[BTS FF FREELANCE] 95’lines Diary 2 – Sweet Adventure (Part 5/END)

kangharastory

Title : 95’lines Diary 2

Subtitle : 05. Sweet Adventure (END)

By : Kangharastory

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG – 17

Lenght : Series

Cast : Kim Taehyung (BTS), Park Jimin (BTS), Song Jihyun (OC), Kim Nayeon (OC)

Note : akhirnya berakhir juga cerita ini. Mohon maaf kalau ada typo, karna ini bener-bener tidak diedit. Thaknseu~

==

95’lines Diary

Dear sahabatku,

Hai~ Song Jihyun detak jantungku, Kim Taehyung darahku, dan Park Jimin nafasku.

Entah bagaimana perasaan kalian, tapi ini adalah sesuatu yang dulu pernah kita impikan. Pada hari ini, akhirnya kita bisa benar-benar pergi, melintasi ruang dan waktu. Pergi bersama-sama ketempat yang jauh. Menikmati indahnya dunia, melihat dunia dari matahari terbit hingga matahari terbenam di ruang dan waktu yang berbeda. Menghirup oksigen diberbagai belahan bumi namun masih berada disatu negara. Meninggalkan jejak yang akan menjadi ingatan dan kembali dengan waktu yang berbeda. Semoga saja. Tidak peduli bahkan jika kita sudah tidak bisa berjalan sekalipun, aku ingin kita bisa kembali ke tempat ini. Kembali menikmati kenangan ini meskipun telah terkikis oleh waktu dan tak seindah saat ini. Tapi –bagiku yang terpenting adalah, aku masih bisa mendengar detak jantungku saat lautan ini menghantam karang dengan kencangnya, masih bisa merasakan desiran darahku saat hamparan padang rumput ini terseok dibawa angin, dan masih bisa bernafas saat merasakan angin lembut ini menerpa seluruh permukaan kulitku. 

Ini adalah yang terbaik dalam hidupku. Menyusuri bumi yang terasa tak akan pernah ada habisnya seperti mencari dimana ujung lautan yang bahkan tak akan pernah kita temui. Bisakah hal ini terulang lagi?

Dua puluh tahun kemudian, atau bahkan seratus tahun kemudian, entah apa yang akan terjadi pada kita. Andai aku bisa menghentikan waktu, maka hari adalah dimana aku benar-benar akan berhenti. Bahkan kalau bisa, aku ulangi lagi seperti video yang tak pernah pudar meskipun berkali-kali dipindahkan ketempat yang lain.

Kim Nayeon

==

2 bulan yang lalu

From : Playboy Sialan

TT_TT

Nayeon beranjak dari kasurnya dan pergi ke dapur sembari masih memegang ponselnya. Gadis bermarga Kim itu meneguk air putih kemudian mendudukkan dirinya dimeja makan, lalu kembali menatap layar ponselnya. Dahinya berkerut sejenak, merasa kesal karna Jimin sudah mengganggu tidurnya. Asal kalian tau, ini bukanlah yang pertama kalinya.

To : Playboy Sialan

Ada apa? 

Sebenarnya, Nayeon malas sekali meladeni Jimin. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya sudah terlanjur menyukai pria itu. Sebenci apapun, tetap saja dia memikirkannya terus. Bahkan tidak bisa satu kalipun dia mencoba untuk menghiraukannya.

From : Playboy Sialan

Nayeon-ah! Aku terjebak! Aku tidak bisa keluar dari sini! Tolong!

Nayeon melebarkan kedua matanya. Terjebak dimana orang ini? Atau mungkin dia kecelakaan? Entah kenapa Nayeon menjadi panik –bahkan ia lupa kalau sebelumnya dia sangat ngantuk.

To : Playboy Sialan

Kau dimana?! Cepat beritahu aku!

Dua menit telah berlalu sejak dia mengirim pesan pada Jimin. Diapun sekarang sangat was-was menunggu balasan Jimin. Kenapa lama sekali? Apa –dia  –mati?

Astaga. Apa lihat berita di tv saja? Siapa tahu –

TING!

From : Playboy Sialan

Aku sebenarnya ada –di hatimu^^ Hey, bisakah kau kerumahku?

 –sial.

Nayeon mendesis sembari melempar ponselnya ke atas meja kemudian melipat kedua tangannya didepan dada. Tidak bisakah Park Jimin bersikap layaknya pria biasa? Bisakah laki-laki itu tidak selalu membuatnya kepikiran? Benar-benar.

To : Playboy Sialan

Bertemu di luar saja. 

Balas Nayeon pada akhirnya. Gadis itu kemudian memijit pelipisnya. Dia mengingat kembali kejadian tadi malam. Entah kenapa Nayeon merasa bahwa hari ini rasanya dia tidak ingin bertemu laki-laki itu. Gadis itu tidak mengerti kenapa belakangan ini dia selalu kesal kalau bertemu dengan laki-laki itu, di tambah lagi dia sedang PMS hari ini, mana bisa dia bertemu dengan Jimin.

To : Playboy Sialan

Aku tidak bisa pergi hari ini. Aku sedang PMS, kalau lihat wajahmu rasanya mau marah.

Gadis itu kembali mengirimi Jimin pesan. Dan tak lama setelah itu, ponsel Nayeon kembali berdering.  

From : Playboy Sialan

Aku sedang dalam perjalanan menjemputmu~~

===

“dia bilang ada ujian susulan.”

Ujar Nayeon sembari merapikan barang-barang belanjaannya ke atas meja makan. Gadis itu kemudian mengikuti Jihyun yang sudah lebih dulu pergi kedapur. Tadi pagi dia dan Jimin berniat bertemu diluar, tetapi tiba-tiba Jimin membatalkan dan bilang kalau dia ada ujian susulan. Bagus sih, memang niatnya Nayeon tidak ingin bertemu Jimin.

“bukankah itu bagus? Kau bilang kalau bertemu dengannya rasanya mau marah-marah terus.”

Taehyung yang berada diruang tengah apartemen Jihyun ikut menimpali sambil tertawa, membuat Nayeon menatap tajam kearahnya.

“kau baca pesanku ya? Kebiasaan. Itu adalah privasi.”

Cibir Nayeon yang tengah sibuk membantu menyiapkan makanan di dapur bersama Jihyun.

“Jimin sendiri yang memberitahuku. Asal kau tau, dia selalu memberitahuku tentang apa yang dia alami. Aku juga tidak mengerti kenapa dia sangat terbuka, takutnya sampai tua dia bergantung padaku. Mengerikan.”

Taehyung menyilangkan kedua kakinya keatas sofa sembari memangku anjing milik Jihyun.

“ngomong-ngomong, kenapa dia ujian susulan?”

Tanya Jihyun selagi membaca resep masakan yang akan dibuatnya. Rencananya, mereka berempat akan makan bersama hari ini.

“karna beberapa hari yang lalu dia tidak ikut ujian. Dia bilang sakit.”

Ujar Taehyung sembari mengernyitkan dahinya, mengingat-ingat bahwa Jimin pernah berkata seperti itu.

“sakit? Tidak mungkin. Mana pernah dia sakit.”

Ucap Nayeon sambil tertawa. Sakit apa Park Jimin? Nayeon merasa itu hanyalah alibi Jimin supaya bisa pergi kencan dengan wanita.

“aku dan Nayeon punya waktu liburan tiga bulan. Bagaimana dengan kalian?”

 “mm, aku juga tiga bulan. Kurasa semua universitas sama. Apa yang ingin kalian lakukan?”

Tanya Taehyung.

“kita berencana pergi liburan.”

Ucap Jihyun yang diberi anggukan oleh Nayeon.

“ayo kita lakukan sesuatu yang anti mainstream.”

Usul Taehyung yang langsung diberi tatapan mematikan oleh Jihyun dan Nayeon.

“idemu itu sangat buruk. Sesuatu yang anti mainstream yang ada di kepalamu itu pasti sesuatu yang menyebalkan.”

Taehyung terkikik sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.

===

“ya ampun kenapa kalian bawa banyak barang? Tidak muat ditaruh bagasi.”

Taehyung menunjuk bagasi mobil miliknya yang sudah tertata rapi dua buah tas ransel berukuran sedang miliknya dan juga milik Jimin. Sementara itu disisi yang lain, Jihyun dan Nayeon mengerucutkan bibirnya karna merasa kecewa padahal sudah semalaman mereka berdua mengepack barang-barang kedalam koper berukuran besar masing-masing yang mereka bawa.

“heh kalian tau kan, ini adalah perjalanan yang cukup panjang dan kita tidak menetap disatu tempat, jadi tidak perlu bawa banyak barang.”

Ucap Jimin setelah keluar dari dalam mobil untuk mengecek keadaan mobil tersebut.

“kalian kan bisa mengikatnya di atas mobil.”

Paksa Jihyun yang tak mau memilah kembali barang bawaannya yang sudah ia susun sedemikian rupa.

Taehyung dan Jimin berpandangan.

“begini baru benar.”

Jimin yang duduk dibangku kemudi akhirnya bisa bernafas lega, setelah sekian lama beradu mulut dengan kedua gadis yang tidak mau mengganti koper mereka dengan tas ransel satu jam yang lalu. Kedua gadis itu pada akhirnya kembali mengepack barang mereka menjadi lebih sedikit menggunakan tas ransel dan bisa ditaruh dibagasi. Nayeon yang tidak mungkin kembali kerumahnya, pada akhirnya ia meminjam tas ransel milik Jihyun yang kebetulan memiliki lebih dari satu dan menitipkan sisa barangnya di apartemen Jihyun. Sedangkan Jihyun menitipkan anjingnya pada tetangga yang beruntungnya menyukai anjing.

Kedua gadis yang kelihatannya agak kesal itu memasang wajah cemberut di jok belakang tanpa berkomentar apa-apa. Tahu begini mereka tidak akan mengajak kedua laki-laki tengik itu untuk pergi liburan.

“kita ini sedang pergi jalan-jalan, jangan cemberut dong. Ini.”

Taehyung yang duduk disamping Jimin menyerahkan sebuah kantung plastik besar yang didalamnya berisi banyak snack dan lainnya, membuat kedua gadis itu agak melupakan kekesalannya.

“jadi tujuan pertama kita adalah….”

Jimin menggaruk tengkuknya. Jadi sebenarnya mereka ini tidak punya tujuan. Hanya ingin pergi keluar Seoul lalu menikmati pemandangan, hanya itu saja.

“bosan.”

Nayeon menyenderkan punggungnya ke belakang sembari memperhatikan jalanan lewat jendela. Hari sudah malam, dan mereka barusaja melangsungkan makan malam disebuah kedai di pinggir jalan. Jika mereka boleh jujur, hari ini mereka sangat senang.

“ayo kita bermain sesuatu yang menyenangkan.”

Ajak Taehyung yang kini kebagian menjadi supir. Laki-laki itu sejak dulu memang cepat kalau mau memerintah. Kalau dia sudah bilang itu, maka mereka pun akan mengikutinya. Entahlah, tapi itu kebiasaan.

Jimin yang sudah kekenyangan sebenarnya malas bermain-main karna dia hanya ingin tidur. Setengah hari dia sudah menyetir dan itu membuatnya kelelahan.

“bagaimana kalau truth or dare?”

Tanya Taehyung yang membuat Jimin segera bersemangat.

“itu adalah kesukaanku.”

Pekiknya pelan, lalu menatap Taehyung dengan jahil dan mereka berdua tertawa.

Ada kalanya aku menyadari, jika tak ada pertikaian, maka tak ada gunanya juga kebahagiaan. Jika tak ada kesedihan, maka cintapun tak akan ada gunanya. Sekarang aku mengerti, kita ditakdirkan untuk saling memahami, bagaimana kisah ini terjadi, adalah perjalanan bagi kita untuk bisa saling memahami. Aku tidak pernah menyesal kalian telah meninggalkan luka atau apapun itu, tetapi aku akan sadar jika itu adalah hal penting yang membuatku bisa merasakan apa yang kalian rasakan. Selamanya, aku akan mengingatnya. Bagaimana kita saling berteriak, tertawa, atu bahkan saling meninggalkan, aku akan mengingatnya dengan bahagia. 

Song Jihyun

“kalian tidak berniat meninggalkan kami dijalanan kan jika kami berdua membuat masalah?”

Tanya Jihyun yang langsung membuat Taehyung terkikik geli. Ini sih bukan permainan truth or dare, melainkan tanya jawab. Ah apapun itu yang penting menyenangkan.

“maka dari itu jangan membuat masalah.”

Sergah Jimin.

“kalian ini masih labil, aku takut kalau kalian tiba-tiba kesal mendengar jawaban kami lalu meninggalkan kami begitu saja. Seperti waktu itu.”

Ujar Nayeon mengingatkan, yang membuat suasana menjadi hening. Hanya terdengar deruan mobil yang saling bersahutan.

Sudah lama sejak mereka kembali membahas masalah tersebut. Entah bagaimana caranya, tapi sepertinya masalah yang satu itu memang tak akan pernah bisa hilang dari ingatan mereka selamanya.

“itu tidak akan terjadi lagi.”

Suara Taehyung menginterupsi ditengah-tengah keheningan yang terjadi. Sebenarnya, ini adalah perjalanan terpanjang mereka selama mereka bersahabat. Bagaimana tidak? Hampir seharian ini mereka bersama, dari pagi hingga malam dan mungkin hal ini akan berlangsung sampai beberapa hari kedepan. Ini pasti akan banyak menguras emosi, tentang kebersamaan mereka yang kembali lagi, bahkan lebih panjang dari hari sebelumnya.

Taehyung menghentikan mobilnya ditepi jalan yang langsung terlihat hamparan padang rumput yang luas. Meskipun malam hari, tapi padang rumput itu tetap terlihat indah. Oh jangan lupa, bahkan mereka tidak tahu pastinya sedang berada dimana, kalau mereka tak melihat GPS.

Keadaannya malah makin hening. Tetapi mereka bersyukur karna setidaknya mereka memiliki waktu untuk membicarakan masalah penting ini.

“aku ingin bicara. Apa sebaiknya diluar? Pemandangannya sangat bagus.”

Ajak Taehyung yang langsung keluar dari mobil dan duduk di atas rerumputan kecil sembari menghadap ke hamparan padang rumput yang luas.

Angin malam yang kencang itu membuat padang rumput yang luas seakan terlihat seperti ombak dilautan. Mereka bergerak seirama dan sangat indah dilihat. Begitupula dengan langit malam yang dipenuhi bintang, membuat sedikit sinarnya menyinari empat manusia yang duduk berdampingan menghadap padang rumput tanpa beralaskan apapun. Juga lampu mobil yang berada di belakang mereka, mereka biarkan menyala, membiarkan sinarnya menembus tubuh mereka dan membuat semakin terang hamparan rumput luas disana. Kedua kaki mereka kompak mereka lipat sebagai tumpuan tangan mereka dan berbicara dari hati ke hati sembari menikmati suasana malam itu. Dua orang pria duduk di ujung kanan dan kiri mengapit kedua wanita yang duduk diantara mereka.

“wah aku tidak menyangka aku benar-benar pergi bersama kalian.”

Salah satu pria yang duduk di ujung kanan bersuara. Dia adalah Kim Taehyung, si ketua galak yang sekarang sudah melupakan jabatan ketuanya itu.

“benar. Aku pikir kita tidak akan pernah melakukannya. Ini sungguh luar biasa.”

Ujar Jihyun yang duduk persis disamping Taehyung. Gadis itu terlihat berbinar, merasa tidak percaya kalau mereka benar-benar pergi bersama-sama.

“aku tidak akan pernah melupakan hari ini.”

Nayeon menatap Jihyun terharu, bahkan ia menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tidak jatuh.

“kalian masih ingat kan, waktu kita berdua menghilang selama dua tahun? Sejujurnya, aku merasa bahwa itu adalah kesalahan kami. Dan entah harus bagaimana mengatakannya, aku mewakili Taehyung ingin meminta maaf.”

Mungkin, di kehidupan selanjutnya, meminta maaf tidak akan semudah saat ini. Memberanikan diri mengakui kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi adalah hal tersulit yang pernah aku ucapkan. Aku pernah berpikir bahwa kata maaf tak ada gunanya untukku. Seberapa sulit aku, atau seberapa banyak aku menorehkan luka, tak pernah sedikitpun terpikir dalam otakku untuk memulai membuat kisah ini menjadi lebih baik, malah aku memperburuk keadaan. Itulah yang aku lakukan sebelumnya. Tetapi disisa hidupku ini, aku akan lebih menghargai orang-orang disekitarku, termasuk kalian yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. 

Park Jimin

“emm, aku juga mewakili Jimin ingin mengatakan –bahwa kita tidak akan memaksa siapapun untuk menerima perasaan kita. Aku tau, kita bahkan tidak pernah membicarakan ini sebelumnya, tapi –“

“aku mengerti. Aku bukannya ingin membuatmu terluka, sungguh. Sejujurnya aku hanya tidak ingin membuat persahabatan kita menjadi kacau –dan kau lihat kan?”

Taehyung terdiam saat ucapannya disela Jihyun. Laki-laki itu menoleh, dan tersenyum saat melihat wajah Jihyun yang terpapar sedikit cahaya dari lampu mobil di belakang mereka. Biar bagaimanapun, dia tak bisa memungkiri, bahwa sampai detik ini, jantungnya selalu berdetak kencang saat berhadapan dengan Jihyun.

“sekarang kita sudah dewasa. Mau seperti apa hubungan kita selanjutnya, kita jalani saja. Bukankah itu yang memang harus kita lakukan? Tidak perlu menghindar satu sama lain, ataupun saling menyakiti.”

Ucap Nayeon yang sukses membuat Jimin tertegun. Benar dugaannya, bahwa gadis itu memiliki banyak kalimat yang membuatnya tidak akan bisa berkata-kata. Tetapi darisanalah Jimin meyakini bahwa dia tidak salah memilih. Kim Nayeon adalah cinta sejatinya.

“benar. Mulai sekarang kita tidak perlu menghindari apapun yang akan terjadi di antara kita. Cinta, atau apapun itu, itu semua tidak bisa kita hindari. Lebih baik memahami perasaan masing-masing dan membiarkan semua berjalan dengan apa adanya. Hanya itu yang kita perlukan, tanpa saling menyakiti, menghindari ataupun membenci.”

Jimin menghela nafasnya lega. Pada akhirnya dia bisa mengungkapkan hal itu. Selama ini ia memendamnya hanya karna mempertahankan egonya tanpa peduli perasaan orang lain. Dia bahkan selalu memaksa. Seperti memaksa Nayeon untuk mencintainya.

Dan pada akhirnya, aku bisa lebih memahami perasaan seseorang. Takut ditinggalkan, takut disakiti, aku sudah mengerti semua itu. Aku adalah seseorang yang mudah bicara tetapi tak mudah melakukan, aku egois dan tak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain terhadapku. Aku juga pemaksa, yang membuat orang lain merasa bersalah atas tindakanku padahal aku tau bahwa semua itu adalah salahku. Mungkin aku memang orang yang seperti itu, tapi jangan lupa, bahwa ada kalanya keegoisan seseorang bisa runtuh atas perjalanan yang pernah dilewati. Tanpa kalian, tidak mungkin aku menjadi seseorang yang bisa menghargai orang lain. Banyak hal yang telah kita lewati, dan kalian harus berjanji bahwa kalian tak akan melupakannya sampai kapanpun. Terima kasih atas kenangan yang telah kalian ukir bersamaku. Jika kita bertemu lagi dikehidupan selanjutnya, aku akan mengingat seberapa besar jasa kalian sebagai keluargaku, sebagai sahabatku, dan sebagai bagian dari diriku.

Kim Taehyung

END

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s