[Chapter 5] Bring Back the Shadow

img_6654

Bring Back the Shadow

by ayshry

BTS members with some OCs
| genres AU!, Friendship, Mystery, Thriller | length 3.2k words | rating PG-17 |

Prev:
Prolog & Introduction – Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4

***

“Detektif Kang, kami mendapat laporan kecelakaan dan berdasarkan identitas yang kami temukan, korban adalah Nona Ahn Hayoon.”

Seokjin yang tak sengaja mendengar laporan yang diberikan oleh seseorang berseragam polisi merasakan tubuhnya melemah saat itu juga lantas terduduk di atas jalanan. Taehyung yang tak sengaja melihat hal tersebut langsung mendekat dan menanyakan keadaannya. Seokjin tak mampu berbicara. Ia seperti kehilangan kesadaran namun jelas-jelas matanya terbuka lebar. Ketika Taehyung mencoba mendesak pemuda itu untuk bersuara, tepukan di pundaknya membuat ia mengalihkan atensi.

“Kim Taehyung-ssi, sepertinya aku sudah menemukan di mana Namjoon dan Hayoon berada. Tapi ….”

“DI MANA MEREKA?!”

“Namjoon berada di tempat kejadian dimana mayat Jimin ditemukan sedangkan Hayoon … kami baru mendapat kabar jika ia terlibat dalam kecelakaan tak jauh dari sana.”

“KECELAKAAN?!” Hoseok mengumpat. Matanya memerah, tangannya mencengkeram kuat. “DI MANA HAYOON? AKU INGIN MELIHATNYA!”

“Tapi, ada kabar buruk lain yang harus kalian ketahui. Namjoon … ditemukan tak bernyawa dengan keadaan seperti korban sebelumnya.”

Belum sempat keterkejutannya mereda, ketiga pemuda itu malah mendapatkan kabar yang membuat mereka semakin syok. Seokjin masih terdiam di tempat, di sebelahnya Taehyung masih mencoba menenangkan, sedang Hoseok yang terlihat tengah memendam amarah kini berlari meninggalkan yang lainnya.

“HEI JUNG HOSEOK, MAU KE MANA KAU?!” Taehyung meneriaki, namun langkah itu tak kunjung terhenti. “KAU TIDAK BOLEH KE MANA-MANA SENDIRIAN! NYAWAMU DALAM BAHAYA, BODOH!”

Kali ini Hoseok menghentikan langkahnya namun memilih untuk berujar tanpa menatap sang kawan. “Masa bodoh dengan nyawaku, aku … aku tak bisa biarkan Jungkook menggila dan menghabisi nyawa kita semua!”

“HEI!”

***

Jungkook frustasi. Ia tak tahu apakah yang dilakukannya kini adalah hal yang benar. Melarikan diri memang terdengar seperti seorang pengecut, tapi tak ada jalan lain yang bisa dipilih olehnya. Ia merasa terancam. Apa yang telah diperbuat olehnya memaksa ia untuk menjadi seorang pengecut. Jika saja saat itu ia bisa mengendalikan diri, jika saja ia bisa menceritakan segalanya kepada yang lain, jika saja ia—rasanya, terlalu banyak kata ‘jika’ yang ingin ia jadikan alasan. Tapi percuma. Jungkook tahu itu. Takkan ada yang memercayainya. Tak satu pun, termasuk sahabat-sahabatnya. Mereka sudah terlanjur memupuk benci padanya, dan Jungkook … mau tak mau harus menerima kenyataan bahwa dirinya kini menjadi seorang buronan.

***

Hoseok tiba di tempat kejadian dimana tubuh Hayoon tergeletak tak bernyawa di jalanan. Wajahnya hancur—tidak, seluruh tubuhnya hancur. Gadis itu terlihat benar-benar mengerikan dan Hoseok serasa tak mampu untuk sekadar mendekat apalagi menyentuhnya. Hayoon … benar-benar tak terlihat seperti gadis itu.

Tubuh Hoseok tiba-tiba kehilangan kekuatannya. Jatuh berlutut di jalanan pemuda itu lantas menangis tanpa bisa menahan airmatanya lagi. Ia sesegukan. Terkadang meraung memanggil-manggil nama sang gadis yang ia tahu takkan pernah menjawabnya lagi sampai kapan pun. Sementara Hoseok masih menangisi sang karib, beberapa orang dari pihak kepolisian sudah tiba di tempat; mengamankan tempat kejadian dari beberapa kerumunan orang yang hendak melihat secara langsung.

Mobil ambulans tiba bersamaan dengan Seokjin beserta Taehyung yang menumpang mobil milik Detektif Kang. Sama seperti Hoseok, keduanya pun langsung tak mampu menahan tangisan ketika mendapati tubuh hancur tersebut. Tak ada yang terlihat baik-baik saja, semuanya seperti merasakan akhir dari dunia mereka. Keadaan semakin kacau ketika tubuh tak bernyawa itu hendak dipindahkan ke dalam ambulans. Taehyung meraung-raung, Seokjin menangis hingga sesegukan. Di tengah kekacauan itu tak ada yang tahu jika seseorang telah menghilang. Hoseok … entah sejak kapan pemuda itu enyah dari tempatnya meratapi nasib tadi.

***

Seokjin masih tak mampu mengembalikan pikirannya dalam keadaan normal. Ia bersama Taehyung kini berada di dalam ambulans, ikut serta membawa jasad karib mereka menuju rumah sakit guna melakukan autopsi.

Tak butuh waktu lama sampai mereka tiba di rumah sakit terdekat, lantas teringat perkataan detektif perihal Namjoon—karib mereka lainnya. Seokjin lagi-lagi menitikkan airmata dan Taehyung yang baru saja turun dari ambulans mempercepat langkahnya demi mengikuti orang-orang yang membawa tubuh Hayoon menuju suatu tempat, meninggalkan Seokjin yang masih meratap di dalam mobil ambulans.

Ketiksa Seokjin benar-benar sendirian, Detektif Kang yang kala itu turut serta lekas mendekat. Memberikan beberapa tepukan di punggung sebagai penenang, meski ia tahu yang dilakukan kini tak berarti apa pun. Kehilangan nyawa beberapa kawan-kawannya bukanlah sesuatu yang bisa diterima begitu saja, terlebih mereka mati dengan cara mengenaskan dan bahkan dalam rentang waktu yang berdekatan. Parahnya lagi, belum ada satu bukti kuat yang bisa mengantarkan mereka menuju pelaku utama di balik kegilaan ini. Kecuali beberapa asumsi tentang Jungkook yang masih belum diketahui keberadaannya kini.

“Kau baik-baik saja?” Detektif Kang membuka suara, mencoba berbasa-basi meski rasanya pertanyaan barusan benar-benar tak perlu untuk ditanyakan. Hei, siapa yang akan merasa baik-baik saja setelah semua kejadian tak wajar ini terjadi?

Seokjin tak menjawab, hanya sesegukan yang terdengar. Beberapa menit, keduanya sama-sama terdiam, membiarkan sang bayu meniup-niup anak rambut mereka; seakan memberikan belaian yang disertai dengan bisikan ‘semuanya akan baik-baik saja’, meski nyatanya tidak ada yang baik hingga detik ini.

Tatapan Seokjin semakin terlihat menerawang. Tak ada yang bisa dibaca dari sana, hanya rasa sakit dan kesedihan mendalam yang mendominasi, membuat pemuda itu terlihat semakin menyedihkan.

“Kau tak ingin melihat sahabatmu?” Detektif Kang kembali membuka suara, mencoba menarik perhatian sang pemuda agar mau turun dari ambulans dan ikut bersamanya.

“Sahabatku yang mana?” Rentetan kata yang meluncur dari bibir Seokjin agaknya sempat membuat Detektif Kang terdiam dan menutup bibirnya rapat-rapat. Suaranya yang datar bahkan menambah kesan bahwa pemuda di depannya kini benar-benar telah meninggalkan akal sehatnya entah di mana. “Hayoon? Atau Namjoon yang katamu sudah tak bernyawa juga?” Seokjin kini terkekeh kecil, membuat sang detektif memandangnya penuh iba.

“Maafkan aku. Aku sudah mengusahakannya meskipun—“

“Apa jika aku memaafkanmu, maka semuanya akan kembali seperti semula? Apa aku bisa mendengar tawa mereka yang telah tiada kini?”

Desahan napas berat menguar dari bibir pria paruh baya tersebut. Ia tak tahu harus menanggapi pertanyaan si pemuda dengan kalimat seperti apa, jadi baginya, diam adalah apa yang hanya bisa ia lakukan kini.

“Apa salahku?”

“Ya?”

“Kenapa ini semua harus terjadi pada kami? Dosa apa yang telah kuperbuat sehingga harus menerima hukuman yang tak wajar begini? Apa karena kami tak bisa menjaga Jiyoon? Atau karena—“

“Kau dan yang lain tak memiliki kesalahan apapun, Seokjin-ssi. Tidak karena kalian lalai menjaga sesama atau tidak pula untuk alasan yang lain. Yang bersalah hanyalah satu orang. Dia, yang membuat kekacauan ini. Dia, yang harus dipertanyakan kejiwaannya lantaran bisa merencanakan pembuhunan mengerikan dengan benar-benar sempurna. Untuk saat ini, kami masih mencari di mana keberadaan Jungkook karena seluruh kecurigaan kini tertuju padanya. Aku belum bisa mengambil kesimpulan, tapi sepertinya jika kita berhasil menemukan Jungkook, maka segalanya akan terselesaikan. Terutama tuduhan padanya. Apa benar ia adalah dalang dibalik pembunuhan kawan-kawannya sendiri.”

“Jika benar Jungkook pelakunya, maka … apa yang harus kulakukan?” Seokjin kini mengalihkan pandangan pada sang detektif, menatapnya sendu seakan ia benar-benar butuh seseorang yang bisa memberikannya tempat perlindungan yang aman. “Haruskah aku memaafkannya? Ah, atau haruskah aku harus mendengar penjelasannya terlebih dahulu? Atau—“

“Seokjin-ssi, untuk saat ini memang tak banyak yang bisa aku dan yang lain janjikan padamu, dan mengenai Jungkook, kita juga belum bisa menetapkan pemuda itu sebagai pelaku. Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.”

“Tapi hanya Jungkook satu-satunya yang patut untuk dicurigai.”

“Namun tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lain bukan? Bisa saja si tersangka sengaja membuat Jungkook terlihat sebagai si pembunuh. Kalau saja—“

“Siapa? Maksudmu … siapa yang kau sebut sengaja membuat Jungkook menjadi pembunuhnya?”

“Aku hanya berasumsi, Kim Seokjin. Untuk sekarang, bagaimana jika kau turun dari ambulans dan bergabung bersama Taehyung di dalam sana?”

“Aku tak yakin.”

“Kenapa?”

“Melihat Hayoon yang seperti itu rasanya … aku tak sanggup. Juga Namjoon.”

“Astaga, aku hampir melupakannya.” Si detektif tampak mengernyitkan dahi lantas mengambil ponsel dari kantung celananya. “Seharusnya aku berada di tempat kejadian untuk mencari bukti terbaru, bukan berada di sini. Kau ingin ikut bersamaku?”

Seokjin bergeming. Pandangannya kembali ia turunkan. “Aku tak tahu harus bagaimana. Menemui Hayoon saja aku tak sanggup apalagi melihat Namjoon yang …,” Seokjin menarik napas dalam-dalam lantas menghembuskannya dengan kasar, “kurasa aku sudah tahu seperti apa wujud Namjoon sekarang dan nantinya aku juga akan menjadi salah satu dari mereka. Mungkin mempersiapkan diri adalah apa yang harus kulakukan, bukan, Detektif Kang?”

“Bicara apa kau?!” Sang detektif memberikan penekanan pada perkataannya tersebut, seakan ingin menegaskan bahwa apa yang dipikirkan seorang Seokjin kali ini tidaklah benar. “Dengarkan aku Kim Seokjin-ssi, untuk sekarang masih terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita temui. Berputus asa bukanlah sesuatu yang menguntungkan, kau hanya memberikan beban pada dirimu sendiri. Aku akan mengusahakan segalanya dan kuharap, setelah ini tak ada lagi kematian yang terjadi.”

Senyuman tipis Seokjin berikan pada si detektif, mencoba memberikan sugesti kepada diri sendiri bahwa pria paruh baya di hadapannya kini benar-benar bisa diandalkan. Meski terlalu banyak hal yang terlewatkan sehingga sudah banyak nyawa yang melayang sia-sia.

“Omong-omong, di mana satu temanmu lagi. Hm … Hoseok?”

Seokjin tersentak. Ia baru ingat bahwa sahabatnya itu belum tampak sejak ia menjejakkan kaki di tempat kecelakaan Hayoon. Terlihat panik, terburu-buru Seokjin mencari ponsel di kantung celananya lantas menghubungi nomor milik Hoseok.

Dengan cemas, keduanya menunggu hingga panggilan tersambung. Namun, baru beberapa detik berlalu, suara operator yang menjawab membuat mata Seokjin membulat sempurna. Dalam keadaan yang sedikit mampu memberikannya ketenangan, pemuda itu kembali merasakan kegelisahaan. Saling beradu pandang dengan sang detektif, sekon berikutnya kedua orang itu lekas berlari memasuki rumah sakit, berharap dengan sangat bahwa Hoseok berada di sisi Taehyung saat ini.

***

“HOSEOK! DI MANA JUNG HOSEOK?!”

Seokjin membuat keributan dengan meneriaki nama sang sahabat berkali-kali. Seluruh pandangan kini tertuju padanya, seakan memandangi seseorang yang telah kehilangan akal sehat lantaran membuat keributan di tempat yang tak seharusnya. Seokjin tak peduli. Karena yang ia pedulikan saat ini hanyalah keadaan sahabatnya.

“Seokjin Hyung!”

Teriakan itu membuat Seokjin berbalik. Mendapati Taehyung yang berdiri di sudut ruangan dengan masih memegangi beberapa barang milik Hayoon, ia lekas mendekat.

“Kau melihat Hoseok? Di mana dia?” Seokjin bertanya dengan panik, sedangkan Taehyung yang masih dalam keadaan syok masih tak bisa mencerna keadaan dengan baik. “Hei, kau liat Hoseok, Taehyung-a?”

Pemuda itu memberikan gelengan, membuat Seokjin mengumpat kuat-kuat.

“Bukannya Hoseok pergi duluan saat mendapat kabar Hayoon dan … astaga, aku baru sadar sejak kita tiba di sana Hoseok tak tampak sama sekali.”

“Kalian berdua tenanglah, aku akan menghubungi rekanku dan—“

“BAGAIMANA BISA KAMI SABAR DI SAAT SEPERTI INI, PAK TUA?!”

Teriakan Seokjin kali ini membuatnya kembali menjadi pusat perhatian. Pemuda itu ambruk, disusul Taehyung yang mencoba menjadi penopang meski nyatanya ia pun membutuhkan seseorang untuk bersandar kini.

Ketika keduanya semakin larut dalam emosi, Detektif Kang yang masih berusaha mencari bantuan tiba-tiba menerima sebuah panggilan. Tepat ketika ponsel itu ia letakkan di telinga, baik Seokjin maupun Taehyung yang sama-sama terlihat terluka mulai menahan napas tanpa diperintah. Seakan mempersiapkan diri untuk mendengarkan kabar buruk yang sudah mereka ketahui sejatinya.

“Jung Hoseok … ditemukan tak bernyawa dikediaman Jeon Jungkook.”

Bagai diambar petir di siang bolong, kedua pemuda itu sama-sama merasa tubuhnya menguap bersama udara kini. Bagaimana bisa Hoseok berada di kediaman Jungkook dan sudah tak bernyawa lagi? Jadi … kecurigaan mereka tentang Jungkook selama ini benar-benar terbukti?

“Sebelumnya aku sudah mengutus beberapa rekanku untuk mencari Jungkook di sekitar kediamannya. Namun yang ditemukan malah jasad Hoseok. Tetapi kali ini tak ada balutan garam atau tato bertuliskan Jiyoon di punggung, hanya ada beberapa tusukan di titik-titik rawan dan diagnosis awal, Jung Hoseok meninggal karena kehilangan banyak darah.”

“Jungkook! Bagaimana dengan bajingan itu? Kalian menemukannya? Oh, tentu saja! Kalian harus menemukannya dan menghukumnya! Sialan, selama ini aku benar-benar memercayainya bahkan menentang Hoseok tentang asumsinya bahwa Jungkooklah pembunuh berdarah dingin yang selama ini dicari-cari, tapi sekarang …. JEON JUNGKOOK SIALAN!”

Taehyung yang tak lagi mampu menenangkan diri mulai merasakan gejolak emosi yang memenuhi diri. Tanpa bisa menahannya lagi, pemuda itu lekas berdiri dengan sisa-sisa kekuatan yang dimiliki lantas mengayunkan tungkainya; berlari secepat yang ia mampu untuk lekas menemui seseorang yang berhasil membuatnya merasa amat marah.

“KIM TAEHYUNG!”

Pekikan dari sang detektif tak ia abaikan. Taehyung benar-benar sudah tak bisa memercayai siapa pun saat ini. Meski nyawanya yang harus menjadi taruhan, ia rela; asal Jungkook bisa ia habisi dengan tangannya sendiri.

“KAU TIDAK BISA PERGI DALAM KEADAAN EMOSI SEPERTI ITU, SIALAN!”

Detektif Kang kewalahan. Di satu sisi ia tak mungkin meninggalkan Seokjin yang terlihat menyedihkan, di sisi lain ia juga tak bisa membiarkan Taehyung pergi sendirian karena ia tahu nyawa Taehyung adalah incaran selanjutnya. Mencoba menghubungi seseorang melalui ponselnya, pria paruh baya itu terlihat amat frustasi. Menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan kini, pada akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Taehyung dan memilih menetap bersama Seokjin.

“Briptu Lee, aku membutuhkan bantuanmu.” Detektif Kang memulai konversasi ketika telepon telah tersambung. “Ada beberapa hal yang harus kukerjakan kini, tapi seseorang yang seharusnya menjadi tanggungjawabku pergi dan aku tak bisa menahannya. Aku akan mengirimkan sebuah alamat padamu dan pastikan bahwa pemuda itu selamat. Omong-omong, ini semua masih ada sangkut pautnya dengan kasus yang menjadi tanggunganku, kuharap kau tak lengah dan membiarkan satu nyawa menghilang lagi. Karena … menurut analisa, pemuda ini adalah korban selanjutnya.”

“…”

“Namanya Kim Taehyung, aku akan menyertakan fotonya juga. Kurasa ia sedang menuju tempat kejadian yang baru.”

“…”

“Ah, tentu saja. Sudah ada beberapa rekanku yang berjaga di sana, tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Karena sudah beberapa orang yang lolos dari pantauan dan pada akhirnya menjadi korban. Dan … kurasa aku sudah tahu siapa pelaku dibalik kejadian mengerikan ini.”

***

Diam-diam, ada sepasang mata yang mengawasi dari kejauhan. Mengamati keadaan yang kian ramai kini. Ia mendesah, sesekali menggeram saking tidak sukanya dengan situasi saat ini. Satu-satunya yang harus ia hindari adalah orang-orang berseragam di sana. Bukannya apa-apa, hanya saja keadaan tengah tak berpihak padanya kini. Ia bahkan sudah mendengar kabar bahwa seseorang kembali merenggang nyawa, dan alasan dari keramaian ini tentu saja berhubungan dengan hal tersebut.

Usai memastikan bahwa segalanya telah aman, ia lekas keluar dari persembunyian. Melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut demi mencari perlindungan yang lain. Well, rumah bukanlah tempat teraman yang ia miliki lagi.

***

Kim Taehyung tiba di kediaman Jungkook. Pemuda itu langsung disambut dengan pemandangan mengerikan; seonggok daging tak bernyawa yang teronggok di ruang tamu rumah tersebut. Keadaannya benar-benar mengenaskan. Taehyung sempat merasa mual ketika embusan angin membawa serta bau anyir yang menjadi pengharum ruangan kini. Jika ia tak ingat bahwa si korban adalah karibnya sendiri, mungkin ia sudah memutar tujuan dan enyah dari sana.

Beberapa menit setelah Taehyung tiba, sebuah mobil kembali memasuki perkarangan. Briptu Lee keluar dengan terburu-buru dari sana lantas mendekati seseorang yang ia kenali sebagai Kim Taehyung yang kini menjadi tanggungjawabnya.

“Kau baik-baik saja?”

“Kurasa aku sudah mendengar pertanyaan seperti itu beribu kali sejak pembunuhan ini berputar-putar dalam nasibku.” Nada bicara Taehyung memang terdengar tenang, namun pria paruh baya di hadapannya benar-benar mengetahui bahwa ada emosi yang menyelubungi pemuda itu.

Satu tepukan mendarat di pundak Taehyung lantas si pria paruh baya berkata, “Aku hanya ingin berbasa-basi, tenang saja. Mulai sekarang kau tak boleh bertindak sesuka hati dan—“

“Aku hanya menginginkan Jungkook dan lekas menyudahi kegilaan ini.”

“Seseorang yang kau sebut Jungkook itu sedang dalam pencarian kini. Jangan takut. Percayakan semuanya kepada kami.”

“Aku tak takut, bahkan jika harus berhadapan langsung dengan keparat itu.”

“Meski harus kehilangan nyawa?”

“Lebih baik menyusul sahabat-sahabatku daripada mendengarkan pemuda sialan itu berbual! Sungguh, jika saja aku bisa menemukannya sekarang, maka aku akan langsung menghabisi nyawanya!”

“Lalu kau akan menghabiskan masa mudamu di balik jeruji besi, Bung! Hei, jika Jungkook mati setelah ini, kau akan menjadi tersangka utama karena perkataanmu barusan. Mengerti?”

“Silakan. Kukira aku sudah tak memiliki rasa takut lagi. Aku tak peduli. Membalaskan dendam yang lain adalah proiritasku.”

“Kau benar-benar keras kepala, ya?”

Taehyung terdiam. Tatapannya memang mengintimidasi meski yang diberi tatapan kini malah tersenyum kearahnya.

“Aku akan mentraktirmu.”

“Ya?”

“Setidaknya sebelum menghabisi satu nyawa kau harus mengisi tenaga dulu, bukan? Ck, lihatlah, keadaanmu saja sangat memprihatinkan, bagaimana bisa kau menghadapi pembunuh sadis sepertinya? Bisa kutebak, dalam hitungan detik saja kau akan mudah dilumpuhkan, Kim Taehyung.”

“Aku tak memiliki selera makan dan—“

“Mengisi tenaga tak membutuhkan selera, tahu! Tunggu di sini, aku akan segera kembali.” Sekon berikutnya, pria tersebut lekas berlari. Namun baru beberapa meter jaraknya, ia lekas berbalik dan berkata dengan sedikit berteriak, “INGAT, TUNGGU AKU DAN JANGAN KE MANA-MANA!”

Taehyung mendesis. Tepat setelah punggung pria itu menghilang dari pandangan, ia lekas mengayunkan tungkainya. Mencoba mencari jejak dari sang pembunuh dan menemukan pemuda itu sebelum yang lainnya, agar ia bisa merealisasikan niat yang telah ia mantapkan. Masa bodoh dengan perkataan pria paruh baya itu, yang pasti Taehyung tak bisa hanya memikirkan diri sendiri dan membiarkan yang lain bergerumul dalam kegelapan.

“Sialan, dikiranya aku ini anak kecil yang sangat penurut, huh?” Dan Taehyung kini memulai pencariannya.

***

Gelap. Pengap. Sesak. Adalah tiga hal yang dirasakan Kim Taehyung kini. Kepalanya sakit, amat sakit; terasa berputar-putar dan sangat menyiksa.

Samar-samar, ada beberapa suara yang berhasil menyambangi rungunya. Random; ia tak benar-benar yakin suara apa yang terdengar kini. Kelopak matanya masih bergerak-gerak, ia hendak membukanya namun terasa sangat berat. Ada dengusan yang terdengar, membuat Taehyung ingin cepat-cepat mengumpulkan kesadaran sebelum segalanya menjadi sia-sia.

“Jeon Jungkook?”

Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, nama itu menguar lirih. Taehyung tak tahu kenapa tubuhnya terasa amat lemah, tetapi yang pasti ada sesuatu yang mengikatnya dengan kuat sehingga ia tak mampu bergerak leluasa.

“KEPARAT!” Taehyung mengumpat. Matanya masih tertutup rapat—tidak, ia sudah mencoba membukanya namun sebuah kain gelap menutupi indera penglihatannya tersebut.

Dalam kegelapan yang sempat membuatnya kehilangan akal sehat, pemuda itu meronta-ronta. Teriakan menguar seperti lolongan yang tak ada habisnya. Suaranya serak, tenggorokannya sakit, namun Taehyung mengabaikan. Entah sudah berapa banyak umpatan yang menguar dari bibirnya, entar sudah seberapa keras ia berteriak agar seseorang yang ia ketahui berada di sekitarnya mulai membuka suara. Di dalam keputusasaaan, Taehyung meronta semakin kuat. Napasnya tersengal-sengal, ia hampir melewati batas.

“AKU TAHU KAU BERADA DI SEKITARKU, KEPARAT!”

Masih tak ada jawaban. Taehyung semakin menggila. Tepat di saat pemuda itu benar-benar kehilangan kekuatannya—entah lantaran terlalu lama meronta atau ada sesuatu yang diberikan kepadanya sebelumnya—sebuah tangan menyentuh pipinya, membuat pemuda itu tersentak; seperti ada sengatan listrik yang tiba-tiba menyambar diri.

Tetapi bukan hal itu yang paling penting. Sesuatu yang membuat Taehyung terkejut bukanlah sentuhan yang tiba-tiba, melainkan ada hal lain yang membuatnya benar-benar syok. Taehyung mencoba menenangkan diri, ia masih tak ingin memercayai apa yang ia rasakan kini. Sebelum pemuda itu sempat mencapai titik sadarnya, seseorang yang menyentuh pipinya itu mendesah, membuat Taehyung ketakutan. Sangat ketakutan.

Taehyung tak lagi mengumpati kini, pemuda itu malah menangis bahkan hampir kehabisan napas lantaran tak mampu menahan diri. Tepat sebelum sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya menguar, suara lembut itu terdengar. Memanggil namanya dengan lirih lantas satu tusukan di dada menjadi sambutan yang luar biasa dahsyatnya.

Taehyung sekarat. Di sisa-sisa kehidupannya pemuda itu mencoba mengumpulkan segala kekuatan yang ia miliki.

Tusukan kedua kembali bersarang di tubuhnya, kali ini sasarannya adalah perut kanan sang pemuda. Taehyung mengerang kuat, bahkan teriakannya terdengar sangat putus asa. Hanya butuh beberapa detik hingga Taehyung merasakan segalanya mulai memudar. Ingatan tentang seluruh yang pernah ia alami di dalam kehidupan pun berputar layaknya layar besar yang memainkan kisah lama. Taehyung mengingat segalanya—bahkan sesuatu yang harusnya tak ia ingat, yaitu kenyataan tentang seseorang yang—mencoba—membunuhnya kini.

“Satu tusukan lagi dan kau akan kukirim ke surga, Taehyung-a.”

Suara itu kembali terdengar, bahkan lebih merdu dari sebelumnya. Ada kikikan yang menyambangi rungu dan dengan sisa kekuatan yang berhasil dikumpulkan, sebelum napas terakhir terhembuskan, Taehyung berujar dengan amat putus asa.

“Jadi … ini semua adalah ulahmu …. Ahn Hayoon.”

Oops, aku ketahuan.”

Pisau yang tadinya berasarang di perut kanan sang pemuda dicabut dengan ganasnya. Ia menyeringai. Lantas tusukan bertubi-tubi yang dihujamkan ke seluruh tubuh Kim Taehyung menjadi menutup dari aksinya malam ini.

“Selamat tidur, Kim Taehyung.”

.

.

-TBC.

Well, jadi … hm, pelakuknya sudah ketahuan, ya? HEHE HAYO SIAPA YANG TEBAKANNYA BENER SIAPA YANG MELESET /plak/ dan minggu depan akan menjadi chapter terakhir dari series ini. Yeay! Oh, masih pada bingung, ya? Tenang saja, di ending bakal dijelasin semuanya. S E M U A N Y A. ehe.

(PS: Setelah series ini tamat, aku bakal ngeluarin series baru lagi ehe. Fantasy, kingdom!AU; yang prolognya bakal aku keluarin minggu depan.)

See u next week, guys!

-mbaay.

Advertisements

19 thoughts on “[Chapter 5] Bring Back the Shadow

  1. Hayoon??? OMMO,,
    I DONT BELIEVED THAT 0_0

    WAE??
    apa itu seperti balas dendam??
    aishh ,, trus nasib jungkook gimana?? apa yang dia ketahui.. kenapa harus jadi pengecut??

    ahh naega molla -_-

    Like

  2. Well tebakan ku ada benarnya dan ada melesetnya juga wkwkwkwkw

    Kenapa aku ga langsung nuduh jungkook karena meskipun curiga krna kalo jungkook sudah ketahuan pembunuhnya diawal cerita ini ga seru lagi dong wkwkwk

    Hmmm hayoon berusaha membuat alibi supaya dia engga dituduh sebagai pembunuh, dia bunuh hoseok mngkin kesempatan waktu hoseok berlari ke arah dia hmmm

    Kereeeen hhahahaha

    Alasan yg lain sih krna kebiasaan hayoon menyapa “Oi…” wkwk

    Like

  3. Tebakan bener haha 😂
    Walopun sempet ngira itu dedek kookie, huhu~ dan sekarang jungkook lah yg jafi tumbalnya..
    Dasar licik si hayoon, jadi dia sengaja buat kecelakaan agar si jungkook yg jadi tersangka..
    Psikoo abis gue suka banget ka 😊
    Next!! Jangan lama2 fighting!! 😄

    Like

  4. Hwaaa>.< ternyata bener si hayoon. Ketahuannya sih di chapter 4. Huh gegara hayoon jungkook di curigai.
    Hwaiting thor lanjutkan chapter terakhirnya, akan nae tunggu-tunggu

    Like

  5. Motif pembunuhan Hayoon gara gara dia gak setuju adiknya suka sama salah satu memberi BTS/? Pernah diceritain kan sebelumnya dia bakal menentang habis habisan .-. Maapkeun diriku Jin oppa, diriku sudah menuduhmu😂😂😂😂😂

    Like

  6. Wihhh aku kira jungkook beneran, ternyata hayoo.
    Aku udah curiga sama hayoon juga sih pas dia gak pengen ditemenin itu, trus ngasi namjoon minum langsung hilang berdua, maafkan aku menuduhmu jungkook oppa

    Like

  7. Kyaa T^T ternyata tebakanku salah, jin oppa maapin gue oppa, gue kira si jin dalang di balik semua pembunuhan itu, eh ternyata si hayoon. Gak nyangka banget dah, udah di jagain juga, eh malah dia dalangnya….. kookie kemana? Kookie baik-baik saja kan? Jin oppa jangan sampai mati juga T^T author buat mereka bedua hidup….

    Author fighting next caphter udah ending ya? T^T kyaa sedihnya….
    Author fighting bakal di tungguin kok 🙆🙆 btw author pen buat ff baru? Genrenya fantasy? Wihh tertarik nih…. ada genre thrillernya/mystery gak? Soalnya aku suka banget genre gitu hehehe *buset dah komen gue panjang banget #mian

    Like

  8. Kaaakkkkkkk dari awal aku nebak , “gimana kalau ternayata pembunuhnya itu hayoon, anggap aja balas dendam gara-gara adiknya mati? ”
    Tapi jungkook, apa yg seharusnya dia katakan sebenarnya?
    Bikin ga sabaarrrrr
    semangat 👍👍👍

    Like

  9. Udah aku duga 😶 si Hayoon emg mencurigakan. Apalagi pas baca bagian :
    “Gadis itu terlihat benar-benar mengerikan dan Hoseok serasa tak mampu untuk sekadar mendekat apalagi menyentuhnya. Hayoon … benar-benar tak terlihat seperti gadis itu.”
    Hayoon tak trlihat sprti Hayoon, bs jd itu adlh jasad lain. Krn badan nya hancur, jd gak bisa dikenali.

    Like

  10. Yeaayy tebakan ku benar haha
    Tapi aku masih belum tau apa alasan hayoon ngebunuh mreka, apakah ada dendam? Atau apa? Dan aku masih penasaran sama rahasianya jihyoon yg diketahui jungkook
    Ditunggu chapt terakhirnya ^^ nanti dijelaskan sejelas-jelasnya ya? Haha maksa

    Like

  11. Bener kan Hayoon..
    udah curiga dari awal pas jiyoon meninggal..
    Tapi kenapa hoseok oppa meninggal juga.. jadi syedih 😢😢
    Ditunggu lanjutannya min 😄😄👍👍👍
    Daebak 👍👍👍

    Like

  12. Yassss, tebakanku benar!!! Aku juga nebak Hayoon, eh ternyata bener…
    Gila bener si Hayoon… Uedaaan psikopatnya.
    Ahhh syedih taetae matii huhu

    Semoga di lanjutan ceritanya, ga ada yang mati. Amin

    Like

  13. YOSH!!! YEOKSI AHN HAYOON!!!

    itu anak sejak awal emang udah mencurigakan. tinggal seokjin sama junkuk yuhuuu jangan dimetongin ya ay, pls seokjin baruuu aja nambah umur ㅋㅋㅋ /apaandah

    Oke, ay. Sekarang aku kepo gimana caranya pembunuh berdarah dingin itu ketahuan, bikos keliatannya cara dy jebak korban tuh mulus mulus ajaaa gitu. Dan aku zbl.

    Anw, semangaaat yaa buat project barunyaaa 😘😘😘

    Liked by 1 person

  14. Maaf baru komen di sini, kak^^ (karena aku juga baru ngebut kemarin bacanya)
    HAYOON?! Kirain Jungkook beneran. Tapi waktu baca bagian dia di atas, emang udah curiga bukan dia, tapi siapa?
    Aish, bisa-bisanya…. Kan, kesian Jungkook… T_T

    fighting, ya, kak buat lanjutannya, sama buat series barunya…

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s