[BTS FF Freelance] Love’s Step – (Chapter 2)

loves-step-cover

Love’s Step (Chapter 2)

A Fanfiction by karamelmacchiato

Cast : Park Seungmi (OC) | Jeon Jungkook (BTS) | Min Yoongi (BTS)

Other Cast : Kim Soomin (OC) | Hwang Jiae (OC) | BTS Members

Genre : School life, Romance, Friendship

Rating : PG

Length : Chaptered

I just own the storyline.

#2 The Girl and Fallen Angel Sunbae

Jungkook tertawa puas melihat Seungmi berlari memutari lapangan basket sekolah. Ia sangat senang bisa mengerjai gadis yang sudah mempermalukannya itu.

“Apa tidak keterlaluan menyuruhnya memutari lapangan lima kali?” tanya Hoseok ragu.

Jungkook menggeleng. “Ini terlalu ringan hyung.”

Hoseok hanya mengangkat alisnya kemudian bangkit dari posisinya, “Aku akan menemui Namjoon.”

Jungkook mengangguk, lalu kembali fokus mengawasi Seungmi.

“Kook-ah, lihat catatan anak ini,” Jimin menyodorkan buku catatan Seungmi yang berisi daftar tanda tangan seniornya pada Jungkook.

“Apa? Sepuluh?” Jungkook tertawa senang. “Waktunya tinggal lima menit lagi, dia tidak akan dapat menyelesaikannya.”

“Yah, kau hanya perlu menyiapkan hukuman baru untuknya. Kookie.” Ucap Taehyung dengan seringai di bibirnya.

Dan tidak perlu menunggu lama, bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi. Lalu terdengar bunyi peluit pertanda bahwa seluruh murid baru harus mengumpulkan catatan mereka yang berisi daftar tanda tangan senior yang menjadi tugas pertama pada masa orientasi siswa.

“Semuanya berkumpul dan buat barisan sesuai kelas masing-masing!” suara Namjoon di loudspeaker.

Seluruh siswa bergegas menuju ke lapangan outdoor. Sementara Seungmi, gadis itu membeku di tempatnya.

“Seungmi cepat! Kita sudah terlambat jangan sampai kau dihukum lagi!” Teriak Jiae dari luar rumah sahabatnya.

Seungmi, gadis bersurai cokelat itu melangkah malas menuju pintu. Lantas mendudukan dirinya beberapa saat untuk memasang converse high merahnya. Tak lupa ia berpamitan pada ibunya yang tengah sibuk menyirami tanaman tak jauh dari tempatnya berada.

“Ibu, aku berangkat.” lenguh Seungmi.

Ibu Seungmi yang mendengar nada bicara anaknya yang tidak bersemangat seperti biasanya, mengerutkan dahinya. Aktifitasnya terhenti sesaat.

“Seungmi-ah, ada apa sayang? Tidak biasanya kau lemas begini.” Ucapnya khawatir.

“Tidak papa Ibu. Aku hanya malas karena senior di sekolahku sangat menyebalkan.”

Ibunya tersenyum. Hal yang umum terjadi pada anak seusianya. Seungmi hanya belum bisa beradaptasi dengan sekolahnya, nanti juga dia akan terbiasa. Pikir wanita itu.

“Kau tidak boleh malas begitu, sudah untung kau bisa sekolah gratis di SMA favorit. Tidak semua orang beruntung sepertimu, Seungmi.”

“Iya Ibu aku tahu. Sudah ya, aku berangkat dulu. Aku sudah terlambat.” Seungmi bangkit usai mengikat tali sepatunya. Lalu melangkah mendekati ibunya yang menatap kosong kedepan. Dikecupnya sekilas pipi wanita itu. “Aku menyayangimu Ibu.”

Wanita itu sedikit terlonjak kaget. “Kau ini selalu mengagetkan ibu.” Omelnya sembari mengacak surai Seungmi.

“Ah, Ibu rambutku berantakan lagi.”

“Hati-hati ya, jangan membuat masalah di sekolah.”

“Aku tahu Ibu. Aku pergi!” seru Seungmi sembari berlari menghampiri Jiae yang langsung menebar cibiran kesal padanya.

“Kau lambat.”

“Yang benar saja? Aku sudah bergerak cepat tahu!”

Jiae tertawa, “Haha, sudahlah ayo. Kau tidak mau ketinggalan kereta kan?” tukasnya sebelum memulai maraton menuju stasiun subway terdekat dari rumah mereka.

Di belakangnya, Seungmi berlari mengikuti gadis itu dengan tawanya yang tak kalah riang.

Setibanya di stasiun, kedua gadis itu memasuki gerbong kereta dengan nafas terengah.

“Hah, syukurlah belum terlambat.” Gumam Seungmi sambil menengok ke kanan dan kiri mencari tempat duduk.

“Seungmi-ah! Sini!” Jiae menepuk kursi penumpang yang masih kosong disampingnya.

Seungmi menangkap maksud gadis itu, ia mendekat dan memposisikan diri duduk si sampingnya. Mereka kembali tertawa bersama.

“Jam berapa sekarang?”

“Setengah delapan.”

“Masih sempat, kita tidak akan terlambat.”

Seungmi mengangguk menyetujui kalimat Jiae.

“Akhirnya, hari ini adalah hari terakhir masa orientasi siswa kan? Ah senangnya.” Ucap Jiae bersemangat.

Seungmi kembali mengangguk, “Setelah ini semua penderitaanku akan segera berakhir.”

“Hahaa dasar kau. Dan jangan pernah membuat ulah konyol seperti itu lagi. Mengerti?” ucap Jiae kemudian tertawa bersama sahabatnya.

Bel tanda istirahat berbunyi. Seluruh murid menghambur keluar kelas. Meskipun ada beberapa yang tidak beranjak sama sekali dari bangkunya. Namun dapat dipastikan sebagian besar murid di kelas 1-2 berlomba-lomba menuju ke kantin. Termasuk Seungmi dan Jiae. Kedua sahabat itu berjalan melewati papan pengumuman yang terpajang di depan kelas mereka.

Sementara seorang gadis berpita merah tampak asik membaca daftar nama siswa baru di papan pengumuman tersebut. Telunjuknya bergerak menelusuri kolom nilai satu persatu di bagian mata pelajaran bahasa inggris. Sejenak kemudian wajahnya tampak sumringah setelah menemukan nilai yang tertinggi diantara yang lain, terlebih saat mengetahui bahwa siswa dengan nilai terbaik itu berada di kelas yang sama dengannya. Gadis itu menyeret telunjuknya mundur dua kolom untuk melihat nama yang tertulis disana.

“Park Seungmi,” gumamnya lirih. “Sepertinya aku tahu.”

Ia lalu tersenyum dan melangkah menuju ke kantin seperti siswa lainnya.

“Hai, kau Seungmi kan? Aku Soomin.” Gadis berpita merah itu mengulurkan tangannya di depan Seungmi yang tengah menikmati makan siangnya.

Seungmi menoleh, kemudian menjabat tangan gadis bernama Soomin itu. “Hai, aku Seungmi.”

“Senang bisa kenalan denganmu. Kudengar kau masuk sekolah ini karena beasiswa ya? Nilai bahasa inggrismu tertinggi di angkatan kita. Hebat. Kau seperti teman kakakku, namanya Kim Namjoon. Dia bukan orang kaya tapi dia sangat pintar. Kelas 3-1. Dia itu ketua OSIS disini dan anggota Bangtan Boys. Kalian pasti tahu.” Soomin berbicara panjang lebar membanggakan tutor bahasa inggrisnya. Sejurus kemudian matanya melirik gadis berwajah manis yang duduk di samping Seungmi. “Oh, dan kau pasti Hwang Jiae. Benar kan?”

Jiae dan Seungmi saling pandang.  

“Aku sering melihat kalian berdua di kelas.”

Jiae membagi eye smilenya pada gadis itu. “Kau benar Soomin. Dan aku tahu kau Kim Soomin, adik dari Kim Seokjin kan?”

“Tepat!”

Ketiga gadis itu tergelak bersama.

“Bolehkah aku duduk disini?” Soomin menunjuk bangku kosong yang masih berada satu meja dengan Seungmi dan Jiae yang tengah bersantai di kantin.

Seungmi mengangguk. “Tentu saja, duduklah.”

“Bagaimana kau bisa tahu tentang kami?” tanya Jiae penasaran setelah Soomin mendudukan diri di hadapannya.

Gadis itu tersenyum sangat manis. “Tentu saja aku tahu. Nama kalian termasuk di barisan 10 besar siswa baru berprestasi. Kalian hebat ya.”

“Ah tidak juga, aku jadi malu.” Jiae tertawa bangga.

Namun entah mengapa tiba-tiba senyum Soomin memudar, “Tidak sepertiku. Aku bodoh. Dan tidak berbakat.”

Seungmi dan Jiae terhenyak. Tidak mengerti apa yang terjadi dengan gadis itu. Baru saja ia bersikap sok akrab dengan menebar senyum semanis gula kapas namun dalam sekejap berubah menjadi murung. Membingungkan.

“Aku tidak punya kelebihan seperti kalian.” Lanjut Soomin dengan raut sedihnya.

“Soomin-ah. Tidak seperti itu. Bukankah kau seorang model? Kau itu cantik dan berbakat, aku sering melihatmu di majalah remaja.” Seungmi mencoba menghiburnya.

“Benar. Kau juga manis dan baik hati, sudah pasti banyak lelaki yang menyukaimu. Oh dan satu lagi, kalau tidak salah kau seorang balerina kan? Keren sekali.” Imbuh Jiae.

Tampaknya kedua sahabat itu berhasil mengembalikan mood Soomin yang sempat kacau. Gadis cantik itu kembali tersenyum.

“Benarkah? Apa aku cantik?” tanya Soomin dengan mata berbinar.

Seungmi dan Jiae mengangguk dengan kompak.

“Terimakasih.” Ucap Soomin tersipu.

Jiae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedikit merasa aneh dengan mood Soomin yang cepat sekali berubah-ubah.

“Ah, kau tidak makan?” tanya Seungmi yang hanya melihat sekotak jus di tangan Soomin.

Soomin menggeleng. “Aku sedang diet.” Jawabnya sambil tersenyum manis.

Jiae terbelalak. “Di-diet? Kau sudah kurus dan cantik begitu masih diet? Aku yang begini saja tetap makan banyak.” tukasnya tak percaya.

Soomin tertawa mendengar argumen gadis jangkung itu. “Aku sudah makan tadi.”

“Ah, begitu.” Seungmi dan Jiae mengangguk, kemudian turut tertawa bersama Soomin.

Jam pelajaran telah berakhir. Seharian ini Soomin terus menempel pada Seungmi dan Jiae. Gadis itu banyak bercerita tentang dirinya, kakaknya, juga Bangtan Boys. Dan sudah pasti yang paling antusias mendengarnya adalah Jiae. Saat ini ketiga gadis itu tengah berjalan menuju gerbang sekolah, namun langkah mereka terhenti saat menyadari keberadaan seorang senior laki-laki yang menghadang mereka di ujung koridor.

“Jimin oppa?” gumam Soomin.

Seungmi menghela nafas panjang, “Dia pasti mencariku.”

Jiae menatap iba pada Seungmi, “Seungmi-ah bersabarlah. Hukuman akan segera berakhir. Fighting!”

“Hukuman?” Soomin mengernyit.

Jiae mengangguk. “Benar. Kau ingat di hari pertama masa orientasi siswa baru? Kita diharuskan mengumpulkan tanda tangan 20 sunbae dan hanya ada 4 orang yang gagal dan di hukum. Seungmi salah satunya.” Jelasnya pada Soomin.

“Astaga, kasihan sekali kau. Hukumannya belum berakhir?”

Seungmi menggeleng. “Kurasa hukumanku yang terberat.”

“Itu gara-gara kau menarik celana sunbae itu.” Jiae berujar malas.

“Apa? Menarik celana? Maksudmu? Celana Jungkook oppa? Jadi kau yang menariknya?” tanya Soomin dengan antusias. Volume suaranya pun turut meningkat.

Semenit kemudian gadis itu terpingkal melihat ekspresi Seungmi yang begitu iba namun juga sangat lucu baginya.

“Kenapa kau tertawa?”

“Ma-maaf. Kau benar-benar lucu.” Soomin berusaha menghentikan tawanya dengan teratur.

Jiae mendengus, “Dia memang begitu Soomin-ah. Selalu melakukan hal-hal memalukan.”

Soomin menutup mulutnya mendengar kalimat Jiae. Gadis itu lalu kembali tertawa. “Tidak papa. Mereka hanya sedikit mengerjaimu Seungmi. Lagipula akan segera berakhir kan? Fighting!”

“Aish, kalian. Yasudah sana, pulanglah.”

“Aku akan menunggumu di perpustakaan.” Ucap Jiae.

“Seokjin oppa sudah menjemputku. Maaf ya, aku tidak bisa menunggu kalian.” Ucap Soomin dengan raut menyesal.

“Ah, tidak papa Soomin-ah. Kau tidak perlu menungguku, biar Jiae saja. Rumah kami berdekatan jadi kami selalu berangkat dan pulang bersama.”

“Benarkah? Yasudah kalau begitu, aku pulang duluan ya. Annyeong.” Soomin melambaikan tangan pada kedua teman barunya.

“Hati-hati ya.”

Seungmi dan Jiae terus menatap Soomin hingga gadis itu sampai di ujung koridor. Sebentar menyapa Jimin dan kemudian berlalu meninggalkan mereka.

Selanjutnya Jimin mulai melangkah menghampiri kedua gadis itu.

“Seungmi-ah. Aku akan menunggu di perpustakaan. Semangat!” Jiae mengangkat kepalan tangannya di depan Seungmi sebelum pergi meninggalkannya.

Sedangkan Seungmi hanya bisa pasrah melihat Jimin yang semakin mendekat.

“Park Seungmi. Toilet sudah menantimu.”

Seungmi mendengus kesal. Bibirnya tak berhenti merutuki senior bernama Jeon Jungkook yang sungguh menyebalkan itu. Ia tidak habis pikir jika pemuda itu tega menyuruhnya berlari memutari lapangan basket sebanyak lima kali hanya demi mendapatkan tanda tangan. Sayangnya semua usahanya menjadi sia-sia saat bel yang menandakan pergantian jam pelajaran berbunyi yang berarti waktu untuk mengumpulkan tanda tangan telah habis. Padahal Seungmi baru mendapatkan 10 tanda tangan senior. Akibatnya, ia mendapat hukuman karena tidak berhasil menyelesaikan tugas. Dan sialnya lagi, senior yang menentukan hukuman untuknya adalah Jungkook.

Seungmi menyeka peluh di keningnya di sela-sela aktifitasnya mengepel lantai toilet sekolah sebagai hukuman dari kegagalannya mengumpulkan tanda tangan. Selama masa orientasi siswa, usai kegiatan Seungmi harus membersihkan toilet terlebih dulu sebelum meninggalkan sekolah. Dan ini adalah hari terakhirnya.

Tinggal sekali lagi. Seungmi berharap semua penderitaannya segera berakhir agar ia bisa menjalani kehidupan normal sebagai siswa biasa seperti yang lain. Tidak ada tugas dari senior, meminta tanda tangan, hukum menghukum, dan lain sebagainya.

Sementara Seungmi sibuk membersihkan toilet perempuan, tiga orang pemuda asik mengotori toilet laki-laki. Mereka adalah Jungkook, Taehyung dan Jimin. Jungkook menumpahkan milkshake di atas lantai yang telah selesai di bersihkan Seungmi. Sedangkan Taehyung dan Jimin menebarkan sampah di seluruh sudut toilet tersebut. Mereka tertawa puas setelah berhasil mengacaukan pekerjaan Seungmi.

“Wooo! Bravo! Kalian hebat hyung.” Jungkook bertepuk tangan memuji kedua hyungnya.

“Tentu saja. 95line.” Ujar Jimin sambil mengangkat sebelah tangannya di depan wajah Taehyung.

Taehyung tersenyum lalu menepukkan telapak tangannya pada tangan Jimin. Highfive.

“Cepat pergi sebelum dia tahu kalau ini ulah kita.”

“Ayo.” Barusaja Jungkook membalikan tubuhnya. Sesosok gadis yang diketahui bernama Seungmi itu telah berdiri di ambang pintu toilet siswa laki-laki.

Ketiga pemuda itu mematung bersama dengan Seungmi.

“APA YANG KALIAN LAKUKAAAAN?!”

Jungkook menutup telinganya yang pekak akibat teriakan nyaring Seungmi. Begitu juga Taehyung dan Jimin.

Yah! Kau ini suaramu keras sekali seperti speaker soak. Telingaku sakit tahu!” gerutu Jungkook.

“Sunbaenim. Kenapa kalian tega berbuat seperti ini padaku?” Seungmi memelas. Nada bicaranya melemah. “Siswa yang lain hanya mendapat hukuman ringan dan tidak sampai berhari-hari. Sedangkan aku? Harus membersihkan toilet selama lima hari berturut-turut. Sebenarnya apa salahku?”

Taehyung dan Jimin saling pandang. Kemudian keduanya beralih menatap Jungkook.

Pemuda itu membalas tatapan mereka datar.

“Kenapa kalian begitu senang melihatku menderita?” lirih Seungmi nyaris tak terdengar.

“Jelaskan padanya Kook-ah. Supaya dia tahu kesalahan apa yang telah dia perbuat terhadap maknae Bangtan Boys.” Suara Jimin.

“Karena kau memang pantas menerima hukuman ini, GADIS MESUM!” Jungkook berteriak di depan wajah Seungmi diikuti tawa yang meledak dari mulut Jimin dan Taehyung.

Gadis itu menunduk. “Apa kalian masih mempermasalahkan kejadian di koridor tempo hari? Masalah celana itu…”

“Cukup! Jangan dibahas lagi atau aku akan menambah hukuman untukmu.” Jungkook mendengus kesal.

“Tapi aku kan sudah minta maaf sunbae-”

“Tidak semudah itu gadis mesum. Kau telah menurunkan harga diriku.”

“Harga diri? Maksudmu celana?” kemudian sebuah jitakan mendarat di kepala Taehyung yang baru saja melontarkan sebuah pertanyaan konyol.

Pabo. Karena gadis itu menurunkan celana Jungkook, itu artinya dia menurunkan harga diri bocah itu juga.” Jimin memberi penjelasan pada sahabatnya.

Taehyung mengangguk paham.

“Sudahlah hyung, ayo kita pergi. Tidak ada gunanya mengurusi gadis mesum ini.” Jungkook melangkah melewati Seungmi yang mematung dengan wajah tertunduk melas di tempatnya. “Ah, gadis mesum. Jangan pulang dulu sebelum semuanya beres. Ok?” ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.

Seungmi mendesah. Setelah menunggu semenit, ia menoleh untuk memastikan bahwa ketiga senior menyebalkan itu telah lenyap dari sana.

“Dasar sunbae angkuh! Menyebalkan! Boxer iron man! Jelek! Hidung besar! Huh! Jahat!” Seungmi membanting gagang alat pel di atas lantai yang penuh dengan kotoran.

Namun detik berikutnya ia menyesal karena harus mengambil kembali alat pel yang telah tercemar oleh kotoran akibat ulahnya sendiri.

“Ibu~ aku ingin pulang!” Rengek Seungmi. Ia tak berharap ada seseorang yang mendengarnya, namun keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya.

Seorang pemuda baru saja memasuki toilet laki-laki dengan ekspresi terkejut dan juga heran melihat pemandangan menjijikan dihadapannya. “Maaf-”

“Kya~!” Jerit Seungmi spontan membuat pemuda itu mundur selangkah dari tempatnya. Seungmi berbalik untuk melihat siapa orang yang telah mengagetkannya hingga membuat jantungnya nyaris copot.

Seorang pemuda bersurai senada dengan kulitnya yang seputih susu, dengan jaket varsity hijau army dan celana jeans hitam robek-robek tengah berdiri di depannya. Pandangan mereka bertemu.

Hening sesaat.

“Apa yang sedang kau lakukan disini? Kenapa toiletnya kotor sekali?” tanya pemuda itu ragu.

“Aku… aku…”

“Kau siswa baru ya?”

Seungmi mengangguk kecil.

“Kau mendapat hukuman?”

Seungmi kembali mengangguk. Kali ini lebih mantap.

Pemuda itu tersenyum hingga matanya nyaris terpejam.

Seungmi memperhatikan pemuda itu dari ujung rambut hingga kaki, melihat pakaian yang dikenakannya sudah pasti ia bukan siswa di sekolah ini. Bahkan lebih mirip dengan preman yang senang duduk-duduk di ujung gang dekat rumahnya. Penasaran, ia memberanikan diri untuk bertanya.

“Kau siapa?” ucap Seungmi dengan wajah polosnya.

“Aku alumni sekolah ini. Ada urusan yang harus ku selesaikan disini.” Jawab pemuda itu tanpa mengurangi senyumnya.

“Oh, jadi sunbae sudah lulus?”

Pemuda itu mengangguk membenarkan pertanyaan Seungmi.

“Sunbae mau masuk ya? Biar aku bersihkan dulu lantai-” belum sempat Seungmi menyelesaikan kalimatnya, ia terpeleset saat menarik paksa alat pel yang tidak sengaja terinjak oleh kakinya sendiri. “Ah!”

Dan sekali lagi, dewi fortuna masih berpihak padanya. Pemuda –yang mirip preman-itu dengan sigap menangkap tubuh Seungmi yang nyaris terjatuh. Gadis itu terselamatkan.

Seungmi menatap pemuda itu dalam diam. Tercengang, tampak masih syok.

“Hati-hati.” Suara si pemuda menyadarkannya.

Seungmi segera membenarkan posisinya. “Ma-maaf.”

“Tinggalkan saja pekerjaanmu. Kurasa hukuman ini terlalu berat. Aku akan menyuruh petugas kebersihan sekolah untuk membereskan semuanya.”

Mata Seungmi melebar mendengar kalimat pemuda itu. Senang, tentu saja.

“Kau bisa pulang sekarang.” Ujar pemuda itu lagi.

“Tapi sunbae-”

“Kenapa? Kau tidak mau? Atau aku perlu mengantarmu ke rumah?”

“Tidak tidak, aku mau sunbae, maksudku aku mau pulang. Terimakasih sunbae. Kau benar-benar malaikat penyelamatku.” Seungmi tersenyum senang. “Terimakasih banyak.” ia membungkuk dan berterimakasih pada pemuda itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi meninggalkan toilet sekolah dengan langkah riangnya.

Tanpa sadar pemuda itu tersenyum melihat tingkah Seungmi. Ia terus menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh hingga lepas dari jarak pandangnya.

To be continued

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Love’s Step – (Chapter 2)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s