[Vignette] A Great Gift

tumblr_o52oo4tj6e1tiopc4o7_400_1__by_cutiediepiend-d9xt1zt

A Great Gift

Kim Seokjin x Kim Sojung and their family ׀ Family ׀ G ׀ Ficlet

“Go back to your place and I’ll take care the war.”

[Happy birthday Kim Seokjin! ♥]

©storyline by nokaav ©gambar on picture

Sojung lapar dan sedikit heran lantaran asisten rumah tangga yang nyaris dua puluh satu tahun mengurusnya belum mengetuk pintu kamar untuk mengantar makan malam. Tidak biasanya Bibi Oh terlambat dan hal ini cukup mengusik ketenangan cacing-cacing dalam perut Sojung.

Keluarga Sojung tidak mengenal makan malam bersama kecuali ada perayaan khusus, dan seingat perempuan itu tidak ada perayaan khusus pada tanggal 4 Desember kecuali ulang tahun Kim Seokjin. Dalam keluarganya yang ‘istimewa’, ulang tahun jelas bukan merupakan perayaan khusus. Jadi, Sojung memutuskan untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan menelepon Seokjin dengan sedikit malas.

Suara kakak laki-laki yang tiga tahun lebih tua dari Sojung terdengar setelah bunyi ‘bip’ ketiga, diikuti oleh keramaian kecil yang menjadi ‘latar belakang suasana’ telepon. “Ada apa, Jung?

“Aku sudah menunggu makan malam selama empat puluh menit. Apakah bibi Oh juga tidak mengantar makan malammu, Kak?”

“Astaga, aku lupa memberitahumu.” Suara bising lagi-lagi terdengar sementara Seokjin memberi jeda pada kalimatnya. “Turunlah ke ruang makan. Aku memasak untuk kalian semua sebagai perayaan ulang tahunku.

“Kau sedang memasak?” Sojung bangkit dari tempat tidur menuju jendela kamarnya yang menghadap ke bagian dalam rumah. Jendela kaca itu tidak memperlihatkan dapur rumahnya yang terletak di lantai satu secara langsung, namun Sojung bisa melihat beberapa asisten dapur berjalan mondar-mandir dari arah dapur menuju ruang makan sambil membawa piring-piring besar berisi penuh makanan.

“Iya, maafkan aku. Makan malammu jadi tertunda selama hampir  satu jam karena aku bersikeras untuk memasak sendiri,” jawab Seokjin cepat. “Sekarang, turunlah. Ada banyak sekali seafood disini.”

“Benarkah?”

“Aku memang jarang mengobrol denganmu, tapi aku tidak pernah berbohong ‘kan? Turunlah. Sebentar lagi semuanya siap. Aku hanya perlu menyelesaikan sup rumput laut. Kututup teleponnya, kasihan paman Jeon yang memeganginya untukku. Sampai bertemu.”

Sojung menurunkan ponselnya dan menatap layarnya sebentar. Kim Seokjin, kakaknya, sedang memasak untuk seluruh penghuni rumah sebagai perayaan ulang tahunnya? Ada apa dengan laki-laki itu sebenarnya?

Meskipun berstatus sebagai kakak-adik, Sojung tak begitu mengenal Seokjin lantaran mereka hidup dalam lingkungan keluarga yang cukup aneh. Bertemu ayah dan ibu satu bulan sekali saja bisa dianggap keajaiban. Keduanya tumbuh sebagai sosok yang sangat individualis dan memiliki hubungan formal ketimbang kekeluargaan (Sojung memilih menuliskan nama lengkap Seokjin di ponselnya daripada ‘Kakak’, omong-omong).

“Nona, maafkan aku,” ujar bibi Oh yang baru saja datang dan menarik keluar kursi makan Sojung. “Aku lupa memberitahu bahwa tuan muda yang akan memasak untuk makan malam dan meminta Nona untuk turun ke bawah. Maafkan aku telah membuat Nona menunggu.”

Sojung mengangguk sopan sembari mengulas senyum manis. Perempuan itu tak begitu mempermasalahkan bibi Oh yang lupa memberitahunya. Matanya sedang mengamati Kim Seokjin yang mengenakan apron berwarna merah muda dan sibuk berlalu-lalang di depan kompor dengan paman Jeon di sampingnya.

“Bibi,” panggil Sojung pelan. “Apakah dia sudah lama disana?”

“Tuan muda kembali dari Tokyo sekitar pukul tiga sore dan membawa banyak tas penuh bahan makanan. Beliau menyempatkan untuk membersihkan diri sebelum menyiapkan ini semua.”

“Ah, baiklah.” Sojung mengangguk. Kali ini matanya memindai meja makan yang penuh dengan berbagai jenis masakan. Mulai dari kepiting saus tiram, nasi goreng kimchi, ayam bumbu, sampai beberapa jenis masakan yang tidak ia ketahui namanya sudah tersaji disana. “Kim Seokjin gila,” tambahnya pelan.

Belum selesai perempuan itu menghitung jumlah masakan yang sudah dibuat oleh Kim Seokjin, perhatiannya teralih pada perbatasan dengan ruang santai–dimana sepasang suami istri yang adalah kedua orang tuanya berjalan masuk sembari tersenyum; memberi salam pada pekerjanya. Tidak biasanya ayah dan ibu pulang di awal bulan.

“Sojung?”

Perempuan itu bangkit dari kursi dan membungkuk memberi hormat sembari tersenyum. “Senang melihat ayah dan ibu disini.”

“Belum dimulai?”

“Kak Seokjin tengah menyelesaikan sup rumput lautnya kurasa. Ayah dan ibu bisa menunggu bersamaku disini,” jawabnya lembut.

Ayahnya langsung mendudukkan diri kala asisten rumah tangga menarik keluar kursi untuknya. Namun, Sojung sedikit keheranan saat melihat ibunya memilih untuk berjalan ke dapur dan menghampiri kakak laki-lakinya.

“Go back to your place and I’ll take care the war,” kata ibunya sebelum mengambil alih tempat Seokjin dan membuat beberapa asisten dapur tak dapat menyembunyikan keheranan mereka.

Mata Sojung semakin melebar saat melihat Kim Seokjin melepas apron dan memasangkannya kepada sang ibu. Laki-laki itu memberikan bonus back hug sebelum berjalan riang menuju meja makan dan menyapa ayahnya.

“Selamat malam,” sapa Seokjin sembari membungkuk memberi hormat. Ia mengangkat tangannya, menolak bantuan asisten rumah tangga yang hendak menarik keluar kursinya dan menariknya sendiri. “Aku senang sekali kita bisa makan bersama di hari ulang tahunku.”

“Melihat ibu memasak adalah pertama kalinya untukku,” ujar Sojung out of topic. Ia masih belum mempercayai indera penglihatannya–belum mempercayai bahwa sepanjang hidupnya akan melihat sang ibu berjalan menuju dapur, memegang spatula, dan memasak sup rumput laut.

“Ibumu dulunya adalah koki yang handal,” jawab ayahnya santai. “Memangnya kaupikir turun darimana bakat memasak yang kau dan Seokjin miliki?”

“Aku belajar dari internet, Ayah.”

“Belajar saja tidak akan membuatmu sepandai itu.”

“Omong-omong, darimana Ayah tahu aku pandai memasak?” Sojung menatap sang ayah curiga. Seingatnya, laki-laki itu jarang sekali berada di rumah. Selama dua puluh satu tahun perempuan itu hidup, mungkin pertemuan dengan sang ayah bisa dihitung dengan jari.

“Ayolah, Kim Sojung. Ucapan seperti itu belakangan sangat menyakiti hatiku.”

“Aku hanya penasaran, maafkan aku.”

Seokjin tersenyum. Laki-laki itu menatap ayahnya yang baru saja menggoda adik perempuannya. Oh, Seokjin tahu kedua orang tuanya tidak separah itu sampai-sampai lepas tangan pada kehidupannya dan Sojung. Diam-diam, ayah dan ibunya tahu apa saja yang mereka lakukan selama ini. Daftar panjang mantan kekasih Seokjin saja ibunya tahu!

“Surat yang kautulis untukku dan ibumu sampai di Hongkong kemarin tanggal dua,” ujar ayahnya tiba-tiba. Sojung yang tidak tahu apa-apa (dan terkejut mengetahui fakta bahwa kakaknya menulis surat untuk ayah dan ibu) langsung menajamkan telinganya. “Aku minta maaf karena terlalu fokus dan mementingkan perusahaan lebih dari kalian berdua. Aku bahkan baru memikirkan bahwa menjadikan hari penandatangan surat kontrak kerjasama dengan Blanc & Eclare sebagai perayaan khusus daripada hari ulang tahun kalian berdua adalah hal yang sangat kejam. Aku harus jujur bahwa perusahaan dalam kondisi kritis sejak kakek meninggal. Ibumu dan aku berusaha keras agar kalian tetap hidup sebagaimana seharusnya meski tanpa pengawasan kami secara langsung. Aku minta maaf karena kalian tumbuh seperti ini, tidak dekat satu sama lain, tidak mengenal orang tua kalian dengan baik, dan seribu satu masalah lainnya.”

Kim Seokjin masih mengulas senyum sementara mata Sojung sudah berkaca-kaca.

“Aku hanya ingin bilang bahwa perusahaan sudah kembali normal. Aku tidak akan menghabiskan sembilan puluh persen hidupku di negeri orang dan menerima informasi tentang anak-anakku melalui email. Mulai bulan ini, aku akan menghabiskan waktuku di rumah, bersama istri dan anak-anakku, memperbanyak quality time bersama kalian. Ayo, mulai hari ini, bersikaplah seperti keluarga yang lainnya.”

“Selamat datang di rumah, Ayah,” ujar Sojung pelan. Perempuan itu tak lagi mampu menahan air matanya dan menangis sesenggukan. Selama bertahun-tahun, Sojung memang menyimpan keinginan untuk melakukan hal-hal indah yang seringkali ia lihat teman-temannya lakukan bersama ayah, ibu, dan juga kakaknya.

“Kim Seokjin, sup rumput laut pertamamu sudah jadi dan–oh, ada apa ini? Sojung menangis?” Ibu baru saja masuk ruang makan membawa satu panci sedang sup rumput laut. Masih menggunakan apron dan sarung tangan tahan panas, perempuan itu duduk di sebelah kiri Seokjin. “Apa ayahmu baru saja mengatakan sesuatu?”

“Hmm.” Seokjin mengangguk, mengulurkan tangan untuk melepas apron dari leher ibunya sembari tersenyum. “Katanya, mulai hari ini kita harus bersikap seperti keluarga yang lainnya. Jadi, apa aku boleh meminta beberapa hal?”

“Ya?”

Ibunya, yang kini tengah menghadap ke arah Seokjin, tengah membenahi poni pemuda itu; pertama kalinya dalam ingatan Seokjin. Ayah dan adiknya, menyimak keduanya, menunggu apa kiranya yang menjadi permintaan Kim Seokjin di hari ulang tahunnya yang ke-24.

“Tolong nyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku.”

Sebuah permintaan terakhir yang sukses dikabulkan oleh keluarga kecilnya. Sebuah permintaan sederhana yang menjadi kado terbaik bagi Kim Seokjin tepat sebelum kematian menjemputnya di hari yang sama.

Kim Seokjin menderita kanker usus yang baru diketahuinya beberapa minggu lalu. Surat yang dikirim pemuda itu pada orang tuanya tidak benar-benar berwujud surat. Kim Seokjin mengirimkan hasil pemeriksaan dirinya dan sebuah sticky notes berwarna merah muda berisikan sebuah kalimat, “Pulanglah, temani Sojung saat aku pergi nanti, tolong bersikap biasa saja dan jangan katakan apapun padanya.”

Selamat ulang tahun dan selamat jalan, Kim Seokjin.

End.

/kemudian dibacok Seokjin-stan/

/kabur/

Wkwkwkwk ditunggu komentarnyaa :3 Unch kangen unccchhhh :3

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] A Great Gift

  1. Aduuu. Aku dah seneng-seneng bacanya. Tetiba…. JLEB. Mati coba 😭😭😭
    Aaaa Kak nokaaav sukseslah membuatku kaget ampunn. Di hari ulang tahun mati 😢.
    Yaa, semoga amalan Seokjin diterima di sisiNya. Aamiiin *eh? /*plakkk

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s