini Hayoon mengangkat kepalanya demi membalas tatapan karibnya satu per satu. Senyum tipis terukir di wajahnya, meski begitu Seokjin dan Hoseok bisa dibuat lega dengan mendapati secercah semangat pada seorang Ahn Hayoon.

“Kalau begitu kami pergi dulu.” Seokjin menjadi orang pertama yang pamit lantas menyeret tungkainya keluar dari flat milik Hayoon, disusul Hoseok yang sebelumnya sempat menepuk pelan pundak sang gadis.

Berjalan menuju tempat di mana mobil mereka terparkir, sepertinya kedua orang tersebut telah menetapkan destinasi selanjutnya: markas mereka yang telah menjadi tempat kejadian pembunuhan mengerikan.

***

Namjoon beserta Taehyung dan Jungkook masih berdiam di tempat usai detektif memberikan penjelasan. Ketiga laki-laki tanggung itu masih disulitkan dengan teka-teki yang tampak makin samar. Bagi mereka, kejadian tersebut membuat isi otak mendidih selagi mencari celah agar mendapat jawaban atas pertanyaan yang tertumpuk. Selagi mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing, derap langkah yang mendekat membuat Jungkook mendongak lantas menyerukan nama.

“Seokjin Hyung dan Hoseok Hyung di sini!”

Namjoon ikut mengalihkan pandangan ke depan. Mendapati kedua kawan lainnya yang tiba, ia lekas berdiri dengan raut wajah yang tak mudah ditebak.

“Di mana Hayoon?!” Pertanyaan barusan lebih seperti bentakan yang sukses membuat pemuda lainnya terkejut.

“Ya?” Seokjin menimpali.

“Hayoon … kalian meninggalkannya sendirian di rumah?”

“Oh, dia butuh waktu untuk menenangkan diri, Namjoon-a.”

“Apa? Sialan! Bukannya sudah kubilang untuk selalu ada di dekatnya? Kalian bahkan tak tahu hal mengerikan apa yang akan terjadi pada gadis lemah itu!”

“Hei, tenang-tenang, Hayoon tidak kenapa-kenapa. Dia hanya butuh waktu sendirian dan—“

“Persetan Kim Seokjin! Kau tak tahu kalau nyawa kita semua terancam sekarang? Bukannya sudah kubilang untuk tetap bersamanya apa pun yang terjadi?!”

Seokjin sempat terperanjat ketika Namjoon memakinya. Belum sempat Seokjin melontarkan pembelaan lagi, Namjoon terlebih dahulu meraih jaketnya yang tergeletak di atas sofa lantas menyambar kunci mobil di nakas.

“KAU MAU KE MANA?!” Seokjin berteriak, namun Namjoon yang sudah terlebih dahulu berlari mengabaikan.

“Ada apa dengan Namjoon?” tanya Hoseok kemudian. Ia rasa ada sesuatu yang terlewatkan ketika ia mengantar Hayoon pulang, terlebih tingkah Taehyung dan Jungkook juga tak biasa. “Ada apa?”

“Pertama, kita tak bisa membiarkan Namjoon pergi sendirian. Ah, nanti saja kujelaskan, sekarang kita harus susul Namjoon!” seru Taehyung.

Taehyung kemudian berlari disusul Hoseok serta Seokjin yang kebingungan dan Jungkook paling belakang. Hoseok kini melayangkan tatapan penuh tanya pada Jungkook yang hanya mendapatkan desahan yang membuatnya semakin penasaran. Tepat sebelum Taehyung berhasil menggagalkan kepergian Namjoon, mereka yang kini menghentikan langkah dan mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya semakin mendesak Jungkook untuk membuka suara.

“Katakan, apa yang terlewatkan oleh kami?!” Desak Hoseok.

Taehyung mengumpat. Jika saja ia lebih cepat, pasti Namjoon takkan ia biarkan pergi sendirian.

“Kau masih memiliki tenaga untuk menyetir, ‘kan, Seokjin?”

“Tentu saja.”

“Kita harus menyusul Namjoon sebelum hal buruk terjadi padanya. Ayo!”

Taehyung menarik Seokjin sedikit kasar, ada raut tegang yang tergambar jelas di wajahnya. Namun sedikit penolakan diberikan, membuat Taehyung lagi-lagi mengumpat lantas berteriak, “NAMJOON KORBAN BERIKUTNYA!”

“Maksudmu?”

“Nanti akan kujelaskan, sebaiknya kita susul Namjoon terlebih dahulu sebelum keparat itu mendahuli kita!”

Pada akhirnya Seokjin mengalah. Keempat pemuda itu kini berlari menuju mobil lantas terburu-buru menjalankan kendaraan beroda empat tersebut demi menyusul Namjoon yang kiranya sudah kehilangan akal sehat.

***

“Ceritakan, apa maksudmu saat mengatakan bahwa Namjoon korban berikutnya!” Seokjin membuka suara. Hawa di mobil benar-benar mengerikan. Sedari tadi Taehyung berkali-kali menghubungi pemuda itu namun tak ada jawaban sekali pun. Mereka juga tak mampu menemukan mobil Namjoon di tengah jalan yang entah kenapa terlihat sangat padat. Ah, bukankah seharusnya Namjoon tak bisa menjalankan mobilnya cepat-cepat dengan keadaan jalanan yang begitu kacau?

“Taehyung-a.”

“O, sebentar. Aku masih belum bisa menghubungi Namjoon, kita tidak bisa—“

“Jelaskan dulu keadaannya kepada kami!” Hoseok sedikit berteriak, membuat Taehyung maupun Jungkook sedikit tersentak.

“Kendalikan dirimu, Hoseok-a. Kita semua dalam keadaan kacau balau, tapi emosi akan membuat keadaan semakin buruk. Mengerti?”

Desahan kasar kembali menguar. Kali ini perkataan Seokjin ada benarnya, namun bagaimanapun ia mencoba tenang, segala yang terjadi sampai detik ini kiranya bisa membuat ia gila kapan saja.

“Tadi Detektif Kang mengatakan beberapa pemikirannya perihal kasus ini kepada kami. Dan … ini masih belum bisa dipastikan, tapi melihat dari apa yang telah terjadi sejauh ini, kemungkinan besar Namjoon adalah korban berikutnya.” Jungkook mulai membuka suara.

“Kenapa?”

“Aku sudah mengatakan bahwa ini masih perkiraan, bukan? Tapi menurutnya, pembunuhan dilakukan dengan mengikuti uturan barisan kita di foto yang selalu ditinggalkan di lokasi pembunuhan.”

“Urutan di foto?”

“Ya. Jika aku tak salah ingat, yang pertama adalah Yoongi, Jimin, Namjoon, Jiyoon, Hayoon, Hoseok, aku dan Seokjin. Yoongi dan Jimin sudah menjadi korban sedangkan Jiyoon sudah berpulang terlebih dahulu dan setelah Jimin adalah Namjoon lalu Hayoon.”

“Astaga, yang benar saja!” Seokjin berseru. “Namjoon lalu Hayoon? Sialan, kita harus cepat-cepat menyusul mereka!”

Seokjin baru saja akan menambah kecepatan ketika mobil di depannya tiba-tiba berhenti. Tubrukan tak dapat dihindari, bahkan jika Seokjin menginjak pedal rem lebih cepat, kotak baja itu tetap akan menubruk mobil di depannya.

Seokjin mengumpat. Mau tak mau ia mematikan mesin mobil lantas keluar ketika seseorang mengetuk kaca mobilnya.

“Sialan, sepertinya aku harus menyelesaikan ini terlebih dahulu. Kalian susul Namjoon menggunakan taksi terlebih dahulu, jika telah menyelesaikan masalah ini, aku akan menyusul.”

“Kau tidak apa-apa ditinggal sendirian?” tanya Hoseok yang terlihat sedikit cemas namun tak memungkiri jika ia lebih kesal dengan nasib buruk yang terus-terusan menimpa mereka.

“Tidak apa-apa. Cepat saja susul Namjoon sebelum hal buruk terjadi padanya. Kabari aku jika ada apa-apa.”

“Aku akan tetap bersama Seokjin Hyung.” Tiba-tiba Jungkook menginterupsi, membuat semuanya memandanginya penuh tanya. “Bukannya kita tak boleh meninggalkan seseorang sendirian? Lebih baik aku bersama Seokjin Hyung dan kalian susul Namjoon Hyung sekarang.”

“Baiklah.”

“Kuharap … aku tak kehilangan siapa-siapa lagi setelah ini.”

***

Namjoon semakin mempercepat laju mobilnya ketika Hayoon tak kunjung menjawab telepon darinya. Ia tahu, saat ini yang paling terancam adalah nyawanya, bukan hanya karena ia target si pembunuh berikutnya tetapi juga karena ia yang terlampau laju mengendarai mobilnya. Salah-salah, pemuda itu bisa saja terjebak dalam kecelakaan maut yang mampu merenggut nyawanya.

Merasa kesal, Namjoon lantas melempar ponselnya ke jok sebelah dan mencoba terfokus pada kegiatannya kini. Isi pikirannya memang hanya Hayoon dan keselamatan gadis itu, tapi tak dapat dipungkiri jika ada rasa takut yang menjalar dalam diri tentang hidupnya juga. Bagaimana jika ia benar-benar mati setelah ini? Bagaimana jika ia mati sebelum sempat mengungkapkan rasa terhadap Hayoon. Bagaimana—ah, Namjoon memang menyukai Hayoon meski tak satu pun dari karibnya mengetahui fakta tersebut. Entah bagaimana caranya ia memendam rasa juga mengontrol segalanya di hadapan sang gadis sehingga ia bisa terlihat biasa-biasa saja padahal jantungnya selalu berdegup tak karuan bahkan hanya dengan mendengar nama si gadis. Mari lupakan perihal perasaan terpendam itu dan kembali pada Namjoon yang hampir kehilangan akal sehatnya kini.

Namjoon benar-benar frustasi. Entah sudah berapa banyak umpatan yang menguar dari bibirnya. Melirik arloji yang membalut pergelangan tangannya, saat ini malam sudah larut dan ia mencoba untuk menjernihkan pikiran dengan berasumsi bahwa Hayoon telah tertidur sehingga ia tak menjawab panggilan darinya. Yeah, Namjoon masih mencoba memengaruhi pikirannya sendiri meski hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan.

Setidaknya sudah lebih dari satu jam Namjoon memacu mobilnya. Seharusnya ia bisa tiba di rumah sang gadis kurang lebih sepuluh menit lagi tapi tampaknya Namjoon tak sabaran. Pemuda itu semakin gila-gilaan membawa mobilnya hingga kemudian ia berbelok memasuki pekarangan flat sang gadis. Syukurlah, Namjoon tiba di sana tanpa membuat dirinya terluka.

Terburu-buru Namjoon keluar dari mobilnya setelah ia memarkirkan kendaraan tersebut asal-asalan. Kini ia berlari secepat yang ia mampu, mengabaikan lift yang hanya membuatnya membuang-buang waktu dan memilih anak tangga menuju flat Hayoon yang berada di lantai tiga.

Pada akhirnya, Namjoon tiba di depan pintu flat Hayoon dengan napas tersengal-sengal. Tanpa menekan bel dan langsung memasukan kode pintu yang tentu saja ia ketahui, pemuda itu lekas memasuki rumah demi mencari sosok Hayoon.

Langkah Namjoon baru saja berjejak di ruang tamu ketika ia mendapati sang gadis jatuh tertidur di sofa. Refleks, Namjoon menghela napas lega. Ternyata benar dugaannya, Hayoon tertidur sehingga tak menjawab panggilan telepon darinya. Berjalan perlahan agar tak membangunkan, ia pun menjatuhkan tubuh tepat di sebelah Hayoon lalu menyandarkan punggungnya yang terasa tegang sedari tadi. Well, Hayoon baik-baik saja dan Namjoon merasa sangat-sangat lega.

“Kim Namjoon?”

“Ah, Hayoon-a, aku membangunkanmu, ya?”

“O, tidak. Sepertinya aku tertidur. Ada apa?”

“Hanya … ah, aku lega kau tidak kenapa-kenapa, Hayoon-a.”

“Apa ada sesuatu yang terjadi lagi?”

“Tidak. Semua baik-baik saja. Aku hanya ingin menemanimu. Sendirian tidak enak, bukan?”

Hayoon memamerkan senyum tipis. “Kau memang teman yang pengertian. Ingin minum sesuatu?”

“Hm … segelas air dingin mungkin? Aku terburu-buru ke sini dan kurasa aku bisa dehidrasi jika tak segera mengisi cairan tubuh.”

Ada tawa kecil yang menguar dari bibir Hayoon sebelum gadis itu berdiri. “Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu.”

***

“Masih belum bisa menghubungi Namjoon?” Hoseok bertanya dengan cemas kepada Taehyung yang masih sibuk menghubungi Namjoon. Gelengan ia dapatkan, raut wajah mereka sama cemasnya kini. Pikiran buruk kian menyapa, membuat ketiga pemuda itu semakin gelisah.

“Hayoon bagaimana? Dia juga tidak menjawab panggilanmu”

“Tidak.” Taehyung mendesah. “Apa … hal buruk terjadi pada mereka—“

Ya Kim Taehyung! Jangan berasumsi yang tidak-tidak. Kita sudah cukup pusing dengan segala kegilaan ini, kau jangan menambahnya. Mengerti?!” Bentakan barusan membuat Taehyung melengos lantas kembali sibuk dengan ponselnya.

Tanpa mereka sadari, taksi telah berhenti tepat ditujuan mereka. Berlarian dengan pikiran buruk yang menghantui, keduanya kini tiba di pintu flat Hayoon lantas menggedornya kuat-kuat.

“Hayoon-a, kau di dalam? Ahn Hayoon!”

Tak ada jawaban. Mereka masih sibuk menggedor pintu ketika salah satu ponsel berdering dan menginterupsi kegiatan mereka.

“Siapa? tanya Taehyung.

“Kim Seokjin,” sahut Hoseok cepat. Sekon berikutnya ia pun menggeser tombol hijau dilayar lantas menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.

“Kalian di mana?”

“Kami sudah di depan pintu flat Hayoon, tapi tak ada jawaban dari dalam. Kau tahu kode pintunya, Hyung?”

“Ulang tahun Jiyoon, jika Hayoon belum menukarnya.”

“Ah, baiklah.” Hoseok kemudian memberikan kode perihal hal tersebut pada Taehyung yang langsung mencoba menekan beberapa angka.

Pintu terbuka. Tepat ketika sambungan telepon Hoseok terputus sepihak.

“Hayoon-a!”

Hoseok adalah orang pertama yang menjejakkan kakinya ke dalam flat ketika ponselnya kembali berdering.

“Ya, Hyung? Ah kami baru saja berhasil masuk ke dalam flat Hayoon. Tapi … sepertinya tidak ada siapa-siapa di sini.” Sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, Hoseok mencoba merespon suara di seberang sana setenang mungkin demi mengusir segala pikiran buruk yang semakin menghimpitnya. “Mobil Namjoon? Sebentar, sepertinya aku tidak melihat mobil Namjoon di bawah tadi. Apa dia belum sampai di sini?”

“Tidak mungkin. Jika dihitung-hitung waktunya, seharusnya Namjoon sudah tiba di sana tiga puluh menit yang lalu, kecuali ….”

“Kecuali apa? Tolong jangan biarkan pikiranku semakin menumpuk segala kemungkinan terburuk, Hyung.”

“Kau tahu maksudku, Hoseok-a.”

“Hei, sepertinya Namjoon sudah di sini sebelumnya!” Seruan yang berasal dari Taehyung barusan membuat Hoseok lekas mendekat. “Ada sisa minuman di meja. Apa mereka sedang keluar? Mencari camilan atau sekadar menghirup udara, mungkin?”

“Bisa jadi …. Kalau begitu ayo kita cari mereka di sekitar sini terlebih dahulu. Seokjin Hyung, aku tutup teleponnya, ya?”

“Ah, sebentar.”

“Ya?”

“Apa Jungkook bersama kalian?”

“Ha? Bukannya dia tadi bersamamu, Hyung?”

“Iya … tapi saat aku sibuk mengurus kecelakaan kecil tadi, Jungkook menerima telepon lantas pamit. Kukira kalian yang menelepon dan memintanya ke sana karena—“

“Tidak. Kami bahkan tak ada meneleponnya.”

“Ada apa?” Taehyung yang penasaran dengan konfersasi kedua pemuda itu mendekat lantas mencoba mencuri dengar namun Hoseok cepat-cepat memberikan kode jika ia akan menjelaskannya nanti.

“Kalau begitu aku akan mencoba menghubunginya.”

“Ah, baiklah. Aku sebentar lagi tiba di sana. Kuharap kalian sudah menemukan Namjoon dan Hayoon ketika aku tiba. Dan … berjanjilah untuk tetap hidup.”

Panggilan diputus. Taehyung yang penasaran lekas bertanya perihal percakapan mereka.

“Apa ada sesuatu yang terjadi lagi?”

“Bukan. Hanya saja … Jungkook menghilang. Ah, maksudku dia pergi sendirian saat bersama Seokjin tadi setelah menerima telepon dari seseorang.”

“Orang tuanya?”

“Entahlah. Tapi, Taehyung-a ….”

“Ya?”

“Kenapa perasaanku semakin tak menentu begini? Kuharap, yang ada dipikiranku sekarang tidaklah benar. Ah, sudahlah. Ayo kita cari Namjoon dan Hayoon terlebih dahulu. Mungkin mereka ada di minimarket dekat sini?”

***

Sepertinya sudah lebih dari satu jam Taehyung dan Hoseok berputar-putar mencari Namjoon dan Hayoon yang tiba-tiba menghilang, bahkan Seokjin sudah bergabung bersama mereka beberapa saat yang lalu, dan Jungkook yang entah bagaimana ikut menghilang dan tak bisa dihubungi hingga kini.

Malam semakin gelap, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan mereka masih belum mampu menemukan karibnya. Seokjin bahkan sudah menghubungi detektif yang menangani kasus mereka dan melaporkan perihal hilangnya Namjoon dan Hayoon, seharusnya bantuan akan datang sebentar lagi. Meski nyatanya ketiga pemuda itu benar-benar tak mampu berpikir dengan jernih untuk saat ini.

Di saat mereka tengah sibuk mencari, sirine mobil polisi terdengar memecah keheningan malam, membuat beberapa orang melempar pandangan dengan penasaran. Satu mobil berhenti tepat di hadapan ketiga pemuda itu lantas keluarlah seseorang yang mereka kenali: Detektif Kang.

“Masih belum bisa menemukan mereka?”

Hoseok menggeleng lantas menyerahkan ponselnya pada sang detektif.

“Rasanya aku sudah menelepon mereka ribuan kali dan, Detektif, kurasa aku harus mengatakan hal ini karena sepertinya ini akan membantu penyelidikanmu.”

“Ya?”

“Bolehkan aku mengatakan jika … aku mencurigai seseorang.”

“Jika yang kau maksud adalah salah satu teman kalian yang tiba-tiba pergi saat bersama-sama maka kurasa … itu hal yang wajar. Siapa tadi namanya?”

“Jungkook. Jeon Jungkook.”

“Kau sudah gila, Jung Hoseok?” Taehyung terbelalak. Ada nada cemas yang menguar bersamaan pertanyaan tersebut, membuatnya mengerutkan kening lantas berdecak tak habis-habisnya. “Kau mencurigai Jungkook? Yang benar saja!”

“Kita harus melihat semuanya dari segala sudut, Kim Taehyung. Aku tahu ini terdengar gila, tapi … Jungkook cukup mencurigakan dan membuatku tak bisa melepaskan pikiran buruk tentangnya. Ayolah, aku hanya berasumsi, tidak langsung menuduhnya. Biarkan detektif yang melakukan penyelidikan dan kita—“

“Tetap saja Jungkook itu teman kita, Seok!”

“Hei-hei, sudah! Kenapa malah kalian yang beradu argumen seperti ini?!” Seokjin menengahi. Menarik Hoseok jauh-jauh sebelum keduanya memulai aksi adu tonjok. “Dewasalah sedikit, oke? Ini memang sulit. Aku tahu. Tapi … kurasa asumsi Hoseok perihal tingkah Jungkook yang sedikit aneh belakangan ini memang bisa mengundang curiga. Tapi jangan langsung menyudutkan dia. Mungkin Jungkook memiliki alasan tersendiri.”

“Aku hanya tak habis pikir kenapa Hoseok mencurigai Jungkook sebegitunya ….”

“Maafkan aku, tapi jujur saja aku juga menaruh curiga pada Jungkook.” Desahan menguar dari bibir Seokjin. Ia tahu, sebagai yang tertua seharusnya bisa lebih memilah-milah pikiran di saat-saat seperti ini. Tapi entahlah, Seokjin hanya tak bisa membohongi dirinya sendiri karena, yeah,  untuk saat ini, Jungkook memang patut dicurigai.

“Sudah. Persoalan siapa yang akan menjadi tersangka, semuanya tergantung padaku. Laporan kalian kuterima, tapi untuk saat ini lebih baik terfokus pada Namjoon dan Hayoon. Aku … kukira aku memiliki firasat buruk tentang keduanya. Kalian tetap coba hubungi mereka, mengerti?”

Memilih untuk tak memperpanjang perkelahian, Hoseok kembali menyibukkan diri dengan ponselnya. Baru saja ia hendak menghubungi kontak milik Hayoon, tiba-tiba layarnya hidup lantas berdering kuat.

“Hayoon menelepon!” seruan tersebut membuat semua yang ada di sana lekas mendekat dan memandangi Hoseok dengan tajam. Sekon berikutnya, Hoseok lekas menjawab panggilan tersebut. “AHN HAYOON! KAU DI MANA?!” Ia tak mampu menahan diri untuk tak memekik saat itu juga.

“Hoseok-a ….”

“Hayoon? Kau kenapa? Kau baik-baik saja, ‘kan?”

“T-tolong aku … Hoseok-a, aku, aku tidak tahu harus berbuat apa. Kumohon … tolong aku. Dia … dia datang.” 

Ada deru napas tak beraturan yang terdengar di seberang sana. Hoseok kewalahan. Kecemasannya meningkat tanpa bisa ia kendalikan lagi.

“Hei-hei, dengarkan aku. Kau … kau harus menenangkan diri dan jelaskan segalanya. Kau di mana? Namjoon, di mana dia? Dan apa yang sedang—“

“Aku … aku tak bisa Hoseok-a. Aku terlalu takut. Aku melihatnya. Aku melihat dia menghabisi nyawa Namjoon dan sekarang dia sedang mengejarku. A-aku, aku berhasil kabur tapi … kurasa aku tak bisa bertahan lebih lama lagi dan … KYAAA!”

“Hayoon? Ahn Hayoon! Hei, apa yang terjadi? JAWAB AKU AHN HAYOON!”

Hoseok mengumpat. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi yang pasti kedua karibnya terjebak dalam keadaan yang tak ingin ia bayangkan.

“Apa yang terjadi?” Detektif Kang menghampiri.

“Kita harus menemukan Hayoon!”

“Hayoon menghubungimu? Hei, lacak nomor ini sekarang juga!”

“KITA HARUS MENEMUKAN HAYOON!”

“Jung Hoseok!”

“Aku mendengar sesuatu sebelum sambungan telepon terputus. Kurasa … kurasa sesuatu yang buruk telah menimpanya.”

“Apa yang kau dengar? Apa yang dikatakan Hayoon tadi? Kim Namjoon, bagaimana dengannya? Apa Hayoon bersamanya kini atau—“

“Aku mendengar suara decitan yang memekakkan, Hyung.” Suara Hoseok melemah, membuat Seokjin yang memandanginya menjadi semakin cemas. “Lalu, ada benturan keras yang terdengar sangat jelas. Dan … Hayoon berteriak kuat sebelum telepon terputus”

“JUNG HOSEOK!”

“Apa … apa sesuatu yang buruk telah menimpa Hayoon? Itu terdengar seperti … sebuah kecelakaan, Hyung.”

-TBC.

Iya tahu ini lanjutannya telat banget, tapi semoga masih ada yang ingat jalan ceritanya /pfft/ Hm, ada yang mau coba menebak sekaligus mengemukakan alasan tidak?

Advertisements

25 thoughts on “[Chapter 4] Bring Back the Shadow

  1. author?? i will kill you,, hufftt yang bener aja,
    ini cerita bener bener bikin gua kebawa suasana,,
    serasa gua jadi cameo yang ngeliat kejadiannya..

    DAEBAK *prok prok prok ^^

    Like

  2. Ah ga tau lah bikin pusing wkwkwkwkw

    Aku juga curiga diawal sama jungkook yg sifatnya itu aneh bgt, waktu pembunuhan yoongi, jungkook org terakhir yg bareng dia, kmungkinan besar dia pembunuhnya tp ada yg janggal jga, dibagian jungkook pernah bilang kalo dia menyimpan sesuatu, mana tau sipembunuh asli nyuruh jungkook bunuh mereka sayu persatu habis itu si jungkook bunuh diri. Ada satu org lagi yg bener2 kucurigain, si hoseok, apa taehyung? Seokjin? Atau sama sekali bukan mereka? Atau malah yg udah mati yg pembunuh sebenarnya? Wkwkwkw pikiranku kacaaaaaauuu >< terlalu banyak nonton crita misteri terlalu banyak nonton conan wkwkkwwk

    Langsung meluncur ke chapter 5

    Like

  3. Hwaaa dari awal sih dah curiga sama JK tpi pas di baca ulang koq ada rasa curiga sama hayoon ya, entahlah keren thor
    Jangan telat lagi yoaa update nya. Ff langganan soalnya nih, paling di tunggu-tunggu. Hwaiting 😀

    Like

  4. Oi.. salken thor, reader baru nongol. Btw suka banget sama ceritanya, namun sangat disayangkan banget yungieku scenenya sedikit sekali but it’s ok lah.. masih berusaha nebak pelakunya.
    Keep fighting..😆😆

    Like

  5. KYAAA >.< author kereeen, gue makin bingung siapa pembunuhnya. Awalnya ku kira itu seokjin, eh tapi di sini malah jk yang banyak di curigai 😭😭😭 jangan bikin maknae kita jadi pembunuh dong author. Btw next jangan lama-lama author. Bakal selalu komen kok aku 😊😊

    Like

  6. Aku kok malah kepikiran seokjin gara gara garam -_- soalnya dia suka masak. Trus fotonya dia paling terakhir. Trus pas kejadian ini dia ikut kumpul -_- Tapi pas jimin dibunuh dia bilang suara yang sangat dikenalnya, nah suara yang paling gampang dikenalin kan taehyung -_- alah bingung (T⌓T) tapi bisa juga endingnya gak ketebak -______- yang gak dicurigain malah ternyata pembunuhnya. Jungkook emang mencurigakan sih tapi bisa aja endingnya beda

    Like

  7. Haaaaa, akhirnya diupdate juga. Udah lumutan ini nunggunya… Makin seru dan juga makin membingungkan. Greget pengen tau siapa pembunuhnya.
    Sampe sekarang, untuk pendapatku siapa yg jadi pembunuh itu
    Jungkook, alasannya udah jelas di komentar sebelumnya, hehe…
    Hayoon, aku berusaha baca hati2 dan dicermati setiap dialog antar tokoh dan narasinya. Dia sedikit mencurigakan.
    Hoseok??? Dia… Ya… Sedikit janggal aja sama ini anak. Muehhehehe…

    Ditunggu kelanjutannya ya, setia menunggu kok.

    Like

  8. FF ini bikin aku frustasi, yakin kak tolong klo update jngan telat2.. Saya frustasi sungguh.. :3
    Kalo dilihat dari bbrp part emg Jungkook patut dicurigai, pasalnya stiap trjadi insiden pembunuhan JK selalu paling telat datang/ JK hilang entah dimana.. Motif JK mungkin krna JK pikir penyebab kematian Jiyoon adlh patah hati oleh ‘dia’ (salah 1 dari 6 karibnya) & JK tau sesuatu yg teman2ny ga tau, tpi JK jdi bingung lalu mnjadi dendam pda sosok ‘dia’ lantaran perasaan lebih yg JK simpan untk Jiyoon..
    Baru kali ini terasa menunggu yg cukup menyiksa.. Hehee

    Like

  9. Anehnya, kenapa Hye malah curiga dengan Hoseok? Jungkook dan Hayoon patut dicurigai. Entahlah, hanya author yang tahu hahaha..

    Hye bingung benar, sebenarnya Jungkook itu pembunuhnya atau bukan? Mungkin saja yang telepon Jungkook itu adalah pembunuhnya yang menyuruh Jungkook membunuh mereka #ntahlahaneh

    Nextnya thor ditunggu~

    Like

  10. ahhh aku bingung siapa sebenarnya pembunuh itu… aku emang curiga sama jungkook dan hayon.. tpi aku lebih curiga ke hayon.. karna dia orang terakhir yg bersama namjoon.. entah kenapa rasa curiga aku ke kookie tiba” hilang berkat perkataan seokjin yg bilang kalo kookie pergi setelah menerima telfon… kookie memang agak mencurigakan tpi aku lebih berfikir mungkin itu telfon dari seseorang yg penting (di imajinasi aku kookie sebenarnya bersikap mencurigakan karna dia sedang menyelidiki kasus ini sendirian dan orang yg nelfon dia itu informannya #khayalantingkatdewa)
    ahhh ga tau lah, aku bukan detektive yg bisa tau siapa pembunuh itu..
    dan maksud kmu apa thor dengan bilang “Hayoo, yakin pembunuhnya antara jungkuk sama hayoon ga yg lain?”
    itu membuat aku makin bingung.. apakah ada orang lain yg aku lewatkan untuk menjadi tersangka selain kookie dan hayoon??
    ahh makin pusing..

    Like

  11. Hamdalah.. Akhirnya diupdate juga ini 😂
    Deg degan bacanya, serius. Terus itu.. Kenapa dek, apa yg kamu lakukan terhadap teman-temanmu? 😂😂😂
    Ditunggu sangat kelanjutannya, fighting 👍👍👍

    Like

  12. FINALLY KUKEBUT SEHARI empat chap beserta prolognya yaa ay ㅋㅋㅋ maafkeun komennya baru di sini.

    Anw, aku geregetan bacanyaaa dan chap ini berasa mengundang hawa banget yaaa ngeselin 😏 mana hoseok nanya mulu kagak tau apa aku jd ikutan gerah bacanya?? wkwkw /digiles

    then, aku nebak siapa yaaa?? umm dia pokoknya. Iya, dia 😂😂

    Harus lanjut lhooo yaaa ay, keep writing!!! semangaaat 😉😉

    Like

  13. Akhirnya dilanjutin juga ff nya
    sampe disini aku tetep aja masih bingung pembunuhnya sapa dan apa motifnya. dari awal aku emang curiga sama jungkook sih, tapi skrang juga curiga sama hayoon. Gerak geriknya mencurigakan. Tapi gatau juga sih, aku bingung haha

    ohiya btw marga nya jungkook udah ganti jadi ‘kim’ yak? Soalnya tadi aku liat ada tulisan ‘kim jungkook’ atau itu aku salah liat? Hehe maafkan

    Liked by 1 person

    1. ASTAGA SEJAK KAPAN KOOKI GANTI MARGA? /digiles/ maaf ya kak, kayanya otakku lagi ga beres deh itu sudah diperbaiki jadi jeon ehe makasih koreksinya😁

      Terus ya terus maaf banget lanjutannya lama begini waks entar diusahain sekali seminggu lagi deh. Hayoo, yakin pembunuhnya antara jungkuk sama hayoon ga yg lain? /pfft/

      Btw thanks sudah mampir ya kak!♥️

      Like

      1. Yg lain? Sapa yak? Jiyoon kah? Haha gatau ah bingung :v

        Ini mo di update seminggu sekali? Beneran yaa haha
        Okesip. Ditunggu chapt 5 nya. Semangatt ^^

        Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s