[BTS FF FREELANCE] A Pair Of… Wings – Begin [Chapter 1]

cymera_20161027_180432

A Pair Of… WINGS

‘BEGIN’

Story by CGJin

Chaptered ll PG-15

Romance, Comedy, AU, School-life, Friendship

Starring :

Kim Seokjin [BTS]

Min Yoongi [BTS]

Jung Hoseok [BTS]

Kim Namjoon [BTS]

Park Jimin [BTS]

Kim Taehyung [BTS] as Seokjin’s little brother

Jeon Jungkook [BTS]

And OC’s Choi Hyena

Based from real life

Plot and OC’s name are mine. Don’t be a plagiator or siders!

Sorry for typo.

.

.

.

Hari pertama masuk ke sekolah, menyebalkan!

.

.

.

Hyena’s POV

Halo, aku Choi Hyena, anak dari Choi Siwon dan Kim Hyunjin, keturunan orang kaya. Bukan bermaksud sombong, sih. Tapi, karena kekayaan Ibu dan Ayahku yang berlimpah, aku disebut orang kaya. Eh, perkenalannya kok aneh, sih?

Ah ya, aku masih dibangku Junior High School, masuk disekolah ternama yaitu Namsan High School, sekolah yang diidam-idamkan oleh para remaja. Berterimakasihlah pada Ayahku yang benar-benar memaksaku untuk sekolah disana. Katanya ada orang yang akan membantuku disana, yaitu teman masa kecilku.

Tentang itu, aku sudah lupa siapa nama temanku itu. Aku mengingat wajahnya, tapi aku tak mengingat namanya. Teman yang buruk, huh? Tapi, memang begitulah kenyataannya.

Aku orang Busan, karena aku memang terlahir disana. Nenek dan Kakekku atau Ayah dan Ibu dari Ibuku itu orang Busan, jadi aku dari dulu sudah tinggal bersama mereka di Busan. Dialek Busanku sangat kental, dan aku dipuji oleh Ayahku karena saking kentalnya dialek Busanku itu, hehehe…

Sekarang, tibalah aku di Seoul, ibu kota dari Korea Selatan. Aku diantar oleh supirku sampai ke depan gerbang. Setelah berterimakasih padanya, aku segera masuk ke sekolahku dan mencari ruang server untuk bertanya tentang kelasku dan jadwal sekolahku. Setelah mendapatkannya, aku segera pergi mencari ruanganku.

“3-4… dimana, ya?” aku bergumam sendiri sambil mencari kelasku. Para murid disini menatapku. Aku tak perduli. Mau mereka bilang aku gila, bodoh, terserah. Well, i don’t give a shit, tho.

“Ah, ketemu!” aku memekik pelan seraya masuk ke kelasku. Terlihat beberapa murid melihatku dengan tatapan berbeda-beda. Aku sembarang duduk disebuah kursi. Di belakangku terdapat dua laki-laki, dan di depanku terdapat dua gadis. Semoga aku mendapatkan teman disini.

Bel berbunyi, dan seluruh murid kembali ke kursinya masing-masing. Aku menghela nafas lega. Akhirnya berbunyi juga bel sialan itu. Lalu gurunya pun datang memasuki kelas.

“Pagi semuanya,” sapa gurunya.

“Pagi, Pak…”

“Nah, selamat telah masuk ke tahun ajaran baru, dan telah menjadi sekolah menengah pertama tingkat tiga. Bapak salut dengan kalian. Sebenarnya, kalian ‘kan kelas yang nakal. Suka melawan guru, makan-makan saat pelajaran, dan lain-lain yang membuat kelas kalian dicap sebagai kelas yang paling jahat. Tapi, karena dua orang yang menjadi biang kerok-nya sudah keluar, Bapak harap kalian dapat menjadi lebih baik tanpa keduanya,” ujar guru tersebut panjang lebar. Aku menguap, karena ini terlalu membosankan. Ah, cepatlah berakhir!

“Ah, ya. Ada murid baru disini.”

Aku sontak mendongkakkan kepalaku melihat sang guru yang tengah tersenyum padaku. Aku menghela nafas berat.

“Ayo kedepan dan perkenalkan dirimu.”

Aku pun berjalan kedepan kelas, “Annyeonghaseo, joneun Choi Hyena ibnida. Senang berkenalan dengan kalian,” ujarku. Para murid mulai berbisik-bisik.

“Ya ampun, dia cantik sekali!”

“Andai saja aku menjadi kekasihnya, langsung jackpot!”

“OMG…”

Itulah yang kudengar dari mereka. Aku menghela nafas.

“Aku sudah boleh duduk, seonsaengnim?”

“Ah ya, kamu sudah menentukan tempat dudukmu?”

“Sudah.”

“Baiklah. Ada pertanyaan untuknya?” tanya guru itu pada murid-murid disini. Banyak yang mengangkat tangan mereka.

“Satu-satu. Saat kalian ingin bertanya, perkenalkan diri kalian terlebih dahulu.”

“Baik!”

“Nah, Kim Jieun-ssi, kamu ingin bertanya apa?”

Gadis yang dipanggil ‘Kim Jieun’ itu berdiri, “Halo, aku Kim Jieun. Kau belum tahu aku, kutahu itu. Ah, aku bicara apa, sih?” para murid disini mulai tertawa mendengar perkataan Jieun. Aku hanya memutar bola mataku.

“Kau ingin bertanya apa?” tanyaku bosan. Ia tersenyum padaku.

“Kau berasal darimana? Kutebak, Busan?”

“Tebakanmu benar.”

“Pantesan aku tidak asing denganmu. Aku pernah melihatmu di supermarket Busan!” ujarnya senang. Aku menghela nafas.

“Ada lagi pertanyaan selanjutnya?” tanyaku sambil mengabaikan Jieun. Ia cemberut, dan duduk kembali ke kursinya. Salah seorang siswa mengangkat tangannya.

“Baiklah, perkenalkan dirimu.”

“Aku Park Jimin, juga berasal dari Busan. Bisa tolong tunjukkan dialek Busan?” kata siswa yang bernama Park Jimin itu. Oh, ya. Dia duduk dibelakangku saja.

Mwolakano?” tanyaku padanya dengan dialek Busanku. Ia terkejut, mungkin karena aku menggunakan bahasa slangnya Busan. Ia mengangguk mengerti, dan duduk. Salah satu angkat tangan lagi.

“Aku Kim Taehyung, dari Daegu. Yah, dialek kita kurang lebih sama. Berasal darimana ayah dan ibumu?” Tanya siswa bernama Kim Taehyung itu. Dan, dia juga duduk dibelakangku saja. Aku menghela nafas.

“Ibuku berasal dari Busan, Ayahku dilahirkan di Seoul,” ujarku. Ia mengenyitkan dahinya.

“Kenapa kau bilang Ayahmu begitu?”

“Ibu dari ayahku itu berasal dari Seoul, dan Ayahnya berasal dari Daegu. Tak heran mengapa dialek Busanku kental,” ujarku lagi padanya. Ia mengangguk mengerti.

“Nah, sudah cukup sesi bertanyanya. Hyena, silahkan duduk kembali. Mari kita mulai pelajarannya.”

Aku segera duduk ke mejaku dan mengeluarkan buku untuk menyalin. Namun, siswa yang bernama Kim Taehyung itu memanggilku, “Bagaimana caranya ibu dan ayahmu bertemu?” ia bertanya padaku begitu. Aku hanya menghela nafas berat. Sudah berapa kali aku menghela nafas hari ini?!

“Kau tak perlu tahu, Kim Taehyung. Lagipula, kenapa kau ingin tahu sekali?”

“Nama ibumu siapa?”

“Kim Hyunjin. Wae?”

Kulihat ia terlonjak sebentar. Ada apa dengan nama ibuku itu? Apa ada yang aneh? Atau, ada yang salah?

“Ada apa?”

“Ah ani, sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi lupa dimana. Hahaha…”

Aku kembali menghadap kedepan. Sungguh, aku sangat malas berbicara hari ini entah kenapa. Aku ingin sekali pulang, dan membaca novel sambil mendengarkan lagu.

***

“Hyena-ya!”

Aku menoleh, melihat siapa yang memanggilku. Ternyata Jieun. Aku memutar bola mataku malas.

“Apa?”

“Maukah kita menjadi teman?”

Aku sontak kembali menatapnya. Ia tersenyum manis padaku. Aku mengangguk pasrah. Ia lalu berjingkrak-jingkrak kesenangan. “Gomawo, Hyena-ya! Beruntung aku mendapatkan teman seperti dirimu!”

“Memangnya kau tidak punya teman?”

“Tidak, sama sekali. Kau teman pertamaku! Maka dari itu aku senang sekali!”

Ia kembali berjingkrak-jingkrak bahagia. Aku mengenyitkan dahiku. Aku tak salah dengar, ya bukan? Dia sama sekali tidak punya teman? Sedih sekali.

“Hyena!”

Pekikan itu sukses membuat semua orang disini melihat ke sumber suara. Aku melihat seorang siswa yang sangat familiar. Ia menghampiriku. “Kau benar-benar Hyena, ‘kan? Choi Hyena?!” pekiknya. Aku mengangguk mengiyakan.

“Waaahhh!! Aku tak bisa membayangkan kau sekolah disini, Hyena-ya! Aku sangat merindukanmu!!”

“Kau… temanku waktu kecil, ‘kan? Siapa itu.. umm.. Jung…” aku berusaha mengingat namanya. Aku mengingat wajahnya, namun tidak pada namanya. Huuh, siapa sih namanya?

“Jeon Jungkook! Kau lupa padaku, huhh? Jahat sekali kau!” ia mempoutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya. Aku tertawa, dan mencubit pipinya.

“Iya, Jungkook-ie… kau menjadi sangat tampan! Makan obat apa kau sehingga bisa setampan ini??” ledekk1u padanya. Ia semakin cemberut.

Yaakk! Aku sudah tampan bahkan sejak lahir!” protesnya padaku. Aku tertawa geli. Dia dari dulu belum berubah.

Arra, arra! Kau memang tampan, Jungkook-ie.. by the way, kau dikelas mana?”

“Sekelas denganmu, babo. Kau tak melihatku tadi?”

Aku menggelengkan kepalaku. Ia cemberut lagi.

“Jahat! Dan, kau banyak berubah..” ujarnya dan menatap kebawah. Aku tersenyum, dan mengelus kepalanya.

“Ayo keluar.. aku ceritakan.”

Ia mengangguk, dan kami keluar, menuju atap sekolah tentu dengan bantuan Jungkook yang mengusulkan dan mengantarkan kami kesana. Kami pun duduk disebuah kursi panjang.

“Kenapa kau bisa berubah menjadi seperti ini?” Tanya Jungkook membuka pembicaraan.

“Aku dibully, Jung.”

Ia terkejut setengah mati. Aku tertawa keras. Tentu saja ia tidak percaya. Yang ia tahu, aku adalah gadis kuat dan berani. Tapi, aku sudah berubah, Jungkook…

“Ke-kenapa bisa?!”

“Gara-gara laki-laki brengsek bernama Steven itu. Dasar berandalan berdebah!”

“Tunggu. Steven?”

“Ya, murid pindahan dari Amerika Serikat itu. Kau kenal dia, bukan?”

“Tentu saja! Dia termasuk temanku. Tapi, kenapa dia membully-mu? Apa kau melakukan hal yang membuatnya mengganggumu?”

“Aku tak melakukan apapun, Jung. Dia yang pertama menggangguku.”

Terlihat Jungkook mengepalkan tangannya marah. Aku menggenggam tangannya itu erat, “Gaeanta, Jungkook-ie. Sekarang aku sudah pindah ke sini, jadi aku akan aman. Lagipula, ada dirimu disini, Jungkook,” ujarku padanya. Ia menatapku intens.

Algetta, Hyena-ya.. ayo kembali ke kelas!”

Ne!”

Sejujurnya, aku ini gadis yang sangat hiper dan sangat perhatian pada orang lain. Aku memang tomboy, tapi aku tidak cuek. Namun, setelah Steven datang, hidupku hancur. Ia membullyku habis-habisan; melemparku dengan botol minuman, menyiramku dengan air, membuang permen karet ke kursiku, membuatku tersandung, dan lain sebagainya yang membuatku trauma padanya. Aku takut. Namun, setelah itu berakhir, aku menjadi tidak ada ekspresi. Dingin, mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan diriku yang sekarang ini.

Jeon Jungkook juga, dia yang disebut ayahku itu. Aku dan Jungkook sudah berteman sejak berumur satu tahun, karena kemi bertetangga. Ibunya Jungkook sering mengunjungi kami, begitupula sebaliknya. Kami tumbuh bersama. Maka dari itu tak dipungkiri Jungkook mengatakan jika diriku ini berubah, karena ia tahu benar siapa diriku dulu.

Well, aku dan Jungkook berjanji tidak akan berubah. Tetapi, aku mengingkari janji itu. Maafkan aku, Jungkook.

Kami ini anak Busan, dan dialek kami sangat kental. Karena kita sudah tinggal di Seoul, kita menggunakan kedua dialek itu; dialek Busan dan Seoul. Buktinya, kami tadi berbicara dengan kedua dialek itu.

Satu lagi, Park Jimin. Siswa satu itu tidak asing bagiku. Aku pernah bertemu dengannya saat aku kecil, namun aku lupa. Tuh, ‘kan. Aku mudah lupa sekali, sih?

Ah, terserah. Pokoknya aku sudah mendapatkan teman disini! Kim Jieun, dan teman lamaku Jeon Jungkook. Aku berdoa agar hari-hariku tenang tanpa ada lagi yang mengganggu.

Hyena’s POV end.

.

.

.

.

.

A/N : Holla! Hye kembali dengan FF baru dan FF ini Hye buat berdasarkan kehidupan nyata. Siapa? Well, itu Hye sendiri hahahaha..

Tidak semua yang Hye masukkan disini itu asli semua. Ada yang tentu datang ide dari otak Hye sendiri dan langsung Hye tuliskan di lembar kerja Micro.Word. Tentang nama Hyena, itu sebenarnya adalah nama Hye sendiri dalam korea, jadi sebenarnya nama asli itu Han Hyena, hehehe… bocor deh. Dan yang ada komentar atasnamakan Han Hyena itu adalah author sendiri, yang berekayasa menjadi Han Hyena LOL

Ya, bagaimanapun, Hye buat ini FF selain karena ada ide dari teman Hye [pas itu Hye kehabisan ide], Hye juga mau melampiaskan emosi Hye disini, karena cuman dengan menulis-lah Hye dapat mengontrol diri Hye sendiri. Terkadang Hye bisa stress pikirkan ini-itu. Dan dengan menulis, Hye menjadi lega dan tenang. #curhat

Ok, hanya itu saja yang Hye sampaikan.

Mind to review?

-Hye

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s