[BTS FF Freelance] After Fourteen Years and Still Miss – (Vignette)

picsart2016-31-10-23-44-10

After Fourteen Years and Still Miss

a remake-fic by Orchidious

Min Yoongi (BTS) with Hwang Yoonmi (OC)

mentioned!Kim Namjoon (BTS)

Vignette | Family | G

Just own the plot and the OCs

Bagi Yoongi, tidak ada alasan mengapa ia harus membenci ibunya.

:::

Yoongi berlari di sepanjang koridor berdinding putih itu. Setelah mendapat kabar dari Namjoon bahwa Yoonmi mengalami pingsan hingga harus dibawa ke rumah sakit, lelaki itu menjadi kalang kabut. Abaikan semua hal, ia bahkan berlari dari rumahnya hanya dengan jaket tipis—walau musim gugur sudah menunjukkan suhu yang rendah. Begitu hampir sampai di depan kamar Yoonmi, ia berhenti mendadak. Wajahnya tiba-tiba pucat dan Yoongi bisa merasakan seluruh sendi tubuhnya terasa kaku.

“Ibu,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Setelah empat belas tahun, akhirnya Yoongi bisa kembali melihatnya. Matanya berkaca-kaca, tanpa menyadari tatapan Namjoon yang sedang mengarah padanya. Namjoon yang berdiri di dekat jendela tersenyum kecil. Ia sudah tahu semuanya dan berpikir kalau hari ini pasti akan menjadi hari yang diingat oleh Yoongi. Ibunya di sini, sedang menahan tangis dengan sapu tangan menutup sebagian wajah dan seorang bocah laki-laki berumur sekitar delapan tahun duduk di sampingnya sambil mencoba menenangkan. Yoongi terpaku. Rasa iri menjalari dirinya. Ia juga ingin, bisa duduk di samping sang ibu lalu mengusap air matanya dan merangkulnya dalam dekapan. Tapi yang dilakukannya hanyalah berdiri bak orang bodoh.

Seakan menyadari sesuatu, ibunya tiba-tiba mengangkat kepala. Mendongakkan wajah lantas menoleh tepat ke arah Yoongi. Semakin membuatnya beku di tempat.

“Yoongi-ah?”

:::

Yoongi hanya menunduk. Meski kini ibunya telah berada di sampingnya, ia tak mau menoleh. Jantungnya berdegup kencang, matanya panas—menahan air mata yang tak ingin ia keluarkan saat ini. Yah, gengsinya masih besar. Ia masih bertahan dengan gayanya, kendati hal yang sudah diinginkannya selama empat belas tahun terakhir sudah berada di depannya.

“Kau membenci ibu, Yoongi-ah?”

Tidak. Ia tidak pernah membenci ibunya—walau beliau sudah merenggut adik perempuannya. Bagi Yoongi, tidak ada alasan mengapa ia harus membenci ibunya. Orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini, mengandungnya selama sembilan bulan dan rela menahan berbagai rasa sakit serta cobaan yang terkadang menghampiri. Yoongi tak mungkin berniat memiliki perasaan itu, meski awalnya hal itu sempat memercik di hatinya.

Semuanya dimulai beberapa belas tahun silam. Ketika itu, Yoongi hanyalah bocah yang berumur sama dengan adik tiri Yoonmi. Sedangkan Yoonmi hanya berjarak setahun di bawahnya. Kehidupan kakak-adik mereka cukup harmonis, meski tak jarang pertengkaran kecil tejadi dan Yoonmi akan menangis setelahnya. Lalu mengadu pada ayah mereka dan Yoongi yang terkena hukuman. Meski begitu, mereka tetap saling menyayangi, berbagi, dan melindungi satu sama lain. Semua yang menurut Yoongi kecil terasa sangat indah sebelum ia mendengar bentakan ibunya untuk yang pertama kali.

Suara barang terlempar, amukan sang ayah juga raungan sang bunda.

Ibunya orang yang penyayang, beliau bahkan tak pernah memarahinya dan Yoonmi. Namun malam itu, sesuatu telah berbuah. Dan Yoongi masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal tersebut. Dari balik pintu kamarnya, ia bisa mendengar semuanya. Sesuatu yang kemudian membuat hatinya menjerit dan takut akan berbagai hal.

Tetapi Yoongi kala itu hanya bisa diam, tak tahu harus bagaimana. Hati kecilnya berdoa, supaya malam-malam selanjutnya, ia tak akan mendengar hal semacamnya lagi. Dan ia pikir doanya terkabul karena esok hari, semua terlihat baik-baik saja. Hingga akhirnya, di hari kedelapan sejak peristiwa malam itu, mereka pergi bersama. Mengendarai mobil keluarga diiringi nyanyian riang kedua bersaudara. Liburan berjalan lancar. Namun, hanya sampai di situ saja.

Sepertinya doa Yoongi yang berharap keluarganya akan baik-baik saja, pupus sudah.

Di perjalanan pulang, mobil yang dikendarai mereka mendadak oleng karena licinnya jalan yang diguyur hujan malam itu. Berputar lalu menabrak pembatas jalan menuju jurang hingga terbalik ke samping dan nyaris terperosok ke dalam lubang dalam itu kalau saja sebuah mobil polisi tidak melintas dan menyelamatkan mereka. Yoongi bersyukur, tiga hari kemudian ia dapat membuka matanya kembali dan mendapati dirinya berada pada bangsal rumah sakit dengan selang infus tertancap di tangan. Ia sempat bertanya pada suster yang merawatnya dimana anggota keluarganya yang lain dan bukannya memberitahu, suster itu malah menyuruhnya beristirahat. Katanya, kondisi Yoongi belum pulih betul. Tangannya masih dalam masa pemulihan akibat cedera di bagian lengan dan kaki kecilnya juga sedang mengalami sedikit keretakan. Yoongi hanya bisa menunggu, hingga keesokan malamnya, ayahnya datang sambil membawa tiang infusnya.

“Ayah, dimana ibu dan Yoonmi? Mereka baik-baik saja, bukan?”

Tapi bukan anggukan yang Yoongi terima, melainkan gelengan pelan sang ayah yang terlihat begitu pasrah.

“Ibumu membawa adik kecilmu itu pergi. Jangan kau pikirkan. Lebih baik kau beristirahat agar kondisimu cepat pulih dan kita bisa segera pulang. Kau mengerti?”

Yoongi kemudian hanya bisa mengangguk. Ia hendak bertanya lagi namun ayahnya sudah terlanjur pergi, meninggalkan suara derit pada pintu yang tertutup. Ia masih tak mengerti, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan keluarganya.

:::

“Ibu dan ayahmu memiliki pemikiran yang berbeda. Itu yang menyebabkan kami akhirnya memilih berpisah. Maaf karena ibu membawa Yoonmi secara diam-diam. Ibu hanya tak ingin, tangan ringan ayahmu juga mengenai dirinya.”

Ucapan tiba-tiba dari ibunya tersebut membuyarkan lamunan Yoongi akan masa lalunya. Anggukan pelan ia berikan—masih dengan menunduk. Ia memang akhirnya baru mengerti itu semua ketika usianya sudah menginjak remaja. Setelah peristiwa kecelakaan tersebut, ia tak pernah bertemu lagi dengan ibunya—sekali pun. Kata ayahnya, mungkin saja ibunya pergi  dan menetap di Seoul. Yoongi memang tak tinggal di ibu kota Korea Selatan itu melainkan di kota kecil kelahirannya, Daegu. Selama bertahun-tahun tinggal hanya berdua dengan sang ayah membuat Yoongi tahu tabiat asli lelaki Min itu. Ringan tangan yang kemudian membuat Yoongi memiliki mental yang kuat lantaran ayahnya mendidik dengan cara yang cukup keras—cara seorang lelaki, begitu katanya.

Yoongi sebenarnya tak mau ambil pusing dengan kepergian ibu dan adiknya. Pikirnya, ini mungkin sudah takdir—ia tak akan bertemu dengan mereka lagi. Ayahnya juga tak pernah mengungkit-ungkit kembali tentang mereka dan Yoongi yang beranjak remaja mulai mengerti arti perpisahan itu sehingga tak banyak memikirkannya. Namun ketika usianya menginjak delapan belas tahun, Yoongi seolah mendapat sebuah kesempatan. Ia berhasil lulus sekolah menengah atas dengan nilai yang tinggi sehingga diterima oleh salah satu universitas di Seoul. Berangkat secara diam-diam hingga akhirnya sampai dengan selamat di ibu kota. Berkenalan dengan Namjoon lalu tinggal bersama dengannya. Walau mereka berselisih setahun, Yoongi tetap merasa nyaman berteman dengan pemuda jenius itu pun sebaliknya.

Namjoon lalu tahu seluk-beluk kehidupan Yoongi seiring waktu yang mereka jalani bersama. Tetapi pemuda Kim itu tak pernah tahu kalau gadis yang sedang ia dekati masa itu adalah adik kandung si sahabat. Tanpa pikir panjang mengenalkan keduanya setelah mereka resmi menjalin hubungan. Dan reaksi Yoongi serta Yoonmi malam itu adalah…

“Yoongi oppa!”

…Yoonmi yang langsung memekik nama si kakak dan memeluknya erat. Mengabaikan raut wajah Yoongi yang termangu tak percaya. Butuh sekian detik sampai akhirnya ia ikut membalas pelukan adiknya tak kalah erat. Menggumamkan kata rindu yang sudah mengendap di hatinya selama bertahun-tahun. Sungguh tidak dapat dipercaya, ia akhirnya bisa bertemu lagi dengan adik kesayangannya itu.

:::

“Apa kau sudah bertemu dengan Yoonmi sebelumnya?”

Kali ini ibunya mengutarakan pertanyaan yang lagi-lagi berhubungan dengan isi benak Yoongi. Ia mengangguk perlahan. “Beberapa bulan lalu. Kurasa ia tak mengatakannya pada ibu,” balas Yoongi kemudian. Itu memang benar. Bukannya tanpa alasan tapi Yoonmi nampaknya hanya ingin agar hubungan ayah dan ibunya tak kembali bersitegang. Keluarga barunya cukup menyenangkan dan ia juga menyayangi adik kecilnya yang masih belia itu. Yoongi paham. Adiknya mungkin merasa kalau ibunya sebenarnya tengah menjauhkan mereka, lantaran hal itu juga dirasakan oleh ia sendiri. Kendati begitu, ia tetap tak menyimpan rasa benci pada ibunya.

“Yoonmi dan aku berpikir kalau ibu sengaja memisahkan kami. Itu sebabnya ia merahasiakan pertemuan itu.” Yoongi berujar tanpa beban. Mengangkat bahunya sambil menggoyangkan kaki untuk mendengar penuturan sang ibu. Batinnya mengatakan bahwa ibunya akan mengangguk namun sialnya, tidak, ibunya malah menggeleng pelan.

“Ibu tidak ada maksud begitu, Yoongi-ya. Kalau kau berpikir seperti itu maka—”

“Aku tetap menyayangi ibu walau ibu tak ingin melihatku lagi.”

Yoongi memotong ucapan sang bunda dan wanita setengah baya itu kemudian menoleh ke arahnya. Beri tatap tak percaya selagi Yoongi mengulas senyum.

“Aku merindukan pelukan ibu. Bolehkah…?”

Pertanyaan canggung serta kaku itu dibalas senyum lebar si ibu. Tak perlu bagi Yoongi untuk mengutarakan maksud sebenarnya dan ibunya tahu-tahu saja sudah merangkul dirinya. Memeluknya erat penuh haru. Dan Yoongi bisa merasakan air mata ibunya menetes membasahi jaketnya di bagian bahu.

“Ibu benar-benar merindukanmu, Yoongi. Sangat. Maaf sudah meninggalkanmu selama ini tanpa kabar.”

Yoongi tak tahu apa yang terjadi setelahnya karena kelopak matanya kemudian mengatup rapat. Membiarkan bulir-bulir air mengalir dari sudut matanya seraya tangannya balas memeluk sang bunda. Dan selanjutnya, Yoongi harap tak ada seorang pun yang mengetahui hal ini.

Karena kemudian ia menangis terisak dii balik pelukan sang ibu.

Mengabaikan semua gengsi.

Menyalurkan rasa rindu yang selama ini terpendam.

.

.

.

.

Yoonmi menatap kedua orang yang mengelilinginya dengan takjub. Sejak siuman lima belas menit yang lalu, ia langsung bisa merasa kedua sudut bibirnya berjungkit naik. Ibunya dan kakaknya di sini. Menemaninya. Gadis itu bisa merasakan kebahagiaan yang membuncah di dadanya. Terlalu besar hingga rasanya ia ingin ikut menangis.

“Yoongi oppa, matamu merah. Apa kau habis menangis?”

Si pemuda malah mengulum senyum seraya mengelus puncak kepala Yoonmi. Mencoba tak menjawab—lagi-lagi karena gengsi—tapi adiknya itu pasti sudah tahu. Ia kemudian melempar pandang pada sang ibu yang duduk di kursi samping ranjang. Senyumnya kian melebar.

“Aku senang bisa melihat kita berkumpul lagi. Andaikan saja ayah juga ada di sini,” ucap Yoonmi tiba-tiba selagi menunduk. Memilin ujung selimut yang menutupi tubuhnya sambil tersenyum sendu. Yoongi kemudian teringat sesuatu. Mengeluarkan ponsel dari saku celana seraya mencari daftar kontak dan memindai nama yang ada. Jemarinya berhenti ketika sampai pada nama “Ayah.” Ia terdiam sejenak.

“Sebenarnya sudah lama aku tak mengunjungi ayah. Terakhir kali, pada malam natal. Kami minum bersama dan tak bicara banyak.” Perkataan Yoongi penuh dengan nada menyesal yang amat kentara. Ibunya kemudian mengulurkan tangan dan menyentuh lengannya. Beri tatap percaya pada putra sulungnya tersebut. “Telepon ayahmu dan katakan kalau kita semua di sini merindukannya,” ujar sang ibu. Yoongi tampak ragu namun melihat harapan yang terpancar dari kedua manik si adik membuatnya membulatkan tekad. Menekan tombol hijau dan menyalakan loudspeaker. Beberapa sekon, hanya nada tunggu yang terdengar sebelum suara berat seorang pria menyapa dari seberang.

“Halo? Yoongi?”

Lalu Yoonmi yang menyahut. Biarkan suaranya menguarkan kalimat penuh kerinduan dengan agak serak lantaran ia tengah menahan tangis. Yoongi juga tak bisa menahan dirinya untuk ikut menanyakan kabar sang ayah. Percakapan-percakapan kecil itu kemudian semakin ramai saat sang ibu juga ikut berkomentar. Semuanya terasa haru dan bahagia di saat bersamaan.

“Yoonmi-ya, melukislah dengan giat. Suatu hari nanti, ayah akan berkunjung ke Seoul untuk menengokmu. Dan jangan terlalu memaksakan diri sampai kelelahan. Jaga kesehatanmu.”

“Baik, ayah. Maaf sudah membuatmu khawatir, tapi aku pastikan aku akan baik-baik saja dan berjanji untuk tidak terlalu memforsir diriku lagi. Aku juga tidak sabar untuk menunjukkan hasil karyaku selama ini pada ayah.”

Sang ayah tertawa sebentar. Ia sudah banyak berubah. Usia yang tak muda lagi membuat sifat ringan tangan-nya agak memudar. Yoongi sudah tahu hal itu. Sekarang ayahnya lebih memilih sibuk mengurus produksi patung yang dikelolanya. Ah, bakat seni Yoongi dan Yoonmi memang menurun dari kedua orang tua mereka. Sang ibu juga merupakan seorang pelatih vokal yang masih tetap aktif sampai saat ini. Dan kini ayahnya nyaris tak pernah marah-marah seperti dulu. Meski begitu, alih-alih menginginkan keluarga mereka kembali seperti sedia kala, baik Yoongi dan Yoonmi lebih suka jika mereka tetap berhubungan baik tanpa saling menganggu kehidupan pribadi masing-masing. Semuanya hanya masa lalu bagi mereka dan sebaiknya mereka menghapus kenangan pahit itu dan menggantinya dengan kenangan yang baru—yang walau sedikit jauh berbeda dengan dulu setidaknya tetap membuat mereka merasa nyaman pun baik-baik saja.

“Yoongi-ya.”

“Ya, ayah?”

“Kapan kau pulang lagi ke Daegu?”

Pertanyaan yang sukses membuat Yoongi terdiam sesaat. Awalnya ragu menjawab namun setelah melihat tatapan adik dan ibunya yang seakan mengatakan “kalau ia sebaiknya pulang dan menemui sang ayah”, Yoongi akhirnya mengulum senyum.

“Aku akan pulang akhir pekan ini. Ayah mau minum bersama?”

fin

(hampir nangis nulisnya /plak)

Well, jadi ini aslinya udah lama bgt ngendap di laptop dan ga dilanjut2 /pfft. Tapi entah kenapa lagi ada ide buat lanjut jadi yah akhirnya seperti ini. Kalau kalian menemukan perbedaan cara menulis di beberapa scene, jangan kaget, ya, karena gaya menulisku selalu berubah-ubah (dilempar).

Last, please give some review and thank you so much for reading ‘till the end ^^

Advertisements

8 thoughts on “[BTS FF Freelance] After Fourteen Years and Still Miss – (Vignette)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s